- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#6336
PART 92
Desember 2009 sudah berjalan selama tiga hari, dan dari terakhir kali Gua mengunjungi Nona Ukhti saat ulang tahunnya di Singapore lalu, sudah berlalu selama tiga minggu lebih. Saat ini Gua kembali menjalani magang di salah satu hotel di pulau Batam, dan kurang lebih sekitar tiga minggu kedapan masa magang atau pkl ini akan berakhir.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan saat ini sudah hari terakhir Gua magang di hotel. Gua selesai mengepakan barang ke tas ransel lalu pamit kepada beberapa karyawan yang ada di mess ini, tentunya Gua juga sudah pamit kepada atasan Gua, beberapa kepala Chef di hotel tempat Gua magang dan juga sudah mendapatkan sertifikasi selama tiga bulan magang di hotel tersebut. Sekitar pukul tiga sore Gua pun berangkat ke bandara untuk naik pesawat menuju pulau jawa. Singkat cerita Gua sudah sampai di bandara soekarno-hatta.
Gua berjalan menuju pintu keluar kedatangan domestik dan melihat seorang wanita yang memang sebelumnya sudah berjanji akan menjemput Gua di bandara ini. Gua menghampirinya ketika dia melambaikan tangan.
"Hai Mba..", sapa Gua setelah menghampirinya. "Maaf ya jadi ngerepotin..", lanjut Gua.
"Hai Mas, enggak kok, kan aku yang pingin jemput kamu kesini, hihihi...", jawabnya. "Oh ya, mau langsung pulang ?", tanyanya.
"Kita makan dulu ya Mba, tapi gak disini".
"Dimana ?".
"Ke restoran aku aja ya, udah lama juga kan aku gak kesana".
Mba Yu pun mengangguk sambil tersenyum, lalu kami berjalan berdampingan menuju parkiran mobil. Gua duduk dibangku penumpang depan, sebelah Mba Yu yang mengemudikan mobil. Perihal Mba Yu yang menjemput Gua hari ini di bandara sebenarnya tidak direncanakan sama sekali. Dua hari lalu, Gua dan Mba Yu sedang chatting di bbm, saling menanyakan kabar, sampai akhirnya Gua bercerita kalau dua hari kedepan Gua akan pulang karena masa magang sudah selesai, dan dari situlah Mba Yu mengajukan diri untuk menjemput Gua hari ini di bandara Soetta. Karena dia bilang tidak ada perkuliahan, dan acara lain, jadi Gua pun menerima tawarannya.
Di perjalanan saat berada di jalan tol, kami banyak mengobrol soal masa magang Gua selama di Batam, sampai akhirnya Gua menceritakan kepergian Gua ke negara tetangga untuk merayakan ulang tahun Nona Ukhti kepadanya.
"Kejutan banget untuk Vera ya Mas.. Dia pasti senang kamu kasih kejutan gitu", ucapnya setelah Gua bercerita.
"Ya, kalau aku liat dia cukup senang... Syukur dia juga suka sama semua yang aku kasih selama disana".
"Terus, Luna tau kalau kamu ngerayain ulang tahun Vera di Singapore ?", tanyanya.
"Tau kok Mba, dia tau kalo aku pergi nemuin Vera untuk ngerayain ulang tahunnya, karena memang sebelumnya juga aku minta izin sama dia dulu", jawab Gua.
"Ooh.. Dia gak marah atau cemburu gitu ? Eh, dia tapi tau kan kalo kamu pernah dekat sama Vera ? Maksudku sebelum kamu nikah sama Almh. Echa".
Gua menganggukan kepala sambil tersenyum kepadanya. "Tau kok, bahkan dia tau kalau aku ma..", Gua tidak jadi melanjutkan kalimat tersebut, karena Gua tersadar kalau ucapan Gua itu bisa saja membuat mood Mba Yu berubah.
"Hm ? Masih sayang sama dia ? Iya ?", tebak Mba Yu sekilas melirik kepada Gua lalu menatap jalan tol lagi di depan sana.
Ah benarkan, terlambat... Mba Yu sadar duluan sebelum Gua menyelesaikan ucapan tadi. Gua menggaruk pelipis sambil tertunduk. Bingung mau jawab apa.
"Mas..".
Gua melirik sedikit kepada Mba Yu yang masih fokus mengemudikan mobil.
"Aku udah selesai sama Feri...", lanjutnya dingin namun Gua bisa merasakan kalimatnya itu penuh penekanan.
Hening sudah suasana diantara kami, hanya deru mesin mobil yang melaju semakin kencang yang bisa Gua dengar dan rasakan ketika mobil ini keluar tol dan menuju restoran Gua.
....
Kami berdua makan di lantai dua restoran, bagian luar di balkon. Gua memesan dua steak untuk kami berdua, lalu dua gelas jus jeruk sebagai penghilang dahaga. Btw, saat itu restoran Gua belum menjual minuman beralkohol ataupun wine, maklum, Mba Laras kan tidak setuju, lain cerita jika nanti Gua yang sudah benar-benar menjalankan bisnis ini sendiri.
"Gimana ceritanya kamu bisa udahan sama Feri, Mba ?", tanya Gua setelah kami selesai menyantap makanan.
"Secara personal antara aku dan dia Mas, belum secara formal ke keluarga kami.. Aku mutusin dia, aku gak bisa nerusin hubungan ini apalagi ke hubungan yang lebih serius...", jawabnya ketika selesai mengelap bibir dengan tissue.
"Mmm.. Terus Feri gimana ? Dan kamu juga yakin dengan keputusan ini ?", tanya Gua lagi seraya mengambil sebatang rokok lalu mulai membakarnya.
"Mas, maaf ya, kamu tau sendiri kan waktu kamu berdua sama Luna, aku gimana ? Apalagi ini, Feri berapa kali khianatin aku Mas... Perempuan mana yang gak sakit hati, oh enggak enggak, mau perempuan atau laki-laki sama aja, semua orang gak ada yang gak sakit hati Mas dikhianatin kayak gini.. Jelas-jelas dia tau kalau kami berdua udah saling terikat di acara lamaran, tapi apa ? Dia masih aja berani main perempuan lain", terdengar jelas suaranya sedikit bergetar menahan emosi yang berkecamuk dalam hatinya itu.
