- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#6136
PART 90
"Kamu.. Kamu kok bisa ada di sini Lun ?", tanya Gua cukup terkejut.
"Aku baru sampai tadi malam Za, kenapa ? Gak suka aku ada disini ?".
"Loch bukan gitu Lun.. Cuma aku kaget aja kamu tiba-tiba datang ke sini, gak ada kabar sebelumnya..", Gua berdiri lalu berjalan keluar gazebo menghampiri Luna.
"Jelaslah kamu kaget, ternyata lagi berudaan sama Sherlin..!!", jawab Luna ketus.
Gua menghela nafas kasar lalu melirik kepada Mba Yu yang masih duduk manis sambil meminum sirupnya dengan santai.
"Keluarganya lagi silaturahmi kesini Lun.. Bukan maksud lain kok", ucap Gua yang sudah menatap kembali kepada Luna.
"Enggak ada masalah kok sama keluarganya. Tapi yang jadi masalah untuk apa kamu sama dia berduaan di sini ? Hm ?!".
"Bukan gitu.. Kamu salah paham Lun..".
"Ya jelaslah aku salah paham Za! Keluarga kamu di dalam semua, kalian malah berduaan disini! Ngapain ?!", Luna mulai emosi.
Mba Yu berdiri dan keluar dari gazebo lalu menghampiri kami berdua.
"Luna, maaf kalo kamu gak suka aku deket sama Eza...", ucap Mba Yu yang sudah berada diantara Gua dan Luna,
"Aku kesini cuma silaturahmi kok, gak ada maksud apa-apa dan kami tadi habis makan aja karena di ruang makan udah penuh", lanjutnya.
Luna menatap Mba Yu dengan ekspresi cemburu, ya jelas terlihat dari sorot matanya itu.
"Aku masuk dulu Mas..", Mba Yu berjalan kearah pintu, lalu berhenti sebentar dan berbalik melihat Luna,
"Kamu enggak perlu khawatir aku rebut Eza dari kamu Lun. Karena suatu saat nanti dia akan lihat siapa yang sebenarnya harus dikhawatirkan..", ucap Mba Yu sambil tersenyum.
"Heh! Apa maksud kamu Sher ?!!", teriak Luna sambil melotot kearah Mba Yu.
Tapi Mba Yu mengacuhkannya, dia kembali berjalan masuk ke dalam rumah. Luna masih nampak emosi dan hendak memanggil Mba Yu lagi, tapi Gua buru-buru menahan bahunya dan membalik tubuhnya agar menatap Gua.
"Hei hei.. Udah udah, mau ribut lagi kayak dulu ?", ucap Gua pelan.
"Apa ? Kamu belain dia ?! Kamu tuh ngeselin tau gak ?! Iih!".
Kyuutt...lengan Gua dicubit.
"Waaaww.. Sakiiitt sakit sakitt.. Ampun Lun aah... Aw aw aaaww..", Gua meringis ketika cubitannya sudah ia lepas lalu Gua mengelus-ngelus lengan yang perih itu.
"Aku datang jauh-jauh, minta izin untuk ketemu kamu, tapi sampai disini apa yang aku liat ?! Hah ?!", sungutnya kesal kepada Gua.
"Ssshh.. Aduh, bentar bentar, duduk dulu ya.. Ayo sini masuk", Gua mengajak Luna duduk kedalam gazebo.
Kami duduk bersebelahan lalu Gua memegang kedua tangannya sambil tersenyum. "Kamu udah ketemu keluarga aku ?", tanya Gua lembut.
"Udah tadi, udah minal aidin juga sama keluarga kamu dan keluarga Sherlin..", jawabnya pelan.
"Terus kenapa kamu gak minal aidin juga sama Mba Yu ?", tanya Gua lagi sambil tetap tersenyum.
Luna mendelik lalu memutar bola matanya dan memanyunkan bibir. Ekspresinya lucu saat itu.
"Enggak! Dia dong yang harusnya minta maaf duluan.. Kan kamu sekarang pacar aku. Ngapain dia berdua-duaan disini sama cowok orang, bikin kesel aja..".
Gua terkekeh pelan, lalu membelai sisi wajahnya sebentar. "Hey, meminta maaf duluan lebih baik loch daripada menunggu orang lain minta maaf..", ucap Gua.
"Terus maksud kamu aku salah ? Iya ?".
Gua menggeleng pelan. "Bukan itu, kalo salah ma semuanya juga punya salah pasti... Yaudah kalo enggak mau enggak apa-apa..", lanjut Gua seraya mengucek poninya.
Luna masih saja cemberut sambil membuang muka kearah kanan.
"Aku sama Mba Yu tadi cuma makan aja, terus kita ngobrol sedikit.. Soal hubungan dia sama cowoknya..", Gua mulai menjelaskan.
Luna melirik kepada Gua, lalu bertanya juga pada akhirnya. "Kenapa sama hubungan mereka ?".
Gua tersenyum lalu menggelengkan kepala. Lalu mulailah Gua menceritakan apa yang sebelumnya Gua dengar dari Mba Yu, Luna mendengarkan dengan seksama tanpa sedikitpun mengintrupsi.
"Gitu ceritanya Lun..", ucap Gua selesai bercerita, kemudian mengambil sebatang rokok dari bungkusnya.
"Terus keputusan dia gimana ?", tanya Luna.
Gua membakar sebatang rokok sambil menaikkan kedua bahu, lalu menghisap dalam-dalam dan mengehembuskannya keatas.
"Ffuuuhh... Entah Lun, aku enggak tau keputusan dia apa, yang jelas dia ragu sama Feri...".
Luna memalingkan mukanya lalu menatap kolam renang di depan sana dengan tatapan kosong. Entah dia sedang memikirkan apa. Kemudian Gua menepuk punggung lengannya pelan.
"Kenapa ? Kok diem ?", tanya Gua.
"Enggak.. Enggak apa-apa..", jawabnya pelan.
