Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#6546
PART 93


Gua sedang mengendarai mobil di jalan tol setelah sebelumnya menjemput dua orang wanita dari bandara Soetta. Sore itu jalan tol cukup macet, dan Gua yakin kemacetan ini akibat acara nanti malam, acara pergantian tahun. Beberapa kali Gua menghentikan laju kendaraan ketika deretan mobil di depan sana berhenti, sampai beberapa jam kemudian akhirnya bisa keluar pintu tol. Gua arahkan mobil ke perumahan Gua tapi bukan untuk pulang kerumah, melainkan mengantarkan dua orang wanita sebelumnya ke kediaman mereka.

Sekitar pukul setengah enam sore kami sampai di depan rumahnya, seorang satpam pribadi rumah mereka membukakan pintu gerbang, barulah Gua lajukan kembali mobil dengan cukup pelan untuk memasuki halaman rumah mereka. Ketika Gua mulai memasuki halaman rumah yang cukup panjang ini, memori otak Gua kembali membangkitkan kenangan masa lalu, saat dimana Gua masih mengenakan pakaian seragam putih biru sekitar enam tahun lalu.

"Gak banyak berubah ya halaman rumah kamu ?", tanya Gua kepada seorang wanita yang duduk di kursi samping kemudi.

Dia tersenyum melirik kepada Gua dan mengangguk pelan. "Iya.. Masih inget Kak ?".

Gua mengangguk cepat lalu tersenyum lebar ketika mobil Gua hentikan tepat di dekat pintu utama rumahnya.

"Dulu, vespa kamu di parkir tepat di sini jugakan ?", tanyanya lagi mengingatkan Gua ketika dulu si Bandot Gua parkir.

"Iya Ay.. Masih inget juga kamu..".

"Yaudah ayo masuk dulu Za.. Nostalgianya di dalam rumah aja..", sela Mamahnya dari kursi belakang. "Kali ini kamu harus bertamu, dulu kamu gak maukan Za ?", lanjut sang Ibunda.

Gua terkekeh pelan lalu menyetujui ajakan Mamahnya itu. "Iya Tante, kali ini Eza namu kok, hehehe...".

Akhirnya Gua duduk di ruang tamu rumahnya yang terlalu besar dan mewah menurut Gua pribadi. Halaman rumahnya aja lima puluh meter, lah ini ruang tamunya juga luas banget. Sofanya empuk banget lagi. Masih asyik menikmati keindahan ruang tamu, seorang art rumah tangga datang membawakan secangkir teh manis hangat untuk Gua. Kemudian Mamahnya pamit sebentar kedalam kamar.

Gua masih menunggu Helen yang sebelumnya juga pergi kekamarnya, ya cukup lelah mungkin setelah menempuh perjalanan udara dari Aussie ke Indonesia. Tidak lama Helen datang dengan pakaian yang sudah berbeda dari sebelumnya. Dia duduk disamping kanan Gua.

"Diminum Kak..", ucapnya.

"Eh iya, makash Ay..", Gua mengambil cangkir minuman tersebut dan meminumnya sedikit.

"Huuftt.. Maaf ya Kak..", Helen melipatkan satu kakinya keatas kaki lainnya.

"Maaf ? Untuk ?".

"Untuk kejadian natal kemarin itu...", dia memainkan jemarinya diatas paha.

"Kok kamu yang minta maaf Ay ? Emang kenapa ?", Gua menaruh kembali cangkir minuman dan menyerongkan tubuh kearahnya.

"Ya aku gak enak aja, Luna kan kakak aku, keluarga aku juga..", lanjutnya.

"Enggak apa-apa Ay.. Ehm.. Jujur aja aku emang sakit hati sama Luna, Ay.. Tapi bukan berarti aku marah sama kamu dan keluarga kamu kok..".

"Tapi emang dia itu gak tau diri Kak! Bisa-bisanya dia selingkuh, apalagi cowoknya bilang udah tunangan..", kali ini Helen meluapkan sedikit emosinya.

