- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#4826
PART 75
Tiga minggu sudah Gua mengurung diri di dalam kamar, bukan kamar di lantai dua rumah Gua, melainkan rumah Nenek. Gua memilih menghindari kontak dengan keluarga maupun teman.
Gua hanya keluar kamar ketika mengambil stok air mineral habis dan sisanya Gua menikmati kesendirian di ruangan ini. Gua hanya makan satu kali sehari, itupun Gua memesan delivery order.
Tante Gua sudah menginap di rumah Nenek selama dua minggu, dia diminta mengawasi dan memperhatikan Gua oleh suaminya. Sedangkan Om Gua yang memang harus dinas di Bandung hanya bisa tinggal selama tiga hari. Saat awal-awal kedatangannya dan Gua mengurung diri, Om Gua sampai harus menendang-nendang pintu kamar Gua dan mencoba mendobrak pintu tersebut. Karena Gua pun tersulut emosi dan merasa sangat terganggu, akhirnya Gua melepaskan satu tembakan ke udara, menembus langit kamar ini, agar mereka semua pergi dan terdiam.
Selama tiga minggu ini, Gua mengkonsumsi rokok berlebihan, minuman dan lintingan haram. Beberapa kali Nenek, Tante Gua, Kinanti dan Mba Laras membujuk Gua agar kembali menjalani hidup seperti semula, menata semuanya dari awal, mencoba membuat Gua kembali bersemangat. Dan ketika mereka semua sudah kehabisan cara membujuk Gua, maka mereka pun meminta tolong kepada sahabat dan teman terdekat. Dari mulai Nindi, Mba Yu, Mba Siska dan sudah pasti Luna sudah pernah berdiri di luar pintu kamar Gua, berbicara dari luar sana agar Gua mau bertemu dengan mereka, tapi semua itu percuma. Tidak sedikitpun upaya mereka mampu menggerakan hati ini untuk membuka pintu kamar itu. Tak ada satupun yang Gua temui. Tak ada.
Selain mereka, Rekti, Unang, Dewa, Icol dan Robbi pernah juga membujuk Gua untuk keluar dan kembali berkomunikasi, tapi Gua tidak perduli, mengacuhkan mereka semua. Bahkan Gua sampai membanting handphone ketika barang elektronik tersebut selalu berisik dengan nada panggilan dan pesan masuk.
Sore ini, Gua baru saja selesai makan setelah sebelumnya memesan delivery order. Lalu Gua membakar sebatang rokok, meminum minuman haram dan membakar lintingan, Gua menikmati ini semua, ya Gua menikmatinya saat itu. Entah pukul berapa sore itu, yang jelas tiba-tiba listrik padam.
Gua berdiri dari duduk diatas kasur lalu berjalan pelan ke arah meja belajar, di sana Gua mengambil dua batang lilin dan menyalakannya. Setelah ruang kamar ini kembali terang dari cahaya lilin tersebut, Gua kembali duduk di atas kasur lalu menenggak lagi minuman dari botol whiskey dan menghisap dalam-dalam lintingan sialan ini.
Seketika itu, ingatan akan kenangan masa lalu kembali menyeruak dan tergambar jelas. Gua melamun, Gua menikmati tontonan itu, tiap adegan kenangan terlihat jelas dalam angan dan khayalan Gua. Tersenyum, terkekeh pelan dan menangis, seperti itulah reaksi Gua ketika melihat kenangan tersebut.
Gua hanya keluar kamar ketika mengambil stok air mineral habis dan sisanya Gua menikmati kesendirian di ruangan ini. Gua hanya makan satu kali sehari, itupun Gua memesan delivery order.
