- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] Saat Senja Tiba
...
TS
gridseeker
[TAMAT] Saat Senja Tiba
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 333 suara
Siapa tokoh yang menurut agan paling layak dibenci / nyebelin ?
Wulan
20%
Shela
9%
Vino (TS)
71%
Diubah oleh gridseeker 04-07-2017 19:00
ezzasuke dan 32 lainnya memberi reputasi
33
1.4M
5.4K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gridseeker
#5217
Part 8
BRAKKK!!! Vino dengan keliatan emosi menggebrak meja kantin. Aku yang sejak tadi mendengarkan ceritanya spontan terkejut.
“Sabar Vin…. sabar… “ cuma itu yang bisa kuucapkan.
Aku menatap Vino dengan perasaan nggak karuan, antara sedih dan nggak percaya karena keduanya selama ini kelihatan begitu akur dan mesra, dan seolah nggak terpisahkan. Namun lebam di pipi kanan Vino merupakan bukti nyata atas cerita Vino barusan, meninggalkan sebuah rasa sakit. Tapi aku yakin, hati Vino pasti jauh lebih sakit.
“Aku sampai sekarang masih belum bisa mempercayai semua ini Lan !! Semuanya seperti mimpi !! Shela… ?! Kenapa ?! “ kata Vino meratap.
“Aku tahu aku pernah salah dan sering membuat dia sakit hati… tapi… “ kata Vino sambil menggelengkan kepala.
“Sama Vin. Aku juga sulit mempercayainya, karena aku juga tahu kalau Shela sangat mencintai kamu … “
Aku juga sampai spechless mendengar semua cerita Vino. Shela punya cowok lain ? Memang aku belum lama kenal sama Shela tapi aku sangat yakin kalau dia adalah cewek yang sangat baik.
“Udahlah, mungkin bener kata-kata kamu kemaren kalau selama ini ternyata selama ini aku sudah salah pilih. Shela cuma cewek matre yang menilai cowok dari hartanya aja. “ kata Vino dengan tatapan nanar sembari melihat keluar kantin.
“Tapi apa kamu bener-bener udah yakin … “ tanyaku dengan nada hati-hati.
“Maksud kamu apa sih ?! Aku melihat dengan mata kepala sendiri Lan !! Mereka bermesra-mesraan dan jelas-jelas cowok itu menyebut Shela sebagai pacarnya… “
“Yang bikin aku lebih sakit hati, dia juga mempermalukan aku di depan pacar barunya itu !! Aku hampir tiap hari nganter dan jemput dia ke sasana Karate, dan Rabu kemaren, aku bahkan nungguin dia latihan bareng seniornya sampai jam sembilan malam tapi dia malah menggunakan ilmu Karate-nya buat mukul aku !! Aku, Lan !! Orang yang sangat mencintai dia !! Yang selama ini selalu mensupport dia !! “ kata Vino bertubi-tubi dan makin emosi.
“Iya iya… “ aku berusaha menenangkan Vino. Baiklah biar Vino tenang mending jangan nyebut-nyebut Shela di depannya.
“Vin, aku ikut prihatin atas kejadian yang menimpa kalian berdua, dan aku juga nggak bisa komentar banyak, takutnya aku salah ngomong lagi. “ kataku lagi.
“Nggak papa Lan, kamu udah mau dengerin aja aku udah seneng banget. Makasih… “ jawab Vino dengan pelan.
“Hanya saja aku nggak mau kamu sedih lagi kayak di villa itu Vin. Apapun yang terjadi, kamu harus tegar karena disekelilingmu banyak temen dan keluarga yang akan sedih jika sesuatu menimpa dirimu. “ kataku berusaha menghibur Vino.
“Nggak !! Aku nggak akan sedih !! Buat apa aku harus sedih buat cewek hina macam dia ?! “ jawab Vino dengan nada marah.
“Iya iya aku tahu… yang penting kamu sekarang yang sabar ya. “ jawabku lagi.
Vino cuma mengangguk pelan, dan memang situasinya berbeda saat di villa. Kalau saat itu Vino begitu bersedih karena menyesal sekaligus merindukan Shela, sekarang di hatinya cuma ada kemarahan dan kebencian karena merasa dikhianati oleh gadis yang sangat dia cintai. Tapi, entahlah, aku seperti merasakan ada sesuatu yang nggak beres karena semua terjadi begitu cepat dan mendadak.
Sehabis kuliah, sekitar jam satu, aku memutuskan menyelinap dan pergi diam-diam dari kampus kemudian menuju ke jalan utama untuk memanggil taksi. HP-ku berbunyi sejak tadi tapi aku sengaja nggak menggubris karena aku yakin itu pasti Putri atau Citra yang kebingungan mencariku karena kami sebelumnya ada janjian mau jalan-jalan.
“Berapa pak ? “ tanyaku ke supir taksi yang mengantarku setelah kami sampai ke tempat tujuan.
“Tiga puluh ribu neng. “ jawabnya sambil menunjuk argometer.
Aku segera mengambil puluhan ribu tiga lembar dari dompet dan segera menyerahkan ke sopir tersebut.
“Makasih banyak ya neng. “ kata sopir taksi itu dan aku segera keluar dari mobil.
Aku lalu menatap sebuah rumah besar yang menjadi tujuanku, sebuah kos-kosan khusus cewek. Aku pernah maen kesini bersama Putri dan Citra beberapa hari lalu sehingga aku nggak sulit menemukannya. Semoga aja dia nggak pergi, tapi kalaupun pergi aku akan menunggunya sampai dia pulang.
Aku pun segera masuk ke dalam kos-kosan sampai di kamar yang aku tuju, aku lihat kamarnya tertutup rapat. Aduh celaka, ternyata dia beneran pergi, tapi kucoba mengetuknya dengan pelan.
"Ya masuk. " terdengar suara penghuninya, dan aku lega sekali.
Aku segera membuka pintu dan aku lihat dia lagi tiduran di ranjangnya. Melihat aku yang datang dia terlihat sangat terkejut.
"Mbak Wulan ?! "
"Halo Shel... " sapaku sambil tersenyum.
Tapi Shela nggak menjawab sapaanku dan cuma duduk termenung sambil memeluk guling. Dia menatapku dengan tatapan murung, seolah-olah nggak menginginkan kehadiranku. Tapi aku nggak peduli.
"Mbak Wulan mau apa kesini ? Kalau mau ngomongin Vino aku nggak mau !! " jawab Shela dengan ketus.
"Emang itu yang mau aku omongin. " jawabku sambil duduk di tepi ranjang.
"Aku sama Vino udah nggak ada hubungan apa-apa, buat apa dibahas lagi ? " tanya Shela.
"Aku tahu. Vino udah cerita semuanya ke aku. " jawabku seraya menatap jendela.
"Dan hubungan kalian sepertinya emang udah nggak bisa diselamatkan lagi. "
"Kalau gitu ngapain pakai dibahas segala ?! " jawab Shela lagi-lagi dengan ketus.
"Aku cuma pengen nanya ke kamu... "
"Nanya apa ?! " tanya Shela tanpa menoleh.
"Kenapa kamu melakukannya ? " tanyaku seraya menatap Shela.
"Melakukan apa ? Punya cowok lain gitu ?! Semua udah jelas kan dan pasti Vino udah menjelaskan semuanya. " kata Shela dengan nada tinggi.
"Bukan itu yang aku maksud Shel... " jawabku.
"Terus yang kamu maksud yang mana mbak ?! " tanya Shela semakin marah.
"Kamu nggak usah pura-pura nggak tahu Shel... " jawabku sambil terus menatap Shela.
"Aku bener-bener nggak tahu apa yang kamu maksud mbak ?! Kalau ngomong nggak usah muter-muter bisa nggak sih ?! " tanya Shela dengan nada semakin tinggi.
"Kalau gitu aku nanya siapa nama cowok baru kamu itu ? " tanyaku lagi.
"Namanya Niko... " jawab Shela pelan.
"Di HP-mu ada fotonya ? Boleh aku lihat ? Aku pengen tau orangnya kayak apa. " pintaku seraya mengadahkan tangan ke Shela, tapi dia keliatan bingung.
"Atau setidaknya kalian punya foto selfi berdua. Aku boleh lihat dong. " pintaku lagi seraya tersenyum penuh arti.
"Kami baru aja kenal jadi belum sempat foto-foto bareng. " jawab Shela pelan seraya membuang muka.
"Tapi kamu masih nyimpen fotonya Vino kan ? " tanyaku kemudian.
Mendengar pertanyaanku terakhir Shela cuma diem aja sambil menunduk memeluk guling. Aku pun beringsut mendekatinya.
"Makanya aku tadi nanya, kenapa kamu melakukan ini semua ? " tanyaku lagi sembari mendekatkan wajah ke Shela.
Shela kembali diem sambil tetap memeluk gulingnya erat-erat. Aku pun juga diem seraya menatapnya. Tapi nggak berapa lama matanya berkaca-kaca dan dia mulai terisak. Tiba-tiba dia memeluk aku dan benar aja, tangisnya kemudian pecah.
"Maafkan aku mbak... " kata Shela sembari menangis tersedu-sedu. Akupun balas memeluknya dan mengusap-usap rambutnya.
"Kamu nggak salah Shel... justru aku yang membuat kamu melakukan ini semua.. " jawabku dengan terbata-bata. Aku pun nggak kuasa menahan air mataku agar nggak meleleh.
Cukup lama Shela menangis di pelukanku, dan aku hanya bisa balas memeluknya dengan air mata yang berlinang juga. Lagi-lagi aku yang menjadi penyebab kedua orang yang saling mencintai ini harus kembali berpisah, dan dengan cara yang jauh lebih meyakitkan. Aku memang yang salah, seharusnya aku bisa menahan diri saat Vino malam itu datang menjenguk aku.
Setelah Shela agak tenang, aku melepaskan pelukanku dan menatap wajahnya yang masih berlinang air mata. Aku pun mencoba mengajaknya berbicara pelan-pelan.
"Jadi bener semua ini hanya sandiwara ? Kamu sebenarnya nggak punya cowok lain kan ? " tanyaku kemudian dan Shela cuma menggeleng pelan.
"Terus cowok itu siapa ? " tanyaku lagi.
"Dia temen kuliahku mbak. Dia awalnya nggak mau, terus aku bilang ke dia kalau Vino itu mantanku yang selalu menteror aku. " jawab Shela sembari sesenggukan.
"Ya ampun Shel... " kataku dengan pelan.
"Aku cuma pengen... kamu sama Vino bisa bersatu... " jawab Shela sembari sesenggukan.
"Tapi kenapa ? Vino sangat mencintai kamu dan kamu juga mencintai dia kan ? Nggak seharusnya kamu berbuat sebodoh itu sampai mengorbankan cinta kalian. " tanyaku lagi.
Shela nggak menjawab, dan cuma terdiam sesenggukan sambil sesekali menyeka air matanya yang terus membanjiri pipinya.
"Sekarang lebih baik kita temui Vino, dan kamu jelaskan semuanya... "
"Nggak mbak !! Nggak !! " potong Shela dengan cepat.
"Tolong, kamu jangan kasih tahu Vino tentang semua ini. Aku mohon mbak !! " kata Shela lagi sambil memegangi tanganku.
"Tapi aku nggak mau Vino salah paham Shel. Dia sekarang jadi benci banget sama kamu. " jawabku.
"Memang itu tujuanku mbak. " kata Shela.
"Tapi ini nggak bisa dibiarin Shel. " ternyata bener dugaanku, Shela sengaja membuat Vino membencinya, agar Vino nggak merasa sedih saat harus berpisah dari pacarnya tersebut.
"Aku tahu kamu masih sangat mencintai Vino mbak, dan aku yakin Vino dalam hatinya juga masih ada cinta sama kamu... " kata Shela.
"Jadi aku mohon, tolong jaga Vino. Kamu lebih pantas bersama Vino dibanding aku. " kata Shela lagi.
"Nggak Shel, ini nggak bener, aku nggak bisa... "
"Tolong mbak... aku mohon... " kata Shela dengan nada lirih seraya menatapku dengan mata sembab.
Shela kemudian memegang kedua tanganku dengan erat, dan kembali menangis tersedu-sedu. Aku cuma bisa menatapnya dengan tatapan nanar, aku memang masih mencintai Vino, dan dalam hati kecilku aku pengen bersama dia, tapi jelas bukan begini caranya.
"Aku nggak tahu Shel, Vino sekarang udah nggak ada perasaan apa-apa sama aku. Aku nggak yakin dia bisa menerima aku. " jawabku.
