- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#5083
PART 79
"Jadi alasan kamu yang sebenarnya pergi dari Indonesia untuk melupakan sakit karena 'ditinggalkan'orang-orang yang kamu sayangi ?", tanya Kimiko setelah Gua selesai menceritakan kenapa Gua mengunjunginya.
"Direnggut, bukan ditinggalkan...", jawab Gua memberi penekanan,
"Bagaimanapun aku gak akan pernah bisa ngelupain semuanya. Aku ngerasa Tuhan udah gak adil memberikan semua ujian ini", lanjut Gua lirih seraya menggelengakn kepala dan tertunduk.
"Agatha-san... Kamu masih bisa tersenyumkan ? Menurut aku, itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa kamu mampu melewati semuanya..", Kimiko mengusap punggung tangan Gua lalu tersenyum.
"Kimiko, apa yang kamu lihat dari mata kamu bukanlah perasaan aku yang sebenarnya... Aku terlihat kuat dari luar, tapi nyatanya.. Aku rapuh di dalam sini..", jawab Gua sambil menepuk dada ini.
Kimiko beringsut mendekati Gua, lalu satu tangannya memegang pundak Gua, kemudian tersenyum. "Percaya dengan kebaikan Tuhan Agatha-san.. Yakinlah dengan kebaikan Tuhan yang kamu yakini..", ucapnya.
Gua menaikkan ujung bibir, lalu menggelengkan kepala cepat. "I don't believe in God... He takes my precious one, he takes my lovely daughter, he takes my mother and my father.. He takes everythings from me.. He takes all i love.. So, i don't trust him anymore...", Gua menitikan airmata dan pundak Gua pun bergetar.
Kimiko membenarkan posisi duduknya, kini dia duduk lurus menghadap Gua. "Kalau kamu tidak percaya dengan apa yang kamu yakini sekarang, aku hanya bisa memberikan saran ke kamu, 'Berdamailah dengan masa lalu, berdamailah dengan hati dan fikiran negatif kamu, bukan berarti mengalah.. Aku yakin kamu faham maksud ku Agatha-san'..", Kimiko tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit lalu tangan kanannya mengusap dada Gua.
どうもありがとうございました, Kimiko-san.
"Direnggut, bukan ditinggalkan...", jawab Gua memberi penekanan,
"Bagaimanapun aku gak akan pernah bisa ngelupain semuanya. Aku ngerasa Tuhan udah gak adil memberikan semua ujian ini", lanjut Gua lirih seraya menggelengakn kepala dan tertunduk.
"Agatha-san... Kamu masih bisa tersenyumkan ? Menurut aku, itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa kamu mampu melewati semuanya..", Kimiko mengusap punggung tangan Gua lalu tersenyum.
"Kimiko, apa yang kamu lihat dari mata kamu bukanlah perasaan aku yang sebenarnya... Aku terlihat kuat dari luar, tapi nyatanya.. Aku rapuh di dalam sini..", jawab Gua sambil menepuk dada ini.
Kimiko beringsut mendekati Gua, lalu satu tangannya memegang pundak Gua, kemudian tersenyum. "Percaya dengan kebaikan Tuhan Agatha-san.. Yakinlah dengan kebaikan Tuhan yang kamu yakini..", ucapnya.
Gua menaikkan ujung bibir, lalu menggelengkan kepala cepat. "I don't believe in God... He takes my precious one, he takes my lovely daughter, he takes my mother and my father.. He takes everythings from me.. He takes all i love.. So, i don't trust him anymore...", Gua menitikan airmata dan pundak Gua pun bergetar.
Kimiko membenarkan posisi duduknya, kini dia duduk lurus menghadap Gua. "Kalau kamu tidak percaya dengan apa yang kamu yakini sekarang, aku hanya bisa memberikan saran ke kamu, 'Berdamailah dengan masa lalu, berdamailah dengan hati dan fikiran negatif kamu, bukan berarti mengalah.. Aku yakin kamu faham maksud ku Agatha-san'..", Kimiko tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit lalu tangan kanannya mengusap dada Gua.
どうもありがとうございました, Kimiko-san.
***
Maret 2009
Gua berjongkok sambil menyandarkan punggung ke tembok dibelakang, nafas Gua terengah-engah, butiran keringat yang sudah membasahi kening ini akhirnya menetes dan jatuh ke jalanan ketika tertahan oleh alis Gua. Satu demi satu tetesan keringat membasahi jalanan, Gua menatap kebawah, kepada tiap jejak tetesan keringat yang berada disana.
Kemudian Gua membalikan telapak tangan, menatapnya bergantian kanan dan kiri. Tubuh Gua bergerak naik turun perlahan karena jantung Gua masih berdegup cukup kencang, dan sekarang semakin kacau fikiran dalam otak ini akibat warna merah pekat yang melumuri kedua tangan Gua sendiri. Gua terduduk, dan menyandarkan kepala ke tembok lalu menengadah sambil memejamkan mata, mengatur nafas perlahan, menghirup udara malam di gang yang sempit ini.
Kriiitt...Suara pintu di depan kanan Gua terbuka.
Secepat kilat kedua tangan Gua kembali meraih double kodachi yang tergeletak di hadapan Gua lalu berdiri dan menunggu seseorang yang keluar dari pintu tersebut.
Seorang lelaki terhuyung seraya memegangi perutnya, lelaki itu yang bertemu dengan Gua sejam yang lalu di dalam Pub, dan Gua 'memberikan salam' dari Paman Hiroshi untuknya lewat double kodachi ini.
Dia berjalan perlahan keluar dari pintu itu, lalu sedetik kemudian, Bruk... terjatuh, wajahnya menyamping di atas tanah dan kedua matanya menatap Gua tanpa berkedip.
