- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.2K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#163
Quote:
PART IV
Secara diam‐diam kepala kampung menyatakan bila keadaan sudah baik, dia berniat mau menjodohkan Osman dengan anak bungsunya. Menurut kepala kampung, hanya dengan cara itu saja bisa mengembalikan kepercayaan orang kampung terhadap Osman. Kalau bisa biar semua warga kampungnya berada dalam keadaan selamat. Dia tidak rela warga kampungnya hidup menderita.
"Sikap kepala kampung ini memang tuntunan dari ajaran Islam, kita orang‐orang Islam wajib membantu sesama saudara Islam walau dalam bentuk apapun yang tujuannya untuk kebaikan. Ini merupakan satu ibadah”
Saya lihat kepala kampung tersenyum lebar.
"Bagaimana, ada harapan masalah ini akan berakhir?” tanya kepala kampung.
“Dengan izin Allah akan berhasil”
“Kami sudah berusaha membaca Surah Yasin selama empat puluh empat hari, nampaknya tidak berguna,” tambah kepala kampung lagi.
“Satu hal yang harus kita ingat bahwa membaca Surah Yasin tidak mesti permintaan kita dikabulkan oleh Allah. Kita harus memenuhi syarat‐syarat tertentu umpamanya kita mesti terlebih dahulu mendekatkan diri kita pada Allah. Menjalankan segala perintah dan larangannya. Cara kita meminta itu harus dengan ikhlas. Dan tidak memaksa, jangan bila sudah terdesak baru ingat akan Allah, di samping itu kita harus berikhtiar,” sekali lagi Kakek memberikan kuliahnya di hadapan kepala kampung.
Quote:
Setelah mengadakan perundingan dari hati ke hati, kepala kampung bersedia menemani Kakek berjaga di depan rumah beratap rumbia pada malam berikutnya.
Malam itu, selepas selesai sembahyang Isya, kami membentangkan tikar di halaman rumah. Seperti biasa, bila mau menjalankan pekerjaan-pekerjaaan yang berat Kakek akan memakai celana hitam, baju hitam, di samping kain ikat kepala berwarna merah.
Lebih kurang jam dua belas malam, kawasan tempat kami duduk diganggu oleh bunyi yang amat mengerikan, seperti suara gajah.
Bila suara itu hilang, keadaan tempat kami menjadi terang benderang. Saya terkejut, makhluk manusia yang berkepala burung berdiri dihadapan kami.
Tatkala melihat keadaan yang aneh itu, kepala kampung lalu jatuh pingsan. Osman menjadi pucat, lemah lalu dia juga pingsan.
Kakek segera mematahkan pohon keladi di sekitar kawasan itu dan menutupi tubuh kepala kampung dan Osman. Saya mulai mendengar suara anjing menyalak dari arah belakang rumah. Saya tidak tahu bagaimana anjing‐anjing liar bisa berada di situ. Suara burung celepuk dan burung hantu bertalu‐talu dan terdengar pula suara orang menabuh gendang diiringi suara-suara seperti suara orang menangis dan merayu.
Quote:
Makhluk manusia berkepala burung itu masih berdiri di depan Kakek matanya bersinar-sinar bagaikan mengeluarkan cahaya api. Dalam saat bersamaan saya melihat berpuluh‐puluh mayat yang sudah dikafani dengan kain putih terbujur di depan Kakek. Mayat-mayat itu bagaikan bergerak dalam kain putih.
Kakek lalu menepuk bumi. Dia mengambil sebagian dari tanah di depannya. Tanah itu dibulatkan sebesar kelereng. Kemudian Kakek menggenggam tanah itu. Dari celah jari-jari Kakek keluar asap. Sewaktu tangannya dibuka, tanah itu menjadi merah menyala. Kakek melemparkan tanah itu ke arah makhluk berbadan manusia berkepala burung.
Bila tanah itu mengenai makhluk itu, serta‐merta makhluk itu gaib, lenyap. Kakek melompat ke depan. Kakek mengeluarkan bambu yang sudah ditajamkan ujungnya kira‐kira delapan inci panjang dari rusuk kirinya.
“Inilah kutukan kamu. Aku tahu hanya bambu saja yang bisa menghilangkan kekuatanmu,” teriak Kakek sambil menikam ke kiri dan ke kanan.
