Again
Quote:
“yang kangen”, sms dari Wina
Aku tidak membaca semua sms nya, tak pikir panjang akupun telepon Wina
“halo”, kataku
“baru aku mau telepon”, kata Wina
“maaf dari kemaren ga smpet bales sms atau telepon balik”, kataku
‘iya ga apa-apa ko aku tau kamu lagi sama Luna”, katanya
“ko kamu bisa tau?”, kataku
“kan aku telepon ke rumah kamu yang, tau kamu sama Luna ya aku sih ga apa-apa”, katanya
“sama Abay ko yang ga Cuma berdua”, kataku
“aku juga tau ko yang, berdua juga ga apa-apa sih”, katanya
“yakin?”, kataku
“ya ga lah yang, kamu mah percaya aja lagi”, kataku
“ya kirain aja sih”, kataku
“awas aja yang kalo berani, tonjok ni”, katanya
Kami pun membahas kegiatan kami selama di sekolah dan hal-hal tidak penting lainnya. Kamipun berjanji bertemu di suatu tempat makan minggu depan saat Wina datang ke kotaku. Selama liburan waktu ku habiskan ke rumah Luna untuk nebeng main game karena di rumahku belum ada computer waktu itu. Walaupun bukan hanya game yang aku mainkan disana.
Akhirnya waktu ketemuan dengan Wina pun tiba, setelah selesai bersiap dan pamit dengan orang rumah akupun berangkat ke tempat yang di tuju.
Sesampainya di lokasi.
“ayang!”, teriak seseorang
Ku lihat Wina sudah ada di dalam, akupun menghampirinya.
“kamu sendiri? Udah dari tadi?”, kataku
“aku kesini sama Luna kok”, katanya
Luna? Aku tidak di beritahu kalau Luna akan ikut hari ini.
“dari sana kamu sendiri?”, kataku
“iya, nanti pulang ke rumah yang lama, tidur disana”, katanya
“sendiri?”, kataku
“ya engga lah, mangkanya ada Luna. Kamu ikut lah yang, temenin aku, kan kangen”, katanya
“nemenin aja kan? Iya aku temenin”, kataku
“ya ga nemenin juga sih yang”, katanya dengan wajah genit
“dasar”, kataku
Tak lama Luna datang.
“ko ga ngabarin kamu ikut sih Lun?”, kataku
“ga tau yang, dadakan nih si Wina”, katanya
Akupun melihat kearah Wina
“yang? Aku kamu? Kalian pacaran?”, kata Wina
“maaf Win, bukannya gitu. Kita ga pacaran ko”, kata Luna
“terus?”, kata Wina
“ga ada terusannya yang”, kataku
Akupun menceritakan semuanya ke Wina, dan dia mengangguk tanda mengerti
“jadi gitu, kenapa ga jadian aja?”, kata Wina
“ga tau tuh Win, ga ada yang nembak”, ledek Luna
Wina pun melihat ke arahku
“napa yang? Ga usah bahas ini lah”, kataku
Makanan pun datang, sambil makan suasana terasa tidak nyaman, kami bertiga sama-sama terdiam. Sampai selesai makan pun kami belum berbicara satu dengan yang lainnya. Terlihat Luna dan Wina saling buang muka dan ini semua karena salahku.
“ada nasi tuh”, kataku sambil mengambil tisu mengelap mulut Wina dan mengelap mulut Luna
Mereka berdua melihat ke arahku. Akupun tersenyum pada mereka.
“ada yang aneh sama muka aku?”, kataku
Lalu mereka berdua mencubit pipiku.
“ko di cubit?”, kataku
“kamu tuh yang bikin gemes tau”, kata Wina
“iya, so sweetnya mendadak sih”, kata Luna
“aku ga suka liat kalian kaya tadi, diem-dieman. Aku sih yang salah tapi aku emang kaya gini orangnya”, kataku
Wina dan Luna saling lirik lalu tertawa. Suasana pun kembali seperti biasa, setelah makan kamipun pergi ke toko buku, toko mainan dan lain-lain. Sampai sore hari kami memutuskan pulang ke rumah Wina.
“kamu jadi nginep kan Lun”, kata Wina
“jadi Win, tapi pake baju kamu ya”, kata Luna
“iya tenang aja”, kata Wina
Akupun duduk di sofa, walaupun rumahnya sudah tidak di huni tapi setiap 2 hari sekali ada orang yang membersihkan rumah Wina sehingga masih terlihat rapi.
“kamu mau makan apa yang?”, kata Wina
“baru tadi makan sih, masa makan lagi. Udah laper emang kamu?”, kataku
“belum sih, lagian kan gada bahan makanan, paling beli di depan aja”, kata Wina
“aku cape yang, mau rebahan. Kamu nyari-nyari buku udah kaya nyari apaan aja sih. Luna juga tuh, keliling ga jelas”, kataku sambil rebahan.
“yeee, kamu aja yang nurut ngikutin kita”, kata Luna tidak mau di salahkan
“kan ga ada yang jagain ,kalo ada yang colek gimana”, kataku
“so sweeeeeeet”, kata mereka berdua mencubit pipiku
“sakit sih”, kataku
Wina pun langsung mencium pipiku.
“kangen sih yang”, katanya
“yang malu ada Luna”, bisikku
“kalian ngomongin aku ya? Win, enak banget sih langsung nyosor”, Luna pun membangunkanku.
“pengen rebahan sih yang”, kataku ke Luna
“udah kamu duduk aja”, kata Luna
Akupun duduk di antara mereka. Entah apa yang merasuki Wina dia langsung mencium bibirku. Luna yang tadi memegang tanganku pun melepaskannya, tapi ku tarik tangannya dan ku genggam erat. Lalu ku dorong Wina menjauhiku
“kaget sih”, kataku
“abisnya kangen”, kata Wina
“jangan di lepas lagi”, kataku ke Luna
“maaf”, katanya menunduk
“Lun, Win dengerin aku bentar ya”, kataku sambil menghela nafas
“aku udah tau ko kamu mau ngomong apa. Berasa dejavu”, kata Luna
Wina pun melihat ke arah Luna
“dejavu waktu sama Rathi ya Lun?”, kata Wina yang membuatku kaget
Akupun melihat Luna mengangguk dan Wina yang mengelus punggung Luna