Gua menganggukan kepala dan menatap sendu kepada Mba Yu... Sherlin Putri Levanya...Kamu itu wanita yang baik sekalipun banyak orang yang menganggap kamu buruk. Aku tau kebaikan hati kamu selama ini. Dan aku memang bajingan yang enggak bisa menjaga kamu dari dulu. Menyianyiakan kamu saat kita masih bersama. Tapi wanita seperti kamu kenapa harus terus menerus disakiti, bahkan sampai saat itu tiba.. Ya kan Mba ? Andaikan dia gak menahan aku, mungkin cerita saat itu akan berbeda Mba... Aku hanya bisa mendo'a kan yang terbaik untuk kamu Mba.. Kamu, aku dan mereka tau akhirnya hubungan kita seperti apa. Nothing gonna change for us.
"Aku paham Mba, maaf aku... Aku gak bis..".
"Aku gak nyalahin kamu Mas.. Aku cuma bingung kenapa Feri bisa begitu...",potongnya.
"Ah iya... Kamu udah tanya alasannya kenapa dia sampai berani selingkuhin kamu ?".
"Klasik.. Males aku neranginnya.. Omong kosong Mas.. Dia cuma omong kosong".
Gua menghela nafas lalu menatap kearah lain sambil menghisap rokok dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
"Mba, aku minta maaf soal janji yang dulu", ucap Gua kali ini menatap matanya lekat-lekat. Mba Yu membalas tatapan Gua dengan mata yang sayu, ya mungkin dia kecewa.
"Maaf Mba.. Aku.. Aku gak tau harus bilang apa lagi sama kamu Mba, karena sekarang aku sendiri bingung sama perasaan aku ke Luna dan Vera... Kamu pahamkan maksud aku ?", lanjut Gua.
"Kamu tuh dari dulu selalu gitu...", jawabnya sambil bertopang dagu.
"Maksudnya ?", tanya Gua balik heran lalu menghisap rokok lagi dan menghembuskannya keatas.
"Ya selalu aja bingung dengan pilihan... Aneh aja Mas, emang gak ada yang benar-benar kamu cintai gitu dari dalam hati kamu ?", tanya Mba Yu sambil memutar sedotan pada gelas jus jeruknya.
"Mmm.. Ada lah.. Masa iya enggak Mba..".
"Siapa ? Dari ketiga nama yang sekarang...".
Gua tersenyum lalu mengerlingkan mata kepadanya. "Kamu", jawab Gua menggoda.
"Huu.. Gombal..", jawab Mba Yu seraya mengibaskan sedotan kearah wajah ini, dan seketika itu juga percikan air jus mengenai wajah Gua.
"Hehehe.. Emang kenapa kalo aku jawab kamu ? Bukannya itu yang kamu mau Mba ? Atau.. Mau aku sebutin nama Lu..".
"Hey! Gak usah nyebut nama dia deh.. Malesin kamu tuh", potongnya seraya melotot kepada Gua.
Sontak Gua langsung terkekeh lagi melihat ekspresinya itu. Lalu Gua mematikan batang rokok yang memang sudah hampir habis. Kemudian melipat kedua tangan diatas meja dan menatap mata Mba Yu lekat-lekat.
"Mba..".
"Hmm ?".
"Kenapa Luna gak cemburu sama Vera ya ?", tanya Gua serius.
Mba Yu menaikan kedua alis lalu tersenyum tipis. "Kayaknya apa yang dipikirkan Luna sama dengan aku, Mas..", ucap Mba Yu.
Gua mengerenyitkan kening, tidak paham maksud Mba Yu, fikiran apa yang membuat mereka berdua sama soal Nona Ukhti.
"Gimana maksudnya Mba ?".
"Kita semua tau Mas apa yang terjadi sama Vera di masa lalu, dan setelah itu, kamu.. Ya kamu down ketika dia pergi ditambah almh. Istri kamu... Dan dia, Vera.. Hadir lagi ke kehidupan kamu disaat yang tepat. Bahkan aku gak bisa membuat kamu keluar dari masa depresi kamu, ya walaupun alasannya karena masih dengan Feri saat itu. Tapi aku sadar... Dan aku rasa begitupun dengan Luna. Vera terlalu bernilai tinggi di mata kamu Mas. Lihat sendiri, gak ada satupun perempuan yang kuat menanggung beban yang ia hadapi saat itu, bahkan... Maaf, temannya sampai bunuh diri di rumah sakit. Sedangkan Vera ? Dia berhasil menjadi seorang wanita yang layak disebut sebagai bidadari surga yang turun dari langit Mas.. Kebesaran hatinya, keteguhan hatinya, dan semua itu lengkap sudah dengan pengalaman hidup pahit yang ia alami membuat dia semakin mendekatkan diri kepada Tuhan", jelas Mba Yu kepada Gua yang masih memahami setiap ucapannya itu.
"Sekarang gimana aku dan Luna bisa bersaing dengan wanita seperti Vera, Mas ?", tanyanya kali ini seraya tersenyum tulus kepada Gua.
"Ehm.. Mba, aku..".
"Mas, Luna rela kalo kamu lebih milih Vera karena apa yang ada di dalam diri Vera memang jauh bisa membuat kamu bahagia... Sedangkan dia gak akan rela kalo aku yang kamu pilih, karena kita juga tau kan.. Luna sakit hati sampai sekarang karena aku mukul kamu dan dia dulu...", potong Mba Yu.
"Tapi kan kata kamu memang Luna duluan yang cari perkara...", timpal Gua.
"Karena itu Mas, karena itu dia semakin gak rela kalo kamu berhubungan lagi sama aku. Gimanapun Luna benci sama aku, sama seperti aku benci dengan Luna selama ini.. Apa kamu rela kalau misalkan... Maaf, Mba Siska jadian lagi sama mantannya yang dulu itu ? Yang pernah nyakitin dia ? Ini cuma sebagai contoh aja...".
Gua mengerti pada akhirnya. Seperti itulah wanita kalau sudah benci, ah mungkin sama halnya dengan lelaki. Apapun itu, yang jelas sulit sekarang memperbaiki lagi hubungan mereka berdua.
