- Beranda
- Stories from the Heart
Black Part Of Woman
...
TS
anism
Black Part Of Woman
Spoiler for Peringatan:
Spoiler for Anissa : Aku Bukan pramuria:
Spoiler for Ibu?!:
Spoiler for I Must Found a Father for You:
Wanita itu unik. Karena itu perlakuan terhadap mereka pun berbeda-beda dan spesial.
mereka selalu punya cerita menarik yang pantas disimak
Anism & (edit by) Fanzangela
Diubah oleh anism 30-05-2019 11:43
devarisma04 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
48.2K
379
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#147
Bima
Semua terasa sangat indah. Ario, Anissa dan Luna telah menjadi sangat akrab. Mereka sering menghabiskan akhir minggu bersama-sama. Luna dan Ario bekerja sama memperoleh pinjaman dari sebuah bank.
Dengan adanya jaminan dari mama Anissa, Ario berhasil memperoleh modal. Dia memulai sebuah usaha baru yaitu menjual tato dan lukisan.
“Yo, aku baru tahu kalau kamu juga bisa melukis.”, decak Anissa kagum. Ario tersenyum malu.
“Aku sudah bilang padanya kalau dia bisa menyeriusi kemampuannya di bidang melukis. Tapi, begitulah Ario. Keras kepala. Dia lebih suka menato.”, ujar Luna.
Anissa tersenyum dan mengangguk mengiyakan kata-kata Luna.
“Oh ya. Ini mau disimpan dimana?”, tanya Anissa.
“Di situ saja. Sini aku yang gantung.”, Ario mengambil sebuah gantungan lukisan dari tangan Anissa.
Tiba-tiba handphone Luna berdering.
“Siapa ini?”, Luna melihat layar handphonenya. Ario dan Anissa serentak terdiam dan menoleh ke Luna.
“Sepertinya ini fansku. Ada banyak yang suka meminta no hpku.”, ujar Luna sambil tertawa. Ario cuma menggeleng-gelengkan kepala dan Anissa tersenyum.
“Halo, siapa ya?”, Luna berbicara dengan gaya khasnya yang mendesah-desah.
Sekejap muka Luna menjadi serius. Ario mau beranjak tapi Luna malah menjauh. Anissa menatap Ario dengan pandangan bertanya, Ario hanya mengangkat bahu. Kembali melihat-lihat posisi yang tepat untuk menggantung lukisan itu.
“Kenapa kamu tiba-tiba menghubungi aku?!”, nada Luna menjadi tinggi.
“Selama ini kamu ke mana saja?”
“Oh, jangan kesini lagi! Dia sudah punya kehidupan sendiri. Sekarang kamu urus dirimu sendiri, dia juga akan mengurus hidupnya sendiri. Dari awal kamu yang memilih jalan hidup berbeda darinya. Paham kamu?!”, Luna kelihatan sangat marah dan mematikan handphonenya.
“Siapa, Lun? Papanya Bima?”, tanya Ario.
“Bima?”, Anissa tidak tahu menahu.
“Bima itu anaknya Luna.”, Ario menjelaskan.
Luna terdiam dan menatap Ario kemudian Anissa. Pandangannya seperti menimbang-nimbang. Dahinya berkerut.
Semua terasa sangat indah. Ario, Anissa dan Luna telah menjadi sangat akrab. Mereka sering menghabiskan akhir minggu bersama-sama. Luna dan Ario bekerja sama memperoleh pinjaman dari sebuah bank.
Dengan adanya jaminan dari mama Anissa, Ario berhasil memperoleh modal. Dia memulai sebuah usaha baru yaitu menjual tato dan lukisan.
“Yo, aku baru tahu kalau kamu juga bisa melukis.”, decak Anissa kagum. Ario tersenyum malu.
“Aku sudah bilang padanya kalau dia bisa menyeriusi kemampuannya di bidang melukis. Tapi, begitulah Ario. Keras kepala. Dia lebih suka menato.”, ujar Luna.
Anissa tersenyum dan mengangguk mengiyakan kata-kata Luna.
“Oh ya. Ini mau disimpan dimana?”, tanya Anissa.
“Di situ saja. Sini aku yang gantung.”, Ario mengambil sebuah gantungan lukisan dari tangan Anissa.
Tiba-tiba handphone Luna berdering.
“Siapa ini?”, Luna melihat layar handphonenya. Ario dan Anissa serentak terdiam dan menoleh ke Luna.
“Sepertinya ini fansku. Ada banyak yang suka meminta no hpku.”, ujar Luna sambil tertawa. Ario cuma menggeleng-gelengkan kepala dan Anissa tersenyum.
“Halo, siapa ya?”, Luna berbicara dengan gaya khasnya yang mendesah-desah.
Sekejap muka Luna menjadi serius. Ario mau beranjak tapi Luna malah menjauh. Anissa menatap Ario dengan pandangan bertanya, Ario hanya mengangkat bahu. Kembali melihat-lihat posisi yang tepat untuk menggantung lukisan itu.
“Kenapa kamu tiba-tiba menghubungi aku?!”, nada Luna menjadi tinggi.
“Selama ini kamu ke mana saja?”
“Oh, jangan kesini lagi! Dia sudah punya kehidupan sendiri. Sekarang kamu urus dirimu sendiri, dia juga akan mengurus hidupnya sendiri. Dari awal kamu yang memilih jalan hidup berbeda darinya. Paham kamu?!”, Luna kelihatan sangat marah dan mematikan handphonenya.
“Siapa, Lun? Papanya Bima?”, tanya Ario.
“Bima?”, Anissa tidak tahu menahu.
“Bima itu anaknya Luna.”, Ario menjelaskan.
Luna terdiam dan menatap Ario kemudian Anissa. Pandangannya seperti menimbang-nimbang. Dahinya berkerut.
Diubah oleh anism 01-06-2017 20:57
0