Bingung juga saya melihat tingkah polah Kakek menikam sesuatu yang tidak kelihatan wujudnya. Sudah tujuh kali Kakek menikam, tidak ada hal-hal aneh terjadi di depan saya. Bila Kakek menikam ke kiri untuk kali yang ke sembilan, saya mendengar suara jeritan yang cukup kuat.
Suara jeritan itu bergema ke seluruh kampung melewati puncak Gunung Tungga. Kakek lalu menancapkan bambu runcing ke tanah dan melipat kaki celana sebelah kiri sebatas lutut. Kakek duduk mencangkung dengan telapak tangan kirinya bertumpu pada bagian atas bambu runcing. Bibirnya lalu bergerak-gerak, membaca sesuatu.
Kepala kampung masih belum sadar dari pingsannya. Saya lihat kaki kanan Osman bergerak‐gerak lemah. Kedua belah tangannya menggeserkan dahan dan dedaunanan yang menutupi tubuhnya.
“Bangun,” bisik saya pada Osman dan memberitahu padanya supaya jangan bertanya apapun.
Osman setuju dengan permintaan saya itu tetapi wajahnya masih pucat‐pasi. Waktu saya menoleh ke kanan kembali saya lihat Kakek sudah berdiri dengan kedua belah tangannya lurus mengarah ke rumah papan beratap rumbia. Mukanya nampak berpeluh. Bila Kakek menjatuhkan kedua belah tangannya, saya mendengar satu letupan, seperti orang memukul tanah dengan pelepah pisang. Serentak dengan itu, saya melihat api mulai berkobar di atap bumbung rumah. Api itu lalu menjalar dengan hebatnya. Bahang(hawa panas) dari api itu terasa panas menghempas wajah saya. Kulit wajah rasanya bagaikan terbakar.
Cahaya api dari bumbung rumah itu menerangi kawasan tempat kami berteduh. Api itu terus menjulang ke langit dengan hebat bersama bunyi letupan keciI yang sambung‐menyambung. Tidak sampai dua jam, rumah papan beratap rumbia itu kini menjadi abu.
Quote:
Kepala kampung pun tersadar dari pingsannya.
“Kenapa panas sekali ini?” tanya kepala kampung.
“Itu,” saya menunjuk ke arah rumah yang sudah menjadi bara dengan jari telunjuk. Biji mata kepala kampung terbeliak.
“Siapa yang membakar?” tanyanya lagi.
“Terbakar sendiri!”
Kepala kampung mengerutkan dahi sambil menggaruk batang lehernya. Kakek lalu mencabut bambu runcing yang tertancap di tanah. Kakek melihat bagian bawah bambu yang sudah ditajamkan itu. Memang terdapat bekas-bekas darah pada bambu itu. Kakek menghilangkan bekas darah pada ujung bambu dengan menikamkan bambu itu pada batang pisang emas yang baru tumbuh jantung. Ketika Kakek mau mencabut bambu dari batang pisang, saya, Osman dan kepala kampung disiram dengan air dari arah belakang.
Saya tidak dapat memastikan dari arah mana air itu datang, apa dari sebelah kanan atau kiri karena malam terlalu gelap. Di langit kelihatan bintang‐bintang bertaburan di mana‐mana. Angin malam yang bertiup agak keras membuat badan saya gemetar kedinginan. Saya tidak dapat menebak dengan tepat jam berapa ketika itu. Tetapi berdasarkan arah tiupan angin dan gerak awan bersisik ikan di langit, sepertinya waktu itu sudah jam empat pagi. Suara burung pungguk dan lolongan anjing liar sudah tidak kedengaran lagi.
Dari onggokan bara rumah yang punah, asap tipis nampak berkerut menjulang ke udara yang kemudian terpecah ditiup sang bayu, angin malam.
Kakek menghampiri saya.
“Kau terkena siraman air, Tamar?”
“Ya, Kek”
“Coba kau cium lengan kiri kamu, ada bau busuk tidak?”
Saya pun ikuti perintah Kakek. Walaupun perintah itu ditujukan kepadaku tetapi, kepala kampung dan Osman turut bersama mencium lengan kiri masing‐masing.
“Busuk, seperti bau bangkai,” jawab mereka serentak dan saya ikut menganggukkan kepala, setuju dengan apa yang dikatakan oleh kepala kampung dan Osman.
