- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] Saat Senja Tiba
...
TS
gridseeker
[TAMAT] Saat Senja Tiba
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 333 suara
Siapa tokoh yang menurut agan paling layak dibenci / nyebelin ?
Wulan
20%
Shela
9%
Vino (TS)
71%
Diubah oleh gridseeker 04-07-2017 19:00
afrizal7209787 dan 31 lainnya memberi reputasi
32
1.4M
5.4K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gridseeker
#5128
Part 6
Mita dan Shela saling berhadapan dengan memasang kuda-kuda, dan sepertinya keduanya memasang kewaspadaan tinggi, saling menunggu lawannya menyerang. Melihat ekspresi Shela yang sangat serius, ane bisa simpulkan kalau kemampuan Mita nggak bisa dianggap remeh. Tiba-tiba Mita bergerak maju dengan cepat dan .... WUSSSS !!! Dia melancarkan swing kick ke arah kepala Shela, namun untungnya bebeb ane bisa menghindar dengan mengayunkan badannya ke belakang. Melihat serangannya meleset, lagi-lagi Mita melancarkan swing kick ke arah perut Shela namun bisa dihindari, dan PLAAAKKK!! Sebuah jump sidekick nyaris mengenai pipi kiri Shela, untung aja dia berhasil menangkisnya dengan tangan kiri, namun tetep aja tendangan Mita tersebut bikin bebeb ane sempoyongan dan nyaris jatuh.
Ane yang berdiri tepi matras cuma bisa melihat pertarungan mereka dengan hati deg-degan, apalagi sepertinya Shela keteteran menghadapi Mita yang menyerangnya dengan tendangan kilat bertubi-tubi. Buset, tendangan Mita ternyata cepet banget dan sangat efektif, sehingga menyulitkan Shela buat melakukan counter.
“Kamu nggak usah kuatir, mereka sudah sering kok latihan seperti ini. “ kata Viona tiba-tiba.
“Oh iya iya. “ jawab ane, lalu kembali melihat ke arah Shela dan Mita yang lagi asyik barter pukulan dan tendangan.
“Terus kamu siapanya Mita ? Kakaknya ? “ tanya ane.
“Bukan. Aku temennya Mita. Aku yang dulu ngenalin dia ke Shela dan Shela bisa bergabung ke sasana ini juga karena ajakan Mita, kok. “ jawab Viona tersenyum.
“Oooh… “ jawab ane sambil manggut-manggut.
Sebuah tendangan lagi dilancarkan Mita ke wajah Shela namun kali ini bisa ditepis, dan dengan cepat Shela membalas dengan melancarkan pukulan ke wajah Mita namun Mita bisa menghindar. Mita kembali melayangkan tendangan balasan, tapi itu jebakan, Shela berhasil menangkap kaki Mita dan bermaksud melakukan sweep kick ke kaki satunya tapi sayangnya…. PLAKKK !! Ternyata Mita berhasil mengantisipasinya sembari melancarkan scissor kick ke arah pipi kiri Shela dan untung Shela berhasil menangkisnya dengan tangan, namun kuatnya tendangan Mita membuat Shela sampai terhuyung-huyung dan jatuh terduduk.
Melihat lawannya jatuh, Mita cuma tersenyum sinis sambil berkacak pinggang. Dia pun melirik ane dengan ekspresi mengejek. Huhuhu… ternyata bener dugaan ane, si Mita kemampuannya nggak bisa dianggap remeh. Apalagi jurus-jurus tendangannya bener-bener cepat dan lincah membuat ane sampai menelan ludah melihat pertandingan mereka berdua. Ayo yang… kamu pasti bisa, harap ane dalam hati.
Shela dengan cepat bangkit berdiri sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang mungkin kesemutan karena menangkis tendangan Mita barusan. Keduanya kembali pasang kuda-kuda, dan kali ini bebeb ane melancarkan pukulan mautnya ke arah Mita namun berhasil ditepis, pukulan kedua, ketiga berhasil ditepis juga. Sebuah swing kick nyaris mengenai pinggang Mita jika dia nggak bergerak mundur. Melihat ada peluang membalas, Mita langsung melancarkan jump side kick andalannya ke arah tengkuk Shela namun ups… itu blunder besar !! Shela lebih cepat melancarkan pukulan ke arah bahu Mita yang jump sidekicknya belum terbentuk sempurna… dan GEDEBUK !! Mita dengan sukses jatuh terjengkang di matras.
Melihat lawannya terkapar, Shela langsung tersenyum lebar, sedangkan Mita masih terlentang di matras dengan nafas tersengal-sengal.
“Heh… sekarang lihat siapa yang terkapar di matras ?! “ tanya Shela dengan ketawa mengejek.
“Wuuuhhh !! Hebat kamu say !! “ teriak ane sambil bertepuk tangan. Sedangkan Viona cuma tersenyum simpul.
“Nggak, nggak !! Satu kali … satu kali lagi, ayo !! “ teriak Mita sambil bangkit berdiri. Kelihatan banget kalau Mita masih penasaran.
“Ngapain ? Kamu kan udah kalah. Tadi kesepakatannya cuma satu ronde kan ? “ jawab Shela.