"Terus.. Gimana aku sekarang Mba ? Aku... Aku gak mau nyakitin Luna.. Aku sayang sama dia, benar-benar sayang Mba, maaf aku harus ngomong gini ke kamu, aku bimbang... Sedangkan Vera juga... Aah.. Syiitt", Gua menjambak rambut sendiri sambil memejamkan mata. Pusing memikirkan pilihan yang sulit ini.
"Mas.. Jalan kamu sama Luna lebih berat daripada kamu memilih Vera.. Ada hal-hal yang harus kamu pertimbangkan masak-masak Mas, perbedaan kalian.. Keluarga... Dan.. Apa iya Luna benar-benar mencintai kamu ?".
Gua menatap nanar kearah langit-langit restoran ini. Semakin bingung dengan pertanyaan yang Mba Yu utarakan itu. Entah bagaimana kedepannya jika Gua memilih salah satu dari mereka. Yang jelas pasti akan ada yang tersakiti lagi dan lagi...
"Sebentar.. Aku baru kepikiran... Berarti kamu juga rela dong kalo aku milih Vera daripada kamu Mba...?".
"Enaaak ajaa! Aku belum nyerah ya, weee...", sungut Mba Yu sambil menjulurkan lidah.
Dan kami berdua pun tertawa menikmati kebingungan dan kebodohan ini... Lakon hidup yang dibuat pusing sendiri. Ah Mba Yu... Kamu tuh yaa.. Hmmm.. Entahlah.
...
Natal tahun ini Gua sudah mengantongi tiket pesawat, paspor dan visa untuk berlibur ke negara sebrang. Beberapa hari setelah Gua pulang dari Batam, Gua main ke rumah Helen, yang artinya Gua bertemu dengan Mamahnya Luna dan Helen, untuk menanyakan kabar apakah Natal tahun ini Luna pulang ke Indonesia. Ternyata dia tidak pulang dengan alasan ada beberapa kerjaan yang memang tanggung untuk ditinggalkan. Kenapa Gua tidak menanyakan langsung kepada Luna, karena Gua ingin memberikan kejutan untuknya. Sedangkan Papahnya sudah lebih dulu pulang ke Jerman lagi sendirian.
Saat Gua sudah mendapatkan kontak Helen dari Mamahnya, Gua pun akhirnya berbalas chatting via bbm dengan Helen akhir-akhir ini, karena Helen akan pulang ke Indonesia selama libur Natal. Gua ceritakan kepada adik kekasih Gua itu untuk memberikan kejutan kepada sang Kakak dengan menyambanginya ke Aussie. Helen mau membantu Gua dan ternyata lebih dari itu, dia juga akan ikut ke Aussie bersama Mamahnya. Jadilah nanti kami bertiga berangkat bersama untuk memberikan surprise untuk Luna.
Selama Gua menceritakan keinginan Gua untuk mendatangi Luna kepada Helen, dia, Helen, cukup senang dan antusias membantu Gua menanyakan informasi soal kegiatan sang Kakak selama Natal di Aussie, jadi kami tau dia ada acara apa saja dan dimana saja saat kami sudah sampai di Aussie nanti. Ada satu hal yang masih Gua rahasiakan, soal kejutan lainnya untuk Luna. Sampai nanti Gua bertemu dengannya, Helen maupun sang Mamah belum mengetahui kejutan tersebut.
Selesai mendapatkan visa dari teman Dewa, Gua pun sudah siap untuk berangkat hari ini ke Aussie bersama Helen dan Mamahnya. Hari keberangkatan ini tepat satu hari sebelum perayaan Natal. Gua pamit kepada Nenek dan juga Mba Laras, sedangkan Gua, Helen dan Mamahnya diantar oleh supir pribadi keluarga Helen ke bandara Soetta. Sesampainya disana, kami memasuki terminal keberangkatan internasional untuk melakukan check-in dan segala macam pemeriksaan dokumen serta kelengkapan lainnya.
Gua duduk di sofa tunggu tepat disebelah Helen, sedangkan sang Mamah duduk disisi lainnya. Kami masih menunggu keberangkatan. Gua dan Helen pun banyak membicarakan beberapa hal soal perkuliahan dia selama di Jerman dan juga kegiatan Kakaknya yang selama ini sering berkomunikasi dengan Helen.
"Nah besoknya, tepat pas Natalan, kita langsung ke hotel xxx aja Kak, soalnya Kak Luna ada gala dinner gitu katanya, acara perusahaan tempat dia kerja...", ucap Helen setelah menceritakan maksud tujuan kami nanti setelah sampai di Aussie.
Gua menangguk paham. "Hmm.. Okelah, Aku ikut aja Ay, yang penting kan kamu udah dapet info dia menginap di hotel mana di Sydney... Eh iya, dia tinggal di deket kantornya kan, kenapa acaranya jauh ke Sydney ya ?", tanya Gua.
"Mungkin lebih menarik suasana di kota itu Kak... Jadi gala dinnernya di hotel daerah Sydney...", jawabnya menerka. "Oh iya, Kakak udah beres kuliahnya ? Ambil diploma kan ?".
"Iya, aku ambil diploma tiga Ay, Baru selesai magang sih, bulan depan aku bikin T.A, dan kalo enggak ada kendala wisuda pertengahan tahun depan lah..", jawab Gua.
"Hmm.. Semoga lancar dan sukses ya Kak..", ucapnya mendo'a kan.
"Aamiin, makasih ya Ay..".
Tidak lama kami pun mulai memasuki pesawat setelah informasi yang terdengar sebelumnya memberitahukan bahwa pesawat yang kami tumpangi akan segera lepas landas.
Singkat cerita kami bertiga sudah sampai di Sydney. Setelah meninggalkan bandara, kami naik taxi ke salah satu hotel yang memang sudah di booking via online oleh Helen beberapa hari sebelumnya untuk kami bertiga. Dua kamar, tentunya Helen tidur dengan sang Mamah, sedangkan Gua sendirian. Hari pertama ini kami hanya ingin beristirahat, karena Helen yang baru saja pulang dari Jerman empat hari lalu sekarang sudah pergi lagi ke Aussie bersama Gua dan Mamahnya. Kami beristirahat di hotel ini dan makan malam bersama di restoran hotel tersebut. Benar-benar tidak pergi keluar untuk sekedar jalan ataupun menikmati malam sebelum Natal, hanya istirahat.