Kakek menyuruh kami bertiga berdiri di bawah pohon pisang emas yang baru tumbuh jantung. Kami disuruh berdiri dengan menempelkan bahu masing‐masing. Sesudah itu, Kakek menyuruh saya melihat ke arah utara, kepala kampung ke arah selatan dan Osman ke arah barat. Dengan keadaan itu kami tidak dapat memandang wajah satu sama lainnya. Kakek lalu menggoncangkan perdu pisang emas yang baru tumbuh jantung dengan sekuatnya. Air embun yang melekat pada daun pisang itu jatuh menimpa badan kami.
Quote:
“Sekarang cium lengan kiri kamu semua,” ujar Kakek dengan tenang sambil menekan pangkal dagunya dengan ibu jari kiri.
“Tak ada baunya lagi,” jawab saya.
“Sudah hilang busuknya,” tegas Osman.
“Ya sudah hilang,” sahut kepala kampung sambiI senyum.
Kakek menyuruh kami duduk kembali di tempat semula. Dengan tenang Kakek membuka lipatan kaki celana sebelah kiri. Angin sudah tidak sekuat tadi bertiup, menandakan waktu subuh hampir tiba. Langit kelihatan cerah dan bintang‐bintang berangsur hilang.
Bara api masih kelihatan merah menyala di tapak rumah yang punah, bunga‐bunga api kelihatan menjulang pendek di udara sebelum padam. Kakek merapikan duduk bersilanya lalu mendekapkan kedua belah tangannya ke dada.
Embun subuh sudah terasa menitik ke ubun‐ubun kepala. Rasa dingin kian terasa. Saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh Kakek ketika itu. Biji mata saya terbeliak bila saya melihat dari atas bara api keluar benda putih dan bulat, sebesar bambu lemang (bambu apus) yang panjangnya kira‐kira dua kaki, terapung‐apung di udara seperti ditarik oleh sesuatu dari atas. Benda putih lalu naik setinggi pohon kelapa dara ( virgin coconut ). Berhenti di situ sebentar.
Kemudian benda bulat itu bergerak seperti kilat menuju ke arah kami. Kakek menyuruh kami tiarap supaya benda itu tidak mengenai kepala. Tetapi angin dari benda bulat itu berhasil menerbangkan songkok kepala kampung dan cuping teling saya bagaikan mau tercabut rasanya dihentak oleh angin dari benda bulat itu.
Seketika itu juga dari hutan kecil sebelah kami terdengar bunyi suara katak betung bersahut‐sahutan yang diselingi dengan bunyi suara orang bersorak dan ketawa yang amat menyeramkan. Embun subuh kian rancak menimpa kulit kepala. Terdengar kokok ayam hutan bersahut-sahutan dari kaki Gunung Tunggal.
Saya tidak dapat menahan rasa dingin yang teramat sangat itu. Dahi saya kerutkan. Dagu saya menggeletar yang mengakibatkan gigi atas dan bawah saya beradu dan mengeluarkan bunyi kerup‐kerup yang tidak tentu panjang pendeknya. Suara lolong anjing liar mulai kedengaran sayup‐sayup dan memanjang seperti orang menangis dan meratapi sesuatu.
Benda putih itu lalu berputar-putar di atas kepala kami.
Hari masih gelap. Dalam keadaan yang agak gawat itu, saya melihat Kakek berguling‐guling di atas tanah menuju ke pangkal pisang yang baru tumbuh jantung.
Kakek duduk sambil menyandarkan badannya pada perdu pisang itu. Kakek merasa selamat karena benda putih yang bergerak di awang‐awang itu tidak memburunya. Kakek segera berdiri sambil mendekapkan ke dua belah telapak tangannya ke cuping telinga kiri dan kanan, seperti orang yang hendak mengalunkan azan. Lebih kurang dua-tiga menit Kakek dalam keadaan demikian.
Quote:
Akhirnya dia mendatangi kawasan lapang. Benda putih itu mulai menuju ke arahnya. Kakek tidak melarikan diri malah berdiri dengan gagahnya di situ.