Gua menghela nafas lalu memalingkan muka kearah lain. Entah benar atau tidak Luna sudah bertunangan dengan Erick.

Kejadian di malam natal itu benar-benar diluar dugaan Gua. Setelah malam itu, keesokan harinya Gua langsung angkat kaki dari Aussie, sedangkan Helen dan Mamahnya tetap stay disana sampai hari ini pulang dan Gua jemput di bandara tadi. Helen bilang dia ingin mengetahui detail cerita bagaimana Luna bisa berhubungan lagi dengan Erick, ya ternyata Helen tau siapa Erick. Lelaki itu adalah Kakak tingkat Luna saat di kampus dulu, dua tingkat diatasnya. Sempat dikenalkan oleh Luna kepada keluarganya tapi hanya sebatas teman dekat. Dan yang menjadi rahasia kenapa Luna bisa diterima di perusahaan asing adalah campur tangan Erick yang ternyata adalah supervisor di perusahaan tersebut. Selama ini Luna memang tidak pernah berpacaran dengan Erick, menurut Helen mereka jarang pergi berdua dari dulu, apalagi setelah Erick lulus kuliah duluan dan bekerja di Aussie.

"Kak Eza..", ucapnya.

"Ya ?".

"Kak Luna gak bilang apa-apa soal alasan kenapa dia berani khianatin Kakak.. Dia bilang nanti akan pulang kesini dan ngejelasin langsung ke Kakak.. Aku gak dititipkan pesan apapun sama Kak Luna untuk Kak Eza", terang Helen kepada Gua.

"Biarin ajalah Ay.. Terserah sekarang mau dia gimana.. Aku udah capek..".

"Tapi...".

"Tapi apa Ay ?".

"Kakak masih sayang sama Kak Luna kan ?'".

Gua tidak bisa langsung menjawab pertanyaannya itu. Jelaslah Gua masih menyayangi Luna, bagaimanapun dia sudah mengukir cerita yang indah saat kami masih bersama, walaupun pada akhirnya harus seperti ini. Gua masih melamun saat getar blackberry disaku celana semakin lama semakin terasa dan tidak berhenti bergetar. Gua ambil blackberry tersebut dan melihat layar yang memperlihatkan sebuah nama seorang wanita.

Quote:


Gua masukan kembali blackberry kedalam saku celana lalu berdiri dari duduk.

"Loch ? Mau kemana Kak ?", tanya Helen bingung yang melihat Gua akan pergi.

"Eh ini.. Eeuu.. Ada Sherlin dirumah, aku lupa janjian sama dia abis jemput kamu.. Aku pamit dulu ya Ay..", jawab Gua buru-buru.

"Sherlin ? Siapa Sherlin Kak ?".

"Ehm.. Temen aku.. Ya temen lama aku", jawab Gua.

"Aku ikut boleh ?".

"Eh ?".

...

Gua parkirkan mobil tepat dibelakang mobil milik Mba Laras dan turun bersama dengan Helen. Kami berdua berjalan kearah teras rumah yang ternyata disana sudah duduk Mba Yu bersama Mba Laras di bangku teras.

"Nah ini udah pulang yang abis jalan-jalan... Apa kabar Ay ?", sapa Mba Laras yang berdiri dan memberikan salam pipi kiri-kanan kepada Helen.

"Baik Mba, hehe...". Jawab Helen setelah selesai dipeluk.

"Loch ? Luna enggak ikut sih ? Kemana ?", tanya Mba Laras lagi kali ini melirik kepada Gua dan Helen bergantian.

"Loch ? Kakak enggak cerita ?", tanya Helen kepada Gua.

Gua serba-salah, ya memang Gua belum menceritakan soal kejadian malam natal itu kepad Mba Laras maupun Nenek. Gua beralasan pulang lebih dulu karena ada keperluan mendadak dengan dosen kampus perihal tugas akhir, seperti itu alasan bodoh Gua kepada Mba Laras ketika beberapa hari lalu pulang duluan ke Indonesia tidak bersama Luna maupun Helen atau Mamahnya.

