Episode 7 gan... Selamat membaca...
Rabu, 8 pagi.
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Hari ini Bimo akan ada sesi one-on-one dengan Pak Hardi soal performance appraisal. Bimo sudah mempersiapkan form yang harus diisi dan Bimo juga sudah melatih kata-kata yang akan ditampilkan di depan bosnya.
Pak Hardi: “Bimo, let’s go…”
Bimo: “Ok Pak…”
Bimo dan Pak Hardi pergi ke salah satu ruang meeting di lantai 7.
Pak Hardi: “Oke Bimo, gimana menurut kamu tahun ini?”
Bimo: (dalam hati) “Gini-gini aja…”
“Menurut saya Bank kita sudah melakukan banyak kemajuan pak… dan ini berimbas juga ke saya pribadi karena tantangannya juga semakin meningkat…”
(dalam hati) “Keren banget dah kata-kata gw, ga rugi begadang nyiapinnya…”
Pak Hardi: “Jadi challenge nya semakin meningkat ya di Bank ini… Is it a good thing or bad thing for you?”
Bimo: (dalam hati) “B A D… bikin makin stress dan cape…”
“Good Pak… Saya jadi bisa terus berkembang dan belajar hal baru…”
Pak Hardi: “Then gimana performance kamu tahun ini menurut kamu? Apa yang bisa kamu banggakan?”
Bimo: “Saya merasa sudah bekerja sebaik mungkin Pak, dan semua pekerjaan bisa saya kerjakan sesuai deadline…”
Pak Hardi: “Ok good… Sekarang giliran saya ya…”
“Menurut saya kerja kamu cukup bagus, walaupun pasti masih banyak yang bisa diperbaiki. Dan menurut saya kamu sudah cukup eligible untuk promosi…”
Bimo menghela nafas dalam hati. Ini bukan pertama kalinya Pak Hardi ngomong gini ke Bimo. Tahun lalu pun Pak Hardi ngomong hal yang sama ke Bimo. Bimo ingat merasa sangat excited waktu pertama kali bossnya ngomong soal promosi. Namun sayang, waktu itu ada “tapi” nya di belakang. Makanya kali ini Bimo ga mau excited duluan.
Pak Hardi: “Hanya saja…”
Bimo: (dalam hati) “Tuh kan bener…”
Pak Hardi: “Sepertinya slot promosi tahun ini agak tight… dan kamu belum bisa dimasukkan ke slot itu… Saya sudah perjuangkan kamu di management, tapi susah…”
Bimo: (dalam hati) “Hmm udah biasa Pak…”
Pak Hardi: “Ok sekarang untuk masalah salary, Management sudah memutuskan kalo kamu akan mendapatkan increase sebesar 4.25% dan bonus kamu tahun ini sebesar 0.5 kali gaji kamu saat ini…”
Bimo: “0.5 kali gaji setelah kenaikan Pak…”
Pak Hardi: “Ngga dong… dikalikan dengan gaji kamu sebelum kenaikan…”
Bimo: “Ok Pak, terima kasih”
Bimo pun teringat pembicaraannya dengan Agus dan mulai merasa kalo Agus ada benarnya.
Bimo keluar dari ruang meeting dengan lesu, dan terlihat ada sedikit keramaian di ujung lantai 7.
Bimo: “Ada apaan tuh?”
Aldo: “Si Ronald di promote, baru diumumin…”
Bimo: (makin lesu) “Gitu ya…”
Aldo: “Kenapa lo?”
Bimo: “Gitu deh bro…”
Aldo: “Apa kata si boss?”
Bimo: “Ya gitu-gitu aja… Ga ada perubahan…”
Aldo: “Trus kenapa lo lemes?”
Bimo: “Ya justru karena itu… Gitu-gitu aja… Ga ada perubahan…”
Aldo: “Yah suram juga dong gw besok…”
Ronald: “Yeah maaann, I got promoted!!! AGAIN!!!”
Entah bagaimana tiba-tiba Ronald ada di dekat Bimo dan Aldo.
Ronald: Plaakk!!! (menepuk pundak Bimo dengan keras)
“How about you man? Everything good?”
Bimo: (dalam hati) “Wah beneran ya nih orang… Berani nyenggol gw lagi gw jedotin ke tembok…”
“Yah ok-ok aja…”
Ronald: “Promoted juga kan lo? Lo udah lebih lama dari gw kan kerja disini…”
Bimo: “Belum promote gw… Masih belum saatnya…”
Ronald: “Seriously? That’s too bad man… Mungkin lo harus kerja lebih keras lagi…”
Darah Bimo naik ke ubun-ubun dan kepalanya terasa mendidih. Dia selalu melihat Ronald pulang jam 5 tepat, atau paling lama 5.30. Sedangkan Bimo, sering lembur sampai jam 10 malam. Saking panasnya kepala Bimo, rasanya bisa buat masak Indomie satu kardus dan masak air buat bikin kopi 18 gelas.
