- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#4972
PART 78
Januari 2009
Gua memasukkan koper ke bangku samping kemudi, lalu menutup pintunya. Gua berjalan lagi kearah depan teras, disitu Nenek sedang berdiri sambil mengusap airmatanya dengan tissu, Gua mendekatinya lalu langsung memeluknya.
“Maafkan Eza ya Nek… Maaf sudah buat Nenek dan keluarga kecewa, salam untuk Om dan Tante nanti Nek..”, Gua merasakan lembut usapan pada punggung badan dari tangan seorang wanita yang usianya sudah menginjak enam puluh empat tahun di tahun dua ribu sembilan ini.
“Kamu gak mengecewakan Nenek, kamu gak mengecewakan kami sekeluarga, kamu berjuang untuk menata hidup mu yang baru Za, dan itu bukanlah suatu kesalahan, dan tidak ada yang merasa dikecewakan oleh kamu Za”, Nenek masih mengusap punggung Gua,
“Jaga diri disana ya Za, jaga baik-baik Vera juga, kalau sudah tiba waktunya… Segera hubungi Laras, kami semua pasti merestui hubungan kalian”, kali ini Nenek melepaskan pelukkannya lalu memegangi kedua bahu Gua.
“Terimakasih banyak Nek, Semoga Eza bisa menjadi pribadi yang lebih baik bersama Vera kelak, semoga…”. Lalu Nenek mencium kening Gua dalam-dalam, Gua kembali memeluknya sesaat, barulah Gua mencium tangan beliau dan pamit kepadanya.
Gua berjalan lagi kearah mobil yang pintu kemudinya masih terbuka dan di sisinya berdiri wanita yang merupakan salah satu orang yang sangat berarti dalam hidup Gua, Gua bukanlah darah dagingnya, Gua bukanlah anak yang terlahir dari dalam rahimnya, tapi Gua adalah anaknya yang sangat ia sayangi dan kasihi. Gua lah satu-satunya anak yang ia miliki sekarang. Seorang wanita yang baru berusia dua puluh tujuh tahun yang sudah menjadi seorang Ibu untuk seorang anak laki-laki yang sudah berusia dua puluh tahun. Tapi bukti kasih saying dan cintanya kepada anak tirinya ini tidak perlu diragukan lagi, dia sudah cukup membuktikan kepeduliannya terhadap keluarga Gua selama ini. The perfect women I ever seen. Mba Laras benar-benar sosok wanita yang tangguh, kuat menghadapi segala cobaan dan ujian hidup, bahkan lebih mementingkan anak tirinya daripada kondisi kesehatannya sendiri. Dan sangat beruntunglah alm. Ayahanda sempat memilikinya walau hanya sesaat.
“Za, hati-hati dijalan nanti ya, kalau sudah sampai bandara telpon Mba ya. Salam untuk Vera juga", ucap Mba Laras ketika Gua berdiri dihadapannya.
"Iya Mba, aku jaga diri baik-baik di sana. Makasih ya Mba, ehm.. Iya nanti aku sampaikan salamnya ke Vera", jawab Gua sedikit memelankan suara.
“Eza, bener kamu gak mau Mba antar ?”, Tanya Mba Laras yang sudah menanyakan hal yang sama ratusan kali dari kemarin.
Gua tersenyum lalu memegang kedua tangannya. "Bener Mba, enggak apa-apa kok, Mba tenang aja ya..", Gua berusaha meyakinkannya lalu Gua peluk Ibu Gua ini. "Mba, maafin aku, maafin semua kesalahan aku selama di sini ya Mba, aku sayang Mba, aku udah anggap Mba Ibu kandungku sendiri...", tanpa terasa sedikit airmata Gua tergenang di kedua sudut mata ini.
Mba Laras mengusap punggung Gua, lalu Gua dengar suaranya bergetar. "Mba juga sayang sama kamu Za, kamu sudah Mba anggap sebagai anak Mba sendiri, adik Mba sendiri, teman juga sahabat Mba sendiri.. Kamu itu adalah bagian dari hidup Mba.. Jangan pernah lupain Mba dan Nenek di sini ya Za, janji... Janji kamu akan pulang lagi ke sini", Mba Laras memundurkan tubuhnya lalu memegang sisi bahu Gua.
Gua tersenyum kepadanya, lalu mengangguk. "Aku janji, aku janji pasti balik lagi ke sini Mba. Pasti", jawab Gua yakin.
...