Gua tau dia sedang memikirkan sesuatu. "Jangan gitu, kamu mikirin apa ? Cerita sama aku..".
"Maaf Za..", Luna menundukan kepalanya.
"Maaf ? Kenapa kamu minta maaf ?", tanya Gua lagi seraya menghisap rokok lalu kembali menghembuskan asapnya.
"Enggak tau Za, aku.. Aku malah takut apa yang dialami Sherlin menimpa hubungan kita".
Gua mengerenyitkan kening lalu memiringkan wajah untuk menatap matanya.
"Maksudnya ? Aku selingkuh juga ?".
Luna berbalik menatap mata Gua, dia terdiam tanpa menjawab pertanyaan Gua itu. Namun Gua tau maksudnya kalau dia memang takut akan satu hal tadi.
"Hmmm... Kenapa kamu bisa berpikir kalo aku bakal selingkuh ? Lagipula sama siapa ?".
Luna berdiri, berjalan ke sisi gazebo menatap kolam renang dan melipat kedua tangannya dengan posisi membelakangi Gua.
"Aku gak tau tapi... Tapi aku ngerasa kamu dan Sherlin itu kayak...".
"Hey.. Sssstt..", Gua mendekatinya lalu melemparkan rokok kearah luar gazebo,
"Kamu kok mikir gitu sih Lun ? Aku sama dia sekarang gak lebih dari sekedar sahabat dekat aja.. Beneran", lanjut Gua sambil memeluknya dari belakang.
Luna menengok kearah kanan, dimana wajah Gua tepat berada disisi wajahnya itu. Lalu dia menggelengkan kepala perlahan.
"Aku takut kamu kembali sama dia Za.. Aku tau dia masih sayang sama kamu dan kamu sendiri... Masih sayangkan sama dia ?", tebaknya.
"Luna.. Dia udah jadi masa lalu aku, sekarang kami cuma bersahabat.. Dia udah punya tunangan.. Aku gak akan negerebut dia kok.. Aku janji".
"Siapa yang bisa jamin Za ? Sedangkan aku sama kamu sekarang harus terpisah jauh".
Gua melepaskan pelukan lalu membalik tubuhnya. Gua pegang kedua bahunya lalu menatapnya lekat-lekat.
"Sayang.. Kalo kamu berfikir pesimis soal hubungan ini ya gak akan bener.. Kamu akan selalu berfikir negatif ke aku..", ucap Gua,
"Sekarang coba untuk saling percaya, kalo mau jujur.. Aku juga takut kamu disana di deketin cowok lain Lun.. Tapi aku percaya sama kamu, kamu akan ngejaga hubungan ini.. Iya kan ?".
Luna tersenyum tipis, keraguan jelas masih terpancar dari matanya itu.
"Percaya sama aku, aku akan jaga hubungan kita Luna.. Please..", lanjut Gua.
Luna mengangguk lalu memeluk Gua, menyandarkan kepalanya ke dada ini. "Aku sayang banget sama kamu Za.. Please jangan buat aku kecewa..", ucapnya dengan suara parau.
Gua membelai rambutnya dan punggungnya. "Iya.. Aku akan berusaha buat hubungan ini jadi lebih baik, aku akan berusaha jaga kepercayaan kamu untuk aku..".
"Aku baru sampai tadi malam Za, kenapa ? Gak suka aku ada disini ?".
"Loch bukan gitu Lun.. Cuma aku kaget aja kamu tiba-tiba datang ke sini, gak ada kabar sebelumnya..", Gua berdiri lalu berjalan keluar gazebo menghampiri Luna.
"Jelaslah kamu kaget, ternyata lagi berudaan sama Sherlin..!!", jawab Luna ketus.
Gua menghela nafas kasar lalu melirik kepada Mba Yu yang masih duduk manis sambil meminum sirupnya dengan santai.
"Keluarganya lagi silaturahmi kesini Lun.. Bukan maksud lain kok", ucap Gua yang sudah menatap kembali kepada Luna.
"Enggak ada masalah kok sama keluarganya. Tapi yang jadi masalah untuk apa kamu sama dia berduaan di sini ? Hm ?!".
"Bukan gitu.. Kamu salah paham Lun..".
"Ya jelaslah aku salah paham Za! Keluarga kamu di dalam semua, kalian malah berduaan disini! Ngapain ?!", Luna mulai emosi.
Mba Yu berdiri dan keluar dari gazebo lalu menghampiri kami berdua.
"Luna, maaf kalo kamu gak suka aku deket sama Eza...", ucap Mba Yu yang sudah berada diantara Gua dan Luna,
"Aku kesini cuma silaturahmi kok, gak ada maksud apa-apa dan kami tadi habis makan aja karena di ruang makan udah penuh", lanjutnya.
Luna menatap Mba Yu dengan ekspresi cemburu, ya jelas terlihat dari sorot matanya itu.
"Aku masuk dulu Mas..", Mba Yu berjalan kearah pintu, lalu berhenti sebentar dan berbalik melihat Luna,
"Kamu enggak perlu khawatir aku rebut Eza dari kamu Lun. Karena suatu saat nanti dia akan lihat siapa yang sebenarnya harus dikhawatirkan..", ucap Mba Yu sambil tersenyum.
"Heh! Apa maksud kamu Sher ?!!", teriak Luna sambil melotot kearah Mba Yu.
Tapi Mba Yu mengacuhkannya, dia kembali berjalan masuk ke dalam rumah. Luna masih nampak emosi dan hendak memanggil Mba Yu lagi, tapi Gua buru-buru menahan bahunya dan membalik tubuhnya agar menatap Gua.
"Hei hei.. Udah udah, mau ribut lagi kayak dulu ?", ucap Gua pelan.
"Apa ? Kamu belain dia ?! Kamu tuh ngeselin tau gak ?! Iih!".
Kyuutt...lengan Gua dicubit.