Tante Gua sudah menginap di rumah Nenek selama dua minggu, dia diminta mengawasi dan memperhatikan Gua oleh suaminya. Sedangkan Om Gua yang memang harus dinas di Bandung hanya bisa tinggal selama tiga hari. Saat awal-awal kedatangannya dan Gua mengurung diri, Om Gua sampai harus menendang-nendang pintu kamar Gua dan mencoba mendobrak pintu tersebut. Karena Gua pun tersulut emosi dan merasa sangat terganggu, akhirnya Gua melepaskan satu tembakan ke udara, menembus langit kamar ini, agar mereka semua pergi dan terdiam.
Selama tiga minggu ini, Gua mengkonsumsi rokok berlebihan, minuman dan lintingan haram. Beberapa kali Nenek, Tante Gua, Kinanti dan Mba Laras membujuk Gua agar kembali menjalani hidup seperti semula, menata semuanya dari awal, mencoba membuat Gua kembali bersemangat. Dan ketika mereka semua sudah kehabisan cara membujuk Gua, maka mereka pun meminta tolong kepada sahabat dan teman terdekat. Dari mulai Nindi, Mba Yu, Mba Siska dan sudah pasti Luna sudah pernah berdiri di luar pintu kamar Gua, berbicara dari luar sana agar Gua mau bertemu dengan mereka, tapi semua itu percuma. Tidak sedikitpun upaya mereka mampu menggerakan hati ini untuk membuka pintu kamar itu. Tak ada satupun yang Gua temui. Tak ada.
Selain mereka, Rekti, Unang, Dewa, Icol dan Robbi pernah juga membujuk Gua untuk keluar dan kembali berkomunikasi, tapi Gua tidak perduli, mengacuhkan mereka semua. Bahkan Gua sampai membanting handphone ketika barang elektronik tersebut selalu berisik dengan nada panggilan dan pesan masuk.
Sore ini, Gua baru saja selesai makan setelah sebelumnya memesan delivery order. Lalu Gua membakar sebatang rokok, meminum minuman haram dan membakar lintingan, Gua menikmati ini semua, ya Gua menikmatinya saat itu. Entah pukul berapa sore itu, yang jelas tiba-tiba listrik padam.
Gua berdiri dari duduk diatas kasur lalu berjalan pelan ke arah meja belajar, di sana Gua mengambil dua batang lilin dan menyalakannya. Setelah ruang kamar ini kembali terang dari cahaya lilin tersebut, Gua kembali duduk di atas kasur lalu menenggak lagi minuman dari botol whiskey dan menghisap dalam-dalam lintingan sialan ini.
Seketika itu, ingatan akan kenangan masa lalu kembali menyeruak dan tergambar jelas. Gua melamun, Gua menikmati tontonan itu, tiap adegan kenangan terlihat jelas dalam angan dan khayalan Gua. Tersenyum, terkekeh pelan dan menangis, seperti itulah reaksi Gua ketika melihat kenangan tersebut.
Tiba-tiba ada suara dari luar kamar yang cukup berisik memanggil-manggil nama Gua suara seorang lelaki yang Gua pernah dengar tapi Gua tidak bisa mengingat itu suara milik siapa. Dia mengetuk pintu kamar dengan cepat hingga Gua mendengar ketukan itu berubah jadi pukulan.
Lalu Gua kembali berdiri, berjalan terhuyung melangkah pelan dalam ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lilin ini. Kemudian naik keatas kasur, Gua memutar-mutarkan tubuh diatas kasur, tersenyum, menitikkan airmata untuk kesekian kalinya, lalu tertawa keras.
Suara ketukkan pintu kamar yang sudah berubah menjadi tendangan dari luar pintu kamar ini tidak menarik perhatian Gua.
Gua menghisap lintingan yang kelima untuk sore ini...
Lalu Gua kembali berdiri, berjalan terhuyung melangkah pelan dalam ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lilin ini. Kemudian naik keatas kasur, Gua memutar-mutarkan tubuh diatas kasur, tersenyum, menitikkan airmata untuk kesekian kalinya, lalu tertawa keras.
Suara ketukkan pintu kamar yang sudah berubah menjadi tendangan dari luar pintu kamar ini tidak menarik perhatian Gua.
