- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#178
PART VII
Saya lihat lelaki itu duduk di atas anak tangga sambil menunduk memijit pangkal keningnya. Pak Mardan dan Kakek hanya memperhatikan saja tingkah laku lelaki itu dalam kedinginan malam yang mulai merangkak subuh.
Di langit, bintang timur mulai bangkit bersama kokok ayam yang bersahut-sahutan dari kampung sebelah. Kakek menggeliat, dia tahu sebentar lagi orang‐orang kampung akan datang untuk shalat berjamaah di masjid.
Kalau bisa, Kakek dan Pak Mardan tidak mau orang‐orang kampung tahu tentang perbuatan lelaki itu. Karena kalau orang‐orang kampung tahu bahwa angkara yang terjadi di malam pengantin bersumber dari lelaki itu, tentu saja lelaki itu akan menerima akibat yang buruk. Kakek dan Pak Mardan mau menghindari kejadian itu terjadi dalam area masjid.
“Bagaimana? Apakah lafal taubat yang kamu ucapkan tadi benar‐benar ikhlas atau karena tekanan oleh rasa terdesak?” tanya Pak Mardan.
Lelaki itu tidak menjawab.
“BertaubatIah dengan hati yang jujur. Janganlah kamu ulangi perbuatan yang terkutuk ini. Ilmu dunia tidak ada yang kekal, tidak ada yang gagah dan berkuasa selain daripada Allah,”ujar Kakek dengan nada suara yang lembut. Sinar mata Kakek redup memandang wajah lelaki itu penuh simpati.
“Kalau kamu sudah tersesat di ujung jalan, kembalilah ke pangkal jalan. Allah amat mencintai kepada makhlukNya yang insaf,” Pak Mardan juga memberi nasehat.
Lelaki itu tidak menjawab. Dia tetap menunduk sambil mengusap pangkal keningnya.
Dan Kakek sudah tidak bisa bersabar dengan tingkah laku lelaki itu, waktu subuh sudah dekat. Dalam beberapa menit orang‐orang kampung akan sampai.
Kakek tahu kalau dia tidak bertindak, berarti dia mendorong diri lelaki itu pada kebinasaan. Kakek sekali lagi menghampiri lelaki itu. Angin subuh yang bertiup membawa rasa dingin pada diri saya.
Kokok ayam bersahut‐sahutan. Bintang timur di kaki langit kian mengecil. Tiba‐tiba saya lihat Kakek menekan tulang bahu lelaki itu dengan tangan kanannya sekuatnya. Saya lihat lelaki itu rebah perlahan‐lahan, badannya kelihatan seperti lemas. Kakek pun berhenti menekan bahu lelaki itu.
“Pulanglah sebelum orang‐orang kampung datang. Kalau mereka datang kamu akan menerima akibat yang buruk,” ujar Kakek sambil menampar punggung lelaki itu dengan telapak tangan kirinya.
Lelaki itu bagaikan tersadar dari tidur. Toleh kanan dan mulai mau sujud di kaki Kakek. Kakek lalu menolak lelaki itu hingga tersungkur ke belakang.
“Jangan perlakukan aku seperti itu, di antara kita tidak ada yang besar dan harus disembah. Menyembah manusia dan patung itu perbuatan yang salah dari segi hukum Islam,” kata Kakek dalam suasana dingin subuh itu.
Lelaki itu bangun, matanya melihat wajah Kakek. Dahinya masih berkerut. Dia membuka mulut sambil berkata: “Jika aku bertaubat kalian tidak akan melakukan sesuatu pada aku?”
“Jangan bertaubat karena takut pada manusia, bertaubatlah karena insaf dan cintamu pada Allah,” balas Kakek.
Lelaki itu menarik nafas panjang. Matanya masih melihat wajah Kakek meminta belas kasihan.
Kakek bagaikan tahu apa yang bergejolak dalam dirinya. Kakek meminta dia bercerita bagaimana musababnya dia bisa menuntut ilmu yang bertentangan dengan sendi agama Islam yang suci.
Menurutnya, dia terdorong menuntut ilmu salah itu bersumber dari masyarakat di kampungnya yang tidak mau memaafkan atas perbuatan yang dilakukannya. Meskipun dia mengakui pada mereka, perbuatan itu terpaksa dilakukan karena terdesak.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Pak Mardan.
“Saya mencuri dua genggam beras untuk anak saya yang sakit ”
“Kapan kau lakukan pekerjaan itu?” Kakek pula bertanya.
“Waktu mula‐mula Jepang datang ke Malaysia. Mereka mengadukan perbuatan saya itu pada Jepang. Saya disiksa meskipun saya menyembah kaki orang yang punya beras itu untuk meminta maaf”
“Lalu?” tanya Kakek lagi.
“Saya merasa malu, anak isteri saya merasa malu. Akhirnya saya lari ke Selatan Siam dan menuntut ilmu ini dengan harapan saya akan dihormati dan dikagumi,” jelas lelaki itu dengan jujur.
Kakek dan Pak Mardan berpandangan.
“Tetapi, bila sudah memiliki ilmu kamu menjadi manusia yang takabur dan mau tunjukkan kekuasaan lalu memeras orang lain untuk hidup,” ujar Kakek lagi.
Lelaki itu terdiam dan termenung panjang. Kakek dan Pak Mardan tidak tahu apa yang bergejolak dalam benak kepalanya.
“Jangan takut dan merasa malu sesama manusia, tetapi takut dan malulah pada Allah yang memberikan kamu nyawa, tubuh, badan dan pancaindera yang tidak ternilai harganya buat kamu, bersyukurlah pada kuasaNya dengan mengikuti segala perintahNya dan menjauhi dari perbuatan yang dicegahNya,”Kakek lalu memberikan nasihat.
Lelaki itu kelihatan resah. Dia mondar‐mandir di halaman masjid. Duduk di anak tangga masjid kembali. Tiba‐tiba dia batuk bertubi-tubi. Dia mengurut‐urut dadanya dengan tangan. Nafasnya kelihatan sesak. Bibirnya kelihatan kehitam‐hitaman. Saya mulai mencium bau kapur barus, bau sintuk (pohon Cinnmomum ) dan limau yang selalu digunakan untuk memandikan mayat. Kakek menghampiri lelaki itu yang mau merebahkan badannya di atas tanah.
Kakek duduk bersimpuh, kepala lelaki itu diletakkannya atas paha kanan.
Pak Mardan dan saya berpandangan. Subuh sudah tiba, sebentar lagi masjid itu akan didatangi oleh orang‐orang kampung.
Kokok ayam juga sudah mula berkurang, tidak seramai tadi. Tetapi rasa dingin terus menggigit kulit badan bersama hembusan bayu subuh yang tenang.
Langit biru kelihatan bersih, bersama kepulan awan dengan berbagai bentuk. Sesekali saya mendengar bunyi ranting karet dan cempedak yang reput jatuh ke bumi. Saya menoleh ke arah tanah kuburan yang terletak di sebelah kanan masjid. Samar‐samar saya lihat batu nisan terpancang kaku.
“Badannya sudah lemah, gerak nadinya juga lemah,” beritahu Kakek pada Pak Mardan.
Mata lelaki itu tegak memandang langit, mata hitamnya sudah tidak bercahaya lagi. Kakek pegang cuping (bagian yg tidak bertulang pd daun telinga dan hidung) lelaki itu.
“Dia ini sudah parah seperti terkena bisa,” tambah Kakek sambil meraba seluruh kulit lelaki itu.
Tiba‐tiba Kakek meletakkan telapak tangan kirinya di atas ubun‐ubun kepala. Mulutnya bergerak‐gerak membaca beberapa ayat dari Surah Yasin.
“Ilmu yang dituntutnya memakan dirinya sendiri,” keluh Kakek dan dahi Kakek kelihatan berpeluh.
Pak Mardan menekan bibir bawahnya dengan gigi atas. Dalam keadaan yang agak gawat itu, saya lihat lelaki itu menarik nafas panjang lalu mengucap dua kalimah syahadah dengan lancar dan jelas.
Begitu dia selesai mengucap, nafasnya lalu terhenti dan Kakek merapatkan kelopak matanya dengan menggosokkan ibu jari kiri pada kulit matanya.


“Allah menyayangi dirinya dan dia mati sebagai seorang Islam. Pada zahirnya kita melihat dia tersesat dan jauh terpasung dari ajaran agama. Tetapi dengan kuasa Allah dia sempat mengucapkan dua kalimah syahadah,” keluh Pak Mardan.
Kakek pun mengangkat mayat lelaki itu ke dalam masjid.
“Sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa dan kita sebagai manusia tidak berhak menjatuhkan hukuman pada seseorang itu sebagai murtad atau kafir. Yang berhak menentukan semuanya ini adalah Allah. Dan Allah akan menghitung amalan dan kejahatan seseorang,”kata Kakek pula.
Orang‐orang kampung yang datang ke masjid subuh itu terkejut melihat mayat dalam masjid. Kakek lalu memberitahu orang kampung apa yang terjadi. Akibatnya, timbul perdebatan kecil karena ada orang‐orang kampung yang tidak mau menguburkan jenazah lelaki itu.
“Kamu harus ingat, tanggungjawab orang yang hidup ialah menguruskan jenazah ini dengan sempurna, kalau tidak ada seorangpun yang mau menyempurnakannya seluruh penduduk kampung ini menanggung dosa. Ini fardhu kifayah. Soal dia membuat dosa itu ialah urusan dia dengan Allah,” suara Kakek lantang.
Orang kampung yang baru selesai sembahyang subuh berpandangan sesamanya. Dan perdebatan yang terjadi lalu hilang. Semuanya setuju untuk mengurus jenazah lelaki itu.
Akhirnya Pak Mardan dapat juga mengetahui asal‐usul lelaki itu. Dia berasal dari satu kawasan di Perlis yang letaknya berdekatan dengan sempadan Siam. Dia datang ke situ kira‐kira sepuluh tahun yang lalu, membeli sebidang tanah yang letaknya agak terpencil dari kawasan rumah orang‐orang kampung di situ.
Setelah urusan mengebumikan jenazah selesai, Pak Mardan, saya dan Kakek bersiap‐siap untuk meninggalkan daerah kampung Sungai Tinggi.
Begitu kami melangkah keluar dari masjid, beberapa orang kampung datang menemui Kakek. Mereka minta Kakek dan Pak Mardan tinggal beberapa hari lagi di situ.
“Kenapa?” cukup lembut Pak Mardan bertanya pada mereka.
“Kami resah kalau ada sesuatu perkara yang buruk bakal terjadi,” balas orang kampung.
Kakek menggosok pangkal kening kiri dua kali. Kakek merenung ke langit melihat awan putih yang berarak tenang. Kakek merenung muka orang kampung.
“Kenapa kita mesti takut pada kejadian yang belum terjadi? Kenapa kita tidak takut pada pada Allah? Kenapa kita tidak memohon perlindungan dariNya, Allah yang berkuasa. Penuhilah masjid dan surau bila sampai waktu sembahyang, bacalah Surah Yasin dengan betul pada setiap malam daripada menghabiskan waktu dengan berbual-bual tidak tentu arah,” terang Kakek sambil memasukkan kartu pengenalnya ke dalam saku baju.
“Kalau ada kalian jadi baik,” balas orang kampung.
“Saya pun memohon dan minta pada Allah. Ingatlah Allah sayangilah orang yang mencintai diriNya.Biarlah kami pulang, saya akan menolong kalian jika saya pikir perlu pertolongan,” Kakek pun menarik tangan saya, meninggalkan kawasan masjid dengan diikuti oleh Pak Mardan.
Orang‐orang kampung hanya memandang langkah kami yang telah menuju ke tepi jalan raya.
Karena hari masih baru jam dua siang, Pak Mardan mengajak Kakek pergi ke Taiping untuk membeli beberapa helai kain pelekat cap siput. Kakek pun memenuhi permintaan Pak Mardan, kebetulan pula Kakek mau membeIi beberapa butir kemenyan putih serta pulut (beras ketan) hitam. Sementara menanti Bus dari Pantai Remis ke Taiping, Kakek dan Pak Mardan lalu berbincang.
“Aneh juga manusia yang meninggal itu,” Pak Mardan memulai bicara.
Kakek menyeringai sambil menekan daun rumput dengan ujung sendal capal (terompah yg bertapak kulit) buatan orang Minang. Saya sudah di atas batu tanda jalan.
“Tidak usah dikenang dan disebut orang yang sudah mati,” jawab Kakek.
”Kenapa kamu tidak berusaha mengobatinya?” Pak Mardan bertanya.
“Bila ajal seseorang itu sudah sampai, tidak ada yang bisa menahannya”
“Kita bisa berikhtiar”
“Menurut penuturan guruku, seorang dukun atau pawang hanya bisa mengobati dan menyembuhkan penyakit sebatas 99 jenis penyakit saja dengan izin Allah,” jawab Kakek.
Pak Mardan menggosok‐gosokkan batang hidungnya dengan ibu jari kanan. Karena terlalu lama digosok batang hidungnya yang dempak (pesek) itu menjadi merah dan berkilat bila dipanah sinar matahari.
“Penyakit ini ada berapa jenis?” tanya Pak Mardan sambil berhenti menggosok batang hidung. Matanya tajam melihat wajah Kakek.
"Kata guruku yang diketahui ada 100 jenis, manusia cuma bisa berikhtiar dan berusaha mengobatinya sebatas 99 saja yang satu lagi tetap menjadi hak Allah. Di sinilah letaknya timbang rasa dan kasihnya Allah pada manusia, dia cuma mengambil satu saja. Manusia sudah merasa berat sedangkan yang 99 itu dia suruh manusia berikhtar mencari obatnya sesuai dengan peredaran masa dan zaman,” Kakek bagaikan berkuliah di hadapan Pak Mardan.
Bus yang dinanti pun tiba. Kami pun naik, lebih kurang 45 menit berada dalam Bus, kami pun sampai di halte Bus kota Taiping. Dari situ kami bergerak menuju ke pertokoan batu sederet yang terletak di jalan besar.
Masuk ke toko penjual kain pelekat milik India Muslim. Setelah terjadi tawar menawar antara Pak Mardan dengan penjual kain pelekat, Pak Mardan setuju membeli sehelai kain pelekat cap siput yang bercorak besar.
“Untuk dipakai masjid,” kata Pak Mardan pada saya.
“Cukup cantik warnanya,” jawab saya.
“Warna tidak penting yang penting berapa lama kain ini bisa digunakan,” sahut Kakek lalu saya dan Pak Mardan tertawa.
Pemilik toko tersenyum dan memasukkan uang yang diambil dari Pak Mardan ke dalam laci yang bermeja panjang.
Dari toko itu, kami menuju ke pasar besar Taiping untuk membeli kemenyan putih dan pulut hitam dari kedai Melayu. Memang jadi kebiasaan pada diri Kakek lebih suka membeli barang di toko Melayu. Kalau tidak ada, baru dia pergi ke toko India Muslim.
Saya kira Kakek menyimpan sedikit rasa nasionalisme. Tetapi, bila hal itu ditanyakan padanya Kakek menafikan dengan alasan dia berbuat begitu bukan karena sikap nasionalisme. Dia mau menolong bangsanya yang agak mundur dalam bidang pemiagaan.
“Kalau aku tidak menolong bangsaku, siapa lagi?” katanya.
Memang ada logisnya perkataan Kakek itu. Ketika Kakek sedang memilih kemenyan putih yang baik, dia bertemu dengan seorang kenalannya dari Gunung Semanggul, seorang ulama terkenaI di Perak dan penggagas sekolah Al‐Ehya Al‐Shariff, yaitu Ustaz Abu Bakar Al Baqir (sudah meninggal dunia).
Kakek mengenalkan kawannya itu dengan Pak Mardan. Setelah bertanya kabar tentang anak isteri, Kakek lalu bercerita pada kawannya itu yang memakan waktu lebih kurang sepuluh menit. Mereka bersalaman dan berpisah. Dari pasar kami bergerak menuju ke sebuah toko buku. Di toko buku itu Kakek membeli beberapa buah kitab yang bertulis jawi.
“Saya balik dulu,” tiba‐tiba Pak Mardan memberitahu Kakek dalam perjalanan menuju ke masjid bandar Taiping untuk menunaikan sembahyang Asar.
Kakek tidak menjawab kecuali tersenyum sambiI meneruskan perjalanan ke masjid. Bila selesai sembahyang dan berdoa, Kakek segera menghampiri Pak Mardan dan berkata:
“Adat orang berkawan, kalau datang berdua pulang pun berdua, mesti sabar dan setia serta bertimbang rasa”
“Saya ada urusan,” jawab Pak Mardan.
“Susah juga, tiba‐tiba saja ada urusan. Kita pulang dengan Bus jam tujuh sesudah sembahyang Maghrib di sini”
“Saya tidak mau. Saya akan pulang sekarang,”
Saya lihat muka Pak Mardan berubah. Matanya kelihatan bercahaya. Kakek termenung panjang.
”Terserah kamu. Cuma yang membuat kesal, permintaan kamu saya penuhi. Tetapi permintaan saya kamu abaikan. Langkah dan rentak kamu tidak sama dengan saya,” Kakek menuangkan perasaannya.
Pak Mardan diam. Tangan kanannya menekan tiang pintu. Dia melihat kearah Kakek seperti orang mau berkelahi.
“Saya tidak merasa rugi kalau tidak berkawan dengan kamu,”
Memang diluar dugaan saya, Pak Mardan bisa berkata begitu pada Kakek.
Darah saya naik dengan tiba‐tiba. Malu rasanya diri ini, bila Kakek diperlakukan demikian.
Saya bangun.


Tiba‐tiba Kakek memegang kaki kanan saya.
“Jangan ikuti darah muda. Ilmu kamu tidak mencukupi jangan mencoba dan berlagak. Inilah salah satu sebabnya aku tidak mau menurunkan ilmuku padamu. Kamu terlalu emosional,” kata Kakek.
Saya duduk kembali.
“Tak apalah Mardan. Pulanglah semoga Allah memberkati perjalananmu, terhindar kamu dari kecelakaan dalam perjalananmu Mardan. Maafkan aku,” cukup lembut suara Kakek dalam teras masjid Taiping yang dingin dan nyaman itu.
Pak Mardan tidak membalas perkataan Kakek itu, sebaliknya dia menghempaskan daun pintu masjid dengan sekuatnya. Dia melangkah meninggalkan masjid. Kakek termenung panjang, dia memeras otaknya memikirkan sikap Pak Mardan yang tiba‐tiba menjadi marah tanpa sebab.
Akhirnya, Kakek membuat kesimpulan apa yang dialaminya tadi sebagai satu pengalaman baru yang aneh dalam hidupnya.
“Ini satu ujian atau mungkin dia mau menguji aku. Karena dia tahu aku dengannya tidak satu guru, bukan sikapku membeli tidak bertempat,”keluh Kakek dalam masjid sambil memandang kipas angin yang berputar.
Saya hanya menggosok pangkal kening sambil melihat keluar melewati jendela masjid yang terbuka. Kendaraan dan manusia yang berjalan di jalan jelas kelihatan dalam sinar‐sinar matahari petang yang kian redup.
"Sabar itu kunci kebaikan dan marah itu sumber kecelakaan.Itu pesan guruku dulu dan pesan itu aku sampaikan padamu, Tamar, untuk jadi pelita hidupmu. Dunia ini penuh dengan misteri,” kata Kakek melihat muka saya.
Kakek juga memberitahuku sebab dia mengambil keputusan untuk pulang setelah matahari terbenam karena menurut gerak rasa panca inderanya, perjalanan yang dilakukan sebelum matahari terbenam akan berhalangan besar. Sementara menanti matahari terbenam Kakek menghabiskan masanya dengan membaca Al‐Quran....
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA (bagi kaum muslimin yang sedang berpuasa]
Quote:
Saya lihat lelaki itu duduk di atas anak tangga sambil menunduk memijit pangkal keningnya. Pak Mardan dan Kakek hanya memperhatikan saja tingkah laku lelaki itu dalam kedinginan malam yang mulai merangkak subuh.
Di langit, bintang timur mulai bangkit bersama kokok ayam yang bersahut-sahutan dari kampung sebelah. Kakek menggeliat, dia tahu sebentar lagi orang‐orang kampung akan datang untuk shalat berjamaah di masjid.
Kalau bisa, Kakek dan Pak Mardan tidak mau orang‐orang kampung tahu tentang perbuatan lelaki itu. Karena kalau orang‐orang kampung tahu bahwa angkara yang terjadi di malam pengantin bersumber dari lelaki itu, tentu saja lelaki itu akan menerima akibat yang buruk. Kakek dan Pak Mardan mau menghindari kejadian itu terjadi dalam area masjid.
“Bagaimana? Apakah lafal taubat yang kamu ucapkan tadi benar‐benar ikhlas atau karena tekanan oleh rasa terdesak?” tanya Pak Mardan.
Lelaki itu tidak menjawab.
“BertaubatIah dengan hati yang jujur. Janganlah kamu ulangi perbuatan yang terkutuk ini. Ilmu dunia tidak ada yang kekal, tidak ada yang gagah dan berkuasa selain daripada Allah,”ujar Kakek dengan nada suara yang lembut. Sinar mata Kakek redup memandang wajah lelaki itu penuh simpati.
“Kalau kamu sudah tersesat di ujung jalan, kembalilah ke pangkal jalan. Allah amat mencintai kepada makhlukNya yang insaf,” Pak Mardan juga memberi nasehat.
Lelaki itu tidak menjawab. Dia tetap menunduk sambil mengusap pangkal keningnya.
Dan Kakek sudah tidak bisa bersabar dengan tingkah laku lelaki itu, waktu subuh sudah dekat. Dalam beberapa menit orang‐orang kampung akan sampai.
Kakek tahu kalau dia tidak bertindak, berarti dia mendorong diri lelaki itu pada kebinasaan. Kakek sekali lagi menghampiri lelaki itu. Angin subuh yang bertiup membawa rasa dingin pada diri saya.
Kokok ayam bersahut‐sahutan. Bintang timur di kaki langit kian mengecil. Tiba‐tiba saya lihat Kakek menekan tulang bahu lelaki itu dengan tangan kanannya sekuatnya. Saya lihat lelaki itu rebah perlahan‐lahan, badannya kelihatan seperti lemas. Kakek pun berhenti menekan bahu lelaki itu.
“Pulanglah sebelum orang‐orang kampung datang. Kalau mereka datang kamu akan menerima akibat yang buruk,” ujar Kakek sambil menampar punggung lelaki itu dengan telapak tangan kirinya.
Lelaki itu bagaikan tersadar dari tidur. Toleh kanan dan mulai mau sujud di kaki Kakek. Kakek lalu menolak lelaki itu hingga tersungkur ke belakang.
“Jangan perlakukan aku seperti itu, di antara kita tidak ada yang besar dan harus disembah. Menyembah manusia dan patung itu perbuatan yang salah dari segi hukum Islam,” kata Kakek dalam suasana dingin subuh itu.
Quote:
Lelaki itu bangun, matanya melihat wajah Kakek. Dahinya masih berkerut. Dia membuka mulut sambil berkata: “Jika aku bertaubat kalian tidak akan melakukan sesuatu pada aku?”
“Jangan bertaubat karena takut pada manusia, bertaubatlah karena insaf dan cintamu pada Allah,” balas Kakek.
Lelaki itu menarik nafas panjang. Matanya masih melihat wajah Kakek meminta belas kasihan.
Kakek bagaikan tahu apa yang bergejolak dalam dirinya. Kakek meminta dia bercerita bagaimana musababnya dia bisa menuntut ilmu yang bertentangan dengan sendi agama Islam yang suci.
Menurutnya, dia terdorong menuntut ilmu salah itu bersumber dari masyarakat di kampungnya yang tidak mau memaafkan atas perbuatan yang dilakukannya. Meskipun dia mengakui pada mereka, perbuatan itu terpaksa dilakukan karena terdesak.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Pak Mardan.
“Saya mencuri dua genggam beras untuk anak saya yang sakit ”
“Kapan kau lakukan pekerjaan itu?” Kakek pula bertanya.
“Waktu mula‐mula Jepang datang ke Malaysia. Mereka mengadukan perbuatan saya itu pada Jepang. Saya disiksa meskipun saya menyembah kaki orang yang punya beras itu untuk meminta maaf”
“Lalu?” tanya Kakek lagi.
“Saya merasa malu, anak isteri saya merasa malu. Akhirnya saya lari ke Selatan Siam dan menuntut ilmu ini dengan harapan saya akan dihormati dan dikagumi,” jelas lelaki itu dengan jujur.
Kakek dan Pak Mardan berpandangan.
“Tetapi, bila sudah memiliki ilmu kamu menjadi manusia yang takabur dan mau tunjukkan kekuasaan lalu memeras orang lain untuk hidup,” ujar Kakek lagi.
Lelaki itu terdiam dan termenung panjang. Kakek dan Pak Mardan tidak tahu apa yang bergejolak dalam benak kepalanya.
“Jangan takut dan merasa malu sesama manusia, tetapi takut dan malulah pada Allah yang memberikan kamu nyawa, tubuh, badan dan pancaindera yang tidak ternilai harganya buat kamu, bersyukurlah pada kuasaNya dengan mengikuti segala perintahNya dan menjauhi dari perbuatan yang dicegahNya,”Kakek lalu memberikan nasihat.
Lelaki itu kelihatan resah. Dia mondar‐mandir di halaman masjid. Duduk di anak tangga masjid kembali. Tiba‐tiba dia batuk bertubi-tubi. Dia mengurut‐urut dadanya dengan tangan. Nafasnya kelihatan sesak. Bibirnya kelihatan kehitam‐hitaman. Saya mulai mencium bau kapur barus, bau sintuk (pohon Cinnmomum ) dan limau yang selalu digunakan untuk memandikan mayat. Kakek menghampiri lelaki itu yang mau merebahkan badannya di atas tanah.
Quote:
Kakek duduk bersimpuh, kepala lelaki itu diletakkannya atas paha kanan.
Pak Mardan dan saya berpandangan. Subuh sudah tiba, sebentar lagi masjid itu akan didatangi oleh orang‐orang kampung.
Kokok ayam juga sudah mula berkurang, tidak seramai tadi. Tetapi rasa dingin terus menggigit kulit badan bersama hembusan bayu subuh yang tenang.
Langit biru kelihatan bersih, bersama kepulan awan dengan berbagai bentuk. Sesekali saya mendengar bunyi ranting karet dan cempedak yang reput jatuh ke bumi. Saya menoleh ke arah tanah kuburan yang terletak di sebelah kanan masjid. Samar‐samar saya lihat batu nisan terpancang kaku.
“Badannya sudah lemah, gerak nadinya juga lemah,” beritahu Kakek pada Pak Mardan.
Mata lelaki itu tegak memandang langit, mata hitamnya sudah tidak bercahaya lagi. Kakek pegang cuping (bagian yg tidak bertulang pd daun telinga dan hidung) lelaki itu.
“Dia ini sudah parah seperti terkena bisa,” tambah Kakek sambil meraba seluruh kulit lelaki itu.
Tiba‐tiba Kakek meletakkan telapak tangan kirinya di atas ubun‐ubun kepala. Mulutnya bergerak‐gerak membaca beberapa ayat dari Surah Yasin.
“Ilmu yang dituntutnya memakan dirinya sendiri,” keluh Kakek dan dahi Kakek kelihatan berpeluh.
Pak Mardan menekan bibir bawahnya dengan gigi atas. Dalam keadaan yang agak gawat itu, saya lihat lelaki itu menarik nafas panjang lalu mengucap dua kalimah syahadah dengan lancar dan jelas.
Begitu dia selesai mengucap, nafasnya lalu terhenti dan Kakek merapatkan kelopak matanya dengan menggosokkan ibu jari kiri pada kulit matanya.


“Allah menyayangi dirinya dan dia mati sebagai seorang Islam. Pada zahirnya kita melihat dia tersesat dan jauh terpasung dari ajaran agama. Tetapi dengan kuasa Allah dia sempat mengucapkan dua kalimah syahadah,” keluh Pak Mardan.
Kakek pun mengangkat mayat lelaki itu ke dalam masjid.
“Sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa dan kita sebagai manusia tidak berhak menjatuhkan hukuman pada seseorang itu sebagai murtad atau kafir. Yang berhak menentukan semuanya ini adalah Allah. Dan Allah akan menghitung amalan dan kejahatan seseorang,”kata Kakek pula.
Orang‐orang kampung yang datang ke masjid subuh itu terkejut melihat mayat dalam masjid. Kakek lalu memberitahu orang kampung apa yang terjadi. Akibatnya, timbul perdebatan kecil karena ada orang‐orang kampung yang tidak mau menguburkan jenazah lelaki itu.
“Kamu harus ingat, tanggungjawab orang yang hidup ialah menguruskan jenazah ini dengan sempurna, kalau tidak ada seorangpun yang mau menyempurnakannya seluruh penduduk kampung ini menanggung dosa. Ini fardhu kifayah. Soal dia membuat dosa itu ialah urusan dia dengan Allah,” suara Kakek lantang.
Quote:
Orang kampung yang baru selesai sembahyang subuh berpandangan sesamanya. Dan perdebatan yang terjadi lalu hilang. Semuanya setuju untuk mengurus jenazah lelaki itu.
Akhirnya Pak Mardan dapat juga mengetahui asal‐usul lelaki itu. Dia berasal dari satu kawasan di Perlis yang letaknya berdekatan dengan sempadan Siam. Dia datang ke situ kira‐kira sepuluh tahun yang lalu, membeli sebidang tanah yang letaknya agak terpencil dari kawasan rumah orang‐orang kampung di situ.
Setelah urusan mengebumikan jenazah selesai, Pak Mardan, saya dan Kakek bersiap‐siap untuk meninggalkan daerah kampung Sungai Tinggi.
Begitu kami melangkah keluar dari masjid, beberapa orang kampung datang menemui Kakek. Mereka minta Kakek dan Pak Mardan tinggal beberapa hari lagi di situ.
“Kenapa?” cukup lembut Pak Mardan bertanya pada mereka.
“Kami resah kalau ada sesuatu perkara yang buruk bakal terjadi,” balas orang kampung.
Kakek menggosok pangkal kening kiri dua kali. Kakek merenung ke langit melihat awan putih yang berarak tenang. Kakek merenung muka orang kampung.
“Kenapa kita mesti takut pada kejadian yang belum terjadi? Kenapa kita tidak takut pada pada Allah? Kenapa kita tidak memohon perlindungan dariNya, Allah yang berkuasa. Penuhilah masjid dan surau bila sampai waktu sembahyang, bacalah Surah Yasin dengan betul pada setiap malam daripada menghabiskan waktu dengan berbual-bual tidak tentu arah,” terang Kakek sambil memasukkan kartu pengenalnya ke dalam saku baju.
“Kalau ada kalian jadi baik,” balas orang kampung.
“Saya pun memohon dan minta pada Allah. Ingatlah Allah sayangilah orang yang mencintai diriNya.Biarlah kami pulang, saya akan menolong kalian jika saya pikir perlu pertolongan,” Kakek pun menarik tangan saya, meninggalkan kawasan masjid dengan diikuti oleh Pak Mardan.
Orang‐orang kampung hanya memandang langkah kami yang telah menuju ke tepi jalan raya.
Karena hari masih baru jam dua siang, Pak Mardan mengajak Kakek pergi ke Taiping untuk membeli beberapa helai kain pelekat cap siput. Kakek pun memenuhi permintaan Pak Mardan, kebetulan pula Kakek mau membeIi beberapa butir kemenyan putih serta pulut (beras ketan) hitam. Sementara menanti Bus dari Pantai Remis ke Taiping, Kakek dan Pak Mardan lalu berbincang.
Quote:
“Aneh juga manusia yang meninggal itu,” Pak Mardan memulai bicara.
Kakek menyeringai sambil menekan daun rumput dengan ujung sendal capal (terompah yg bertapak kulit) buatan orang Minang. Saya sudah di atas batu tanda jalan.
“Tidak usah dikenang dan disebut orang yang sudah mati,” jawab Kakek.
”Kenapa kamu tidak berusaha mengobatinya?” Pak Mardan bertanya.
“Bila ajal seseorang itu sudah sampai, tidak ada yang bisa menahannya”
“Kita bisa berikhtiar”
“Menurut penuturan guruku, seorang dukun atau pawang hanya bisa mengobati dan menyembuhkan penyakit sebatas 99 jenis penyakit saja dengan izin Allah,” jawab Kakek.
Pak Mardan menggosok‐gosokkan batang hidungnya dengan ibu jari kanan. Karena terlalu lama digosok batang hidungnya yang dempak (pesek) itu menjadi merah dan berkilat bila dipanah sinar matahari.
“Penyakit ini ada berapa jenis?” tanya Pak Mardan sambil berhenti menggosok batang hidung. Matanya tajam melihat wajah Kakek.
"Kata guruku yang diketahui ada 100 jenis, manusia cuma bisa berikhtiar dan berusaha mengobatinya sebatas 99 saja yang satu lagi tetap menjadi hak Allah. Di sinilah letaknya timbang rasa dan kasihnya Allah pada manusia, dia cuma mengambil satu saja. Manusia sudah merasa berat sedangkan yang 99 itu dia suruh manusia berikhtar mencari obatnya sesuai dengan peredaran masa dan zaman,” Kakek bagaikan berkuliah di hadapan Pak Mardan.
Bus yang dinanti pun tiba. Kami pun naik, lebih kurang 45 menit berada dalam Bus, kami pun sampai di halte Bus kota Taiping. Dari situ kami bergerak menuju ke pertokoan batu sederet yang terletak di jalan besar.
Masuk ke toko penjual kain pelekat milik India Muslim. Setelah terjadi tawar menawar antara Pak Mardan dengan penjual kain pelekat, Pak Mardan setuju membeli sehelai kain pelekat cap siput yang bercorak besar.
“Untuk dipakai masjid,” kata Pak Mardan pada saya.
“Cukup cantik warnanya,” jawab saya.
“Warna tidak penting yang penting berapa lama kain ini bisa digunakan,” sahut Kakek lalu saya dan Pak Mardan tertawa.
Pemilik toko tersenyum dan memasukkan uang yang diambil dari Pak Mardan ke dalam laci yang bermeja panjang.
Dari toko itu, kami menuju ke pasar besar Taiping untuk membeli kemenyan putih dan pulut hitam dari kedai Melayu. Memang jadi kebiasaan pada diri Kakek lebih suka membeli barang di toko Melayu. Kalau tidak ada, baru dia pergi ke toko India Muslim.
Quote:
Saya kira Kakek menyimpan sedikit rasa nasionalisme. Tetapi, bila hal itu ditanyakan padanya Kakek menafikan dengan alasan dia berbuat begitu bukan karena sikap nasionalisme. Dia mau menolong bangsanya yang agak mundur dalam bidang pemiagaan.
“Kalau aku tidak menolong bangsaku, siapa lagi?” katanya.
Memang ada logisnya perkataan Kakek itu. Ketika Kakek sedang memilih kemenyan putih yang baik, dia bertemu dengan seorang kenalannya dari Gunung Semanggul, seorang ulama terkenaI di Perak dan penggagas sekolah Al‐Ehya Al‐Shariff, yaitu Ustaz Abu Bakar Al Baqir (sudah meninggal dunia).
Kakek mengenalkan kawannya itu dengan Pak Mardan. Setelah bertanya kabar tentang anak isteri, Kakek lalu bercerita pada kawannya itu yang memakan waktu lebih kurang sepuluh menit. Mereka bersalaman dan berpisah. Dari pasar kami bergerak menuju ke sebuah toko buku. Di toko buku itu Kakek membeli beberapa buah kitab yang bertulis jawi.
“Saya balik dulu,” tiba‐tiba Pak Mardan memberitahu Kakek dalam perjalanan menuju ke masjid bandar Taiping untuk menunaikan sembahyang Asar.
Kakek tidak menjawab kecuali tersenyum sambiI meneruskan perjalanan ke masjid. Bila selesai sembahyang dan berdoa, Kakek segera menghampiri Pak Mardan dan berkata:
“Adat orang berkawan, kalau datang berdua pulang pun berdua, mesti sabar dan setia serta bertimbang rasa”
“Saya ada urusan,” jawab Pak Mardan.
“Susah juga, tiba‐tiba saja ada urusan. Kita pulang dengan Bus jam tujuh sesudah sembahyang Maghrib di sini”
“Saya tidak mau. Saya akan pulang sekarang,”
Saya lihat muka Pak Mardan berubah. Matanya kelihatan bercahaya. Kakek termenung panjang.
”Terserah kamu. Cuma yang membuat kesal, permintaan kamu saya penuhi. Tetapi permintaan saya kamu abaikan. Langkah dan rentak kamu tidak sama dengan saya,” Kakek menuangkan perasaannya.
Pak Mardan diam. Tangan kanannya menekan tiang pintu. Dia melihat kearah Kakek seperti orang mau berkelahi.
“Saya tidak merasa rugi kalau tidak berkawan dengan kamu,”
Memang diluar dugaan saya, Pak Mardan bisa berkata begitu pada Kakek.
Darah saya naik dengan tiba‐tiba. Malu rasanya diri ini, bila Kakek diperlakukan demikian.
Saya bangun.


Tiba‐tiba Kakek memegang kaki kanan saya.
“Jangan ikuti darah muda. Ilmu kamu tidak mencukupi jangan mencoba dan berlagak. Inilah salah satu sebabnya aku tidak mau menurunkan ilmuku padamu. Kamu terlalu emosional,” kata Kakek.
Saya duduk kembali.
“Tak apalah Mardan. Pulanglah semoga Allah memberkati perjalananmu, terhindar kamu dari kecelakaan dalam perjalananmu Mardan. Maafkan aku,” cukup lembut suara Kakek dalam teras masjid Taiping yang dingin dan nyaman itu.
Quote:
Pak Mardan tidak membalas perkataan Kakek itu, sebaliknya dia menghempaskan daun pintu masjid dengan sekuatnya. Dia melangkah meninggalkan masjid. Kakek termenung panjang, dia memeras otaknya memikirkan sikap Pak Mardan yang tiba‐tiba menjadi marah tanpa sebab.
Akhirnya, Kakek membuat kesimpulan apa yang dialaminya tadi sebagai satu pengalaman baru yang aneh dalam hidupnya.
“Ini satu ujian atau mungkin dia mau menguji aku. Karena dia tahu aku dengannya tidak satu guru, bukan sikapku membeli tidak bertempat,”keluh Kakek dalam masjid sambil memandang kipas angin yang berputar.
Saya hanya menggosok pangkal kening sambil melihat keluar melewati jendela masjid yang terbuka. Kendaraan dan manusia yang berjalan di jalan jelas kelihatan dalam sinar‐sinar matahari petang yang kian redup.
"Sabar itu kunci kebaikan dan marah itu sumber kecelakaan.Itu pesan guruku dulu dan pesan itu aku sampaikan padamu, Tamar, untuk jadi pelita hidupmu. Dunia ini penuh dengan misteri,” kata Kakek melihat muka saya.
Kakek juga memberitahuku sebab dia mengambil keputusan untuk pulang setelah matahari terbenam karena menurut gerak rasa panca inderanya, perjalanan yang dilakukan sebelum matahari terbenam akan berhalangan besar. Sementara menanti matahari terbenam Kakek menghabiskan masanya dengan membaca Al‐Quran....
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA (bagi kaum muslimin yang sedang berpuasa]
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 18:22
ciptoroso dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas
Tutup