Sekitar pukul tujuh malam Gua mengendarai mobil sendirian, sedangkan koper Gua taruh di jok samping kemudi. Gua belum mengarahkan si Black ke tol, melainkan ke sebuah gedung Bank swasta. Sesampainya di sini, Gua turun dan mengeluarkan koper, lalu Rekti menyambut Gua bersama rekannya yang sudah menunggu di parkiran mobil ini.
“Lama amat Boss.. Eh.. Lu ngapain bawa koper Za ?”, tanya Rekti seraya berjalan mendekati Gua.
“Gua mau ke luar negeri malam ini”.
“Ooh, jadinya malam ini Lu ke Singapore sama Vera, Za ? Kok ambil penerbangan malem Lu ?”, tanya Rekti lagi.
“Ya, biar santai aja sih dan gak ribet sampe di sananya Ti..”,
“Eh ini yang temen Lu yang mau beli itu ?”, Gua mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya kenalin ini temen Gua Za yang mau beli mobil Lu...”.
Ya, Gua memang sudah janjian dengan Rekti dari dua hari yang lalu kalau malam ini temannya akan membeli mobil Gua, Celica, si Black. Setelah dia test-drive, dan merasa cocok serta semuanya normal, teman Rekti pun mentransfer sejumlah uang ke rekening Gua dari tiga bank yang berbeda. Setelah Gua cek semua dana masuk dan jumlahnya sesuai kesepakatan, Gua serahkan kunci berikut surat-surat kendaraan kepada temannya itu. Rekti jelas Gua beri dana terimakasih, tapi entahlah, dia benar-benar menolak, sekalipun Gua bilang apakah nominalnya terlalu kecil, tapi dia tetap tidak mau menerima.
“Yaudah Za, gitu ya.. Makasih nih, mudah-mudahan mobilnya awet di temen Gua”, Rekti menjabat tangan Gua.
“Aamiin.. By the way, Gua lah yang bilang makasih buat Lu, asli makasih banyak da bantuin Gua malam ini ya Ti”, ucap Gua.
Rekti mengangguk. “Eh.. Bentar-bentar, Lu mau langsung ke bandara kan ?”, tanyanya lagi.
“Iya, Gua mau langsung ke bandara ini”, jawab Gua.
“Lu naik apa ke bandara ? Si Vera mana ?”.
Gua tersenyum lalu membalikkan badan lalu berjalan meninggalkan Rekti kearah luar parkiran.
“Wooiii.. Zaaa.. Lu mau kemana ?”, teriaknya.
Gua menengok kepada Rekti ketika sebuah sedan berhenti tepat di samping Gua. “Gua pergi dulu Ti, thanks ya..”, teriak Gua seraya membuka bagasi mobil lalu memasukkan koper ke dalamnya.
“Zaa.. Itu Veraa ???”, Rekti menunjuk mobil.
Gua tersenyum kepada Rekti sebelum membuka pintu samping kemudi. “Bukan”, Gua menjawab dengan suara sangat pelan dan membuat Rekti tidak bisa mendengar jawaban Gua. Lalu Gua buka pintu mobil dan masuk ke dalam. Tidak lama mobil pun kembali berjalan dan meninggalkan gedung Bank swasta itu bersama Rekti yang penuh tanda tanya dalam benaknya.
“Itu di tas kecil depan kamu tuh semuanya di situ Za”, ucap seorang wanita yang sedang mengemudikan mobil.
Gua mengambil sebuah tas kecil yang ia tunjuk tadi, lalu membukanya. “Tiket, boarding pass, dan JR pass ya... Oke sip semua, eh.. uang yen ? Buat apa ?”, tanya Gua seraya mengangkat segepok uang Yen yang cukup banyak.
“Emang kamu di sana bisa belanja pakai rupiah apa ?”, tanyanya balik.
“Iya enggak bisa, tapi maksudnya biar aku sendiri aja yang tuker di sana”.
“Udah sih terima aja, tinggal pakai aja kok Za..”.
“Minta nomor rekening kamu ya, sekalian alamat email sama nomor hp kamu”, ucap Gua sambil memasukkan uang yen tersebut ke dalam tas kecil lagi.
“Buat apa ? Pake nomor rekening segala, terus nomor telpon ? Kan kamu udah ada, memang hp kamu hilang ?”
“Sebentar lagi aku bakal gak ada hp kok, hehehe...”, jawab Gua.
Lalu dengan fikiran yang kebingungan dan masih harus fokus ke jalan tol, wanita di samping Gua ini menyebutkan nomor hp, nomor rekening dan alamat emailnya, Gua catat semuanya di buku notes yang berukuran kecil. Lalu kembali memasukkan notes tersebut ke dalam saku jaket bagian dalam.
“Kamu yakin Za soal tinggal di jepang ?”, Dia mulai menanyakan hal yang sama sedari tiga hari lalu.
