- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#4657
PART 73
Downfall II


Pagi ini mendung, langit memang masih gelap setelah Gua selesai menunaikan ibadah dua raka'at tadi. Lalu selesai beribadah dan mandi, Gua mengenakan pakaian dan mengambil satu sweater berwarna hitam, kemudian Gua mengenakan sepatu converse dan mengambil kunci mobil di atas meja kamar.
Beres memanaskan mobil sebentar, Gua berangkat menuju sebuah rumah yang tidak jauh jaraknya dari rumah Gua, kurang dari lima menit Gua telah sampai di depan pagar rumahnya, lalu mengetik sms untuk memberikan kabar bahwa Gua telah sampai. Tidak lama kemudian seorang wanita keluar dari rumah di depan itu dan seorang satpam membukakan pagar.
"Maaf Za, nunggu lama ya ?", ucapnya setelah membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
"Enggak, baru aja sampe.. Kita langsung berangkat aja ya", jawab Gua sambil memasukkan persneling lalu menginjak pedal gas.
...
Rintikan hujan mulai turun membasahi jalan raya, wiper mobil pun Gua nyalakan agar pandangan Gua tidak terlalu terhalang oleh derasnya hujan yang turun. Waktu baru menunjukkan pukul setengah delapan pagi saat mobil baru saja Gua hentikan di jalan tol yang sudah padat oleh kendaraan lainnya.
hari ini adalah hari rabu, dan sepagi ini Gua hendak mengantarkan wanita cantik yang duduk di samping Gua itu ke bandara soetta.
"Kamu kenapa gak kuliah aja sih ?", tanya Luna sambil membuka zipper jaket yang ia kenakan.
"Lagi males Lun, baru hari ini aja aku bolos lagi kok", Gua menurunkan handbrake lalu kembali melajukan mobil dengan perlahan.
"Oh ya, belum ada kabar lagi dari Mba Siska ya ?", kali ini Luna bertanya seraya membuka tasnya dan mengeluarkan sebungkus roti isi.
"Belum ada kabar Lun.. Huuftt..", Gua menghela nafas dengan kasar.
"Sabar dulu ya Za, pasti suatu hari kita ketemu sama mereka kok..", Luna mengelus bahu kiri Gua.
Gua hanya mengangguk sambil tersenyum kepada Luna.
"Eh, kamu belum sarapan kan pasti ? sini aku suapin ya, lumayan untuk ganjal dulu", lalu tangannya menghampiri mulut Gua dengan sepotong roti berisi keju cokelat.
Setelah kami berdua bertemu secara tidak sengaja dengan Mba Siska di sebuah restoran, Mba Siska ternyata hanya melihat anak Gua sedang jalan-jalan di dalam sebuah mall bersama kedua mertua Gua, itupun Mba Siska tidak menyapa mereka karena hanya melihat dari sebrang, Mba Siska sedang berada di eskalator turun sedangkan si cantik bersama kedua mertua Gua menaiki eskalator naik.
Tapi apa yang dikatakan Luna ada benarnya ketika itu, setidaknya kita semua tau bahwa anak Gua dalam keadaan sehat bersama kakek dan neneknya, ditambah ternyata mereka tidak pindah jauh, ya mungkin saja mereka tinggal di ibu kota. Walaupun kami semua masih belum tau dimana tempat tinggal mereka sampai sekarang.
Pukul setengah sebelas siang kami berdua sudah sampai di bandara. Beres memarkirkan mobil, Gua dan Luna turun lalu berjalan ke terminal keberangkatan domestik, sampai di sana, Luna mengajak Gua untuk makan dulu di sebuah resto cepat saji, sekalian menunggu waktu keberangkatan yang masih cukup lama.
Gua memesan secangkir kopi hitam dan cheese burger, lalu Luna lebih memilih menyantap salad. Sambil menikmati makanan, Gua dan Luna mengobrol perihal keberangkatannya ke Yogyakarta.
"Kamu di sana berapa lama Lun ?", tanya Gua seraya mengangkat cangkir kopi.
"Paling lama satu minggu Za, cuman perlu data perbandingan aja sih untuk skripsi aku", jawabnya setelah selesai menghabiskan saladnya.