Gua menghisap lintingan yang kelima untuk sore ini...
To un-explain the unforgivable,
Drain all the blood and give the kids a show.
By streetlight this dark night,
A seance down below.
There're things that I have done,
You never should ever know!
Drain all the blood and give the kids a show.
By streetlight this dark night,
A seance down below.
There're things that I have done,
You never should ever know!
Gua hisap kuat-kuat hingga tidak terdengar lagi suara berisik dari luar kamar.
"Za, buka pintunya Zaa..", teriak suara seorang wanita kali ini.
Suara itu.. Ah untuk apa dia datang ? Wait.. Bukankah kamu sudah tersakiti ? Okey I'm dreaming...
No no noo.. I'm not dreaming, suara itu nyata, Gua benar-benar mendengar suaranya...
"Ezaa..",
"Ini aku.. Tolong buka pintunya Za".
Gua berjalan terhuyung kearah pintu dan menempelkan kening ke kayu jati di depan, Gua tersenyum dalam gelap.
"Hai..",
"Untuk apa kamu kesini ?".
"Za ?",
"Ini aku.. Tolong buka pintunya Za".
"Ada siapa di luar ?".
"Semua udah pergi, cuma aku, percaya sama aku Za, buka pintunya ya Za..".
"Bener ?".
"Demi Tuhan Za.. Cuma ada aku sekarang".
We damn after all... Fak!
"Za, buka pintunya Zaa..", teriak suara seorang wanita kali ini.
Suara itu.. Ah untuk apa dia datang ? Wait.. Bukankah kamu sudah tersakiti ? Okey I'm dreaming...
No no noo.. I'm not dreaming, suara itu nyata, Gua benar-benar mendengar suaranya...
"Ezaa..",
"Ini aku.. Tolong buka pintunya Za".
Gua berjalan terhuyung kearah pintu dan menempelkan kening ke kayu jati di depan, Gua tersenyum dalam gelap.
"Hai..",
"Untuk apa kamu kesini ?".
"Za ?",
"Ini aku.. Tolong buka pintunya Za".
"Ada siapa di luar ?".
"Semua udah pergi, cuma aku, percaya sama aku Za, buka pintunya ya Za..".
"Bener ?".
"Demi Tuhan Za.. Cuma ada aku sekarang".
We damn after all... Fak!
And without you is how I disappear,
And live my life alone forever now.
And without you is how I disappear,
And live my life alone forever now.
And live my life alone forever now.
And without you is how I disappear,
And live my life alone forever now.
Ceuklek.. Pintu terbuka sedikit.
Gua memiringkan setengah wajah dari balik pintu, mata Gua terasa sakit ketika cahaya sore dari luar ruangan seolah-olah menusuk mata ini.
"ASTAGFIRULLOH.. EZAAA!!!".
"Hehehe.. What ?", tanya Gua.
Gua tarik tangannya, dan pada akhirnya dia masuk ke dalam kamar sialan ini.
Bau lintingan yang sudah bercampur dengan whiskey pasti langsung menusuk hidungnya, Gua yakin karena cahaya lilin menunjukkan keningnya yang berkerut dan tangannya langsung menutupi indra penciumannya itu.
"Za, kenapa sampai begini ?".
Gua duduk di lantai kamar dan menyandarkan punggung ke sisi ranjang, menenggak whiskey untuk kesekian kalinya, dan menatap langit-langit kamar.
"Apa semua gadis yang baik akan masuk surga ?", tanya Gua pelan.
"Za..".
"Ah, ya ya ya ya ya... Kata ahli agama, hanya Tuhan yang tau kan ? HA HA HA HA HA HA...".
Gua memiringkan setengah wajah dari balik pintu, mata Gua terasa sakit ketika cahaya sore dari luar ruangan seolah-olah menusuk mata ini.
"ASTAGFIRULLOH.. EZAAA!!!".
"Hehehe.. What ?", tanya Gua.
