Kaskus

Story

natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.

Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.


I Am (NOT) Your Sister

Big thanks to quatzlcoatlfor cover emoticon-Smilie

Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
imamarbaiAvatar border
pulaukapokAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
#2848
F Part 89
Benar kan feeling gue kalau si Ani sudah ada di rumah. Ibu yang panikan, ibu yang pelupa, ibu yang parnoan, ibu yang pikun, itulah gambaran yang bisa gue lukiskan saat itu buat orang tua gue sendiri, yaitu ibu. Padahal seinget gue cuman baru kali ini aja si Ani pulang telat selain diajak sama gue, lagian biasanya dia suka bilang dulu kalau mau pulang telat atau ada something sehingga dia pulang telat ke rumah. Lagian wajar sih ya seorang anak sekolah pulang telat ke rumah, I mean pasti setiap orang pernah mengalaminya. Tapi sih tapi memang sudah sifat ibu dari dulu begitu, gue juga dulu mengalami dicariin seharian sama ibu karena gue emang gak mau pulang ke rumah. Alasannya ? Karena kalaupun di rumah, gue pasti sendirian.

Mungkin ibu sudah capek dengan tingkah gue yang suka kabur dari rumah ataupun pergi tanpa ijin dan tentunya suka kelayapan malam hari. Sehingga pada satu waktu dia bilang ke gue kalau dia sudah lepas tangan.

“Sekarang kamu sudah dewasa, terserah kamu mau ngelakukan hal apapun, asalkan kamu bisa mempertanggungjawabkan perbuatanmu itu. Ibu capek ngadepin kamu.” Kata ibu ke gue.

Antara senang dan sedih mendengar ucapan tersebut. Senang karena diberi kebebasan tapi sedih karena itu bukanlah yang gue inginkan, yang gue inginkan adalah perhatian darinya dan juga kepeduliannya yang lebih.

***

“Lihat bu, putri tidur.” Kata gue ke ibu setelah sampai di rumah melihat si Ani duduk sambil tidur.
“Kasihan, bangunin sayang.”
“Eh gak bisaa..”
“Kenapa?” Tanya ibu.
“Putri tidur kan harus dicium sama pangeran biar bangun.”
“Ah banyak baca dongeng kamu.. cepetan.” Kata ibu sambil membuka pintu depan lalu masuk ke dalam. Sementara gue memandangi bocah yang tertidur ini, rapih tidurnya enggak hokcai.

“Bangunnnnn…” Teriak gue sambil mencubit pipi kanannya.

“Bangunnn…” Gue terus mencubit pipinya sampai di terbangun.

“Ih kak Fe…” Keluh dia.

“Kalau mau tidur jangan disini, tar ada yang nyulik, mau?”

Si Ani tak menanggapi dan langsung saja ngeloyor pergi masuk ke dalam lalu pergi ke kamarnya. Huh dasar bisa aja tertidur sambil duduk, kalau beneran ada yang duduk kan urusannya malah tambah repot. Payah.


***

“Stell mau temenin gue nanti weekend?” Gue ngechat Stella.
“Kemana?”
“Temenin aja dulu mau gak?”
“Yaudah deh, kebetulan juga weekend ini gak kemana-mana.”
“Sip”

Sebenarnya gue mau mengajak Stella itu buat nemuin guru gue sekaligus ngenalin dia ke Stella. Bukan guru sekolah sih tapi benar-benar guru aja bagi gue, soalnya dia itu banyak ngasih pelajaran hidup buat gue disamping pelajaran sekolah tentunya.

Namanya Mr. Dirman, dia sudah berumur 70th tapi ingatan dia dan otaknya benar-benar masih superb. Gue benar gak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia. Kakek ini benar-benar jenius, lulusan ITB zaman jabot yang meneruskan pendidikan di Amerika, Belgia, dan juga Australia lalu pernah bekerja di IBM dan juga menjadi konsultan manajemen di Jakarta ini memiliki segudang pengalaman dan pengetahuan yang luas. Jadi jangan meragukan pengetahuan manajemen ke gue karena gue sempat diajari beliau tentang manajemen. Henry Fayol, Frederick W. Taylor, dkk sering dibahas bareng Mr. Dirman. Apalagi POAC prinsip manajemen, behh taulah gue. Wkwkw. Terus lagi, Mr. Dirman ini gilakk, bahasa yang dikuasinya bisa sampai 5 bahasa, benar-benar poligot nih Mr. Dirman.

Sejujurnya gue dikenalin sama Mr. Dirman ini sejak kelas 1 SMA. Waktu itu teman gue yang bernama Riri sedang asik ngobrolin tentang pelajaran dan ngajak buat ketemu sama kenalan orang tuanya, yaitu Mr. Dirman untuk belajar ke dia. Gue yang tertarik ikut nimbrung sama Riri dan teman-temanya. Lalu ya setiap hari Minggu (kalau tidak ada acara) gue selalu rutin pergi ke rumah Mr. Dirman ini bersama Riri dan lainnya. Cuman sampai kelas 3 cuman gue doang yang bertahan yang suka datang ke rumah Mr. Dirman ini. Kenapa ? Karena teman-teman yang lain pada ciut ngadepin karakter Mr. Dirman yang keras. Tak jarang ketika belajar kalau gue ataupun teman yang lainya gak bisa umpatan seperti kata “Bego”, “Tolol”, atauapalah keluar dari mulut beliau. Bagi gue gak jadi masalah, toh emang faktanya kita masih pada bego dan tolol, tapi yang lain pada pundung, wkwkwkwk.Lagian gue memang suka dengan cara ngedidik Mr. Dirman yang keras tentunya gue sangat betah ketika Mr. Dirman menceritakan pengalaman hidupnya ke gue.

“Anak sekarang tuh sudah enak bahan belajar sudah banyak, buku-buku, dan media juga seperti internet bisa menunjang buat proses belajar. Tapi, mengapa hal kayak gini masih gak bisa? Saya dulu harus pergi ke perpustakaan lalu nyatat buat bahan untuk belajar beda sama kayak kalian.”

“Di sekolah diajarin apaan sih?”

“Pelajaran yang saya dapat sewaktu sekolah dulu sampai sekarang masih nempel di otak saya. Kalian baru saja seminggu gak bertemu udah lupa, gimana sih?”

“Mau dibawa kemana negara ini kalau penerusnya seperti ini semua?”

Gue dan yang lain cuman bisa menundukan kepala saja ketika diceramahi seperti itu. Lagian emang faktanya sih, hehe. Tapi sebenarnya Mr. Dirman itu baik kokkk dan ramah, dibalik ucapannya yang keras yang menggebu-gebu terdapat sosok orang tua yang sayang kepada anak-anaknya agar anak-anaknya maju dan sukses. Mr. Dirman tidak pernah menyalahkan para murid di sekolah, dia selalu mengkritik sistem pendidikan zaman sekarang yang menurut dia jelek banget. Dia mempertanyakan tugas seorang guru ataupun dosen dalam memberikan pelajaran kepada siswanya, dia bahkan juga mempertanyakan kualitas guru ataupun dosen yang ngajar tersebut, bagi dia, benar-benar sangat tidak berkualitas, berbeda dengan zamannya. It’s true dude.

Tapi, berkat Mr. Dirmanlah yang mengajarkan gue kalau proses belajar itu bukanlah sebatas meraih nilai tertinggi ataupun sekedar lulus, tapi proses belajar itu adalah proses memahami, ya paham akan materi pelajaran tersebut sehingga kita mengerti atas pelajaran tersebut lalu kita bisa mengambil makna dari pelajaran tersebut.Use your brain and live long, begitulah motto Mr. Dirman.

****

“Kamu kesini naik apa?” Tanya Stella pas gue datang ke rumahnya.
“Angkot.”
“Terus kesananya kita naik apa?” Tanya dia lagi.
“Angkot.” Kata gue.
..
“Gak keberatan Stell?”
“Hmm.. emang dimana sih?”