"Waaaww.. Sakiiitt sakit sakitt.. Ampun Lun aah... Aw aw aaaww..", Gua meringis ketika cubitannya sudah ia lepas lalu Gua mengelus-ngelus lengan yang perih itu.
"Aku datang jauh-jauh, minta izin untuk ketemu kamu, tapi sampai disini apa yang aku liat ?! Hah ?!", sungutnya kesal kepada Gua.
"Ssshh.. Aduh, bentar bentar, duduk dulu ya.. Ayo sini masuk", Gua mengajak Luna duduk kedalam gazebo.
Kami duduk bersebelahan lalu Gua memegang kedua tangannya sambil tersenyum. "Kamu udah ketemu keluarga aku ?", tanya Gua lembut.
"Udah tadi, udah minal aidin juga sama keluarga kamu dan keluarga Sherlin..", jawabnya pelan.
"Terus kenapa kamu gak minal aidin juga sama Mba Yu ?", tanya Gua lagi sambil tetap tersenyum.
Luna mendelik lalu memutar bola matanya dan memanyunkan bibir. Ekspresinya lucu saat itu.
"Enggak! Dia dong yang harusnya minta maaf duluan.. Kan kamu sekarang pacar aku. Ngapain dia berdua-duaan disini sama cowok orang, bikin kesel aja..".
Gua terkekeh pelan, lalu membelai sisi wajahnya sebentar. "Hey, meminta maaf duluan lebih baik loch daripada menunggu orang lain minta maaf..", ucap Gua.
"Terus maksud kamu aku salah ? Iya ?".
Gua menggeleng pelan. "Bukan itu, kalo salah ma semuanya juga punya salah pasti... Yaudah kalo enggak mau enggak apa-apa..", lanjut Gua seraya mengucek poninya.
Luna masih saja cemberut sambil membuang muka kearah kanan.
"Aku sama Mba Yu tadi cuma makan aja, terus kita ngobrol sedikit.. Soal hubungan dia sama cowoknya..", Gua mulai menjelaskan.
Luna melirik kepada Gua, lalu bertanya juga pada akhirnya. "Kenapa sama hubungan mereka ?".
Gua tersenyum lalu menggelengkan kepala. Lalu mulailah Gua menceritakan apa yang sebelumnya Gua dengar dari Mba Yu, Luna mendengarkan dengan seksama tanpa sedikitpun mengintrupsi.
"Gitu ceritanya Lun..", ucap Gua selesai bercerita, kemudian mengambil sebatang rokok dari bungkusnya.
"Terus keputusan dia gimana ?", tanya Luna.
Gua membakar sebatang rokok sambil menaikkan kedua bahu, lalu menghisap dalam-dalam dan mengehembuskannya keatas.
"Ffuuuhh... Entah Lun, aku enggak tau keputusan dia apa, yang jelas dia ragu sama Feri...".
Luna memalingkan mukanya lalu menatap kolam renang di depan sana dengan tatapan kosong. Entah dia sedang memikirkan apa. Kemudian Gua menepuk punggung lengannya pelan.
"Kenapa ? Kok diem ?", tanya Gua.
"Enggak.. Enggak apa-apa..", jawabnya pelan.
Gua tau dia sedang memikirkan sesuatu. "Jangan gitu, kamu mikirin apa ? Cerita sama aku..".
"Maaf Za..", Luna menundukan kepalanya.
"Maaf ? Kenapa kamu minta maaf ?", tanya Gua lagi seraya menghisap rokok lalu kembali menghembuskan asapnya.
"Enggak tau Za, aku.. Aku malah takut apa yang dialami Sherlin menimpa hubungan kita".
Gua mengerenyitkan kening lalu memiringkan wajah untuk menatap matanya.
"Maksudnya ? Aku selingkuh juga ?".
Luna berbalik menatap mata Gua, dia terdiam tanpa menjawab pertanyaan Gua itu. Namun Gua tau maksudnya kalau dia memang takut akan satu hal tadi.
"Hmmm... Kenapa kamu bisa berpikir kalo aku bakal selingkuh ? Lagipula sama siapa ?".
Luna berdiri, berjalan ke sisi gazebo menatap kolam renang dan melipat kedua tangannya dengan posisi membelakangi Gua.
"Aku gak tau tapi... Tapi aku ngerasa kamu dan Sherlin itu kayak...".
"Hey.. Sssstt..", Gua mendekatinya lalu melemparkan rokok kearah luar gazebo,
"Kamu kok mikir gitu sih Lun ? Aku sama dia sekarang gak lebih dari sekedar sahabat dekat aja.. Beneran", lanjut Gua sambil memeluknya dari belakang.
Luna menengok kearah kanan, dimana wajah Gua tepat berada disisi wajahnya itu. Lalu dia menggelengkan kepala perlahan.
"Aku takut kamu kembali sama dia Za.. Aku tau dia masih sayang sama kamu dan kamu sendiri... Masih sayangkan sama dia ?", tebaknya.
"Luna.. Dia udah jadi masa lalu aku, sekarang kami cuma bersahabat.. Dia udah punya tunangan.. Aku gak akan negerebut dia kok.. Aku janji".
"Siapa yang bisa jamin Za ? Sedangkan aku sama kamu sekarang harus terpisah jauh".
Gua melepaskan pelukan lalu membalik tubuhnya. Gua pegang kedua bahunya lalu menatapnya lekat-lekat.
"Sayang.. Kalo kamu berfikir pesimis soal hubungan ini ya gak akan bener.. Kamu akan selalu berfikir negatif ke aku..", ucap Gua,
"Sekarang coba untuk saling percaya, kalo mau jujur.. Aku juga takut kamu disana di deketin cowok lain Lun.. Tapi aku percaya sama kamu, kamu akan ngejaga hubungan ini.. Iya kan ?".
Luna tersenyum tipis, keraguan jelas masih terpancar dari matanya itu.