Gua mengangguk. "Hmm.. Kenapa gak milih perusahaan di jakarta aja ? Kan banyak toh ?".
"Banyak memang, tapi aku gak mau sama dengan rekan kampus ku yang lain, nanti disangka plagiat lagi".
Gua tergelak. "Hahahaha.. Bisa aja kamu, but success for you, Lun".
Masih mengobrol di sini, hp Gua bergetar pada saku celana, lalu Gua merogoh dan melihat layar hp.
"Siapa Za ?".
"Mba Laras..", jawab Gua.
"Yaudah angkat dulu Za".
Gua menganggukan kepala lalu menekan tombol answer.
Praakk.. Hp Gua terjatuh ke lantai.
Mata ini menatap kosong kearah wanita yang masih mengusap bahu kanan Gua dari depan.
"Kenapa Za ? Ada apa ?", Luna bertanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Tidak lama kemudian hp milik Luna berdering, dia mengangkat telpon itu, sedangkan Gua sudah menutupi wajah dengan tubuh yang bergetar.
"Za.. Ayo kita langsung ke rumah sakit xxx.. Ayo Za.. Aku baru ditelpon Mba Laras, dia lagi diperjalanan sama Nenek dan Kinanti.. Ayoo..", Luna menarik tangan kanan Gua.
Gua mengikuti Luna yang menarik tangan kanan ini, meninggalkan resto fast food ini dengan fikiran yang tidak menentu. Sampai di parkiran dan ketika Luna meminta kunci mobil, Gua baru tersadar.
"Lun, kamu harus berangkat ke Yogyakarta sebentar lagi, biar aku yang pergi sendiri ke rumah sakit...", ucap Gua pelan.
"Enggak enggak.. Enggak Za, aku harus ikut.. Kamu gak bisa aku biarin pergi sendiri.. Aku harus ikut", jawabnya cepat.
"Lun, tugas kuliah kamu pen..".
"Eza! Anak kamu lebih penting dari sekedar tugas aku Za!".
"Kenapa ? Kenapa kamu perduli ?".
"Karena aku sayang sama anak kamu, aku sayang sama kalian berdua..".
Beres memanaskan mobil sebentar, Gua berangkat menuju sebuah rumah yang tidak jauh jaraknya dari rumah Gua, kurang dari lima menit Gua telah sampai di depan pagar rumahnya, lalu mengetik sms untuk memberikan kabar bahwa Gua telah sampai. Tidak lama kemudian seorang wanita keluar dari rumah di depan itu dan seorang satpam membukakan pagar.
"Maaf Za, nunggu lama ya ?", ucapnya setelah membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
"Enggak, baru aja sampe.. Kita langsung berangkat aja ya", jawab Gua sambil memasukkan persneling lalu menginjak pedal gas.
...
Rintikan hujan mulai turun membasahi jalan raya, wiper mobil pun Gua nyalakan agar pandangan Gua tidak terlalu terhalang oleh derasnya hujan yang turun. Waktu baru menunjukkan pukul setengah delapan pagi saat mobil baru saja Gua hentikan di jalan tol yang sudah padat oleh kendaraan lainnya.
hari ini adalah hari rabu, dan sepagi ini Gua hendak mengantarkan wanita cantik yang duduk di samping Gua itu ke bandara soetta.
"Kamu kenapa gak kuliah aja sih ?", tanya Luna sambil membuka zipper jaket yang ia kenakan.
"Lagi males Lun, baru hari ini aja aku bolos lagi kok", Gua menurunkan handbrake lalu kembali melajukan mobil dengan perlahan.
"Oh ya, belum ada kabar lagi dari Mba Siska ya ?", kali ini Luna bertanya seraya membuka tasnya dan mengeluarkan sebungkus roti isi.
"Belum ada kabar Lun.. Huuftt..", Gua menghela nafas dengan kasar.
"Sabar dulu ya Za, pasti suatu hari kita ketemu sama mereka kok..", Luna mengelus bahu kiri Gua.
Gua hanya mengangguk sambil tersenyum kepada Luna.