Kedua belah tumit kakinya tidak menjejak bumi dan lutut kanannya dibengkokkan sedikit. Bila benda putih itu berada betul‐betul di ubun kepalanya dengan segera Kakek membuka kain merah yang melilit kepalanya. Benda putih itu lalu berputar mengelilingi tubuh Kakek sambil mengeluarkan suara yang berdengung seperti suara ayam kampung kena jolok (zaman dulu kalau mau mengetahui ayam kampung mau bertelur apa tidak dengan memasukkan jari ke duburnya). Karena terlalu cepat dan Iigat (berputar dengan cepat laksana gasing) benda putih itu berputar mengelilingi tubuh Kakek, saya tidak dapat melihat Kakek dengan jelasnya.
Dalam sekejap mata saja saya melihat Kakek terhuyung‐huyung seperti didorong oleh sesuatu.
Hati saya terguncang, saya tahu Kakek sedang berjuang menentang sesuatu. Ada niat menolongnya tetapi saya tidak berdaya bergerak. Tempurung lutut dan dan sendi‐sendi kaki saya terasa bagaikan terlepas.
Ketika itu, ada cahaya terang mula bangkit di kaki langit, keadaan hari mulai berangsur cerah. Kakek masih terhuyung‐huyung tidak tentu arah. Tetapi di tangannya masih tergenggam kain merah. Kakek bertakbir dengan sekuat hatinya sambiI melompat setinggi tiga kaki. Ketika Kakek melompat itu dia memukul benda putih itu dengan ikat kepalanya. Dua kali lompat, dua kali pukulan tidak mendatangkan mudharat pada benda putih itu. Kakek kelihatan letih dan tidak bertenaga. Saya lihat Kakek rebah terlentang di atas tanah sambil terbatuk‐batuk. Mukanya pucat.
Kakek mencium tanah sambil membengkokkan badannya, tidak ubahnya seperti kucing yang bersiap untuk menerkam tikus. Kemudian Kakek melompat untuk kali yang ketiga lalu memukul benda putih itu dengan kain ikat kepalanya sekuat tenaga. Hari mulai berangsur-angsur terang, di kaki langit cahaya putih mulai kelihatan dengan jelas.
Kakek kali ini saya lihat terlempar dekat dengan bara api yang sedang marak memamah kayu‐kayu rumah yang punah. Belum sempat badannya menjejak bumi, Kakek sudah meletakkan posisi badannya dalam keadaan tegak. Seketika itu juga bara api bertambah kuat cahayanya dan beberapa bagian dari bara api itu mengeluarkan api. Saya merasa desiran angin dipermukaan tanah.
Saya lihat telapak kaki Kakek tidak menjejak tanah. Kakek berdiri atas angin sambil memeluk tubuhnya erat‐erat. Dan benda putih di awang‐awang tidak bergerak tetapi mengeluarkan asap tipis. Bila asap tipis itu hilang, terdengar letupan seperti letupan mercun kecil. Benda putih itu lalu hilang dan seketika itu juga beberapa bilah bambu kering bertaburan atas tanah. Kakek segera menghampiri kami. Kali ini saya lihat wajahnya berseri dan kedua kelopak matanya sayu sedikit karena kurang tidur.
“Kita balik, sembahyang subuh,” kata Kakek.
“Sudah selesai semuanya, Paman?” tanya Osman.
“Sudah. Dengan izin Allah yang Maha Besar dan Maha Merestui nampaknya kita berhasil”
“Dia tidak mengganggu kita lagi?” kepala kampung pula bertanya.
“Nampaknya begitulah”
Quote:
Kami lalu pulang ke pondok Osman dan menunaikan fardu subuh. Kepala kampung mengajak kami ke rumahnya untuk sarapan pagi. Dia juga menyatakan pada saya, ada sesuatu yang mau dibincangkan dengan Kakek.
“Saya rasa bagusnya sekarang ini kita pergi ke rumah saya,” ulang kepala kampung dengan senyum.
Osman melihat ke muka saya. Kakek menggigit ibu jari sambil melihat kosong ke depan.
“Begini saja. Biarlah Osman dan kepala kampung pergi dulu,” nada suara Kakek lembut sambil bangun.
“Kenapa begitu? ”
“Saya ada urusan sedikit ”
“Apa perkaranya?”
“Saya akan senam kemudian akan mandi air embun itu saja. Setelah semua itu selesai, saya baru pergi. Sewaktu saya sampai ke rumah kamu hari pun cerah dan kopi pun sudah tersedia”
“Ha...ha.. tidak apalah,” balas kepala kampung.
Kakek dan kepala kampung ketawa lebar.
Kepala kampung dan Osman meninggalkan saya dan Kakek di pondok. Saya diminta oleh Kakek supaya melakukan gerakan senam kucing dan harimau bangun tidur.
Tujuan senam cara lama itu dilakukan untuk menghindarkan dari derita sakit pinggang dan linu-linu persendian. Suatu senam gaya baru diajarkan oleh Kakek pada saya di saat itu yaitu senam ular salin kulit. Senam jenis ini lebih banyak menitikberatkan pada menarik dan melepaskan nafas, serta pergerakan sendi‐sendi urut. Tujuan utama senam ini ialah, memelihara kulit badan dan muka. Kulit badan tidak mudah mengendur dan muka kelihatan muda atau tidak menua dimakan usia.
Senam jenis ini hanya dilakukan seminggu sekali. Orang yang melakukan senam ini dilarang memakan makanan yang banyak mengandung zat asam selama tiga hari tetapi dianjurkan memakan dedaunan hijau yang bisa dibuat ulam seperti daun pegaga, daun ulam raja, daun seledri dan daun kesum ( Persicaria odorata ) serta pucuk manggis muda. Selesai melaksanakan semua jenis senam itu, saya dan Kakek lalu menjelajah ke seluruh kawasan kecil dekat pondok Osman untuk mandi embun.
Akhirnya, Kakek mengajak saya pergi ke puing-puing bekas rumah papan beratap rumbia. Ada sesuatu yang hendak Kakek cari di situ. Waktu saya dan Kakek tiba ke situ, saya lihat bara api sudah banyak yang padam, kayu‐kayu alang rumah semuanya sudah hangus menjadi arang.
Quote:
“Mari kita cari bambu yang jatuh bertaburan malam tadi,” saya terkejut dengan ungkapan dari Kakek itu.
Bulu tengkuk saya lalu meremang. Dada terasa berdebar.
"Mari,” Kakek lalu menarik tangan saya.
Memang saya tidak ada pilihan lain untuk membantah. Lama juga kami berputar-putar di kawasan yang kami sangkakan tempat bilah‐bilah bambu itu jatuh. Apa yang kami temui di situ ialah bilah‐bilah bambu yang sudah hangus.
Kakek menggosok-gosokkannya dengan ujung kaki.
“Memang bambu sumpahnya,” keluh Kakek sambil menggigit bibir.
”Saya tidak Paham bicara, Kek?”
“Hanya dengan bambu saja yang bisa menghilangkan kekuatan ilmu orang yang menuntut ilmu itu. Aku harap malapetaka yang menimpa orang‐orang di sini akan tamat,” tambah Kakek lagi, lalu mengajak saya ke rumah kepala kampung.
Sarapan pagi di rumah kepala kampung memang enak. Kami dihidangkan dengan kopi panas dan pulut(nasi ketan) berlaukkan ikan laut goreng. Anehnya Kakek tidak menjamah pulut itu. Dia hanya minum kopi panas saja. kepala kampung tidak puas hatinya dengan perilaku Kakek.
“Kenapa tidak makan pulut?” tanya kepala kampung.
“Minta maaf, saya memang tidak makan pulut ini. ”
“Kami tidak tahu, apa sebabnya? Apa ada pantangan dan larangan, ya?”
“Saya ini mengidap sakit angin. Orang sakit angin memang tidak bagus makan pulut, karena pulut ini cukup berbisa bagi orang yang mengidap sakit itu. Kalau sudah sembuh pun akan sakit kembali jika makan pulut"
Kepala kampung puas hatinya dengan penjelasan Kakek itu. Kepala kampung merasa bersalah kalau Kakek tidak makan di rumahnya. Karena itu, dia menyuruh anaknya membeli kue-kue jajanan di kedai.
“Jangan, ini sudah cukup untuk saya,” beritahu Kakek pada kepala kampung.
“Saya tidak puas hati kalau kamu tidak makan di rumah saya. Begini saja, tengah hari ini, makan di sini,” kepala kampung membuat undangan lagi.
Tawarannya itu diterima oleh Kakek dengan senang hati. Sementara menunggu siang hari Kakek kembali ke pondok Osman. Kepala kampung ikut bersama.
Diubah oleh mufidfathul 06-06-2017 18:37
ciptoroso dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas
Tutup