- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87.3K
Kutip
544
Balasan
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#478
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Spoiler for Part 46: Ervan Versus Werewolf:
Arthur melapisi pisaunya dengan listrik biru kemudian melemparkannya. Pemimpin vampire menghindarinya dengan mudah. Arthur meraih pisau lagi. Mengira Arthur tidak memiliki pisau lagi, si pemimpin vampire menggunakan haste untuk menusukkan goloknya ke jantung Arthur.
Hampir menusuk jantung Arthur, si vampire langsung terpukul mundur tiga langkah. Pemimpin vampire merasakan ada sesuatu yang menghantam dada kirinya. Sebutir peluru perak yang masih berasap dan panas terjatuh dari bajunya. Matanya lalu memandang ke sebuah gedung di Pluit’s Boat.
Sang werewolf yang awalnya berwujud manusia biasa, kini mulai berubah. Bulu-bulu hitam tumbuh dengan cepat hingga menutupi kulit-kulitnya. Lengan dan kakinya membesar dan semakin kekar. Tulang-tulang manusianya mengalami transformasi jadi semakin kuat dan kokoh. Yang paling jelas adalah bagian mulut. Gigi, rahang atas dan rahang bawahnya bertransformasi menjadi mirip serigala. Dia berubah wujud menjadi serigala sepenuhnya. Serigala besar yang berwarna hitam.
Maul buru-buru melompat memasuki rumah melalui jendela. Beberapa peluru berdesingan di atasnya. Dia mengambil handgun dan mulai menembak ke vampire bersenapan serbu melalu pintu. Tembakannya hanya menghantam sisi kanan mobil sedan. Dia mengintip melalui jendela dan melihat si manusia serigala meninggalkan dirinya. Kini Maul melawan vampire bersenapan serbu.
Dengan Eyes of Markmanshipnya, Ervan melihat werewolf masih bersembunyi di antara gerbang dan rumah. Tubuhnya memang tidak kelihatan karena warna bulunya yang hitam membaur dengan malam. Tapi mata Ervan mampu melakukan zooming sehingga polisi itu masih bisa melihat si serigala yang mengibas-ngibaskan ekornya. Baru akan membidik ekornya, tiba-tiba si serigala bergerak dan naik ke atas rumah.
Dengan Eyes of Markmanship, Ervan menembak dua kali. Tapi peluru Ervan hanya menyentuh atap rumah. Serigala itu menghilang ditelan kegelapan malam. Ervan melakukan zooming di sekitar rumah. Ervan tidak menemukan sehelai bulu serigala.
Kemampuan yang dimaksud Ervan bernama death detection yang dalam Bahasa Indonesia berarti deteksi kematian. Kemampuan ini memungkinkan pemiliknya untuk menghindari serangan dari belakang hingga menghindari peluru yang ditembakkan oleh pemilik Eyes of Markmanship terkakurat sekalipun. Singkatnya, pemilik kemampuan ini mampu merasakan hawa membunuh yang dilakukan lawan dari jarak dekat maupun jauh. Peluru yang ditembakkan dari dua kilometer selalu diselimuti hawa membunuh milik penembaknya. Tidak hanya si werewolf, Ervan dan para manipulator mampu melakukan ini.
Semua manipulator di seluruh dunia dilatih melakukan hal death detection sejak dini. Manipulator ditaruh di tengah ruangan dan penglihatannya ditutup oleh kain. Di ruangan itu ada empat mesin pelontar bola tenis. Tugas manipulator adalah menghindar atau menangkis bola-bola. Bola tenis keluar secara acak. Jika manipulator mampu menghindarinya dengan baik, maka tingkat kesulitan akan ditambah menjadi enam hingga delapan mesin. Bahkan latihan yang paling ekstrim bisa menggunakan pisau dan peluru sungguhan.
Ervan sekarang mempermak sebuah manekin rusak agar mirip dirinya. Tentu saja menggunakan manekin itu sebagai umpan. Tujuan Ervan adalah membiarkan werewolf itu salah sasaran dengan mengira manekin itu adalah dirinya. Sekarang tinggal mencari bangunan lain yang tidak kalah tinggi dari apartemen. Dia mengambil senapan snipernya dan berlali menuju tepi bangunan. Setelah mengecek tidak ada orang di sekitar bangunan, Ervan menggunakan pengendalian pasirnya untuk turun.
