- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#315
Part 13: Gaun Bersulam
Takut adalah awal kekacauan. Dan ketika seseorang kembali pada kesadarannya, ia baru tahu kekacauan itu sudah di depan mata.
Aku bangun agak kesiangan. Kususun-susun serpihan pengalaman kemarin, kemudian aku menemukan hal yang sebelumnya tidak mendapat perhatian.
Gelas Mbak Fani masih ada di kamar Wina!
Lapar, gerah, bau mulut tidak lagi soal. Aku segera bergegas pergi, tak lupa berterima kasih pada temanku yang mau berbagi kasur. Di depan gang kuhunus jari, mikrolet berhenti. Dengan begini aku menghemat lima menit sampai di rumah kos Wina.
Hanya sebentar mobil angkot biru muda itu sudah berhenti di depan rumah berpagar hitam. Aku turun setelah membayar, membuka pagar yang tidak terkunci. Setengah berlari aku sampai di kamar Wina. Ternyata ia sedang bersiap-siap pergi.
"Kamu ke mana kemarin?" sebelum ia curiga soal gelas, aku harus menyerangnya duluan.
"Ke rumah om aku di Depok," jawabannya tenang.
"Kenapa nggak bisa dihubungi?"
"Gimana bisa!" Wina menyela bedak, menunjukkan ponselnya sambil memencet-mencet, "Udah matot benda ini, kesel!"
"Kamu kok enggak sekalian bilang di kertas?"
"Mendadak."
"Tumben? Ada apa?"
"Mau minta tambahan beli hape baru lah! Emang apa lagi?"
Sebaiknya aku tak perlu panik, lagipula Wina tampak tidak menaruh curiga sedikit pun. Tangannya terus merapikan alis. Soal alis aku malas mengganggunya dengan pertanyaan, sebab bagian itu adalah keahliannya.
Mumpung Wina sibuk, lebih baik aku mandi. Kalau pekerjaan yang ini aku pakarnya. Biasanya tidak sampai lima menit semua sudah beres.
Dan empat menit kemudian aku kembali ke kamar. Wina mengukur dua alisnya sebagai tanda tahap itu hampir selesai.
"Yang," ia memutar lipstik sebentar, "Kamu semalam sama siapa?"
Inilah pertanyaan sesungguhnya. Untungnya kesegaran air membantuku berpikir cerdik.
"Sendiri, kenapa?"
"Itu gelas punya siapa?"
"Oh itu dari bawah, kemarin aku bikin kopi di dapur."
"Lho, kenapa nggak di sini?"
"Air dispenser kurang panas."
"Masa sih? Kemarin lusa aku bikin teh panas aja."
"Teh dan kopi beda dong."
"Kata siapa? Kopi cuma perlu 95 derajat kok, dispenser kita kan 97, paling kurang-kurang jadi 95 atau 93."
"Ya itu udah enggak enak," aku masih membela diri.
"Sok tahu kamu. 95 derajat itu kata barista lho."
"Kamu juga sok tahu. Kata barista warkop justru air mendidih."
"Dasar norak!" katanya sembari tertawa mengejek, "terus kamu dua kali bikin kopi di bawah? Ya Allah, segitunya."
Untunglah ia menyimpulkan sendiri. Wina sudah selesai bersolek, giliran aku menyelesaikan bagianku. Hanya menyemprot parfum, itu pun habis. Jadi kuminta miliknya, kebetulan Wina suka aroma unisex. Tentu saja aku harus menerima sedikit cemoohan lebih dulu sebelum ia mengizinkannya.
"Eh, yang. Mbak Fani itu cantik nggak?"
Sebenarnya apa sih tujuannya, aku menggeram di hati.
"Cantik."
"Kamu bisa naksir nggak sama dia?"
"Kalo dia lebih cantik dari pacarku mungkin aja, nyatanya kan enggak!"
"Najis!" ia kesal dan menendang bokongku dengan ujung sepatunya. Aku mengaduh seadanya.