"Mmm.. Oh iya kenalin dulu deh, itu Sherlin, Ay...", Gua mengalihkan topik ketika melirik kepada Mba Yu yang masih duduk.

Sherlin bangun dari duduknya dan menghampiri Helen.

"Hay, Aku Sherlin..", ucap Mba Yu memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya kepada Helen.

"Oh iya salam kenal Kak.. Aku Helen..", balas Helen menyambut jabat tangan Mba Yu lalu tersenyum manis sekali.

"Yaudah masuk dulu yuk, udah maghrib tuh", Mba Laras mengajak kami masuk kedalam rumah sambil berjalan terlebih dahulu.

Mba Yu dan Mba Laras sedang mengambil wudhu di kamar mandi lantai satu, sedangkan Gua dan Helen duduk di ruang tamu rumah. Gua membakar sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam. Belum sempat Gua menghembuskan asapnya keluar, Gua terbatuk ketika Helen bertanya...

"Kamu enggak shalat Kak ?".

"Uhuuk..uhuk..uhuuk..",
"Ehm..uhuk..".

"Iish ngerokok terus sih, jadi batuk..", ucapnya lagi sambil mengambil gelas yang berada diatas meja dan memberikannya kepada Gua. "Minum dulu nih, aku belum minum kok tenang aja...", lanjutnya.

"Makasih..uhuk..", Gua ambil gelas minum yang sebelumnya disuguhkan oleh art untuk Helen namun belum sempat ia minum.

"Mas..", suara Mba Yu terdengar jelas ketika dia berdiri di dekat ruang makan.

Gua melirik kepadanya setelah selesai menenggak air mineral. "Hm ?".

"Ayo shalat maghrib dulu..", ajaknya dengan air yang sudah membasahi wajah serta tangannya.

Subhanallah, seolah-olah Mba Yu memancarkan sinar dari wajahnya. Sumpah deh, cantik dia abis wudhu, natural tanpa makeup. Gua yang masih terpesona dan bengong disadarkan oleh Helen.

"Hey Kak.. Itu diajak shalat bareng kok malah diem ?".

"Eh iiiya.. Iya ini mau..", jawab Gua. "Sebentar ya Ay, ditinggal dulu", lalu Gua mematikan rokok ke asbak diatas meja.

Gua berjalan ke kamar mandi dan mulai menyalakan keran air. Tapi Gua tidak langsung melakukan wudhu.

"Mas.. Kok malah diem ? Itu airnya sayang loch dibiarin gitu", Mba Yu ternyata berdiri diluar kamar mandi dan memperhatikan Gua.

"Loch ? Kamu masih disitu Mba ?", tanya Gua balik.

"Eeh.. Ayo ah cepet wudhu, malah nanya balik...", ucapnya lagi.

"Mba..".

"Apalagi ?".

"Bacaan wudhu gimana ?".

...

Lima belas menit kemudian Gua sedang disidang oleh dua wanita di ruang makan, dan satu wanita mendengarkan seolah-olah menjadi penonton dan saksi bagaimana seorang laki-laki yang sempat meninggalkan kewajibannya sebagia seorang muslim ini tak berdaya diterpa berbagai macam pertanyaan.

"Astagfirullah Ezaa.. Gimana ceritanya kamu bisa lupa niat wudhu, bacaan shalat... Istigfar Mba denger Sherlin bilang gitu tadi... Ya Alloooh... Gustiii", Ibu Gua, Mba Laras berdiri di sebrang, terhalang meja makan dari tempat Gua duduk.

Dia mengelus-ngelus dadanya dengan perasaan kecewa kepada Gua.

"Mas kok bisa sih sampe lupa gitu ? Aku bingung deh sama kamu Mas.. Maksudnya gini loch, okelah kamu udah gak shalat selama ini, tapi masa bisa bener-bener lupa baca ayatnya Mas, niatnya, do'a nya", timpal Mba Yu yang berada di samping Ibu Gua.

"Ya gimana lagi atuh... Namanya jug lupa ah.. Pusing ngejelasinnya ah..", jawab Gua malas dan bingung sendiri harus menjawab apa.

"Bukan gitu Eza, Mba tau kamu sempat marah, kecewa dan depresi... Tapi maksud Mba... Ya Alloh.. Bisa sampai lupa Za.. Astagfirullah...", ucap Ibu Gua lagi.

"Bukannya itu hak pribadi setiap manusia ya ?", tiba-tiba Helen yang dari tadi diam dan melihat kami angkat bicara dari tempatnya ia duduk di sisi kiri Gua.

Sontak saja ucapannya itu membuat Mba Laras dan Mba Yu melirik kepadanya dengan ekspresi yang bingung, tidak terkecuali Gua sendiri.

"Maksud kamu apa ?", tanya Mba Yu dengan nada seramah mungkin.

"Oh maaf, bukan maksud apa-apa Kak, cuma heran aja.. Kan manusia itu berhak memilih jalan hidupnya masing-masing toh ?",
"Termasuk soal ibadah.. Soal kepercayaan juga... Dan apakah itu salah atau tidak biarkan manusia itu sendiri yang menanggungnya..", jawab Helen menerangkan.

"Gini ya... Mm.. Maaf, siapa nama kamu tadi ?", tanya Mba Yu lagi.

"Helen, panggil aja Ay".

"Kok jauh banget panggilannya ?", Mba Yu heran.

"Itu panggilan sayang dari Mamah dan keluarga aku, Kak..".

"Ooh.. Oke whatever deh...", Mba Yu mengibaskan tangan kanannya ke udara. "Gini ya Ay, memang benar manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya masing-masing... Tapi yang jadi masalah adalah bagaimana kita sesama manusia bisa saling mengingatkan satu sama lain akan hal baik... Apalagi sesama muslim. Mungkin kamu gak mengerti soal ini ta..".

"Aku ngerti kok", potong Helen. "Aku tau dan ngerti kalo seorang muslim harus melaksanakan kewajiban shalat lima waktu setiap hari di masjid ataupun rumahnya, atau seorang kristiani melakukan ibadah di gereja, seorang hindu di pura dan seorang buddha beribadah di vihara... Intinya Masing-masing umat memiliki kewajibannya untuk beribadah kepada Tuhan..", ucap Helen lagi,
"Tapi aku rasa kalian berdua salah...", Helen memandangi Mba Yu serta Mba Laras bergantian.

Gua terkejut dengan ucapan terakhir Helen barusan. Kemudian Mba Yu mengerenyitkan kening lalu melipat kedua tangannya didepan dada.

"Maksud kamu ?", tanya Mba Yu lagi.

"Kalian berdua bukan mengingatkan Kak Eza untuk kembali beribadah... Tapi menghakimi.. Cara kalian bertanya sama saja seolah-olah kalian sedang menghakimi Kak Eza, bukan berarti aku bela dia. Tapi aku rasa bukan seperti itu cara yang baik agar Kak Eza mau kembali melaksanakan kewajibannya", jawab Helen sambil tersenyum manis kepada Mba Yu.

Kemudian Helen berdiri dari duduknya dan tersenyum kepada Gua. "Kak, aku pamit pulang dulu ya.. Maaf loch jadi bikin perdebatan..", ucapnya.

"Loch kok pulang Ay ? Makan dulu..", tawar Gua.

"Lain kali, makasih ya..".

"Sebentar.. Kamu juga kristiani seperti Luna kan ?", tanya Mba Yu lagi.

Helen tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Bukan.. Aku bukan kristiani, bukan muslimah, bukan hindu ataupun buddha..".

Mba Yu melirik kepada Gua dengan tatapan bertanya. Gua hanya bisa menaikan kedua bahu sebagai jawaban untuknya.

"Aku agnostik", lanjut Helen.

...

Gua sedang merokok setelah menghabiskan makanan lima menit yang lalu bersama Mba Laras dan Mba Yu sebelumnya di ruang makan. Kini Gua menikmati malam dengan asap racun yang mengepul di gazebo halaman belakang rumah ditemani Mba Yu yang duduk tepat disamping Gua.

"Kamu marah sama Helen ?", tanya Gua kepadanya tanpa menengok sedikitpun.

"Enggak.. Cuma aneh aja Za, kok dia bisa menilai kamu memilih untuk meninggalkan ibadah gitu", ucap Mba Yu sambil memandangi kolam renang disebrang sana.

"Ya wajar mungkin Mba, karena apa yang dia lihat kenyataannya seperti itu, aku emang udah lama gak melaksanakan ibadah Mba..", jawab Gua membenarkan pandangan Helen.

"Tapi kayaknya Helen ngeliat kamu lebih dari itu Mas...".

"Maksudnya ?", Gua menengok kepada Mba Yu kali ini.

"Seolah-olah dia membenarkan kalau kamu itu gak masalah gak melakukan kewajiban kamu Mas, dampaknya buruk loch kalo sampai dia membiarkan apa yang dipilih kamu itu...".

Gua terdiam sejenak lalu kembali menghisap rokok dan menghembuskan asapnya lewat mulut ke sisi lain.

"Lagipula, kepercayaan dia itu apa Mas ? Agnostik ? Apa itu agnostik Mas ? Aku baru denger...", tanya Mba Yu lagi.

Gua mengangkat kedua bahu, lalu menggelengkan kepala pelan. "Aku juga enggak tau Mba, gak pernah nanya juga ke dia... Mmm.. Gak enak aja aku nanyain soal privasi Ay...", jawab Gua.

"Ay... Kamu ikutan manggil Ay.. Hmmm...", kedua mata Mba Yu memicing menatap Gua.

"Eh ? Hahaha... Enggak kok, aku enggak ada apa-apa sama Helen, kebiasaan aja manggil dia gitu, sama kayak yang laen... Hehehe", jawab Gua kali ini sambil menggaruk pelipis.

Kyuutt.. pinggang Gua dicubit oleh Mba Yu. "Awas aja...", ucapnya.

"Aww.. Enggak Mba.. Adududuhh..", Gua menepis tangannya yang masih mencubit pinggang Gua itu,
"Aku sama dia cuma teman, calon adik dan kakak ipar yang gagal hahaha...", lanjut Gua.

"Alah kamu tuh.. Nanti gak dapet kakaknya malah dapetin adeknya lagi.. Huuuhh", sungutnya sambil memalingkan muka dengan melipat kedua tangan didepan dadanya.

"Aduh ada yang cemburu rupanya.. Hahaha.. Gemesin kamu Mba...", Gua cubit pelan pipinya.

Mba Yu malah melirik sinis sambil memanyunkan bibir. "Biarin...", jawabnya jutek.

Gua menatap matanya lekat-lekat, tersenyum tipis kepadanya.

"Ehm... Kenapa Mas ?", Mba Yu tersipu malu lalu menurunkan pandangannya.

Gua angkat dagunya sedikit dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan. Mata kami kembali saling menatap, Gua memajukan wajah pelan hingga jarak diantara wajah kami sangat dekat.

"Mm.. Maas..", ucapnya lirih.

Kelopak matanya semakin turun dan akhirnya terpejam ketika bibir ini menyentuh sedikit bibirnya, belum sampai Gua meneruskan ciuman ini, tiba-tiba...

"EZA!!!", teriakan seorang wanita terdengar jelas.

Gua memundurkan wajah dan menengok ke sumber suara. "Eh.. Mb.. Mbaa...", ucap Gua salah tingkah melihat Mba Laras yang sedang berdiri sambil melotot kearah gazebo ini.

"Sherlin masuk sini...", perintah Mba Laras kepada Mba Yu.

Mba Yu berdiri sambil tertunduk lalu berjalan menghampiri Mba Laras, setelah mereka berdua sudah berdekatan, Mba Laras memeluk Mba Yu dari samping dan mengusap rambutnya.

"Diapain sama Eza ? Jangan mau dicium gitu Sherlin.. Kamu kan masih punya tunangan", ucap Mba Laras lembut sambil masih mengusap rambut Mba Yu.

"Enggak kok Mba, tadi Ezanya yang duluan...", jawab Mba Yu sedikit ketakutan.

"Woiii enak aja.. Mau jugakan kamu.. Nyalah..", ucapan Gua terpotong.

"Heh! Awas ya kamu Za, macem-macem sama anak orang! Gak inget kamu juga masih ada Luna", potong Mba Laras.

Wah Emak Gua belom tau sih si Luna selingkuhin anak tampannya ini.. Amsyong dah Gua... Hadeuh...

Tidak lama kemudian Ibu Gua dan Mba Yu masuk kedalam rumah lalu sebelum Ibu Gua itu benar-benar masuk, dia menengok kepada Gua sesaat sambil melotot dan mengacungkan tangan kanannya yang terkepal kearah Gua.... Gile, ancamannya.

Gua terkekeh pelan setelah mereka berdua masuk kedalam. Lalu kembali membakar sebatang rokok dan memandangi kolam renang yang airnya memancarkan kemilau kekuningan dari lampu pinggir kolam.

Fikiran Gua kembali mengingat nama Luna, mencari alasan masuk akal kenapa dia bisa setega itu mengkhianati Gua. Lama Gua memikirkan hal yang jelas-jelas membuat Gua sakit hati, tiba-tiba mata ini tertuju kepada dua buah 'rumah'. Rumah yang sudah lama tidak Gua kunjungi. Secara sadar Gua pun berdiri dan melangkah keluar gazebo dan melemparkan batang rokok yang masih menayala sembarang. Lalu Gua semakin dekat dengan rumah itu, dan sampai berdiri di sisinya. Gua tersenyum sambil memandangi rumahnya dari atas sini.

Kemudian Gua berjongkok dan mengambil sedikit gundukan tanah coklat itu.

"Hai Cha... Apa kabar ?"

Tiba-tiba saja hati Gua bergetar ketika melihat namanya yang terukir pada batu nisan. Airmata ini lambat laun mengalir perlahan membasahi kedua sisi wajah Gua.

"Cha... Maafin aku ya Cha.. Maafin aku Cha.. Maaf..."

Gua menangis sambil mencengkram batu nisannya dengan tangan kanan.

"Aku udah jalan terlalu jauh Cha.. Dalam gelap, dalam keputus-asaan ini Cha..
Aku gak tau lagi harus gimana setelah Jingga pergi Cha.. Maafin aku Cha..."


Gua menyeuka airmata yang sudah banyak tertumpah hingga membasahi wajah ini.

"Cha... Aku enggak tau pilihan aku salah atau gimana soal Luna.. Aku enggak tau dia yang selama ini membantu aku tapi tega ngekhianatin aku juga Cha.."

Gua menarik nafas dalam-dalam, lalu memandangi langit malam diatas sana.

"Cha.. Aku minta maaf, aku minta maaf kalo selama ini udah menyimpang sampai melupakan kewajiban aku Cha.. Aku... Hiks.."

"Minta maaflah kepada ALLAH SWT, Za... Bukan pada almarhumah istri kamu...".

Gua terkejut mendengar ucapan seorang wanita dari arah belakang, seketika itu Gua langsung menengok ke sumber suara dan semakin terkejut melihat sosoknya.

"Vera....?".
Diubah oleh glitch.7 27-06-2017 17:59
fatqurr
fatqurr memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.