Ervan sekarang sudah di luar apartemen. Malam hari ini cukup sunyi. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Mencari bangunan yang bisa digunakan untuk menembak sang werewolf. Ervan memilih bangunan yang jumlah lantainya sama dengan dengan apartemen. Untuk naik ke lantai tertinggi, Ervan menggunakan pengendalian pasir. Dan dengan pengendalian warna, dia mengubah tubuhnya menjadi hitam agar bisa membaur dengan malam. Di bagian tertinggi bangunan cukup banyak benda-benda berserakan. Ada tumpukan meja kursi yang rusak dan beberapa alat kebersihan yang berantakan. Tapi yang paling banyak adalah tong-tong besi berkarat yang sudah tidak digunakan.
Sejak Ervan membalikkan badan, si manusia serigala sudah defensif. Dengan kekuatannya, dia menggunakan tong untuk menangkis serangan Ervan. Dia berhasil menepis semua peluru Ervan dan langsung menyerang dengan cara melemparkan tongnya. Selagi tongnya melayang, werewolf berlari mengikuti di belakangnya.
Ervan yang kesulitan membidik kaki werewolf, segera menggunakan pengendalian pasirnya. Dia membentuk pasirnya menjadi tangan raksasa dan menggunakannya untuk menangkap tong. Tong yang berhasil ditangkap digunakannya untuk memukul werewolf bagaikan palu yang memukul paku. Werewolf yang paham serangan itu langsung melompat mundur. Pukulan tong Ervan hanya menghantam lantai.
Werewolf tidak mau menyia-nyiakan momen. Dia menggunakan tong yang dilantai sebagai pijakan untuk melompat dan mencoba menerkam Ervan. Lawannya berhasil menghindarinya dengan cara bergulung ke kanan. Tinjunya hanya membengkokkan pagar.
Setelah bergulung, Ervan menciptakan pasirnya menjadi tombak-tombak kecil. Lagi-lagi si manusia serigala menggunakan tong untuk menangkis semua pasirnya.
Si werewolf berlari mendekati Ervan dengan cara yang berbeda. Dia tidak melemparkan tong besi seperti sebelumnya tapi menggunakannya sebagai tameng. Tapi di tengah larinya, werewolf itu tiba-tiba melihat sebuah meja berdiri di depannya. Karena pandangannya terhalang tong yang digunakannya sebagai tameng, dia terkejut melihat meja itu sehingga menabraknya. Dia terjatuh karena tidak stabil. Selain itu tongnya terlepas dari tangannya.
Tong yang terlepas terlempar menuju ke muka Ervan. Tong besi itu menghantam hidung Ervan. Polisi itu pusing dan tidak stabil sehingga dia berlutut sambil memegangi kepalanya. Darah mengucur dari hidungnya. Werewolf dan manipulator ini sama-sama lumpuh sesaat karena pusing.
Ervan dan werewolf maju dan saling serang. Mereka mengadu kemampuan bela diri masing-masing. Ervan sudah tidak menggunakan handgun lagi. Kali ini dia murni bertarung jarak dekat dengan kombinasi pengendalian pasir dan pisau. Sedangkan werewolf hanya menggunakan cakar dan taringnya. Pertarungan awalnya berjalan seimbang. Namun semakin lama tubuh Ervan semakin berlumuran darah. Bahkan Ervan mulai terdesak mundur ke tepian gedung. Bangsa werewolf yang berkekuatan dan berstamina lebih unggul dari manusia terus menyerang Ervan.
Untuk menghempaskan serangan werewolf, Ervan menggunakan cambuk pasir. Cambukan Ervan berhasil menghempaskannya. Meski sudah menjauh tujuh meter, werewolf tak mau memberi Ervan nafas. Dia segera berlari, melompat dan menerkam. Ervan mengumpulkan pasir dan menciptakan landasan di atas kepalanya tepat ketika si werewolf melompat. Werewolf itu mendarat di landasan Ervan. Sekuat tenaga, Ervan melemparkan werewolf ke luar gedung. Tidak cukup, Ervan menciptakan awan pasir dan menaikinya. Dengan awan pasirnya, dia menyusul werewolf yang sudah terlempar duluan.
Ervan menusukkan pasirnya yang runcing ke tubuh werewolf. Raungan werewolf yang nyaring memecah keheningan malam. Pasir runcing merobek perut hingga menembus punggungnya. Tahu bahwa bangsa werewolf tidak bisa mati hanya karena serangan seperti sederhana seperti ini, Ervan mengambil kedua handgunnya dan menembaki kepala werewolf hingga hancur, meski itu menghabiskan pelurunya. Werewolf pun mati di tangan Ervan ketika terjun bebas di udara.