"Eh, kamu belum sarapan kan pasti ? sini aku suapin ya, lumayan untuk ganjal dulu", lalu tangannya menghampiri mulut Gua dengan sepotong roti berisi keju cokelat.
Setelah kami berdua bertemu secara tidak sengaja dengan Mba Siska di sebuah restoran, Mba Siska ternyata hanya melihat anak Gua sedang jalan-jalan di dalam sebuah mall bersama kedua mertua Gua, itupun Mba Siska tidak menyapa mereka karena hanya melihat dari sebrang, Mba Siska sedang berada di eskalator turun sedangkan si cantik bersama kedua mertua Gua menaiki eskalator naik.
Tapi apa yang dikatakan Luna ada benarnya ketika itu, setidaknya kita semua tau bahwa anak Gua dalam keadaan sehat bersama kakek dan neneknya, ditambah ternyata mereka tidak pindah jauh, ya mungkin saja mereka tinggal di ibu kota. Walaupun kami semua masih belum tau dimana tempat tinggal mereka sampai sekarang.
Pukul setengah sebelas siang kami berdua sudah sampai di bandara. Beres memarkirkan mobil, Gua dan Luna turun lalu berjalan ke terminal keberangkatan domestik, sampai di sana, Luna mengajak Gua untuk makan dulu di sebuah resto cepat saji, sekalian menunggu waktu keberangkatan yang masih cukup lama.
Gua memesan secangkir kopi hitam dan cheese burger, lalu Luna lebih memilih menyantap salad. Sambil menikmati makanan, Gua dan Luna mengobrol perihal keberangkatannya ke Yogyakarta.
"Kamu di sana berapa lama Lun ?", tanya Gua seraya mengangkat cangkir kopi.
"Paling lama satu minggu Za, cuman perlu data perbandingan aja sih untuk skripsi aku", jawabnya setelah selesai menghabiskan saladnya.
Gua mengangguk. "Hmm.. Kenapa gak milih perusahaan di jakarta aja ? Kan banyak toh ?".
"Banyak memang, tapi aku gak mau sama dengan rekan kampus ku yang lain, nanti disangka plagiat lagi".
Gua tergelak. "Hahahaha.. Bisa aja kamu, but success for you, Lun".
Masih mengobrol di sini, hp Gua bergetar pada saku celana, lalu Gua merogoh dan melihat layar hp.
"Siapa Za ?".
"Mba Laras..", jawab Gua.
"Yaudah angkat dulu Za".
Gua menganggukan kepala lalu menekan tombol answer.
Quote:
Praakk.. Hp Gua terjatuh ke lantai.
Mata ini menatap kosong kearah wanita yang masih mengusap bahu kanan Gua dari depan.
"Kenapa Za ? Ada apa ?", Luna bertanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Tidak lama kemudian hp milik Luna berdering, dia mengangkat telpon itu, sedangkan Gua sudah menutupi wajah dengan tubuh yang bergetar.
"Za.. Ayo kita langsung ke rumah sakit xxx.. Ayo Za.. Aku baru ditelpon Mba Laras, dia lagi diperjalanan sama Nenek dan Kinanti.. Ayoo..", Luna menarik tangan kanan Gua.
Gua mengikuti Luna yang menarik tangan kanan ini, meninggalkan resto fast food ini dengan fikiran yang tidak menentu. Sampai di parkiran dan ketika Luna meminta kunci mobil, Gua baru tersadar.
"Lun, kamu harus berangkat ke Yogyakarta sebentar lagi, biar aku yang pergi sendiri ke rumah sakit...", ucap Gua pelan.
"Enggak enggak.. Enggak Za, aku harus ikut.. Kamu gak bisa aku biarin pergi sendiri.. Aku harus ikut", jawabnya cepat.
"Lun, tugas kuliah kamu pen..".
"Eza! Anak kamu lebih penting dari sekedar tugas aku Za!".
"Kenapa ? Kenapa kamu perduli ?".
"Karena aku sayang sama anak kamu, aku sayang sama kalian berdua..".
