- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bunbun.orenz
#6337
***
Helen mencolek lengan kiri Gua ketika Gua masih asyik bercerita soal restoran Gua itu.
"Kenapa ?".
"Itu Kak Luna kan ?", tanyanya menatap ke depan sana.
Gua melirik kearah matanya memandang, mencoba mencari sosok kekasih dari dalam restoran ini kearah luar. Dan ya benar apa yang Helen lihat.
"Eh iya itu Luna, Ay...".
"Yaudah samperin duluan Kak...".
Gua pun bangkit dari kursi dan berlalu meninggalkan Helen yang berjalan beberapa meter dibelakang Gua. Sekitar empat meter Gua berhenti dibelakang Luna yang sedang berdiri di dekat lobby sambil membuka tas pestanya. Malam itu, dia benar-benar sangat terlihat cantik, serius, dia benar-benar sangat berbeda, mungkin karena sudah lama juga kami tidak bertemu, ditambah sekarang dia memakai dress party berwarna merah maroon dan rambut yang di curly ujungnya. She's so fuckin beautiful tonight.
"Luna...".
Luna menengok kebelakang dan melihat Gua dengan ekspresi terkejut.
"Eza ?!", ucapnya tercekat.
Gua tersenyum kepadanya, lalu sedetik kemudian, tangan Gua merogoh saku jas hitam bagian dalam dan mengeluarkan kotak persegi. Gua berjalan mendekatinya... Namun langkah kaki Gua berhenti tepat dua meter didepannya.
"Ayo honey... Kita langsung ke apartemen kamu sekarang ?", ucap seorang pria yang datang dari arah lain dan langsung merangkul bahu kekasih Gua itu. "Hmm ? Who this guy ?", tanyanya ketika melihat Gua.
Luna masih terdiam menatap Gua, begitupun dengan Gua, terdiam karena tidak mengerti apa maksud ucapan pria disampingnya itu. Honey ?who is honey ? My fakin girlfriend ?.
"Za.. Kamu gimana bisa ada disini ?", tanya Luna dengan suara yang bergetar.
"Hun.. Siapa dia ?".
"Erick, please stop asking!", Luna sedikit menyentak kepada pria yang berada disampingnya itu sambil menepiskan lengan yang merangkul bahunya.
"Hey.. Kamu kenapa sayang ? Dia ini siapa ? Aku nanya masih wajar Lun, cuma ingin tau siapa cowok ini ?", ucap Erick.
Luna menggelengkan kepalanya pelan.
Gua tersenyum lalu kembali mendekati Luna dan meraih tangan kirinya. Tapi sedetik kemudian tangan Erick menepis tangan Gua.
"Bro.. Don't touch my fiancée..", ucapannya terdengar serius.
Gua lepas genggaman tangan Gua, lalu menatap kepada Luna. "Fiancée ?", tanya Gua kepada Luna. Tapi Luna hanya tertunduk dengan airmata yang sudah mulai menetes perlahan. "Give me your fakin reasons bout this shit, Lun...", lanjut Gua.
Kyut... Kerah kemeja Gua ditarik dan dicengkram oleh Erick.
Dia menatap Gua dengan tatapan membunuh. "Watch out your fakin mouth young man...".
Gua menyunggingkan ujung bibir menatap matanya lekat-lekat.
Dugh.. Gua adukan kening ini kearah matanya.
"Argh!!", Erick melepaskan cengkramannya lalu memegangi matanya itu.
"Erick!", Luna terkejut lalu memegangi kedua bahu Erick.
Luna menahan Erick yang hendak memukul Gua, lalu.. Plaakk.. Pipi Gua ditampar oleh Luna. Kemudian dia menyuruh Gua pergi. Ya Luna meminta Gua pergi.
Tidak lama kemudian Helen sudah berdiri disamping Gua bersama Mamahnya.
"Helen ? Mamah ? Kalian ngapain disini ?", tanyanya bingung.
"Kak.. Kamu yang lagi apa disini sama dia ?", Helen balik bertanya sambil menunjuk Erick.