Bimo pun langsung membereskan barangnya dan bersiap pulang. Dia mau pulang jam 5 tepat hari ini.
Bimo berjalan gontai menuju stasiun sambil terbayang angka 4.25%. Bimo tidak sadar sudah sampai di depan stasiun dan terlihat ada berjuta orang berdiri disana. “Waduh ada apa nih rame banget? Biasanya ga segininya…” Bimo pun mencari petugas untuk bertanya.
Bimo: “Mas ini ada apa ya rame banget?”
Petugas: “Keretanya gangguan mas, jadi terlambat semua…”
Bimo: “Gangguan kenapa mas?”
Petugas: “Kurang tau mas… Mungkin bannya kempes…”
Bimo: “……”
(Hening)
.
.
.
.
Ini saat yang sangat tidak tepat untuk bercanda sama Bimo. Apalagi pake jokes jaman perang kaya gitu. Konon jokes itu biasa diucapkan tentara NICA saat membonceng tentara Sekutu yang datang ke Indonesia pada tahun 1945 untuk membatalkan kemerdekaan Indonesia.
Bimo pun mundur pelan-pelan dan menghilang di kerumunan orang.
Bimo pun jadi serba salah. Mau naik bus, pasti kena macet… Kalo nunggu kereta, mungkin lama dan pasti di dalem gerbong udah kaya pepes teri… “Tapi ya udah lah kereta aja, setidaknya ga kena macet…” pikir Bimo.
Setelah hampir 30 menit menunggu, keretapun datang. Semua orang di peron udah ambil kuda-kuda untuk segera naik ke kereta. Pintu pun dibuka dan semua orang berebutan naik. Bimo pun akhirnya terdorong masuk dan terjepit diantara laki-laki bertubuh besar… “ ”Beruntung” banget gw malam ini… Kampret…” pikir Bimo. Badan Bimo berdempetan dengan laki-laki disampingnya. Laki-laki ini memakai kaos yang agak ketat dan lengan kaosnya cukup pendek. Tangan laki-laki ini ditumbuhi bulu yang lumayan lebat dan dia…. BERKERINGAT DERAS!!!
Setiap kereta nge-rem, keringat laki-laki itu berpindah ke baju dan tangan Bimo… Bimo rasanya pengen teriak keras setiap kali bersentuhan dengan laki-laki itu… “Ya Allah cobaan apa lagi ini? Kenapa Engkau meletakan laki-laki ini disampingku? Kenapa Engkau menciptakan laki-laki berbulu lebat? Apa sebenarnya fungsi bulu-bulu ditangan itu? Apakah supaya dia merasa hangat? Apakah dia tidak mengenal pakaian yang namanya jaket? Beri aku petunjukMu supaya aku bisa mengerti keadaan ini…” Bimo meratap dalam hati.
Keretapun tiba di salah satu stasiun. Banyak orang turun, termasuk laki-laki berbulu berkeringat di samping Bimo. “Alhamdulillah ya Allah… Engkau mendengar doaku…” Bimo bersyukur dalam hati. Bimo bisa berdiri agak nyaman sekarang, tidak terjepit lagi.
Bimo masih basah kuyup keringat, keringat Bimo sendiri dan keringat laki-laki itu. Ingin rasanya Bimo menggetar-getarkan badannya kaya anjing yang abis dimandiin.
Di depan Bimo, ada seorang remaja duduk memakai topi bertuliskan “Cantik sih Tapi Munapik”.
Otak Bimo langsung berpikir keras.
“Maksudnya apa ya pake topi itu?”
“Apa biar dibilang keren? Kalo iya, kerennya disebelah mana?”
“Ditujukan ke siapa kata-kata itu? Pasti ga ke semua cewe kan? Tapi kalo ditujukan ke satu cewe, pasti cewe itu penting banget karena orang ini udah mengeluarkan uang untuk membuat topi khusus untuk cewe itu.”
“Apakah si cewe itu ngerasa? Karena kalo ngga, sayang banget uang yang udah dikeluarin buat bikin topi ini…”
“Trus apa yang diharapkan laki-laki ini saat cewe itu melihat tulisan ini? Apakah dia berharap cewe itu langsung menangis dan menyesali semua perbuatannya? Trus kemudian langsung taubat nasuha dan menjadi cewe yang solehah?”
