- Beranda
- Stories from the Heart
Black Part Of Woman
...
TS
anism
Black Part Of Woman
Spoiler for Peringatan:
Spoiler for Anissa : Aku Bukan pramuria:
Spoiler for Ibu?!:
Spoiler for I Must Found a Father for You:
Wanita itu unik. Karena itu perlakuan terhadap mereka pun berbeda-beda dan spesial.
mereka selalu punya cerita menarik yang pantas disimak
Anism & (edit by) Fanzangela
Diubah oleh anism 30-05-2019 11:43
devarisma04 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
48.2K
379
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#146
Recovering
Anissa kembali selalu menghabiskan waktu di galeri Ario. Hari ini Ario akan pergi kerumah seorang klien yang memintanya mentato badannya. Luna sedang mengantar putranya yang sakit untuk berobat ke puskesmas. Ario tidak mau Anissa pergi ke rumah kliennya.
“Kenapa aku tidak boleh ikut?”, protes Anissa.
“Itu bukan tempat yang bagus. Aku tidak mau kamu sampai kenapa-kenapa?”,ujar Ario.
Anissa memandang Ario. Dia tidak tahu sejak kapan pria itu mulai menjadi protektif kepadanya.
Sebenarnya dia sendiri juga tidak terlalu suka dengan pekerjaan Ario. Oke. Dia tidak menghina profesi Ario.
Hanya saja Anissa ingin Ario memikirkan rencana untuk beralih profesi.
Ah, tapi sudahlah. Mereka sudah sering berantam karena hal tersebut. Jadi ada baiknya dia membiarkan pria itu. Lagipula mereka juga baru saja pacaran satu bulan. Hanya saja dia merasa gemas.
“Kenapa kamu tidak mau memikirkan bekerja di kantor?”, ujar Anissa.
“Dengan statusku yang bahkan tidak punya ijazah SMA? Bisa-bisa aku cuma jadi OB.”, sembur Ario.
“Lalu kalau OB kenapa? Setidaknya kamu bisa berpakaian rapi Yo. Dan mereka punya jenjang karier.”, ucap Anissa.
“Apalah… Terserah.. Aku pun tidak mengerti jenjang karier. Dan setidaknya dengan menato, aku punya usaha sendiri. Aku tidak menjadi bawahan orang lain.”,tatap Ario tajam.
“Kamu mulai lagi. Memang gengsimu itu bisa dimakan? Aku sudah membeli ijazah. Aku akan kuliah beberapa bulan lagi. Setelah aku dapat kerjaan. Kamu harus ikut aku mendaftar ke sana. Kita bisa sama-sama.”, paksa Anissa.
Ario menggenggam pundak Anissa.
“Nis, kali ini dengarkan aku. Aku tidak menjadi pacarmu untuk kamu perintah-perintah. Aku lelaki. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”
Anissa tampak sangat marah. Mukanya merah dan matanya jadi berkaca-kaca. Dia mengepalkan tangannya erat-erat dan menggigit bibirnya.
“Nis…”, Ario tidak paham kenapa Anissa membuatnya menjadi lemah.
“Kamu punya masa depan yang bagus. Kamu bisa terus maju. Setidaknya kamu bisa bersandar pada orang tuamu. Kamu bisa dengan mudah bangkit setiap kamu gagal. Kamu berhak mencoba banyak hal dalam hidupmu.”, jelas Ario.
Anissa terdiam.
“Sudah ya. Aku sudah hampir terlambat ke rumah salah satu pelanggan tato. Kamu mau pulang? Sekalian aku antarin.”, tawar Ario.
Anissa mau menggeleng, tapi Ia juga malas kalau harus berjalan kaki pulang dari galeri menuju rumah.
Anissa tidak bisa merasakan kesenangan naik ke atas motor Ario seperti biasa.