Gua tarik tangannya, dan pada akhirnya dia masuk ke dalam kamar sialan ini.
Bau lintingan yang sudah bercampur dengan whiskey pasti langsung menusuk hidungnya, Gua yakin karena cahaya lilin menunjukkan keningnya yang berkerut dan tangannya langsung menutupi indra penciumannya itu.
"Za, kenapa sampai begini ?".
Gua duduk di lantai kamar dan menyandarkan punggung ke sisi ranjang, menenggak whiskey untuk kesekian kalinya, dan menatap langit-langit kamar.
"Apa semua gadis yang baik akan masuk surga ?", tanya Gua pelan.
"Za..".
"Ah, ya ya ya ya ya... Kata ahli agama, hanya Tuhan yang tau kan ? HA HA HA HA HA HA...".
Who walks among the famous living dead,
Drowns all the boys and girls inside your bed.
And if you could talk to me,
Tell me if it's so,
That all the good girls go to heaven.
Well, heaven knows
Drowns all the boys and girls inside your bed.
And if you could talk to me,
Tell me if it's so,
That all the good girls go to heaven.
Well, heaven knows
Pelukkannya langsung membuat botol minuman di tangan kiri Gua terjatuh.
Gua hanya bisa mendengar suara isak tangisnya dan membasahi kaos bagian bahu ini.
"Za.. Kamu kenapa jadi begini Za.. Hiks.. Hiks.. Hiks..".
Gua masih terdiam lalu menatap nanar kearah langit-langit kamar. Dan airmata ini kembali menetes ketika dia mulai kembali bercerita.
"Za, aku udah denger semua yang kamu alami dalam setahun terakhir ini... Aku.. Aku.. Aku ikut berduka atas kepergian Echa dan Jingga..", kali ini dia duduk bergeser di hadapan Gua. "Za, aku tau semua ini berat, kamu gak bisa menanggungnya sendiri... Sekarang, biarkan aku mencoba membantu kamu Za..", lanjutnya sambil memegangi wajah Gua.
Gua menatapnya dingin. "Kamu untuk apa ke sini lagi ? Untuk apa kamu pulang hanya untuk nemuin aku lagi ? Bukankah kamu bahagia di luar sana.. Dan kamu udah kecewa sama aku yang memilih Echa kan ?", Gua hisap dalam-dalam lintingan ini ketika sudah selesai bertanya.
Gua hanya bisa mendengar suara isak tangisnya dan membasahi kaos bagian bahu ini.
"Za.. Kamu kenapa jadi begini Za.. Hiks.. Hiks.. Hiks..".
Gua masih terdiam lalu menatap nanar kearah langit-langit kamar. Dan airmata ini kembali menetes ketika dia mulai kembali bercerita.
"Za, aku udah denger semua yang kamu alami dalam setahun terakhir ini... Aku.. Aku.. Aku ikut berduka atas kepergian Echa dan Jingga..", kali ini dia duduk bergeser di hadapan Gua. "Za, aku tau semua ini berat, kamu gak bisa menanggungnya sendiri... Sekarang, biarkan aku mencoba membantu kamu Za..", lanjutnya sambil memegangi wajah Gua.
Gua menatapnya dingin. "Kamu untuk apa ke sini lagi ? Untuk apa kamu pulang hanya untuk nemuin aku lagi ? Bukankah kamu bahagia di luar sana.. Dan kamu udah kecewa sama aku yang memilih Echa kan ?", Gua hisap dalam-dalam lintingan ini ketika sudah selesai bertanya.
Can you hear me cry out to you?
Words I thought I'd choke on figure out.
I'm really not so with you anymore.
I'm just a ghost,
So I can't hurt you anymore,
So I can't hurt you anymore
Dia menggelengkan kepala lalu mengusap airmatanya, kemudian mengibaskan tangan di depan wajahnya karena asap dari lintingan.