“Bukan tinggal, cuma liburan aja, sementara kok.. By the way gak bosen nanyanya itu lagi itu lagi ?”.
“Iya iya iya... Terus gimana soal Vera ?”.
“Ya gak gimana-gimana, gitu aja hahaha...”, jawab Gua seraya tertawa menatap wajahnya.
Wanita yang sedang mengemudikan mobilnya itu hanya bisa menggelengkan kepala lalu berdeham.
Sekitar pukul setengah sepuluh malam kami berdua sampai di parkiran bandara Soetta. Lalu kami berjalan ke terminal keberangkatan internasional. Sebelum masuk ke dalam terminal 2E, Gua mengajak dirinya untuk makan malam, yang memang sudah terlalu malam. Kami makan di restoran cepat saji. Selesai menghabiskan makanan, hp Gua berdering, lalu mengambilnya dari saku celana dan melihat layar hp, baru kemudian Gua menekan tombol answer.
Gua langsung menonaktifkan hp, membuka casingnya dan mengeluarkan kartu telpon dan mematahkannya. Sementara wanita yang berada di depan Gua sedang menerima panggilan masuk.
“Aku, aku lagi di apartemen Mba... Beneran, iya... Kenapa ? Aku enggak tau apa-apa Mba... Emang Eza kenapa ? Loch ? Terus gimana ?... Yaudah iya iya kalau nanti aku dapet kabarnya nanti aku kabarin Mba Laras ya.. Iya Mba iya..”, tidak lama kemudian panggilan diakhiri.
Wanita ini langsung menggelengkan kepala sambil menatap Gua tajam.
“Keterlaluan kamu bohongin Mba Laras, aku sampai ikut-ikutan lagi iish..”, sungutnya kesal.
“Hehehe.. sekali-sekali, maaf ya.. Heehehe..”, Gua terkekeh pelan.
“Terus sekarang gimana ?”.
“Ya gak gimana-gimana, seperti yang aku bilang tiga hari lalu, kamu jangan bilang ke siapapun soal kepergian aku ini.. Maaf ya, aku cuma bisa minta bantuan kamu soalnya..”, Gua pegang punggung tangannya yang berada di atas meja makan ini.
“Ck.. Yaudah.. Tapi sekarang ceritain kamu mau tinggal sama siapa di sana ?”. Dia memundurkan tubuhnya lalu bersandar pada besi bangku dan melipat kedua tangannya.
Sebelumnya, Mba Laras menelpon Vera, untuk menanyakan apakah Gua dan Vera sudah di bandara soetta atau belum, karena Mba Laras menelponi Gua tapi tidak Gua angkat, setelah Mba Laras mengetahui ternyata keberangkatan Gua dan Vera esok pagi, sontak Mba Laras dan Vera sama-sama kaget, karena Gua malah pergi malam ini terlebih dahulu. Mba Laras akhirnya menanyakan kepada adiknya lewat telpon. Dan Vera... Menelpon Gua.
Gua tersenyum kepadanya, lalu membakar sebatang rokok, Gua hisap dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke atas.
“Aku akan tinggal di rumah Paman ku di prefektur Hokkaido, di kota Hakodate..”, lalu Gua meneguk soft drink dan kembali bercerita. “Saat Vera datang ke rumah Nenek seminggu lalu, dia ngajak aku ke singapore, untuk tinggal disana sama Papahnya juga...”, lanjut Gua.
“Iya kalo itu aku udah tau, kan kamu udah cerita”, kemudian dia mengambil fried fries dan mencoleknya ke mangkuk sambal dan memakannya.
“Iya, seharusnya aku pergi sama dia besok pagi ke Singapore, tapi lima hari yang lalu aku gak sengaja nemu kertas, secarik kertas di lemari kamar...”.
“Kertas ?”.
“Kertas itu berisi alamat email sepupu ku, namanya Kimiko, dia anak Paman ku... Dan malam harinya aku email dia, nanyain kabar, gak lama ternyata dia balas email aku, jadilah kita cahtt di messenger.. Dari obrolan di chatt itu, aku tiba-tiba pingin pergi ke Jepang, dan ya aku bilang cuma ingin liburan kesana aja.. Dan sekarang, seperti yang kamu udah ketahui sendiri, aku kontak kamu besoknya untuk beliin aku tiket ke Narita, dan beliin JR Pass...”, terang Gua kepadanya.
“Paspor kamu ?”.
