- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#164
Quote:
PART V
Begitu sampai di pondok, Osman mengambil sebuah ember kosong lalu mengambil air perigi. Air itu Kakek campurkan dengan tujuh jenis daun dan tujuh jenis bunga. Kemudian Kakek memerintahkan Osman memakai kain basahan dan disuruh duduk di bawah tangga.
“Hendak berbuat apa ini?” bisik saya ke telinga Kakek.
“Hendak buang sial dan badi ilmu salah yang hinggap ke badannya,” balas Kakek.
Bila Osman duduk di bawah tangga, Kakek lalu menyiramkan air ketubuh Osman dalam tiga fase. Setelah itu, Kakek menepuk bumi tujuh kali begitu pula dada Osman tujuh kali. Pabila sudah selesai barulah Osman disuruh oleh Kakek memakai pakaiannya kembali.
“Aku harap kau akan selamat selalu dan setan peliharaan ayahmu sudah musnah. Kau bisa hidup aman di atas tanah miliknya,” jelas Kakek pada Osman.
Kepala kampung hanya melihat saja apa yang dilakukan oleh Kakek itu dengan tenang.
“Memangnya, setan tidak tak pernah berhenti dari mempengaruhi umat manusia,” Kakek tersenyum mendengar bicara kepala kampung itu.
“ltu memang pekerjaan dan tujuannya. Dalam Surah An‐Nisa telah menjelaskan pekerjaan-pekerjaan setan yang berbunyi: Dan kehendak setan itu ialah menyesatkan kamu dengan kesesatan yang jauh,” ujar Kakek lagi.
Kepala kampung menganggukkan kepala. Obrolan Kakek dengan kepala kampung cukup bagus sekali. Banyak benar kisah yang Kakek dengar dari kepala kampung. Malah Kakek sendiri tidak merasa segan dan sungkan mencari pengalaman‐pengalamannya di masa lalu. Obrolan mereka terganggu bila anak gadis kepala kampung mendatangi mereka.
BOMOH/PAWANG HUJAN
“Ada apa?,” kata kepala kampung.
Osman segera bangun dan menatap tajam ke wajah anak gadis kepala kampung yang berambut panjang, berkulit putih. Mukanya bujur sirih. Tinggi semampai dan berleher jenjang. Saya memang tertarik dengan gadis desa berwajah ayu itu. Tetapi bila saya lihat wajah Osman, rasa tertarik yang mulai timbul di hati segera saya padamkan.
“Ada orang datang ayah”
“Siapa?”
“Pak Mardan bomoh hujan”
“Hum, sebentar lagi aku balik”
Anak gadis kepala kampung meninggalkan kawasan pondok Osman. Karena waktu makan siang sudah dekat, kepala kampung mengajak kami pergi bersamanya sekalian.
“Baguslah itu, saya ingin juga berkenalan dengan bomoh hujan itu, kalau dia berbaik hati dapatlah saya menuntut ilmu darinya,” Kakek segera bangun.
“Dia itu bukan orang lain dengan saya, kami satu pupu (sepupu),” kata kepala kampung dengan tenang.
Quote:
Ada rasa bangga dalam dirinya karena Kakek mau menuntut sesuatu dari sepupunya.
Setelah makan siang Kakek bisa berdiskusi panjang dengan Pak Mardan yang sudah berusia hampir lima puluh tahun. Orangnya tegap. Memelihara kumis, jenggot dan jambang. Dia tinggal di Kampung Kota yang terletak lebih kurang 3.2 km dari Pasar kecil Bruas daerah Manjung. Menurut Pak Mardan, dia kenal baik dengan bomoh patah tulang yang tinggal sekampung dengannya yaitu Bedul Hasyim. Kakek minta Pak Mardan menyampaikan salamnya pada Bedul Hasyim bila dia pulang ke kampungnya kelak.
“Dengan izin Allah akan saya sampaikan,” katanya.
”Saya sudah lama tidak berjumpa dengannya"
“Dia masih sehat juga,” jawab Pak Mardan.
Menurut Pak Mardan dia dalam perjalanan ke Sungai Tinggi (sebuah kampung yang terletak dalam daerah Matang, lebih kurang 65 km dari kota Taiping). Dia diundang oleh anak saudaranya karena anak saudaranya mau menikahkan anak perempuannya dengan orang dari Gunung Semanggul.
“Tujuan mengundang kita itu ada tujuan tertentu,” keluh Pak Mardan sambil melihat muka kepala kampung.
“Apa tujuannya?” tanya Osman.