Well it rains and it pours when you're out on your own
If I crash on the couch, can I sleep in my clothes
'Cause I spent the night dancing, I'm drunk I suppose
If it looks like I'm laughing
I'm really just asking to leave
this alone You're in time for the show
You're the one that I need, I'm the one that you loathe
You can watch me corrode
Like a beast in repose
'Cause I love all the poison away with the boys in the band
I've really been on a bender and it shows
So why don't you blow me
A kiss before she goes
Give me a shot to remember
And you can take all the pain away from me
Your kiss and I will surrender
The sharpest lives are the deadliest to lead
A light to burn all the empires
So bright the sun is ashamed to rise and be
In love with all of these vampires
So you can leave like the sane, abandon me
If I crash on the couch, can I sleep in my clothes
'Cause I spent the night dancing, I'm drunk I suppose
If it looks like I'm laughing
I'm really just asking to leave
this alone You're in time for the show
You're the one that I need, I'm the one that you loathe
You can watch me corrode
Like a beast in repose
'Cause I love all the poison away with the boys in the band
I've really been on a bender and it shows
So why don't you blow me
A kiss before she goes
Give me a shot to remember
And you can take all the pain away from me
Your kiss and I will surrender
The sharpest lives are the deadliest to lead
A light to burn all the empires
So bright the sun is ashamed to rise and be
In love with all of these vampires
So you can leave like the sane, abandon me
Mobil menembus hujan yang masih turun dengan derasnya, Luna mengemudikan mobil dengan kecepatan 100km/jam karena jalan raya yang lenggang. Gua duduk di jok kemudi dengan perasaan takut, khawatir, cemas, dan isi fikiran ini tidak mampu menepis segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Pukul setengah satu siang kami berdua sudah sampai di parkiran rumah sakit, Gua dan Luna berlari kecil ke arah pintu utama rumah sakit untuk menghindari hujan. Lalu kami menuju bagian informasi, Luna menanyakan pasien yang bernama Bapak Wisnu, lalu setelah mendapatkan info letak ruangan tersebut, kami berdua berlari menuju ke sana.
Pukul setengah satu siang kami berdua sudah sampai di parkiran rumah sakit, Gua dan Luna berlari kecil ke arah pintu utama rumah sakit untuk menghindari hujan. Lalu kami menuju bagian informasi, Luna menanyakan pasien yang bernama Bapak Wisnu, lalu setelah mendapatkan info letak ruangan tersebut, kami berdua berlari menuju ke sana.
There's a place in the dark where the animals go
You can take off your skin in the cannibal glow
Juliet loves the beat and the lust it commands
Drop the dagger and lather the blood on your hands, Romeo
You can take off your skin in the cannibal glow
Juliet loves the beat and the lust it commands
Drop the dagger and lather the blood on your hands, Romeo
Luna berjalan lebih dulu di depan Gua, lalu di depan sana Gua melihat Mba Laras dan Nenek, berjalan menghampiri kami berdua.
"Za, kejadiannya tadi pagi, Mamah mertua kamu nelpon ke rumah..", ucap Mba Laras yang sudah berdiri di depan Gua.
"Terus ?".
"Ada sebuah truck, truck itu menyalip sedan di depannya, mengambil arah kanan, dimana dari arah berlawanan ada mobil taxi.. Taxi yang di dalamnya ada..", ucapan Mba Laras terhenti karena dia menangis.
"Ada mertua aku dan anak ku ?".
Mba Laras menangis sambil menganggukkan kepala. "Papah mertua kamu dan anak kamu..", jawabnya.
Gua berdiri terpaku mendengarnya, lalu Ibu Gua itu mendekap tubuh ini. Dia menangis semakin keras. Nenek ikut menangis dengan cukup keras sambil menggelengkan kepalanya seraya menutup wajahnya.
"Tuhan sayang sama anak kamu Za, Tuhan sayang sama dia.. Tuhan sayang.. Tuhan benar-benar sayang sama si cantik..", ucapnya dalam isak tangis dengan wajah yang terbenam dalam dada Gua.
Kedua tangan Gua bergetar, airmata Gua mulai mengalir perlahan, lalu Gua memejamkan mata dan mendorong pelan kedua bahu Ibu Gua itu.
Dengan suara berat dan lirih, Gua mencoba menahan emosi ini. "Mba.. Gimana kondisi anak ku..?".
