- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.3KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#5389
PART 82
Gua sedang memperhatikan seorang wanita yang berdiri di dekat tv, di sana dia sedang menuangkan air panas kedalam cangkir yang sudah berisi serbuk kopi serta campuran gula. Kemudian dia membalikan tubuhnya lalu tersenyum kepada Gua yang masih duduk di atas kasur.
"Mau minum dimana Za ?".
"Balkon aja...".
Secangkir kopi hitam itu ia bawa keluar kamar, ke arah balkon, lalu tidak lama Luna kembali masuk ke dalam kamar.
"Sini deh..", ucap Gua sambil menepuk kasur.
"Hm ? Kenapa ?", Luna berdiri tepat di samping Gua.
Gua menarik tangannya lembut hingga dia terjatuh kedalam pelukkan Gua. Tubuhnya berbalik, punggungnya bersandar pada dada Gua, dan kepalanya tepat berada di samping wajah Gua. Aroma shampoo dari rambutnya itu langsung menelusup ke hidung Gua, wangi yang memabukkan, i like it. Gua belai rambutnya ke sisi wajahnya lalu mengecup ubun-ubunya, setelah itu, Gua mengaitkan tangan kanan ke depan lehernya dan menempelkan wajah ini ke wajahnya.
Gua menikmati momen ini, entah kenapa rasanya Luna bisa membuat Gua tenang ketika berada di sisinya seperti ini. Mata Gua terpejam ketika tangan kanannya membelai pipi kanan ini. Gua membuka mata ketika wajahnyanya menengok. Dia tersenyum lalu mengecup bibir Gua sesaat.
"Za.. I love you..", ucapnya setelah mengecup bibir Gua.
Gua tersenyum lebar lalu memiringkan wajah ke kiri dan mendekati bibirnya. Satu, dua, tiga menit cukup rasanya warming up dan kami berdua pun menyudahi aktifitas ini karena terindikasi offside...
Kini kami berdua pergi ke restoran untuk menyantap breakfast, alhasil kopi yang sebelumnya Luna buatkan hanya Gua minum setengah gelas. Selesai menyantap breakfast, Gua dan Luna menuju lobby dan menyerahkan key-card ke bagian resepsionis untuk segera check out. Beres melakukan proses check out dan membayar tagihan sisa kamar selama menginap di hotel ini, Gua mengikuti Luna menuju parkiran mobil dan kami berdua pun bergegas pergi ke rumah Papahnya di bagian lain kota Düsseldorf ini.
Sekitar lima belas menit kami berkendara, Luna mengarahkan mobil ke jalur kiri dan berbelok kearah Aldtstadt. Luna mengatakan ingin mengajak Gua untuk melihat keindahan tempat-tempat wisata yang dimiliki oleh Düsseldorf, dan salah satunya adalah kota tua ini. Kami berdua tiba di sini pukul satu siang. Aldtstadt, kota tua khas Eropa dengan alun-alun kota dimana jalanannya terbuat dari bebatuan jaman dahulu. Kami berdua turun dari mobil setelah Luna memarkirkan kendaraan, lalu Luna mulai menggandeng tangan kanan Gua sehingga kami berjalan berdampingan.
Gua terpana dengan alun-alun kota ini, banyak obyek patung-patung yang berada di sini, apalagi ketika kami sampai di tengah alun-alun, dimana terletak sebuah patung yang menunjukkan seseorang sedang menunggangi kuda. Luna menerangkan kepada Gua bahwa patung tersebut adalah patung seroang bangsawan penguasa sebagian daerah kerajaan romawi, bangsawan itu bernama Jan Wellem atau John William. Selain patung tersebut masih ada beberapa patung di sekitar sini dan tentunya ada keterangan yang tertulis di depan setiap patung itu dengan bahasa Jerman. Kemudian kami berdua kembali mengitari alun-alun, sampai akhirnya Gua melihat salah satu patung lainnya yang berada di sini. Seperti monumen yang terbuat dari perunggu, obyek tersebut cukup menyita perhatiaan Gua, lalu sejenak Gua mengamati patung tersebut, dalam bentuknya, tergambar jelas tentang kesedihan dalam peperangan, patung ini di buat sangat detil sehingga terlihat emosi takut dan kemarahan yang terpancar, judul patungnya 'Battle of Worringen', dibuat tahun 1988 untuk memperingati tujuh ratus tahun kota Düsseldorf, dan nama senimannya adalah Bert Gerresheim.
Altstad Düsseldorf ini kata Luna terkenal dengan sebutan the longest bar in the world. Karena di sekitar alun-alun cukup banyak bar yang berderetan, surga bagi para pemabuk lah. Dan mungkin bulan ini masih musim semi di tambah waktu pun masih terlalu 'pagi' bagi para wisatawan untuk menikmati minuman penghangat tubuh, jadi suasananya cukup sepi. Biasanya di daerah ini banyak sekali turis asing dan orang lokal setempat yang beramai-ramai meminum bir pada saat October Fest, tapi jelas berbeda dengan sekarang, Altstad siang ini nampak sepi. Tidak nampak gerombolan turis yang berfoto-foto.
Tidak lama kemudian, Luna mengajak Gua untuk kembali menyambangi tempat lain di sekitar sini. Sekarang kami berdua berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk menuju Konigsallee. Ketika kami berjalan dan sudah mulai memasuki daerah Konigsallee. Ada perasaan yang sedikit mengingatkan Gua akan satu hal soal wanita, tentunya bukan soal pemandangan kanal atau taman yang tertata rapih serta patung-patung yang indah, melainkan banyaknya deretan toko butik terkenal dunia. Yap, jiwa shopping Luna sepertinya sudah tak terbendung lagi, sepinya jalanan dan pengunjung pada deretan butik di samping kami tidak menyurutkan niatnya untuk menarik lengan Gua agar mengikutinya masuk ke dalam salah satu butik.
Luna yang Gua fikir awalnya akan 'menggila' karena banyaknya deretan barang-barang branded di depan kami itu ternyata tidak terlalu over-reactive seperti wanita-wanita pada umumnya. Dia ternyata hanya membeli dua buah barang, satu tas dan sepasang sepatu. Tapi... Gua menelan ludah ketika melirik ke arah bill yang disodorkan oleh pramuniaga toko kepada Luna setelah Luna membayar belanjaannya menggunakan credit card. Tercetak di sana sekian ribu euro, yang Gua hitung-hitung mungkin terbeli satu motor tipe bebek jika di rupiahkan. Muke gile cuma tas sama sepasang sepatu buat nginjek kotoran doang harganya ngajakin ribut
Hanya setengah jam kurang kami berada di dalam toko tersebut, lalu Luna menawarkan kepada Gua apakah Gua ingin membeli barang juga atau tidak, sebenarnya Gua tidak ingin belanja, tapi ucapan Luna malah membuat Gua berfikir ulang...
"Atau mungkin kamu mau beli untuk Mba Laras dan Nenek.. Gimana ?", ucap Luna sambil menengok kepada Gua.
Gua berfikir sejenak, iya juga ya, Gua habis 'kabur-kaburan' ke luar negeri, pulangnya masa gak bawa oleh-oleh untuk keluarga.
"Mm.. Iya juga Lun, ya udah menurut kamu bagus yang mana buat Mba Laras dan Nenek ?", Gua meminta Luna yang memilihkan model seperti apa untuk oleh-oleh keluarga Gua nanti.
Singkat cerita Luna sudah mengambil dua buah tas wanita dan membawanya ke kasir. Tapi kemudian dia kembali berjalan ke arah deretan tas yang di pajang tadi, lalu memilah sebentar dan mengambil satu tas berwarna biru muda. Total dia mengambil tiga tas, barulah setelah itu Gua pun membayar tiga buah tas tersebut walaupun sempat Luna ngotot untuk membayarkan, tapi Gua juga bersikeras ingin membayarnya sendiri, Luna mengalah ketika Gua bilang ini barang dari Gua untuk keluarga, jadi harus Gua sendiri yang membayarnya.
"Lun, ini tas terkahir tadi buat siapa ?", tanya Gua ketika menunggu proses pembayaran di kasir.
"Vera, Za..", jawab Luna sambil tersenyum.
Selesai shopping dadakan bersama Luna, Gua kembali di ajak jalan-jalan lagi meninggalkan Konigsallee. Kali ini Luna mengajak Gua ke The Classic Remise Düsseldorf, pusat mobil vintage. Setelah sekitar lima belas menit kami berkendara, akhirnya kami memasuki tempat unjuk mobil-mobil bersejarah dan cukup langka yang pernah dibuat. Dibilang museum juga bukan, karena menurut Luna, Classic Remise seperti galeri pameran lukisan, dimana setiap mobil masih ada yang memilikinya, bukan hanya milik negara atau perusahaan tertentu. Kemudian bangunannya pun bekas sebuah gudang untuk lokomotif. Ada bengkel, bengkel dan dealer untuk mobil klasik, toko untuk suku cadang, pakaian, model mobil, asesoris dan restoran di bangunan bersejarah ini. Ternyata tidak semua mobil yang di pamerkan di tempat ini model klasik, banyak juga mobil-mobil mewah bertipe sport yang terbaru. Gua antusias ketika melirik kepada deretan mobil-mobil eropa yang memukau itu, berbeda dengan mobil yang kebanyakan dijual di market. Tentu saja Gua ingin memiliki salah satu dari mobil yang terpajang di tempat ini, tapi ya Gua sadar diri, harganya tidak mungkin sama dengan harga mobil Gua terdahulu, si Black.
Singkat cerita Gua dan Luna akhirnya pulang ke rumah Papahnya di dekat universitas Heinrich Heine Düsseldorf, tidak jauh dari Classic Remise, hanya kurang dari sepuluh menit kami berkendara, kami pun sampai di kediaman Papahnya itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan ketika Gua selesai mandi dan duduk di halaman belakang rumah Papahnya. Di sini masih terang walaupun sudah jam delapan malam, belum gelap sama sekali. Gua membakar sebatang rokok untuk menikmati suasana malam ini, ditambah dengan secangkir teh manis hangat yang sudah dibuatkan sebelumnya membuat kenikmatan bersantai kali ini benar-benar terasa menenangkan hati Gua. Apalagi semuanya kian sempurna ketika seorang wanita duduk diatas pangkuan Gua....
"Suka suasana di sini Za ?", tanya Luna sambil menumpukkan tangannya diatas tangan Gua yang sedang melingkar ke perutnya.
"Suka... Apalagi ada kamu..", Gua menciumi punggungnya yang tertutupi kemeja serta rambut panjangnya.
Luna menyerongkan badannya, sehingga kini dia duduk di atas paha Gua dengan posisi menyamping.
"Gombal ih..", ucapnya sambil mencubit ujung hidung Gua.
Gua mendongakkan kepala menatap matanya lekat-lekat. "Makasih untuk semuanya Lun..", kemudian Gua memajukan wajah hingga mengecup pipi kanannya.
Tangan kirinya melingkar ke belakang tengkuk Gua, yang sedetik kemudian bibir kami pun saling bersentuhan, dan lama kelamaan menjadi sebuah pagutan... french kiss.Cukup lama kami melakukan aktifitas tersebut hingga kami berdua tidak menyadari telah ada seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempat kami duduk.
"Ehm.. Ehm...".
"Eh ? Ay..", Luna memundurkan wajahnya lalu menengok kepada Helen yang telah berdiri di ambang pintu halaman belakang.
Gua membuang muka ke kiri, bagaimanapun juga malu rasanya ketahuan sedang berciuman oleh 'calon adik ipar'. Tapi ini si Luna bukannya bangun dari pangkuan Gua malah cuek aja dia duduk dengan tangan yang masih melingkar kebelakang tengkuk ini.
"Aku cariin taunya lagi mesra di sini.. Huuu..", Helen berjalan menghampiri kami.
"Ada apa Ay ?", Luna akhirnya turun dari paha Gua,
"Kakak kira kamu ikut Mamah ke luar tadi".
"Enggak ah, males kemana-mana", Helen duduk di kursi samping Gua yang dibatasi oleh meja kayu,
"Kakak gak jalan-jalan sama Kak Eza ?".
"Udah tadi siang ke kota tua Altstad, terus ke Konigsallee dan terkahir ke Cla...", ucapan Luna terpotong.
"Kakak ke Konigsallee ?!!", Helen terkejut sambil membelalakan matanya,
"Iiiihh kok gak bilang sih Kak! Aku juga mau ke sana...", wajahnya sedikit cemberut kepada Kakaknya itu.
"Enggak di rencanain sayang.. Lagian cuma sebentar gak lama..", jawab Luna sambil berjalan ke arah samping adiknya.
"Iya tapi Kakak pasti belanja deh, iya kan ?".
Luna terkekeh pelan sambil mengangguk.
"Tuh kan.. Mana aku liat Kakak beli apa ?".
"Ada di kamar, nanti kalau mau tidur aja liatnya".
"Enggak enggak, aku mau liat sekarang, pasti beli tas kan ? Ayo ah aku liat dulu", Helen pun menarik tangan Luna untuk masuk ke dalam rumah dan meminta Kakaknya itu menunjukkan barang belanjaan yang tadi siang ia beli bersama Gua.
Mereka berdua sudah masuk ke dalam, sedangkan Gua hanya bisa mendengar sayup-sayup suara Helen yang sepertinya ingin pergi ke Konigsallee esok hari. Gua membakar sebatang rokok lalu menatap langit yang mulai menampakkan gelap karena sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat.
Fikiran Gua secara tidak sengaja membangkitkan memori akan seorang wanita yang sudah pergi jauh ke dimensi lain bersama darah dagingnya, keturunan kami berdua.
Entah kenapa tiba-tiba Gua rindu akan sosok almh. Istri Gua dan juga anak kami, Kencana Jingga. Sejujurnya, selama Gua pergi meninggalkan rumah dan mulai menjalani hidup di Jepang hingga sekarang berada di Jerman, sebenarnya perasaan rindu itu Gua tahan dan Gua tutupi rapat-rapat, agar Gua bisa melupakan sakitnya, bukan kepada Istri dan anak Gua. Tapi Gua sadar, sekuat apapun Gua menutupi rasa sakit itu, kenangan pahit itu adalah ujungnya. Gua mengawali dengan mengingat kenangan manis bersama Echa dan Jingga, kadang tersenyum, kadang tertawa pelan dan merasa senang ketika beberapa momen kebersamaan Gua dengan mereka berada pada waktu yang indah dan bahagia. Namun pada ujung kenangan tersebut semuanya berubah, setiap detail kenangan manis nan indah itu berputar, sudah pasti titik akhirnya adalah kenangan pahit nan menyakitkan Gua lagi. Gua tidak bisa berhenti atau sekedar mem-pause kenangan itu di saat yang baik, selalu saja Gua tidak bisa menahan ujungnya, sang maut yang sudah menjadi sebuah titik ujung kenangan itu menunggu Gua dengan senyumannya yang sangat menakutkan. And I'm losing what i don't deserve... What i don't deserve.
Gua tersadar kembali ketika ada seorang wanita duduk di samping Gua.
"Eh, malam Tante..", Gua salah tingkah karena Mamahnya Luna juga Helen itu sepertinya sudah cukup lama duduk di situ.
"Malam Za..", balasnya seraya tersenyum,
"Maaf ya Tante ganggu kamu kayaknya", lanjut beliau.
"Ah enggak Tante, ganggu apa Tan, Eza lagi ngerokok sama bengong aja tadi hahaha...", Gua mematikan batang rokok yang sudah hampir habis ini ke asbak di atas meja teras.
"Bengong kenapa ? Ada yang lagi kamu fikirkan ? Mm, Maaf bukan maksud Saya untuk ikut campur jika itu privasi kamu Za".
Gua tersenyum lalu menggeleng pelan. "Enggak kok Tante, Eza enggak mikirin apa-apa, cuma mungkin baru ngerasa kangen rumah aja...", jawab Gua sambil kembali menatap langit malam yang bertabur bintang di atas sana.
"Pulang ke rumah adalah pilihan paling tepat atas semua kejadian yang sudah menimpa kamu Za..", suara beliau terdengar lembut dan penuh rasa kepedulian, ya Gua bisa merasakan hal tersebut dari ucapannya itu.
"Mmm.. Maaf Tan, memangnya Tante tau apa yang sudah Eza.....", Gua menghentikan omongan.
"Oh maaf, ya betul... Saya sudah mengetahui semua pengalaman sangat menakjubkan yang kamu alami dalam satu tahun terakhir ini... Maaf ya Za, hanya saja Saya benar-benar takjub mendengar itu semua dari Luna", beliau tersenyum.
"Oh, enggak apa-apa Tante, ya saya lupa, Tante dan keluarga pasti sudah mendengar semuanya dari Luna", Gua menyandarkan punggung ke belakang,
"Tapi, kenapa Tante bilang itu semua menakjubkan ?", tanya Gua.
"Tidak banyak manusia yang diberi ujian seindah kamu Reza, and it's so amazing right ? I know you understand what I mean young man..",
"Hidup ini begitu rumit dan sulit jika kita selalu membandingkannya dengan kehidupan orang lain di luar sana, jadi berhentilah mempertanyakan 'kenapa dan mengapa'... ",
"Cobalah untuk menerima semuanya dengan hati yang lapang, karena hidup itu bagai Yin dan Yang, selalu bertolak belakang, namun penerapannya dalam hidup harus seimbang Za, seperti hidup kamu, tidak akan kamu selalu berada dalam kesedihan, suatu hari kamu akan tau kenapa Tuhan memberikan kesedihan tersebut dan saat itulah kamu telah berada satu langkah di jalan yang penuh kebahagiaan..".
Gua tertegun sebentar, mencerna setiap ucapan beliau lalu menutup mata sejenak, kalimat-kalimat yang beliau ucapkan rasanya sama saja dengan kalimat yang diucapkan oleh Mba Laras, Vera, Kinan, Kimiko dan yang lainnya. Intinya selalu ada kebahagiaan setelah kesedihan, badai pasti berlalu hah ?.
"Kamu muslim kan ?", Gua menengok kepada beliau sambil menaikkan kedua alis. "Maksud Saya, kamu pemeluk agama islam..", lanjutnya.
Gua terkekeh pelan lalu menggaruk pelipis. "Mmm.. Entahlah Tan, Eza sendiri tidak bisa menilai apakah masih pantas disebut seorang muslim sedangkan kenyataannya...".
"Ssstt.. Bukan itu inti pertanyaannya Za",
"Saya harap kamu masih percaya akan adanya Tuhan... Terlepas apapun agama mu..".
Gua malah semakin menggelengkan kepala mendengarnya, karena rasanya beberapa bulan lalu Gua sudah melupakan keberadaan-NYA dalam hati ini.
"Atau kamu mungkin akan seperti Helen...".
"Hm ? Helen ? Kenapa dengan Helen ?".
"Oh tidak apa-apa, hanya saja dari dulu dia tidak mengikuti keyakinan Saya atau Papahnya...".
Gua semakin bingung atas ucapan beliau. "Maksudnya Tante dan Om berbeda keyakinan ?", tanya Gua hati-hati.
"Iya, dari awal kami menikah.. Tante penganut Taoisme karena Saya lahir dan menghabiskan masa kecil di Taipei, kedua orangtua Saya yang juga Kakek dan Nenek Luna serta Helen sebelumnya tinggal di China, mereka lahir di Beijing...", beliau menjelaskan dengan nada yang sangat lembut,
"Sekitar tahun delapan puluh tiga Saya bertemu untuk pertama kalinya dengan Papahnya anak-anak, di Düsseldorf ini, waktu itu Saya sedang berlibur bersama seorang kawan dan tidak sengaja bertemu Oliver.. Tidak lama kami memutuskan untuk menikah walaupun dengan keyakinan yang berbeda..", Gua mendengarkan dengan seksama cerita beliau,
"Oliver beragama katolik, begitupun dengan Luna...".
Gua mengangguk dan mengerti maksud cerita beliau, sampai akhirnya satu pertanyaan Gua benar-benar membuat Gua kebingungan dan tidak mengerti akan jawaban terakhirnya.
"Dan Helen ikut Tante ? Menganut Taoisme juga ?".
"Bukan, dia memilih menjadi Agnostik..".
"Mau minum dimana Za ?".
"Balkon aja...".
Secangkir kopi hitam itu ia bawa keluar kamar, ke arah balkon, lalu tidak lama Luna kembali masuk ke dalam kamar.
"Sini deh..", ucap Gua sambil menepuk kasur.
"Hm ? Kenapa ?", Luna berdiri tepat di samping Gua.
Gua menarik tangannya lembut hingga dia terjatuh kedalam pelukkan Gua. Tubuhnya berbalik, punggungnya bersandar pada dada Gua, dan kepalanya tepat berada di samping wajah Gua. Aroma shampoo dari rambutnya itu langsung menelusup ke hidung Gua, wangi yang memabukkan, i like it. Gua belai rambutnya ke sisi wajahnya lalu mengecup ubun-ubunya, setelah itu, Gua mengaitkan tangan kanan ke depan lehernya dan menempelkan wajah ini ke wajahnya.
Gua menikmati momen ini, entah kenapa rasanya Luna bisa membuat Gua tenang ketika berada di sisinya seperti ini. Mata Gua terpejam ketika tangan kanannya membelai pipi kanan ini. Gua membuka mata ketika wajahnyanya menengok. Dia tersenyum lalu mengecup bibir Gua sesaat.
"Za.. I love you..", ucapnya setelah mengecup bibir Gua.
Gua tersenyum lebar lalu memiringkan wajah ke kiri dan mendekati bibirnya. Satu, dua, tiga menit cukup rasanya warming up dan kami berdua pun menyudahi aktifitas ini karena terindikasi offside...
Kini kami berdua pergi ke restoran untuk menyantap breakfast, alhasil kopi yang sebelumnya Luna buatkan hanya Gua minum setengah gelas. Selesai menyantap breakfast, Gua dan Luna menuju lobby dan menyerahkan key-card ke bagian resepsionis untuk segera check out. Beres melakukan proses check out dan membayar tagihan sisa kamar selama menginap di hotel ini, Gua mengikuti Luna menuju parkiran mobil dan kami berdua pun bergegas pergi ke rumah Papahnya di bagian lain kota Düsseldorf ini.
Sekitar lima belas menit kami berkendara, Luna mengarahkan mobil ke jalur kiri dan berbelok kearah Aldtstadt. Luna mengatakan ingin mengajak Gua untuk melihat keindahan tempat-tempat wisata yang dimiliki oleh Düsseldorf, dan salah satunya adalah kota tua ini. Kami berdua tiba di sini pukul satu siang. Aldtstadt, kota tua khas Eropa dengan alun-alun kota dimana jalanannya terbuat dari bebatuan jaman dahulu. Kami berdua turun dari mobil setelah Luna memarkirkan kendaraan, lalu Luna mulai menggandeng tangan kanan Gua sehingga kami berjalan berdampingan.
Gua terpana dengan alun-alun kota ini, banyak obyek patung-patung yang berada di sini, apalagi ketika kami sampai di tengah alun-alun, dimana terletak sebuah patung yang menunjukkan seseorang sedang menunggangi kuda. Luna menerangkan kepada Gua bahwa patung tersebut adalah patung seroang bangsawan penguasa sebagian daerah kerajaan romawi, bangsawan itu bernama Jan Wellem atau John William. Selain patung tersebut masih ada beberapa patung di sekitar sini dan tentunya ada keterangan yang tertulis di depan setiap patung itu dengan bahasa Jerman. Kemudian kami berdua kembali mengitari alun-alun, sampai akhirnya Gua melihat salah satu patung lainnya yang berada di sini. Seperti monumen yang terbuat dari perunggu, obyek tersebut cukup menyita perhatiaan Gua, lalu sejenak Gua mengamati patung tersebut, dalam bentuknya, tergambar jelas tentang kesedihan dalam peperangan, patung ini di buat sangat detil sehingga terlihat emosi takut dan kemarahan yang terpancar, judul patungnya 'Battle of Worringen', dibuat tahun 1988 untuk memperingati tujuh ratus tahun kota Düsseldorf, dan nama senimannya adalah Bert Gerresheim.
Altstad Düsseldorf ini kata Luna terkenal dengan sebutan the longest bar in the world. Karena di sekitar alun-alun cukup banyak bar yang berderetan, surga bagi para pemabuk lah. Dan mungkin bulan ini masih musim semi di tambah waktu pun masih terlalu 'pagi' bagi para wisatawan untuk menikmati minuman penghangat tubuh, jadi suasananya cukup sepi. Biasanya di daerah ini banyak sekali turis asing dan orang lokal setempat yang beramai-ramai meminum bir pada saat October Fest, tapi jelas berbeda dengan sekarang, Altstad siang ini nampak sepi. Tidak nampak gerombolan turis yang berfoto-foto.
Tidak lama kemudian, Luna mengajak Gua untuk kembali menyambangi tempat lain di sekitar sini. Sekarang kami berdua berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk menuju Konigsallee. Ketika kami berjalan dan sudah mulai memasuki daerah Konigsallee. Ada perasaan yang sedikit mengingatkan Gua akan satu hal soal wanita, tentunya bukan soal pemandangan kanal atau taman yang tertata rapih serta patung-patung yang indah, melainkan banyaknya deretan toko butik terkenal dunia. Yap, jiwa shopping Luna sepertinya sudah tak terbendung lagi, sepinya jalanan dan pengunjung pada deretan butik di samping kami tidak menyurutkan niatnya untuk menarik lengan Gua agar mengikutinya masuk ke dalam salah satu butik.
Luna yang Gua fikir awalnya akan 'menggila' karena banyaknya deretan barang-barang branded di depan kami itu ternyata tidak terlalu over-reactive seperti wanita-wanita pada umumnya. Dia ternyata hanya membeli dua buah barang, satu tas dan sepasang sepatu. Tapi... Gua menelan ludah ketika melirik ke arah bill yang disodorkan oleh pramuniaga toko kepada Luna setelah Luna membayar belanjaannya menggunakan credit card. Tercetak di sana sekian ribu euro, yang Gua hitung-hitung mungkin terbeli satu motor tipe bebek jika di rupiahkan. Muke gile cuma tas sama sepasang sepatu buat nginjek kotoran doang harganya ngajakin ribut

Hanya setengah jam kurang kami berada di dalam toko tersebut, lalu Luna menawarkan kepada Gua apakah Gua ingin membeli barang juga atau tidak, sebenarnya Gua tidak ingin belanja, tapi ucapan Luna malah membuat Gua berfikir ulang...
"Atau mungkin kamu mau beli untuk Mba Laras dan Nenek.. Gimana ?", ucap Luna sambil menengok kepada Gua.
Gua berfikir sejenak, iya juga ya, Gua habis 'kabur-kaburan' ke luar negeri, pulangnya masa gak bawa oleh-oleh untuk keluarga.
"Mm.. Iya juga Lun, ya udah menurut kamu bagus yang mana buat Mba Laras dan Nenek ?", Gua meminta Luna yang memilihkan model seperti apa untuk oleh-oleh keluarga Gua nanti.
Singkat cerita Luna sudah mengambil dua buah tas wanita dan membawanya ke kasir. Tapi kemudian dia kembali berjalan ke arah deretan tas yang di pajang tadi, lalu memilah sebentar dan mengambil satu tas berwarna biru muda. Total dia mengambil tiga tas, barulah setelah itu Gua pun membayar tiga buah tas tersebut walaupun sempat Luna ngotot untuk membayarkan, tapi Gua juga bersikeras ingin membayarnya sendiri, Luna mengalah ketika Gua bilang ini barang dari Gua untuk keluarga, jadi harus Gua sendiri yang membayarnya.
"Lun, ini tas terkahir tadi buat siapa ?", tanya Gua ketika menunggu proses pembayaran di kasir.
"Vera, Za..", jawab Luna sambil tersenyum.
Selesai shopping dadakan bersama Luna, Gua kembali di ajak jalan-jalan lagi meninggalkan Konigsallee. Kali ini Luna mengajak Gua ke The Classic Remise Düsseldorf, pusat mobil vintage. Setelah sekitar lima belas menit kami berkendara, akhirnya kami memasuki tempat unjuk mobil-mobil bersejarah dan cukup langka yang pernah dibuat. Dibilang museum juga bukan, karena menurut Luna, Classic Remise seperti galeri pameran lukisan, dimana setiap mobil masih ada yang memilikinya, bukan hanya milik negara atau perusahaan tertentu. Kemudian bangunannya pun bekas sebuah gudang untuk lokomotif. Ada bengkel, bengkel dan dealer untuk mobil klasik, toko untuk suku cadang, pakaian, model mobil, asesoris dan restoran di bangunan bersejarah ini. Ternyata tidak semua mobil yang di pamerkan di tempat ini model klasik, banyak juga mobil-mobil mewah bertipe sport yang terbaru. Gua antusias ketika melirik kepada deretan mobil-mobil eropa yang memukau itu, berbeda dengan mobil yang kebanyakan dijual di market. Tentu saja Gua ingin memiliki salah satu dari mobil yang terpajang di tempat ini, tapi ya Gua sadar diri, harganya tidak mungkin sama dengan harga mobil Gua terdahulu, si Black.
Singkat cerita Gua dan Luna akhirnya pulang ke rumah Papahnya di dekat universitas Heinrich Heine Düsseldorf, tidak jauh dari Classic Remise, hanya kurang dari sepuluh menit kami berkendara, kami pun sampai di kediaman Papahnya itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan ketika Gua selesai mandi dan duduk di halaman belakang rumah Papahnya. Di sini masih terang walaupun sudah jam delapan malam, belum gelap sama sekali. Gua membakar sebatang rokok untuk menikmati suasana malam ini, ditambah dengan secangkir teh manis hangat yang sudah dibuatkan sebelumnya membuat kenikmatan bersantai kali ini benar-benar terasa menenangkan hati Gua. Apalagi semuanya kian sempurna ketika seorang wanita duduk diatas pangkuan Gua....
"Suka suasana di sini Za ?", tanya Luna sambil menumpukkan tangannya diatas tangan Gua yang sedang melingkar ke perutnya.