Gua menelan ludah, kedua tangan yang masih memegang double kodachi Gua posisikan kedepan, memasang kuda-kuda agar bisa merespon dengan cepat jika terjadi serangan secara tiba-tiba.
Sebuah derap langkah kaki yang cukup cepat terdengar dari tempat Gua berdiri, lalu tidak lama seorang lelaki berumur dua puluh lima tahun keluar dari pintu itu sambil melompati lelaki yang masih telengkup di depan Gua.
"Agatha-kun! Ayo lariii... Lariii..", teriak lelaki yang tadi melompat sambil menarik tangan Gua ketika dirinya sudah melintas di samping kanan Gua.
Sebelum Gua membalikkan tubuh, sekilas Gua melirik ke arah lelaki yang masih telengkup, tatapan matanya kosong, dan dari balik tubuhnya, warna merah gelap mengalir membasahi jalanan disekitar tubuhnya.
Gua berlari mengikuti lelaki yang menarik tangan Gua tadi, dia satu meter berada di depan, kami berdua meninggalkan lokasi belakang sebuah Pub. Semakin jauh kami berlari ternyata semakin banyak orang-orang yang ikut berlari di belakang kami, dan sayangnya ini bukanlah olahraga di malam hari, melainkan Gua dan lelaki yang berlari di depan Gua itu adalah incaran orang-orang di belakang sana.
Jika Gua tidak mempunyai stamina yang cukup kuat, nyawa taruhannya, ya ini semua bukan main-main, walaupun organisasi mengatakan bahwa inilah 'permainan' mereka. HoliSyit!!!
Setelah beratus meter kami berlari, kami berdua akhirnya sampai di sebuah gedung yang belum selesai dibangun, gedung yang tampak tidak terawat dengan banyaknya tong berkarat dan juga letak basement ini yang belum jadi. Gua dan teman lelaki tadi terengah-engah, mengatur nafas dan melihat kebelakang. Entah ada berapa orang yang masih berlari mengejar kami berdua, kalau Gua perkirakan mungkin ada sekitar dua puluh orang banyaknya, walaupun Gua tidak yakin jumlah pastinya. Dan lebih dari itu, setiap lelaki itu memegang senjata. Yang tajam, yang tumpul hingga rantai besi, sekalipun tidak ada yang memegang senpi, tapi tetap saja ini semua mempertaruhkan nyawa. Dua orang melawan dua puluh orang, perbandingan gila dalam sebuah pertarungan, ah lebih tepat disebut dengan sebuah pembantaiaan.
Kedua puluh (anggap saja jumlahnya sebanyak itu) lelaki itu sudah terlihat menuruni tangga basement. Kemudian sebuah pintu dibelakang kami terbuka, pintu besi yang memiliki keamanan kunci dengan menggunakan kode angka.
"Wah selamat juga rupanya kalian berdua", ucap seorang pria paruh baya yang melangkah keluar dari balik pintu itu,
"Ooh.. Rupanya kalian membawa calon korban ke sini, bagus bagus", lelaki ini melirik kearah depan sana, kepada kedua puluh orang yang sudah semakin dekat,
"Oke mulai dari sini, biar saya yang selesaikan... Tamada, ajak masuk Agatha-kun ke dalam", perintahnya kepada lelaki yang berlari bersama Gua tadi.
"Terima kasih Tuan Arashi..",
"Ayo Agatha-kun kita masuk", ajak Tamada seraya menarik bahu Gua.
Kami berdua melewati segerombolan orang-orang yang berjalan keluar dari dalam. Banyak, banyak sekali orang yang keluar dengan sajam di tangan mereka masing-masing, dan sebelum pintu tertutup, Gua menengok lagi, melihat sekilas pertempuran atau sama saja dengan sebuah tawuran, yang baru dimulai di luar sana.
Gua membuka jas hitam yang Gua kenakan, lalu menggulung lengan kemeja hingga sebatas siku. Kemudian Gua mencuci tangan di wastafel dalam toilet, mencoba membersihkan sisa noda merah pekat yang mulai mengering pada kedua tangan Gua. Selesai mencuci tangan dengan cukup lama, Gua keluar dari toilet dan duduk di atas sofa berwarna coklat.
Gedung tua yang tidak terpakai ini ternyata adalah sebuah markas, markas bagi satu kelompok organisasi. Tidak pernah terfikirkan di benak Gua bahwa apa yang biasanya hanya bisa Gua lihat dan khayalkan pada sebuah film gangster, sekarang malah Gua alami sendiri.
Di lantai basement ini terdapat sebuah pintu besi yang baru saja Gua masuki bersama Tamada beberapa menit yang lalu, tentunya dengan akses yang tidak biasa. Dan dari pintu itulah apa yang nampak dari luar gedung yang kumuh ini tidak mencerminkan fasilitas yang sebenarnya. Di tempat Gua berada sekarang, lebih terlihat seperti sebuah tempat hiburan malam. Ada musiknya, bukan genre techno, melainkan hanya sebuah musik klasik, musik instrumental, belum lagi cahaya ruangan di dalam sini berwarna biru yang bercampur putih, miriplah dengan sebuah tempat ajeb-ajeb di Jakarta. Lalu ada beberapa meja untuk 'tamu' dengan sofa yang mahal dan mewah. Kemudian lengkap dengan lounge Bar beserta rak minuman berikut para bartendernya, dan ehm... Pramusajinya semua wanita, ya wanita asli dari negara matahari terbit ini, yang mana pakaian kerja mereka teramat sangat super duper wow icik iwir seksi abis bis bis bissss... Ngiler-ngiler Lu semua kalo liat langsung Gais. Jojo tegak berdiri terus disuguhi pemandangan yang biasanya cuma bisa Gua tonton dari laptop atau hp format mp4. Lah ini malah asli depan mata Gua, bukan depan mata dan terhalang layar laptop atau hp, bisa disentuh secara fisik, bukan secara virtual. Sempit we calana aing euy....