"Aku yakin dia masih sayang sama kamu mbak. Aku bisa merasakannya. Lagipula dia sekarang udah membenci aku, jadi aku yakin dia pasti mau menerima kamu lagi. " kata Shela.
"Kamu mau kan menuruti permintaanku ? " tanya Shela sembari menatapku.
Akupun mengangguk pelan dan Shela langsung tersenyum. Aku nggak tahu apakah itu senyum bahagia atau sedih, tapi aku memang nggak ada pilihan selain menyanggupinya. Shela lalu kembali memelukku.
"Makasih mbak... makasih... " kata Shela sembari terisak.
Akupun kembali balas memeluknya, nggak terasa air mata kembali berlinang membasahi pipiku. Kamu bener-bener gadis yang baik Shel...
"Dia bener-bener gadis yang baik, pa. " kataku seraya menatap Vino.
Mendengar semua ceritaku barusan, Vino hanya diam tertegun. Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya.
"Ah... semua itu hanya karangan buat menutupi semua perilakunya !! " jawab Vino kemudian.
"Tapi semua air matanya waktu itu bukan karangan pa. Itu merupakan air mata kesedihan karena harus berpisah dengan pria yang sangat dia cintai. " jawabku.
"Seharusnya aku nggak menceritakan semua ini ke kamu, karena Shela sendiri minta agar aku merahasiakannya sampai selama-lamanya. Tapi aku udah nggak tahan, apalagi melihat sikapmu ke Shela tadi sore. "
"Aku tahu dalam hati kecilmu, kamu ingin percaya padanya, hanya kamu gengsi buat mengakuinya. " kataku lagi dengan tersenyum.
"Jangan ngaco kamu ma !! Udah ah, aku mau tidur !! " jawab Vino ketus lalu berjalan menuju kamar.
Aku menatap jam dinding ruang tamu yang sudah menunjukkan jam sebelas malam. Seperti yang udah aku duga, meski aku sudah menceritakan semuanya, Vino masih sulit memaafkan Shela.
“Sabar Vin…. sabar… “ cuma itu yang bisa kuucapkan.
Aku menatap Vino dengan perasaan nggak karuan, antara sedih dan nggak percaya karena keduanya selama ini kelihatan begitu akur dan mesra, dan seolah nggak terpisahkan. Namun lebam di pipi kanan Vino merupakan bukti nyata atas cerita Vino barusan, meninggalkan sebuah rasa sakit. Tapi aku yakin, hati Vino pasti jauh lebih sakit.
“Aku sampai sekarang masih belum bisa mempercayai semua ini Lan !! Semuanya seperti mimpi !! Shela… ?! Kenapa ?! “ kata Vino meratap.
“Aku tahu aku pernah salah dan sering membuat dia sakit hati… tapi… “ kata Vino sambil menggelengkan kepala.
“Sama Vin. Aku juga sulit mempercayainya, karena aku juga tahu kalau Shela sangat mencintai kamu … “
Aku juga sampai spechless mendengar semua cerita Vino. Shela punya cowok lain ? Memang aku belum lama kenal sama Shela tapi aku sangat yakin kalau dia adalah cewek yang sangat baik.
“Udahlah, mungkin bener kata-kata kamu kemaren kalau selama ini ternyata selama ini aku sudah salah pilih. Shela cuma cewek matre yang menilai cowok dari hartanya aja. “ kata Vino dengan tatapan nanar sembari melihat keluar kantin.
“Tapi apa kamu bener-bener udah yakin … “ tanyaku dengan nada hati-hati.
“Maksud kamu apa sih ?! Aku melihat dengan mata kepala sendiri Lan !! Mereka bermesra-mesraan dan jelas-jelas cowok itu menyebut Shela sebagai pacarnya… “
“Yang bikin aku lebih sakit hati, dia juga mempermalukan aku di depan pacar barunya itu !! Aku hampir tiap hari nganter dan jemput dia ke sasana Karate, dan Rabu kemaren, aku bahkan nungguin dia latihan bareng seniornya sampai jam sembilan malam tapi dia malah menggunakan ilmu Karate-nya buat mukul aku !! Aku, Lan !! Orang yang sangat mencintai dia !! Yang selama ini selalu mensupport dia !! “ kata Vino bertubi-tubi dan makin emosi.
“Iya iya… “ aku berusaha menenangkan Vino. Baiklah biar Vino tenang mending jangan nyebut-nyebut Shela di depannya.
“Vin, aku ikut prihatin atas kejadian yang menimpa kalian berdua, dan aku juga nggak bisa komentar banyak, takutnya aku salah ngomong lagi. “ kataku lagi.
“Nggak papa Lan, kamu udah mau dengerin aja aku udah seneng banget. Makasih… “ jawab Vino dengan pelan.
“Hanya saja aku nggak mau kamu sedih lagi kayak di villa itu Vin. Apapun yang terjadi, kamu harus tegar karena disekelilingmu banyak temen dan keluarga yang akan sedih jika sesuatu menimpa dirimu. “ kataku berusaha menghibur Vino.
“Nggak !! Aku nggak akan sedih !! Buat apa aku harus sedih buat cewek hina macam dia ?! “ jawab Vino dengan nada marah.
“Iya iya aku tahu… yang penting kamu sekarang yang sabar ya. “ jawabku lagi.
Vino cuma mengangguk pelan, dan memang situasinya berbeda saat di villa. Kalau saat itu Vino begitu bersedih karena menyesal sekaligus merindukan Shela, sekarang di hatinya cuma ada kemarahan dan kebencian karena merasa dikhianati oleh gadis yang sangat dia cintai. Tapi, entahlah, aku seperti merasakan ada sesuatu yang nggak beres karena semua terjadi begitu cepat dan mendadak.
Sehabis kuliah, sekitar jam satu, aku memutuskan menyelinap dan pergi diam-diam dari kampus kemudian menuju ke jalan utama untuk memanggil taksi. HP-ku berbunyi sejak tadi tapi aku sengaja nggak menggubris karena aku yakin itu pasti Putri atau Citra yang kebingungan mencariku karena kami sebelumnya ada janjian mau jalan-jalan.
“Berapa pak ? “ tanyaku ke supir taksi yang mengantarku setelah kami sampai ke tempat tujuan.
“Tiga puluh ribu neng. “ jawabnya sambil menunjuk argometer.
Aku segera mengambil puluhan ribu tiga lembar dari dompet dan segera menyerahkan ke sopir tersebut.
“Makasih banyak ya neng. “ kata sopir taksi itu dan aku segera keluar dari mobil.
Aku lalu menatap sebuah rumah besar yang menjadi tujuanku, sebuah kos-kosan khusus cewek. Aku pernah maen kesini bersama Putri dan Citra beberapa hari lalu sehingga aku nggak sulit menemukannya. Semoga aja dia nggak pergi, tapi kalaupun pergi aku akan menunggunya sampai dia pulang.
Aku pun segera masuk ke dalam kos-kosan sampai di kamar yang aku tuju, aku lihat kamarnya tertutup rapat. Aduh celaka, ternyata dia beneran pergi, tapi kucoba mengetuknya dengan pelan.
"Ya masuk. " terdengar suara penghuninya, dan aku lega sekali.
Aku segera membuka pintu dan aku lihat dia lagi tiduran di ranjangnya. Melihat aku yang datang dia terlihat sangat terkejut.
"Mbak Wulan ?! "
"Halo Shel... " sapaku sambil tersenyum.
Tapi Shela nggak menjawab sapaanku dan cuma duduk termenung sambil memeluk guling. Dia menatapku dengan tatapan murung, seolah-olah nggak menginginkan kehadiranku. Tapi aku nggak peduli.
"Mbak Wulan mau apa kesini ? Kalau mau ngomongin Vino aku nggak mau !! " jawab Shela dengan ketus.
"Emang itu yang mau aku omongin. " jawabku sambil duduk di tepi ranjang.
"Aku sama Vino udah nggak ada hubungan apa-apa, buat apa dibahas lagi ? " tanya Shela.
"Aku tahu. Vino udah cerita semuanya ke aku. " jawabku seraya menatap jendela.
"Dan hubungan kalian sepertinya emang udah nggak bisa diselamatkan lagi. "
"Kalau gitu ngapain pakai dibahas segala ?! " jawab Shela lagi-lagi dengan ketus.
"Aku cuma pengen nanya ke kamu... "
"Nanya apa ?! " tanya Shela tanpa menoleh.
"Kenapa kamu melakukannya ? " tanyaku seraya menatap Shela.
"Melakukan apa ? Punya cowok lain gitu ?! Semua udah jelas kan dan pasti Vino udah menjelaskan semuanya. " kata Shela dengan nada tinggi.
"Bukan itu yang aku maksud Shel... " jawabku.
"Terus yang kamu maksud yang mana mbak ?! " tanya Shela semakin marah.
"Kamu nggak usah pura-pura nggak tahu Shel... " jawabku sambil terus menatap Shela.
"Aku bener-bener nggak tahu apa yang kamu maksud mbak ?! Kalau ngomong nggak usah muter-muter bisa nggak sih ?! " tanya Shela dengan nada semakin tinggi.
"Kalau gitu aku nanya siapa nama cowok baru kamu itu ? " tanyaku lagi.
"Namanya Niko... " jawab Shela pelan.
"Di HP-mu ada fotonya ? Boleh aku lihat ? Aku pengen tau orangnya kayak apa. " pintaku seraya mengadahkan tangan ke Shela, tapi dia keliatan bingung.
"Atau setidaknya kalian punya foto selfi berdua. Aku boleh lihat dong. " pintaku lagi seraya tersenyum penuh arti.
"Kami baru aja kenal jadi belum sempat foto-foto bareng. " jawab Shela pelan seraya membuang muka.
"Tapi kamu masih nyimpen fotonya Vino kan ? " tanyaku kemudian.
Mendengar pertanyaanku terakhir Shela cuma diem aja sambil menunduk memeluk guling. Aku pun beringsut mendekatinya.
"Makanya aku tadi nanya, kenapa kamu melakukan ini semua ? " tanyaku lagi sembari mendekatkan wajah ke Shela.
Shela kembali diem sambil tetap memeluk gulingnya erat-erat. Aku pun juga diem seraya menatapnya. Tapi nggak berapa lama matanya berkaca-kaca dan dia mulai terisak. Tiba-tiba dia memeluk aku dan benar aja, tangisnya kemudian pecah.
"Maafkan aku mbak... " kata Shela sembari menangis tersedu-sedu. Akupun balas memeluknya dan mengusap-usap rambutnya.
"Kamu nggak salah Shel... justru aku yang membuat kamu melakukan ini semua.. " jawabku dengan terbata-bata. Aku pun nggak kuasa menahan air mataku agar nggak meleleh.
Cukup lama Shela menangis di pelukanku, dan aku hanya bisa balas memeluknya dengan air mata yang berlinang juga. Lagi-lagi aku yang menjadi penyebab kedua orang yang saling mencintai ini harus kembali berpisah, dan dengan cara yang jauh lebih meyakitkan. Aku memang yang salah, seharusnya aku bisa menahan diri saat Vino malam itu datang menjenguk aku.
Setelah Shela agak tenang, aku melepaskan pelukanku dan menatap wajahnya yang masih berlinang air mata. Aku pun mencoba mengajaknya berbicara pelan-pelan.
"Jadi bener semua ini hanya sandiwara ? Kamu sebenarnya nggak punya cowok lain kan ? " tanyaku kemudian dan Shela cuma menggeleng pelan.
"Terus cowok itu siapa ? " tanyaku lagi.
"Dia temen kuliahku mbak. Dia awalnya nggak mau, terus aku bilang ke dia kalau Vino itu mantanku yang selalu menteror aku. " jawab Shela sembari sesenggukan.
"Ya ampun Shel... " kataku dengan pelan.
"Aku cuma pengen... kamu sama Vino bisa bersatu... " jawab Shela sembari sesenggukan.
"Tapi kenapa ? Vino sangat mencintai kamu dan kamu juga mencintai dia kan ? Nggak seharusnya kamu berbuat sebodoh itu sampai mengorbankan cinta kalian. " tanyaku lagi.
Shela nggak menjawab, dan cuma terdiam sesenggukan sambil sesekali menyeka air matanya yang terus membanjiri pipinya.
"Sekarang lebih baik kita temui Vino, dan kamu jelaskan semuanya... "
"Nggak mbak !! Nggak !! " potong Shela dengan cepat.
"Tolong, kamu jangan kasih tahu Vino tentang semua ini. Aku mohon mbak !! " kata Shela lagi sambil memegangi tanganku.
"Tapi aku nggak mau Vino salah paham Shel. Dia sekarang jadi benci banget sama kamu. " jawabku.
"Memang itu tujuanku mbak. " kata Shela.
"Tapi ini nggak bisa dibiarin Shel. " ternyata bener dugaanku, Shela sengaja membuat Vino membencinya, agar Vino nggak merasa sedih saat harus berpisah dari pacarnya tersebut.
"Aku tahu kamu masih sangat mencintai Vino mbak, dan aku yakin Vino dalam hatinya juga masih ada cinta sama kamu... " kata Shela.
"Jadi aku mohon, tolong jaga Vino. Kamu lebih pantas bersama Vino dibanding aku. " kata Shela lagi.
"Nggak Shel, ini nggak bener, aku nggak bisa... "
"Tolong mbak... aku mohon... " kata Shela dengan nada lirih seraya menatapku dengan mata sembab.
Shela kemudian memegang kedua tanganku dengan erat, dan kembali menangis tersedu-sedu. Aku cuma bisa menatapnya dengan tatapan nanar, aku memang masih mencintai Vino, dan dalam hati kecilku aku pengen bersama dia, tapi jelas bukan begini caranya.
"Aku nggak tahu Shel, Vino sekarang udah nggak ada perasaan apa-apa sama aku. Aku nggak yakin dia bisa menerima aku. " jawabku.
"Aku yakin dia masih sayang sama kamu mbak. Aku bisa merasakannya. Lagipula dia sekarang udah membenci aku, jadi aku yakin dia pasti mau menerima kamu lagi. " kata Shela.
"Kamu mau kan menuruti permintaanku ? " tanya Shela sembari menatapku.
Akupun mengangguk pelan dan Shela langsung tersenyum. Aku nggak tahu apakah itu senyum bahagia atau sedih, tapi aku memang nggak ada pilihan selain menyanggupinya. Shela lalu kembali memelukku.
"Makasih mbak... makasih... " kata Shela sembari terisak.
Akupun kembali balas memeluknya, nggak terasa air mata kembali berlinang membasahi pipiku. Kamu bener-bener gadis yang baik Shel...
"Dia bener-bener gadis yang baik, pa. " kataku seraya menatap Vino.
Mendengar semua ceritaku barusan, Vino hanya diam tertegun. Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya.
"Ah... semua itu hanya karangan buat menutupi semua perilakunya !! " jawab Vino kemudian.
"Tapi semua air matanya waktu itu bukan karangan pa. Itu merupakan air mata kesedihan karena harus berpisah dengan pria yang sangat dia cintai. " jawabku.
"Seharusnya aku nggak menceritakan semua ini ke kamu, karena Shela sendiri minta agar aku merahasiakannya sampai selama-lamanya. Tapi aku udah nggak tahan, apalagi melihat sikapmu ke Shela tadi sore. "
"Aku tahu dalam hati kecilmu, kamu ingin percaya padanya, hanya kamu gengsi buat mengakuinya. " kataku lagi dengan tersenyum.
"Jangan ngaco kamu ma !! Udah ah, aku mau tidur !! " jawab Vino ketus lalu berjalan menuju kamar.
Aku menatap jam dinding ruang tamu yang sudah menunjukkan jam sebelas malam. Seperti yang udah aku duga, meski aku sudah menceritakan semuanya, Vino masih sulit memaafkan Shela.
Diubah oleh gridseeker 04-06-2017 02:47
jenggalasunyi dan 4 lainnya memberi reputasi
3
![[TAMAT] Saat Senja Tiba](https://s.kaskus.id/images/2017/05/28/9056684_20170528125804.jpg)
Setelah sekian lama jadi SR di forum SFTH ane memberanikan menyusun cerita ini. Sebenarnya cerita ini sudah lama ane pendam bertahun-tahun, meski begitu cerita ini sempat ane posting disini pake ID lain tapi dalam format plesetan komedi karena ane nggak PD kalau membikin versi real/sesungguhnya.
Pokoknya just enjoy the story hehe biar sama-sama enak
Dan karena ane masih nubi disini mohon maaf jika terjadi banyak kesalahan ya gan