“Ayo mbak satu ronde lagi. Tadi aku nyaris ngalahin kamu. Kumite yang kedua aku pasti menang !! “ desak Mita.
“Ogah ah, aku capek. Lagian aku mau pergi sama si ganteng ini. “ jawab Shela sembari tersenyum ke ane.
"Kok gitu sih mbak ?! Kamu pasti takut ya, kalah di depan pacar kamu ?! " tanya Mita dengan nada marah.
"Nggak, cuma males aja. " jawab Shela cuek sambil berjalan menuju sportbag-nya.
Mita nggak menjawab, cuma menatap Shela dengan wajah cemberut. Kelihatan banget kalau dia sebel setengah hidup.
“Udahlah, lebih baik sekarang kamu ganti baju terus kita pulang. “ ajak Viona ke Mita.
“Aku ganti baju dulu ya, habis itu ke tempatnya Mbak Wulan. “ kata Shela ke ane.
“Oke say. “ jawab ane.
Shela lalu menggandeng Mita yang masih cemberut, dan mereka berdua lalu berjalan keluar aula menuju ke ruang ganti. Sedangkan ane berdua dengan Wulan … eh Leona, eh Viona. Kami berdua lalu duduk di bangku yang ada di tepi aula. Karena belum kenal, ane rada canggung mau ngajak ngobrol dia meskipun tadi sempet bicara sebentar. Ane sempatkan melirik ke Viona yang lagi asyik mainan HP.
Eh dari samping Viona mirip banget sama Wulan. Ah jadi inget Wulan, dia sekarang kondisinya gimana ya ? Udah makan belum ya ? Duuuhh… pasti dia sekarang masih terbaring lemas di springbednya. Ah elah, ane malah jadi gelisah sendiri.
“Heh.. kamu kenapa kok kayak orang bingung gitu ? “ tanya Viona tiba-tiba.
“Ah … oh… nggak.. nggak papa kok. “ jawab ane gelagepan.
"Eh mobil diluar punya kamu ? Keren lho... " kata ane lagi. Lhaaa kok malah nanya mobil, ah elah...
"Ya bukan lah, itu punya bokap aku. Aku kan masih kuliah, mana bisa beli mobil. " jawab Viona ketawa.
"Ah iya ya. " jawab ane ikutan ketawa. Ah sial, gara-gara kepikiran Wulan terus, ane malah keliatan grogi di depan Viona.
Nggak berapa lama Shela dan Mita selesai ganti baju dan mereka berdua terlihat ngobrol sambil ketawa-ketiwi. Sepertinya Mita udah nggak sebel lagi.
"Kita pergi sekarang ? " tanya ane ke Shela, dan Shela cuma mengangguk sambil memasukkan kaos dan celana trainingnya ke sportbag-nya. Jam udah menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh dan kami berempat lalu keluar aula menuju parkiran kendaraan.
"Eh ganteng, aku pulang dulu ya... " kata Mita ke ane saat mau masuk ke mobilnya Viona.
"Dan awas lho mbak, Kumite berikutnya aku yang bakal menang. " kata Mita ke Shela dengan nada mengancam.
"Udah kubilang, kamu tuh ngimpi bisa ngalahin aku. " jawab Shela ketawa. Kami pun menatap mobilnya Viona berjalan cepat meninggalkan parkiran.
"Ternyata Mita hebat juga ya. " kata ane sembari memberikan helm ke Shela.
"Yee jangan salah, dia itu salah satu murid yang terkuat di kelas senior. Aku aja sebenarnya rada mikir-mikir kalo tanding lawan dia. " jawab Shela sambil mengenakan helm. Wihh, murid terkuat ? Ck.. pantes aja bisa bikin Shela keteteran.
Kami pun segera meninggalkan sasana menuju rumahnya Wulan, tapi di jalan kami sempatkan membeli buah-buahan seperti pisang dan apel untuk oleh-oleh. Dan nggak berapa lama kami sampai di rumahnya Wulan. Seperti biasa rumahnya terlihat sepi, dan saat mengetuk pintu, camer ane... eh ibunya Wulan menyambut kami dengan ramah.
"Malam bu. " sapa ane.
"Eh Mas Vino. Mari silahkan masuk mas. "
"Ini kebetulan saya mengajak Shela bu. Dia temennya Wulan, pengen njenguk juga. " kata ane, dan Shela langsung menyalami ibunya Wulan.
"Mari silahkan duduk. " kata beliau.
"Wulan gimana bu ? Apa panasnya udah turun ? " tanya ane saat kami bertiga duduk di ruang tamu.
"Belum mas. Tadi saya pegang badannya masih panas banget. " kata ibunya Wulan dengan nada sedih.
"Saya suruh makan juga cuma habis beberapa sendok. Katanya mulutnya pahit dan mau muntah terus. " timpal beliau lagi.
"Saya kuatir banget mas. Demamnya tinggi sekali, dan tadi siang aja dia sempet ngigau beberapa kali manggil-manggil kamu mas. " kata beliau lagi dengan nada lirih.
Mendengar penjelasan ibunya Wulan ane cuma tertegun, dan begitu juga Shela yang duduk di samping ane.