“Dewa yang urus, kebetulan dia punya kerabat yang kerja di kantor imigrasi, makanya bisa selesai cepat, aku juga cuma bilang liburan ke dia, dan sama seperti ke kamu, aku tekankan kalau jangan sampai ada yang tau soal kepergian aku ini... Makanya mungkin tadi Rekti juga gak tau pas aku jual mobil ke temannya, berarti Dewa gak cerita apapun ke yang lain”.
“Za, kamu serius cuma liburan ? Terus ngapain kamu sampai jual mobil segala ? Tabungan kamu kan masih banyak, atau kamu bisa minta ke aku”, kali ini dirinya mencondongkan tubuh ke meja dan melipat tangannya di atas meja.
“Enggak, aku enggak tau sebenarnya berapa lama akan tinggal sama Paman ku. Terus soal mobil, aku rasa gak akan ada yang pakai lagi di sini, dan uang tabungan ku semuanya aku simpan di Mba Laras, semuanya... Makanya aku jual mobil untuk biaya hidup di Jepang..”.
“Kamu tuh Za, benar-benar nekat... Oh ya, terus kamu gak ngabarin Luna ? Dia juga khawatir karena ditelpon Mba Laras juga katanya”.
“Enggak, aku gak ngabarin Luna, Sherlin ataupun Mba Siska, cuma kamu yang tau hal yang sebenarnya”.
Gua lirik jam tangan pada pergelangan tangan kiri, satu jam lagi pesawat Gua akan take-off, kemudian Gua ajak wanita ini pergi masuk ke dalam bandara lagi, Gua menuju atm center dan mentransfer sejumlah uang ke nomor rekeningnya, untuk mengganti uang yen yang ia berikan dan pembelian tiket pesawat serta JR Pass. Gua berikan struk transfer kepadanya.
“Makasih banyak atas bantuannya ya, ini aku udah transfer uang ganti biaya yang kamu talangin untuk aku”, ucap Gua seraya menyerahkan bukti transfer.
“Kamu apaan sih Za! Enggak usah diganti ih! Udah aku transfer balik aja, aku masih ada uang dan gak perlu kamu ganti..”, Dia berjalan melewati Gua menuju atm center, sebelum semakin jauh Gua memegang tangan kanannya dari belakang.
Gua balikkan tubuhnya pelan dan langsung mendekatkan tubuh.
Cupp.. Cup.. Gua kecup bibirnya dua kali.
Gua menatap matanya lekat-lekat, wajahnya merona merah, dia tersipu malu. “Za.. Eeuu.. Mmm..”, dia menggigit bibir bawahnya, matanya sayu menatap Gua.
Gua tersenyum tipis lalu memiringkan wajah, dan kali ini Gua memagut bibirnya, menelusupkan lidah ke dalam rongga mulutnya yang langsung ia balas. Hanya sebentar, Gua langsung memundurkan wajah lagi dan menyeuka bibirnya yang basah dengan ibu jari.
“Aku janji, kamu yang akan aku hubungi lewat email.. Maafin aku ya udah libatin kamu untuk berbohong ke semuanya. Karena aku percaya sama kamu, tolong sampai nanti aku kabarin kamu, jangan pernah bilang soal kepergian aku ke Jepang, ke siapapun.. Aku minta maaf sekali lagi dan terimakasih banyak untuk semuanya”, ucap Gua, lalu dia, Tante Gua, Kinanti. Memeluk Gua erat.
Gua balas pelukannya dan mengusap rambutnya. Tidak lama Gua melepaskan pelukannya.
“Janji kamu bakal kabarin aku ya Za, janji kamu akan baik-baik aja di sana..”, ucapnya sambil menyeuka airmata yang turun membasahi pipinya yang putih mulus itu.
Gua tersenyum dan mengacak poninya. “Pasti Kak.. Pasti aku kabarin kamu dan aku jaga diri di sana.. Makasih sekali lagi. Aku berangkat dulu ya, baik-baik juga di sini. Salam untuk Veronica, Pak Boy dan Lisa di kampus”.
Kinan mengangguk lalu memeluk Gua lagi sebentar, lalu Gua kecup keningnya dan pamit untuk masuk ke dalam. Gua melangkahkan kaki semakin jauh, lalu sebelum Gua check-in, Gua membalikkan tubuh dan menatap Kinanti yang masih berdiri di tempat kami tadi berpisah, dia melambaikan tangan kepada Gua.
“Aku janji... Aku janji akan pulang lagi ke sini..”, ucap Gua sedikit berteriak.
Kinanti tersenyum lalu memberikan kecupan jauh dan meniupnya kepada Gua. Gua tertawa pelan dan membalas kecupan jauhnya.