Btw, Gak usah komen nanyain kayak film Jav apa Za, Gua jawab langsung, custom ala-ala bunny girls. Sekali lagi, ndak perlu komenin paragraf ini!!!
Lantai dua lebih diperuntukkan untuk tamu kehormatan atau orang yang memiliki jabatan tinggi di organisasi ini, tidak semua orang bisa diizinkan naik ke lantai dua, walaupun kita yang berada di lantai satu masih bisa melihat mereka-mereka yang berada di lantai dua sana. Gua ambil kesimpulan bahwa di lantai dua khusus tempat untuk membahas 'pekerjaan' organisasi yang hanya melibatkan orang-orang penting di sini. Bukan untuk orang seperti Gua yang hanya selevel kadal
Kembali Gua duduk di sofa, tepat di sebelah Tamada yang sudah menghabiskan sepuluh gelas minuman beralkohol.
"Oii Agatha-kun! Ayo mari minum, kamu perlu bersantai sejenak agar tidak trauma dengan tugas kita tadi, hahahahaha.. Ayo ayo mari minum Agatha-kun!", kelakarnya seraya menepuk bahu Gua dengan cukup keras.
Gua dan Tamada beserta beberapa 'kawan' di meja nomor dua puluh satu ini kembali menikmati malam dengan 'little party' setelah selesai melaksanakan 'tugas' dari organisasi.
Februari Gua datang ke negara ini untuk melepaskan juga melupakan kepahitan serta rasa sakit karena merasa terenggut, Gua ingin memulai semuanya di sini. Melupakan segala duka, bukan melupakan kenangan manis ketika masih bersama Echa dan Jingga. Dan sekarang sudah bulan Maret, satu bulan berlalu dengan segala kejutan-kejutan yang Gua alami bersama Paman Hiroshi. Ya, hari kedua di negara ini Gua sudah harus menyaksikan dirinya ternyata adalah salah satu 'devil' berwujud manusia. Setelah Gua dan Paman Hiroshi melewati malam penuh kekejaman di kota Otaru, semakin ke sini Gua semakin di doktrin agar Gua mengikuti jejaknya. And this is me, I'm here... With all fvckin trouble... Gatdemit!!!
Gua hanya meminum sedikit sake dan berdiri dari duduk kemudian berjalan ke tempat lain, Gua memilih berdiri di dekat toilet dan menghisap lintingan sendirian.
Perlahan namun pasti, hati kecil Gua mengingatkan bahwa apa yang Gua jalani di sini bukanlah keinginan dan harapan yang Gua cari. Mau berapa nyawa lagi yang harus melayang. Gua masih berdiri dan melamunkan hal-hal yang sudah Gua alami satu bulan terakhir di sini. Malam ini sudah malam ke delapan untuk Gua 'membasuh tangan dari warna merah pekat' setelah seorang lelaki dalam daftar organisasi diberikan kepada Gua dan Tamada. Dan ya seperti awal cerita di atas, begitulah 'permainan' yang tidak perlu Gua jelaskan secara detail, karena ini semua merupakan sebuah kriminalitas.
Gua menggelengkan kepala pelan lalu mengusap-usap wajah untuk 'sekedar' membohongi diri bahwa semua ini hanya mimpi buruk. Karena hampir setiap malam kehidupan baru Gua hanya begini, berpesta, dan mengkonsumsi barang terlarang.
Gua mematikan lintingan dan membuangnya ke tong sampah, baru saja Gua berbalik badan dan hendak berjalan, seorang wanita yang cukup memiliki tinggi di atas rata-rata orang asia sudah berdiri di hadapan Gua.
"Hai Agatha-san.. Kamu tidak apa-apa kan tadi ?", tanyanya ramah sambil tersenyum dengan mata yang semakin menyipit karena memang sudah sipit.
Gua menggelengkan kepala pelan kepadanya. "Tidak apa-apa Rin.. Ah ehm.. Aku pergi dulu ya, rasanya kepala aku sedikit pusing dan badan juga lelah...", Gua berjalan melewati Rin.
"Hei.. Let me help you Agatha-san", Rin tersenyum ketika Gua menengok lagi kepadanya. Lalu dia meneguk white wine pada gelas wine yang memang dia pegang sedari tadi.
...
Gua terbangun ketika Gua rasakan ada sesuatu yang menggelitik perut ini. Gua mengucek mata dengan kedua jari tangan lalu membuka mata perlahan, Gua melirik kebawah.
"Rin ? What are you doing ?", tanya Gua.
Rin melirikan matanya kepada Gua, tapi lidahnya masih asyik menari di atas perut Gua itu, lalu dia tersenyum nakal, nakal sekali. Lalu semakin turun kebawah dan voila... IYKWIM.
Btw, expert si Rin ini, padahal ehm, First-nya Gua yang ambil uhuk. Belajar dengan baik dan menangkap pelajaran dengan cepat rupanya kamu Rin.
Rin, adalah seorang wanita yang Gua kenal baru satu minggu yang lalu. Semenjak Gua sering dibawa ke tempat organisasi oleh Paman Hiroshi, dan awalnya Gua dikenalkan oleh Tamada kepada Rin. Tamada sendiri adalah seorang lelaki yang sudah lama berkecimpung di dalam organisasi ini, dan Rin adalah, ehm.. He's Lil' Sister, eighteen year olds Gais... Like a bluetooth find 'a new device'... Hmmm, oke stop, nanti yang punya Trit ngamuk lagi gara-gara kelakuan ngawur kalian.. Eh Gua.
Dan bangun pagi juga terkadang siang bersama Rin di samping Gua sudah sering kami lakukan, di atas ranjang yang sama, sama-sama tidak mengenakan pakaian, sama-sama lelah semalaman, sama-sama nikmat, sama-sama hanya terbalut selimut putih untuk menutupi tubuh dari dinginnya pendingin ruangan kamarnya ini, kami berpacu lagi dalam melodi, melodi rintihan ikeh kimochi... Yep, i mean morning s3x.
"Hah.. Hah.. Huufttt.. Agatha-san, can you bring some water for me, please", ucap Rin seraya menyeuka keringat di keningnya.
"Wait a second..", Gua bangkit dari atas tubuhnya setelah melepaskan Jotha.
"Aaah... Aww.. Hahaha.. Don't do that again Agatha-san!", Rin meringis karena tetiba saja Jotha Gua lepaskan dari JeRin nya, lalu dia terkekeh pelan.
Gua kembali dengan segelas air mineral dan duduk di sisi ranjang, tepat di sampingnya yang sedang terduduk dengan menyandarkan punggungnya ke dinding kamar.
"Thank you Agatha-san..", ucap Rin setelah meminum setengah gelas air mineral tersebut.
Gua tersenyum lalu menerima gelas itu dan Gua taruh di atas meja dekat kasur. Gua menatapnya dan mengecup keningnya.
"Agatha-san... I Lov.. Emmhh..".
Gua memotong ucapannya dengan memagut bibirnya. "Muaahh.. Cupp..", Rin memundurkan wajahnya dan tersipu malu.
Kedua tangannya masih berada di atas bahu ini, lalu dilingkarkan ke belakang tengkuk Gua, kini wajahnya menengadah sedikit dan mendekati wajah Gua. Kening kami menempel, sangat dekat jarak wajah kami, hingga bisa Gua rasakan deru nafasnya yang lembut. Kedua mata kami sama-sama terpejam, lalu Gua dengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. Awalnya Gua nyaris terkekeh atas apa yang ia katakan, tapi Gua tidak jadi tertawa, karena sedetik kemudian Gua bisa merasakan tubuhnya sedikit bergetar dan suaranya berubah menjadi isak tangis.
Maaf Rin, aku enggak bisa menyambut perasaan kamu, sekalipun waktu itu kamu merelakan semuanya dan memilih untuk tinggal bersama ku di manapun aku tinggal. Aku rasa kamu gak akan bahagia Rin... Aku sudah ceritakan alasan apa yang saat itu masih menjadi pikiran ku, ada banyak hal, dan salah satunya adalah almh. Ny. Hikari, almh. Ibunda ku. Memang jahat, aku menyamakan semua wanita jepang dengan menganggap mereka berprilaku sama seperti almh. Ibunda ku, dan rasa takut itu terlalu besar, ya terlalu besar bagi ku (saat itu) untuk menjalin hubungan serius lebih dari sekedar kekasih dengan seorang wanita jepang. Bahkan jika kita sampai menikah dan memiliki anak kelak. Kebodohan dan pola fikir yang pendek serta pengalaman buruk membuat Aku berfikir kalau kamu akan sama memperlakukan anak kita seperti perlakuan Ny. Hikari kepada ku dulu. Dan dilain hal, aku belum menemukan sosok wanita seperti mendiang istri ku, maaf Rin.
I've been an asshole and fucking moron when you told me your feelings... So sorry and goodbye Rin...

Gua berjongkok sambil menyandarkan punggung ke tembok dibelakang, nafas Gua terengah-engah, butiran keringat yang sudah membasahi kening ini akhirnya menetes dan jatuh ke jalanan ketika tertahan oleh alis Gua. Satu demi satu tetesan keringat membasahi jalanan, Gua menatap kebawah, kepada tiap jejak tetesan keringat yang berada disana.
Kemudian Gua membalikan telapak tangan, menatapnya bergantian kanan dan kiri. Tubuh Gua bergerak naik turun perlahan karena jantung Gua masih berdegup cukup kencang, dan sekarang semakin kacau fikiran dalam otak ini akibat warna merah pekat yang melumuri kedua tangan Gua sendiri. Gua terduduk, dan menyandarkan kepala ke tembok lalu menengadah sambil memejamkan mata, mengatur nafas perlahan, menghirup udara malam di gang yang sempit ini.
Kriiitt...Suara pintu di depan kanan Gua terbuka.
Secepat kilat kedua tangan Gua kembali meraih double kodachi yang tergeletak di hadapan Gua lalu berdiri dan menunggu seseorang yang keluar dari pintu tersebut.
Seorang lelaki terhuyung seraya memegangi perutnya, lelaki itu yang bertemu dengan Gua sejam yang lalu di dalam Pub, dan Gua 'memberikan salam' dari Paman Hiroshi untuknya lewat double kodachi ini.
Dia berjalan perlahan keluar dari pintu itu, lalu sedetik kemudian, Bruk... terjatuh, wajahnya menyamping di atas tanah dan kedua matanya menatap Gua tanpa berkedip.
Gua menelan ludah, kedua tangan yang masih memegang double kodachi Gua posisikan kedepan, memasang kuda-kuda agar bisa merespon dengan cepat jika terjadi serangan secara tiba-tiba.
Sebuah derap langkah kaki yang cukup cepat terdengar dari tempat Gua berdiri, lalu tidak lama seorang lelaki berumur dua puluh lima tahun keluar dari pintu itu sambil melompati lelaki yang masih telengkup di depan Gua.
"Agatha-kun! Ayo lariii... Lariii..", teriak lelaki yang tadi melompat sambil menarik tangan Gua ketika dirinya sudah melintas di samping kanan Gua.
Sebelum Gua membalikkan tubuh, sekilas Gua melirik ke arah lelaki yang masih telengkup, tatapan matanya kosong, dan dari balik tubuhnya, warna merah gelap mengalir membasahi jalanan disekitar tubuhnya.
Gua berlari mengikuti lelaki yang menarik tangan Gua tadi, dia satu meter berada di depan, kami berdua meninggalkan lokasi belakang sebuah Pub. Semakin jauh kami berlari ternyata semakin banyak orang-orang yang ikut berlari di belakang kami, dan sayangnya ini bukanlah olahraga di malam hari, melainkan Gua dan lelaki yang berlari di depan Gua itu adalah incaran orang-orang di belakang sana.
Jika Gua tidak mempunyai stamina yang cukup kuat, nyawa taruhannya, ya ini semua bukan main-main, walaupun organisasi mengatakan bahwa inilah 'permainan' mereka. HoliSyit!!!
Setelah beratus meter kami berlari, kami berdua akhirnya sampai di sebuah gedung yang belum selesai dibangun, gedung yang tampak tidak terawat dengan banyaknya tong berkarat dan juga letak basement ini yang belum jadi. Gua dan teman lelaki tadi terengah-engah, mengatur nafas dan melihat kebelakang. Entah ada berapa orang yang masih berlari mengejar kami berdua, kalau Gua perkirakan mungkin ada sekitar dua puluh orang banyaknya, walaupun Gua tidak yakin jumlah pastinya. Dan lebih dari itu, setiap lelaki itu memegang senjata. Yang tajam, yang tumpul hingga rantai besi, sekalipun tidak ada yang memegang senpi, tapi tetap saja ini semua mempertaruhkan nyawa. Dua orang melawan dua puluh orang, perbandingan gila dalam sebuah pertarungan, ah lebih tepat disebut dengan sebuah pembantaiaan.
Kedua puluh (anggap saja jumlahnya sebanyak itu) lelaki itu sudah terlihat menuruni tangga basement. Kemudian sebuah pintu dibelakang kami terbuka, pintu besi yang memiliki keamanan kunci dengan menggunakan kode angka.
"Wah selamat juga rupanya kalian berdua", ucap seorang pria paruh baya yang melangkah keluar dari balik pintu itu,
"Ooh.. Rupanya kalian membawa calon korban ke sini, bagus bagus", lelaki ini melirik kearah depan sana, kepada kedua puluh orang yang sudah semakin dekat,
"Oke mulai dari sini, biar saya yang selesaikan... Tamada, ajak masuk Agatha-kun ke dalam", perintahnya kepada lelaki yang berlari bersama Gua tadi.
"Terima kasih Tuan Arashi..",
"Ayo Agatha-kun kita masuk", ajak Tamada seraya menarik bahu Gua.
Kami berdua melewati segerombolan orang-orang yang berjalan keluar dari dalam. Banyak, banyak sekali orang yang keluar dengan sajam di tangan mereka masing-masing, dan sebelum pintu tertutup, Gua menengok lagi, melihat sekilas pertempuran atau sama saja dengan sebuah tawuran, yang baru dimulai di luar sana.
Gua membuka jas hitam yang Gua kenakan, lalu menggulung lengan kemeja hingga sebatas siku. Kemudian Gua mencuci tangan di wastafel dalam toilet, mencoba membersihkan sisa noda merah pekat yang mulai mengering pada kedua tangan Gua. Selesai mencuci tangan dengan cukup lama, Gua keluar dari toilet dan duduk di atas sofa berwarna coklat.
Gedung tua yang tidak terpakai ini ternyata adalah sebuah markas, markas bagi satu kelompok organisasi. Tidak pernah terfikirkan di benak Gua bahwa apa yang biasanya hanya bisa Gua lihat dan khayalkan pada sebuah film gangster, sekarang malah Gua alami sendiri.
Di lantai basement ini terdapat sebuah pintu besi yang baru saja Gua masuki bersama Tamada beberapa menit yang lalu, tentunya dengan akses yang tidak biasa. Dan dari pintu itulah apa yang nampak dari luar gedung yang kumuh ini tidak mencerminkan fasilitas yang sebenarnya. Di tempat Gua berada sekarang, lebih terlihat seperti sebuah tempat hiburan malam. Ada musiknya, bukan genre techno, melainkan hanya sebuah musik klasik, musik instrumental, belum lagi cahaya ruangan di dalam sini berwarna biru yang bercampur putih, miriplah dengan sebuah tempat ajeb-ajeb di Jakarta. Lalu ada beberapa meja untuk 'tamu' dengan sofa yang mahal dan mewah. Kemudian lengkap dengan lounge Bar beserta rak minuman berikut para bartendernya, dan ehm... Pramusajinya semua wanita, ya wanita asli dari negara matahari terbit ini, yang mana pakaian kerja mereka teramat sangat super duper wow icik iwir seksi abis bis bis bissss... Ngiler-ngiler Lu semua kalo liat langsung Gais. Jojo tegak berdiri terus disuguhi pemandangan yang biasanya cuma bisa Gua tonton dari laptop atau hp format mp4. Lah ini malah asli depan mata Gua, bukan depan mata dan terhalang layar laptop atau hp, bisa disentuh secara fisik, bukan secara virtual. Sempit we calana aing euy....

Btw, Gak usah komen nanyain kayak film Jav apa Za, Gua jawab langsung, custom ala-ala bunny girls. Sekali lagi, ndak perlu komenin paragraf ini!!!

Lantai dua lebih diperuntukkan untuk tamu kehormatan atau orang yang memiliki jabatan tinggi di organisasi ini, tidak semua orang bisa diizinkan naik ke lantai dua, walaupun kita yang berada di lantai satu masih bisa melihat mereka-mereka yang berada di lantai dua sana. Gua ambil kesimpulan bahwa di lantai dua khusus tempat untuk membahas 'pekerjaan' organisasi yang hanya melibatkan orang-orang penting di sini. Bukan untuk orang seperti Gua yang hanya selevel kadal

Kembali Gua duduk di sofa, tepat di sebelah Tamada yang sudah menghabiskan sepuluh gelas minuman beralkohol.
"Oii Agatha-kun! Ayo mari minum, kamu perlu bersantai sejenak agar tidak trauma dengan tugas kita tadi, hahahahaha.. Ayo ayo mari minum Agatha-kun!", kelakarnya seraya menepuk bahu Gua dengan cukup keras.
Gua dan Tamada beserta beberapa 'kawan' di meja nomor dua puluh satu ini kembali menikmati malam dengan 'little party' setelah selesai melaksanakan 'tugas' dari organisasi.
Februari Gua datang ke negara ini untuk melepaskan juga melupakan kepahitan serta rasa sakit karena merasa terenggut, Gua ingin memulai semuanya di sini. Melupakan segala duka, bukan melupakan kenangan manis ketika masih bersama Echa dan Jingga. Dan sekarang sudah bulan Maret, satu bulan berlalu dengan segala kejutan-kejutan yang Gua alami bersama Paman Hiroshi. Ya, hari kedua di negara ini Gua sudah harus menyaksikan dirinya ternyata adalah salah satu 'devil' berwujud manusia. Setelah Gua dan Paman Hiroshi melewati malam penuh kekejaman di kota Otaru, semakin ke sini Gua semakin di doktrin agar Gua mengikuti jejaknya. And this is me, I'm here... With all fvckin trouble... Gatdemit!!!
Gua hanya meminum sedikit sake dan berdiri dari duduk kemudian berjalan ke tempat lain, Gua memilih berdiri di dekat toilet dan menghisap lintingan sendirian.
Perlahan namun pasti, hati kecil Gua mengingatkan bahwa apa yang Gua jalani di sini bukanlah keinginan dan harapan yang Gua cari. Mau berapa nyawa lagi yang harus melayang. Gua masih berdiri dan melamunkan hal-hal yang sudah Gua alami satu bulan terakhir di sini. Malam ini sudah malam ke delapan untuk Gua 'membasuh tangan dari warna merah pekat' setelah seorang lelaki dalam daftar organisasi diberikan kepada Gua dan Tamada. Dan ya seperti awal cerita di atas, begitulah 'permainan' yang tidak perlu Gua jelaskan secara detail, karena ini semua merupakan sebuah kriminalitas.
Gua menggelengkan kepala pelan lalu mengusap-usap wajah untuk 'sekedar' membohongi diri bahwa semua ini hanya mimpi buruk. Karena hampir setiap malam kehidupan baru Gua hanya begini, berpesta, dan mengkonsumsi barang terlarang.
Gua mematikan lintingan dan membuangnya ke tong sampah, baru saja Gua berbalik badan dan hendak berjalan, seorang wanita yang cukup memiliki tinggi di atas rata-rata orang asia sudah berdiri di hadapan Gua.
"Hai Agatha-san.. Kamu tidak apa-apa kan tadi ?", tanyanya ramah sambil tersenyum dengan mata yang semakin menyipit karena memang sudah sipit.
Gua menggelengkan kepala pelan kepadanya. "Tidak apa-apa Rin.. Ah ehm.. Aku pergi dulu ya, rasanya kepala aku sedikit pusing dan badan juga lelah...", Gua berjalan melewati Rin.
"Hei.. Let me help you Agatha-san", Rin tersenyum ketika Gua menengok lagi kepadanya. Lalu dia meneguk white wine pada gelas wine yang memang dia pegang sedari tadi.
...
Gua terbangun ketika Gua rasakan ada sesuatu yang menggelitik perut ini. Gua mengucek mata dengan kedua jari tangan lalu membuka mata perlahan, Gua melirik kebawah.
"Rin ? What are you doing ?", tanya Gua.
Rin melirikan matanya kepada Gua, tapi lidahnya masih asyik menari di atas perut Gua itu, lalu dia tersenyum nakal, nakal sekali. Lalu semakin turun kebawah dan voila... IYKWIM.
Btw, expert si Rin ini, padahal ehm, First-nya Gua yang ambil uhuk. Belajar dengan baik dan menangkap pelajaran dengan cepat rupanya kamu Rin.
Rin, adalah seorang wanita yang Gua kenal baru satu minggu yang lalu. Semenjak Gua sering dibawa ke tempat organisasi oleh Paman Hiroshi, dan awalnya Gua dikenalkan oleh Tamada kepada Rin. Tamada sendiri adalah seorang lelaki yang sudah lama berkecimpung di dalam organisasi ini, dan Rin adalah, ehm.. He's Lil' Sister, eighteen year olds Gais... Like a bluetooth find 'a new device'... Hmmm, oke stop, nanti yang punya Trit ngamuk lagi gara-gara kelakuan ngawur kalian.. Eh Gua.

Dan bangun pagi juga terkadang siang bersama Rin di samping Gua sudah sering kami lakukan, di atas ranjang yang sama, sama-sama tidak mengenakan pakaian, sama-sama lelah semalaman, sama-sama nikmat, sama-sama hanya terbalut selimut putih untuk menutupi tubuh dari dinginnya pendingin ruangan kamarnya ini, kami berpacu lagi dalam melodi, melodi rintihan ikeh kimochi... Yep, i mean morning s3x.
"Hah.. Hah.. Huufttt.. Agatha-san, can you bring some water for me, please", ucap Rin seraya menyeuka keringat di keningnya.
"Wait a second..", Gua bangkit dari atas tubuhnya setelah melepaskan Jotha.
"Aaah... Aww.. Hahaha.. Don't do that again Agatha-san!", Rin meringis karena tetiba saja Jotha Gua lepaskan dari JeRin nya, lalu dia terkekeh pelan.
Gua kembali dengan segelas air mineral dan duduk di sisi ranjang, tepat di sampingnya yang sedang terduduk dengan menyandarkan punggungnya ke dinding kamar.
"Thank you Agatha-san..", ucap Rin setelah meminum setengah gelas air mineral tersebut.
Gua tersenyum lalu menerima gelas itu dan Gua taruh di atas meja dekat kasur. Gua menatapnya dan mengecup keningnya.
"Agatha-san... I Lov.. Emmhh..".
Gua memotong ucapannya dengan memagut bibirnya. "Muaahh.. Cupp..", Rin memundurkan wajahnya dan tersipu malu.
Kedua tangannya masih berada di atas bahu ini, lalu dilingkarkan ke belakang tengkuk Gua, kini wajahnya menengadah sedikit dan mendekati wajah Gua. Kening kami menempel, sangat dekat jarak wajah kami, hingga bisa Gua rasakan deru nafasnya yang lembut. Kedua mata kami sama-sama terpejam, lalu Gua dengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. Awalnya Gua nyaris terkekeh atas apa yang ia katakan, tapi Gua tidak jadi tertawa, karena sedetik kemudian Gua bisa merasakan tubuhnya sedikit bergetar dan suaranya berubah menjadi isak tangis.
Maaf Rin, aku enggak bisa menyambut perasaan kamu, sekalipun waktu itu kamu merelakan semuanya dan memilih untuk tinggal bersama ku di manapun aku tinggal. Aku rasa kamu gak akan bahagia Rin... Aku sudah ceritakan alasan apa yang saat itu masih menjadi pikiran ku, ada banyak hal, dan salah satunya adalah almh. Ny. Hikari, almh. Ibunda ku. Memang jahat, aku menyamakan semua wanita jepang dengan menganggap mereka berprilaku sama seperti almh. Ibunda ku, dan rasa takut itu terlalu besar, ya terlalu besar bagi ku (saat itu) untuk menjalin hubungan serius lebih dari sekedar kekasih dengan seorang wanita jepang. Bahkan jika kita sampai menikah dan memiliki anak kelak. Kebodohan dan pola fikir yang pendek serta pengalaman buruk membuat Aku berfikir kalau kamu akan sama memperlakukan anak kita seperti perlakuan Ny. Hikari kepada ku dulu. Dan dilain hal, aku belum menemukan sosok wanita seperti mendiang istri ku, maaf Rin.
I've been an asshole and fucking moron when you told me your feelings... So sorry and goodbye Rin...

secondhand serenade - Goodbye
All I had to say is goodbye
Were better off this way
Were better off this way
I’m alive but I’m losing all my drive
***
April 2009
Gua menarik koper dengan tangan kiri lalu berjalan ke salah satu restoran di dalam bandara ini. Setelah memesan menu makanan yang (sedikit Gua rasa) cocok dengan lidah Gua, kini Gua menghubungkan jaringan internet handphone ke wifi di restoran ini. Gua membuka menu email dari handphone yang dua puluh jam lalu Gua beli di Tokyo lewat bantuan Aoki-san, kekasih Kimiko.
Tidak lama kemudian menu pesanan Gua datang dan langsung Gua santap setelah tersaji di hadapan Gua. Sambil menyantap makanan, ibu jari tangan kiri Gua asyik men-scroll layar handphone, membuka beberapa email dan membaca isinya. Selesai menyantap makanan, Gua memesan satu cup black coffee, kemudian Gua meneguknya sedikit dan mulai merentangkan kedua tangan kuat-kuat. Rasanya Gua mengalami jetlag. Pusing dan sedikit bingung. Untuk apa Gua berada di sini, fikir Gua. Lalu sebuah notif email masuk ke handphone dan kembali Gua membacanya. Kali ini Gua tidak langsung membalas email tersebut, tapi menahan gondok, kesal dan emosi. Gua menggelengkan kepala.
Isi email tersebut mengatakan bahwa, 'Selamat liburan di sana'. Kali ini Gua membalas email tersebut dan meminta penjelasannya. Selesai Gua kirim, kembali Gua menunggu balasan email tadi. Gua membakar rokok kedua ketika notif satu email masuk itu berbunyi. Gua baca perlahan isi tentang penjelasannya, kurang ajar emang punya sepupu isengnya keterlaluan.
Gila, untuk apa Gua duduk di dalam pesawat selama dua belas jam, belum di tambah transit di bandara internasional Abu Dhabi tadi selama dua jam lamanya, lalu kembali duduk manis di dalam pesawat lagi sekitar kurang lebih enam jam hingga sampai di negara ini. Dan untuk semuanya, sepertinya Gua tidak masalah mengutuk kelakuan Kimiko yang absurd itu.
Tlaak..Gua melempar handphone pelan keatas meja makan.
Gatdemit you, Kimiko!!!
Gua menghela nafas dengan pelan lalu memejamkan mata sejenak seraya mengurut-urutkan kening dengan dua jari tangan kanan ini. Gila memang, jauh-jauh pergi, jetlag, pusing, cuaca yang tidak bersahabat, atau mungkin musimnya yang memang belum pernah Gua rasakan.. Dan itu semua bayaran dari kepintaran Kimiko mengolah kata-katanya sehingga terlahir sebuah propaganda baru...
Gua membenarkan waktu pada jam tangan setelah tersadar ketika tidak sengaja melihat jam restoran di atas sana. Lalu Gua membayar makanan dan segera pergi keluar resto. Gua pergi ke money changer untuk menukarkan uang ke mata uang negara ini. Beres menukar uang, Gua membeli satu handphone baru yang satu paket dengan kartu telekomunikasinya. Barulah Gua keluar dari bandara internasional ini.
Gua mengusap-usap kedua telapak tangan dan meniup-niupkannya, suhu udara yang berbeda lagi dan lagi harus Gua rasakan, bodohnya Gua lupa membeli sebuah leather gloves. Sekarang Gua berjalan menuju sebuah mobil sedan yang sedang terparkir di depan sana dan membuka pintu penumpang di bagian depan setelah sang supir membantu Gua memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Setelah memasang seatbelt, dan duduk dengan nyaman, supir di sebelah kiri Gua pun kembali membuka percakapan...
"Woher kommen Sie ?"
Gua menengok ke kiri dan mengerenyitkan kening. "Can you speak english Sir ?".
"Ah sure.. Pardon me Sir, hahaha... Where do you from Sir ?".
Gua memutar bola mata keatas lalu tersenyum kecut. "I'm from Indonesia".
Dia mengangguk cepat. "Ah Bali, paradise island eh ?".
"Yeah, Bali is an island and province of Indonesia. Mmm.. Sir, can you take me to the hotel around here...", jawab Gua lalu memejamkan mata setelah si supir mengangguk seraya tersenyum.
Mobil pun perlahan meninggalkan Flughafen Düsseldorf.
Gua menarik koper dengan tangan kiri lalu berjalan ke salah satu restoran di dalam bandara ini. Setelah memesan menu makanan yang (sedikit Gua rasa) cocok dengan lidah Gua, kini Gua menghubungkan jaringan internet handphone ke wifi di restoran ini. Gua membuka menu email dari handphone yang dua puluh jam lalu Gua beli di Tokyo lewat bantuan Aoki-san, kekasih Kimiko.
Tidak lama kemudian menu pesanan Gua datang dan langsung Gua santap setelah tersaji di hadapan Gua. Sambil menyantap makanan, ibu jari tangan kiri Gua asyik men-scroll layar handphone, membuka beberapa email dan membaca isinya. Selesai menyantap makanan, Gua memesan satu cup black coffee, kemudian Gua meneguknya sedikit dan mulai merentangkan kedua tangan kuat-kuat. Rasanya Gua mengalami jetlag. Pusing dan sedikit bingung. Untuk apa Gua berada di sini, fikir Gua. Lalu sebuah notif email masuk ke handphone dan kembali Gua membacanya. Kali ini Gua tidak langsung membalas email tersebut, tapi menahan gondok, kesal dan emosi. Gua menggelengkan kepala.
Isi email tersebut mengatakan bahwa, 'Selamat liburan di sana'. Kali ini Gua membalas email tersebut dan meminta penjelasannya. Selesai Gua kirim, kembali Gua menunggu balasan email tadi. Gua membakar rokok kedua ketika notif satu email masuk itu berbunyi. Gua baca perlahan isi tentang penjelasannya, kurang ajar emang punya sepupu isengnya keterlaluan.
Gila, untuk apa Gua duduk di dalam pesawat selama dua belas jam, belum di tambah transit di bandara internasional Abu Dhabi tadi selama dua jam lamanya, lalu kembali duduk manis di dalam pesawat lagi sekitar kurang lebih enam jam hingga sampai di negara ini. Dan untuk semuanya, sepertinya Gua tidak masalah mengutuk kelakuan Kimiko yang absurd itu.
Tlaak..Gua melempar handphone pelan keatas meja makan.
Gatdemit you, Kimiko!!!
Gua menghela nafas dengan pelan lalu memejamkan mata sejenak seraya mengurut-urutkan kening dengan dua jari tangan kanan ini. Gila memang, jauh-jauh pergi, jetlag, pusing, cuaca yang tidak bersahabat, atau mungkin musimnya yang memang belum pernah Gua rasakan.. Dan itu semua bayaran dari kepintaran Kimiko mengolah kata-katanya sehingga terlahir sebuah propaganda baru...

Gua membenarkan waktu pada jam tangan setelah tersadar ketika tidak sengaja melihat jam restoran di atas sana. Lalu Gua membayar makanan dan segera pergi keluar resto. Gua pergi ke money changer untuk menukarkan uang ke mata uang negara ini. Beres menukar uang, Gua membeli satu handphone baru yang satu paket dengan kartu telekomunikasinya. Barulah Gua keluar dari bandara internasional ini.
Gua mengusap-usap kedua telapak tangan dan meniup-niupkannya, suhu udara yang berbeda lagi dan lagi harus Gua rasakan, bodohnya Gua lupa membeli sebuah leather gloves. Sekarang Gua berjalan menuju sebuah mobil sedan yang sedang terparkir di depan sana dan membuka pintu penumpang di bagian depan setelah sang supir membantu Gua memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Setelah memasang seatbelt, dan duduk dengan nyaman, supir di sebelah kiri Gua pun kembali membuka percakapan...
"Woher kommen Sie ?"
Gua menengok ke kiri dan mengerenyitkan kening. "Can you speak english Sir ?".
"Ah sure.. Pardon me Sir, hahaha... Where do you from Sir ?".
Gua memutar bola mata keatas lalu tersenyum kecut. "I'm from Indonesia".
Dia mengangguk cepat. "Ah Bali, paradise island eh ?".
"Yeah, Bali is an island and province of Indonesia. Mmm.. Sir, can you take me to the hotel around here...", jawab Gua lalu memejamkan mata setelah si supir mengangguk seraya tersenyum.
Mobil pun perlahan meninggalkan Flughafen Düsseldorf.
Diubah oleh glitch.7 01-06-2017 16:19
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..