"Tapi cantik sih dia, tinggi lagi, badan oke," kata Wina memberi pengakuan.
"Kamu sering perhatiin dia?"
"Emang kamu nggak? Bohong banget cowok nggak merhatiin dia!" yang sekarang diucapkannya sambil meninju punggungku.
"Ya asal pas nggak sengaja nggak apa-apa toh?"
"Tuh kan!" tinjunya lebih keras lagi dan berulang-ulang.
"Kamu lagi kenapa sih?"
Ia tersungging seperti mendapat kesenangan. "Aku lagi bayangin kamu sama Mbak Fani. Kayanya cocok, sama-sama tinggi."
"Umur beda jauh, WINA!" kataku tinggi.
"Aku nggak masalah kok kalau kamu sama dia," Wina menggenggam tanganku. Wajahnya serius, lanjutannya getir, "Tapi menurutku dia nggak bakal mau sama kamu. Mahasiswa, malas kuliah, dekil pula!"
"Kamu?"
"Ya aku cewek paling apes."
Terserah saja dia tertawa, asal rahasiaku masih terjaga baik-baik di kotak penyimpanannya.
***
Waktunya sendiri lagi. Wina pergi kuliah dan menjadi dirinya sendiri. Sungguh lebih baik jika dia bisa menyibukkan diri sebanyak-banyaknya waktu. Sebab aku tak perlu menemaninya berlama-lama.
Sementara ini buku menjadi teman pengusir sepi. Udara di luar bagus, cerah dengan awan menggumpal sedikit kelabu. Aku membaca di sisi jendela, bersisian sekian hasta dari jendela lain yang terbuka.
Lama kelamaan huruf-huruf di kertas membuat mata naik turun, hingga akhirnya menyerah begitu saja. Tidak ada lagi ide untuk mengisi waktu. Jadi kutemani kasur yang sendiri itu dan tertidur beberapa saat kemudian.
Sepertinya aku dibangunkan gerimis. Oh, pukul 5 sore, kata jam dinding di kamar. Rupanya lebih banyak waktu beristirahat daripada membaca. Aku beranjak dengan tenaga yang belum penuh. Rintik hujan melembabi kusen jendela. Sayup, campur sari mengirama dari ruang bawah. Sudah lama benar aku tak mendengar suara Sony Joss. Bukan, itu Manthos, dengungku sesaat kemudian.
Aku ke luar kamar, maksudnya ingin mendengar campur sari agar lebih jelas. Suara Pak Wi memanggil Mbak Asih beberapa kali. Diam-diam aku menyambi memperhatikan pintu kamar Mbak Fani yang terbuka. Ruangannya ada di sebelah barat meja makan, berseberangan dari dapur.
Bukan salah siapa-siapa jika kejadian semalam kembali membenak. Ah! Kenapa tanggung begitu, sesal pikiranku yang liar.
Pak Wi tampak keluar dari dapur, melintasi meja makan sambil membawa setumpuk pakaian rapi. Ada tumpukan lain di atas kasur dekat pintu masuk. Sebaiknya aku menjemput sendiri ke bawah, syukur-syukur bisa menyapa pemilik kos ini.
Di bibir tangga kaki ini berhenti sebentar. Cawan di bawah lukisan baru lagi isinya. Kembang setaman…dan ada telur ayam kampung. Aneh-aneh saja Pak Wi, demikian aku menilai. Kuperhatikan lukisan itu, tidak ada istimewa. Hanya lukisan sepasang suami istri bergaya hiper realis. Jadi benar-benar mirip foto sungguhan. Jujur saja, aku memuji teknik lukisan ini.
Di bawah, Pak Wi dibantu Mbak Asih sibuk mengatur tumpukan pakaian sebelum siap disalurkan ke tiap-tiap pemiliknya.
"Pak, saya ambil sendiri aja," aku tak perlu basa-basi lagi.
"Oalah! nanti saja saya antar. Ini masih dihitung-hitung."
Ucapannya tak kugubris. Ada milik Wina di ujung ranjang. Aku membantu Pak Wi menghitung lembaran pakaian dan mencocokkannya dengan catatan.