Hampir menusuk jantung Arthur, si vampire langsung terpukul mundur tiga langkah. Pemimpin vampire merasakan ada sesuatu yang menghantam dada kirinya. Sebutir peluru perak yang masih berasap dan panas terjatuh dari bajunya. Matanya lalu memandang ke sebuah gedung di Pluit’s Boat.
Quote:
“Rompi anti peluru, ya?” kata Arthur yang menyadari kenapa si vampire tidak mati.
“Hei! Serigala sialan! Mereka dibantu seorang sniper!” teriak pemimpin vampire, “Cari sniper itu!”
“Hei! Serigala sialan! Mereka dibantu seorang sniper!” teriak pemimpin vampire, “Cari sniper itu!”
Sang werewolf yang awalnya berwujud manusia biasa, kini mulai berubah. Bulu-bulu hitam tumbuh dengan cepat hingga menutupi kulit-kulitnya. Lengan dan kakinya membesar dan semakin kekar. Tulang-tulang manusianya mengalami transformasi jadi semakin kuat dan kokoh. Yang paling jelas adalah bagian mulut. Gigi, rahang atas dan rahang bawahnya bertransformasi menjadi mirip serigala. Dia berubah wujud menjadi serigala sepenuhnya. Serigala besar yang berwarna hitam.
Quote:
“Daripada harus berlari jauh, bukankah lebih baik melawanku saja. Lagi pula kau belum tentu ...,” Maul menghentikan kata-katanya karena dia melihat vampire bersenapan serbu membidiknya.
Maul buru-buru melompat memasuki rumah melalui jendela. Beberapa peluru berdesingan di atasnya. Dia mengambil handgun dan mulai menembak ke vampire bersenapan serbu melalu pintu. Tembakannya hanya menghantam sisi kanan mobil sedan. Dia mengintip melalui jendela dan melihat si manusia serigala meninggalkan dirinya. Kini Maul melawan vampire bersenapan serbu.
Quote:
“Ervan, serigala bau itu menujumu,” kata Maul melalui HTnya.
“Dalam pantauanku,” kata Ervan.
“Dalam pantauanku,” kata Ervan.
Dengan Eyes of Markmanshipnya, Ervan melihat werewolf masih bersembunyi di antara gerbang dan rumah. Tubuhnya memang tidak kelihatan karena warna bulunya yang hitam membaur dengan malam. Tapi mata Ervan mampu melakukan zooming sehingga polisi itu masih bisa melihat si serigala yang mengibas-ngibaskan ekornya. Baru akan membidik ekornya, tiba-tiba si serigala bergerak dan naik ke atas rumah.
Quote:
“Bodoh!” kata Ervan, “Bukankah tubuhmu semakin terekspos?”
Dengan Eyes of Markmanship, Ervan menembak dua kali. Tapi peluru Ervan hanya menyentuh atap rumah. Serigala itu menghilang ditelan kegelapan malam. Ervan melakukan zooming di sekitar rumah. Ervan tidak menemukan sehelai bulu serigala.
Quote:
“Sial! Ternyata aku yang bodoh,” kata Ervan sambil meringkas peralatan snipernya, “Dia bisa mendeteksi hawa membunuh.”
Kemampuan yang dimaksud Ervan bernama death detection yang dalam Bahasa Indonesia berarti deteksi kematian. Kemampuan ini memungkinkan pemiliknya untuk menghindari serangan dari belakang hingga menghindari peluru yang ditembakkan oleh pemilik Eyes of Markmanship terkakurat sekalipun. Singkatnya, pemilik kemampuan ini mampu merasakan hawa membunuh yang dilakukan lawan dari jarak dekat maupun jauh. Peluru yang ditembakkan dari dua kilometer selalu diselimuti hawa membunuh milik penembaknya. Tidak hanya si werewolf, Ervan dan para manipulator mampu melakukan ini.
Semua manipulator di seluruh dunia dilatih melakukan hal death detection sejak dini. Manipulator ditaruh di tengah ruangan dan penglihatannya ditutup oleh kain. Di ruangan itu ada empat mesin pelontar bola tenis. Tugas manipulator adalah menghindar atau menangkis bola-bola. Bola tenis keluar secara acak. Jika manipulator mampu menghindarinya dengan baik, maka tingkat kesulitan akan ditambah menjadi enam hingga delapan mesin. Bahkan latihan yang paling ekstrim bisa menggunakan pisau dan peluru sungguhan.