"Luna.. Kami bertiga kesini untuk merayakan Natal bersama kamu", timpal sang Mamah.
Gua menggelengkan kepala. "Luna.. Aku minta maaf kalo selama ini aku salah dan gak bisa ngebahagiain kamu...", Gua membuka kotak persegi dan mengeluarkan cincin dari dalamnya. "Aku salah menilai kamu... Ini..", Gua tunjukan cincin itu dihadapan semua orang yang berada didekat kami.
"Ini adalah benda yang ingin aku sematkan di jemari manis kamu.. Tapi rasanya semuanya sia-sia ya Lun... Aku gagal jadiin kamu tunangan aku... Oh mungkin telat.. Entah kapan Dia melamar kamu..", lanjut Gua sambil menatap kepada Erick.
Luna menangis dengan airmata yang tertumpah cukup banyak. Kedua tangannya menutupi mulutnya.
Gua berbalik dan melangkah meninggalkan mereka, beberapa langkah Gua berhenti ketika Luna berteriak memanggil Gua.
"Eza!".
Gua membalikan badan dan menatapnya yang berjalan menghampiri Gua.
"Lun.. Marry Christmas...", ucap Gua lalu melemparkan cincin itu kearah wajahnya sebelum dia berdiri dihadapan Gua.
Kemudian Gua kembali berjalan meninggalkannya dengan sejuta rasa yang sudah hancur dalam hati ini.
Plakk!!! Suara tamparan terdengar cukup keras, namun Gua tidak tau siapa dan siapa yang menggampar dan digampar.
"Kamu jahat Kak!!!", teriak Helen yang cukup terdengar oleh Gua.
Gua tetap berjalan ketika Helen memanggil nama Gua dari belakang. Gua keluar dari lobby hotel itu dengan menahan sakit di dada ini. Sial, airmata Gua sudah menggenang pada sudut mata ini. Gua berdiri tepat dipinggir jalan dan menatap langit malam, Gua masukan kedua tangan pada kedua saku celana.
Mata Gua terpejam sejenak, dan airmata ini mengalir dengan sendirinya melintasi sisi wajah Gua hingga jatuh menetes.
"Kenapa ?".
"Itu Kak Luna kan ?", tanyanya menatap ke depan sana.
Gua melirik kearah matanya memandang, mencoba mencari sosok kekasih dari dalam restoran ini kearah luar. Dan ya benar apa yang Helen lihat.
"Eh iya itu Luna, Ay...".
"Yaudah samperin duluan Kak...".
Gua pun bangkit dari kursi dan berlalu meninggalkan Helen yang berjalan beberapa meter dibelakang Gua. Sekitar empat meter Gua berhenti dibelakang Luna yang sedang berdiri di dekat lobby sambil membuka tas pestanya. Malam itu, dia benar-benar sangat terlihat cantik, serius, dia benar-benar sangat berbeda, mungkin karena sudah lama juga kami tidak bertemu, ditambah sekarang dia memakai dress party berwarna merah maroon dan rambut yang di curly ujungnya. She's so fuckin beautiful tonight.
"Luna...".
Luna menengok kebelakang dan melihat Gua dengan ekspresi terkejut.
"Eza ?!", ucapnya tercekat.
Gua tersenyum kepadanya, lalu sedetik kemudian, tangan Gua merogoh saku jas hitam bagian dalam dan mengeluarkan kotak persegi. Gua berjalan mendekatinya... Namun langkah kaki Gua berhenti tepat dua meter didepannya.
"Ayo honey... Kita langsung ke apartemen kamu sekarang ?", ucap seorang pria yang datang dari arah lain dan langsung merangkul bahu kekasih Gua itu. "Hmm ? Who this guy ?", tanyanya ketika melihat Gua.
Luna masih terdiam menatap Gua, begitupun dengan Gua, terdiam karena tidak mengerti apa maksud ucapan pria disampingnya itu. Honey ?who is honey ? My fakin girlfriend ?.
"Za.. Kamu gimana bisa ada disini ?", tanya Luna dengan suara yang bergetar.
"Hun.. Siapa dia ?".