Oh ya, awalnya Helen sudah mengecek ketersediaan kamar hotel dimana gala dinner kantor Luna diselenggarakan, agar kami lebih mudah menemui Luna tapi sayang kamar hotel itu sudah penuh. Maka hanya hotel inilah yang masih menyediakan kamar kosong di holiday tahun ini. Untungnya hotel tempat kami menginap dengan hotel tempat Luna mengikuti gala dinner tidak begitu jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menit kuranglah. Tapi tidak mungkin juga Helen dan Mamahnya berjalan kaki ke sana dengan mengenakan gaun pesta.
Keesokan pagi, kami bertiga breakfast di restoran hotel. Setelah itu Helen berniat berenang di kolam dekat restoran, sempat Gua diajak olehnya untuk renang, tapi rasanya musim panas di Aussie masih cukup dingin bagi Gua untuk sekedar berenang, daripada sakit lebih baik Gua melihat Helen dengan swimsuit yang aduhai dari meja sisi kolam sambil menikmati sebatang rokok.
"Gak dingin Ay ?", tanya Gua dari tempat duduk sisi kolam.
"Enggak, seger kok, ayo renang Kak... Hihihi...", ucapnya dari sisi kolam dengan sebagian tubuhnya berada di dalam air.
Mungkin, mungkin ya, imun tubuhnya sudah terbiasa karena selama beberapa tahun dia tinggal di daratan eropa, walaupun ini musim panas di Aussie tapi tetap saja suhu air kolam itu bagi Gua terasa cukup dingin di pagi hari ini.
"Hey, hayo matanya jelalatan ya liatin aku ?! Hm!", tembaknya ketika Gua memikirkan soal cuaca dan suhu kolam yang dingin.
"Eh enggak.. Sembarangan. Orang lagi mikirin dingin apa enggak itu aer kolam...", jawab Gua sambil memalingkan wajah.
"Tapi matanya ngeliat aku terus.. Huuu dasar laki-laki!", Helen menyipratkan air kearah Gua.
"Enggak... Ya ampun.. Hadeuuh..", jawab Gua sambil menyeka air yang membasahi kaki.
Lalu Helen kembali berenang kearah sisi kolam lainnya. Tapi gara-gara dia bicara seperti itu sebelumnya, mata ini jadi autofokus kearah tubuhnya yang sedang bergerak di dalam air. Haduh.. Mbloo.. Bodinya sih tipis, tapi itu kulitnya putih banget. Daripada makin ngawur, Gua memilih beranjak pergi ke kamar hotel meninggalkannya.
Sesampainya dikamar, Gua mulai membereskan outfit yang akan Gua kenakan untuk acara nanti malam. Setelah itu barulah Gua masuk ke dalam kamar mandi untuk membilas tubuh. Selesai mandi dan berganti pakaian, pintu kamar Gua diketuk dari luar.
"Eh Helen... Kenapa ?", tanya Gua setelah membuka pintu kamar dan melihatnya sudah berdiri didepan Gua dengan pakaian yang baru. Sepertinya dia sudah selesai mandi juga.
Kyuuttt... Pinggang Gua langsung dicubit dengan raut wajahnya yang kesal.
"Adaaaaww.. Aaww.. Apaan nih ooiii aaww.. Sakit oii.. Aw aw aw...", ringis Gua.
"Kurang ajar ya ninggalin aku sendirian di kolam tadi!!", sentaknya seraya bertolak pinggang.
Gua mengusap-usap pinggang yang terasa perih. Gile, beneran nyubit ini anak. "Sshh.. Sorry sorry Ay... Tadi buru-buru ke kamar mau pup..", Gua beralasan.
"Iya kan tapi bisa ngomong dulu Kak! Maen pergi aja! Gimana sih! Dasar gak bertanggungjawab!", Helen masih kesal dengan jawaban Gua yang tidak ia pedulikan.
"Iya-iya maaf deh.. Maaf ya, beneran tadi langsung lari ke lift terus masuk kamar...".
"Yaudah deh.. Yuk kita pergi..", ajaknya.
"Hm ? Mau kemana ?".
"Kita jalan-jalan sama Mamah, acara Kak Luna kan masih lama...".
Akhirnya kami bertiga naik taxi dan diantarkan ketempat wisata yang memang menjadi ikon kota Sydney. Beberapa tempat kami kunjungi, tidak lupa kami mengabadikan kedalam kamera smartphone masing-masing dan juga kamera dslr milik Helen. Singkat cerita sore hari kami sudah kembali ke hotel untuk bersiap-siap pergi ke sebuah hotel di dekat tempat kami menginap ini. Kami naik taxi yang Gua rasa hanya buang-buang uang saja, karena tidak sampai sepuluh menit kami sampai di depan hotel bintang lima. Hotel yang menjadi tempat Luna mengikuti acara kantornya. Hotel ini memiliki view yang awesome, gimana enggak, opera house yang ikonik itu menjadi pemandangan dari kamar-kamar hotel tersebut di sebrang sana.
Kami turun dari taxi setelah Helen membayar ongkos taxi. Lalu kami memasuki hotel tersebut dan akhirnya kami sadar akan kesalahan kami. Ya, kami tidak bisa ikut masuk ke dalam ballroom hotel, dimana acara gala dinner kantor Luna diselenggarakan, karena tentu saja tamu undangan memiliki invitations khusus bagi para pegawai mereka. Karena itulah, akhirnya kami melakukan dinner sendiri di restoran tersebut. Gua dan Helen duduk bersebelahan, sedangkan Mamahnya berada di depan Helen.