Quote:
“Dia sengaja berdiri di atap rumah untuk menentukan darimana aku menembak,” gumam Ervan
Ervan sekarang mempermak sebuah manekin rusak agar mirip dirinya. Tentu saja menggunakan manekin itu sebagai umpan. Tujuan Ervan adalah membiarkan werewolf itu salah sasaran dengan mengira manekin itu adalah dirinya. Sekarang tinggal mencari bangunan lain yang tidak kalah tinggi dari apartemen. Dia mengambil senapan snipernya dan berlali menuju tepi bangunan. Setelah mengecek tidak ada orang di sekitar bangunan, Ervan menggunakan pengendalian pasirnya untuk turun.
Quote:
“Bagaimana kondisi di sana?” tanya Ervan.
“Masih seimbang,” jawab Maul, “Meski mereka tidak memiliki pengendalian, kemampuan bela diri mereka cukup merepotkan.”
“Biarkan aku menyelesaikan serigala ini dulu.”
“Roger.”
“Masih seimbang,” jawab Maul, “Meski mereka tidak memiliki pengendalian, kemampuan bela diri mereka cukup merepotkan.”
“Biarkan aku menyelesaikan serigala ini dulu.”
“Roger.”
Ervan sekarang sudah di luar apartemen. Malam hari ini cukup sunyi. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Mencari bangunan yang bisa digunakan untuk menembak sang werewolf. Ervan memilih bangunan yang jumlah lantainya sama dengan dengan apartemen. Untuk naik ke lantai tertinggi, Ervan menggunakan pengendalian pasir. Dan dengan pengendalian warna, dia mengubah tubuhnya menjadi hitam agar bisa membaur dengan malam. Di bagian tertinggi bangunan cukup banyak benda-benda berserakan. Ada tumpukan meja kursi yang rusak dan beberapa alat kebersihan yang berantakan. Tapi yang paling banyak adalah tong-tong besi berkarat yang sudah tidak digunakan.
Quote:
“Kali ini aku tidak akan meleset, serigala,” kata Ervan yang mengarahkan moncong senapan sniper ke manekin di puncak apartemen.
“Daripada harus kejar-kejaran, bagaimana jika kita bertarung di sini saja?” terdengar suara menggeram dari belakang Ervan.
Ervan bangkit dan tertawa. Polisi itu menanyai si werewolf tanpa membalikkan badan, “Bagaimana kau menemukanku?”
Werewolf itu tertawa. Tapi tawanya lebih terdengar seperti geraman, “Jika aku jadi sniper dan posisiku sudah ketahuan, maka aku pasti akan langsung mencari tempat baru. Karena itulah aku diam saja dan terus menunggumu keluar dari apartemen dan mengikuti langkahmu menuju tempat ini.”
“Kau tidak tertipu dengan manekinku?”
“Mana ada seorang mercenary profesional yang tertipu oleh manekin tolol.
“Tidak heran kalau kau mampu menghabisi kelompok para pecandu yang jumlahnya lebih banyak darimu.”
“Jangan banyak bicara. Sekarang kita berada di sini dan tak ada manusia biasa yang melihat kita.”
“Boleh juga,” kata Ervan yang membalikkan badan, mengambil handgun dari pinggangnya dan mulai menembak.
“Daripada harus kejar-kejaran, bagaimana jika kita bertarung di sini saja?” terdengar suara menggeram dari belakang Ervan.
Ervan bangkit dan tertawa. Polisi itu menanyai si werewolf tanpa membalikkan badan, “Bagaimana kau menemukanku?”
Werewolf itu tertawa. Tapi tawanya lebih terdengar seperti geraman, “Jika aku jadi sniper dan posisiku sudah ketahuan, maka aku pasti akan langsung mencari tempat baru. Karena itulah aku diam saja dan terus menunggumu keluar dari apartemen dan mengikuti langkahmu menuju tempat ini.”
“Kau tidak tertipu dengan manekinku?”
“Mana ada seorang mercenary profesional yang tertipu oleh manekin tolol.
“Tidak heran kalau kau mampu menghabisi kelompok para pecandu yang jumlahnya lebih banyak darimu.”
“Jangan banyak bicara. Sekarang kita berada di sini dan tak ada manusia biasa yang melihat kita.”
“Boleh juga,” kata Ervan yang membalikkan badan, mengambil handgun dari pinggangnya dan mulai menembak.
Sejak Ervan membalikkan badan, si manusia serigala sudah defensif. Dengan kekuatannya, dia menggunakan tong untuk menangkis serangan Ervan. Dia berhasil menepis semua peluru Ervan dan langsung menyerang dengan cara melemparkan tongnya. Selagi tongnya melayang, werewolf berlari mengikuti di belakangnya.
Ervan yang kesulitan membidik kaki werewolf, segera menggunakan pengendalian pasirnya. Dia membentuk pasirnya menjadi tangan raksasa dan menggunakannya untuk menangkap tong. Tong yang berhasil ditangkap digunakannya untuk memukul werewolf bagaikan palu yang memukul paku. Werewolf yang paham serangan itu langsung melompat mundur. Pukulan tong Ervan hanya menghantam lantai.
Werewolf tidak mau menyia-nyiakan momen. Dia menggunakan tong yang dilantai sebagai pijakan untuk melompat dan mencoba menerkam Ervan. Lawannya berhasil menghindarinya dengan cara bergulung ke kanan. Tinjunya hanya membengkokkan pagar.
Setelah bergulung, Ervan menciptakan pasirnya menjadi tombak-tombak kecil. Lagi-lagi si manusia serigala menggunakan tong untuk menangkis semua pasirnya.
Quote:
“Untuk seorang non-manipulator, kau hebat juga,” kata Ervan.
“Aku bukan manusia sepertimu,” kata si werewolf, “Werewolf lebih kuat dari manusia.”
“Hei, jangan rasis, kawan,” kata Ervan.
“Aku bukan manusia sepertimu,” kata si werewolf, “Werewolf lebih kuat dari manusia.”
“Hei, jangan rasis, kawan,” kata Ervan.
Si werewolf berlari mendekati Ervan dengan cara yang berbeda. Dia tidak melemparkan tong besi seperti sebelumnya tapi menggunakannya sebagai tameng. Tapi di tengah larinya, werewolf itu tiba-tiba melihat sebuah meja berdiri di depannya. Karena pandangannya terhalang tong yang digunakannya sebagai tameng, dia terkejut melihat meja itu sehingga menabraknya. Dia terjatuh karena tidak stabil. Selain itu tongnya terlepas dari tangannya.
Tong yang terlepas terlempar menuju ke muka Ervan. Tong besi itu menghantam hidung Ervan. Polisi itu pusing dan tidak stabil sehingga dia berlutut sambil memegangi kepalanya. Darah mengucur dari hidungnya. Werewolf dan manipulator ini sama-sama lumpuh sesaat karena pusing.
Quote:
“Untuk seukuran sniper. Tak kusangka kau ahli dalam pertarungan jarak dekat,” kata werewolf yang masih pusing, “Kau mercenary yang tangguh.”
Ervan tidak menggubris pujian dari werewolf. Dia hanya berkata, “Terpaksa pakai cara ini. Ayo maju, werewolf!!!”
Ervan tidak menggubris pujian dari werewolf. Dia hanya berkata, “Terpaksa pakai cara ini. Ayo maju, werewolf!!!”
Ervan dan werewolf maju dan saling serang. Mereka mengadu kemampuan bela diri masing-masing. Ervan sudah tidak menggunakan handgun lagi. Kali ini dia murni bertarung jarak dekat dengan kombinasi pengendalian pasir dan pisau. Sedangkan werewolf hanya menggunakan cakar dan taringnya. Pertarungan awalnya berjalan seimbang. Namun semakin lama tubuh Ervan semakin berlumuran darah. Bahkan Ervan mulai terdesak mundur ke tepian gedung. Bangsa werewolf yang berkekuatan dan berstamina lebih unggul dari manusia terus menyerang Ervan.
Untuk menghempaskan serangan werewolf, Ervan menggunakan cambuk pasir. Cambukan Ervan berhasil menghempaskannya. Meski sudah menjauh tujuh meter, werewolf tak mau memberi Ervan nafas. Dia segera berlari, melompat dan menerkam. Ervan mengumpulkan pasir dan menciptakan landasan di atas kepalanya tepat ketika si werewolf melompat. Werewolf itu mendarat di landasan Ervan. Sekuat tenaga, Ervan melemparkan werewolf ke luar gedung. Tidak cukup, Ervan menciptakan awan pasir dan menaikinya. Dengan awan pasirnya, dia menyusul werewolf yang sudah terlempar duluan.
Quote:
“Matilah, serigala bau!!” kata Ervan sambil meruncingkan bagian bawah awan pasirnya.
Ervan menusukkan pasirnya yang runcing ke tubuh werewolf. Raungan werewolf yang nyaring memecah keheningan malam. Pasir runcing merobek perut hingga menembus punggungnya. Tahu bahwa bangsa werewolf tidak bisa mati hanya karena serangan seperti sederhana seperti ini, Ervan mengambil kedua handgunnya dan menembaki kepala werewolf hingga hancur, meski itu menghabiskan pelurunya. Werewolf pun mati di tangan Ervan ketika terjun bebas di udara.
0
Kutip
Balas