“Apa yang ada dipikiran orang ini saat memutuskan untuk membuat topi ini? Apakah dia sudah mengesampingkan urusan-urusan penting dalam hidupnya untuk datang ke tempat pembuatan topi dan memesan topi ini?”
“Apakah ini gambaran generasi muda Indonesia saat ini?”
“Apakah kelak orang yang memakai topi seperti ini bisa menjadi pejabat negara atau memimpin sebuah perusahaan besar?”
“Kenapa “Munapik” nya pake “P”? Kenapa ga pake “V” aja sekalian? “Munavik”
“Kenapa “K” nya ga diganti jadi “QUE” aja? “Munavique”
Bimo ingin sekali mendekat ke remaja itu dan menanyakan semua pertanyaan itu secara langsung. “Mungkin kalo gw bertanya baik-baik dan ramah, dia ga akan marah…” pikir Bimo.
Tiba-tiba kereta berhenti dan remaja itu berjalan keluar kereta. Bimo melihat di punggung kaos remaja itu bertuliskan “Pernah Disakiti”.
Beberapa potong kue cubit yang Bimo makan saat di stasiun tadi terasa bergerak dari perut menuju mulut Bimo. Untung Bimo masih bisa menelannya kembali sehingga dia ga muntah di depan umum.
Kamis, 2.30 siang.
Bimo sedang menghadap layar komputer dengan pikiran melayang. Dia memikirkan kenaikan gaji 4 persenan dan bonus setengah kali gajinya. Bukannya ga bersyukur, Bimo cuma mikir bagaimana caranya dia bisa dapet keinginan-keinginannya kalo peningkatan pendapatannya kecil banget tiap tahun.
Bimo sebenarnya sudah merencanakan untuk membeli sebuah kamera mirrorless yang sudah dia incar selama beberapa lama dan harganya sekitar 8 jutaan. Dia berencana untuk membeli kamera ini saat mendapat bonus. Tapi setelah mengetahui besar bonus yang akan diterimanya, sepertinya Bimo harus menunda membeli kamera itu karena uangnya mepet banget. “Belum jatah bini gw, belum bayar sekolah… Hmmm gagal lagi deh kamera…” pikir Bimo
Tiba-tiba HP Bimo berbunyi. Bimo melirik ke layar HP dan Bimo tidak mengenali nomor HP yang meneleponnya. Bimo akhirnya memutuskan untuk mengangkat HP nya.
Bimo: “Halo…”
Penelepon: “Selamat siang, dengan Bapak Bimo?”
Bimo: “Iya saya sendiri…”
Penelepon: “Saya Nia dari Bank Siaga, bisa minta waktunya sebentar Pak Bimo?”
Bimo: “Maaf mbak, saya sudah punya kartu kredit. Saya ga mau nambah lagi mbak…”
Penelepon: “Ini bukan kartu kredit Pak…”
Bimo: “Saya juga belum ada kebutuhan untuk KTA nya mbak…”
Penelepon: “……”
“Ini bukan KTA juga Pak…”
Bimo: “Jadi maksudnya?”
Penelepon: “Saya dari HR Bank Siaga. Kami lihat profil Bapak di Linkedin, dan kebetulan kami sedang ada posisi kosong yang mungkin cocok dengan profil Bapak. Bapak tertarik untuk explore?
Bimo seketika bangun dari tempat duduknya dan berjalan mencari tempat aman.
Bimo: “Oh boleh mbak…”
Bimo segera berjalan keluar dan akhirnya bersembunyi di bawah tangga darurat.
Penelepon: “Kami sedang mencari posisi Head of Business Process, boleh kita diskusi sebentar untuk bisa lebih tahu profil Pak Bimo lebih detail lagi?”
Bimo: “Boleh…”
(dalam hati) “Apakah ini jawaban dari doa ku? Apakah ini jawaban dari kenaikan gaji 4 persenan?”
Nia: “Pak Bimo, bisa dijelaskan sedikit tentang role Bapak saat ini?”
Bimo dan Nia pun berdiskusi mengenai beberapa hal, dan akhirnya Nia mengundang Bimo untuk interview di kantornya.
Nia: “Kalau besok jam 4 sore available Pak untuk interview di tempat kami?”
Bimo: “Wah office hour ya mbak… saya agak susah kalau office hour… Saya ga mau boong mbak ke boss saya, takut ga berkah… After office aja gimana?”