"Boleh saya ke atas bu buat melihat kondisinya Wulan ? " tanya ane.
"Silahkan mas. " jawab beliau.
"Kamu tunggu sebentar ya. " kata ane ke Shela, dan dia cuma mengangguk pelan.
Ane bergegas menuju ke kamarnya Wulan, dan dengan hati-hati ane membuka pintu takutnya dia lagi tidur. Tapi ternyata nggak, saat melihat ane datang, Wulan yang lagi terbaring di ranjangnya langsung tersenyum senang.
"Vin ? " sapa Wulan dengan lirih, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Gimana kondisi kamu ? " tanya ane sembari duduk di tepi ranjang. Wulan nggak menjawab, dan tiba-tiba aja dia memeluk ane dengan erat.
"Aku senang kamu datang Vin. Please... jangan pergi lagi. " kata Wulan sembari terisak.
"Lan.. kamu... ? " tentu saja ane kaget dengan sikapnya Wulan ini.
Ups... tiba-tiba aja Shela masuk kamarnya Wulan dan dia terkejut sekaligus terdiam memandang Wulan memeluk ane. Melihat ada Shela, spontan aja Wulan melepaskan pelukannya ke ane. Ane pun juga terkejut sekaligus merasa serba salah.
"Maaf Shel... " kata Wulan nggak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya sembari menyeka air mata yang mulai membasahi pipinya. Ane pun juga salah tingkah.
"Masuk sini say. " kata ane ke Shela, yang nggak menjawab dan cuma tersenyum kecut.
“Maaf kalau aku mengganggu kalian… “ kata Shela sambil kemudian keluar kamar. Ane terkejut melihat reaksi Shela dan begitu juga Wulan.
“Vin, kejar Vin. “ kata Wulan.
Ah sial, Shela sepertinya salah paham. Ane langsung beranjak berdiri dan mengejar Shela yang lagi berjalan menuruni tangga.
“Say, tunggu say. Kamu jangan salah paham dulu. “ kata ane sembari memegang pundaknya Shela.
“Aku sama Wulan… aku yakin tadi cuma reaksi spontan Wulan aja kok. Tau sendiri kan dia sejak tadi kesepian dan butuh temen… “ kata ane lagi.
"Tolonglah, kamu jangan salah mengerti ya. Ini nggak seperti yang kamu lihat kok. " ane masi terus membujuk Shela.
Tapi Shela nggak menjawab, dia cuma menunduk sambil memasang muka muram. Duh.. sepertinya Shela cemburu berat melihat Wulan memeluk ane tadi.
“Yuk, Wulan udah nunggu kamu lho. Dia pasti juga seneng kok kamu datang. “ kata ane sembari merangkul pundaknya Shela.
Lagi-lagi Shela cuma tertunduk diem, tapi dia menurut saat ane ajak masuk ke kamarnya Wulan. Pas sampai di dalam, Wulan menyambutnya dengan senyum ramah, dan Shela juga balas tersenyum. Cuma rada gimana gitu.
“Shel, maaf ya tadi, aku… “
“Nggak papa kok mbak, nggak usah dipikirin. Mungkin aku aja yang tadi terlalu sensi. “ jawab Shela tersenyum lalu duduk di tepi ranjang.
“Ya ampun, kamu panas banget mbak. “ kata Shela saat memegang tangannya Wulan.
“Udah minum obat belum ? “ tanya ane.
“Udah. “ jawab Wulan pelan.
“Kamu mau buah mbak ? Kebetulan tadi aku beli apel sama pisang. “ kata Shela sambil mengeluarkan isi tas plastik yang tadi dibawanya.
“Apel aja Shel. “ kata Wulan lirih sembari menunjuk apel merah di tangan Shela.
“Say tolong cuciin dong, sama sekalian ambilin pisau. “ pinta Shela ke ane.
Ane pun segera ke bawah menemui sang camer buat meminjam pisau dapur dan mencuci beberapa apel yang dibeli Shela tadi.
“Say, mungkin kita jangan lama-lama disini ya. Udah malam, Wulan biar istirahat. “ kata ane ke Shela, dan dia cuma mengangguk sembari mulai mengiris apel.
“Eh, nggak, nggak papa kok. Justru ada kalian aku malah senang. “ kata Wulan.
“Iya tapi kamu tetep butuh istirahat Lan. Kalau ada kami ntar kamunya nggak tidur-tidur. Apalagi kamu udah minum obat kan ? “ kata ane.
“Iya mbak. Bener kata Vino, kamu butuh banyak istirahat. “ kata Shela sembari menyuapkan sepotong apel ke mulut Wulan.
Wulan mengunyah potongan apel tersebut dengan pelan, dan sepotong demi sepotong disuapkan Shela ke mulut Wulan.
“Say aku suapin juga dong. “ pinta ane sembari membuka mulut.
Pukkk !! Tiba-tiba sesuatu yang besar dan bulat menempel di mulut ane. Ternyata Shela menempelkan sebuah apel utuh ke mulut ane.
“Apaan ?! “ kata ane dengan sewot sembari mengambil apel tersebut.
“Iris sendiri !! “ jawab Shela dengan ketus.