Kami menikmati hidangan yang kami pesan sambil menunggu acara gala dinner yang entah dilantai berapa acara itu diselenggarakan sampai selesai. Setelah makan, Mamahnya Helen pergi ke balkon luar restoran untuk menikmati suasana malam hari sambil memandangi opera house disebrang sana. Gua dan Helen masih duduk dikursi restoran, membicarakan beberapa hal tentang niatan Gua yang ingin mencoba bekerja di hotel.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan saat ini sudah hari terakhir Gua magang di hotel. Gua selesai mengepakan barang ke tas ransel lalu pamit kepada beberapa karyawan yang ada di mess ini, tentunya Gua juga sudah pamit kepada atasan Gua, beberapa kepala Chef di hotel tempat Gua magang dan juga sudah mendapatkan sertifikasi selama tiga bulan magang di hotel tersebut. Sekitar pukul tiga sore Gua pun berangkat ke bandara untuk naik pesawat menuju pulau jawa. Singkat cerita Gua sudah sampai di bandara soekarno-hatta.
Gua berjalan menuju pintu keluar kedatangan domestik dan melihat seorang wanita yang memang sebelumnya sudah berjanji akan menjemput Gua di bandara ini. Gua menghampirinya ketika dia melambaikan tangan.
"Hai Mba..", sapa Gua setelah menghampirinya. "Maaf ya jadi ngerepotin..", lanjut Gua.
"Hai Mas, enggak kok, kan aku yang pingin jemput kamu kesini, hihihi...", jawabnya. "Oh ya, mau langsung pulang ?", tanyanya.
"Kita makan dulu ya Mba, tapi gak disini".
"Dimana ?".
"Ke restoran aku aja ya, udah lama juga kan aku gak kesana".
Mba Yu pun mengangguk sambil tersenyum, lalu kami berjalan berdampingan menuju parkiran mobil. Gua duduk dibangku penumpang depan, sebelah Mba Yu yang mengemudikan mobil. Perihal Mba Yu yang menjemput Gua hari ini di bandara sebenarnya tidak direncanakan sama sekali. Dua hari lalu, Gua dan Mba Yu sedang chatting di bbm, saling menanyakan kabar, sampai akhirnya Gua bercerita kalau dua hari kedepan Gua akan pulang karena masa magang sudah selesai, dan dari situlah Mba Yu mengajukan diri untuk menjemput Gua hari ini di bandara Soetta. Karena dia bilang tidak ada perkuliahan, dan acara lain, jadi Gua pun menerima tawarannya.
Di perjalanan saat berada di jalan tol, kami banyak mengobrol soal masa magang Gua selama di Batam, sampai akhirnya Gua menceritakan kepergian Gua ke negara tetangga untuk merayakan ulang tahun Nona Ukhti kepadanya.
"Kejutan banget untuk Vera ya Mas.. Dia pasti senang kamu kasih kejutan gitu", ucapnya setelah Gua bercerita.
"Ya, kalau aku liat dia cukup senang... Syukur dia juga suka sama semua yang aku kasih selama disana".
"Terus, Luna tau kalau kamu ngerayain ulang tahun Vera di Singapore ?", tanyanya.
"Tau kok Mba, dia tau kalo aku pergi nemuin Vera untuk ngerayain ulang tahunnya, karena memang sebelumnya juga aku minta izin sama dia dulu", jawab Gua.
"Ooh.. Dia gak marah atau cemburu gitu ? Eh, dia tapi tau kan kalo kamu pernah dekat sama Vera ? Maksudku sebelum kamu nikah sama Almh. Echa".
Gua menganggukan kepala sambil tersenyum kepadanya. "Tau kok, bahkan dia tau kalau aku ma..", Gua tidak jadi melanjutkan kalimat tersebut, karena Gua tersadar kalau ucapan Gua itu bisa saja membuat mood Mba Yu berubah.
"Hm ? Masih sayang sama dia ? Iya ?", tebak Mba Yu sekilas melirik kepada Gua lalu menatap jalan tol lagi di depan sana.
Ah benarkan, terlambat... Mba Yu sadar duluan sebelum Gua menyelesaikan ucapan tadi. Gua menggaruk pelipis sambil tertunduk. Bingung mau jawab apa.
"Mas..".
Gua melirik sedikit kepada Mba Yu yang masih fokus mengemudikan mobil.
"Aku udah selesai sama Feri...", lanjutnya dingin namun Gua bisa merasakan kalimatnya itu penuh penekanan.
Hening sudah suasana diantara kami, hanya deru mesin mobil yang melaju semakin kencang yang bisa Gua dengar dan rasakan ketika mobil ini keluar tol dan menuju restoran Gua.
....
Kami berdua makan di lantai dua restoran, bagian luar di balkon. Gua memesan dua steak untuk kami berdua, lalu dua gelas jus jeruk sebagai penghilang dahaga. Btw, saat itu restoran Gua belum menjual minuman beralkohol ataupun wine, maklum, Mba Laras kan tidak setuju, lain cerita jika nanti Gua yang sudah benar-benar menjalankan bisnis ini sendiri.
"Gimana ceritanya kamu bisa udahan sama Feri, Mba ?", tanya Gua setelah kami selesai menyantap makanan.
"Secara personal antara aku dan dia Mas, belum secara formal ke keluarga kami.. Aku mutusin dia, aku gak bisa nerusin hubungan ini apalagi ke hubungan yang lebih serius...", jawabnya ketika selesai mengelap bibir dengan tissue.
"Mmm.. Terus Feri gimana ? Dan kamu juga yakin dengan keputusan ini ?", tanya Gua lagi seraya mengambil sebatang rokok lalu mulai membakarnya.
"Mas, maaf ya, kamu tau sendiri kan waktu kamu berdua sama Luna, aku gimana ? Apalagi ini, Feri berapa kali khianatin aku Mas... Perempuan mana yang gak sakit hati, oh enggak enggak, mau perempuan atau laki-laki sama aja, semua orang gak ada yang gak sakit hati Mas dikhianatin kayak gini.. Jelas-jelas dia tau kalau kami berdua udah saling terikat di acara lamaran, tapi apa ? Dia masih aja berani main perempuan lain", terdengar jelas suaranya sedikit bergetar menahan emosi yang berkecamuk dalam hatinya itu.