"Percaya sama aku, aku akan jaga hubungan kita Luna.. Please..", lanjut Gua.
Luna mengangguk lalu memeluk Gua, menyandarkan kepalanya ke dada ini. "Aku sayang banget sama kamu Za.. Please jangan buat aku kecewa..", ucapnya dengan suara parau.
Gua membelai rambutnya dan punggungnya. "Iya.. Aku akan berusaha buat hubungan ini jadi lebih baik, aku akan berusaha jaga kepercayaan kamu untuk aku..".
***
Awal bulan oktober Gua sudah mulai menjalani PKL dengan magang di salah satu hotel di pulau Batam. Saat itu ada dua mahasiswa satu kampus dengan Gua magang di hotel yang sama. Sebut saja namanya Anton dan Viki. Mereka berdua sebenarnya adik tingkat Gua, namun kami satu kelas karena Gua sempat tersendat perihal cuti beberapa bulan kebelakang. Dan untuk mereka berdua, ini adalah kali pertama pengalaman magang di hotel.
Gua mendapatkan mess bersama kedua teman Gua itu. Mirip bangsal lebih tepatnya. Seminggu pertama Gua langsung mendapatkan pekerjaan yang cukup banyak di kitchen, sedangkan kedua teman kampus Gua berbeda section, Anton magang dibagian Bar, sedangkan Viki menjadi seorang housekeeper.
Apa yang dikatakan Kinanti benar ternyata. Panas cuaca di Batam, apalagi di mess. Gua selalu berkeringat dan kepanasan di pulau ini. Belum lagi ternyata biaya hidup cukup mahal, satu bungkus rokok kesukaan Gua lebih mahal dibandingkan dengan harga di pulau jawa. Beruntung untuk konsumsi atau makanan, karena Gua magang di kitchen maka soal perkara kebutuhan perut tidak terlalu Gua pusingkan.
...
Skip. Sudah satu bulan Gua magang di hotel ini, sedangkan komunikasi Gua dengan Luna terbilang cukup lancar, setiap hari kami berdua saling mengabari lewat bbm.
Di bulan november ini Gua sudah mendapatkan dua izin, pertama dari pihak hotel untuk mengambil libur selama tiga hari. Kok bisa ? Jelas bisa, karena faktor hubungan kerja antara Gua dengan kepala Chef di hotel ini sangat baik. Dari satu bulan pertama Gua mulai magang, Gua baru satu kali libur, walaupun anak magang dengan karyawan memiliki jadwal sama, yaitu satu minggu sekali mendapatkan hari libur tapi Gua memilih untuk masuk magang atau bekerja, karena fikir Gua ketika itu untuk apa Gua libur dan bersantai di mess ? Lebih baik masuk dan mendapatkan makanan gratis, lebih baik lagi Gua mendapatkan banyak ilmu memasak dengan berbagai macam masakan. Soal libur dan berjalan-jalan di pulau ini tidak begitu menarik perhatiaan Gua, toh view dari tempat hotel magang lebih dari cukup untuk memanjakan mata ini, apalagi jika Gua masuk pagi dan pulang sore hari, Gua dan beberapa karyawan serta kedua teman kampus Gua sering nongkrong di salah satu pantai yang viewnya menampakkan negara tetangga sejauh mata memandang.
Izin kedua, Gua dapatkan dari sang kekasih. Ya Gua bercerita kepadanya akan niatan Gua yang ingin pergi ke negara sebrang untuk menemui seorang wanita di bulan ini. Setelah Gua mendapatkan izin dan tidak banyak bekal yang Gua bawa selain uang yang cukup, akhirnya Gua berangkat ke Singapura dengan menggunakan kapal ferry.
Hari ini Gua berangkat ke Singapura dari pelabuhan di Batam dan setelah beres mengurus urusan administrasi, Gua pun berangkat naik kapal ferry untuk menempuh perjalanan laut sekitar satu jam. Siang hari Gua sudah sampai di harbourfront Singapura, sampai disini Gua pun ikut turis lainnya untuk kembali menyelesaikan urusan administrasi imigrasi. Selesai mengisi form dan tujuan Gua untuk berlibur, akhirnya resmi sudah Gua menjadi turis di negara tersebut.
Gua membeli sebuah simcard lalu memasukannya ke smartphone Gua, setelah proses mengganti simcard beres, Gua langsung menelpon seorang wanita yang sudah cukup lama tinggal di negara ini.
Setelah menunggu sekitar lima menit Gua pun masuk ke dalam mobil sedan berwarna putih dan duduk dibelakang bersama Nona Ukhti.
"Assalamualaikum Za..", ucapnya seraya mencium tangan kanan Gua.
"Walaikumsalam Ve..".
"Taxi atau ?", tanya Gua.
"Supir pribadi Papah.. Hehehe..", jawab Nona Ukhti,
"Gimana tadi di kapal laut ? Mabuk gak ?", tanyanya.
"Enggak kok, aku gak ada riwayat mabuk laut hahaha...".
Selama perjalanan menuju rumah Papahnya, Gua dan Nona Ukhti hanya mengobrol soal masa magang Gua di Batam lalu diselingi dengan perkuliahan Nona Ukhti yang memasuki semester empat di akhir tahun ini. Sekitar pukul satu siang waktu setempat kami sampai di sebuah rumah yang minimalis tapi terkesan sangat asri dengan bangunan dua lantai. Kami berdua turun dan Gua mengikutinya masuk kedalam rumah sambil menggendong tas yang tidak begitu besar.
"Assalamualaikum..", salam Gua dan Nona Ukhti ketika kami melihat Papahnya sedang duduk di sofa dekat Tv.
"Walaikumsalam..", jawab Papahnya sambil berdiri dan menghampiri Gua.
Beliau tersenyum lalu memeluk Gua sesaat. "Apa kabar Za ?", tanyanya setelah melepas pelukan namun kedua tangannya masih memegangi kedua sisi lengan ini.
