- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#444
Part 17: Di Basement
Tidak ada yang sungguh gratis di muka bumi, pertemanan bukan kecuali. Siska, kehadirannya yang ini ternyata terang-terang sudah direncanakan. Siska ingin minta bantuan Wina untuk mengerjakan tugas. Meski berlainan jurusan, Wina juga agak mengerti ilmu komunikasi, dan cukup terampil menulis.
Biasanya Wina menetapkan bayaran untuk kemampuannya yang satu ini. Tidak banyak, setara pengeluaran hidup normal sehari. Untuk Siska ia tentu canggung memberi perlakuan sama. Maka Wina menyanggupi saja permintaan temannya, tanpa mengungkit uang.
Namun Siska juga rupanya bukan orang yang bermodal mumpung. Kendati mengaku dompetnya agak lecet, ia menawarkan dua tiket Dunia Fantasi, berlaku sampai akhir tahun. Boleh juga, pikirku.
Alhasil kami bertiga menghabiskan lebih banyak waktu di d'Tree. Empat makalah, wajib selesai besok. Aku sendiri menggunakan waktu kosong itu untuk mengerjakan tugas, juga tugas orang lain. Begitulah roda ekonomi berputar, di mana ada peluang, di situ ada orang yang siap mengambil keuntungan. Lagipula tidak ada yang dirugikan, sementara dosen hanya mementingkan tugas terkumpul, bukan otak yang berisi.
Aku dan Wina mengambil tempat berlainan supaya waktu tidak habis dengan mengobrol atau bergurau. Jemariku terampil mengetik, kata menjadi kalimat, paragraf, bab, hingga makalah utuh. Lewat jam 9 malam empat tugas selesai.
Kupesan kopi segelas dan kembali ke teras rumah pemilik kantin. Wina masih fokus pada pekerjaannya.
Sam datang mengantarkan kopi panas. Pembawaan pria ini sudah agak lunak. Tanpa permisi ia mengambil kotak rokok kemudian menyita empat batang. Aku cuma tersenyum geli, mungkin itu caranya menekan kerugian dari penjualan brandy.
Malam begitu tenang. Langit, udara, pikiran, semuanya baik. Buah rambutan terdengar jatuh dari rantingnya. Kupungut segera, menemukan dua bulatan yang merah matang. Bersamaan dengan itu Wina dan Siska muncul. Mereka langsung tahu apa yang baru kudapat dan meminta secara paksa. Maka dengan berat hati dua rambutan itu berpindah tangan.
"Manis banget ya, Sis."
"Ha ehmm ha ehhm," begitu jawaban orang mengunyah.
"Yang, Siska mau nginep di kosan aku lagi."
Ide bagus, sambut benakku. Jadi aku tak perlu menemani Wina malam ini.
"Kalau gitu aku pulang aja, ya."
"Nggak usah, Siska mau pergi subuh. Lagipula kamu kan ada kuliah pagi besok?"
Harus bagaimana lagi? Alasan memang selalu ada jika dicari. Aku setuju akhirnya, walau hati berlainan.
Dari kantin d'Tree ke tempat tinggal Wina mudah juga dengan berjalan kaki. Dan kami tidak mungkin berboncengan tiga orang. Jadi mereka berdua berjalan, aku bermotor.
Sampai di sana segera kuparkir kendaraan. Tempat parkir tidak terlalu padat malam ini. Setelah mengunci rangkap pada cakram, aku naik ke atas, kembali ke pagar.
Sebentar saja dua perempuan muda itu tiba. Wina masuk duluan bersama Siska, sedangkan aku perlu mengunci pagar. Gembok pagar ini sudah berkarat, perlu kesabaran untuk mengatasinya.
Namun Siska kembali, meminta agar tidak perlu dikunci.
"Mau beli pulsa."
"Kalau begitu lo aja yang kunci, ya?"
Ia setuju saat kuserahkan kunci tersebut. Aku berjalan menyusul Wina. Jalurnya menuruni anak tangga, melewati kamar-kamar basement, meniti tangga spiral baru sampai di ruang utama. Namun langkahku tertahan , dan….
Tanda tanya langsung menghadangku saat memintasi lorong bawah tanah. Wina...mengapa Wina jongkok begitu?
Kepalanya menunduk menghadap tanah. Wina diam tak bergerak, aku menghampirinya tanpa menunggu lagi.
"Ada apa!?" badan ini turut merendah untuk mendapat wajahnya.
Ini sungguh Wina. Bibirnya pucat dan gemetar. Sesuatu pasti baru saja terjadi.
"Barusan...ada kaki..." ia kepayahan mengakhiri kalimatnya.
"Tenang, tarik nafas. Aku di sini."
Tatapannya panik, bisa terlihat dari raut mukanya yang tegang. Beberapa saat kemudian Wina baru berhasil memulihkan pikirannya.
"Sesuatu lewat...kakinya panjang, melangkahi rumah ini," kalimatnya utuh dengan nafas naik turun.
"Begu ganjang?"
“Begu ganjang?” ia balik bertanya.
“Konon itu hantu peliharaan.”
"Entahlah."
"Orang-orang di kampung bapakku menyebutnya begu ganjang."
Wina tak menanggapi lagi. Aku membantunya berdiri, meski barangkali perasaannya belum mapan.
"Katanya hantu itu cuma lewat," ujarku.
"Yang tadi itu? Di kampungku juga pernah ada kejadian begitu."
Kulihat telapak tangan Wina kotor gara-gara jongkok tiba-tiba. Di depan kami ada kamar mandi, tetapi gelap, rusak, dan digenangi air. Beruntung ada sebuah ember yang sepertinya bekas menadahi hujan. Wina kemudian membilas tangannya dengan itu.
"Siska mana?" tanya Wina.
"Beli pulsa, ayo duluan aja."
Kami semestinya cepat-cepat naik tangga. Yang terjadi sebaliknya, menunda sedikit lebih lama. Gendang telingaku menyaring bunyi gemericik berikut riak air dari kamar mandi yang tidak terpakai. Melirik Wina, dan pandangannya menyiratkan bahwa ia juga mendengar suara itu.
Barangkali karena sedang berdua, rasa takut kurang mendesak. Kuturunkan kakiku yang sudah menapaki tangga besi spiral. Penasaran, mungkin saja ada binatang di dalam ruang gelap itu.
Riak air berhenti. Sunyi menjalar cepat. Aku jadi ragu pada pendengaranku sendiri.
"Bisa jadi cuma angin," kataku lirih, tidak ingin mengganggu penghuni dua kamar di sebelah kanan kamar mandi rusak itu.
Namun sebelum Wina menanggapi, riak itu kembali melena. Saat itu juga kucabut ponsel dari kantong celana. Lampu sorot menyala, mencari-cari penyebab suara air tersebut.
"Airnya semata kaki," gumam Wina. "Kok enggak dibenerin sih."
Aku juga tak habis pikir kondisi kamar mandi begini kumuh masih dipertahankan. Yang paling mungkin, genangan air bersumber dari kebocoran pipa atau atap. Kebetulan tepat di atas ruangan ini terdapat dua kamar mandi.
Sorotan lampu ponsel membenarkan dugaan tersebut. Dua pipa air di dalam kamar mandi ini berlubang. Ukurannya cukup membuat genangan jika tidak pernah diurus.
"Ada-ada aja," kata Wina singkat setelah melihat pipa berlubang itu.
Senter ponsel mati. Kupikir tidak ada yang perlu dicari tahu lagi. Hanya saja suara air sekali lagi terdengar. Aku ragu menyalakan lampu, tetapi Wina menyambar benda itu.
Kamar mandi kembali temaram. Perhatian terpusat pada pipa air, sebab hanya itu satu-satunya penyebab suara yang barusan. Sayangnya tidak ada air mengucur dari pipa tersebut. Badanku spontan mundur untuk mendongak kamar mandi di atas.
Dua pintu kamar mandi itu terbuka. Tidak ada siapa-siapa di sana. Wina terus memindahkan sorotan secara acak. Kami tidak menyadari hal ini sebetulnya tidak perlu dilakukan. Lalu Suara itu berubah lebih jelas. Bukan gemericik air atau riak-riak kecil.
Genangan air di dalam sana berkecipak. Seperti dari seseorang melangkah. Beberapa saat suara itu bertahan. Dan sorotan cahaya akhirnya menangkap jelas kecipak air yang kami dengar. Hanya kecipak air tanpa tubuh.
"Buruan naik!" perintahku pada Wina.
"Kamu duluan!"
Wina dengan konyolnya terus menyorot genangan air itu. Aku juga dapat melihatnya, hingga jejak kecipak itu berhenti di bathtub yang juga digenangi air pekat.
Dan suara lirih perempuan terdengar dari dalam gelap, "Pergi, jangan melihat saya."
Kami seketika berbalik arah, menjerit tanpa berpikir akan mengusik penghuni kamar lain. Aku rasanya tidak peduli lagi pada Wina. Tampaknya dia juga.
Namun suara Siska menahan. Aku sudah lebih dulu sampai pertengahan tangga.
"Ada apa, sih?"
Aku dan Wina hanya berselisih mata. Siska tak menuntut lebih, berjalan mengikuti kami. Namun ia berhenti di depan ruang gelap tersebut.
Beberapa saat Siska tak bergerak. Wajahnya sudah berhadapan dengan kegelapan. Dan pada akhirnya dia berteriak sambil menyebut-nyebut nama Tuhan.
"Na, gue langsung pulang aja!" kata Siska sambil melempar kunci, lalu ambil langkah seribu.
Jangan lupa komen atau masukannya ya gan/sis. Share plus
juga dianjurkan banget, supaya TS nulisnya makin baik
Tidak ada yang sungguh gratis di muka bumi, pertemanan bukan kecuali. Siska, kehadirannya yang ini ternyata terang-terang sudah direncanakan. Siska ingin minta bantuan Wina untuk mengerjakan tugas. Meski berlainan jurusan, Wina juga agak mengerti ilmu komunikasi, dan cukup terampil menulis.
Biasanya Wina menetapkan bayaran untuk kemampuannya yang satu ini. Tidak banyak, setara pengeluaran hidup normal sehari. Untuk Siska ia tentu canggung memberi perlakuan sama. Maka Wina menyanggupi saja permintaan temannya, tanpa mengungkit uang.
Namun Siska juga rupanya bukan orang yang bermodal mumpung. Kendati mengaku dompetnya agak lecet, ia menawarkan dua tiket Dunia Fantasi, berlaku sampai akhir tahun. Boleh juga, pikirku.
Alhasil kami bertiga menghabiskan lebih banyak waktu di d'Tree. Empat makalah, wajib selesai besok. Aku sendiri menggunakan waktu kosong itu untuk mengerjakan tugas, juga tugas orang lain. Begitulah roda ekonomi berputar, di mana ada peluang, di situ ada orang yang siap mengambil keuntungan. Lagipula tidak ada yang dirugikan, sementara dosen hanya mementingkan tugas terkumpul, bukan otak yang berisi.
Aku dan Wina mengambil tempat berlainan supaya waktu tidak habis dengan mengobrol atau bergurau. Jemariku terampil mengetik, kata menjadi kalimat, paragraf, bab, hingga makalah utuh. Lewat jam 9 malam empat tugas selesai.
Kupesan kopi segelas dan kembali ke teras rumah pemilik kantin. Wina masih fokus pada pekerjaannya.
Sam datang mengantarkan kopi panas. Pembawaan pria ini sudah agak lunak. Tanpa permisi ia mengambil kotak rokok kemudian menyita empat batang. Aku cuma tersenyum geli, mungkin itu caranya menekan kerugian dari penjualan brandy.
Malam begitu tenang. Langit, udara, pikiran, semuanya baik. Buah rambutan terdengar jatuh dari rantingnya. Kupungut segera, menemukan dua bulatan yang merah matang. Bersamaan dengan itu Wina dan Siska muncul. Mereka langsung tahu apa yang baru kudapat dan meminta secara paksa. Maka dengan berat hati dua rambutan itu berpindah tangan.
"Manis banget ya, Sis."
"Ha ehmm ha ehhm," begitu jawaban orang mengunyah.
"Yang, Siska mau nginep di kosan aku lagi."
Ide bagus, sambut benakku. Jadi aku tak perlu menemani Wina malam ini.
"Kalau gitu aku pulang aja, ya."
"Nggak usah, Siska mau pergi subuh. Lagipula kamu kan ada kuliah pagi besok?"
Harus bagaimana lagi? Alasan memang selalu ada jika dicari. Aku setuju akhirnya, walau hati berlainan.
Dari kantin d'Tree ke tempat tinggal Wina mudah juga dengan berjalan kaki. Dan kami tidak mungkin berboncengan tiga orang. Jadi mereka berdua berjalan, aku bermotor.
Sampai di sana segera kuparkir kendaraan. Tempat parkir tidak terlalu padat malam ini. Setelah mengunci rangkap pada cakram, aku naik ke atas, kembali ke pagar.
Sebentar saja dua perempuan muda itu tiba. Wina masuk duluan bersama Siska, sedangkan aku perlu mengunci pagar. Gembok pagar ini sudah berkarat, perlu kesabaran untuk mengatasinya.
Namun Siska kembali, meminta agar tidak perlu dikunci.
"Mau beli pulsa."
"Kalau begitu lo aja yang kunci, ya?"
Ia setuju saat kuserahkan kunci tersebut. Aku berjalan menyusul Wina. Jalurnya menuruni anak tangga, melewati kamar-kamar basement, meniti tangga spiral baru sampai di ruang utama. Namun langkahku tertahan , dan….
Tanda tanya langsung menghadangku saat memintasi lorong bawah tanah. Wina...mengapa Wina jongkok begitu?
Kepalanya menunduk menghadap tanah. Wina diam tak bergerak, aku menghampirinya tanpa menunggu lagi.
"Ada apa!?" badan ini turut merendah untuk mendapat wajahnya.
Ini sungguh Wina. Bibirnya pucat dan gemetar. Sesuatu pasti baru saja terjadi.
"Barusan...ada kaki..." ia kepayahan mengakhiri kalimatnya.
"Tenang, tarik nafas. Aku di sini."
Tatapannya panik, bisa terlihat dari raut mukanya yang tegang. Beberapa saat kemudian Wina baru berhasil memulihkan pikirannya.
"Sesuatu lewat...kakinya panjang, melangkahi rumah ini," kalimatnya utuh dengan nafas naik turun.
"Begu ganjang?"
“Begu ganjang?” ia balik bertanya.
“Konon itu hantu peliharaan.”
"Entahlah."
"Orang-orang di kampung bapakku menyebutnya begu ganjang."
Wina tak menanggapi lagi. Aku membantunya berdiri, meski barangkali perasaannya belum mapan.
"Katanya hantu itu cuma lewat," ujarku.
"Yang tadi itu? Di kampungku juga pernah ada kejadian begitu."
Kulihat telapak tangan Wina kotor gara-gara jongkok tiba-tiba. Di depan kami ada kamar mandi, tetapi gelap, rusak, dan digenangi air. Beruntung ada sebuah ember yang sepertinya bekas menadahi hujan. Wina kemudian membilas tangannya dengan itu.
"Siska mana?" tanya Wina.
"Beli pulsa, ayo duluan aja."
Kami semestinya cepat-cepat naik tangga. Yang terjadi sebaliknya, menunda sedikit lebih lama. Gendang telingaku menyaring bunyi gemericik berikut riak air dari kamar mandi yang tidak terpakai. Melirik Wina, dan pandangannya menyiratkan bahwa ia juga mendengar suara itu.
Barangkali karena sedang berdua, rasa takut kurang mendesak. Kuturunkan kakiku yang sudah menapaki tangga besi spiral. Penasaran, mungkin saja ada binatang di dalam ruang gelap itu.
Riak air berhenti. Sunyi menjalar cepat. Aku jadi ragu pada pendengaranku sendiri.
"Bisa jadi cuma angin," kataku lirih, tidak ingin mengganggu penghuni dua kamar di sebelah kanan kamar mandi rusak itu.
Namun sebelum Wina menanggapi, riak itu kembali melena. Saat itu juga kucabut ponsel dari kantong celana. Lampu sorot menyala, mencari-cari penyebab suara air tersebut.
"Airnya semata kaki," gumam Wina. "Kok enggak dibenerin sih."
Aku juga tak habis pikir kondisi kamar mandi begini kumuh masih dipertahankan. Yang paling mungkin, genangan air bersumber dari kebocoran pipa atau atap. Kebetulan tepat di atas ruangan ini terdapat dua kamar mandi.
Sorotan lampu ponsel membenarkan dugaan tersebut. Dua pipa air di dalam kamar mandi ini berlubang. Ukurannya cukup membuat genangan jika tidak pernah diurus.
"Ada-ada aja," kata Wina singkat setelah melihat pipa berlubang itu.
Senter ponsel mati. Kupikir tidak ada yang perlu dicari tahu lagi. Hanya saja suara air sekali lagi terdengar. Aku ragu menyalakan lampu, tetapi Wina menyambar benda itu.
Kamar mandi kembali temaram. Perhatian terpusat pada pipa air, sebab hanya itu satu-satunya penyebab suara yang barusan. Sayangnya tidak ada air mengucur dari pipa tersebut. Badanku spontan mundur untuk mendongak kamar mandi di atas.
Dua pintu kamar mandi itu terbuka. Tidak ada siapa-siapa di sana. Wina terus memindahkan sorotan secara acak. Kami tidak menyadari hal ini sebetulnya tidak perlu dilakukan. Lalu Suara itu berubah lebih jelas. Bukan gemericik air atau riak-riak kecil.
Genangan air di dalam sana berkecipak. Seperti dari seseorang melangkah. Beberapa saat suara itu bertahan. Dan sorotan cahaya akhirnya menangkap jelas kecipak air yang kami dengar. Hanya kecipak air tanpa tubuh.
"Buruan naik!" perintahku pada Wina.
"Kamu duluan!"
Wina dengan konyolnya terus menyorot genangan air itu. Aku juga dapat melihatnya, hingga jejak kecipak itu berhenti di bathtub yang juga digenangi air pekat.
Dan suara lirih perempuan terdengar dari dalam gelap, "Pergi, jangan melihat saya."
Kami seketika berbalik arah, menjerit tanpa berpikir akan mengusik penghuni kamar lain. Aku rasanya tidak peduli lagi pada Wina. Tampaknya dia juga.
Namun suara Siska menahan. Aku sudah lebih dulu sampai pertengahan tangga.
"Ada apa, sih?"
Aku dan Wina hanya berselisih mata. Siska tak menuntut lebih, berjalan mengikuti kami. Namun ia berhenti di depan ruang gelap tersebut.
Beberapa saat Siska tak bergerak. Wajahnya sudah berhadapan dengan kegelapan. Dan pada akhirnya dia berteriak sambil menyebut-nyebut nama Tuhan.
"Na, gue langsung pulang aja!" kata Siska sambil melempar kunci, lalu ambil langkah seribu.
Quote:
Jangan lupa komen atau masukannya ya gan/sis. Share plus
juga dianjurkan banget, supaya TS nulisnya makin baik
Diubah oleh pakdhegober 15-08-2019 17:55
bebyzha dan 9 lainnya memberi reputasi
10