- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#5948
PART 88
Akhir bulan juli ini terasa berat untuk Gua dan Luna, walaupun dirinya belum benar-benar di wisuda tapi Luna sudah diterima bekerja di salah satu perusahaan asing, dan lebih beratnya, dia ditempatkan di luar negeri, Australia.
"Za, apa aku tolak aja ya pekerjaan itu ?", ucap Luna seraya menaruh mie goreng buatannya untuk Gua di atas meja makan.
"Loch ? Kok malah ditolak Lun ? Ini kesempatan kamu untuk memulai karir kan..", jawab Gua sambil menarik piring makan.
"Tapi aku berat harus jauh dari kamu Za. Lagian aku bisa cari pekerjaan lain di Jakarta", jawabnya sambil duduk di kursi samping Gua.
Gua memainkan garpu, memutar mie goreng yang masih mengepulkan asapnya.
Pikiran Gua bercabang. Sebenarnya Gua juga tidak ingin jauh dari Luna, dari dulu Gua tidak percaya dengan hubungan yang namanya LDR. Fak dat.
"Mmm.. Aku serba salah, aku juga gak bisa jauh sama kamu Lun.. Tapi ini juga demi masa depan kamu, aku gak mau jadi penghalang untuk karir kamu. Kalau dipikir-pikir kesempatan kayak gini jarang banget orang dapet loch", Gua berusaha menerima dan membohongi perasaan ini.
Luna menopang dagunya dengan tangan kanan sambil menatap Gua lekat-lekat.
"Za.. Kalau kamu ikut ke Aussie gimana ?", tanyanya seraya memainkan rambut Gua dengan tangan kirinya.
Gua melirik kepada Luna dengan mie yang masih bergelantungan di mulut.
"Hahahaha.. Makan dulu iih.. Malah nengok ke aku, hahaha..", Luna tertawa geli melihat Gua yang belum memasukan seluruh mie kedalam mulut ini.
Beres menghabiskan makanan, Gua dan Luna kini duduk di ayunan halaman depan rumahnya. Kami duduk bersebrangan.
"Terus gimana Za ?".
"Ya mau gimana lagi, aku gak mungkinlah ikut kamu ke Aussie, kan aku masih kuliah Lun, apalagi abis lebaran aku mulai on the job training lagi... Abis itu nyusun tugas akhir", jawab Gua lalu menghembuskan asap rokok ke samping.
Luna menundukan kepalanya sambil memainkan kedua jemari tangannya, Gua tau dia sedang berfikir bagaimana baiknya untuk karir dan hubungan kami ini. Berat memang apa yang harus diputuskan, karena kami berdua sama-sama tau kalau hubungan jarak jauh itu tidaklah mudah. Entah akan bagaimana hubungan kami kedepannya, yang jelas Gua tidak ingin membebani dirinya dengan mengatakan tetap stay di sini dan mencari pekerjaan di Indonesia.
"Promise to me.. Kita jaga hubungan ini ya sayang.. Aku sayang banget sama kamu Za", ucapnya.
Gua tersenyum kepada Luna lalu melemparkan rokok sembarang ke rerumputan taman. Kemudian Gua memegang kedua tangannya dan menatap matanya lekat-lekat.
"Aku berusaha untuk ngejaga hubungan ini Luna.. I promise... Atau..".
"Hm ? Atau apa ?", tanyanya.
"Kamu mau aku nikahin dulu sebelum berangkat ke Aussie ?", Gua tersenyum kepadanya.
"Iiiihh... Apaan coba! Masa ngajakin nikah gitu.. Gak ada romantis-romantisnya banget... Huuuuh", Luna melepaskan genggaman tangan Gua lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan mukanya kearah lain.
Gua terkekeh melihat ekspresinya itu. "Hahahah... Ya gimana atuh ? Aku ma gak bisa romantis dari dulu Lun.. Hahahah.. Maaf deh ya.. Hahaha", Gua tergelak.
"Ya gimana kek.. Minimal kamu petik tuh bunga terus baru deh lamar aku, huuu..", jawabnya masih cemberut.
Gua turun dari ayunan, memetik setangkai bunga mawar putih yang ada di halaman rumahnya itu, kemudian Gua bergegas ke mobil, mengambil sebuah kotak kecil dari dashboard lalu kembali mendekati Luna yang masih berada di ayunan.
Gua bersimpuh di samping ayunan lalu mengulurkan tangan yang memegang setangkai mawar putih serta sebuah kotak yang baru saja Gua buka tutupnya. Mata ini menatap lekat-lekat kearah wajah seorang wanita yang terkejut dengan apa yang Gua lakukan ini.
"Franziska Luna Katrina.. Willst du mich heiraten ?" this is a simple marriage proposal...
Matanya berkaca-kaca melihat Gua sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya, kemudian airmatanya mulai menetes perlahan. Tangan kanannya mencoba meraih setangkai bunga mawar putih dari genggaman tangan Gua. Tapi...
"Za.. Aku..", ucapannya tercekat,
"Aku.. Aku gak tau harus bahagia atau sedih..", dia menghentikan tangannya dan tidak jadi meraih bunga serta sekotak cincin yang Gua tunjukan.
"Sedih ? Kenapa ?", Gua bertanya dalam kebingungan.
"Za.. Aku mau menikah dengan kamu tapi...".
"Tapi kenapa ?".
"Tapi apa kita bisa bahagia dengan perbedaan keyakinan ini Za ?".
"Za, apa aku tolak aja ya pekerjaan itu ?", ucap Luna seraya menaruh mie goreng buatannya untuk Gua di atas meja makan.
"Loch ? Kok malah ditolak Lun ? Ini kesempatan kamu untuk memulai karir kan..", jawab Gua sambil menarik piring makan.
"Tapi aku berat harus jauh dari kamu Za. Lagian aku bisa cari pekerjaan lain di Jakarta", jawabnya sambil duduk di kursi samping Gua.
Gua memainkan garpu, memutar mie goreng yang masih mengepulkan asapnya.
Pikiran Gua bercabang. Sebenarnya Gua juga tidak ingin jauh dari Luna, dari dulu Gua tidak percaya dengan hubungan yang namanya LDR. Fak dat.
"Mmm.. Aku serba salah, aku juga gak bisa jauh sama kamu Lun.. Tapi ini juga demi masa depan kamu, aku gak mau jadi penghalang untuk karir kamu. Kalau dipikir-pikir kesempatan kayak gini jarang banget orang dapet loch", Gua berusaha menerima dan membohongi perasaan ini.
Luna menopang dagunya dengan tangan kanan sambil menatap Gua lekat-lekat.
"Za.. Kalau kamu ikut ke Aussie gimana ?", tanyanya seraya memainkan rambut Gua dengan tangan kirinya.
Gua melirik kepada Luna dengan mie yang masih bergelantungan di mulut.
"Hahahaha.. Makan dulu iih.. Malah nengok ke aku, hahaha..", Luna tertawa geli melihat Gua yang belum memasukan seluruh mie kedalam mulut ini.
Beres menghabiskan makanan, Gua dan Luna kini duduk di ayunan halaman depan rumahnya. Kami duduk bersebrangan.
"Terus gimana Za ?".
"Ya mau gimana lagi, aku gak mungkinlah ikut kamu ke Aussie, kan aku masih kuliah Lun, apalagi abis lebaran aku mulai on the job training lagi... Abis itu nyusun tugas akhir", jawab Gua lalu menghembuskan asap rokok ke samping.
Luna menundukan kepalanya sambil memainkan kedua jemari tangannya, Gua tau dia sedang berfikir bagaimana baiknya untuk karir dan hubungan kami ini. Berat memang apa yang harus diputuskan, karena kami berdua sama-sama tau kalau hubungan jarak jauh itu tidaklah mudah. Entah akan bagaimana hubungan kami kedepannya, yang jelas Gua tidak ingin membebani dirinya dengan mengatakan tetap stay di sini dan mencari pekerjaan di Indonesia.
"Promise to me.. Kita jaga hubungan ini ya sayang.. Aku sayang banget sama kamu Za", ucapnya.
Gua tersenyum kepada Luna lalu melemparkan rokok sembarang ke rerumputan taman. Kemudian Gua memegang kedua tangannya dan menatap matanya lekat-lekat.
"Aku berusaha untuk ngejaga hubungan ini Luna.. I promise... Atau..".
"Hm ? Atau apa ?", tanyanya.
"Kamu mau aku nikahin dulu sebelum berangkat ke Aussie ?", Gua tersenyum kepadanya.
"Iiiihh... Apaan coba! Masa ngajakin nikah gitu.. Gak ada romantis-romantisnya banget... Huuuuh", Luna melepaskan genggaman tangan Gua lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan mukanya kearah lain.
Gua terkekeh melihat ekspresinya itu. "Hahahah... Ya gimana atuh ? Aku ma gak bisa romantis dari dulu Lun.. Hahahah.. Maaf deh ya.. Hahaha", Gua tergelak.
"Ya gimana kek.. Minimal kamu petik tuh bunga terus baru deh lamar aku, huuu..", jawabnya masih cemberut.
Gua turun dari ayunan, memetik setangkai bunga mawar putih yang ada di halaman rumahnya itu, kemudian Gua bergegas ke mobil, mengambil sebuah kotak kecil dari dashboard lalu kembali mendekati Luna yang masih berada di ayunan.
Gua bersimpuh di samping ayunan lalu mengulurkan tangan yang memegang setangkai mawar putih serta sebuah kotak yang baru saja Gua buka tutupnya. Mata ini menatap lekat-lekat kearah wajah seorang wanita yang terkejut dengan apa yang Gua lakukan ini.
"Franziska Luna Katrina.. Willst du mich heiraten ?" this is a simple marriage proposal...
Matanya berkaca-kaca melihat Gua sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya, kemudian airmatanya mulai menetes perlahan. Tangan kanannya mencoba meraih setangkai bunga mawar putih dari genggaman tangan Gua. Tapi...
"Za.. Aku..", ucapannya tercekat,
"Aku.. Aku gak tau harus bahagia atau sedih..", dia menghentikan tangannya dan tidak jadi meraih bunga serta sekotak cincin yang Gua tunjukan.
"Sedih ? Kenapa ?", Gua bertanya dalam kebingungan.
"Za.. Aku mau menikah dengan kamu tapi...".
"Tapi kenapa ?".
"Tapi apa kita bisa bahagia dengan perbedaan keyakinan ini Za ?".
***
Quote:
Diubah oleh glitch.7 14-06-2017 03:19
kadalbuntingzzz dan 2 lainnya memberi reputasi
3
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