"Alhamdulilah baik Om.. Om sendiri apa kabar ?", tanya Gua balik.
"Alhamdulilah baik juga",
"Ayo duduk Za..", ajaknya. "Ve, bikinkan minum untuk Eza dulu", ucap Papahnya kepada sang anak semata wayangnya itu.
Nona Ukhti tersenyum lalu berjalan kearah dalam rumah lainnya. Kini Gua duduk bersebrangan di ruang Tv bersama Papah Nona Ukhti.
"Gimana kuliah kamu ? Lancar ?", tanya Beliau sambil melipat kakinya.
"Alhamdulilah lancar Om, kebetulan sekarang lagi magang di Batam Om..", jawab Gua sambil mengangguk.
"Oh syukur lah ya.. Vera memang cerita dari kemarin, katanya kamu sedang training di hotel xxx di Batam. Oh ya tahun ini semester terakhir mu kan ?".
"Iya Om, ini semester terakhir, kalo enggak ada halangan, mungkin awal tahun depan saya sudah mulai susun tugas akhir dan wisuda juga", jawab Gua lagi.
"Ya syukur alhamdulilah kalo begitu Za. Oh ya, mohon maaf ya Za..", nada suara Papahnya berubah pelan.
"Mm.. Kenapa ya Om ?".
Sebelum beliau menjawab, Nona Ukhti sudah kembali dari dapur dengan nampan yang diatasnya berisi secangkir minuman dingin. Setelah Nona Ukhti menaruh cangkir tersebut di atas meja depan Gua, kini dia duduk tepat di samping Gua.
"Ya, saya punya salah sama kamu.. Saat dulu saya dan Vera pergi ketika kamu berniat melamar Vera..", ucapnya dengan ekspresi yang cukup nampak menyesal.
Gua menghela nafas perlahan lalu tersenyum tipis. "Jujur, enggak mungkin saya gak kecewa dan sakit hati ketika itu Om.. Tapi ya lambat laun saya paham kalau mungkin ini semua sudah jalannya seperti ini.. Saya memang sempat marah kepada Vera sampai beberapa saat kemarin, marah karena kecewa, tapi sekarang...", Gua melirik kepada Nona Ukhti di samping Gua lalu tersenyum. "Saya sudah menerima kejadian itu dan melupakannya.. Saya juga minta maaf kalau selama ini punya salah pada Vera dan Om", lanjut Gua.
"Enggak Za, kamu enggak pernah salah apa-apa sama kami berdua...", Papahnya Nona Ukhti menyandarkan punggungnya kebelakang sofa. "Kamu anak yang baik, maafkan saya yang dulu sempat meragukan kamu dan... Ehm.. Menghina kamu".
Gua tersenyum ketika tangan kiri Nona Ukhti ditaruh di atas paha kanan ini.
"Enggak apa-apa Om, kita semua udah melupakan kejadian itu.. Saya sendiri udah melupakannya..", jawab Gua tulus.
"Terimakasih ya atas kebesaran hati kamu Za.. Oh satu lagi..", ucapnya seraya berdiri lalu berjalan menghampiri Gua. "Mungkin memang sudah terlambat, tapi percayalah, saya turut berduka cita atas kehilangan istri dan anak kamu Za.. Saya turut prihatin atas kejadian itu, kamu yang tabah ya, Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah dari sebuah kehilangan yang kamu alami itu", lanjutnya setelah berdiri di samping Gua dan memegang bahu kiri ini.
Hati Gua menclos ketika mendengar ucapan beliau, seolah-olah ada sesuatu di dalam hati ini yang kembali menyeruak dan hendak meruntuhkan dinding di dalamnya. Gua teringat kepada Echa dan Jingga. Namun Gua berusaha untuk tersenyum. Gua menengok ke kiri dan menengadahkan kepala menatap beliau.
"Terimakasih Om.. Terimakasih untuk dukungannya", jawab Gua sambil tersenyum.
....
Sore hari ketika Gua sedang bersantai di depan rumah Papahnya sambil menghisap rokok, Nona Ukhti menghampiri Gua dengan balutan mukena.
"Za, kamu gak shalat ashar dulu ?", tanyanya ketika sudah berdiri di samping Gua.
Gua melirik kepadanya. "Mmm.. Enggak nanti aja", jawab Gua singkat lalu mengalihkan pandangan ke depan dan menghisap rokok lagi.
"Kenapa ?".
Gua hembuskan asap rokok keatas. Lalu menatap langit sore yang cerah. Fikiran Gua melayang-layang kepada rentetan dosa yang Gua lakukan selama ini. Bibir ini tersenyum kecut lalu Gua matikan batang rokok yang hampir habis itu dengan menginjaknya.
"Aku udah lama gak melaksanakan kewajiban itu, Ve..", jawab Gua pelan.
Vera duduk di samping Gua lalu menatap wajah ini. Gua bisa merasakan bahwa dia sedang tersenyum.
"Tapi kamu gak menyimpangkan ?".
Gua terkekeh pelan lalu melirik kepadanya. "Hehehe.. Udah.. Udah lama aku menyimpang Ve.. Lama aku berjalan di jalan gelap tanpa cahaya-Nya". Gua kembali memandangi langit di atas sana,
"Aku udah lama gak beribadah bahkan... Puasa kemarin aja aku cuma dapet dua hari loch..", lanjut Gua.
"kamu masih kesal karena kehilangan Echa dan Jingga ?".
Gua mengangguk sambil tersenyum.
"Tuhan masih sayang sama kamu Za..".
"Hm ? Oh ya ? Hahaha.. Maybe".
"Za, apa yang masih membuat kamu enggak percaya dengan kasih sayang-Nya ?".
"Kasih aku alasan yang logis kenapa harus aku yang nerima ujian seberat ini ? Dan satu hal Ve.. Aku udah merasakan sakit sejak kecil.. Kamu tau hal itu tanpa perlu aku jelaskan lagi".
