- Beranda
- Stories from the Heart
REBORN Sepasang Kaos Kaki Hitam by pujangga.lama [old thread version]
...
TS
haha.hehe
REBORN Sepasang Kaos Kaki Hitam by pujangga.lama [old thread version]
Quote:
Quote:
Diubah oleh haha.hehe 14-07-2017 21:20
delts135 dan 93 lainnya memberi reputasi
90
4.1M
4.7K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.2KAnggota
Tampilkan semua post
pujangga.lama
#4012
[TEASER] Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam
BAB SATU
Karawang, September 2000
Saat itu sore belum habis, tapi kegelapan mulai menyelimuti sebagian kota Karawang. Awan hitam bergulung dan menggantung rendah di kaki langit. Sesekali langit bergemuruh diiringi kilatan cahaya terang membelah gelapnya awan. Sinar matahari bahkan tidak mampu menembus gumpalan awan yang terlampau pekat. Angin bertiup kencang menerbangkan debu di sepanjang jalan Teluk Jambe.
Orang-orang tampak sibuk mengemasi jemuran di halaman rumah mereka. Seseorang berteriak cemas ketika angin menerbangkan beberapa helai pakaian yang tengah diambilnya. Beberapa yang lain terburu-buru memasukkan sepeda motor ke dalam rumah. Hujan yang turun sore ini sepertinya akan sangat lebat.
Gue setengah berlari menuju sebuah rumah di tengah gang. Rumah ini tampak paling tinggi dibandingkan rumah-rumah lain di sekitarnya. Di balik pagar besi yng membatasi halaman terparkir banyak sepeda motor milik para penghuni kosan. Titik-titik gerimis sudah mulai turun ketika gue sampai di pintu masuk. Segera saja suara gaduh air yang jatuh dari langit beradu dengan atap kanopi plastik yang menaungi tempat parkir. Merasa sudah aman dari hujan, gue memperlambat langkah kaki menuju anak tangga di koridor.
Walaupun hari sudah hampir gelap, tapi aktivitas di rumah kosan ini masih terlihat sepi. Tidak tampak seorangpun di sepanjang koridor yang gue lewati. Mereka seolah bersembunyi di balik pintu kamar dari derasnya hujan sore ini. Satu-satunya suara yang terdengar berasal dari lagu yang diputar oleh salah satu penghuni kamar di lantai atas. Lengkingan vokal John Francis Bongiovi., Jr di lagu Livin’ On A Prayeryang legendaris itu seolah menandingi suara gemuruh di langit.
Gue sampai di anak tangga terakhir di lantai atas. Di sini ada dua deret kamar yang saling berhadapan, dengan masing-masing deret berisi tiga kamar. Anak tangga berada di sisi utara bangunan, sementara di ujung lainnya terdapat sebuah balkon kecil berukuran tidak lebih dari dua meter persegi menjadi pembatasnya. Gue menempati kamar di ujung selatan koridor yang letaknya paling jauh dari tangga, bersebelahan langsung dengan balkon. Ada dua pintu kamar yang terbuka saat itu. Yang pertama adalah pintu yang bersebelahan tepat dengan kamar gue. Dari sini rupanya lagu-lagu Bon Jovi itu diputar. Ketika gue berjalan melewati pintu itu, tidak tampak seorang pun di dalamnya. Mungkin orangnya sedang di kamar mandi.
Satu pintu lainnya yang terbuka adalah kamar di seberang kamar gue. Seperti kebanyakan rumah kos pada umumnya, tidak ada perbedaan antara satu kamar dengan kamar yang lain. Desain dan denah di dalamnya sama. Tentu saja ini karena alasan bahwa semua kamar dikenakan tarif sewa yang sama per bulannya. Maka kemudian yang menarik perhatian gue adalah sosok wanita yang sedang duduk di depan pintu kamar itu. Seorang wanita yang kemungkinan berusia lebih muda dua atau tiga tahun dari gue. Rambut panjangnya menjuntai tertiup angin. Dia duduk memeluk lutut, menenggelamkan sebagian wajahnya di sana. Yang terlihat hanya garis hidung mancungnya yang membentuk segitiga lancip di antara kedua lututnya. Dia tidak menyadari kedatangan gue. Matanya khusyuk memandang sesuatu di lantai. Selain rambutnya yang meriap-riap tertiup angin, tidak ada lagi gerakan yang terlihat. Benar-benar persis seperti patung.
“Sore, Mbak.” Gue mencoba menyapanya.
Jangankan menoleh dan menjawab salam, bola matanya bahkan sama sekali tidak bergerak untuk mencari tahu siapa yang bicara padanya. Ah, mungkin karena suara musik yang terlalu kencang menenggelamkan suara gue.
“Permisi.” Sekali lagi gue menyapa. Kali ini dengan suara yang lebih keras.
Dia tetap bergeming.
“Sombong banget, sih!” Gue menggerutu dalam hati.
Penampilan wanita ini terbilang aneh. Dia mengenakan celana jins pendek yang dipadukan dengan kaos kaki panjang berwarna hitam sampai ke atas lutut. Terasa ganjil untuk dipakai di kota sepanas Karawang.
Karena merasa diabaikan, gue putuskan untuk tidak membuang waktu lebih banyak lagi dengan berlalu dan berhenti mencoba menyapanya. Lagi pula bungkusan nasi di tangan sudah memanggil-manggil untuk segera dimakan. Maka gue pun bergegas masuk ke kamar tanpa memedulikan wanita tersebut.