"Sudah pas, Pak Wi. 29 potong."
Pak Wi melirik sebentar, berkata, "Ndak apa-apa sampeyan bawa sendiri? Saya antar saja."
Aku cuma tersenyum tanpa menjawabnya. Kuangkat bagian Wina dan mengucapkan terima kasih pada dua orang di situ.
Giliran melewati kamar Mbak Fani, sengaja kuatur langkah, tentulah sambil mengintip nakal. Tetapi dia tak terlihat. Kalau begitu lebih baik menunggu baju ini diantar, batin diriku yang kecewa.
Di ujung tangga, sesaji yang masih segar itu kembali minta perhatian. Kulambatkan langkah sekali lagi hingga membuka pintu kamar. Dan nyaris saja aku mengabaikan sesuatu yang lebih penting. Lukisan itu....
Pintu sudah berbunyi, namun aku harus memastikan apa yang terjadi pada bingkai itu. Mendekat dengan langkah ragu. Samar-samar aku mendapati perubahan dalam karya hiper realis itu.
Di atas kanvas hanya ada wanita seorang. Juga bukan gambaran yang tadi kulihat.
Ia mengenakan gaun putih bersulam kembang. Rambutnya terurai, tapi tidak jelas sepanjang apa.
Mata sosok itu seperti bola mata Monalisa. Pandangannya tetap mengejar dari sudut sempit.
Aku terbelalak saat mengingat ada banyak kemiripan dengan bayangan di jendela malam tadi.
Ingatanku semakin ke belakang. Sosok ini juga agaknya pernah menampakkan diri dalam pantulan air di kamar mandi.
Keringatku seakan membeku. Jantung degup mendegup tiada beraturan. Dalam kesadaran yang sedikit ini punggung telapak tanganku menggosok-gosok mata.
Kanvas itu kembali seperti semula. Apa mataku yang salah, atau pikiranku mulai hilang waras? Aku berdiam lebih lama dan kian mendekati lukisan itu. Ia tetap pada gambarnya yang lama, sepasang suami istri paruh baya berdiri dalam balutan beskap dan kebaya Jawa.
Tumpukan pakaian dalam dekapan tangan kiriku hampir-hampir jatuh berderai. Segera kutinggalkan lukisan itu, sementara hati ini tetap waswas. Wina belum juga pulang, sedangkan nomornya jelas tidak aktif. Aku butuh teman dalam situasi ini, Wina atau setidaknya siapa saja selagi manusia sungguhan. Mbak Fani? Uh! sempat saja membuat keinginan muluk-muluk.
Didorong penasaran bercampur waswas, aku turun lagi ke bawah. Membuat kopi sekaligus mengembalikan gelas. Kanvas di dinding luar kamar tak lagi menunjukkan keanehan. Dan itu kupastikan sekali lagi saat aku kembali dari dapur. Aku harus berani terbuka mengatakan, pikiranku mungkin yang keliru.
Menyesap kopi dalam udara gerimis, sambil membaca buku. Hmm, apa lagi yang lebih baik untuk mahasiswa semacam aku? Cara ini semestinya sudah betul. Perhatianku mulai hanyut pada teori-teori dan pembahasan tentang hukum ekstradisi.
Suara pintu di bawah terbuka, berikut seorang perempuan berkata-kata. Mungkin saja itu Wina atau Mbak Fani. Sekarang aku lebih berharap itu Wina. Kuletakkan buku kemudian keluar.
Ternyata itu Lis, salah satu penghuni kamar atas yang berhadapan dengan kamar misterius. Aku tak lebih dari tahu namanya. Dengan demikian lebih baik masuk ke kamar.
Akan tetapi, pembacaan hukum ekstradisi tidak selancar yang tadi. Lembaran buku berpindah, pasti tertiup angin. Namun yang paling mengganggu ialah, jendela aneh itu sudah tertutup. Pukul 17.40, sebentar lagi seruan waktu maghrib berkumandang.