Thank you for everything Sist.. Thanks
Gua memasukkan koper ke bangku samping kemudi, lalu menutup pintunya. Gua berjalan lagi kearah depan teras, disitu Nenek sedang berdiri sambil mengusap airmatanya dengan tissu, Gua mendekatinya lalu langsung memeluknya.
“Maafkan Eza ya Nek… Maaf sudah buat Nenek dan keluarga kecewa, salam untuk Om dan Tante nanti Nek..”, Gua merasakan lembut usapan pada punggung badan dari tangan seorang wanita yang usianya sudah menginjak enam puluh empat tahun di tahun dua ribu sembilan ini.
“Kamu gak mengecewakan Nenek, kamu gak mengecewakan kami sekeluarga, kamu berjuang untuk menata hidup mu yang baru Za, dan itu bukanlah suatu kesalahan, dan tidak ada yang merasa dikecewakan oleh kamu Za”, Nenek masih mengusap punggung Gua,
“Jaga diri disana ya Za, jaga baik-baik Vera juga, kalau sudah tiba waktunya… Segera hubungi Laras, kami semua pasti merestui hubungan kalian”, kali ini Nenek melepaskan pelukkannya lalu memegangi kedua bahu Gua.
“Terimakasih banyak Nek, Semoga Eza bisa menjadi pribadi yang lebih baik bersama Vera kelak, semoga…”. Lalu Nenek mencium kening Gua dalam-dalam, Gua kembali memeluknya sesaat, barulah Gua mencium tangan beliau dan pamit kepadanya.
Gua berjalan lagi kearah mobil yang pintu kemudinya masih terbuka dan di sisinya berdiri wanita yang merupakan salah satu orang yang sangat berarti dalam hidup Gua, Gua bukanlah darah dagingnya, Gua bukanlah anak yang terlahir dari dalam rahimnya, tapi Gua adalah anaknya yang sangat ia sayangi dan kasihi. Gua lah satu-satunya anak yang ia miliki sekarang. Seorang wanita yang baru berusia dua puluh tujuh tahun yang sudah menjadi seorang Ibu untuk seorang anak laki-laki yang sudah berusia dua puluh tahun. Tapi bukti kasih saying dan cintanya kepada anak tirinya ini tidak perlu diragukan lagi, dia sudah cukup membuktikan kepeduliannya terhadap keluarga Gua selama ini. The perfect women I ever seen. Mba Laras benar-benar sosok wanita yang tangguh, kuat menghadapi segala cobaan dan ujian hidup, bahkan lebih mementingkan anak tirinya daripada kondisi kesehatannya sendiri. Dan sangat beruntunglah alm. Ayahanda sempat memilikinya walau hanya sesaat.
“Za, hati-hati dijalan nanti ya, kalau sudah sampai bandara telpon Mba ya. Salam untuk Vera juga", ucap Mba Laras ketika Gua berdiri dihadapannya.
"Iya Mba, aku jaga diri baik-baik di sana. Makasih ya Mba, ehm.. Iya nanti aku sampaikan salamnya ke Vera", jawab Gua sedikit memelankan suara.
“Eza, bener kamu gak mau Mba antar ?”, Tanya Mba Laras yang sudah menanyakan hal yang sama ratusan kali dari kemarin.
Gua tersenyum lalu memegang kedua tangannya. "Bener Mba, enggak apa-apa kok, Mba tenang aja ya..", Gua berusaha meyakinkannya lalu Gua peluk Ibu Gua ini. "Mba, maafin aku, maafin semua kesalahan aku selama di sini ya Mba, aku sayang Mba, aku udah anggap Mba Ibu kandungku sendiri...", tanpa terasa sedikit airmata Gua tergenang di kedua sudut mata ini.
Mba Laras mengusap punggung Gua, lalu Gua dengar suaranya bergetar. "Mba juga sayang sama kamu Za, kamu sudah Mba anggap sebagai anak Mba sendiri, adik Mba sendiri, teman juga sahabat Mba sendiri.. Kamu itu adalah bagian dari hidup Mba.. Jangan pernah lupain Mba dan Nenek di sini ya Za, janji... Janji kamu akan pulang lagi ke sini", Mba Laras memundurkan tubuhnya lalu memegang sisi bahu Gua.
Gua tersenyum kepadanya, lalu mengangguk. "Aku janji, aku janji pasti balik lagi ke sini Mba. Pasti", jawab Gua yakin.
...
Sekitar pukul tujuh malam Gua mengendarai mobil sendirian, sedangkan koper Gua taruh di jok samping kemudi. Gua belum mengarahkan si Black ke tol, melainkan ke sebuah gedung Bank swasta. Sesampainya di sini, Gua turun dan mengeluarkan koper, lalu Rekti menyambut Gua bersama rekannya yang sudah menunggu di parkiran mobil ini.
