Kaskus

Story

Kategori

Pengaturan

Mode Malambeta
Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Syarat & Ketentuan

Kebijakan Privasi

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#6265
PART 91
TAK PERNAH PADAM
kaskus-image


Siang ini Gua sedang berada di sebuah mall dekat pelabuhan harbourfront, mengitari mall Vivo City sambil memikirkan kado apa yang cocok untuk sang Nona Ukhti. Setelah berputar-putar dan keluar masuk berbagai toko busana dan pernak-pernik wanita, akhirnya Gua memilih toko perhiasan sebagai pilihan terakhir. Sebenarnya Gua ingin membelikan Nona Ukhti sebuah cincin tapi karena Gua tidak mengetahui ukurannya, jadi Gua memilih gelang tangan emas putih yang modelnya tipis dan tidak terlalu banyak hiasan, sangat simpel namun bagi Gua cukup elegan karena kesan mewahnya tidak berkurang, dan ada satu bandul berbentuk merpati kecil yang menjadi pengait kunci gelang tersebut. Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir dan dibungkus sedemikian rupa oleh kotak persegi serta simpul pita berwarna biru muda, Gua pun keluar dari toko dan bergegas keluar Mall ini. Gua masuki taxi dan memberikan secarik kertas kepada sang supir lalu setelah supir tersebut mengangguk paham, mobil pun melaju ke daerah lain untuk mengantarkan Gua ke sebuah tempat dimana rencana Gua akan berjalan sesuai harapan.

Sekitar setengah jam berkendara, Gua pun sampai di sebuah tempat kuliner, lalu Gua turun dari taxi setelah membayar ongkos dan memberikan uang tips untuk sang supir. Gua masuki tempat tersebut dan berbicara dengan salah satu pegawai disana. Setelah itu Gua pun diantar ke bagian office tempat tersebut lu berbicara dengan atasannya. Gua utarakan maksud dan tujuan Gua yang langsung membuat seorang lelaki paruh baya itu tersenyum dan menyanggupi semua permintaan Gua. Beres mengutarakan maksud serta rencana Gua dan memberikan uang sebagai down payment, Gua pun keluar tempat ini dan kembali memesan taxi, kali ini tujuan Gua adalah rumah Papahnya Nona Ukhti.

Sekitar pukul setengah empat Gua sampai di kediaman Papahnya, lalu Gua masuk ke dalam rumah setelah Nona Ukhti membukakan pintu.

"Darimana Za ? Aku telpon kok gak diangkat ?", tanyanya khawatir.

"Maaf Ve, aku abis jalan-jalan aja tadi ke kota", jawab Gua asal sambil duduk di sofa ruang Tv.

Nona Ukhti berjalan kearah dapur lalu beberapa menit kemudian kembali dengan secangkir kopi hitam.

"Kamu kok gak ngabarin sih kalo mau pergi ? Kan bisa aku anter atau kalo mau jalan sendiri pakai mobil aku aja", ucapnya seraya menaruh cangkir kopi diatas meja.

"Ah enggak apa-apa kok, cuma pingin nikmatin jalanan aja.. Maaf lupa ngabarin", jawab Gua,
"Makasih kopinya Ve.. Oh ya, Papah belum pulang ?", tanya Gua setelah Nona Ukhti duduk di sebrang Gua.

"Belum Za, biasanya jam tujuh Papah pulang kerja", jawab Nona Ukhti seraya merapihkan hijabnya yang berwarna putih senada dengan busana gamisnya itu.

"Mm.. Ve..".

"Ya ?".

"Nanti malam kita jalan ya, berdua aja".

Nona Ukhti sedikit terkejut lalu tersenyum. "Kemana ?".

Gua mengambil cangkir kopi lalu menghirup aroma kopi hitam yang sangat nikmat untuk dinikmati. Lalu Gua meneguknya sedikit dan kembali menaruh cangkir diatas meja.

"Rahasia...", jawab Gua seraya tersenyum jahil kepadanya.

...

Pukul setengah tujuh malam Gua mengemudikan mobil milik Nona Ukhti. Untuk malam ini Gua terpana dengan penampilannya. Memang yang ia kenakan tetaplah busana gamis, yang menutupi aurat dan tentu saja bukan gamis asal-asalan seperti jaman sekarang yang sekalipun memakai hijab tapi lekuk tubuh para perempuan diluar sana masih tercetak jelas. Malam ini Nona Ukhti mengenakan gamis berwarna hitam dengan gradasi warna emas, ditambah beberapa hiasan pada gamis tersebut yang seperti manik-manik membuat busana gamisnya nampak cantik. Belum lagi kalung berwarna emas yang ia kenakan dengan bandulnya yang terpasang batu ruby semakin terlihat berkelas. Makeup yang ia gunakan juga tipis, warna pink pada kedua sisi pipinya sangat membuat wajahnya itu lebih menawan. You're so beautiful tonight, Ve.

Kami berdua sampai di sebuah restoran yang siang sebelumnya Gua sambangi terlebih dahulu. Lalu setelah Gua berbicara dengan seorang pramusaji, kami berdua diantar ke meja makan yang terletak di bagian belakang restoran, dimana ada sebuah sungai kecil buatan yang menjadi pemandangan indah di sana, kemudian sebuah meja yang sudah ditata rapih dan sangat bagus pun telah siap menyambut kami berdua.

Gua menarik bangku dan mempersilahkan Nona Ukhti duduk, setelah memastikan Nona Ukhti duduk dengan nyaman, Gua berjalan kedepan dan duduk di hadapannya. Kami duduk berhadapan dengan meja yang menjadi penghalang kami berdua. Sebuah vas bunga yang telah terisi dua tangkai bunga kesukaan Nona Ukhti berada ditengah-tengah meja, serta satu lilin berwarna merah disamping vas tersebut semakin mempercantik suasana malam yang sedikit dingin ini.

Gua ikut tersenyum ketika Nona Ukhti mengembangkan senyuman lebar, matanya menatap Gua dengan ekspresi yang Gua rasa bahagia, ya Gua harap dia senang dengan kejutan kecil ini.

"Kamu kok bisa tau restoran ini Za ?", tanyanya heran namun ekspresi terkejut yang bercampur dengan rasa senangnya masih nampak jelas.

"Hehehe.. Rekomendasi dari Chef di tempat aku magang Ve.. Dia pernah makan di sini katanya waktu liburan keluarga", jawab Gua sambil mengingat ucapan salah satu mentor Chef ditempat Gua magang.

"Ooh.. Berarti tadi siang waktu kamu pergi sendiri, kamu kesini ya ?".

Gua menganggukan kepala. "Yap, reservasi dan sedikit request untuk malam bahagia kamu", jawab Gua sambil tersenyum.

Tidak lama dua orang pramusaji datang menghampiri kami dan meletakkan beberapa menu makanan yang siang sebelumnya sudah Gua request. Beberapa menu makanan chinese food disajikan diatas meja makan tepat dihadapan kami, dua gelas orange juice dan dua gelas air mineral pun tidak lupa disajikan.

"Ve.. Sorry aku gak sempet cari info tentang restoran japanese food yang halal di sini.. Jadi aku cuma dapet rekomendasi chinese food restoran ini aja yang insha Allah terjamin kehalal-annya", ucap Gua kepada Nona Ukhti yang masih tersenyum itu.

"Enggak apa-apa kok Za, aku juga selama disini cuma tau satu restoran jepang yang halal, dan letaknya jauh..", jawabnya,
"Kamu mau pesenin aku tempura tadinya ya ?", tebaknya.

Gua terkekeh. "Ya gitulah hehehe...".

"Untungnya kamu gak nemu, karena aku lagi bosen makan tempura hihihi..".

"Hoo.. Good lah, yaudah yuk dimakan Ve..", ajak Gua sambil mulai mengambil sendok dan garpu.

Kami berdua mulai menyantap makanan yang sudah tersaji sedari tadi. Singkat cerita Gua dan Nona Ukhti sudah selesai menghabiskan makanan, lalu Gua memanggil pramusaji.

"Happy birthday to you.. Happy birthday to you...", dua orang pramusaji datang menghampiri sambil mendendangkan lagu ulang tahun.

Yang satu membawa kue ulang tahun dengan hiasan lilin yang menunjukan angka dua dan satu. Sedangkan satu pramusaji lainnya membawa boneka panda berukuran besar, sekitar satu meter tingginya. Masih sambil menyanyikan lagu, mereka berdua berdiri di samping Nona Ukhti.

Cukup jelas kedua bola mata Nona Ukhti berkaca-kaca sambil satu tangannya menutup mulutnya.

"Selamat ulang tahun Nona Vera Tunggadewi.", ucap Gua ketika kedua pramusaji sudah berhenti bernyanyi.

"Za.. Ya Allah.. Ini surprise banget.. Aku.. Aku gak nyangka kamu akan kasih kue dan boneka, pakai dibawain sama pelayan lagi..", ucapnya masih terkejut dan tersenyum.