Gua menganggukan kepala dan menatap sendu kepada Mba Yu... Sherlin Putri Levanya...Kamu itu wanita yang baik sekalipun banyak orang yang menganggap kamu buruk. Aku tau kebaikan hati kamu selama ini. Dan aku memang bajingan yang enggak bisa menjaga kamu dari dulu. Menyianyiakan kamu saat kita masih bersama. Tapi wanita seperti kamu kenapa harus terus menerus disakiti, bahkan sampai saat itu tiba.. Ya kan Mba ? Andaikan dia gak menahan aku, mungkin cerita saat itu akan berbeda Mba... Aku hanya bisa mendo'a kan yang terbaik untuk kamu Mba.. Kamu, aku dan mereka tau akhirnya hubungan kita seperti apa. Nothing gonna change for us.
"Aku paham Mba, maaf aku... Aku gak bis..".
"Aku gak nyalahin kamu Mas.. Aku cuma bingung kenapa Feri bisa begitu...",potongnya.
"Ah iya... Kamu udah tanya alasannya kenapa dia sampai berani selingkuhin kamu ?".
"Klasik.. Males aku neranginnya.. Omong kosong Mas.. Dia cuma omong kosong".
Gua menghela nafas lalu menatap kearah lain sambil menghisap rokok dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
"Mba, aku minta maaf soal janji yang dulu", ucap Gua kali ini menatap matanya lekat-lekat. Mba Yu membalas tatapan Gua dengan mata yang sayu, ya mungkin dia kecewa.
"Maaf Mba.. Aku.. Aku gak tau harus bilang apa lagi sama kamu Mba, karena sekarang aku sendiri bingung sama perasaan aku ke Luna dan Vera... Kamu pahamkan maksud aku ?", lanjut Gua.
"Kamu tuh dari dulu selalu gitu...", jawabnya sambil bertopang dagu.
"Maksudnya ?", tanya Gua balik heran lalu menghisap rokok lagi dan menghembuskannya keatas.
"Ya selalu aja bingung dengan pilihan... Aneh aja Mas, emang gak ada yang benar-benar kamu cintai gitu dari dalam hati kamu ?", tanya Mba Yu sambil memutar sedotan pada gelas jus jeruknya.
"Mmm.. Ada lah.. Masa iya enggak Mba..".
"Siapa ? Dari ketiga nama yang sekarang...".
Gua tersenyum lalu mengerlingkan mata kepadanya. "Kamu", jawab Gua menggoda.
"Huu.. Gombal..", jawab Mba Yu seraya mengibaskan sedotan kearah wajah ini, dan seketika itu juga percikan air jus mengenai wajah Gua.
"Hehehe.. Emang kenapa kalo aku jawab kamu ? Bukannya itu yang kamu mau Mba ? Atau.. Mau aku sebutin nama Lu..".
"Hey! Gak usah nyebut nama dia deh.. Malesin kamu tuh", potongnya seraya melotot kepada Gua.
Sontak Gua langsung terkekeh lagi melihat ekspresinya itu. Lalu Gua mematikan batang rokok yang memang sudah hampir habis. Kemudian melipat kedua tangan diatas meja dan menatap mata Mba Yu lekat-lekat.
"Mba..".
"Hmm ?".
"Kenapa Luna gak cemburu sama Vera ya ?", tanya Gua serius.
Mba Yu menaikan kedua alis lalu tersenyum tipis. "Kayaknya apa yang dipikirkan Luna sama dengan aku, Mas..", ucap Mba Yu.
Gua mengerenyitkan kening, tidak paham maksud Mba Yu, fikiran apa yang membuat mereka berdua sama soal Nona Ukhti.
"Gimana maksudnya Mba ?".
"Kita semua tau Mas apa yang terjadi sama Vera di masa lalu, dan setelah itu, kamu.. Ya kamu down ketika dia pergi ditambah almh. Istri kamu... Dan dia, Vera.. Hadir lagi ke kehidupan kamu disaat yang tepat. Bahkan aku gak bisa membuat kamu keluar dari masa depresi kamu, ya walaupun alasannya karena masih dengan Feri saat itu. Tapi aku sadar... Dan aku rasa begitupun dengan Luna. Vera terlalu bernilai tinggi di mata kamu Mas. Lihat sendiri, gak ada satupun perempuan yang kuat menanggung beban yang ia hadapi saat itu, bahkan... Maaf, temannya sampai bunuh diri di rumah sakit. Sedangkan Vera ? Dia berhasil menjadi seorang wanita yang layak disebut sebagai bidadari surga yang turun dari langit Mas.. Kebesaran hatinya, keteguhan hatinya, dan semua itu lengkap sudah dengan pengalaman hidup pahit yang ia alami membuat dia semakin mendekatkan diri kepada Tuhan", jelas Mba Yu kepada Gua yang masih memahami setiap ucapannya itu.
"Sekarang gimana aku dan Luna bisa bersaing dengan wanita seperti Vera, Mas ?", tanyanya kali ini seraya tersenyum tulus kepada Gua.
"Ehm.. Mba, aku..".
"Mas, Luna rela kalo kamu lebih milih Vera karena apa yang ada di dalam diri Vera memang jauh bisa membuat kamu bahagia... Sedangkan dia gak akan rela kalo aku yang kamu pilih, karena kita juga tau kan.. Luna sakit hati sampai sekarang karena aku mukul kamu dan dia dulu...", potong Mba Yu.
"Tapi kan kata kamu memang Luna duluan yang cari perkara...", timpal Gua.
"Karena itu Mas, karena itu dia semakin gak rela kalo kamu berhubungan lagi sama aku. Gimanapun Luna benci sama aku, sama seperti aku benci dengan Luna selama ini.. Apa kamu rela kalau misalkan... Maaf, Mba Siska jadian lagi sama mantannya yang dulu itu ? Yang pernah nyakitin dia ? Ini cuma sebagai contoh aja...".
Gua mengerti pada akhirnya. Seperti itulah wanita kalau sudah benci, ah mungkin sama halnya dengan lelaki. Apapun itu, yang jelas sulit sekarang memperbaiki lagi hubungan mereka berdua.