“Lama amat Boss.. Eh.. Lu ngapain bawa koper Za ?”, tanya Rekti seraya berjalan mendekati Gua.
“Gua mau ke luar negeri malam ini”.
“Ooh, jadinya malam ini Lu ke Singapore sama Vera, Za ? Kok ambil penerbangan malem Lu ?”, tanya Rekti lagi.
“Ya, biar santai aja sih dan gak ribet sampe di sananya Ti..”,
“Eh ini yang temen Lu yang mau beli itu ?”, Gua mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya kenalin ini temen Gua Za yang mau beli mobil Lu...”.
Ya, Gua memang sudah janjian dengan Rekti dari dua hari yang lalu kalau malam ini temannya akan membeli mobil Gua, Celica, si Black. Setelah dia test-drive, dan merasa cocok serta semuanya normal, teman Rekti pun mentransfer sejumlah uang ke rekening Gua dari tiga bank yang berbeda. Setelah Gua cek semua dana masuk dan jumlahnya sesuai kesepakatan, Gua serahkan kunci berikut surat-surat kendaraan kepada temannya itu. Rekti jelas Gua beri dana terimakasih, tapi entahlah, dia benar-benar menolak, sekalipun Gua bilang apakah nominalnya terlalu kecil, tapi dia tetap tidak mau menerima.
“Yaudah Za, gitu ya.. Makasih nih, mudah-mudahan mobilnya awet di temen Gua”, Rekti menjabat tangan Gua.
“Aamiin.. By the way, Gua lah yang bilang makasih buat Lu, asli makasih banyak da bantuin Gua malam ini ya Ti”, ucap Gua.
Rekti mengangguk. “Eh.. Bentar-bentar, Lu mau langsung ke bandara kan ?”, tanyanya lagi.
“Iya, Gua mau langsung ke bandara ini”, jawab Gua.
“Lu naik apa ke bandara ? Si Vera mana ?”.
Gua tersenyum lalu membalikkan badan lalu berjalan meninggalkan Rekti kearah luar parkiran.
“Wooiii.. Zaaa.. Lu mau kemana ?”, teriaknya.
Gua menengok kepada Rekti ketika sebuah sedan berhenti tepat di samping Gua. “Gua pergi dulu Ti, thanks ya..”, teriak Gua seraya membuka bagasi mobil lalu memasukkan koper ke dalamnya.
“Zaa.. Itu Veraa ???”, Rekti menunjuk mobil.
Gua tersenyum kepada Rekti sebelum membuka pintu samping kemudi. “Bukan”, Gua menjawab dengan suara sangat pelan dan membuat Rekti tidak bisa mendengar jawaban Gua. Lalu Gua buka pintu mobil dan masuk ke dalam. Tidak lama mobil pun kembali berjalan dan meninggalkan gedung Bank swasta itu bersama Rekti yang penuh tanda tanya dalam benaknya.
“Itu di tas kecil depan kamu tuh semuanya di situ Za”, ucap seorang wanita yang sedang mengemudikan mobil.
Gua mengambil sebuah tas kecil yang ia tunjuk tadi, lalu membukanya. “Tiket, boarding pass, dan JR pass ya... Oke sip semua, eh.. uang yen ? Buat apa ?”, tanya Gua seraya mengangkat segepok uang Yen yang cukup banyak.
“Emang kamu di sana bisa belanja pakai rupiah apa ?”, tanyanya balik.
“Iya enggak bisa, tapi maksudnya biar aku sendiri aja yang tuker di sana”.
“Udah sih terima aja, tinggal pakai aja kok Za..”.
“Minta nomor rekening kamu ya, sekalian alamat email sama nomor hp kamu”, ucap Gua sambil memasukkan uang yen tersebut ke dalam tas kecil lagi.
“Buat apa ? Pake nomor rekening segala, terus nomor telpon ? Kan kamu udah ada, memang hp kamu hilang ?”
“Sebentar lagi aku bakal gak ada hp kok, hehehe...”, jawab Gua.
Lalu dengan fikiran yang kebingungan dan masih harus fokus ke jalan tol, wanita di samping Gua ini menyebutkan nomor hp, nomor rekening dan alamat emailnya, Gua catat semuanya di buku notes yang berukuran kecil. Lalu kembali memasukkan notes tersebut ke dalam saku jaket bagian dalam.
“Kamu yakin Za soal tinggal di jepang ?”, Dia mulai menanyakan hal yang sama sedari tiga hari lalu.