"Maaf kalo ada yang kurang ya Ve.. Semuanya dadakan hehehe..", ucap Gua sambil mulai berdiri.

"Enggak kok Za, ini beneran surprise buat aku...".

Gua mengambil alih kue ulang tahun dari sang pramusaji lalu menyodorkannya kepada Nona Ukhti. "Yaudah, kalo gitu sekarang make a wish dulu ya Ve..", pinta Gua.

Vera memejamkan matanya sesaat, dia tersenyum lalu memohon kepada Sang Maha Pemberi dalam diamnya, dalam do'a nya, dan dalam senyumnya. Setelah itu dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan seraya mengucapkan amin tanpa suara.

"Udah ?", tanya Gua.

Vera menggangguk sambil menatap Gua. "Yaudah, ayo tiup lilinnya", lanjut Gua.

"Fuuuhhh...", api pada lilin yang berbentuk angka dua dan satu itupun padam setelah ditiup oleh Nona Ukhti.

Kedua pramusaji sebelumnya bertepuk tangan lalu menyalami Nona Ukhti sambil mengucapkan happy birthday. Barulah kemudian mereka berdua pergi setelah salah satunya memberikan boneka panda.

"Suka Ve sama bonekanya ?", tanya Gua setelah menaruh kue diatas meja dan masih berdiri disampingnya.

"Suka banget Za, kamu tau darimana aku suka panda ?", tanyanya sambil memeluk boneka panda yang masih terbungkus plastik bening.

"Aku enggak sengaja, beneran gak sengaja kok waktu lewat kamar kamu yang pintunya terbuka kemarin malam.. Terus aku liat kedalam kamar banyak pernak pernik panda, jadi yaa.. Aku simpulin kalo kamu suka sama panda. Dan sepenglihatan aku, di dalam kamar belum ada boneka panda yang besar", jawab Gua.

"Ya ampun, makasih ya Za.. Oh iya, kapan kamu belinya ? Dimana ?", tanyanya lagi.

"Nah kalo itu aku minta tolong manager resto ini Ve tadi siang, pas reservasi, aku sekalian nulis request selain menu makanan sama kue ulang tahun ini, aku minta tolong dia cariin boneka panda itu, sempet pesimis waktu sore manager itu sms kalo dia belum nemu, tapi akhirnya dapet juga ternyata hahaha...", jawab Gua menjelaskan.

"Ya Allah Ezaa.. Makasih banyak ya.. Iih beneran deh kamu tuh surprise banget malam ini.. Datang jauh-jauh dari Batam, terus malam ini ngasih kejutan coba... Makasih Za".

Nona Ukhti menaruh boneka panda itu dibawah lalu dia berdiri dan langsung memeluk Gua.

Gua membalas pelukannya dan mengusap punggungnya. "Sama-sama Ve, kamu pantas nerima ini semua...", jawab Gua.

Nona Ukhti memundurkan tubuhnya dan menyeuka airmatanya, kemudian menatap mata Gua. "Makasih sekali lagi Za".

Gua menganggukan kepala lalu mengusap kedua bahunya. "Makasih juga untuk kamu yang udah menyayangi aku Ve...".



Request lagu khusus dari Nona Ukhti langsung untuk part ini


Setelah itu, Gua mengajak Nona Ukhti untuk pergi ke tempat lain. Kurang lebih satu jam berkendara, Gua dan Nona Ukhti sampai di Merlion Park sekitar pukul setengah sembilan malam waktu setempat. Gua berjalan berdampingan dengannya... Dengan seorang wanita cantik yang mengenakan gamis. Sialan perasaan yang ada di dalam hati ini. Gua merasakan perasaan yang berbeda, perasaan yang sudah lama Gua kubur dalam-dalam beberapa tahun kebelakang. Untuknya... Ya perasaan untuknya yang dulu sempat membuat Gua bahagia sekaligus sakit dan terhempas kini kembali muncul di dalam hati. Tepat di hari ulang tahunnya ini.

Gua berdiri dibelakang Nona Ukhti yang sedang bersandar ke depan sana, memandangi patung Merlion. Fikiran Gua berkecamuk, ada yang salah disini. Bukan, ah Gua goyah kalau begini caranya. Gua sadar dari awal Gua berniat merayakan ulang tahunnya kali ini hanyalah sebagai ungkapan terimakasih dan silaturahmi, tapi ternyata perasaan Gua tidak sanggup menutupi rasa yang dulu pernah ada. Dan logika Gua mengatakan itulah yang salah, karena ada seorang wanita lain di belahan bumi lainnya yang sudah menjadi kekasih Gua saat ini.

Kedua mata ini masih memandangi sosok wanita muslimah di depan sana dengan fikiran-fikiran yang bertentangan. Lalu Gua tersadar ketika dia berbalik dan tersenyum kepada Gua.

"Kenapa ngelamun Za ?", ucapnya menyadarkan Gua.

Gua berjalan menghampirinya dan menggelengkan kepala pelan. "Enggak apa-apa... Ehm.. Indah ya malam ini..", Gua mencoba mengalihkan fikiran tadi.

"Iya Za, disini selalu ramai sama wisatawan, belum lagi dua puluh empat jam selalu bebas dikunjungi... Jadi ya aku rasa apa yang pemerintah Singapore bangun ditempat ini memang untuk memanjakan orang-orang yang berkunjung..", jelasnya sambil menyapukan pandangannya ke sekitar.

Bukan Ve... Bukan itu, bukan suasana sekitar Marlion Park ini yang membuat indah dimata aku. Tapi pesona kamu lah yang indah dan mampu mengalahkan segala keindahan bangunan di tempat ini. You're so fakin beautiful Ve. Damnit!!!

Kemudian kami melakukan sesi foto-foto, awalnya bergantian, lalu Gua meminta tolong kepada orang lain untuk mengabadikan foto kami berdua dengan latar belakang patung Merlion. Setelah itu kami kembali berjalan menuju parkiran mobil yang cukup jauh Gua parkirkan. Kami beranjak pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Selama perjalanan pulang, kami membicarakan soal perkuliahan Gua yang sebentar lagi akan selesai. Masih asyik mengobrol dengan Gua mengemudikan mobil, smartphone Gua berbunyi dengan nada panggilan masuk.

"Za, ada telpon tuh kayaknya.. Hape kamu bunyi terus..", ucap Nona Ukhti.

"Iya Ve...", Gua merogoh saku jaket dan mengeluarkan smartphone, sekilas Gua lihat layarnya yang ternayta muncul nama sang kekasih.

"Siapa Za ?".

"Luna...", jawab Gua yang sedetik kemudian menekan tombol answer.

Quote:


Nona Ukhti menaikan alisnya sambil menerima smartphone yang lalu Gua beritahukan itu telpon dari Luna dengan menggerakan bibir tanpa suara.

Setelah itu Gua fokus kembali mengendarai mobil, sedangkan Nona Ukhti mengobrol dengan Luna ditelpon. Agak lama mereka mengobrol yang hanya bisa Gua dengar beberapa kali Nona Ukhti mengucapkan terimakasih dan beberapa kalimat lainnya membuat Gua bingung karena dia berulang-ulang menanyakan "Loch kok gitu ? Kenapa Lun ?". Entah apa yang dikatakan Luna untuk Nona Ukhti dari obrolan mereka. Sesampainya di depan rumah. Nona Ukhti memberikan smartphone kembali kepada Gua yang memang sudah selesai mengobrol dengan Luna. Gua belum mematikan mesin mobil walaupun Gua sudah selesai parkir tepat dibelakang mobil milik Papahnya.

"Luna ngomong apa Ve ?", tanya Gua sambil melepaskan seatbelt.

"Oh, dia ngucapin selamat ulang tahun aja tadi kok..", jawab Nona Ukhti yang juga melepaskan seatbelt.

"Tunggu Ve..", Gua menahan tangannya yang hendak membuka pintu mobil disampingnya.

"Kenapa ?".

"Sebentar...", Gua mengambil kotak persegi dari dalam saku jaket bagian dalam, lalu menunjukannya kepada Nona Ukhti. "Selamat ulang tahun Vera Tunggadewi... Semoga kamu selalu berada dalam kebahagiaan, diberikan rejeki yang berlimpah, dan dilindungi oleh Sang Maha Pelindung dalam setiap langkah hidup kamu...", ucap Gua memberikan selamat.

"Aamiin..", ucapnya mengamini do'a Gua,
"Ini apalagi Za ?", tanyanya menatap kotak yang terikat melintang dengan pita berwarna biru muda yang masih berada pada genggaman tangan Gua.

"Hadiah untuk kamu", jawab Gua.

"Loch ? Kan tadi kamu udah ngasih aku itu...", ucapnya seraya menunjuk kebelakang, dimana boneka panda sebelumnya duduk manis di jok belakang.

"Iya, tapi ini beda, mmmm.. Anggap aja hadiah utama hehehe..", Gua terkekeh pelan. "Ambil dong Ve", lanjut Gua sambil kembali menyodorkan kotak tersebut.

Nona Ukhti mengambil hadiah tersebut, lalu Gua memintanya untuk membuka hadiah tersebut. Dia menarik simpul pita biru lalu membuka kotaknya keatas.

"Za..", ucapnya tercekat memandangi hadiah yang berada di dalamnya. "Ini... Berlebihan Za...", kali ini dia menatap Gua dengan ekspresi terkejut.

"Enggak Ve, enggak berlebihan kok..", Gua mengambil gelang emas putih tersebut dari dalam kotak itu. "Sini, aku pasangin ya, cocok gak nih...", lanjut Gua.

Nona Ukhti menjulurkan tangan kanannya, lalu Gua memasangkan gelang tersebut dan melingkar dipergelangan tangannya itu. perfect. Ternyata cocok dan yap, Gua akui menambah pesonanya sekalipun hanya sebuah gelang.

"Bagus Za... Tapi...", ucapnya sambil memperhatikan bandul berbentuk merpati.

"Tapi kenapa ?".

"Kamu udah ngeluarin berapa banyak uang untuk ini semua Za ? Aku rasa kamu berlebihan... Aku berterimakasih banyak untuk malam ini, tapi aku juga gak mau kamu menghamburkan uang kamu.. Belum kamu lagi magang kan..", jawabnya.

Gua pegang tangan kanannya dan mengusap telapaknya itu lembut. "Seharusnya... Seharusnya kamu mendapatkan lebih dari ini semua Ve..", Gua menatap wajahnya serius.

"Lebih dari ini ? Maksud kamu ?", tanyanya heran.

Gua tersenyum, senyum yang dipaksakan tentunya. "Ve.. Kamu tau, seharusnya kamu berada disini..", Gua tarik pelan tangan kanannya itu dan menaruhnya tepat di dada Gua.

Seketika itu juga, Nona Ukhti kembali meneteskan airmatanya, sedikit namun jelas terlihat oleh Gua.

"Maafin aku Za, maafin aku yang udah buat kamu kecewa waktu itu...", ucapnya sedikit terisak.

"Udah berlalu Ve, tapi aku gak bisa bohong kalau ternyata kamu itu benar-benar enggak bisa pergi dalam benak aku dan hati ini...",
"Jujur, aku sempat melupakan kamu saat menikah dengan Echa.. Selama itu pula Echa lah yang selalu menemani aku.. Sampai.. Ehm...", Gua teringat dengan almarhumah istri Gua lalu tidak bisa melanjutkan kalimat lagi.

"Ssstt.. Udah, aku faham.. Maafin aku, maafin aku Za..", potongnya.

Gua tersenyum, begitupun dengan Nona Ukhti.

Quote:


"Ve.. Aku cint...".

"Ssstt.. Jangan.. Jangan katakan itu Za", potongnya dengan menaruh satu jemarinya di bibir ini. "Aku juga masih merasakan perasaan itu, enggak pernah berubah sampai detik ini, tapi kamu harus tau, ada Luna yang menunggu kamu di tempat yang jauh dari sini.. Aku enggak mau merusak hubungan kalian dan... Eh ?", Nona Ukhti terkejut.

Gua menyingkirkan jarinya dari bibir ini lalu sedetik kemudian Gua memajukan wajah dan memejamkan mata sejenak untuk mencium bibirnya.

Tep...Bibir Gua tertahan lagi oleh tangannya.

Gua membuka mata dan melihatnya sedang meneteskan airmata lagi. "Za.. Aku sayang sama kamu, dan aku masih ingat janji kamu dulu... Janji kamu yang pernah ingin membawa hubungan kita lebih serius saat kamu nyium bibir ini... Tapi bukan begini.. Ingat Luna Za..", ucapnya mengingatkan Gua sambil menangis.


emoticon-flowertakkan mudah ku bisa melupakan
segalanya yang telah terjadi 
di antara kau dan aku, di antara kita berdua

kini tak ada terdengar kabar dari dirimu
kini kau telah menghilang jauh dari diriku
semua tinggal cerita antara kau dan aku
namun satu yang perlu engkau tahu 
api cintaku padamu tak pernah padam emoticon-flower
Diubah oleh glitch.7 20-06-2017 21:29
fatqurr
kadalbuntingzzz
kadalbuntingzzz dan fatqurr memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.