"Za, awalnya dari Mba Yu, dia yang nemuin Gusmen dan langsung kontak aku.. Dia ceritain semuanya, semua tentang hidup kamu selama ini...", jawabnya seraya memegangi tangan kanan Gua agar tidak Gua angkat dan menghisap lintingan lagi,
"Za, aku gak pernah kecewa dan sakit hati karena kamu memilih Echa, aku gak pernah bilang gitu dan aku ikhlas kamu memilih Echa saat itu",
"Karena aku sadar, aku salah, salah udah ninggalin kamu dan pergi dari kamu, dan ketika aku tau kamu menikah dengan Echa.. Itu bukan salah kamu, tapi mungkin memang sudah seharusnya seperti ini Za", dia memegangi pipi kanan Gua lalu membelainya lembut.
"Terus sekarang, buat apa kamu kesini ? Aku gak butuh apa-apa lagi.. Aku udah kehilangan semuanya..", Gua berkata dengan suara yang bergetar.
"Aku ada untuk kamu, semuanya belum berakhir Za, kamu gak bisa berhenti dan menghancurkan diri kamu seperti ini Za, Tuhan masih sayang sama kam..".
"Za, awalnya dari Mba Yu, dia yang nemuin Gusmen dan langsung kontak aku.. Dia ceritain semuanya, semua tentang hidup kamu selama ini...", jawabnya seraya memegangi tangan kanan Gua agar tidak Gua angkat dan menghisap lintingan lagi,
"Za, aku gak pernah kecewa dan sakit hati karena kamu memilih Echa, aku gak pernah bilang gitu dan aku ikhlas kamu memilih Echa saat itu",
"Karena aku sadar, aku salah, salah udah ninggalin kamu dan pergi dari kamu, dan ketika aku tau kamu menikah dengan Echa.. Itu bukan salah kamu, tapi mungkin memang sudah seharusnya seperti ini Za", dia memegangi pipi kanan Gua lalu membelainya lembut.
"Terus sekarang, buat apa kamu kesini ? Aku gak butuh apa-apa lagi.. Aku udah kehilangan semuanya..", Gua berkata dengan suara yang bergetar.
"Aku ada untuk kamu, semuanya belum berakhir Za, kamu gak bisa berhenti dan menghancurkan diri kamu seperti ini Za, Tuhan masih sayang sama kam..".
And now, you wanna see how far down I can sink?
Let me go, fuck!
So, you can, well now so, you can
I'm so far away from you.
Well now so, you can.
Let me go, fuck!
So, you can, well now so, you can
I'm so far away from you.
Well now so, you can.
"Ssssttt... Jangan kamu katakan itu..", potong Gua dengan menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. Gua dekatkan wajah hingga kening kami bertemu.
"Tuhan udah gak sayang sama aku, dan sekarang... Biarkan aku juga berpaling darinya...".
"Tuhan udah gak sayang sama aku, dan sekarang... Biarkan aku juga berpaling darinya...".
That without you is how I disappear,
And live my life alone forever now.
And without you is how I disappear,
And live my life alone forever now.
And live my life alone forever now.
And without you is how I disappear,
And live my life alone forever now.
Dia menangis lagi melihat Gua seperti itu, lalu dia mendekap kepala Gua dan menyandarkan ke bahunya. "Za, hiks.. hiks.. Aku.. Aku akan ada untuk kamu mulai sekarang, izinkan aku menjadi kamu.. Menjadi kamu saat menemani aku dulu, saat aku rapuh dan hancur.. Biarkan kini aku yang berjuang untuk mengembalikan senyum kamu Za.. Aku janji, aku gak akan ninggalin kamu lagi, aku gak akan pergi lagi dari sisi kamu Za...",
"Kamu ikut aku ya.. Kita tinggal di Singapore Za".
"Kamu ikut aku ya.. Kita tinggal di Singapore Za".
***
“And without you is how I disappear
And without you is how I disappear
Forever, forever now!”
And without you is how I disappear
Forever, forever now!”
This is how I disappear~ MCR
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