Ario menggenggam tangan Anissa dan melingkarkan tangan Anissa ke pinggangnya. Ario menepuk-nepuk lembut tangan Anissa yang melingkar di pinggangnya.
“Nis, jangan cemas. Pelan-pelan. Aku akan merencanakan semuanya. Semuanya denganmu. Tapi jangan terburu-buru.”
Anissa kembali selalu menghabiskan waktu di galeri Ario. Hari ini Ario akan pergi kerumah seorang klien yang memintanya mentato badannya. Luna sedang mengantar putranya yang sakit untuk berobat ke puskesmas. Ario tidak mau Anissa pergi ke rumah kliennya.
“Kenapa aku tidak boleh ikut?”, protes Anissa.
“Itu bukan tempat yang bagus. Aku tidak mau kamu sampai kenapa-kenapa?”,ujar Ario.
Anissa memandang Ario. Dia tidak tahu sejak kapan pria itu mulai menjadi protektif kepadanya.
Sebenarnya dia sendiri juga tidak terlalu suka dengan pekerjaan Ario. Oke. Dia tidak menghina profesi Ario.
Hanya saja Anissa ingin Ario memikirkan rencana untuk beralih profesi.
Ah, tapi sudahlah. Mereka sudah sering berantam karena hal tersebut. Jadi ada baiknya dia membiarkan pria itu. Lagipula mereka juga baru saja pacaran satu bulan. Hanya saja dia merasa gemas.
“Kenapa kamu tidak mau memikirkan bekerja di kantor?”, ujar Anissa.
“Dengan statusku yang bahkan tidak punya ijazah SMA? Bisa-bisa aku cuma jadi OB.”, sembur Ario.
“Lalu kalau OB kenapa? Setidaknya kamu bisa berpakaian rapi Yo. Dan mereka punya jenjang karier.”, ucap Anissa.
“Apalah… Terserah.. Aku pun tidak mengerti jenjang karier. Dan setidaknya dengan menato, aku punya usaha sendiri. Aku tidak menjadi bawahan orang lain.”,tatap Ario tajam.
“Kamu mulai lagi. Memang gengsimu itu bisa dimakan? Aku sudah membeli ijazah. Aku akan kuliah beberapa bulan lagi. Setelah aku dapat kerjaan. Kamu harus ikut aku mendaftar ke sana. Kita bisa sama-sama.”, paksa Anissa.
Ario menggenggam pundak Anissa.
“Nis, kali ini dengarkan aku. Aku tidak menjadi pacarmu untuk kamu perintah-perintah. Aku lelaki. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”
Anissa tampak sangat marah. Mukanya merah dan matanya jadi berkaca-kaca. Dia mengepalkan tangannya erat-erat dan menggigit bibirnya.
“Nis…”, Ario tidak paham kenapa Anissa membuatnya menjadi lemah.
“Kamu punya masa depan yang bagus. Kamu bisa terus maju. Setidaknya kamu bisa bersandar pada orang tuamu. Kamu bisa dengan mudah bangkit setiap kamu gagal. Kamu berhak mencoba banyak hal dalam hidupmu.”, jelas Ario.
Anissa terdiam.
“Sudah ya. Aku sudah hampir terlambat ke rumah salah satu pelanggan tato. Kamu mau pulang? Sekalian aku antarin.”, tawar Ario.
Anissa mau menggeleng, tapi Ia juga malas kalau harus berjalan kaki pulang dari galeri menuju rumah.
Anissa tidak bisa merasakan kesenangan naik ke atas motor Ario seperti biasa.
Ario menggenggam tangan Anissa dan melingkarkan tangan Anissa ke pinggangnya. Ario menepuk-nepuk lembut tangan Anissa yang melingkar di pinggangnya.
“Nis, jangan cemas. Pelan-pelan. Aku akan merencanakan semuanya. Semuanya denganmu. Tapi jangan terburu-buru.”
Diubah oleh anism 30-05-2017 19:27
0