"Terus.. Gimana aku sekarang Mba ? Aku... Aku gak mau nyakitin Luna.. Aku sayang sama dia, benar-benar sayang Mba, maaf aku harus ngomong gini ke kamu, aku bimbang... Sedangkan Vera juga... Aah.. Syiitt", Gua menjambak rambut sendiri sambil memejamkan mata. Pusing memikirkan pilihan yang sulit ini.
"Mas.. Jalan kamu sama Luna lebih berat daripada kamu memilih Vera.. Ada hal-hal yang harus kamu pertimbangkan masak-masak Mas, perbedaan kalian.. Keluarga... Dan.. Apa iya Luna benar-benar mencintai kamu ?".
Gua menatap nanar kearah langit-langit restoran ini. Semakin bingung dengan pertanyaan yang Mba Yu utarakan itu. Entah bagaimana kedepannya jika Gua memilih salah satu dari mereka. Yang jelas pasti akan ada yang tersakiti lagi dan lagi...
"Sebentar.. Aku baru kepikiran... Berarti kamu juga rela dong kalo aku milih Vera daripada kamu Mba...?".
"Enaaak ajaa! Aku belum nyerah ya, weee...", sungut Mba Yu sambil menjulurkan lidah.
Dan kami berdua pun tertawa menikmati kebingungan dan kebodohan ini... Lakon hidup yang dibuat pusing sendiri. Ah Mba Yu... Kamu tuh yaa.. Hmmm.. Entahlah.

...
Natal tahun ini Gua sudah mengantongi tiket pesawat, paspor dan visa untuk berlibur ke negara sebrang. Beberapa hari setelah Gua pulang dari Batam, Gua main ke rumah Helen, yang artinya Gua bertemu dengan Mamahnya Luna dan Helen, untuk menanyakan kabar apakah Natal tahun ini Luna pulang ke Indonesia. Ternyata dia tidak pulang dengan alasan ada beberapa kerjaan yang memang tanggung untuk ditinggalkan. Kenapa Gua tidak menanyakan langsung kepada Luna, karena Gua ingin memberikan kejutan untuknya. Sedangkan Papahnya sudah lebih dulu pulang ke Jerman lagi sendirian.
Saat Gua sudah mendapatkan kontak Helen dari Mamahnya, Gua pun akhirnya berbalas chatting via bbm dengan Helen akhir-akhir ini, karena Helen akan pulang ke Indonesia selama libur Natal. Gua ceritakan kepada adik kekasih Gua itu untuk memberikan kejutan kepada sang Kakak dengan menyambanginya ke Aussie. Helen mau membantu Gua dan ternyata lebih dari itu, dia juga akan ikut ke Aussie bersama Mamahnya. Jadilah nanti kami bertiga berangkat bersama untuk memberikan surprise untuk Luna.
Selama Gua menceritakan keinginan Gua untuk mendatangi Luna kepada Helen, dia, Helen, cukup senang dan antusias membantu Gua menanyakan informasi soal kegiatan sang Kakak selama Natal di Aussie, jadi kami tau dia ada acara apa saja dan dimana saja saat kami sudah sampai di Aussie nanti. Ada satu hal yang masih Gua rahasiakan, soal kejutan lainnya untuk Luna. Sampai nanti Gua bertemu dengannya, Helen maupun sang Mamah belum mengetahui kejutan tersebut.
Selesai mendapatkan visa dari teman Dewa, Gua pun sudah siap untuk berangkat hari ini ke Aussie bersama Helen dan Mamahnya. Hari keberangkatan ini tepat satu hari sebelum perayaan Natal. Gua pamit kepada Nenek dan juga Mba Laras, sedangkan Gua, Helen dan Mamahnya diantar oleh supir pribadi keluarga Helen ke bandara Soetta. Sesampainya disana, kami memasuki terminal keberangkatan internasional untuk melakukan check-in dan segala macam pemeriksaan dokumen serta kelengkapan lainnya.
Gua duduk di sofa tunggu tepat disebelah Helen, sedangkan sang Mamah duduk disisi lainnya. Kami masih menunggu keberangkatan. Gua dan Helen pun banyak membicarakan beberapa hal soal perkuliahan dia selama di Jerman dan juga kegiatan Kakaknya yang selama ini sering berkomunikasi dengan Helen.
"Nah besoknya, tepat pas Natalan, kita langsung ke hotel xxx aja Kak, soalnya Kak Luna ada gala dinner gitu katanya, acara perusahaan tempat dia kerja...", ucap Helen setelah menceritakan maksud tujuan kami nanti setelah sampai di Aussie.
Gua menangguk paham. "Hmm.. Okelah, Aku ikut aja Ay, yang penting kan kamu udah dapet info dia menginap di hotel mana di Sydney... Eh iya, dia tinggal di deket kantornya kan, kenapa acaranya jauh ke Sydney ya ?", tanya Gua.
"Mungkin lebih menarik suasana di kota itu Kak... Jadi gala dinnernya di hotel daerah Sydney...", jawabnya menerka. "Oh iya, Kakak udah beres kuliahnya ? Ambil diploma kan ?".
"Iya, aku ambil diploma tiga Ay, Baru selesai magang sih, bulan depan aku bikin T.A, dan kalo enggak ada kendala wisuda pertengahan tahun depan lah..", jawab Gua.
"Hmm.. Semoga lancar dan sukses ya Kak..", ucapnya mendo'a kan.
"Aamiin, makasih ya Ay..".
Tidak lama kami pun mulai memasuki pesawat setelah informasi yang terdengar sebelumnya memberitahukan bahwa pesawat yang kami tumpangi akan segera lepas landas.
Singkat cerita kami bertiga sudah sampai di Sydney. Setelah meninggalkan bandara, kami naik taxi ke salah satu hotel yang memang sudah di booking via online oleh Helen beberapa hari sebelumnya untuk kami bertiga. Dua kamar, tentunya Helen tidur dengan sang Mamah, sedangkan Gua sendirian. Hari pertama ini kami hanya ingin beristirahat, karena Helen yang baru saja pulang dari Jerman empat hari lalu sekarang sudah pergi lagi ke Aussie bersama Gua dan Mamahnya. Kami beristirahat di hotel ini dan makan malam bersama di restoran hotel tersebut. Benar-benar tidak pergi keluar untuk sekedar jalan ataupun menikmati malam sebelum Natal, hanya istirahat.