Kami berdua terdiam cukup lama di halaman teras rumah ini. Gua masih memandangi langit diatas sana dengan fikiran yang tidak menentu akan kepercayaan dalam diri sendiri...
"Za..".
"Hm...".
"Kamu masih bernafas, masih menikmati karunia yang Allah berikan hingga detik inikan ?".
Gua mengangkat kedua bahu tanpa melirik kepadanya.
"Cukup sudah hati kamu terbenam dalam kegelapan Za.. Sebelum semuanya terlambat.. Sebelum kamu menikmati udara dunia ini untuk terakhir kali. Kembali ya Za.. Kembali ke jalan-Nya, bukan hanya untuk kamu sendiri. Tapi untuk almarhumah istri kamu, almarhumah anak kamu, almarhumah Ibu kamu dan almarhum Ayah kamu Za.. Demi mereka semua juga".
"Dan apa yang akan aku dapatkan setelah itu ? Hm ? Ujian dan cobaan lagi dari-Nya ?", tanya Gua.
Nona Ukhti tersenyum kepada Gua sambil menggelengkan kepala.
"Bukan itu.. Tapi ketenangan.. Ketenangan hati, ketenangan batin, ketenangan jiwa, dan yang terpenting.. Hati kamu akan berdamai dengan masa kelam kamu itu dengan mengikhlaskannya..". Lalu Nona Ukhti memejamkan matanya sejenak, dan...
Lantunan salah satu dari ayat suci Al-Qur'an mengalun merdu terdengar oleh telinga ini.
"Alladziina aamanuu watathma-innu quluubuhum bidzikri allaahi alaa bidzikri allaahi tathma-innu alquluubu",
"Yang aritnya, (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram".
"Surat ?".
"Surat Ar-Rad ayat dua puluh delapan..",
"Orang-orang yang selalu kembali kepada Allah dan menyambut kebenaran itu adalah orang-orang yang beriman. Mereka adalah orang-orang yang ketika berzikir mengingat Allah dengan membaca al-Quran, hati mereka menjadi tenang. Hati memang tidak akan dapat tenang tanpa mengingat dan merenungkan kebesaran dan ke-Maha Kuasaan Allah, dengan selalu mengharap keridaan-Nya. Insya Allah kamu bisa merasakan kembali ketenangan hati dan jiwa kamu Za, cukuplah kamu berpaling dari-Nya..", lanjut Nona Ukhti dengan tetap tersenyum kepada Gua.
Gua tersenyum mendengar penjelasannya itu lalu menundukan kepala sejenak. Entah kenapa airmata ini akhirnya menetes dengan sendirinya tanpa bisa Gua cari alasannya.
"Za.. Aku masih berada disini, di samping kamu karena kuasa Allah.. Dan setelah apa yang sudah aku lewati di masa buruk itu membuat aku mengerti, bahwa aku mampu melewati itu semua atas kehendak-Nya. Aku memang sempat berfikir seperti kamu, aku paham betul rasanya menjadi orang yang jatuh dalam ujian yang berat.. Tapi aku sadar, bahwa alasan utama dari semua kejadian ini harus membuat aku bangkit dan menjadi pribadi yang lebih baik..",
"Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari ketenangan hati dan jiwa ini Za, lewat firman-NYA lah aku bisa tetap menjalani hari-hari ku.. Aku harap kamu juga bisa berdamai dengan segala kepedihan yang kamu alami selama ini".
Gua mendapatkan mess bersama kedua teman Gua itu. Mirip bangsal lebih tepatnya. Seminggu pertama Gua langsung mendapatkan pekerjaan yang cukup banyak di kitchen, sedangkan kedua teman kampus Gua berbeda section, Anton magang dibagian Bar, sedangkan Viki menjadi seorang housekeeper.
Apa yang dikatakan Kinanti benar ternyata. Panas cuaca di Batam, apalagi di mess. Gua selalu berkeringat dan kepanasan di pulau ini. Belum lagi ternyata biaya hidup cukup mahal, satu bungkus rokok kesukaan Gua lebih mahal dibandingkan dengan harga di pulau jawa. Beruntung untuk konsumsi atau makanan, karena Gua magang di kitchen maka soal perkara kebutuhan perut tidak terlalu Gua pusingkan.
...
Skip. Sudah satu bulan Gua magang di hotel ini, sedangkan komunikasi Gua dengan Luna terbilang cukup lancar, setiap hari kami berdua saling mengabari lewat bbm.
Di bulan november ini Gua sudah mendapatkan dua izin, pertama dari pihak hotel untuk mengambil libur selama tiga hari. Kok bisa ? Jelas bisa, karena faktor hubungan kerja antara Gua dengan kepala Chef di hotel ini sangat baik. Dari satu bulan pertama Gua mulai magang, Gua baru satu kali libur, walaupun anak magang dengan karyawan memiliki jadwal sama, yaitu satu minggu sekali mendapatkan hari libur tapi Gua memilih untuk masuk magang atau bekerja, karena fikir Gua ketika itu untuk apa Gua libur dan bersantai di mess ? Lebih baik masuk dan mendapatkan makanan gratis, lebih baik lagi Gua mendapatkan banyak ilmu memasak dengan berbagai macam masakan. Soal libur dan berjalan-jalan di pulau ini tidak begitu menarik perhatiaan Gua, toh view dari tempat hotel magang lebih dari cukup untuk memanjakan mata ini, apalagi jika Gua masuk pagi dan pulang sore hari, Gua dan beberapa karyawan serta kedua teman kampus Gua sering nongkrong di salah satu pantai yang viewnya menampakkan negara tetangga sejauh mata memandang.
Izin kedua, Gua dapatkan dari sang kekasih. Ya Gua bercerita kepadanya akan niatan Gua yang ingin pergi ke negara sebrang untuk menemui seorang wanita di bulan ini. Setelah Gua mendapatkan izin dan tidak banyak bekal yang Gua bawa selain uang yang cukup, akhirnya Gua berangkat ke Singapura dengan menggunakan kapal ferry.
Hari ini Gua berangkat ke Singapura dari pelabuhan di Batam dan setelah beres mengurus urusan administrasi, Gua pun berangkat naik kapal ferry untuk menempuh perjalanan laut sekitar satu jam. Siang hari Gua sudah sampai di harbourfront Singapura, sampai disini Gua pun ikut turis lainnya untuk kembali menyelesaikan urusan administrasi imigrasi. Selesai mengisi form dan tujuan Gua untuk berlibur, akhirnya resmi sudah Gua menjadi turis di negara tersebut.
Gua membeli sebuah simcard lalu memasukannya ke smartphone Gua, setelah proses mengganti simcard beres, Gua langsung menelpon seorang wanita yang sudah cukup lama tinggal di negara ini.
Quote:
Setelah menunggu sekitar lima menit Gua pun masuk ke dalam mobil sedan berwarna putih dan duduk dibelakang bersama Nona Ukhti.
"Assalamualaikum Za..", ucapnya seraya mencium tangan kanan Gua.
"Walaikumsalam Ve..".
"Taxi atau ?", tanya Gua.
"Supir pribadi Papah.. Hehehe..", jawab Nona Ukhti,
"Gimana tadi di kapal laut ? Mabuk gak ?", tanyanya.
"Enggak kok, aku gak ada riwayat mabuk laut hahaha...".
Selama perjalanan menuju rumah Papahnya, Gua dan Nona Ukhti hanya mengobrol soal masa magang Gua di Batam lalu diselingi dengan perkuliahan Nona Ukhti yang memasuki semester empat di akhir tahun ini. Sekitar pukul satu siang waktu setempat kami sampai di sebuah rumah yang minimalis tapi terkesan sangat asri dengan bangunan dua lantai. Kami berdua turun dan Gua mengikutinya masuk kedalam rumah sambil menggendong tas yang tidak begitu besar.
"Assalamualaikum..", salam Gua dan Nona Ukhti ketika kami melihat Papahnya sedang duduk di sofa dekat Tv.
"Walaikumsalam..", jawab Papahnya sambil berdiri dan menghampiri Gua.
Beliau tersenyum lalu memeluk Gua sesaat. "Apa kabar Za ?", tanyanya setelah melepas pelukan namun kedua tangannya masih memegangi kedua sisi lengan ini.
"Alhamdulilah baik Om.. Om sendiri apa kabar ?", tanya Gua balik.
"Alhamdulilah baik juga",
"Ayo duduk Za..", ajaknya. "Ve, bikinkan minum untuk Eza dulu", ucap Papahnya kepada sang anak semata wayangnya itu.
Nona Ukhti tersenyum lalu berjalan kearah dalam rumah lainnya. Kini Gua duduk bersebrangan di ruang Tv bersama Papah Nona Ukhti.
"Gimana kuliah kamu ? Lancar ?", tanya Beliau sambil melipat kakinya.
"Alhamdulilah lancar Om, kebetulan sekarang lagi magang di Batam Om..", jawab Gua sambil mengangguk.
"Oh syukur lah ya.. Vera memang cerita dari kemarin, katanya kamu sedang training di hotel xxx di Batam. Oh ya tahun ini semester terakhir mu kan ?".
"Iya Om, ini semester terakhir, kalo enggak ada halangan, mungkin awal tahun depan saya sudah mulai susun tugas akhir dan wisuda juga", jawab Gua lagi.
"Ya syukur alhamdulilah kalo begitu Za. Oh ya, mohon maaf ya Za..", nada suara Papahnya berubah pelan.
"Mm.. Kenapa ya Om ?".
Sebelum beliau menjawab, Nona Ukhti sudah kembali dari dapur dengan nampan yang diatasnya berisi secangkir minuman dingin. Setelah Nona Ukhti menaruh cangkir tersebut di atas meja depan Gua, kini dia duduk tepat di samping Gua.
"Ya, saya punya salah sama kamu.. Saat dulu saya dan Vera pergi ketika kamu berniat melamar Vera..", ucapnya dengan ekspresi yang cukup nampak menyesal.
Gua menghela nafas perlahan lalu tersenyum tipis. "Jujur, enggak mungkin saya gak kecewa dan sakit hati ketika itu Om.. Tapi ya lambat laun saya paham kalau mungkin ini semua sudah jalannya seperti ini.. Saya memang sempat marah kepada Vera sampai beberapa saat kemarin, marah karena kecewa, tapi sekarang...", Gua melirik kepada Nona Ukhti di samping Gua lalu tersenyum. "Saya sudah menerima kejadian itu dan melupakannya.. Saya juga minta maaf kalau selama ini punya salah pada Vera dan Om", lanjut Gua.
"Enggak Za, kamu enggak pernah salah apa-apa sama kami berdua...", Papahnya Nona Ukhti menyandarkan punggungnya kebelakang sofa. "Kamu anak yang baik, maafkan saya yang dulu sempat meragukan kamu dan... Ehm.. Menghina kamu".
Gua tersenyum ketika tangan kiri Nona Ukhti ditaruh di atas paha kanan ini.
"Enggak apa-apa Om, kita semua udah melupakan kejadian itu.. Saya sendiri udah melupakannya..", jawab Gua tulus.
"Terimakasih ya atas kebesaran hati kamu Za.. Oh satu lagi..", ucapnya seraya berdiri lalu berjalan menghampiri Gua. "Mungkin memang sudah terlambat, tapi percayalah, saya turut berduka cita atas kehilangan istri dan anak kamu Za.. Saya turut prihatin atas kejadian itu, kamu yang tabah ya, Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah dari sebuah kehilangan yang kamu alami itu", lanjutnya setelah berdiri di samping Gua dan memegang bahu kiri ini.