“Bukan tinggal, cuma liburan aja, sementara kok.. By the way gak bosen nanyanya itu lagi itu lagi ?”.
“Iya iya iya... Terus gimana soal Vera ?”.
“Ya gak gimana-gimana, gitu aja hahaha...”, jawab Gua seraya tertawa menatap wajahnya.
Wanita yang sedang mengemudikan mobilnya itu hanya bisa menggelengkan kepala lalu berdeham.
Sekitar pukul setengah sepuluh malam kami berdua sampai di parkiran bandara Soetta. Lalu kami berjalan ke terminal keberangkatan internasional. Sebelum masuk ke dalam terminal 2E, Gua mengajak dirinya untuk makan malam, yang memang sudah terlalu malam. Kami makan di restoran cepat saji. Selesai menghabiskan makanan, hp Gua berdering, lalu mengambilnya dari saku celana dan melihat layar hp, baru kemudian Gua menekan tombol answer.
Quote:
Gua langsung menonaktifkan hp, membuka casingnya dan mengeluarkan kartu telpon dan mematahkannya. Sementara wanita yang berada di depan Gua sedang menerima panggilan masuk.
“Aku, aku lagi di apartemen Mba... Beneran, iya... Kenapa ? Aku enggak tau apa-apa Mba... Emang Eza kenapa ? Loch ? Terus gimana ?... Yaudah iya iya kalau nanti aku dapet kabarnya nanti aku kabarin Mba Laras ya.. Iya Mba iya..”, tidak lama kemudian panggilan diakhiri.
Wanita ini langsung menggelengkan kepala sambil menatap Gua tajam.
“Keterlaluan kamu bohongin Mba Laras, aku sampai ikut-ikutan lagi iish..”, sungutnya kesal.
“Hehehe.. sekali-sekali, maaf ya.. Heehehe..”, Gua terkekeh pelan.
“Terus sekarang gimana ?”.
“Ya gak gimana-gimana, seperti yang aku bilang tiga hari lalu, kamu jangan bilang ke siapapun soal kepergian aku ini.. Maaf ya, aku cuma bisa minta bantuan kamu soalnya..”, Gua pegang punggung tangannya yang berada di atas meja makan ini.
“Ck.. Yaudah.. Tapi sekarang ceritain kamu mau tinggal sama siapa di sana ?”. Dia memundurkan tubuhnya lalu bersandar pada besi bangku dan melipat kedua tangannya.
Sebelumnya, Mba Laras menelpon Vera, untuk menanyakan apakah Gua dan Vera sudah di bandara soetta atau belum, karena Mba Laras menelponi Gua tapi tidak Gua angkat, setelah Mba Laras mengetahui ternyata keberangkatan Gua dan Vera esok pagi, sontak Mba Laras dan Vera sama-sama kaget, karena Gua malah pergi malam ini terlebih dahulu. Mba Laras akhirnya menanyakan kepada adiknya lewat telpon. Dan Vera... Menelpon Gua.
Gua tersenyum kepadanya, lalu membakar sebatang rokok, Gua hisap dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke atas.
“Aku akan tinggal di rumah Paman ku di prefektur Hokkaido, di kota Hakodate..”, lalu Gua meneguk soft drink dan kembali bercerita. “Saat Vera datang ke rumah Nenek seminggu lalu, dia ngajak aku ke singapore, untuk tinggal disana sama Papahnya juga...”, lanjut Gua.
“Iya kalo itu aku udah tau, kan kamu udah cerita”, kemudian dia mengambil fried fries dan mencoleknya ke mangkuk sambal dan memakannya.
“Iya, seharusnya aku pergi sama dia besok pagi ke Singapore, tapi lima hari yang lalu aku gak sengaja nemu kertas, secarik kertas di lemari kamar...”.
“Kertas ?”.
“Kertas itu berisi alamat email sepupu ku, namanya Kimiko, dia anak Paman ku... Dan malam harinya aku email dia, nanyain kabar, gak lama ternyata dia balas email aku, jadilah kita cahtt di messenger.. Dari obrolan di chatt itu, aku tiba-tiba pingin pergi ke Jepang, dan ya aku bilang cuma ingin liburan kesana aja.. Dan sekarang, seperti yang kamu udah ketahui sendiri, aku kontak kamu besoknya untuk beliin aku tiket ke Narita, dan beliin JR Pass...”, terang Gua kepadanya.
“Paspor kamu ?”.
“Dewa yang urus, kebetulan dia punya kerabat yang kerja di kantor imigrasi, makanya bisa selesai cepat, aku juga cuma bilang liburan ke dia, dan sama seperti ke kamu, aku tekankan kalau jangan sampai ada yang tau soal kepergian aku ini... Makanya mungkin tadi Rekti juga gak tau pas aku jual mobil ke temannya, berarti Dewa gak cerita apapun ke yang lain”.
“Za, kamu serius cuma liburan ? Terus ngapain kamu sampai jual mobil segala ? Tabungan kamu kan masih banyak, atau kamu bisa minta ke aku”, kali ini dirinya mencondongkan tubuh ke meja dan melipat tangannya di atas meja.
“Enggak, aku enggak tau sebenarnya berapa lama akan tinggal sama Paman ku. Terus soal mobil, aku rasa gak akan ada yang pakai lagi di sini, dan uang tabungan ku semuanya aku simpan di Mba Laras, semuanya... Makanya aku jual mobil untuk biaya hidup di Jepang..”.
“Kamu tuh Za, benar-benar nekat... Oh ya, terus kamu gak ngabarin Luna ? Dia juga khawatir karena ditelpon Mba Laras juga katanya”.
“Enggak, aku gak ngabarin Luna, Sherlin ataupun Mba Siska, cuma kamu yang tau hal yang sebenarnya”.
Gua lirik jam tangan pada pergelangan tangan kiri, satu jam lagi pesawat Gua akan take-off, kemudian Gua ajak wanita ini pergi masuk ke dalam bandara lagi, Gua menuju atm center dan mentransfer sejumlah uang ke nomor rekeningnya, untuk mengganti uang yen yang ia berikan dan pembelian tiket pesawat serta JR Pass. Gua berikan struk transfer kepadanya.
“Makasih banyak atas bantuannya ya, ini aku udah transfer uang ganti biaya yang kamu talangin untuk aku”, ucap Gua seraya menyerahkan bukti transfer.
“Kamu apaan sih Za! Enggak usah diganti ih! Udah aku transfer balik aja, aku masih ada uang dan gak perlu kamu ganti..”, Dia berjalan melewati Gua menuju atm center, sebelum semakin jauh Gua memegang tangan kanannya dari belakang.
Gua balikkan tubuhnya pelan dan langsung mendekatkan tubuh.
Cupp.. Cup.. Gua kecup bibirnya dua kali.
Gua menatap matanya lekat-lekat, wajahnya merona merah, dia tersipu malu. “Za.. Eeuu.. Mmm..”, dia menggigit bibir bawahnya, matanya sayu menatap Gua.
Gua tersenyum tipis lalu memiringkan wajah, dan kali ini Gua memagut bibirnya, menelusupkan lidah ke dalam rongga mulutnya yang langsung ia balas. Hanya sebentar, Gua langsung memundurkan wajah lagi dan menyeuka bibirnya yang basah dengan ibu jari.
“Aku janji, kamu yang akan aku hubungi lewat email.. Maafin aku ya udah libatin kamu untuk berbohong ke semuanya. Karena aku percaya sama kamu, tolong sampai nanti aku kabarin kamu, jangan pernah bilang soal kepergian aku ke Jepang, ke siapapun.. Aku minta maaf sekali lagi dan terimakasih banyak untuk semuanya”, ucap Gua, lalu dia, Tante Gua, Kinanti. Memeluk Gua erat.
Gua balas pelukannya dan mengusap rambutnya. Tidak lama Gua melepaskan pelukannya.
“Janji kamu bakal kabarin aku ya Za, janji kamu akan baik-baik aja di sana..”, ucapnya sambil menyeuka airmata yang turun membasahi pipinya yang putih mulus itu.
Gua tersenyum dan mengacak poninya. “Pasti Kak.. Pasti aku kabarin kamu dan aku jaga diri di sana.. Makasih sekali lagi. Aku berangkat dulu ya, baik-baik juga di sini. Salam untuk Veronica, Pak Boy dan Lisa di kampus”.
Kinan mengangguk lalu memeluk Gua lagi sebentar, lalu Gua kecup keningnya dan pamit untuk masuk ke dalam. Gua melangkahkan kaki semakin jauh, lalu sebelum Gua check-in, Gua membalikkan tubuh dan menatap Kinanti yang masih berdiri di tempat kami tadi berpisah, dia melambaikan tangan kepada Gua.
“Aku janji... Aku janji akan pulang lagi ke sini..”, ucap Gua sedikit berteriak.
Kinanti tersenyum lalu memberikan kecupan jauh dan meniupnya kepada Gua. Gua tertawa pelan dan membalas kecupan jauhnya.
Thank you for everything Sist.. Thanks

Diubah oleh glitch.7 28-05-2017 20:26
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
: