Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#4622
PART 72


Bulan puasa tahun 2008 menjadi sebuah titik balik untuk kedua wanita yang Gua kenal. Ya, saat itu Mba Yu dan Luna akhirnya menjadi akrab, seringnya mereka bertemu di rumah Gua membuat kedua wanita itu kembali memiliki hubungan silaturahmi yang baik. Semua itu karena mereka perduli akan keluarga Gua, lebih tepatnya anak Gua, si cantik yang hilang. Dan karena itu pula Gua akhirnya menyerah. Menyerah untuk mengikuti saran mereka berdua dan juga Mba Laras. Di bulan puasa ini Gua bersama Mba Laras membuat berita kehilangan salah satu anggota keluarga, di media cetak. Jelas sudah, jalan ini adalah satu-satunya harapan kami semua, agar kami bisa menemukan keberadaannya.

Hubungan Gua dan Luna berjalan baik, setelah dirinya sempat mengejutkan Gua dengan sebuah kecupan di dalam mobil waktu itu, kami berdua tidak pernah membahasnya, seperti tidak pernah terjadi. Dan Gua menganggap itu hanyalah sebuah spontanitas. I don't have feeling about that. Sedangkan hubungan Gua bersama Mba Yu masih berjalan apa adanya, seperti selama ini. Mba Yu masih memiliki hubungan dengan Feri, mereka masih berpacaran.

Kedekatan Gua dengan Luna pun semakin akrab, Luna sudah dianggap keluarga oleh Mba Laras dan Nenek, karena selama istri Gua berpulang dirinya selalu hadir ditengah-tengah keluarga Gua, apalagi setelah kepergian si cantik yang dibawa oleh mertua Gua, Luna selalu meluangkan waktunya untuk membantu kami mencari sosok si cantik. Dan perselisihan antara Mba Yu dan Luna tidak pernah lagi nampak, sekalipun kini Mba Yu tau kalau Luna dekat dengan Gua. Karena dirinya pun menyadari bahwa dia tidak mungkin bisa selalu menemani Gua seperti dahulu, saat kami masih bersama.

Lambat laun, Gua dan keluarga mencoba membiasakan diri tanpa kehadiran si cantik di rumah ini. Bukan berarti kami menyerah, tapi kami berpasrah, dan hanya bisa berharap suatu hari nanti kami bertemu dan berkumpul kembali dalam keadaan sehat dan bahagia.

...
...
...

Dua bulan setelah idul fitri tahun 2008, tepatnya bulan Desember, di penghujung tahun ini, Gua belum juga menemukan keberadaan si cantik beserta kedua mertua Gua itu. Segala cara sudah Gua tempuh, Gua mengikuti saran keluarga dan juga orang terdekat, membuat berita di media cetak atas kehilangan anak Gua itu pada saat bulan puasa lalu.

Tapi ternyata tidak ada satupun berita yang dapat memberitahukan keberadaan anak Gua, tidak ada sama sekali. Dan di penghujung tahun ini berarti Gua sudah melewati hari-hari tanpa si cantik selama hampir empat bulan. Ya, selama itulah Gua belum melihat lagi si cantik...

...
...
...

Gua mengemudikan mobil ke daerah pesisir di jawa barat, setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama empat jam, akhirnya Gua pun sampai di sebuah resort. Beres check-in Gua pun masuk ke dalam kamar yang tidak begitu besar, Gua menaruh tas ransel di atas kursi kayu dekat Tv. Baru saja Gua duduk di atas kasur, hp Gua bergetar dalam saku jaket, sebuah panggilan telpon dari seorang wanita.

Quote:


Setelah telpon di tutup, Gua melepaskan jaket lalu melemparnya sembarang. Kemudian menghempaskan tubuh ke atas kasur, memandangi langit-langit kamar resort ini. Fikiran Gua kembali memutar tiap kenangan, kenangan akan hidup yang sudah Gua lalui selama sembilas tahun berada di dunia ini.

Beberapa hal mungkin bisa kita prediksi dengan nalar manusia, ada sebab dan akibat karena perbuatan kita sendiri, sisanya.. Alur yang sudah berada dalam buku takdir lah yang kita jalani tanpa bisa menduganya. Keterbatasan daya imajinasi kita tidaklah cukup untuk sekedar menerka akan bagaimana perjalanan hidup ini, maka yang bisa kita lakukan hanyalah terus berjuang dan berusaha menerima alur takdir tersebut.

Perkaranya sekarang adalah kesabaran manusia diberi batasan. Dan untuk Gua pribadi, untuk apa yang sudah Gua lalui, untuk takdir hidup Gua saat ini, kadar kesabaran Gua nyaris habis, sudah berada pada titik nadir.

Gua keluar kamar setelah membilas tubuh dan berganti pakaian. Menapaki pasir pantai sebelum senja tenggelam. Desiran angin dan deru suara ombak menemani langkah kaki Gua, menemani jiwa Gua yang hilang, menemani kesenduan dalam hati ini. Tak ada lagi yang ingin Gua rengkuh dalam sebuah nama kebahagiaan, semuanya terasa sirna dari diri ini. Terenggut, terhempas dan terjatuh dalam palung kepedihan. Lalu apalagi yang ingin Gua pertahankan... Tak ada.




Gua memiliki dua cahaya, yang selalu bisa menghangatkan hati dan jiwa ini dari dinginnya kesedihan. Yang pertama adalah cahaya indah dalam sosok istri Gua, Elsa Ferossa. Dia selalu ada di saat Gua terjatuh dan tertatih menghadapi kejamnya dunia ini, dan ternyata dia sendiri menganggap Gua sebagai sosok cahaya bagi dirinya, ironis...
Dan kini, cahaya pertama itu telah pergi, hilang, dan sirna ditelan oleh Sang Maut.

Gua masih memiliki satu cahaya lagi, cahaya terakhir yang menerangi Gua dalam gelap karena kehilangan cahaya sebelumnya. Cahaya itulah yang membuat Gua mampu melangkah dalam gelapnya jalan yang Gua tapaki. Cahaya yang kecil namun mampu membuat Gua menatap optimis bahwa jalan hidup Gua masih panjang dan kebahagiaan Gua masih ada, belum pudar karena kehilangan sebelumnya.

Tapi, cahaya kedua itu kini direbut, direnggut, dan diambil dari Gua, bukan hilang dan sirna karena ditelan Sang Maut. Kini, Gua hanya bisa terdiam berdiri tanpa bisa melangkah lagi, terlalu gelap, bahkan teramat gelap bagi Gua untuk sekedar melihat jemari-jemari tangan ini.

Takut ? Tidak, Gua tidak takut hanya untuk berada dalam gelap. Tapi permasalahannya bagaimana Gua bisa terus menyusuri jalan gelap ini tanpa cahaya. Dan sekarang... Gua hanyalah seorang buta yang tak tau arah jalan pulang...

Tak ada yang abadi di dunia ini, Gua menyadari hal itu. Segalanya akan kembali kepada-Nya. Kembali kepada Sang Maha Pemilik. Mengikhlaskan memang berat, teramat berat, bisa saja mulut ini mengucapkannya tapi dalam hati belum tentu sudah merelakan. Atas apa yang sudah terjadi, Gua berharap sebelum waktu itu tiba, Gua masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan anak tercinta Gua dan Echa.

Hanya do'a-do'a yang bisa Gua panjatkan untuk anak Gua itu, memohon kepada Tuhan agar ia selalu dalam lindungan-Nya. Hingga nanti kami dipertemukan lagi kelak.

Cahaya senja yang nyata menyinari tubuh ini ketika Gua sudah berdiri di ujung tebing, memandangi lautan yang dibasuh kemilau 'jingga'.angin laut yang menyapa Gua membuat fikiran ini tenang. Suasana inikah yang Echa lihat dalam mimpi Gua ? Jika benar begitu, Gua setuju, bahwa semua ini indah, pemandangan ini indah sayang ku...

Sejenak Gua memejamkan mata, menikmati setiap detik waktu di tempat ini, di ujung tebing atas laut waktu senja menampakkan dirinya, menampakkan keindahan kemilau jingga...

Gua merentangkan kedua tangan dan menengadahkan kepala keatas, lalu tersenyum dengan mata yang masih terpejam. Mencoba merasakan suasana indah ini lebih lama, dan dalam hati Gua memohon... Memohon kepada-Nya.

"Tuhan ku, aku menyadari bahwa Engkau lah Sang Maha Cahaya...

Cahaya yang aku rasakan bukanlah milik ku.. Tapi kepunyaan Mu...
Maka terangilah jiwa ini dalam gelapnya jalan yang aku tempuh...
Karena aku tau, hanya Engkau lah yang mampu memberikan ku cahaya itu...

Dan bila...

Bila ternyata sudah habis waktu ku untuk melihat cahaya Mu, jangan Engkau biarkan diri ini terdiam dalam gelap, lebih dari apapun aku berharap kepada Mu... Bawa serta roh dalam jasad ini untuk menemui cahaya kekal abadi di dimensi lain...

Tuhan ku... Aku mencoba untuk berpasrah dalam garis takdir yang Engkau tuliskan untuk ku... Namun bolehkah aku berharap dan berusaha lagi, untuk tetap berjalan menemukan titipan Mu.. Dan untuk itu semua, aku akan pasrah jika memang anak ku harus terpisah dengan ku dalam kehendak Mu...

Terpisah untuk sejenak, untuk waktu yang aku tidak tau.. Dan bila waktunya tiba, dimana saat aku akan bertemu lagi dengannya, jadikan hari itu hari kebahagiaan kami... Bukan duka lara yang senang menyapa diri ini.

Aku percaya Engkau menjaganya, menjaga darah dagingku yang tentunya kepunyaan Mu... Jadikan ia anak yang solehah dan selalu berada dalam kebahagiaan, jauhkan ia dari segala hal buruk di dunia ini. Aku berpasrah kepada Mu ya Tuhan ku..."


Tiga hari sudah Gua berada di resort ini, setiap sore hari Gua selalu berjalan ke tebing diatas laut, dimana di sisi timurnya ada sebuah bekas benteng, bangunan yang merupakan peninggalan jaman dahulu. Di sana Gua duduk sendirian, memandangi laut di saat senja akan terbenam sambil menikmati sebatang rokok.

Sama seperti sore ini, Gua pun sudah duduk di ujung tebing itu, mengepulkan asap dari mulut ini, dan mencoba menerka-nerka akan ada kebahagiaan kah esok hari atau sebaliknya. Sore itu Gua melihat sekelompok burung yang melintas dan berputar di atas lautan di depan sana, bersama deru suara ombak yang mengiringi desiran angin membuat tubuh ini cukup merasakan hawa dingin, sekalipun Gua sudah mengenakan jaket yang cukup tebal. Sekitar pukul setengah enam sore Gua memilih pulang ke kamar resort, dan sepertinya sudah cukup bagi Gua menyendiri dan melupakan sejenak segala beban hidup.

Ya, Gua akan kembali pulang dan berhadapan lagi dengan realita...


***


Teringat jelas dalam memori Gua, hari itu, sabtu tanggal enam desember. Gua pulang kuliah dan sedang bersama Luna pergi ke sebuah mall untuk makan sore di sebuah restoran.

"Kamu mau aku pesenin apa Za ?", tanya Luna sambil membuka buku menu di hadapan Gua.

"Ada menu apa aja Lun ?", jawab Gua sambil menyandarkan punggung ke bahu kursi.

"Mmm.. Steak mau ? Atau mau makan nasi ?", kali ini Luna melirik kepada Gua.

"Steak aja deh, aku mau tenderloin nya, barbeque sauce ya Lun", ucap Gua lalu mengalihkan pandangan ke resto ini ketika Luna menulis pesanan kami.

Setelah itu pelayan resto mengulang pesanan kami berdua, membacanya lalu kemudian pergi untuk meneruskan orederan tersebut ke bagian dapur. Gua dan Luna hanya mengobrol ringan, seputar perkuliahan Gua yang memang sudah habis masa cutinya sejak bulan oktober, pas setelah libur lebaran. Berlanjut ke perkuliahan Luna yang rencananya awal tahun depan dia akan mulai mengerjakan skripsi.

Tidak lama kemudian pesanan kami datang dan langsung kami santap setelah dihidangkan di atas meja makan. Masih menikmati steak yang baru setengah Gua makan, bahu kiri Gua ditepuk pelan dari arah samping kiri. Gua menengok kepada seorang wanita yang sedang berdiri dan tersenyum.

"Hai Za.. Apa kabar ?".

"Eh, hai Mba, alhamdulilah baik",
"Mm.. Duduk dulu Mba", ajak Gua seraya bangun dari duduk, hendak bergeser ke kursi sebelah kanan.

