Aku terduduk di bangku yang sama seperti enam bulan yang lalu. Tempat dimana aku berjanji akan menikahi Mita, tempat aku dan dia menjadi semakin dekat. Namun, hari ini tempat ini berubah kelam, air mataku tak tertahankan untuk mengalir menuju lautan yang ada di depan mata.
“Rudi!” teriak wanita yang selalu aku dengar setiap hari.
Aku pun melihatnya dengan mata yang merah dan basah. Dalam benakku, kenapa dia bisa tahu aku pergi ke tempat ini. Dia mendekatiku bersama dengan senja yang terlihat menguning dari balik jembatan itu.
“Kamu kenapa langsung pergi?” tanya Mita yang langsung duduk di sampingku.
“Maaf, sedari dulu aku belum pernah tahu satu hal tentang diri kamu, dan aku pun sepertinya tidak pernah mengatakannya.”
“Jawab dulu, kenapa kamu waktu ketemu sama ayahku?” tanyanya sangat serius.
Iya, tadi aku dari rumah Mita dan berniat untuk melamarnya. Sebuah cincin sudah aku beli untuk aku persembahkan kepadanya. Tapi, selama ini aku melupakan satu hal.
“Maaf, aku tidak bisa nikah sama kamu, Mita.”
“Kenapa, Rud?”
“Aku ini Nasrani ... saat tadi aku melihat ayahmu yang menggunakan peci dan sarung, aku langsung pamit karena dalam benakku, hari ini adalah hari aku melamar kamu.” Aku pun mengeluarkan cincin yang aku bawa dan memperlihatkannya pada Mita.
Tampak wajah sedihnya tak bisa dia tutupi, air matanya pun mengalir secepat arus di lautan itu. Mungkin perasaan hatinya yang sudah mencintai aku dan tahu akan hal ini, membuatnya hancur. Memang selama kami bersama, kami tidak pernah saling melihat Mita pergi beribadah ataupun sebaliknya.
Setiap Jum’at aku libur, sehingga dia tidak tahu aku tidak melaksanakan ibadah di hari itu. Setiap Minggu pun aku selalu jalan dengannya dan selalu melupakan gereja yang seharusnya aku lebih pentingkan, ya, aku memang bukan Nasrani yang taat.
“Kenapa kamu enggak pernah bilang?” ucapnya sambil menangis.
“Aku juga tidak tahu, aku mengira kita satu kepercayaan, sehingga aku yakinkan hati ini untuk melamarmu.”
“Tapi, tapi aku enggak mau kamu ninggalin aku, Rudi.”
Wajahnya kini bersandar ke pundakku, air matanya membasahi bajuku. Semua rencana yang aku sudah susun sepertinya sudah hancur berkeping-keping.
“Selama enam bulan ini, aku udah nabung buat pernikahan kita, buat bayar uang muka untuk beli rumah di Surabaya ... tapi mungkin Tuhan berkata lain.”
“Kenapa kamu enggak pernah bilang kalau kamu itu Nasrani?”
“Aku bukanlah Nasrani yang taat, mungkin jika Tuhan menggolongkan umat-umatnya, aku sudah bukan termasuk Nasrani lagi.”
“Aku juga bukan Muslim yang taat, aku selalu melewatkan waktu ibadah siangku, aku hanya salat jika dirumah saja, dan mungkin karena inilah Tuhan menegurku.”
Isak tangisnya terus terdengar, senja sudah hilang dari tadi berganti lampu taman yang nyala terang menggantikan sang matahari.
“Mungkin ini jalan kita, mungkin Tuhan tidak berniat menyatukan kita, mungkin juga Tuhan menegur kita berdua ... tapi kamu harus tetap kuat, tetap bisa menjalani hari-hari kamu tanpa aku, Mit.”
“Kamu jahat, kamu mau ninggalin aku gitu aja?” tanya Mita yang menarik wajahnya.
“Iya, biar kamu bisa melupakan Nasrani ini, Nasrani yang sudah membuat seorang Muslim mencintainya ... aku enggak bisa jadi Muslim, dan aku pun enggak mau kamu mengikuti aku menjadi seorang Nasrani.”
“Tapi aku sayang kamu, Rudi.”
“Sayangilah Tuhan kamu, Mit, mungkin luka yang terbuka hari ini adalah pengampunan dari Tuhan untuk segala kesalahanmu.”
Suasana malam hening ini sekiranya akan menjadi malam yang berbintang, jikalau aku bisa melamarnya.
“Ayok, aku antar kamu pulang,” ucapku mengajaknya.
“Lalu kamu mau kemana?”
“Aku juga pulang ke kosan.”
“Lalu besok?”
“Mungkin aku akan resign dan kembali ke Jakarta, mungkin di sana sudah lebih baik hari ini.”
Mita pun tertunduk, air matanya menetes bak hujan di bulan Desember.
“Bolehkah kita masih seperti orang berpacaran?”
“Kenapa, Mita?”
“Aku hanya ingin belajar membencimu saja, mungkin dengan mendengar dirimu menikah dengan orang lain, cintaku bisa hilang.”
“Baiklah, kita masih seperti kemarin yang tidak tahu bahwa hari ini kita harus berpisah.”
Aku dan Mita kembali pulang, aku mengantarnya terlebih dahulu menuju rumahnya setelah itu lalu aku langsung meninggalkan kosanku.
Malam ini juga, aku menelpon atasanku dan langsung meminta untuk keluar dari pekerjaan. Aku pun berkemas pakaianku dan langsung pamit pada Wisnu serta pemilik kosan. Walau masih tersisa dua minggu lagi, tapi aku tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan.
Pesta pernikahaan yang selalu aku bayangkan selama beberapa bulan ke belakang serasa ingin aku hapus, memiliki rumah di kota ini pun akhirnya sirna.
Andai saja waktu dulu aku pulang bersama Ika, andai saja waktu dulu aku mengatakan bahwa aku ini Nasrani pada Mita, andai saja hari ini tidak ada, andai saja tidak bekerja di sini. Hanya peradaian yang memenuhi setiap inchi pikiranku.
Andai saja waktu bisa diputar kembali ...
-End-