“Tenaga aku ini diperlukan warganya, ketika mau menghalau hujan,” Pak Mardan melahirkan rasa hampanya, disambut oleh kepala kampung dengan ketawa memanjang.
Bila Pak Mardan mengajak pula Kakek pergi ke Sungai Tinggi Kakek menolak dengan alasan dia tidak diundang di acara pernikahan itu. Tetapi bila Pak Mardan dan kepala kampung menyatakan bahwa mereka telah diberi kuasa untuk mengundang orang lain di acara pernikahan itu, Kakek menerimanya dengan senang hati. Saya mengerti, tujuan utama Kakek menerima undangan itu bukanlah karena mau makan nasi minyak (jamuan makanan). Tetapi dia mau belajar serba sedikit tentang ilmu menahan hujan dari Pak Mardan.
Esoknya saya, Pak Mardan dan Kakek lalu pergi ke Sungai Tinggi. Kami bertolak dengan Bus dari Segari di pagi dengan Bus. Kepala kampung dan keluarganya bertolak menyusul kemudian. Kedatangan kami di sambut dengan ramah oleh anak saudara Pak Mardan. Kami sempat menyaksikan acara akad nikah yang diadakan pada waktu pagi, lebih kurang di antara jam sepuluh hingga sebelas. Acara naik pelaminan diadakan kira‐kira jam empat petang setelah para tamu yang diundang selesai makan.
Quote:
Pak Mardan merasa senang karena tidak ada tanda‐tanda hari akan hujan. Beberapa orang anak muda di situ membuat kotak sumbangan pungutan uang secara kilat untuk menghadirkan orkes band dari kota Taiping buat malam berikutnya. Pungutan swadaya itu, ternyata tidak cukup akan tetapi nasib baik pihak tuan rumah sanggup menambahkan kekurangan itu. Acara perkimpoian itu bertambah meriah dengan kehadiran orkes band dari Taiping yang membawakan lagu‐lagu bagus dan irama Melayu asli yang disampaikan para penyanyi dari orkes tersebut, antara penyanyinya ialah Kamal Harun, Aida Suhana dan Zainal Udah.
Walaupun begitu memukau orkes band dari Taiping mempersembahkan lagu-lagunya, saya lihat Pak Mardan tetap gelisah, begitu juga dengan Kakek. Untuk menghilangkan rasa resah itu Pak Mardan terpaksa menghisap rokok kretek belasan batang. Pak Mardan menarik tangan Kakek untuk pergi ke satu sudut.
“Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres malam ini,” Pak Mardan menyatakan pada Kakek.
Kakek termenung panjang mendengar pernyataan Pak Mardan itu. Dia meraba pangkal kening kanan tujuh kali, meraba telinga kiri lima kali.
“Tidak usah bimbang, kalau ada yang perlu saya tolong saya akan tolong,” kata Kakek.
Walaupun begitu wajahnya saya lihat agak redup sedikit.
“Malam ini ada acara resepsi?” Kakek bertanya Pak Mardan.
"Ada. Sebentar lagi pengantin lelaki datang”
“Kalau begitu baguslah kita bisa berjaga-jaga, manakala mengetahui kalau ada hal buruk akan terjadi“
”Saya Paham itu”
Pak Mardan dan Kakek duduk kembali di tempat semula. Bila orang ramai mulai datang mau melihat pengantin naik pelaminan, tiba‐tiba hujan turun mencurah dengan lebatnya bersama dentuman petir dan guruh.
Wajah Pak Mardan kelihatan pucat, dia lalu membisikkan pada Kakek bahwa hujan yang turun malam itu, bukan sembarang hujan. Pak Mardan yakin hujan itu dibuat oleh manusia dengan kekuatan ilmu halus yang tujuannya tidak baik. Hujan jenis ini amat berbahaya buat manusia, sebabnya di dalam air hujan itu terkandung berbagai kotoran buatan manusia, begitulah Pak Mardan memberitahu Kakek.
“Kau tunggu di sini, Mardan,” kata Kakek, begitu ungkapan itu berakhir, saya dapati Kakek gaib dari penglihatan saya. Pak Mardan tergagap-gagap menyadarinya. Lebih kurang lima menit Kakek menghilangkan diri. Dia muncul kembali dihadapan saya dan Pak Mardan.
“Aku setuju denganmu Mardan, kita hadapi semuanya ini,” tekanan suara Kakek mulai meninggi.
Quote:
Lalu Kakek minta Pak Mardan mencari ember plastik untuk menadah air yang turun dari curung (ujung) atap. Bila air sudah penuh satu ember, Kakek merendamkan tangan kirinya ke dalam ember itu. Pak Mardan dan saya jadi terkejut bila melihat tangan Kakek hitam dan air dalam ember bergolak.
Muka Kakek merah padam mulutnya membaca sesuatu, tiba‐tiba ember plastik itu pecah.
“Aku rasa kau saja selesaikan semua urusan ini. Kau sudah tahu hujan itu buatan manusia jahat,” Kakek memberikan amanat pada Pak Mardan. Dengan senang hati Pak Mardan menerimanya dan meminta saya membantunya.
“Bantulah dia Tamar. Aku ada, tidak apa‐apa kau hanya melihat saja,” Kakek memberikan izin pada saya. Dia juga memberikan saya beberapa butir batu gunung yang putih untuk ditaruh dalam saku baju.
“Mardan, dalam dugaanku, orang ini mengirimkan guna‐guna melalui hujan buatannya pada pengantin perempuan,” pesan Kakek pada Pak Mardan.
Saya lihat Pak Mardan menganggukkan kepala lalu meminta ember plastik yang baru dari tuan rumah. Dia menadah air hujan hingga penuh satu ember. Kemudian Pak Mardan mengajak saya masuk ke rumah lalu ke kamar pengantin.
“Tidak usah bimbang, aku ini sepangkatan Kakekmu,” Pak Mardan memberitahu pada mempelai perempuan yang duduk bergaun pengantin di depan kursi.
Kemudian Pak Mardan meminta pada pengiring pengantin supaya membawa pengantin itu ke kamar lain. Permintaan Pak Mardan dituruti. Tinggalah saya dan Pak Mardan dalam kamar itu. Pak Mardan lalu membasuh seluruh mukanya dengan air hujan di dalam ember itu. Dia kemudiannya memusatkan seluruh panca indera dan membaca mantera yang dipelajari dari gurunya. Saya lihat mulut Pak Mardan bergerak sebanyak 29 kali. Bila mulutnya bergerak untuk kali yang ketiga puluh, saya mendengar bisik‐bisik halus dari jauh yang tidak menentu. Tetapi akhirnya saya dengar nama Halimah disebut‐sebut.
“Apa yang kamu dengar?” Pak Mardan bertanya padaku.
“Orang memanggil nama Halimah”
“Halimah itu nama pengantin tadi, kita masih ada waktu untuk berusaha”
“Kau tunggu di sini”
Pak Mardan lalu keluar. Saya mulai berkhayal tidak menentu, bermacam‐macam bunyi yang saya dengar. Khayalan itu segera hilang bila Pak Mardan menepuk bahu kiri saya. Sewaktu saya menoleh ke belakang, pengantin perempuan sudah ada dalam kamar.
Pak Mardan menyuruh pengantin perempuan itu duduk di tepi kursi. Dia juga menyuruh tuan rumah memberitahukan orang ramai dan pihak pengantin lelaki bahwa acara perkimpoian terpaksa ditangguhkan dengan alasan Halimah sakit. Pak Mardan menyuruh Halimah memegang besi kuning yang diberikan oleh Pak Mardan padanya.
Quote:
“Kau pegang besi kuning itu kuat‐kuat, jangan kau lepaskan apapun yang terjadi. Kamu jangan menjerit,” itulah pesan Pak Mardan pada Halimah.
Saya lihat Halimah menganggukkan kepala. Kemudian saya dan Pak Mardan keluar dari kamar pengantin. Pak Mardan menjinjing ember. Hujan dan petir terus menjadi‐jadi.
“Ke mana Pak Mardan?”
“Ke bagian belakang rumah”
Saya dan Pak Mardan memijak anak tangga dengan teliti. Bila sampai di depan Kakek, Pak Mardan tersenyum.
“Buatlah apa yang seharusnya. Aku menanti di sini karena perbuatan jahat dibuat melalui air hujan baguslah kamu saja yang menyelesaikan. Kau lebih arif dari aku,” cukup tenang Kakek berbicara dan Pak Mardan menerimanya dengan rasa yang tenang.
Pak Mardan dan saya terus ke bagian belakang rumah. Lama juga Pak Mardan berputar-putar di situ. Hujan terus-menerus turun mencurah dengan lebatnya. Petir dan kilat sambung‐menyambung di malam yang pekat. Saya dan Pak Mardan naik ke kamar pengantin. Halimah masih memegang besi kuning erat‐erat. Pak Mardan meletakkan ember di sudut kamar lalu duduk di situ.
“Kau Tamar, duduk dekat lutut aku ini,” Pak Mardan memerintahkan dan saya patuhi perintahnya.
Pak Mardan melihat ke muka Halimah yang sudah kelihatan cemas. Saya lihat mulut Pak Mardan bergerak‐gerak. Saya tidak tahu apa yang dibacanya.
“Kau jangan tegur apa yang kami buat Halimah. Aku tahu sebagian dari rambut kamu sudah terkena tempias air hujan,” suara Pak Mardan parau.
Matanya mula bersinar garang. Pak Mardan lalu bersemadi di depan ember plastik berwarna merah. Pak Mardan menumpukan seluruh perhatian pada ilmu yang dituntut dari gurunya, saya lihat ember dalam air plastik merah bergerak seperti air sedang mendidih.
Di luar hujan turun dengan derasnya, cahaya petir jelas kelihatan menyelinap ke dalam kamar pengantin. Karena saya ada memiliki petua sedikit dari Kakek bagaimana cara menumpahkan seluruh panca indera pada alam lain, saya segera melakukannya. Memang saya terasa diri saya terpisah dari keadaan sekeliling.
Saya berhadapan dengan satu alam yang sunyi dan tenang. Lebih kurang setengah jam kemudian, saya mendengar sayup‐sayup bunyi berdesing. Makin lama, makin jelas bunyi itu seperti benda yang sedang terbang menuju ke arah kamar pengantin. Tidak lama kemudian terdengar bunyi ledakan yang cukup kuat di atas bumbung rumah, bunyinya seperti letupan meriam bambu. Serentak dengan ledakan itu, saya mendengar bunyi besi‐besi kecil saling beradu.
Saya juga mendengar bunyi logam berjatuhan dari tulang bumbung berdekatan dengan ujung kaki Halimah. Tatkala saya membuka mata, saya lihat Halimah tidak sadarkan diri. Di ujung kakinya terdapat berpuluh‐puluh batang paku, kaca dan jarum karat berserakan. Pak Mardan segera menghampiri saya.
Quote:
“Kalaulah kita terlewat Tamar, aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi,” ujar Pak Mardan pada saya sambiI meraba pangkal kening sebelah kiri.
Bunyi suara hujan di luar mulai berkurang. Tiba‐tiba terdengar bunyi letupan kecil betul‐betul di ujung kepala lutut Pak Mardan. Saya lihat Pak Mardan rebah di atas lantai, mukanya segera berganti menjadi kehitam‐hitaman. Saya terhenyak, paku dan besi buruk serta jarum karatan bagaikan bergerak‐gerak ke arah saya dan Pak Mardan.
“Kakekkkk tolongggg,” pekik saya dengan sekuat hati. Ketika itu saya merasa batang leher saya cukup panas, bila menelan air liur terasa pedih. Punggung saya bagaikan berada di atas bara api. Dalam keadaan yang gawat itu, saya dapati Kakek sudah berdiri di ambang pintu.
“Tenang,” kata Kakek lalu melemparkan kain hitam yang terselepang di dada ke lantai.
Pak Mardan bisa bergerak dan duduk seperti semula. Leher saya tidak terasa panas lagi, punggung saya kembali berada di atas papan lantai.
"Kau saja yang menyelesaikan perkara ini Mardan,” kata Kakek.
Pak Mardan menganggukkan kepala. Kakek lalu duduk bersila di tengah pintu.
Halimah masih terkapar di kaki kursi seperti mayat. Tetapi besi kuning masih berada dalam genggamannya.
“Bantu saya kalau saya tewas,” beritahu Pak Mardan pada Kakek.
”Saya akan bantu hambaNya yang benar, Allah bersama kita,” balas Kakek.
Pak Mardan pejamkan mata, saya juga begitu. Tidak ada sesuatu yang aneh terjadi. Pak Mardan menampar paha kanan saya sekuatnya.
“Begini saja. Kau dan aku sama‐sama melihat air dalam ember,” bisik PakMardan sambil melihat ke wajah Kakek.
Dan Kakek bagaikan mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Pak Mardan pada saya. Kakek menganggukkan kepala kepada saya dengan maksud supaya mematuhi apa yang diperintahkan Pak Mardan. Saya pun melihat ke arah air di dalam ember, saya lihat air di dalam ember bergerak seperti air sedang mendidih, mengeluarkan asap tebal seperti asap rokok, berputar-putar di permukanan ember, asap itu naik meninggi dan akhirnya lenyap. Saya mulai mencium bau amis, seperti bau darah seekor ayam yang baru disembelih.
Kepala saya terasa pening tetapi saya masih bisa mendengar bunyi hujan yang kian berkurang di luar. Pandangan saya jadi berpinar‐pinar. Dalam samar‐samar itu, saya lihat bayangan wajah seorang lelaki yang tidak saya kenali. Dalam keadaan saya terkhayal itu, saya lihat PakMardan menepuk air di dalam kamar. Kemudian Pak Mardan menutup permukaan ember dengan kain putih. Kakek melihat saja dengan apa yang dilakukan oleh Pak Mardan. Halimah mulai bergerak dan melepaskan besi kuning yang di genggamnya.
Quote:
“Kau terlepas dari bahaya Halimah,” kata Pak Mardan dan menyuruh Halimah pergi dari situ.
Hujan berhenti. Orang ramai mulai membetulkan kain‐kain tenda yang jatuh ditempa angin. Orkes band dari Taiping diminta melanjutkan pertunjukannya kembali. Pak Mardan lalu menemui ayah Halimah dan minta meneruskan acara yang telah ditetapkan.
Walaupun acara pernikahan agak lewat diadakan dari waktu yang ditetapkan, masyarakat tidak merasa kecewa malah memuji pihak tuan rumah yang sanggup mengadakan acara tersebut. Upacara bersanding berjalan dengan penuh kemeriahan.
“Semuanya sudah selamat,” kata Kakek pada Pak Mardan yang ketawa kecil melihat pengantin perempuan dan lelaki di atas pelaminan.
Bila upacara bersanding selesai, Pak Mardan lalu pergi ke kamar Halimah untuk mengambil paku dan besi yang berserakan.
Malam itu saya dan Kakek serta Pak Mardan tidur di masjid.
Pada mulanya pihak tuan rumah melarang kami tidur di masjid. Setelah diberitahu oleh Pak Mardan bahwa tindakan itu bukanlah berniat mau mempermalukan tuan rumah, tetapi bertujuan menghindari sesuatu yang buruk terjadi kalau Pak Mardan masih ada di situ, orang yang berniat jahat terhadap Halimah akan mengulangi perbuatan terkutuknya.
Alasan itu, dapat diterima oleh pihak tuan rumah dengan baik.
Banyak persoalan yang ditanya oleh Kakek pada Pak Mardan berkaitan dengan ilmu menahan hujan. Saya lihat Kakek cukup berminat belajar sesuatu dari Pak Mardan. Rasa penasaran mulai timbul dalam hati saya terhadap sikap Kakek itu. Apa perlunya Kakek mencari ilmu lagi? Apakah dia tidak terpikir usianya sudah lanjut? Apakah ilmunya yang ada tidak mencukupi? tanya saya dalam hati sambil menyandarkan badan pada pada tiang masjid.
“Saya tidak bermaksud apa‐apa, sekedar mau tahu saja. Bukankah belajar dan menambah ilmu itu memang dituntut oleh agama Islam,” saya mendengar suara Kakek agak meninggi.
“Memang,” sahut Pak Mardan.
“Saya teringat tentang Surah Ar‐Rahman ayat 33 yang bermaksud lebih kurang begini: Wahai para jin dan manusia! Kalau kamu sanggup menembus pelosok langit dan bumi, maka tembusilah. Kau tidak akan sanggup melintasinya melainkan dengan kekuatan,” ujar Kakek dengan tenang.
Pak Mardan tersenyum seraya berkata, “Maksud kekuatan dari ayat itu ialah ilmu pengetahuan
“Betul. Tepat sekali bicara kamu itu,” sahut Kakek.
Keduanya saling menepuk satu sama lain. Melihat dari cara mereka berbicara itu, saya segera membuat kesimpulan antara Kakek dan Pak Mardan memang terdapat rasa kesepahaman. Tetapi secara tidak langsung di antara mereka masih timbul saling menunjukkan diri mereka lebih pandai dari lainnya. Dan saya kira kalau Kakek masih meneruskan sikapnya itu, Pak Mardan tidak begitu mudah mau menunjukkan sesuatu yang dia miliki pada Kakek.
Suasana di luar masjid cukup gelap. Suara jangkrik dan katak bersahut‐sahutan. Saya merasa kedinginan dan kelopak mata mulai merasa agak berat. Dua kali saya menguap panjang.
Barangkali Kakek mulai sadar bahwa Pak Mardan tergolong dalam golongan orang yang agak sombong dan membanggakan diri, yang menganggap dirinya (kakek) tidak begitu pandai tentang persoalan-persoalan ilmu dunia.
Diubah oleh mufidfathul 06-06-2017 18:37
ciptoroso dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas
Tutup