"Oh gak usah Za, aku baru mau pulang ini, abis beli makanan dibungkus, eh liat kamu..", jawabnya sambil menunjukkan plastik makanan pada tangan kanannya.

"Oh.. Eh iya apa kabar kamu Mba ?".

"Alhamdulilah baik juga Za..",
"Ehm..", dia berdeham lalu melirik kepada Luna yang berada di depan Gua.

"Eh iya, kenalin ini Luna, teman aku Mba", ucap Gua tersadar,
"Lun, kenalin ini Mba Siska.. Tetangga aku di dekat rumah Nenek", ucap Gua kali ini melirik kepada Luna.

"Hai, aku Siska..", Mba Siska mengulurkan tangan kanannya setelah memindahkan kantung plastik ke tangan kirinya.

"Hai juga, Aku Luna", balas Luna seraya menyambut jabat tangan Mba Siska.

"Tapi.. Sebentar sebentar... Kayaknya kita pernah ketemu ya ? Mm.. Dimana ya ?", Mba Siska menjentikan jarinya ke dagu seraya berfikir.

"Oh, iya kita pernah ketemu di rumah Eza, waktu... Ehm.. Waktu pemakaman Echa", Luna tersenyum setelah menjelaskan pertama kalinya mereka bertemu.

Gua hanya tersenyum sambil melirik kepada Luna.

"Ah iya iya, aku liat kamu waktu itu, tapi belum sempat kenalan ya.. Hahaha.. Maaf loch", jawab Mba Siska.

Ya, waktu itu Mba Siska memang datang ke pemakaman istri Gua, Echa. Dia datang sekeluarga bersama kekasihnya juga. Saat itu Luna dan Mba Siska memang belum sempat berkenalan, mereka hanya bertemu tanpa mengobrol. Setelah hari itu, Mba Siska tidak pernah bertemu dengan Gua, dan kami jarang berkomunikasi selama ini.

"Oh iya, si kecil gak diajak Za ?", tanya Mba Siska.

Gua langsung menengok ke sisi lain dengan ekspresi datar, seketika itu juga bayangan si cantik kembali hadir. Memang tidak mungkin Gua melupakan anak Gua itu dan masih terbayang jelas raut wajahnya dan aroma wangi tubuh seorang bayi mungil itu diingatan ini.

"Mm.. Memang Mba enggak tau apa yang terjadi dengan si kecil ?", tanya Luna kali ini.

Mba Siska langsung mengerenyitkan kening dan bingung, ya Gua rasa dia bisa menangkap bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Mba Siska menggelengkan kepala kepada Luna lalu melirik kepada Gua.

"Za, ada apa sama anak kamu ?".

Gua tersenyum lalu menghela nafas pelan. "Duduk dulu Mba, biar aku ceritain semuanya", kali ini Gua bangkit dari duduk dan benar-benar pindah ke bangku sebelah.

Lalu Mba Siska duduk di samping Gua, menaruh plastik makanannya di atas meja. Barulah Gua mulai bercerita yang kadang dibantu oleh Luna juga yang ikut bercerita, karena hati dan fikiran Gua masih terasa nyeri saat mengingat perginya si cantik yang membuat Gua terdiam sejenak. Setelah kami berdua bercerita kepada Mba Siska, dirinya mendengus kasar sambil memejamkam mata sejenak.

"Za..", ucapnya menatap mata Gua lekat-lekat.

Gua menengok kepadanya, lalu menatap wajahnya yang memberikan ekspresi serius.

"Aku fikir semuanya berjalan baik..",
"Ini mungkin sudah jalan dari Tuhan, aku dipertemukan lagi sama kamu di sini Za", lanjut Mba Siska sambil menaruh tangan kanannya ke bahu kiri Gua.

Gua mengerenyitkan kening. "Maksudnya ?", Gua bertanya dengan bingung.

"Aku liat anak kamu dua hari lalu bersama Papah dan Mamahnya Echa...", jawab Mba Siska serius.


***


“... Takkan selamanya tanganku mendekapmu
Takkan selamanya raga ini menjagamu

Seperti alunan detak jantungku
Tak bertahan melawan waktu

Dan semua keindahan yang memudar
Atau cinta yang telah hilang

Biarkan aku bernafas sejenak
Sebelum hilang...”

Tak Ada yang Abadi ~ Peterpan
Diubah oleh glitch.7 24-05-2017 15:42
dany.agus
fatqurr
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.