Sesaat dari itu aku mendengar bunyi pintu tertutup agak keras. Bunyinya brakk!! Aku bertahan beberapa detik, menunggu siluet orang lewat atau bunyi pintu kamar mandi terbuka.
Tidak ada yang terjadi. Dengan gesit kaki ini mengayun ke luar. Pintu kamar itu tertutup dan digembok! Sedikit keberanian mengantarkanku lebih dekat. Tidak salah, aku tidak salah. Bunyi-bunyian pintu di lantai teratas ini sudah kuhapal. Kamar Lis jika ditutup seperti pintu kulkas. Sedangkan pintu kamar Via yang tusuk sate seperti merintih karena beradu dengan lantai.
Pintu sialan yang satu ini tetap tergembok. Tapi penasaranku lebih kuat, meski dada bergemuruh. Aku memegang gembok itu! Memeriksanya, dan sungguh gembok itu terkunci bukan main.
Terlanjur ingin tahu hingga aku tak mengawasi keadaan. Pak Wi seperti baru keluar dari pintu ajaib, berkata dari belakang, "Sedang apa, Mas?"
Pak Wi mungkin bisa saja menganggap dirinya baru memergoki maling. Dan orang yang tertangkap mata itu seketika kehilangan arah, tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamar itu ada yang punya," katanya seraya mendekat.
Ia berdiri di belakang seperti ingin menghukumku. "Mas penasaran betul kenalan dengan mbak yang di kamar ini?"
Dia bilang "mbak"? Jadi apa betul kamar ini ada penghuninya? Lantas yang kulihat selama ini?
Aku membalikkan badan dengan amat perlahan, bertanya, "Kamar ini enggak kosong?"
"Saya sudah bilang berapa kali?"
"Tapi saya selalu melihat..."
"Sampeyan percaya saya atau siapa?"
Arrgghhh!!!!
Pak Wi meletakkan pakaian bersih ke dalam kotak di depan kamar Lis dan Via. Kemudian pergi, tetapi sebelumnya memberi pernyataan bernada mengancam, "Untuk sekarang saya ndak akan bilang ke siapa-siapa."
Penjaga kos ini meninggalkanku sendirian yang tenggelam ribuan macam syak wasangka. Geram, malu, tidak percaya, dan lain-lain mengombang-ambing. Di muka tangga ia berhenti tak lama, menggeser cawan agar lebih rapat ke tembok. Masih bisa juga orang tua itu berlaku demikian?
Kesempatan untuk mencari tahu habis sudah. Aku berjalan lunglai sampai ke kamar. Langit masih membuat tanah basah dengan setetes-setetes. Dari luar, azan Maghrib melantun dalam suara yang berlain-lainan.
Gara-gara terus mengingat insiden itu, waktu rasanya berdetik begitu irit. Sudah satu jam aku mendiamkan diri sendiri, tetapi seperti menunggu hingga tengah malam. Sementara Wina masih belum ada kabar.
Untuk berusaha kembali normal, kupikir lebih baik mengerjakan yang remeh temeh. Pakaian Wina yang setumpuk itu kupindahkan satu persatu ke lemari.
Satu, dua, tiga, seterusnya lembar demi lembar tertata pada tempatnya. Sampai yang terakhir, lembaran yang ke-29. Ternyata aku salah hitung, yang benar 30 potong pakaian.
Yang terakhir ini sepertinya asing. Ini bukan punya Wina. Bahannya kesat, berwarna putih menjurus krem. Agar lebih pasti kutarik lipatan baju tersebut.
Sebuah gaun berlengan pendek. Ujung lengannya dihiasi renda. Tapi kemudian mendadak dadaku meletup-letup. Aku melihat sulaman bunga pada gaun itu. Motifnya semata-mata persis dari lukisan yang kulihat tadi.
Tanpa pikir panjang berlari ke jendela, ketakutan sudah meluap tanpa tertahan. Kubuang gaun menyeramkan itu ke halaman belakang.
Takut adalah awal kekacauan. Dan ketika seseorang kembali pada kesadarannya, ia baru tahu kekacauan itu sudah di depan mata.
Aku bangun agak kesiangan. Kususun-susun serpihan pengalaman kemarin, kemudian aku menemukan hal yang sebelumnya tidak mendapat perhatian.
Gelas Mbak Fani masih ada di kamar Wina!
Lapar, gerah, bau mulut tidak lagi soal. Aku segera bergegas pergi, tak lupa berterima kasih pada temanku yang mau berbagi kasur. Di depan gang kuhunus jari, mikrolet berhenti. Dengan begini aku menghemat lima menit sampai di rumah kos Wina.
Hanya sebentar mobil angkot biru muda itu sudah berhenti di depan rumah berpagar hitam. Aku turun setelah membayar, membuka pagar yang tidak terkunci. Setengah berlari aku sampai di kamar Wina. Ternyata ia sedang bersiap-siap pergi.
"Kamu ke mana kemarin?" sebelum ia curiga soal gelas, aku harus menyerangnya duluan.
"Ke rumah om aku di Depok," jawabannya tenang.
"Kenapa nggak bisa dihubungi?"
"Gimana bisa!" Wina menyela bedak, menunjukkan ponselnya sambil memencet-mencet, "Udah matot benda ini, kesel!"
"Kamu kok enggak sekalian bilang di kertas?"
"Mendadak."
"Tumben? Ada apa?"
"Mau minta tambahan beli hape baru lah! Emang apa lagi?"
Sebaiknya aku tak perlu panik, lagipula Wina tampak tidak menaruh curiga sedikit pun. Tangannya terus merapikan alis. Soal alis aku malas mengganggunya dengan pertanyaan, sebab bagian itu adalah keahliannya.
Mumpung Wina sibuk, lebih baik aku mandi. Kalau pekerjaan yang ini aku pakarnya. Biasanya tidak sampai lima menit semua sudah beres.
Dan empat menit kemudian aku kembali ke kamar. Wina mengukur dua alisnya sebagai tanda tahap itu hampir selesai.
"Yang," ia memutar lipstik sebentar, "Kamu semalam sama siapa?"
Inilah pertanyaan sesungguhnya. Untungnya kesegaran air membantuku berpikir cerdik.
"Sendiri, kenapa?"
"Itu gelas punya siapa?"
"Oh itu dari bawah, kemarin aku bikin kopi di dapur."
"Lho, kenapa nggak di sini?"
"Air dispenser kurang panas."
"Masa sih? Kemarin lusa aku bikin teh panas aja."
"Teh dan kopi beda dong."
"Kata siapa? Kopi cuma perlu 95 derajat kok, dispenser kita kan 97, paling kurang-kurang jadi 95 atau 93."
"Ya itu udah enggak enak," aku masih membela diri.
"Sok tahu kamu. 95 derajat itu kata barista lho."
"Kamu juga sok tahu. Kata barista warkop justru air mendidih."
"Dasar norak!" katanya sembari tertawa mengejek, "terus kamu dua kali bikin kopi di bawah? Ya Allah, segitunya."
Untunglah ia menyimpulkan sendiri. Wina sudah selesai bersolek, giliran aku menyelesaikan bagianku. Hanya menyemprot parfum, itu pun habis. Jadi kuminta miliknya, kebetulan Wina suka aroma unisex. Tentu saja aku harus menerima sedikit cemoohan lebih dulu sebelum ia mengizinkannya.
"Eh, yang. Mbak Fani itu cantik nggak?"
Sebenarnya apa sih tujuannya, aku menggeram di hati.
"Cantik."
"Kamu bisa naksir nggak sama dia?"
"Kalo dia lebih cantik dari pacarku mungkin aja, nyatanya kan enggak!"
"Najis!" ia kesal dan menendang bokongku dengan ujung sepatunya. Aku mengaduh seadanya.
"Tapi cantik sih dia, tinggi lagi, badan oke," kata Wina memberi pengakuan.
"Kamu sering perhatiin dia?"
"Emang kamu nggak? Bohong banget cowok nggak merhatiin dia!" yang sekarang diucapkannya sambil meninju punggungku.
"Ya asal pas nggak sengaja nggak apa-apa toh?"
"Tuh kan!" tinjunya lebih keras lagi dan berulang-ulang.
"Kamu lagi kenapa sih?"
Ia tersungging seperti mendapat kesenangan. "Aku lagi bayangin kamu sama Mbak Fani. Kayanya cocok, sama-sama tinggi."
"Umur beda jauh, WINA!" kataku tinggi.
"Aku nggak masalah kok kalau kamu sama dia," Wina menggenggam tanganku. Wajahnya serius, lanjutannya getir, "Tapi menurutku dia nggak bakal mau sama kamu. Mahasiswa, malas kuliah, dekil pula!"
"Kamu?"
"Ya aku cewek paling apes."
Terserah saja dia tertawa, asal rahasiaku masih terjaga baik-baik di kotak penyimpanannya.
***
Waktunya sendiri lagi. Wina pergi kuliah dan menjadi dirinya sendiri. Sungguh lebih baik jika dia bisa menyibukkan diri sebanyak-banyaknya waktu. Sebab aku tak perlu menemaninya berlama-lama.
Sementara ini buku menjadi teman pengusir sepi. Udara di luar bagus, cerah dengan awan menggumpal sedikit kelabu. Aku membaca di sisi jendela, bersisian sekian hasta dari jendela lain yang terbuka.
Lama kelamaan huruf-huruf di kertas membuat mata naik turun, hingga akhirnya menyerah begitu saja. Tidak ada lagi ide untuk mengisi waktu. Jadi kutemani kasur yang sendiri itu dan tertidur beberapa saat kemudian.
Sepertinya aku dibangunkan gerimis. Oh, pukul 5 sore, kata jam dinding di kamar. Rupanya lebih banyak waktu beristirahat daripada membaca. Aku beranjak dengan tenaga yang belum penuh. Rintik hujan melembabi kusen jendela. Sayup, campur sari mengirama dari ruang bawah. Sudah lama benar aku tak mendengar suara Sony Joss. Bukan, itu Manthos, dengungku sesaat kemudian.
Aku ke luar kamar, maksudnya ingin mendengar campur sari agar lebih jelas. Suara Pak Wi memanggil Mbak Asih beberapa kali. Diam-diam aku menyambi memperhatikan pintu kamar Mbak Fani yang terbuka. Ruangannya ada di sebelah barat meja makan, berseberangan dari dapur.
Bukan salah siapa-siapa jika kejadian semalam kembali membenak. Ah! Kenapa tanggung begitu, sesal pikiranku yang liar.
Pak Wi tampak keluar dari dapur, melintasi meja makan sambil membawa setumpuk pakaian rapi. Ada tumpukan lain di atas kasur dekat pintu masuk. Sebaiknya aku menjemput sendiri ke bawah, syukur-syukur bisa menyapa pemilik kos ini.
Di bibir tangga kaki ini berhenti sebentar. Cawan di bawah lukisan baru lagi isinya. Kembang setaman…dan ada telur ayam kampung. Aneh-aneh saja Pak Wi, demikian aku menilai. Kuperhatikan lukisan itu, tidak ada istimewa. Hanya lukisan sepasang suami istri bergaya hiper realis. Jadi benar-benar mirip foto sungguhan. Jujur saja, aku memuji teknik lukisan ini.
Di bawah, Pak Wi dibantu Mbak Asih sibuk mengatur tumpukan pakaian sebelum siap disalurkan ke tiap-tiap pemiliknya.
"Pak, saya ambil sendiri aja," aku tak perlu basa-basi lagi.
"Oalah! nanti saja saya antar. Ini masih dihitung-hitung."
Ucapannya tak kugubris. Ada milik Wina di ujung ranjang. Aku membantu Pak Wi menghitung lembaran pakaian dan mencocokkannya dengan catatan.