Hati Gua menclos ketika mendengar ucapan beliau, seolah-olah ada sesuatu di dalam hati ini yang kembali menyeruak dan hendak meruntuhkan dinding di dalamnya. Gua teringat kepada Echa dan Jingga. Namun Gua berusaha untuk tersenyum. Gua menengok ke kiri dan menengadahkan kepala menatap beliau.
"Terimakasih Om.. Terimakasih untuk dukungannya", jawab Gua sambil tersenyum.
....
Sore hari ketika Gua sedang bersantai di depan rumah Papahnya sambil menghisap rokok, Nona Ukhti menghampiri Gua dengan balutan mukena.
"Za, kamu gak shalat ashar dulu ?", tanyanya ketika sudah berdiri di samping Gua.
Gua melirik kepadanya. "Mmm.. Enggak nanti aja", jawab Gua singkat lalu mengalihkan pandangan ke depan dan menghisap rokok lagi.
"Kenapa ?".
Gua hembuskan asap rokok keatas. Lalu menatap langit sore yang cerah. Fikiran Gua melayang-layang kepada rentetan dosa yang Gua lakukan selama ini. Bibir ini tersenyum kecut lalu Gua matikan batang rokok yang hampir habis itu dengan menginjaknya.
"Aku udah lama gak melaksanakan kewajiban itu, Ve..", jawab Gua pelan.
Vera duduk di samping Gua lalu menatap wajah ini. Gua bisa merasakan bahwa dia sedang tersenyum.
"Tapi kamu gak menyimpangkan ?".
Gua terkekeh pelan lalu melirik kepadanya. "Hehehe.. Udah.. Udah lama aku menyimpang Ve.. Lama aku berjalan di jalan gelap tanpa cahaya-Nya". Gua kembali memandangi langit di atas sana,
"Aku udah lama gak beribadah bahkan... Puasa kemarin aja aku cuma dapet dua hari loch..", lanjut Gua.
"kamu masih kesal karena kehilangan Echa dan Jingga ?".
Gua mengangguk sambil tersenyum.
"Tuhan masih sayang sama kamu Za..".
"Hm ? Oh ya ? Hahaha.. Maybe".
"Za, apa yang masih membuat kamu enggak percaya dengan kasih sayang-Nya ?".
"Kasih aku alasan yang logis kenapa harus aku yang nerima ujian seberat ini ? Dan satu hal Ve.. Aku udah merasakan sakit sejak kecil.. Kamu tau hal itu tanpa perlu aku jelaskan lagi".
Kami berdua terdiam cukup lama di halaman teras rumah ini. Gua masih memandangi langit diatas sana dengan fikiran yang tidak menentu akan kepercayaan dalam diri sendiri...
"Za..".
"Hm...".
"Kamu masih bernafas, masih menikmati karunia yang Allah berikan hingga detik inikan ?".
Gua mengangkat kedua bahu tanpa melirik kepadanya.
"Cukup sudah hati kamu terbenam dalam kegelapan Za.. Sebelum semuanya terlambat.. Sebelum kamu menikmati udara dunia ini untuk terakhir kali. Kembali ya Za.. Kembali ke jalan-Nya, bukan hanya untuk kamu sendiri. Tapi untuk almarhumah istri kamu, almarhumah anak kamu, almarhumah Ibu kamu dan almarhum Ayah kamu Za.. Demi mereka semua juga".
"Dan apa yang akan aku dapatkan setelah itu ? Hm ? Ujian dan cobaan lagi dari-Nya ?", tanya Gua.
Nona Ukhti tersenyum kepada Gua sambil menggelengkan kepala.
"Bukan itu.. Tapi ketenangan.. Ketenangan hati, ketenangan batin, ketenangan jiwa, dan yang terpenting.. Hati kamu akan berdamai dengan masa kelam kamu itu dengan mengikhlaskannya..". Lalu Nona Ukhti memejamkan matanya sejenak, dan...
Lantunan salah satu dari ayat suci Al-Qur'an mengalun merdu terdengar oleh telinga ini.
"Alladziina aamanuu watathma-innu quluubuhum bidzikri allaahi alaa bidzikri allaahi tathma-innu alquluubu",
"Yang aritnya, (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram".
"Surat ?".
"Surat Ar-Rad ayat dua puluh delapan..",
"Orang-orang yang selalu kembali kepada Allah dan menyambut kebenaran itu adalah orang-orang yang beriman. Mereka adalah orang-orang yang ketika berzikir mengingat Allah dengan membaca al-Quran, hati mereka menjadi tenang. Hati memang tidak akan dapat tenang tanpa mengingat dan merenungkan kebesaran dan ke-Maha Kuasaan Allah, dengan selalu mengharap keridaan-Nya. Insya Allah kamu bisa merasakan kembali ketenangan hati dan jiwa kamu Za, cukuplah kamu berpaling dari-Nya..", lanjut Nona Ukhti dengan tetap tersenyum kepada Gua.
Gua tersenyum mendengar penjelasannya itu lalu menundukan kepala sejenak. Entah kenapa airmata ini akhirnya menetes dengan sendirinya tanpa bisa Gua cari alasannya.
"Za.. Aku masih berada disini, di samping kamu karena kuasa Allah.. Dan setelah apa yang sudah aku lewati di masa buruk itu membuat aku mengerti, bahwa aku mampu melewati itu semua atas kehendak-Nya. Aku memang sempat berfikir seperti kamu, aku paham betul rasanya menjadi orang yang jatuh dalam ujian yang berat.. Tapi aku sadar, bahwa alasan utama dari semua kejadian ini harus membuat aku bangkit dan menjadi pribadi yang lebih baik..",
"Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari ketenangan hati dan jiwa ini Za, lewat firman-NYA lah aku bisa tetap menjalani hari-hari ku.. Aku harap kamu juga bisa berdamai dengan segala kepedihan yang kamu alami selama ini".
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” QS. 13:28.
Diubah oleh glitch.7 16-06-2017 00:43
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 

: