Touching the surface
Quote:
Keesokan harinya di sekolah. Aku tidak tau harus bersikap seperti apa, ada rasa kecewa iya, ada rasa bersalah pun iya. Semoga semua ada penyelesaiannya. Sambil termenung aku duduk di bangku, terlihat Luna datang dari pintu, dia tidak duduk denganku malah dengan temannya. Dan dia tidak melihat ke arahku sama sekali. Ku coba untuk sms dia, ternyata hp ku mati dan aku baru ingat hp mati dari kemarin. Ku nyalakan hpku. Ada banyak sms dari Wina dan Luna. Ku baca satu-satu isinya kebanyakan permintaan maaf. Beberapa sms sebelum sms terakhir ada sms dari Luna.
“maaf aku emang ga pantes buat kamu, mungkin kamu udah jijik sama aku. Maaf”, smsnya
Akupun langsung menghampiri Luna.
“Lun bisa ngomong”, kataku
Dia memalingkan wajahnya.
“wtf”, gumamku
“Lun”, kataku lagi sambil memegang tangannya
Dia menepis tanganku dengan halus tanpa melihat ke arahku.
“fine”, kataku
Akupun mengambil tas ku dan pergi. Di gerbang aku bertemu Abay.
“woi kemana lu?!”, kata Abay
Aku hanya melewatinya.
“eh bangke, kemana lu?!”, kali ini Abay memegang pundakku
“gua pusing Bay, mau cabut”, kataku sambil melepaskan pegangan Abay
“cabut kemana?!”, katanya agak kesal
“udah lah Bay gua ga mau ribut”, kataku
Abay menghadangku. Akupun menatapnya, dia pun perlahan mundur. Aku berjalan cepat meninggalkan sekolah, perasaanku berkecamuk. Kepalaku di isi oleh banyak suara-suara, benar-benar kacau hari itu. Tanpa pikir panjang akupun ke rumah kalong. Sesampainya di sana kalong ada di teras.
“wih, kemana aja lu lama ngilang sekarang muncul lagi”, katanya
Akupun mendekatinya, dia berdiri dan tiba-tiba menodongkan pisau ke leherku.
“kemana aja lu?!”, katanya
Tidak ada perasaan takut atau kaget saat kalong menodongkan pisaunya.
“ga usah ngaco Long, gua cape”, kataku mendorong tangannya dan duduk di teras.
“selon juga lu. Udah lama ngilang sekarang balik lagi langsung duduk di rumah gua”, katanya
“lu ada masalah sama gua?”, kataku
Dia pun menarik kerahku.
“3 kali orang gua ketangkep polis, lu yang lapor kan?!”, katanya mengancamku dengan pisau lagi
“gua ga tau”, kataku
“gua bunuh lu!”, katanya
“bunuh aja sih Long ga usah banyak ngomong lah”, kataku
Kalong pun melonggarkan pegangannya di kerahku lalu duduk di bangku sebelahku
“sory, gua lagi kalut. Di tambah kejadiannya pas lu ngilang”, katanya
Akupun duduk tanpa menjawab.
“dari mana lu?”, katanya
“sekolah”, kataku
“cabut?”, katanya
“menurut lu?”, kataku
“masih aja lu kaya dulu, songong”, katanya
“gua numpang istirahat lah Long, pusing gua”, kataku
“masuk sana, minum dulu”, katanya
Akupun masuk dan di ruang tamu terlihat ada 2 cewe tanpa pakaian, aku pun berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas.
“ni orang betah minum kaya gini”, kataku karena isi kulkasnya hanya alcohol.
Aku berjalan kearah dispenser dan mengambil gelas. Selesai minum aku kembali ke teras.
“eh bangke, cewe lu beresin tuh”, kataku
“lu sih yang beresin, enak kan udah gua siapin, 2 lagi”, katanya sambil tersenyum
“setan”, kataku duduk di sebelahnya
“masalah cewe?”, katanya
“iya”, kataku
“lah elu. Masih aja sih”, katanya
“berisik lu Long”, kataku memejamkan mata
“ntar ke kamar aja, gua ke dalem dulu”, katanya
Akupun tidak mejawabnya. Tak terasa akupun tertidur dan di bangunkan oleh suara petir.
“sialan si kalong gua ga di bangunin”, gumamku
Akupun masuk dan pergi ke arah kamar kalong. Saat ku buka pintu.
“anjir lah long”, kataku lalu menutup pintu
“woi woi!”, teriak Kalong dari dalam
“beresin dulu dah gua di bawah!”, teriakku
Akupun rebahan di sofa, hujan cukup deras hari ini, ku lihat hp ternyata ada banyak miscall dan sms dari Wina maupun Luna, ada juga dari Abay. Saat ku taruh hp di meja ada hp ku bergetar, saat ku lihat telepon dari Luna. Akupun tidak menjawabnya. Akupun melamun tidak jelas.
“woi!”, teriaknya
“sue lu Long, kaget gua”, kataku
“ngelamun jorok lu?”, katanya
“emang lu, kaga lah”, kataku
“gua mah ga usah ngelamun sih, tinggal pake”, katanya sambil mengangkat alisnya
“sue, lu kenapa ga bangunin gua sih?! Hampir gua anyut jir di luar, mana hujan deres”, kataku
“nyari kehangatan gua. Sampe lupa ada lu. Hahahaha”, katanya tertawa
“cewe baru Long?”, kataku
“kaga, temen cewe gua, cewe gua juga ada lagi mandi tadi”, katanya
“di rumah lu ga ada makanan Long?”, kataku
“beli aja sih, gua ga nyetok. Repot”, katanya
“duitnya mana?”, kataku sambil menadahkan tangan
“bangke! Pake duit lu lah”, katanya
“gua kan tamu sih. Tamu adalah raja”, kataku
“udah pesen aja nanti gua bayar”, katanya
“nanti dah, masih hujan”, kataku
Kamipun ngobrol ngalor-ngidul, tak lama cewe-cewe kalong bergabung. Dan mereka membully ku habis-habisan karena ada masalah dengan cewe. Saat hujan sudah cukup reda kamipun memesan makanan, sampai malam aku di rumah kalong. Aku pulang dari sana kira-kira jam 8 malam, sesampainya di rumah terdengar ribut-ribut. Sesampainya di dalam ternyata ortu ku sedang ribut, ku lihat bibi hanya diam di dapur, ku tanya dimana Violet, kata bibi sedang di rumah tante. Baguslah dia tidak perlu melihat ini. Akupun berjalan ke arah kamar. Langsung aku kena semprot oleh ayahku, memakiku dan mendekatiku saat dia akan memukulku akupun menepis tangannya, dia terdiam dan aku pergi ke kamarku. “today is so f**cked up”, gumamku. Sesampainya di kamar akupun berdiri di depan cermin. Ku sentuh cermin, melihat diriku. Sudah cukup dengan kehidupan yang seperti ini, mencoba menjadi orang baik dan mencoba baik kepada orang lain tapi tetap mendapat perlakuan seperti ini. they want a bad guy then I’ll one.