"Sudah pas, Pak Wi. 29 potong."
Pak Wi melirik sebentar, berkata, "Ndak apa-apa sampeyan bawa sendiri? Saya antar saja."
Aku cuma tersenyum tanpa menjawabnya. Kuangkat bagian Wina dan mengucapkan terima kasih pada dua orang di situ.
Giliran melewati kamar Mbak Fani, sengaja kuatur langkah, tentulah sambil mengintip nakal. Tetapi dia tak terlihat. Kalau begitu lebih baik menunggu baju ini diantar, batin diriku yang kecewa.
Di ujung tangga, sesaji yang masih segar itu kembali minta perhatian. Kulambatkan langkah sekali lagi hingga membuka pintu kamar. Dan nyaris saja aku mengabaikan sesuatu yang lebih penting. Lukisan itu....
Pintu sudah berbunyi, namun aku harus memastikan apa yang terjadi pada bingkai itu. Mendekat dengan langkah ragu. Samar-samar aku mendapati perubahan dalam karya hiper realis itu.
Di atas kanvas hanya ada wanita seorang. Juga bukan gambaran yang tadi kulihat.
Ia mengenakan gaun putih bersulam kembang. Rambutnya terurai, tapi tidak jelas sepanjang apa.
Mata sosok itu seperti bola mata Monalisa. Pandangannya tetap mengejar dari sudut sempit.
Aku terbelalak saat mengingat ada banyak kemiripan dengan bayangan di jendela malam tadi.
Ingatanku semakin ke belakang. Sosok ini juga agaknya pernah menampakkan diri dalam pantulan air di kamar mandi.
Keringatku seakan membeku. Jantung degup mendegup tiada beraturan. Dalam kesadaran yang sedikit ini punggung telapak tanganku menggosok-gosok mata.
Kanvas itu kembali seperti semula. Apa mataku yang salah, atau pikiranku mulai hilang waras? Aku berdiam lebih lama dan kian mendekati lukisan itu. Ia tetap pada gambarnya yang lama, sepasang suami istri paruh baya berdiri dalam balutan beskap dan kebaya Jawa.
Tumpukan pakaian dalam dekapan tangan kiriku hampir-hampir jatuh berderai. Segera kutinggalkan lukisan itu, sementara hati ini tetap waswas. Wina belum juga pulang, sedangkan nomornya jelas tidak aktif. Aku butuh teman dalam situasi ini, Wina atau setidaknya siapa saja selagi manusia sungguhan. Mbak Fani? Uh! sempat saja membuat keinginan muluk-muluk.
Didorong penasaran bercampur waswas, aku turun lagi ke bawah. Membuat kopi sekaligus mengembalikan gelas. Kanvas di dinding luar kamar tak lagi menunjukkan keanehan. Dan itu kupastikan sekali lagi saat aku kembali dari dapur. Aku harus berani terbuka mengatakan, pikiranku mungkin yang keliru.
Menyesap kopi dalam udara gerimis, sambil membaca buku. Hmm, apa lagi yang lebih baik untuk mahasiswa semacam aku? Cara ini semestinya sudah betul. Perhatianku mulai hanyut pada teori-teori dan pembahasan tentang hukum ekstradisi.
Suara pintu di bawah terbuka, berikut seorang perempuan berkata-kata. Mungkin saja itu Wina atau Mbak Fani. Sekarang aku lebih berharap itu Wina. Kuletakkan buku kemudian keluar.
Ternyata itu Lis, salah satu penghuni kamar atas yang berhadapan dengan kamar misterius. Aku tak lebih dari tahu namanya. Dengan demikian lebih baik masuk ke kamar.
Akan tetapi, pembacaan hukum ekstradisi tidak selancar yang tadi. Lembaran buku berpindah, pasti tertiup angin. Namun yang paling mengganggu ialah, jendela aneh itu sudah tertutup. Pukul 17.40, sebentar lagi seruan waktu maghrib berkumandang.
Sesaat dari itu aku mendengar bunyi pintu tertutup agak keras. Bunyinya brakk!! Aku bertahan beberapa detik, menunggu siluet orang lewat atau bunyi pintu kamar mandi terbuka.
Tidak ada yang terjadi. Dengan gesit kaki ini mengayun ke luar. Pintu kamar itu tertutup dan digembok! Sedikit keberanian mengantarkanku lebih dekat. Tidak salah, aku tidak salah. Bunyi-bunyian pintu di lantai teratas ini sudah kuhapal. Kamar Lis jika ditutup seperti pintu kulkas. Sedangkan pintu kamar Via yang tusuk sate seperti merintih karena beradu dengan lantai.
Pintu sialan yang satu ini tetap tergembok. Tapi penasaranku lebih kuat, meski dada bergemuruh. Aku memegang gembok itu! Memeriksanya, dan sungguh gembok itu terkunci bukan main.
Terlanjur ingin tahu hingga aku tak mengawasi keadaan. Pak Wi seperti baru keluar dari pintu ajaib, berkata dari belakang, "Sedang apa, Mas?"
Pak Wi mungkin bisa saja menganggap dirinya baru memergoki maling. Dan orang yang tertangkap mata itu seketika kehilangan arah, tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamar itu ada yang punya," katanya seraya mendekat.
Ia berdiri di belakang seperti ingin menghukumku. "Mas penasaran betul kenalan dengan mbak yang di kamar ini?"
Dia bilang "mbak"? Jadi apa betul kamar ini ada penghuninya? Lantas yang kulihat selama ini?
Aku membalikkan badan dengan amat perlahan, bertanya, "Kamar ini enggak kosong?"
"Saya sudah bilang berapa kali?"
"Tapi saya selalu melihat..."
"Sampeyan percaya saya atau siapa?"
Arrgghhh!!!!
Pak Wi meletakkan pakaian bersih ke dalam kotak di depan kamar Lis dan Via. Kemudian pergi, tetapi sebelumnya memberi pernyataan bernada mengancam, "Untuk sekarang saya ndak akan bilang ke siapa-siapa."
Penjaga kos ini meninggalkanku sendirian yang tenggelam ribuan macam syak wasangka. Geram, malu, tidak percaya, dan lain-lain mengombang-ambing. Di muka tangga ia berhenti tak lama, menggeser cawan agar lebih rapat ke tembok. Masih bisa juga orang tua itu berlaku demikian?
Kesempatan untuk mencari tahu habis sudah. Aku berjalan lunglai sampai ke kamar. Langit masih membuat tanah basah dengan setetes-setetes. Dari luar, azan Maghrib melantun dalam suara yang berlain-lainan.
Gara-gara terus mengingat insiden itu, waktu rasanya berdetik begitu irit. Sudah satu jam aku mendiamkan diri sendiri, tetapi seperti menunggu hingga tengah malam. Sementara Wina masih belum ada kabar.
Untuk berusaha kembali normal, kupikir lebih baik mengerjakan yang remeh temeh. Pakaian Wina yang setumpuk itu kupindahkan satu persatu ke lemari.
Satu, dua, tiga, seterusnya lembar demi lembar tertata pada tempatnya. Sampai yang terakhir, lembaran yang ke-29. Ternyata aku salah hitung, yang benar 30 potong pakaian.
Yang terakhir ini sepertinya asing. Ini bukan punya Wina. Bahannya kesat, berwarna putih menjurus krem. Agar lebih pasti kutarik lipatan baju tersebut.
Sebuah gaun berlengan pendek. Ujung lengannya dihiasi renda. Tapi kemudian mendadak dadaku meletup-letup. Aku melihat sulaman bunga pada gaun itu. Motifnya semata-mata persis dari lukisan yang kulihat tadi.
Tanpa pikir panjang berlari ke jendela, ketakutan sudah meluap tanpa tertahan. Kubuang gaun menyeramkan itu ke halaman belakang.
Diubah oleh pakdhegober 15-08-2019 17:47
bebyzha dan 13 lainnya memberi reputasi
12