Rumah Mr. Dirman itu sangat-sangat jauh dan sangat terpencil, jadi ceritanya sejak pensiun kerja Mr. Dirman itu mengasingkan diri di sebuah pedesaan di daerah kab. Bandung untuk menikmati masa tuanya bersama ajudan loyalnya, maksud gue ada bi Inah yang selalu merawat dia sehari-hari dia dan tinggal bersama Mr. Dirman.

“Yauda pakai motor aja, gue ada motor.” Kata Stella.
“Kamu bisa pakai motor?” Tanya gue.
“Bisalah..”
“Yaudadeh tapi gue dibonceng ya, gue gak bisa naik motor.” Kata gue.
“Okee..”

Mungkin butuh waktu sekitar 2 jaman baru bisa sampai ke rumah dia. Benar-benar perjalanan yang sangat jauh dari rumah. Kita harus mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman berpetualang. Eh, ngak deh becanda, itu mah lirik lagu ninja hatori, yang jelas benar-benar jauh dan kita harus melewati jalan berbatu dan berlubang, pokoknya ke tempat Mr. Dirman itu serasa kita balik lagi 20 tahun ke belakang, di desa itu kebanyakan rumahnya masih menggunakan bilik dan papan, dan masih asri serta kebanyakan mata pencaharian warganya itu petani. Tapi yang bikin gue takjub ternyata di tempat ini hidup manusia sepintar sekaliber Mr. Dirman.

Gue sempat gak enak ketika ngeliat ekspresi Stella diajak main jauh seperti ini. Mungkin dia baru pertama kali menyusuri jalanan butut pedesaan, tapi mau gimana lagi udah terlanjur kesini. Gue sih berharap nanti setelah ketemu Mr. Dirman Stella bisa mendapatkan sesuatu seperti halnya gue. Hehe.
Tapi Stella jago juga sih naik motornya, gue ngerasa aman dibonceng sama dia.

“Yuk…” Ajak gue ke Stella setelah menaruh motor di halaman rumah Mr. Dirman. Sebuah rumah yang tampilannya luarnya masih batu-bata ini adalah rumah Mr. Dirman.

“Assalamualaikum.” Kata gue sambil mengetuk pintu sambil ngeliat ke dalam dari kaca rumahnya.

“Walaikumsalam..” Sahut dari dalam dan itu adalah suara Mr. Dirman

“Halo pakkk..” Kata gue ke dia pas membukakan pintu.

“Aeh.. aeh si neng geulis kamana wae? Baru ketemu lagi.”

“Hehehe…ada deh pak sibuk.” Gue ngeles karena emang sudah beberapa bulan ini tidak main ke rumah Mr. Dirman.

“oh… Siapa ini? Si neng geulis satu lagi.” Ujar dia nunjuk ke Stella.

“Oh yaa…ini temen aku pak, kenalin namanya Stella.”

“Halo pak, nama saya Stella.” Kata Stella berkenalan ke Mr. Dirman

“Hayu atuh, masuk ke dalam..” Ajak Mr. Dirman ke gue dan Stella. Gue dan Stella pun masuk ke dalam.

“Ini pakk..” Kata gue ngasih satu kotak lapis legit buat dia. Gue bingung mau ngasih apaan sebenarnya, yauda di jalan ada toko kue lapis legit, dan gue rasa orang tua suka lapis legit.

“Euluh repot-repot, hatur nuhun.”

Gue, Stella, dan Mr. Dirman kemudian duduk di sofa lusuh miliknya dan saling memandang.

“Gimana kabar kamu sehat?” Tanya Mr. Dirman ke gue.

“Alhamdulillah baik. Bapak gimana?”

“Yah begini aja, alhamdulillah.”

“Gimana kabar ibu kamu sekarang sehat?”

“Ya, begitulah pak, sehat juga.”

“Terus gimana sekarang, udah tau pengen jadi apa?” Tanya dia ke gue.

…..

itkgid
itkgid memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.