Oh ya, awalnya Helen sudah mengecek ketersediaan kamar hotel dimana gala dinner kantor Luna diselenggarakan, agar kami lebih mudah menemui Luna tapi sayang kamar hotel itu sudah penuh. Maka hanya hotel inilah yang masih menyediakan kamar kosong di holiday tahun ini. Untungnya hotel tempat kami menginap dengan hotel tempat Luna mengikuti gala dinner tidak begitu jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menit kuranglah. Tapi tidak mungkin juga Helen dan Mamahnya berjalan kaki ke sana dengan mengenakan gaun pesta.
Keesokan pagi, kami bertiga breakfast di restoran hotel. Setelah itu Helen berniat berenang di kolam dekat restoran, sempat Gua diajak olehnya untuk renang, tapi rasanya musim panas di Aussie masih cukup dingin bagi Gua untuk sekedar berenang, daripada sakit lebih baik Gua melihat Helen dengan swimsuit yang aduhai dari meja sisi kolam sambil menikmati sebatang rokok.
"Gak dingin Ay ?", tanya Gua dari tempat duduk sisi kolam.
"Enggak, seger kok, ayo renang Kak... Hihihi...", ucapnya dari sisi kolam dengan sebagian tubuhnya berada di dalam air.
Mungkin, mungkin ya, imun tubuhnya sudah terbiasa karena selama beberapa tahun dia tinggal di daratan eropa, walaupun ini musim panas di Aussie tapi tetap saja suhu air kolam itu bagi Gua terasa cukup dingin di pagi hari ini.
"Hey, hayo matanya jelalatan ya liatin aku ?! Hm!", tembaknya ketika Gua memikirkan soal cuaca dan suhu kolam yang dingin.
"Eh enggak.. Sembarangan. Orang lagi mikirin dingin apa enggak itu aer kolam...", jawab Gua sambil memalingkan wajah.
"Tapi matanya ngeliat aku terus.. Huuu dasar laki-laki!", Helen menyipratkan air kearah Gua.
"Enggak... Ya ampun.. Hadeuuh..", jawab Gua sambil menyeka air yang membasahi kaki.
Lalu Helen kembali berenang kearah sisi kolam lainnya. Tapi gara-gara dia bicara seperti itu sebelumnya, mata ini jadi autofokus kearah tubuhnya yang sedang bergerak di dalam air. Haduh.. Mbloo.. Bodinya sih tipis, tapi itu kulitnya putih banget. Daripada makin ngawur, Gua memilih beranjak pergi ke kamar hotel meninggalkannya.
Sesampainya dikamar, Gua mulai membereskan outfit yang akan Gua kenakan untuk acara nanti malam. Setelah itu barulah Gua masuk ke dalam kamar mandi untuk membilas tubuh. Selesai mandi dan berganti pakaian, pintu kamar Gua diketuk dari luar.
"Eh Helen... Kenapa ?", tanya Gua setelah membuka pintu kamar dan melihatnya sudah berdiri didepan Gua dengan pakaian yang baru. Sepertinya dia sudah selesai mandi juga.
Kyuuttt... Pinggang Gua langsung dicubit dengan raut wajahnya yang kesal.
"Adaaaaww.. Aaww.. Apaan nih ooiii aaww.. Sakit oii.. Aw aw aw...", ringis Gua.
"Kurang ajar ya ninggalin aku sendirian di kolam tadi!!", sentaknya seraya bertolak pinggang.
Gua mengusap-usap pinggang yang terasa perih. Gile, beneran nyubit ini anak. "Sshh.. Sorry sorry Ay... Tadi buru-buru ke kamar mau pup..", Gua beralasan.
"Iya kan tapi bisa ngomong dulu Kak! Maen pergi aja! Gimana sih! Dasar gak bertanggungjawab!", Helen masih kesal dengan jawaban Gua yang tidak ia pedulikan.
"Iya-iya maaf deh.. Maaf ya, beneran tadi langsung lari ke lift terus masuk kamar...".
"Yaudah deh.. Yuk kita pergi..", ajaknya.
"Hm ? Mau kemana ?".
"Kita jalan-jalan sama Mamah, acara Kak Luna kan masih lama...".
Akhirnya kami bertiga naik taxi dan diantarkan ketempat wisata yang memang menjadi ikon kota Sydney. Beberapa tempat kami kunjungi, tidak lupa kami mengabadikan kedalam kamera smartphone masing-masing dan juga kamera dslr milik Helen. Singkat cerita sore hari kami sudah kembali ke hotel untuk bersiap-siap pergi ke sebuah hotel di dekat tempat kami menginap ini. Kami naik taxi yang Gua rasa hanya buang-buang uang saja, karena tidak sampai sepuluh menit kami sampai di depan hotel bintang lima. Hotel yang menjadi tempat Luna mengikuti acara kantornya. Hotel ini memiliki view yang awesome, gimana enggak, opera house yang ikonik itu menjadi pemandangan dari kamar-kamar hotel tersebut di sebrang sana.
Kami turun dari taxi setelah Helen membayar ongkos taxi. Lalu kami memasuki hotel tersebut dan akhirnya kami sadar akan kesalahan kami. Ya, kami tidak bisa ikut masuk ke dalam ballroom hotel, dimana acara gala dinner kantor Luna diselenggarakan, karena tentu saja tamu undangan memiliki invitations khusus bagi para pegawai mereka. Karena itulah, akhirnya kami melakukan dinner sendiri di restoran tersebut. Gua dan Helen duduk bersebelahan, sedangkan Mamahnya berada di depan Helen.
Kami menikmati hidangan yang kami pesan sambil menunggu acara gala dinner yang entah dilantai berapa acara itu diselenggarakan sampai selesai. Setelah makan, Mamahnya Helen pergi ke balkon luar restoran untuk menikmati suasana malam hari sambil memandangi opera house disebrang sana. Gua dan Helen masih duduk dikursi restoran, membicarakan beberapa hal tentang niatan Gua yang ingin mencoba bekerja di hotel.
...SCROLL DOWN to CONTINUES READING...
Diubah oleh glitch.7 22-06-2017 02:17
0
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 