"Erick, please stop asking!", Luna sedikit menyentak kepada pria yang berada disampingnya itu sambil menepiskan lengan yang merangkul bahunya.
"Hey.. Kamu kenapa sayang ? Dia ini siapa ? Aku nanya masih wajar Lun, cuma ingin tau siapa cowok ini ?", ucap Erick.
Luna menggelengkan kepalanya pelan.
Gua tersenyum lalu kembali mendekati Luna dan meraih tangan kirinya. Tapi sedetik kemudian tangan Erick menepis tangan Gua.
"Bro.. Don't touch my fiancée..", ucapannya terdengar serius.
Gua lepas genggaman tangan Gua, lalu menatap kepada Luna. "Fiancée ?", tanya Gua kepada Luna. Tapi Luna hanya tertunduk dengan airmata yang sudah mulai menetes perlahan. "Give me your fakin reasons bout this shit, Lun...", lanjut Gua.
Kyut... Kerah kemeja Gua ditarik dan dicengkram oleh Erick.
Dia menatap Gua dengan tatapan membunuh. "Watch out your fakin mouth young man...".
Gua menyunggingkan ujung bibir menatap matanya lekat-lekat.
Dugh.. Gua adukan kening ini kearah matanya.
"Argh!!", Erick melepaskan cengkramannya lalu memegangi matanya itu.
"Erick!", Luna terkejut lalu memegangi kedua bahu Erick.
Luna menahan Erick yang hendak memukul Gua, lalu.. Plaakk.. Pipi Gua ditampar oleh Luna. Kemudian dia menyuruh Gua pergi. Ya Luna meminta Gua pergi.
Tidak lama kemudian Helen sudah berdiri disamping Gua bersama Mamahnya.
"Helen ? Mamah ? Kalian ngapain disini ?", tanyanya bingung.
"Kak.. Kamu yang lagi apa disini sama dia ?", Helen balik bertanya sambil menunjuk Erick.
"Luna.. Kami bertiga kesini untuk merayakan Natal bersama kamu", timpal sang Mamah.
Gua menggelengkan kepala. "Luna.. Aku minta maaf kalo selama ini aku salah dan gak bisa ngebahagiain kamu...", Gua membuka kotak persegi dan mengeluarkan cincin dari dalamnya. "Aku salah menilai kamu... Ini..", Gua tunjukan cincin itu dihadapan semua orang yang berada didekat kami.
"Ini adalah benda yang ingin aku sematkan di jemari manis kamu.. Tapi rasanya semuanya sia-sia ya Lun... Aku gagal jadiin kamu tunangan aku... Oh mungkin telat.. Entah kapan Dia melamar kamu..", lanjut Gua sambil menatap kepada Erick.
Luna menangis dengan airmata yang tertumpah cukup banyak. Kedua tangannya menutupi mulutnya.
Gua berbalik dan melangkah meninggalkan mereka, beberapa langkah Gua berhenti ketika Luna berteriak memanggil Gua.
"Eza!".
Gua membalikan badan dan menatapnya yang berjalan menghampiri Gua.
"Lun.. Marry Christmas...", ucap Gua lalu melemparkan cincin itu kearah wajahnya sebelum dia berdiri dihadapan Gua.
Kemudian Gua kembali berjalan meninggalkannya dengan sejuta rasa yang sudah hancur dalam hati ini.
Plakk!!! Suara tamparan terdengar cukup keras, namun Gua tidak tau siapa dan siapa yang menggampar dan digampar.
"Kamu jahat Kak!!!", teriak Helen yang cukup terdengar oleh Gua.
Gua tetap berjalan ketika Helen memanggil nama Gua dari belakang. Gua keluar dari lobby hotel itu dengan menahan sakit di dada ini. Sial, airmata Gua sudah menggenang pada sudut mata ini. Gua berdiri tepat dipinggir jalan dan menatap langit malam, Gua masukan kedua tangan pada kedua saku celana.
Mata Gua terpejam sejenak, dan airmata ini mengalir dengan sendirinya melintasi sisi wajah Gua hingga jatuh menetes.
Letih aku bila menatap segala kisah dalam dirimu
Pengorbanan dan penantian
Hanya terbuang dan sia-sia
Kau hempaskan tubuh ini
Kau goreskan luka hati
Pengorbanan dan penantian
Hanya terbuang dan sia-sia
Kau hempaskan tubuh ini
Kau goreskan luka hati
Gua mengingat-ingat ucapan yang menjadi peringatan Mba Yu tentang niatan Gua ini. Ya, dia mengingatkan Gua untuk berfikir ulang soal acara kejutan yang akan Gua berikan kepada Luna, kepada Luna yang malam Natal ini akan Gua lamar. Dan apa yang ia takutkan terjadi juga.
Tidak pernah terbayangkan bahwa ternyata Luna bisa setega ini mengkhianati Gua. Disaat Gua benar-benar memilih dia dibandingkan Vera dan Sherlin... Disaat Gua percaya bahwa perbedaan keyakinan diantara kami berdua tidak akan menjadi penghalang hubungan ini. Tapi apa lacur, kenyataan pahit harus Gua rasakan disaat cinta untuknya benar-benar utuh.
Dan inilah pertama kalinya Gua benar-benar sakit hati karena dikhianati oleh seorang wanita. Wanita yang pernah membantu Gua keluar dari sisi gelap, dari masa terpuruk, dari rasa depresi dan hancur ketika ditinggal Echa. Dan dia juga kini yang menghempaskan Gua kembali ke dalam titik gelap itu.
Tidak pernah terbayangkan bahwa ternyata Luna bisa setega ini mengkhianati Gua. Disaat Gua benar-benar memilih dia dibandingkan Vera dan Sherlin... Disaat Gua percaya bahwa perbedaan keyakinan diantara kami berdua tidak akan menjadi penghalang hubungan ini. Tapi apa lacur, kenyataan pahit harus Gua rasakan disaat cinta untuknya benar-benar utuh.
Dan inilah pertama kalinya Gua benar-benar sakit hati karena dikhianati oleh seorang wanita. Wanita yang pernah membantu Gua keluar dari sisi gelap, dari masa terpuruk, dari rasa depresi dan hancur ketika ditinggal Echa. Dan dia juga kini yang menghempaskan Gua kembali ke dalam titik gelap itu.
Takkan aku kenang lagi
Tulus cinta yang kau beri
Pergilah cintaku lupakan dirinya
Takkan aku ingat lagi
Sakit hati yang kau beri
Pergilah cintaku biarkan berlalu
Tulus cinta yang kau beri
Pergilah cintaku lupakan dirinya
Takkan aku ingat lagi
Sakit hati yang kau beri
Pergilah cintaku biarkan berlalu
Gua membuka mata ini ketika seorang wanita berdiri disamping Gua dan menarik tangan kanan Gua lembut kearahnya. Dia menangis menatap Gua, lalu segala rasa sakit yang Gua rasakan kembali menyeruak hingga tubuh ini bergetar dan menangis diatas bahunya.
Dia memeluk Gua dan menyandarkan kepala ini ke bahunya. Membelai rambut Gua dan kami berdua pun menangis. Peduli setan, Gua mengacuhkan rasa malu sebagai lelaki yang cengeng. Karena Gua akui, malam ini Gua luluh lantak dengan sejuta sakit di dalam hati karena Kakaknya itu.
"Sabar Kak.. Hiks.. Hiks..".
Dia memeluk Gua dan menyandarkan kepala ini ke bahunya. Membelai rambut Gua dan kami berdua pun menangis. Peduli setan, Gua mengacuhkan rasa malu sebagai lelaki yang cengeng. Karena Gua akui, malam ini Gua luluh lantak dengan sejuta sakit di dalam hati karena Kakaknya itu.
"Sabar Kak.. Hiks.. Hiks..".
Takkan aku ingat lagi
Sakit hati yang kau beri
Pergilah cintaku biarkan berlalu

Diubah oleh bunbun.orenz 22-06-2017 02:33
kadalbuntingzzz dan fatqurr memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