“Kok gitu sih ?! Dasar pelit !! “ jawab ane nggak kalah sewot.
“Bodo. “ jawab Shela cuek. Wulan cuma tersenyum simpul melihat tingkah kami berdua.
Kami bertiga ngobrol cukup seru di kamarnya Wulan sehingga nggak terasa jam udah menunjukkan pukul setengah sembilan, dan ane sama Shela memutuskan pamit.
"Udah jam setengah sembilan say, kita pamit yuk. " ajak ane ke Shela.
"Oh iya. " jawab Shela.
"Kami pulang dulu ya mbak. " kata Shela ke Wulan.
"Aku pamit dulu ya. " timpal ane.
"Hati-hati di jalan ya. " jawab Wulan lirih.
"Cepet sembuh mbak. Ntar kita bisa belanja ke pasar lagi. " kata Shela tersenyum.
"Iya Shel. Itu pasti. " jawab Wulan ikut tersenyum.
"Cieee yang udah kepengen jadi ibuk ibuk pasar. " ledek ane ke Shela, dan plekk!! Seperti biasa sebuah cablekan mendarat di lengan ane.
"Makasih ya, kalian udah kemari. " kata Wulan lagi.
Dan sebelum pulang kami diminta makan malam dulu sama camer, ... eh ibunya Wulan. Dan tentu saja ane nggak menolak. Lumayan lah, ngirit daripada jajan diluar pasti Shela bakal minta ke KFC atau McD.
Nggak berapa lama, kami meninggalkan rumahnya Wulan dan langsung menuju kosan Shela. Cuma yang rada aneh, sepanjang jalan Shela cuma diem nggak bicara sepatah katapun. Ane ajak bicara juga jawabnya cuma "ya, nggak, nggak papa.." Duh, jangan-jangan Shela masih marah karena kejadian tadi.
Akhirnya kami sampai di kosan Shela dan seperti dugaan ane, Shela kelihatan kalau lagi bete atau ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Kenapa ya ? Perasaan pas di kamarnya Wulan tadi dia biasa-biasa aja tuh.
"Say, kamu kenapa kok kayaknya bete banget. Kamu marah sama aku ? " tanya ane sambil berjalan menuju teras kosan Shela.
"Say kenapa sih ? " tanya ane lagi setelah Shela cuma diem aja.
"Vin... " panggil Shela tiba-tiba.
"Kalau misalnya aku pergi lagi gimana ? " tanya Shela dengan nada pelan. Tentu saja ane kaget banget dengan pertanyaan Shela barusan.
"Kamu ngomong apa sih say ?! " ane spontan bertanya balik.
"Aku cuma merasa... kalau selama ini aku... "
"... aku ini cuma jadi penghalang antara kamu dan Mbak Wulan... " kata Shela, sembari menatap ane dengan tatapan nanar.
"Kamu ini apa-apaan sih ?! Kok omonganmu jadi ngaco gini ?! " tanya ane dengan nada keras. Ah benar dugaan ane, Shela masih cemburu karena kejadian tadi.
"Say, denger ya, aku nggak ada perasaan apapun ke Wulan. Cewek yang aku sayang cuma satu yaitu kamu. Kamu masih nggak percaya ? " tanya ane sembari menatap Shela.
"A.. aku percaya Vin, tapi... " Shela keliatan mau mengatakan sesuatu.
"Oke aku akui, dulu aku memang suka sama Wulan. Tapi itu dulu, sekarang aku hanya cinta sama kamu... " kata ane sembari memegang pipi Shela dan menatap wajahnya.
"Tapi Mbak Wulan masih suka sama kamu Vin... dan kalian dulu pernah saling suka kan....dan aku lihat tadi dia butuh kehadiran kamu.... " Shela nggak sanggup menyelesaikan kalimatnya, dan matanya mulai berkaca-kaca.
"NGGAK !!! Aku NGGAK peduli !! Mau Wulan atau siapa kek, aku nggak peduli !! Aku hanya sayang sama kamu dan aku hanya ingin bersama kamu. Aku harus bilang berapa kali lagi sih biar kamu percaya ?! " tanya ane dengan bertubi-tubi.
Shela nggak menjawab, dia cuma menunduk dan ane denger dia mulai terisak. Astaga kok malah jadi begini sih ? Shela sebenarnya kenapa ? Ane bener-bener nggak mengerti dengan sikap Shela kali ini. Sikapnya sangat aneh dan itu bukan sikap cemburu tapi sepertinya sebuah keputusasaan ... ah, entahlah.
Ane lalu mendekati pacar ane ini, merangkul lalu memeluknya dengan erat.
"Vin... ? " Shela kelihatan terkejut saat ane peluk.
"Wulan boleh aja memeluk aku tadi... "
"Tapi aku hanya ingin memeluk kamu, cewek yang paling aku sayangi. " kata ane dengan lirih.
"Vin... eh say, jangan peluk pelukan disini dong... ntar ada yang liat lho... " kata Shela berusaha melepaskan pelukan ane. Padahal kalau mau dia gampang aja melepaskan diri.
"Tapi kamu percaya kan ? " tanya ane lagi masih memeluk Shela.
"Iya iya aku percaya. " jawab Shela pelan.
"Tolong, kamu ... jangan ngomong konyol seperti itu lagi ya ? " tanya ane seraya menatap Shela.
Shela nggak menjawab dan cuma mengangguk pelan sembari menyeka air mata yang mulai membasahi pipinya.
Ane yang berdiri tepi matras cuma bisa melihat pertarungan mereka dengan hati deg-degan, apalagi sepertinya Shela keteteran menghadapi Mita yang menyerangnya dengan tendangan kilat bertubi-tubi. Buset, tendangan Mita ternyata cepet banget dan sangat efektif, sehingga menyulitkan Shela buat melakukan counter.
“Kamu nggak usah kuatir, mereka sudah sering kok latihan seperti ini. “ kata Viona tiba-tiba.
“Oh iya iya. “ jawab ane, lalu kembali melihat ke arah Shela dan Mita yang lagi asyik barter pukulan dan tendangan.
“Terus kamu siapanya Mita ? Kakaknya ? “ tanya ane.
“Bukan. Aku temennya Mita. Aku yang dulu ngenalin dia ke Shela dan Shela bisa bergabung ke sasana ini juga karena ajakan Mita, kok. “ jawab Viona tersenyum.
“Oooh… “ jawab ane sambil manggut-manggut.
Sebuah tendangan lagi dilancarkan Mita ke wajah Shela namun kali ini bisa ditepis, dan dengan cepat Shela membalas dengan melancarkan pukulan ke wajah Mita namun Mita bisa menghindar. Mita kembali melayangkan tendangan balasan, tapi itu jebakan, Shela berhasil menangkap kaki Mita dan bermaksud melakukan sweep kick ke kaki satunya tapi sayangnya…. PLAKKK !! Ternyata Mita berhasil mengantisipasinya sembari melancarkan scissor kick ke arah pipi kiri Shela dan untung Shela berhasil menangkisnya dengan tangan, namun kuatnya tendangan Mita membuat Shela sampai terhuyung-huyung dan jatuh terduduk.
Melihat lawannya jatuh, Mita cuma tersenyum sinis sambil berkacak pinggang. Dia pun melirik ane dengan ekspresi mengejek. Huhuhu… ternyata bener dugaan ane, si Mita kemampuannya nggak bisa dianggap remeh. Apalagi jurus-jurus tendangannya bener-bener cepat dan lincah membuat ane sampai menelan ludah melihat pertandingan mereka berdua. Ayo yang… kamu pasti bisa, harap ane dalam hati.
Shela dengan cepat bangkit berdiri sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang mungkin kesemutan karena menangkis tendangan Mita barusan. Keduanya kembali pasang kuda-kuda, dan kali ini bebeb ane melancarkan pukulan mautnya ke arah Mita namun berhasil ditepis, pukulan kedua, ketiga berhasil ditepis juga. Sebuah swing kick nyaris mengenai pinggang Mita jika dia nggak bergerak mundur. Melihat ada peluang membalas, Mita langsung melancarkan jump side kick andalannya ke arah tengkuk Shela namun ups… itu blunder besar !! Shela lebih cepat melancarkan pukulan ke arah bahu Mita yang jump sidekicknya belum terbentuk sempurna… dan GEDEBUK !! Mita dengan sukses jatuh terjengkang di matras.
Melihat lawannya terkapar, Shela langsung tersenyum lebar, sedangkan Mita masih terlentang di matras dengan nafas tersengal-sengal.
“Heh… sekarang lihat siapa yang terkapar di matras ?! “ tanya Shela dengan ketawa mengejek.
“Wuuuhhh !! Hebat kamu say !! “ teriak ane sambil bertepuk tangan. Sedangkan Viona cuma tersenyum simpul.
“Nggak, nggak !! Satu kali … satu kali lagi, ayo !! “ teriak Mita sambil bangkit berdiri. Kelihatan banget kalau Mita masih penasaran.
“Ngapain ? Kamu kan udah kalah. Tadi kesepakatannya cuma satu ronde kan ? “ jawab Shela.
“Ayo mbak satu ronde lagi. Tadi aku nyaris ngalahin kamu. Kumite yang kedua aku pasti menang !! “ desak Mita.
“Ogah ah, aku capek. Lagian aku mau pergi sama si ganteng ini. “ jawab Shela sembari tersenyum ke ane.
"Kok gitu sih mbak ?! Kamu pasti takut ya, kalah di depan pacar kamu ?! " tanya Mita dengan nada marah.
"Nggak, cuma males aja. " jawab Shela cuek sambil berjalan menuju sportbag-nya.
Mita nggak menjawab, cuma menatap Shela dengan wajah cemberut. Kelihatan banget kalau dia sebel setengah hidup.
“Udahlah, lebih baik sekarang kamu ganti baju terus kita pulang. “ ajak Viona ke Mita.
“Aku ganti baju dulu ya, habis itu ke tempatnya Mbak Wulan. “ kata Shela ke ane.
“Oke say. “ jawab ane.
