Tired
Quote:
“tidur sih Bay”, kataku
“lu ga tidur?”, kata Abay
“mau sih Bay tapi ni gimana? Ga enak banguninnya”, kataku
“yaudah dah, gua duluan”, kata Abay meninggalkanku
Abay terlihat rebahan di dekat komputer, bukan di kamar Luna. Akupun bersandar di sofa. Kantuk pun perlahan menghampiri, dan akupun tertidur di sofa.
Akupu merasa tepukan pelan di pipiku, saat ku membuka mata ternyata Luna.
“kenapa Lun?”, kataku
“pindah yang, maaf ya kamu jadi tidur di sini”, katanya
“kamu kenapa bangun?”, kataku
“dingin”, katanya
“yaudah, pindah atuh ke kamar”, kataku
"Anter”, katanya
Akupun mengikuti Luna dari belakang tapi bukannya mengarah ke kamar ortunya Luna masuk ke kamarnya sendiri.
"Yaudah kamu tidur”, kataku
“kamu sini bareng aku”, katanya
“aku sama Abay aja yang”, kataku
Dia menariku dan mendorongku ke kasur.
“kelonin aku pokonya”, katanya
Akupun melihat ke arah jam, jam 1.46, karena malas berdebat akupun menurutinya.
“gitu dong”, katanya
Kamipun rebahan, Luna memelukku., ku lihat dia sudah terpejam. Akupun memejamkan mataku, tanpa menunggu lama akupun tertidur. Lagi-lagi ada yang menepuk pipiku. Kulihat Luna.
“udah pagi?”, kataku
“udah, bangun bangun”, katanya
Kulihat jam dan sudah jam 06, 30.
“cepet banget, perasaan baru merem”, kataku
“aku nungguin kamu bangun aja lama banget”, kata Luna
Akupun bangun dan keluar kamar.
“kamu mau kemana?”, katanya
“mandi lah”, kataku
Terlihat Abay sudah stand by di depan komputer.
“mandi sih Bay!”, teriakku
Tapi dia tidak menjawabnya, selesai mandi akupun bergabung dengan Abay.
“bangun jam berapa lu Bay?”. Kataku
“baru, langsung ol”, katanya
“akupun melihatnya bermain, aku bertanya sedikit tentang game yang sedang dia mainkan, dan akupun membuat id.
“maen gih”, katanya
“gua ga tau mau milih class apa”, kataku
Dia pun menjelaskan class nya satu per satu dan akhirnya aku memutuskan memilih class assassin.
“lu banget deh ini char”, katanya
“bodo Bay”, kataku
Tak lama Luna bergabung.
“seru banget sih, lagi apa?”, kata Luna
“nih, maenin game nya Abay”, kataku
“assassin tuh dia”, kata Abay
“kamu banget yang”, kata Luna
“kamu sama Abay sama aja dah”, kataku kesal
“jangan ngambek yang”, kata Luna
Saat itupun Abay membimbingku bermain game. Sampai bunyi perut menghentikan kami.
“aku lupa belum beli makan yang”, kata Luna
“yaudah kita cari aja, di depan kan ada banyak makanan”, kataku
Kamipun mencari tukang dagang dan ada tukang mi ayam, setelah makan kamipun kembali.
“balik kapan Bay?”, kataku
“bentar lagi deh, masih kenyang ini”, katanya
“kamu mau pulang?”, kata Luna
“iya, ga enak belum pulang ke rumah”, kataku
“ortu kamu kan ngijinin kalo sama aku yang”, katanya
“iya tapi tetep aja ga enak, nanti juga kan kita ketemu lagi”, kataku
‘kapan?”, katanya
“pas masuk sekolah”, kataku
“kamu mah jahat sih yang!”, katanya memukulku
“liburannya kan masih lama, nanti aku ke sini ko”, kataku
Sedikit manyun tapi Luna sudah mengizinkanku untuk pulang, sambil menunggu Abay mencerna makanannya akupun membereskan barang-
barangku. Luna ikut membantuku, sesekali dia menjahiliku dengan meniup tengkukku dan ku balas dengan klitikan di pinggangnya. Kamipun
malah jadi bercanda sampai akhirnya dia terjatuh.
“hati-hati sih yang”, kataku mendekatinya
“atuh kamu klitikin aku terus kan geli”, katanya
‘ada yang sakit?”, kataku
“ini lutut aku sakit”, katanya
Ku lihat memang lututnya agak lecet sedikit, terkena ubin sepertinya. Ku liht ada p3k di kamarnya dan akupun mengambil plester dan obat
merah.
“lain kali hati-hati, jangan jail terus”, kataku sambil mengoles lutunya
“iya, maaf”, katanya
“nah, udah beres. Bisa berdiri kan?”, kataku
“bisa ko, bantuin”, katanya
Akupun membantunya berdiri
“aku suka kamu kaya gini yang, gentle”, katanya
“udah deh ntar jatuh lagi”, kataku
“yeee, di puji malah gitu sih”, katanya mengacak rambutku.
Kamipun kembali membereskan barang dan setelah beres kami ke tempat Abay.
“anjir sih Bay malah molor!”, kataku melempar kertas padanya
“ngantuk gua, abis makan kan enaknya tidur”, katanya dengan santai
“gua udah beres nih, balik ga?”, kataku
Diapun duduk
“lu ga ke Pris kan nanti?”, katanya tiba-tiba dengan nada serius
“kenapa?”, kataku
“jawab aja”, katanya
“iya kagak, cape gua”, kataku
“bagus lah, Lun jagain nih bocah jangan keluyuran”, kata Abay
Luna pun mengacungkan jempolnya.
“pulang dulu yang”, kataku.
Abay pun mengantarku sampai rumah, saat ku tawarkan untuk mampir dia menolak, ada urusan katanya. Di rumah pun aku langsung kekamar. Sambil rebahan ku cek hp, ternyata ada banyak sms dari Wina.