"Suka... Apalagi ada kamu..", Gua menciumi punggungnya yang tertutupi kemeja serta rambut panjangnya.
Luna menyerongkan badannya, sehingga kini dia duduk di atas paha Gua dengan posisi menyamping.
"Gombal ih..", ucapnya sambil mencubit ujung hidung Gua.
Gua mendongakkan kepala menatap matanya lekat-lekat. "Makasih untuk semuanya Lun..", kemudian Gua memajukan wajah hingga mengecup pipi kanannya.
Tangan kirinya melingkar ke belakang tengkuk Gua, yang sedetik kemudian bibir kami pun saling bersentuhan, dan lama kelamaan menjadi sebuah pagutan... french kiss.Cukup lama kami melakukan aktifitas tersebut hingga kami berdua tidak menyadari telah ada seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempat kami duduk.
"Ehm.. Ehm...".
"Eh ? Ay..", Luna memundurkan wajahnya lalu menengok kepada Helen yang telah berdiri di ambang pintu halaman belakang.
Gua membuang muka ke kiri, bagaimanapun juga malu rasanya ketahuan sedang berciuman oleh 'calon adik ipar'. Tapi ini si Luna bukannya bangun dari pangkuan Gua malah cuek aja dia duduk dengan tangan yang masih melingkar kebelakang tengkuk ini.
"Aku cariin taunya lagi mesra di sini.. Huuu..", Helen berjalan menghampiri kami.
"Ada apa Ay ?", Luna akhirnya turun dari paha Gua,
"Kakak kira kamu ikut Mamah ke luar tadi".
"Enggak ah, males kemana-mana", Helen duduk di kursi samping Gua yang dibatasi oleh meja kayu,
"Kakak gak jalan-jalan sama Kak Eza ?".
"Udah tadi siang ke kota tua Altstad, terus ke Konigsallee dan terkahir ke Cla...", ucapan Luna terpotong.
"Kakak ke Konigsallee ?!!", Helen terkejut sambil membelalakan matanya,
"Iiiihh kok gak bilang sih Kak! Aku juga mau ke sana...", wajahnya sedikit cemberut kepada Kakaknya itu.
"Enggak di rencanain sayang.. Lagian cuma sebentar gak lama..", jawab Luna sambil berjalan ke arah samping adiknya.
"Iya tapi Kakak pasti belanja deh, iya kan ?".
Luna terkekeh pelan sambil mengangguk.
"Tuh kan.. Mana aku liat Kakak beli apa ?".
"Ada di kamar, nanti kalau mau tidur aja liatnya".
"Enggak enggak, aku mau liat sekarang, pasti beli tas kan ? Ayo ah aku liat dulu", Helen pun menarik tangan Luna untuk masuk ke dalam rumah dan meminta Kakaknya itu menunjukkan barang belanjaan yang tadi siang ia beli bersama Gua.
Mereka berdua sudah masuk ke dalam, sedangkan Gua hanya bisa mendengar sayup-sayup suara Helen yang sepertinya ingin pergi ke Konigsallee esok hari. Gua membakar sebatang rokok lalu menatap langit yang mulai menampakkan gelap karena sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat.
Fikiran Gua secara tidak sengaja membangkitkan memori akan seorang wanita yang sudah pergi jauh ke dimensi lain bersama darah dagingnya, keturunan kami berdua.
Entah kenapa tiba-tiba Gua rindu akan sosok almh. Istri Gua dan juga anak kami, Kencana Jingga. Sejujurnya, selama Gua pergi meninggalkan rumah dan mulai menjalani hidup di Jepang hingga sekarang berada di Jerman, sebenarnya perasaan rindu itu Gua tahan dan Gua tutupi rapat-rapat, agar Gua bisa melupakan sakitnya, bukan kepada Istri dan anak Gua. Tapi Gua sadar, sekuat apapun Gua menutupi rasa sakit itu, kenangan pahit itu adalah ujungnya. Gua mengawali dengan mengingat kenangan manis bersama Echa dan Jingga, kadang tersenyum, kadang tertawa pelan dan merasa senang ketika beberapa momen kebersamaan Gua dengan mereka berada pada waktu yang indah dan bahagia. Namun pada ujung kenangan tersebut semuanya berubah, setiap detail kenangan manis nan indah itu berputar, sudah pasti titik akhirnya adalah kenangan pahit nan menyakitkan Gua lagi. Gua tidak bisa berhenti atau sekedar mem-pause kenangan itu di saat yang baik, selalu saja Gua tidak bisa menahan ujungnya, sang maut yang sudah menjadi sebuah titik ujung kenangan itu menunggu Gua dengan senyumannya yang sangat menakutkan. And I'm losing what i don't deserve... What i don't deserve.
Gua tersadar kembali ketika ada seorang wanita duduk di samping Gua.
"Eh, malam Tante..", Gua salah tingkah karena Mamahnya Luna juga Helen itu sepertinya sudah cukup lama duduk di situ.
"Malam Za..", balasnya seraya tersenyum,
"Maaf ya Tante ganggu kamu kayaknya", lanjut beliau.
"Ah enggak Tante, ganggu apa Tan, Eza lagi ngerokok sama bengong aja tadi hahaha...", Gua mematikan batang rokok yang sudah hampir habis ini ke asbak di atas meja teras.
"Bengong kenapa ? Ada yang lagi kamu fikirkan ? Mm, Maaf bukan maksud Saya untuk ikut campur jika itu privasi kamu Za".
Gua tersenyum lalu menggeleng pelan. "Enggak kok Tante, Eza enggak mikirin apa-apa, cuma mungkin baru ngerasa kangen rumah aja...", jawab Gua sambil kembali menatap langit malam yang bertabur bintang di atas sana.
"Pulang ke rumah adalah pilihan paling tepat atas semua kejadian yang sudah menimpa kamu Za..", suara beliau terdengar lembut dan penuh rasa kepedulian, ya Gua bisa merasakan hal tersebut dari ucapannya itu.
"Mmm.. Maaf Tan, memangnya Tante tau apa yang sudah Eza.....", Gua menghentikan omongan.
"Oh maaf, ya betul... Saya sudah mengetahui semua pengalaman sangat menakjubkan yang kamu alami dalam satu tahun terakhir ini... Maaf ya Za, hanya saja Saya benar-benar takjub mendengar itu semua dari Luna", beliau tersenyum.
"Oh, enggak apa-apa Tante, ya saya lupa, Tante dan keluarga pasti sudah mendengar semuanya dari Luna", Gua menyandarkan punggung ke belakang,
"Tapi, kenapa Tante bilang itu semua menakjubkan ?", tanya Gua.
"Tidak banyak manusia yang diberi ujian seindah kamu Reza, and it's so amazing right ? I know you understand what I mean young man..",
"Hidup ini begitu rumit dan sulit jika kita selalu membandingkannya dengan kehidupan orang lain di luar sana, jadi berhentilah mempertanyakan 'kenapa dan mengapa'... ",
"Cobalah untuk menerima semuanya dengan hati yang lapang, karena hidup itu bagai Yin dan Yang, selalu bertolak belakang, namun penerapannya dalam hidup harus seimbang Za, seperti hidup kamu, tidak akan kamu selalu berada dalam kesedihan, suatu hari kamu akan tau kenapa Tuhan memberikan kesedihan tersebut dan saat itulah kamu telah berada satu langkah di jalan yang penuh kebahagiaan..".
Gua tertegun sebentar, mencerna setiap ucapan beliau lalu menutup mata sejenak, kalimat-kalimat yang beliau ucapkan rasanya sama saja dengan kalimat yang diucapkan oleh Mba Laras, Vera, Kinan, Kimiko dan yang lainnya. Intinya selalu ada kebahagiaan setelah kesedihan, badai pasti berlalu hah ?.
"Kamu muslim kan ?", Gua menengok kepada beliau sambil menaikkan kedua alis. "Maksud Saya, kamu pemeluk agama islam..", lanjutnya.
Gua terkekeh pelan lalu menggaruk pelipis. "Mmm.. Entahlah Tan, Eza sendiri tidak bisa menilai apakah masih pantas disebut seorang muslim sedangkan kenyataannya...".
"Ssstt.. Bukan itu inti pertanyaannya Za",
"Saya harap kamu masih percaya akan adanya Tuhan... Terlepas apapun agama mu..".
Gua malah semakin menggelengkan kepala mendengarnya, karena rasanya beberapa bulan lalu Gua sudah melupakan keberadaan-NYA dalam hati ini.
"Atau kamu mungkin akan seperti Helen...".
"Hm ? Helen ? Kenapa dengan Helen ?".
"Oh tidak apa-apa, hanya saja dari dulu dia tidak mengikuti keyakinan Saya atau Papahnya...".
Gua semakin bingung atas ucapan beliau. "Maksudnya Tante dan Om berbeda keyakinan ?", tanya Gua hati-hati.
"Iya, dari awal kami menikah.. Tante penganut Taoisme karena Saya lahir dan menghabiskan masa kecil di Taipei, kedua orangtua Saya yang juga Kakek dan Nenek Luna serta Helen sebelumnya tinggal di China, mereka lahir di Beijing...", beliau menjelaskan dengan nada yang sangat lembut,
"Sekitar tahun delapan puluh tiga Saya bertemu untuk pertama kalinya dengan Papahnya anak-anak, di Düsseldorf ini, waktu itu Saya sedang berlibur bersama seorang kawan dan tidak sengaja bertemu Oliver.. Tidak lama kami memutuskan untuk menikah walaupun dengan keyakinan yang berbeda..", Gua mendengarkan dengan seksama cerita beliau,
"Oliver beragama katolik, begitupun dengan Luna...".
Gua mengangguk dan mengerti maksud cerita beliau, sampai akhirnya satu pertanyaan Gua benar-benar membuat Gua kebingungan dan tidak mengerti akan jawaban terakhirnya.
"Dan Helen ikut Tante ? Menganut Taoisme juga ?".
"Bukan, dia memilih menjadi Agnostik..".
*
*
*
*
*
Quote:
Diubah oleh glitch.7 07-06-2017 11:37
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..


(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