Hari ini adalah hari pertama gue tinggal di Karawang. Untuk pertama kalinya dalam hidup, gue merantau jauh dari kampung halaman. Dalam perjalanan selama tiga hari dua malam menyeberangi Laut Jawa, gue nyaris tidak sanggup menghadapi sensasi goyangan ombak yang memuakkan.Untung saja ada seorang ibu baik hati yang mau berbagi obat dan teh hangatnya. Beliau lalu bercerita tentang anak laki-lakinya yang merantau ke Pulau Jawa beberapa tahun silam. Sebuah kecelakaan di tempat kerja membuat anak bungsunya itu tidak lagi bisa kembali dari perantauan. Dan kali ini beliau bermaksud ziarah ke makam sang anak. Selama tiga hari di lautan kami banyak bertukar cerita, lalu kami berpisah setelah tiba di Pelabuhan Priok. Gue segera melanjutkan perjalanan melalui jalur darat menuju Karawang.
Tidak banyak yang gue tahu mengenai kota ini. Satu-satunya hal yang gue ingat adalah fakta sejarah yang diajarkan di bangku sekolah dasar bahwa Soekarno dan Hatta pernah diculik oleh sejumlah pemuda ke Rengasdengklok untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan. Di mana tepatnya Rengasdengklok, gue sama sekali tidak tahu, yang pasti tempat itu adalah bagian dari Karawang. Mungkin setelah beberapa lama tinggal di sini gue akan berkunjung ke salah satu lokasi bersejarah tersebut.
Besok merupakan hari pertama gue bekerja. Gue berharap bisa cepat tidur. Jelas, gue harus tidur awal supaya badan gue segar untuk pergi bekerja besok. Tapi, sayangnya, malam itu kedua mata gue sulit sekali terpejam. Semakin gue berusaha tidur, justru semakin lebar mata terbuka. Radio kecil yang gue bawa dari kampung bahkan sudah tidak bisa menemukan stasiun radio yang masih on air. Mendadak muncul perasaan cemas kalau insomnia ini akan bertahan sampai pagi hari. Gawat, bisa kesiangan dan telat ke kantor kalau begini terus!
Gue baru saja membalikkan badan menghadap dinding ketika samar-samar terdengar suara seorang wanita dari luar kamar. Dia sedang menangis. Isakannya terdengar begitu memilukan. Siapa orang yang tengah malam begini berkeliaran di luar kamar dan menangis dengan begitu sedih?
Gue terduduk kaku. Prasangka-prasangka mistis berkelebatan dalam kepala, berlomba dengan detak jantung yang begitu cepat terpacu. Saat itu lampu kamar sudah dipadamkan. Satu-satunya sumber cahaya adalah sinar lampu dari luar yang menerobos masuk melalui jendela kamar. Kaca jendela tertutup sebuah gorden lusuh, tapi bayangan apapun dari luar masih bisa tergambar di sana. Selama beberapa menit gue terdiam mendengar isakan pilu wanita itu. Gue mempertimbangkan untuk keluar kamar dan mencari tahu, namun pada akhirnya sembunyi di balik sarung adalah pilihan yang lebih tepat.
Suara si wanita mendadak terhenti ketika suara lain terdengar–langkah kaki menaiki tangga dari lantai bawah. Gue mengintip sedikit dari balik sarung. Sebuah bayangan berkelebat di depan jendela, disusul kemudian bunyi klik dari daun pintu yang dikunci.
Kemudian hening.
Esoknya gue tidak bisa untuk tidak menghubungkan suara tangisan itu dengan wanita di seberang kamar. Suara pintu yang menutup sepertinya berasal dari pintu kamarnya. Tapi kenapa? Kenapa dia menangis di tengah malam? Kenapa pula tangisannya terdengar begitu memilukan, seolah tidak ada lagi harapan yang bisa menyelamatkan kegundahan hatinya?
***
Spoiler for Untuk Secangkir Teh Hangat dan Kenangan Yang Menyertainya:
Diubah oleh pujangga.lama 20-06-2017 04:46
0
![REBORN Sepasang Kaos Kaki Hitam by pujangga.lama [old thread version]](https://s.kaskus.id/images/2017/07/14/2130668_201707140916290875.png)

and 

![REBORN Sepasang Kaos Kaki Hitam by pujangga.lama [old thread version]](https://s.kaskus.id/images/2017/06/19/2130668_201706190935520804.png)
![REBORN Sepasang Kaos Kaki Hitam by pujangga.lama [old thread version]](https://s.kaskus.id/images/2017/06/19/2130668_201706190937150692.png)
![REBORN Sepasang Kaos Kaki Hitam by pujangga.lama [old thread version]](https://s.kaskus.id/images/2017/06/19/2130668_201706190937340970.png)
![REBORN Sepasang Kaos Kaki Hitam by pujangga.lama [old thread version]](https://s.kaskus.id/images/2017/06/19/2130668_201706190938030484.png)
![REBORN Sepasang Kaos Kaki Hitam by pujangga.lama [old thread version]](https://s.kaskus.id/images/2017/06/19/2130668_201706190938180240.png)
![REBORN Sepasang Kaos Kaki Hitam by pujangga.lama [old thread version]](https://s.kaskus.id/images/2017/06/19/2130668_201706190938300802.png)