Shela lalu menggandeng Mita yang masih cemberut, dan mereka berdua lalu berjalan keluar aula menuju ke ruang ganti. Sedangkan ane berdua dengan Wulan … eh Leona, eh Viona. Kami berdua lalu duduk di bangku yang ada di tepi aula. Karena belum kenal, ane rada canggung mau ngajak ngobrol dia meskipun tadi sempet bicara sebentar. Ane sempatkan melirik ke Viona yang lagi asyik mainan HP.
Eh dari samping Viona mirip banget sama Wulan. Ah jadi inget Wulan, dia sekarang kondisinya gimana ya ? Udah makan belum ya ? Duuuhh… pasti dia sekarang masih terbaring lemas di springbednya. Ah elah, ane malah jadi gelisah sendiri.
“Heh.. kamu kenapa kok kayak orang bingung gitu ? “ tanya Viona tiba-tiba.
“Ah … oh… nggak.. nggak papa kok. “ jawab ane gelagepan.
"Eh mobil diluar punya kamu ? Keren lho... " kata ane lagi. Lhaaa kok malah nanya mobil, ah elah...
"Ya bukan lah, itu punya bokap aku. Aku kan masih kuliah, mana bisa beli mobil. " jawab Viona ketawa.
"Ah iya ya. " jawab ane ikutan ketawa. Ah sial, gara-gara kepikiran Wulan terus, ane malah keliatan grogi di depan Viona.
Nggak berapa lama Shela dan Mita selesai ganti baju dan mereka berdua terlihat ngobrol sambil ketawa-ketiwi. Sepertinya Mita udah nggak sebel lagi.
"Kita pergi sekarang ? " tanya ane ke Shela, dan Shela cuma mengangguk sambil memasukkan kaos dan celana trainingnya ke sportbag-nya. Jam udah menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh dan kami berempat lalu keluar aula menuju parkiran kendaraan.
"Eh ganteng, aku pulang dulu ya... " kata Mita ke ane saat mau masuk ke mobilnya Viona.
"Dan awas lho mbak, Kumite berikutnya aku yang bakal menang. " kata Mita ke Shela dengan nada mengancam.
"Udah kubilang, kamu tuh ngimpi bisa ngalahin aku. " jawab Shela ketawa. Kami pun menatap mobilnya Viona berjalan cepat meninggalkan parkiran.
"Ternyata Mita hebat juga ya. " kata ane sembari memberikan helm ke Shela.
"Yee jangan salah, dia itu salah satu murid yang terkuat di kelas senior. Aku aja sebenarnya rada mikir-mikir kalo tanding lawan dia. " jawab Shela sambil mengenakan helm. Wihh, murid terkuat ? Ck.. pantes aja bisa bikin Shela keteteran.
Kami pun segera meninggalkan sasana menuju rumahnya Wulan, tapi di jalan kami sempatkan membeli buah-buahan seperti pisang dan apel untuk oleh-oleh. Dan nggak berapa lama kami sampai di rumahnya Wulan. Seperti biasa rumahnya terlihat sepi, dan saat mengetuk pintu, camer ane... eh ibunya Wulan menyambut kami dengan ramah.
"Malam bu. " sapa ane.
"Eh Mas Vino. Mari silahkan masuk mas. "
"Ini kebetulan saya mengajak Shela bu. Dia temennya Wulan, pengen njenguk juga. " kata ane, dan Shela langsung menyalami ibunya Wulan.
"Mari silahkan duduk. " kata beliau.
"Wulan gimana bu ? Apa panasnya udah turun ? " tanya ane saat kami bertiga duduk di ruang tamu.
"Belum mas. Tadi saya pegang badannya masih panas banget. " kata ibunya Wulan dengan nada sedih.
"Saya suruh makan juga cuma habis beberapa sendok. Katanya mulutnya pahit dan mau muntah terus. " timpal beliau lagi.
"Saya kuatir banget mas. Demamnya tinggi sekali, dan tadi siang aja dia sempet ngigau beberapa kali manggil-manggil kamu mas. " kata beliau lagi dengan nada lirih.
Mendengar penjelasan ibunya Wulan ane cuma tertegun, dan begitu juga Shela yang duduk di samping ane.
"Boleh saya ke atas bu buat melihat kondisinya Wulan ? " tanya ane.
"Silahkan mas. " jawab beliau.
"Kamu tunggu sebentar ya. " kata ane ke Shela, dan dia cuma mengangguk pelan.
Ane bergegas menuju ke kamarnya Wulan, dan dengan hati-hati ane membuka pintu takutnya dia lagi tidur. Tapi ternyata nggak, saat melihat ane datang, Wulan yang lagi terbaring di ranjangnya langsung tersenyum senang.
"Vin ? " sapa Wulan dengan lirih, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Gimana kondisi kamu ? " tanya ane sembari duduk di tepi ranjang. Wulan nggak menjawab, dan tiba-tiba aja dia memeluk ane dengan erat.
"Aku senang kamu datang Vin. Please... jangan pergi lagi. " kata Wulan sembari terisak.
"Lan.. kamu... ? " tentu saja ane kaget dengan sikapnya Wulan ini.
Ups... tiba-tiba aja Shela masuk kamarnya Wulan dan dia terkejut sekaligus terdiam memandang Wulan memeluk ane. Melihat ada Shela, spontan aja Wulan melepaskan pelukannya ke ane. Ane pun juga terkejut sekaligus merasa serba salah.
"Maaf Shel... " kata Wulan nggak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya sembari menyeka air mata yang mulai membasahi pipinya. Ane pun juga salah tingkah.
"Masuk sini say. " kata ane ke Shela, yang nggak menjawab dan cuma tersenyum kecut.
“Maaf kalau aku mengganggu kalian… “ kata Shela sambil kemudian keluar kamar. Ane terkejut melihat reaksi Shela dan begitu juga Wulan.
“Vin, kejar Vin. “ kata Wulan.
Ah sial, Shela sepertinya salah paham. Ane langsung beranjak berdiri dan mengejar Shela yang lagi berjalan menuruni tangga.
“Say, tunggu say. Kamu jangan salah paham dulu. “ kata ane sembari memegang pundaknya Shela.
“Aku sama Wulan… aku yakin tadi cuma reaksi spontan Wulan aja kok. Tau sendiri kan dia sejak tadi kesepian dan butuh temen… “ kata ane lagi.
"Tolonglah, kamu jangan salah mengerti ya. Ini nggak seperti yang kamu lihat kok. " ane masi terus membujuk Shela.
Tapi Shela nggak menjawab, dia cuma menunduk sambil memasang muka muram. Duh.. sepertinya Shela cemburu berat melihat Wulan memeluk ane tadi.
“Yuk, Wulan udah nunggu kamu lho. Dia pasti juga seneng kok kamu datang. “ kata ane sembari merangkul pundaknya Shela.
Lagi-lagi Shela cuma tertunduk diem, tapi dia menurut saat ane ajak masuk ke kamarnya Wulan. Pas sampai di dalam, Wulan menyambutnya dengan senyum ramah, dan Shela juga balas tersenyum. Cuma rada gimana gitu.
“Shel, maaf ya tadi, aku… “
“Nggak papa kok mbak, nggak usah dipikirin. Mungkin aku aja yang tadi terlalu sensi. “ jawab Shela tersenyum lalu duduk di tepi ranjang.
“Ya ampun, kamu panas banget mbak. “ kata Shela saat memegang tangannya Wulan.
“Udah minum obat belum ? “ tanya ane.
“Udah. “ jawab Wulan pelan.
“Kamu mau buah mbak ? Kebetulan tadi aku beli apel sama pisang. “ kata Shela sambil mengeluarkan isi tas plastik yang tadi dibawanya.
“Apel aja Shel. “ kata Wulan lirih sembari menunjuk apel merah di tangan Shela.
“Say tolong cuciin dong, sama sekalian ambilin pisau. “ pinta Shela ke ane.
Ane pun segera ke bawah menemui sang camer buat meminjam pisau dapur dan mencuci beberapa apel yang dibeli Shela tadi.
“Say, mungkin kita jangan lama-lama disini ya. Udah malam, Wulan biar istirahat. “ kata ane ke Shela, dan dia cuma mengangguk sembari mulai mengiris apel.
“Eh, nggak, nggak papa kok. Justru ada kalian aku malah senang. “ kata Wulan.
“Iya tapi kamu tetep butuh istirahat Lan. Kalau ada kami ntar kamunya nggak tidur-tidur. Apalagi kamu udah minum obat kan ? “ kata ane.
“Iya mbak. Bener kata Vino, kamu butuh banyak istirahat. “ kata Shela sembari menyuapkan sepotong apel ke mulut Wulan.
Wulan mengunyah potongan apel tersebut dengan pelan, dan sepotong demi sepotong disuapkan Shela ke mulut Wulan.
“Say aku suapin juga dong. “ pinta ane sembari membuka mulut.
Pukkk !! Tiba-tiba sesuatu yang besar dan bulat menempel di mulut ane. Ternyata Shela menempelkan sebuah apel utuh ke mulut ane.
“Apaan ?! “ kata ane dengan sewot sembari mengambil apel tersebut.
“Iris sendiri !! “ jawab Shela dengan ketus.
“Kok gitu sih ?! Dasar pelit !! “ jawab ane nggak kalah sewot.
“Bodo. “ jawab Shela cuek. Wulan cuma tersenyum simpul melihat tingkah kami berdua.
Kami bertiga ngobrol cukup seru di kamarnya Wulan sehingga nggak terasa jam udah menunjukkan pukul setengah sembilan, dan ane sama Shela memutuskan pamit.
"Udah jam setengah sembilan say, kita pamit yuk. " ajak ane ke Shela.
"Oh iya. " jawab Shela.
"Kami pulang dulu ya mbak. " kata Shela ke Wulan.
"Aku pamit dulu ya. " timpal ane.
"Hati-hati di jalan ya. " jawab Wulan lirih.
"Cepet sembuh mbak. Ntar kita bisa belanja ke pasar lagi. " kata Shela tersenyum.
"Iya Shel. Itu pasti. " jawab Wulan ikut tersenyum.
"Cieee yang udah kepengen jadi ibuk ibuk pasar. " ledek ane ke Shela, dan plekk!! Seperti biasa sebuah cablekan mendarat di lengan ane.
"Makasih ya, kalian udah kemari. " kata Wulan lagi.
Dan sebelum pulang kami diminta makan malam dulu sama camer, ... eh ibunya Wulan. Dan tentu saja ane nggak menolak. Lumayan lah, ngirit daripada jajan diluar pasti Shela bakal minta ke KFC atau McD.
Nggak berapa lama, kami meninggalkan rumahnya Wulan dan langsung menuju kosan Shela. Cuma yang rada aneh, sepanjang jalan Shela cuma diem nggak bicara sepatah katapun. Ane ajak bicara juga jawabnya cuma "ya, nggak, nggak papa.." Duh, jangan-jangan Shela masih marah karena kejadian tadi.
Akhirnya kami sampai di kosan Shela dan seperti dugaan ane, Shela kelihatan kalau lagi bete atau ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Kenapa ya ? Perasaan pas di kamarnya Wulan tadi dia biasa-biasa aja tuh.
"Say, kamu kenapa kok kayaknya bete banget. Kamu marah sama aku ? " tanya ane sambil berjalan menuju teras kosan Shela.
"Say kenapa sih ? " tanya ane lagi setelah Shela cuma diem aja.
"Vin... " panggil Shela tiba-tiba.
"Kalau misalnya aku pergi lagi gimana ? " tanya Shela dengan nada pelan. Tentu saja ane kaget banget dengan pertanyaan Shela barusan.
"Kamu ngomong apa sih say ?! " ane spontan bertanya balik.
"Aku cuma merasa... kalau selama ini aku... "
"... aku ini cuma jadi penghalang antara kamu dan Mbak Wulan... " kata Shela, sembari menatap ane dengan tatapan nanar.
"Kamu ini apa-apaan sih ?! Kok omonganmu jadi ngaco gini ?! " tanya ane dengan nada keras. Ah benar dugaan ane, Shela masih cemburu karena kejadian tadi.
"Say, denger ya, aku nggak ada perasaan apapun ke Wulan. Cewek yang aku sayang cuma satu yaitu kamu. Kamu masih nggak percaya ? " tanya ane sembari menatap Shela.
"A.. aku percaya Vin, tapi... " Shela keliatan mau mengatakan sesuatu.
"Oke aku akui, dulu aku memang suka sama Wulan. Tapi itu dulu, sekarang aku hanya cinta sama kamu... " kata ane sembari memegang pipi Shela dan menatap wajahnya.
"Tapi Mbak Wulan masih suka sama kamu Vin... dan kalian dulu pernah saling suka kan....dan aku lihat tadi dia butuh kehadiran kamu.... " Shela nggak sanggup menyelesaikan kalimatnya, dan matanya mulai berkaca-kaca.
"NGGAK !!! Aku NGGAK peduli !! Mau Wulan atau siapa kek, aku nggak peduli !! Aku hanya sayang sama kamu dan aku hanya ingin bersama kamu. Aku harus bilang berapa kali lagi sih biar kamu percaya ?! " tanya ane dengan bertubi-tubi.
Shela nggak menjawab, dia cuma menunduk dan ane denger dia mulai terisak. Astaga kok malah jadi begini sih ? Shela sebenarnya kenapa ? Ane bener-bener nggak mengerti dengan sikap Shela kali ini. Sikapnya sangat aneh dan itu bukan sikap cemburu tapi sepertinya sebuah keputusasaan ... ah, entahlah.
Ane lalu mendekati pacar ane ini, merangkul lalu memeluknya dengan erat.
"Vin... ? " Shela kelihatan terkejut saat ane peluk.
"Wulan boleh aja memeluk aku tadi... "
"Tapi aku hanya ingin memeluk kamu, cewek yang paling aku sayangi. " kata ane dengan lirih.
"Vin... eh say, jangan peluk pelukan disini dong... ntar ada yang liat lho... " kata Shela berusaha melepaskan pelukan ane. Padahal kalau mau dia gampang aja melepaskan diri.
"Tapi kamu percaya kan ? " tanya ane lagi masih memeluk Shela.
"Iya iya aku percaya. " jawab Shela pelan.
"Tolong, kamu ... jangan ngomong konyol seperti itu lagi ya ? " tanya ane seraya menatap Shela.
Shela nggak menjawab dan cuma mengangguk pelan sembari menyeka air mata yang mulai membasahi pipinya.
Diubah oleh gridseeker 31-05-2017 09:40
jenggalasunyi dan 5 lainnya memberi reputasi
6
![[TAMAT] Saat Senja Tiba](https://s.kaskus.id/images/2017/05/28/9056684_20170528125804.jpg)
Setelah sekian lama jadi SR di forum SFTH ane memberanikan menyusun cerita ini. Sebenarnya cerita ini sudah lama ane pendam bertahun-tahun, meski begitu cerita ini sempat ane posting disini pake ID lain tapi dalam format plesetan komedi karena ane nggak PD kalau membikin versi real/sesungguhnya.
Pokoknya just enjoy the story hehe biar sama-sama enak
Dan karena ane masih nubi disini mohon maaf jika terjadi banyak kesalahan ya gan