"Ikhlas Za, Ikhlasin... Allahu akbar..".
Bruk...
Nenek terjatuh dan langsung di pegangi oleh Luna, Gua masih berdiri menatap lurus kedepan. Lalu dua petugas rumah sakit berlari menghampiri kami berempat. Nenek digotong oleh dua petugas rumah sakit yang entah dibawa kemana, karena dia sudah tak sadarkan diri.
"Za..hiks..hiks..", Luna memegangi wajah Gua dengan kedua tangannya.
Gua tersenyum dengan berderai airmata. "Tunjukin ruangannya Lun..".
Gua berjalan bersama Luna yang memegangi bahu kiri ini dengan tangan kirinya dari arah kanan. Langkah kami terhenti ketika sebuah pintu berada di depan kami berdua. Luna membuka pintu tersebut yang langsung disambut oleh seorang perawat laki-laki, setelah Luna meminta izin dan diperbolehkan masuk, Gua mengikutinya memasuki ruangan yang dingin ini.
"Za, kejadiannya tadi pagi, Mamah mertua kamu nelpon ke rumah..", ucap Mba Laras yang sudah berdiri di depan Gua.
"Terus ?".
"Ada sebuah truck, truck itu menyalip sedan di depannya, mengambil arah kanan, dimana dari arah berlawanan ada mobil taxi.. Taxi yang di dalamnya ada..", ucapan Mba Laras terhenti karena dia menangis.
"Ada mertua aku dan anak ku ?".
Mba Laras menangis sambil menganggukkan kepala. "Papah mertua kamu dan anak kamu..", jawabnya.
Gua berdiri terpaku mendengarnya, lalu Ibu Gua itu mendekap tubuh ini. Dia menangis semakin keras. Nenek ikut menangis dengan cukup keras sambil menggelengkan kepalanya seraya menutup wajahnya.
"Tuhan sayang sama anak kamu Za, Tuhan sayang sama dia.. Tuhan sayang.. Tuhan benar-benar sayang sama si cantik..", ucapnya dalam isak tangis dengan wajah yang terbenam dalam dada Gua.
Kedua tangan Gua bergetar, airmata Gua mulai mengalir perlahan, lalu Gua memejamkan mata dan mendorong pelan kedua bahu Ibu Gua itu.
Dengan suara berat dan lirih, Gua mencoba menahan emosi ini. "Mba.. Gimana kondisi anak ku..?".
"Ikhlas Za, Ikhlasin... Allahu akbar..".
Bruk...
Nenek terjatuh dan langsung di pegangi oleh Luna, Gua masih berdiri menatap lurus kedepan. Lalu dua petugas rumah sakit berlari menghampiri kami berempat. Nenek digotong oleh dua petugas rumah sakit yang entah dibawa kemana, karena dia sudah tak sadarkan diri.
"Za..hiks..hiks..", Luna memegangi wajah Gua dengan kedua tangannya.
Gua tersenyum dengan berderai airmata. "Tunjukin ruangannya Lun..".
Gua berjalan bersama Luna yang memegangi bahu kiri ini dengan tangan kirinya dari arah kanan. Langkah kami terhenti ketika sebuah pintu berada di depan kami berdua. Luna membuka pintu tersebut yang langsung disambut oleh seorang perawat laki-laki, setelah Luna meminta izin dan diperbolehkan masuk, Gua mengikutinya memasuki ruangan yang dingin ini.
Give me a shot to remember
And you can take all the pain away from me
Your kiss and I will surrender
The sharpest lives are the deadliest to lead
A light to burn all the empires
So bright the sun is ashamed to rise and be
In love with all of these vampires
So you can leave like the sane, abandon me
And you can take all the pain away from me
Your kiss and I will surrender
The sharpest lives are the deadliest to lead
A light to burn all the empires
So bright the sun is ashamed to rise and be
In love with all of these vampires
So you can leave like the sane, abandon me
Perawat itu berhenti di sebuah keranda jenazah, lalu dia membuka kain putih yang menutupi jasad seorang lelaki.
Gua memalingkan muka lalu memejamkan mata dengan kuat, tubuh Gua kembali bergetar, sedangkan Luna memeluk Gua dari samping sambil menangis.
"Ini korban kecelakaan tadi pagi Mas, Mba.. Sudah dibersihkan darahnya. Beliau meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit ini", perawat lelaki itu menerangkan kepada Gua.
Gua mengangguk, sambil beristigfar dalam hati. "Makasih Mas, iya itu jenazah mertua saya", jawab Gua.
Lalu dia berjalan lagi ke keranda besi jenazah di sisi lainnya. Gua menahan bahunya. "Mas.. Biar saya aja", ucap Gua.
"Za..".
"Enggak Lun.. Biar aku sendiri".
Cengkraman tangan Luna pada bahu dan lengan kiri ini terasa semakin kuat ketika tangan Gua mulai menjangkau kain putih itu.
"Za..", Luna berbisik lirih sambil membenamkan wajahnya ke lengan ini.
Sreett...kain itu Gua sibakkan...
Gua memalingkan muka lalu memejamkan mata dengan kuat, tubuh Gua kembali bergetar, sedangkan Luna memeluk Gua dari samping sambil menangis.
"Ini korban kecelakaan tadi pagi Mas, Mba.. Sudah dibersihkan darahnya. Beliau meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit ini", perawat lelaki itu menerangkan kepada Gua.
Gua mengangguk, sambil beristigfar dalam hati. "Makasih Mas, iya itu jenazah mertua saya", jawab Gua.
Lalu dia berjalan lagi ke keranda besi jenazah di sisi lainnya. Gua menahan bahunya. "Mas.. Biar saya aja", ucap Gua.
"Za..".
"Enggak Lun.. Biar aku sendiri".
Cengkraman tangan Luna pada bahu dan lengan kiri ini terasa semakin kuat ketika tangan Gua mulai menjangkau kain putih itu.
"Za..", Luna berbisik lirih sambil membenamkan wajahnya ke lengan ini.
Sreett...kain itu Gua sibakkan...
***
Sesosok bayi berusia empat bulan yang cantik itu.. Tertidur... Tertidur dengan beberapa luka yang masih basah pada wajahnya dan lebam biru pada sekujur tubuhnya.
Luna jatuh pingsan dan langsung ditolong oleh perawat rumah sakit lelaki tadi.
Gua mengangkat tubuh bayi tersebut, memeluknya, mendekapnya dalam dada ini, dingin.. Sangat dingin aliran tubuhnya...
Hancur sudah perasaan di dalam hati ini. Gua menciumi sekujur luka pada wajahnya...
Dugh..Gua jatuh bertumpu dengan kedua lutut, menangis keras.
Gua menengadahkan kepala menatap lampu yang bersinar putih terang di atas sana. Menangis keras dan berteriak...
"JINGGAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!"
Luna jatuh pingsan dan langsung ditolong oleh perawat rumah sakit lelaki tadi.
Gua mengangkat tubuh bayi tersebut, memeluknya, mendekapnya dalam dada ini, dingin.. Sangat dingin aliran tubuhnya...
Hancur sudah perasaan di dalam hati ini. Gua menciumi sekujur luka pada wajahnya...
Dugh..Gua jatuh bertumpu dengan kedua lutut, menangis keras.
Gua menengadahkan kepala menatap lampu yang bersinar putih terang di atas sana. Menangis keras dan berteriak...
"JINGGAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!"
*
*
*
*
*
Spoiler for Kencana Jingga:
"Nak... Ayah sayang sama kamu.. Bunda juga menyayangi kamu... Ayah titip salam untuk Bunda ya sayang..."
"Maafkan Ayah Nak, maafkan Ayah yang lalai menjaga kamu... Maaf Nak... "
"Ayah mencintai kamu dan menyayangi kamu."
"Maafkan Ayah Nak, maafkan Ayah yang lalai menjaga kamu... Maaf Nak... "
"Ayah mencintai kamu dan menyayangi kamu."
Putri kami tercintaKencana Jingga binti Reoda Agathadera

15.08.08 ~ 10.12.08
Diubah oleh glitch.7 25-05-2017 00:54
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 

: