Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#5211
PART 80


April 2009

Ini sudah hari ketiga Gua meringkuk di dalam kamar hotel dengan berbalut selimut putih yang cukup tebal. Kepala Gua masih terasa berat, tenggorokan terasa sakit jika menelan makanan, hidung Gua mampet, dan tubuh pun rasanya lemas. Ya ternyata Gua tumbang juga, sepertinya flu dan demam ini disebabkan karena kondisi tubuh Gua yang belum bisa menyesuaikan perubahan cuaca dari musim dingin ke musim semi di salah satu negara belahan eropa.

Gua menyandarkan punggung ke bahu kasur sambil menonton acara televisi yang Gua tidak paham bahasanya. Gua mengurut kening dengan kedua jari ketika kepala Gua kembali terasa pusing, masih mencoba merelaksasikan kepala ini, handphone Gua berdering tanda panggilan masuk. Gua raih handphone yang berada di meja kecil samping kasur dan melihat layarnya, ada sebuah panggilan masuk dari kode area Indonesia.

Quote:


Gua mematikan telpon setelah Kinan pamit hendak pergi mengantar Ibunya ke pusat perbelanjaan. Gua cek jam di layar hp, sekarang pukul sepuluh pagi GMT+2, berarti di Jakarta sudah pukul tiga sore.

Kemudian Gua buka menu email dan benar saja sudah ada notif mail baru dari Larasati_84. Gua buka email tersebut lalu membaca isinya. Jelaslah isi mailnya tidak jauh dari pertanyaan soal kabar Gua dan sebagainya, tidak butuh waktu lama untuk mengirim balasan dan sekalian memberitahukan bahwa Gua sedang berada di Düsseldorf kepada Mba Laras. Ya, Gua rasa sudah cukup untuk menyembunyikan keberadaan serta kabar Gua saat ini kepada keluarga, tidak lupa Gua juga memberikan nomor kontak telpon saat ini pada balasan mailnya.

Sekitar pukul dua belas siang waktu setempat Gua menelpon bagian resepsionis hotel dari telpon kamar hotel ini, Gua meminta dipesankan taxi yang langsung menuju klinik dokter terdekat. Beres menelpon bagian resepsionis, Gua menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh wajah dan berganti pakaian. Setelah itu barulah Gua turun ke lantai satu dari lantai tiga dimana kamar hotel Gua terletak.

Gua mengenakan pakaian yang cukup menghangatkan tubuh, bagian atas Gua memakai kaos putih yang dibalut sweater abu serta overcoat berwarna khaki, kemudian bagian bawah, Gua memakai celana denim dan sepatu boots dengan warna senada hitam. Gua masuk ke dalam lift dan menyandarkan tubuh ke dinding lift sambil melipat kedua tangan di depan dada lalu memejamkan mata sejenak.

Gua merasakan kalau tubuh ini masih sedikit demam dengan kepala yang pusing. Tidak lama lift sampai di lobby hotel dan pintu terbuka...

Ting... Pintu lift terbuka.

Gua membuka mata dan melihat seorang wanita.. Ah... Dia.. Dia wanita yang rasanya lebih layak disebut bidadari. Ya, Gua rasa tidak berlebihan karena wanita yang sedang berdiri di luar itu memang sangat cantik.

Gua tersadar ketika dirinya melangkah masuk ke dalam lift. Seketika itu Gua buru-buru melangkah keluar lift. Wanita itu menunduk ketika kami saling melintas.

Sebelum pintu lift tertutup dan membawanya naik, Gua menghentikan langkah kaki dan membalikan badan, melihatnya sekali lagi yang sedang tertunduk sambil memainkan handphone pada tangan kanannya, hingga pintu lift tertutup rapat dan layar di atasnya menunjukkan arah naik ke lantai lima.

Gua kembali berjalan menuju resepsionis di lobby hotel dengan fikiran yang dipenuhi oleh sosok wanita tadi. Dia, sepertinya Gua pernah melihatnya, ya sepertinya Gua pernah melihat wajahnya yang tidak asing itu, mungkin bisa dibilang cukup familiar bagi Gua, tapi entah dimana Gua pernah bertemu atau hanya sekedar melihatnya. Wanita yang mengenakan trench coat berwarna abu dengan sepatu boots yang panjangnya hingga sebetis itu benar-benar memiliki paras yang cantik karena ditunjang dengan postur tubuhnya yang tinggi semampai. Wajahnya putih dengan make up tipis, serta mahkotanya berwarna hitam kecokelatan yang dibiarkan tergerai hingga sepunggung. Entah kenapa perasaan Gua mengatakan kalau suatu saat nanti kami pasti bertemu lagi di lain waktu. Dan Gua tidak menampik perasaan aneh tersebut, malah sebaliknya, Gua berharap... Ya entah kenapa Gua malah berharap dipertemukan lagi dengannya.

...

Selesai mengecek kondisi kesehatan dari medical center dusseldorf di jalan luise rhaine street dan membawa satu kantung plastik kecil yang berisi obat, Gua memesan taxi lewat bantuan resepsionis medical center ini. Di dalam perjalanan Gua hanya bisa terdiam dan memberikan senyuman ketika si supir taxi itu mengoceh dengan bahasa yang tidak Gua pahami, dia berbicara dengan bahasa Jerman, sekalipun Gua memintanya untuk berbicara dengan bahasa inggris tapi rasanya sia-sia, karena Gua yakin dia tidak bisa berbahasa inggris, alhasil Gua hanya tersenyum dan mengangguk saja menanggapi obrolannya itu, hingga sampai di depan hotel tempat Gua menginap.

Sekarang Gua sedang menunggu makanan datang setelah sebelumnya memesan menu di restoran hotel ini. Gua duduk dibagian tengah resto. Rasanya Gua tidak perlu mengkonsumsi obat yang diberikan itu, mungkin karena selama dua hari ini Gua tidak menggerakan tubuh dan hanya meringkuk di dalam kamar hotel malah membuat kondisi Gua semakin buruk. Karena sekarang, setelah Gua pergi jalan, Gua bisa merasa lebih baikkan, pusing di kepala sudah hilang, tinggal hidung yang agak mampet serta batuk yang masih mengganggu kondisi Gua, badan Gua lumayan membaik, tidak terasa ngilu atau nyeri lagi. Dan pada akhirnya, kondisi yang membaik ini Gua simpulkan akibat Gua menggerakan badan dan menghirup udara dari luar. Bukan obat yang menyembuhkan.

Gua menyantap satu porsi tenderloin steak dengan level kematangan rare, agar tekstur dagingnya masih cukup juicy dan lembut. Kemudian Gua meminum segelas red wine sebagai pasangan serasi sang main course tersebut. Selesai menghabiskan makanan, Gua mengelap bibir dengan tissue lalu mengeluarkan handphone dan melihat sebuah panggilan masuk dari nomor dengan kode area kota Gua.

Quote:


Ya, sekarang Gua menceritakan kepada Luna ditelpon alasan apa yang membuat Gua pergi dari Jepang ke Jerman.

Bulan maret lalu, saat Gua masih berada di Jepang dan melakukan hal-hal buruk bersama kelompok Paman Hiroshi hingga membuat Gua tidak kuat dengan segala kegiatan tersebut. Gua lebih memilih pergi meninggalkan negara Jepang. Tentu saja Gua meminta bantuan kepada Kimiko dan Aoki, dan mereka berdua mau membantu Gua untuk pergi ke luar negeri. Kenapa tidak kembali ke Indonesia langsung ? Menurut Kimiko, bukan perkara mudah kabur ke kawasan Asia. Jadi Aoki, kekasih Kimiko, membantu Gua untuk mendapatkan paspor lagi dengan tujuan berlibur ke kawasan benua biru. Saat itu, Gua tidak perduli akan singgah di negara mana, yang terpenting Gua bisa pergi. Dan ternyata, ketika baru sampai di bandara internasional Düsseldorf, Jerman, Gua mendapatkan email dari Kimiko. Awalnya dia hanya menanyakan apakah Gua sudah sampai di Dusseldorf sampai akhirnya dia bercerita bahwa Gua dicari oleh Ayahnya, Paman Hiroshi. Kimiko memberitahukan kalau Gua dicari Papahnya karena tidak sopan telah pergi tanpa pamit. Jujur saja, Gua sempat takut hingga menanyakan kembali lewat balasan email ke Kimiko apakah Gua akan di datangi ke Düsseldorf oleh Papahnya itu. Tapi apa jawabannya ? Dia hanya mengatakan jangan lupa oleh-oleh dari Jerman jika berniat kembali ke Jepang, karena Papahnya hanya tertawa ketika Kimiko bercerita tentang ketakutan yang Gua alami itu. Ternyata Paman Hiroshi tidak marah sama sekali kepada Gua, dia mengerti kalau dunia hitam yang ia jalani tidak mungkin bisa membuat Gua bahagia. Kimiko hanya menyampaikan kalau ingin datang lagi ke Hakodate, mereka akan menyambut Gua dengan tangan terbuka dan tidak akan pernah melibatkan Gua lagi kedalam dunia hitam itu. So, se simpel itukah ? Ya, karena Kimiko yang menjamin keselamatan Gua jika ingin mengunjungi mereka.

Dan karena alasan itulah Gua sampai kesal dan gondok setengah mati kepada Kimiko. Sekarang Gua berada di negara Jerman, bukan untuk berlibur, karena hari pertama saja Gua langsung jatuh sakit hingga tiga hari.

Quote:


Dari percakapan di telpon dengan Luna, Gua malah berfikir, apakah Tuhan ingin menunjukkan bahwa Dia masih ada untuk Gua ? Untuk mahluknya yang pernah menggugatnya ? Bukan perkara kebetulan sampai Luna ingin datang ke sini walaupun awalnya dia tidak tau kalau Gua pun sedang berada di kota kelahiran Papahnya, dan peran Kimiko sampai mengajukan kota ini untuk Gua singgahi sebagai 'tempat pelarian' selanjutnya memang sudah suratan takdir. Sepertinya semua ini memang bukan kebetulan semata.

Malam harinya kondisi tubuh Gua sudah berangsur membaik, flu dan demam sudah tidak lagi Gua rasakan. Setelah tadi sore memberikan alamat hotel tempat Gua menginap kepada Luna, dia berjanji akan berangkat esok hari.

...

Keesokan harinya, Sekitar pukul sembilan malam GMT+2 Gua berada di restoran hotel, menikmati secangkir black coffee dan membakar sebatang rokok, setengah jam kemudian seorang wanita berdiri tepat di samping Gua yang masih duduk di kursi kayu ini.

"Hai..", sapanya.

Gua menengok ke kiri dan mendongakkan kepala. "Luna ? Hai..", Gua berdiri dari duduk dan langsung dipeluk oleh Luna.

"Kamu udah sehat kan Za ?", tanyanya masih memeluk Gua.

"Ya, udah mendingan.. Duduk Lun", Gua melepaskan pelukannya, kemudian Luna duduk tepat di kursi samping Kanan.

Luna menaruh koper di sisi bawah meja sebelahnya. Lalu tangan kanannya memegang tangam kiri Gua. Dia menatap Gua dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Kamu kenapa pergi-pergi gini sih Za.. Aku... Aku.. Hiks.. Hiks..", airmatanya tidak terbendung lagi, mengalir membasahi pipinya.

Gua langsung menarik lembut tengkuknya dan menyandarkan kepalanya ke dada ini, membelai punggungnya dengan lembut.

"Maaf ya Lun.. Aku pergi gak bilang ke kamu dan yang lainnya kecuali Kinanti", Gua berucap pelan sambil tetap menenangkan Luna yang masih menangis. "Lun, makasih kamu udah perduli sama aku dan keluarga aku selama ini, maaf udah bikin kamu khawatir, maafin aku ya".

Luna memundurkan tubuhnya sedikit, dia mengusap airmata dengan tissue yang tersedia di atas meja restoran." Kamu jangan pergi lagi ya Za, kami semua takut kamu kenapa-kenapa..", ucapnya setelah mengelap airmata yang membasahi pipinya itu.

"Aku gak akan pergi lagi Lun, dari sini.. Aku kembali pulang ke rumah..", Gua menatap wajahnya sambil tersenyum dan memegangi pipi kirinya dengan tangan kanan.

"Janji kamu gak akan pergi jauh lagi ?".

Gua mengangguk dan tetap tersenyum.

"Janji gak akan ninggalin aku Za ?".

Gua terkekeh pelan mendengar pertanyaannya itu, Luna memukul dada Gua pelan sambil ikut tertawa. Lalu Gua kembali menarik lembut tengkuknya dan mengecup keningnya sesaat.

"Aku janji Luna.. Gak akan ninggalin kamu".

Luna tersenyum lebar dan langsung memeluk Gua. "Makasih.. Aku akan berusaha untuk selalu ada didekat kamu Za, aku.. Aku sayang sama kamu", ucapnya dalam pelukan Gua.

Kami berdua makan di restoran ini, sambil menyantap makanan, Gua mendengarkan cerita Luna tentang keseharian keluarga Gua di rumah selama Gua pergi, ya walaupun Gua sudah sering mendengar kabar dari Kinanti via email, tapi Luna yang lebih tau dan sering bertemu Mba Laras dan Nenek. Sampai akhirnya Gua menanyakan soal keluarganya di sini.

"Lun, keluarga kamu udah dikabarin ?".

"Belum.. Besok aja sekalian aku kenalin kamu ke Mamah dan Adik aku, kita yang kesana nanti, deket kok paling lama setengah jam dari sini naik taxi, kamu mau kan ?".

Gua mengangguk dan tersenyum. Tidak lama kemudian kami selesai makan, dan setelah Gua membayar makanan, Gua mengajak Luna untuk naik ke lantai tiga, dimana kamar Gua berada, Gua membawakan kopernya, Luna mengaitkan tangan kirinya ke tangan kanan Gua. Baru saja pintu lift terbuka, seorang wanita langsung keluar dari dalam dan berlari hingga menabrak Gua dengan Luna.

"Hei!", teriak Gua ketika sudah tertabrak dan handphone pada genggaman Gua terjatuh ke lantai.

Wanita itu masih terus berlari hingga beberapa pegawai hotel pun melihat kearahnya, Gua mengejar untuk meminta pertanggungjawabannya karena handphone Gua sampai terpisah dengan batrainya. Ketika Gua sudah berhasil mengejarnya sampai di lobby hotel, Gua langsung memegang pundak kanannya dari belakang.

Tangan kanan Gua yang memegang pundak kanannya dari belakang ditarik dengan tangan kirinya, otomatis tubuh Gua ikut tertarik dan entahlah, model gerakan seperti apa yang ia peragakan hingga sedetik kemudian tangan kanan Gua di kunci, lalu kaki kanannya menjegal kaki Gua, lalu kemudian dia langsung membanting Gua kedepan.

Brukkk..

Gua mengaduh karena punggung Gua lumayan sakit, ditambah tangan kanan Gua masih dia pelintir.

"Aarghh..", Gua meringis ketika ibu jarinya menekan punggung tangan kanan Gua dengan kuat.

"Hei hei", Gua dengar suara Luna menghampiri kami.

Kemudian beberapa pegawai hotel datang menghampiri juga.

Gua bangun setelah Luna membantu Gua berdiri. Luna memegangi tangan kanan Gua dan dia menatap ke depan, kepada wanita yang membuat masalah itu.

"Kak Luna ?!", ucap wanita tersebut seraya terkejut melihat Luna.

"Helen ?!!".
Diubah oleh glitch.7 05-06-2017 01:59
dany.agus
fatqurr
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.