Nia: “Interviewer nya kebetulan ga bisa Pak, beliau harus pulang jam 5 karena ada keperluan…”
Bimo: (dalam hati) “Kaya boss gw juga nih alesannya…”
“Hmmm gimana ya mbak? Ok deh kalo gitu… Jam 4 ya…”
Nia: “Ok terima kasih Pak Bimo… See you tomorrow ya…”
Bimo tidak bisa berkonsentrasi bekerja setelah menerima telepon itu. Pikirannya penuh dengan pertanyaan apa yang kira-kira akan terjadi besok. Bimo memang sudah cukup lama tidak interview, karena dia pikir dia tidak mau pindah dari Bank yang sekarang ini. Tapi itu sebelum dia dapet kenaikan gaji 4 persen.
Jumat, 10 pagi.
Bimo benar-benar tidak bisa konsentrasi hari ini. Pikirannya campur aduk plus gugup soal nanti sore. Bimo semalaman mencari tips-tips interview kerja di internet, dan sudah men-download beberapa jawaban dari pertanyaan - pertanyaan interview.
Tapi ada satu hal penting lagi yang harus Bimo pikirkan, bagaimana caranya dia bisa kabur dari kantor sebelum jam 4 supaya bisa interview.
Bimo berpikir keras untuk mencari alasan agar bisa keluar dari kantor.
Bimo: (dalam hati) “Pake alasan apa ya gw? Anak sakit? Tapi takut ketulah gw, ntar anak gw sakit beneran…”
“Alasan gw sakit? Ah ntar sakit beneran juga…”
“Aaahaa… Bilang aja kakek gw sakit, toh kakek gw udah meninggal juga… Eh tapi takut didatengin gw ntar malem kalo boong bawa-bawa dia…”
Akhirnya Bimo menemukan alasan yang tepat dan langsung menuju ruangan Pak Hardi.
Bimo: “Siang Pak...”
Pak Hardi: “Masuk Bimo... ada apa?”
Bimo: “Mmm gini Pak… Saya mau ijin pulang jam 3 hari ini…”
Pak Hardi: “Oh kenapa?”
Bimo: “Saya mau jenguk tetangga saya Pak… Kasian dia sedang sakit keras…”
Bimo memutuskan untuk mengorbankan tetangganya buat dijadiin alasan, karena dia emang udah lama sebel sama tetangganya itu… Tetangganya itu sering menjemur cucian di depan rumahnya dan seringkali pakaian dalamnya terbang ke teras rumah Bimo. “Pernah ga lo bayangin rasanya pulang kerja cape-cape, dan lo liat ada kancut laki-laki di teras rumah lo? Bisa ngerusak rumah tangga ini namanya…” pikir Bimo berlebihan.
Kejam juga ya Bimo sama tetangganya. Gara-gara kancut terbang, tetangganya itu disumpahin sakit keras… -Broto, Narator.
Pak Hardi: “Jenguk orang bukannya bisa malam ya?”
Bimo: “Jenguknya jauh Pak, di Karawang. Jadi harus berangkat agak cepet…”
Pak Hardi: “Hah jauh amat Karawang… Emang sakit apa dia?”
Bimo: “Sakitnya ga jelas Pak… Semua dokter di Jakarta sudah angkat tangan… Sekarang dibawa ke dukun di Karawang…”
Buset jahat banget Bimo ama tetangganya… -Broto, narator.
Pak Hardi: “Hmm ya udah kalo gitu…”
Bimo: (dalam hati) “Yeeesssss….”
“Terima kasih Pak…”
(dalam hati) “Maap ya tetangga… Makanya kalo jemur kancut diiket yang bener…”
Jumat, 2.45 siang.
Bimo sudah mulai beres-beres untuk pergi dari kantor.
Aldo: “Ih ngapain lo beres-beres jam segini?”
Bimo: “Mau cabut gw, ada urusan…”
Aldo: “Cih… Mau interview ya lo?”
Bimo: “Diem lo… Mau tahu aja...”
Aldo: “Bagi-bagi lah bro kalo ada peluang… Gitu banget lo ama temen…”
Bimo: “Yah elah peluang apaan sih? Kalem lah… Duduk manis aja nikmatin kenaikan gaji lo…”
Aldo: “Wah sialan lo… Lo kan tau nasib gw surem juga…”
Aldo juga bernasib serupa dengan Bimo. Kenaikan gaji 4 persenan dan bonus kurang dari satu kali gaji.
Bimo: “Udah jangan berisik lo…”
Bimo pun akhirnya pergi dari kantor. Dia memilih naik ojek supaya tidak kena macet.
Bersambung…