- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.2K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#162
PART III
“Beliung itu ada padamu?” saya terdengar Kakek bertanya Osman.
“Ada saya simpan. Berbalut dengan kain kuning dan diikat dengan benang tujuh warna”
“Apa warnanya?”
“Saya tidak terlalu ingat. Tapi warna hitam lebih banyak dari warna lainnya”
Kakek saya lihat resah tidak menentu. Sebentar dia kerutkan dahi, sebentar menggaruk pangkal kening. Sebentar memijit pangkal hidung. Semua yang
Kakek lakukan serba tidak kena.
Dalam keadaan Kakek yang tidak menentu itu, saya melihat ke arah rumah beratap rumbia. Saya lihat bagian jendela yang tidak terkena sinar matahari terbuka dengan sendirinya. Ada kelebatan manusia berdiri di situ. Saya memberanikan diri untuk melihatnya, tiba‐tiba telinga terasa sunyi. Tidak ada satu pun yang dapat saya dengarkan dan kepala saya terasa pening. Saya segera melihat ke arah lain. Pendengaran saya kembali seperti biasa, rasa pening lalu hilang. Saya tidak berani mengulangi perbuatan itu lagi.
“Kau simpan beliung itu di mana?”
Saya mulai bosan dengan sikap Kakek. Tidak habis‐habisnya bertanya kepada Osman dan tidak merasa bosan seperti saya. Dia menjawab dengan jelas apa yang ditanyakan Kakek. Osman lalu memberi tahu Kakek bahwa beliung itu disimpan dirumahnya yang terletak berdekatan dengan jalan raya. Osman juga memberitahu tanah pusaka peninggalan almarhum ayahnya berjumlah lima ekar lebih. Tiga ekar lagi dijadikan dusun.
"Rumah ini ayah dirikan di dalam tanah dusun,” kata Osman tanpa memandang ke arah rumah peninggalan ayahnya. Dia bagaikan takut memandang rumah pusaka itu. Matahari kian condong ke barat.
Burung gagak kian bertambah, dan hinggap di atas bumbung rumah papan beratap rumbia. Bila Kakek bertanya Osman kenapa dia mendirikan rumah di tepi jalan raya di atas tanah kerajaan, secara terus terang Osman menerangkan bahwa dia pemah mendirikan rumah di atas tanah pusaka peninggalan ayahnya. Malah, dia sendiri sudah mencari seorang gadis sebagai calon isterinya. Dia mau menjadikan tanah pusaka itu sebagai sumber rezekinya. Tetapi niatnya tidak terlaksana bila rumah sudah didirikan dan dia tinggal di situ. Osman merasakan tanah peninggalan ayahnya bukanlah suatu tempat yang aman. Setiap malam dia diganggu oleh makhluk ganjil yang dapat dilihatnya.
"Setiap malam badan saya dan pakaian saya dilumuri dengan kotoran manusia dan binatang. Tiang rumah saya digoncang setiap malam, karena itu saya pindah,” beritahu Osman pada Kakek.
Osman juga memberitahu, tidak ada orang yang mau mengerat di kebun karetnya karena setiap orang yang coba mengerat akan diserang oleh beribu-ribu kelelawar dan gagak. Akibatnya, orang yang diserang kelawar badannya gatal dan bengkak. Manakala orang yang diserang burung gagak badannya kemerah‐merahan akibat dicakar oleh burung tersebut.
"Kebun karet itu, sudah menjadi hutan,” keluh Osman.
Hati saya cukup teriris, bila Osman menyatakan niatnya untuk meninggalkan kampung buat selama‐lamanya.
"Tidak ada gunanya saya tinggal di sini. Orang‐orang kampung mulai mencurigai saya. Tidak ada gadis yang mau bersuamikan saya dan tidak ada orang yang sudi menjadikan saya menantu. Bila paman sudah berhasil, semua tanah ini akan saya jual jika ada orang mau membelinya. Kalau tidak ada biarkanlah menjadi hutan,” wajah Osman sungguh muram.
Kakek segera menepuk bahu Osman. Kakek menyanjung cita‐cita Osman disamping memberi suatu asa baru pada dirinya.
"Jangan putus asa. Allah tidak suka pada orang yang cepat putus asa, hidup mesti berusaha,” bisik Kakek ke telinga Osman.
Dia tersenyum.
Kakek menggaruk pangkal telinga sebelah kanan dua kali berturut‐turut. Osman pun melihat jam tangan.
"Sudah pukul enam paman,” ujarnya.
Saya melihat wajah Kakek. Dan Osman menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti mencari sesuatu.
"Mari kita masuk ke rumah itu,” suara Kakek separuh keras.
Osman dan saya berpandangan. Dada saya berdebar dan saya tidak dapat menduga apa yang bergolak dalam hati kecil Osman.
"Mari,” ulang Kakek lagi sambil menarik tangan Osman.
Osman mematuhi perintah Kakek. Baru lima langkah Osman melangkah, mukanya kelihatan pucat. Tidak berdaya untuk melangkah maju.
Wajah Kakek ditatapnya sejenak.
"Kita menempuh bahaya, Paman,” katanya.
“Bagaimana kau katakan bahaya, kita belum juga sampai ”
“Saya merasa ngeri dan dingin, Paman”
“Tidak usah takut, aku ada dekat kamu”
Kakek lalu mengajak Osman. Ternyata Osman tidak dapat berdalih lagi.
Saya dan Osman lalu mengikuti Kakek, seperti anak ayam mengikuti ibunya mencari makanan. Bunyi suara gagak kian keras seolah‐olah tidak merestui atas kedatangan kami bertiga. Beberapa ekor burung gagak terbang rendah ke arah kami. Berputar-putar di atas kepala kami sebelum hinggap di dahan pohon kiri kanan kami.
Saya tidak dapat mengawal mata saya dari memandang
tajam ke arah burung‐burung gagak itu. Memang bentuk burung gagak itu agak besar sedikit dari gagak yang biasa saya lihat. Bagian kepalanya botak hingga ke leher. Dibawah paruhnya tumbuh bulu yang agak jarang tetapi panjang seperti jenggot manusia.
"Jangan melihat burung itu,” kata Kakek pada saya sambil memutarkan leher saya hingga tertumpu ke depan.
Memang, terasa sakit leher bila Kakek berbuat demikian pada saya.
"Jangan belajar jahat. Jaga mata dan hati kamu. Di sini bukan tempat kesenangan tahu!” tambah Kakek.
Nada suaranya cukup keras. Saya lalu membisu. Ketika itu langit kelihatan cerah bersama kepulan awan tipis yang berarak ke utara, meskipun hari sudah pukul enam lebih.
Kami lalu melangkah mengikuti langkah Kakek yang teratur. Dada saya berdebar. Lebih
kurang dalam jarak dua puluh kaki sampai ke kaki tangga rumah papan beratap rumbia, tiba-tiba mendadak saja Kakek berhenti melangkah.
Dia menyuruh saya berdiri di kanan dan Osman di sebelah kirinya. Dia meminta kami melangkah serentak mengikut langkahnya. Dan langkah pertama dimulai dengan kaki kiri. Setiap kali melangkah tumit tidak boleh menyentuh tanah. Ketika itu, kami tidak dibolehkan Kakek memakai sepatu. Semua sepatu diletakkan di satu tempat khusus.
Kakek juga mengingatkan kami supaya jangan menegur kalau melihat sesuatu yang ganjil. Semua perintah Kakek kami patuhi.
Akhirnya kami sampai di kaki tangga rumah tersebut. Kakek meletakan talapak tangan kanannya di atas kepala tiang tangga yang terbuat dari kayu Medang Sawa.
Kepala tiang itu terukir indah dalam bentuk awan yang cukup berseni. Lama juga Kakek meletakan tapak tangannya di situ. Saya lihat lengannya bagaikan bergoyang‐goyang hingga urat‐uratnya kelihatan, seperti ada sesuatu yang menekan tangan Kakek. Mukanya mulai berpeluh. Urat di kiri kanan dahi Kakek nampak cukup tegang.
"Allahu Akbar..,” pekik Kakek sekuat hati.
Serentak dengan itu dia menarik tangannya dari kepala tangga. Kakek mundur dua tapak ke belakang. Kakek pun membaca beberapa potong ayat al‐Quran.
"Begini, kita naik ke rumah dengan cara undur,” kata Kakek sambil melihat wajah saya dan Osman.
Burung gagak lalu berbunyi. Tiba‐tiba Kakek bersuara lagi, "Biar aku naik dulu”
Saya dan Osman berpandangan lagi, Kakek mengganti rencana dengan mendadak. Kakek pun melangkah anak tangga pertama. Matanya melihat kami, tetapi kakinya lalu melangkah. Memang, suatu pekerjaan yang sulit memijak anak tangga dengan cara yang ganjil. Bila sampai ke tangga akhir
barulah Kakek memutarkan badannya. Kemudian dia mendorong daun pintu yang tidak terkunci.
"Naik seperti biasa, jangan ikuti seperti aku tadi,” katanya dengan lantang.
Kami pun segera naik ke rumah. Dalam beberapa saat saja kami sudah berada di dalam rumah papan beratap rumbia.
Rumah itu mempunyai tiga kamar. Salah satu dari kamar itu terkunci. Menurut Osman kamar
itu sewaktu ayahnya masih hidup tidak dibolehkan seorang pun masuk ke dalamnya. Karena itu Osman sendiri tidak tahu apa yang terdapat dalam kamar itu.
Kakek melihat keadaan rumah yang penuh dengan sawang dan sarang laba-laba dari anjung hingga ke dapur. Ketika berada di ruang tengah Kakek mengais beberapa helai bulu burung gagak serta beberapa ekor bangkai kelelawar yang sudah kering. Tulang dan kepala kelelawar yang kering dan keras itu bertaburan di situ.
Waktu Kakek mau menjamah tulang‐tulang kelelawar itu, kami mendengar bunyi deru angin yang cukup kuat. Serentak dengan itu seluruh ruang dipenuhi dengan beribu‐ribu ekor kelawar yang bersiap untuk menyerang kami.
Kakek pun membuka baju hitamnya dan menutup kepalanya hingga menjadi bulat. Mulutnya terkumat‐kamit membaca sesuatu.
Saya dan Osman menjadi resah. Tidak tahu apa yang hendak dilakukan ketika itu. Kakek melemparkan bajunya ke arah dinding. Dengan serta‐merta kelawar yang beribu‐ribu itu hilang dari dalam rumah. Kakek mengambil baju lalu menyarungkan kembali ke badannya.
Kakek melangkah ke pintu kamar yang terkunci. Dengan tangan kiri Kakek memegang induk kunci (gembok) erat‐erat. Mukanya merah padam. Saya lihat Kakek meremas‐remas induk kunci hingga hancur. Besi dari induk kunci bertaburan di atas lantai. Kakek mendorong pintu kamar dan menyuruh Osman masuk. Pada mulanya Osman enggan, namun setelah didesak barulah Osman melangkah diikuti oleh Kakek dan saya. Dalam kamar itu Kakek menjumpai satu tengkorak manusia terletak di atas tilam yang beralasan kain kuning. Rangka tengkorak itu terletak di atas sebatang kayu pulai (pohon yg batangnya ringan, kulit pohonnya bergetah, sering dibuat obat;Alstonia scholaris) kering.
"Kita balik,” kata Kakek.
Tanpa banyak bicara kami mengikuti perintah Kakek. Ketika itu hari sudah berangsur gelap. Dengan langkah yang cepat kami menuju rumah Osman di tepi jalan raya.
Begitu kami masuk ke dalam rumah, Osman jatuh pingsan. Kakek terpaksa merawat Osman hingga pulih. Tidak jauh dari tempat Osman jatuh tadi, Kakek menemukan sekeping batu sebesar ibu jari. Batu yang berwarna merah itu Kakek masukkan ke dalam uncangnya.
Malam itu selepas menunaikan sembahyang Isya, Kakek minta Osman mengeluarkan beliung kecil yang disimpannya. Tanpa ba-bi-bu lagi Osman mengeluarkan beliung kecil itu dari dalam kotak kecil yang diletakkan di bawah kursi. Lama juga Kakek meneliti beliung kecil itu.
Kakek lalu memberitahu Osman bahwa beliung yang disimpannya itu bukanlah beliung yang terbuat dari besi, tetapi terbuat dari tulang manusia. Jika beliung itu disimpan akan ada suatu kekuatan yang mendampingi dirinya.
Beliung kecil itu merupakan amanat ayahnya untuk Osman agar ia mewarisi ilmunya
di samping memelihara hantu kelawar peninggalan ayahnya.
"Kau harus membuangnya. Kalau tidak dirimu selamanya didampingi oleh setan. Bila sampai waktunya, kau harus memberi dia makan dengan darahmu sendiri, kalau tidak dia akan mencelakai orang lain,” kata Kakek pada Osman.
"Saya tidak tahu, Paman,” balas Osman jujur.
Kakek termenung sebentar. Kakek yakin apa yang dikatakan oleh Osman itu memang benar. Untuk menghilangkan kegelisahan di hati Osman, Kakek lalu berjanji untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Osman.
" Paman minta al‐Quran,” ujar Kakek pada Osman lagi.
“Saya tidak ada menyimpan al Qur'an, Paman”
“Surah yasin?”
“Pun tidak ada”
“Sebagai seorang Islam kau harus menyimpan al‐Quran di rumah atau Surah Yasin. Bukan bertujuan untuk dijadikan perhiasan almari, kau harus menyimpan dan membacanya. Paling kurang setahun sekali kau harus membaca al Quran selama satu bulan pada setiap bulan Ramadhan. Surah Yasin pula dibaca pada setiap malam Jum’at. Kau bisa membaca Quran?”
“Bisa, Paman”
“Bagus. Terakhir kau membaca al‐Quran kapan?”
“Paling akhir sekali kira‐kira lima tahun yang lalu sewaktu saya menamatkan belajar dengan Haji Mat Zain”
“Setelah itu?”
“Tak pernah!”
Kakek mengeluh kecil.
Kakek menyatakan rasa kesalnya atas perilaku Osman itu. Menurut Kakek, anak muda sekarang kian jauh dari al‐Quran walaupun mereka tahu dan bisa membaca al‐Quran. Perbuatan membaca al‐Quran itu diterapkan dari masa kecil, bila sudah dewasa perilaku membaca al‐Quran tidak akan terpisah dari diri mereka.
"Ada yang berfikir membaca al‐Quran sebagai suatu kebiasaan menunjukkan seseorang itu kampungan dan ketinggalan zaman. Jadi mereka lebih senang membaca buku komik atau kartun yang tidak mendatangkan faedah,”
Kakek mulai berkhutbah. Untungnya dia tidak berkhutbah panjang.
Malam itu Osman terpaksa pergi ke rumah Haji Mat Zin (guru al‐Quran kampung tersebut) meminjam kitab suci al‐Quran. Bila al‐Quran berada di depan Kakek, dia lalu membacanya hingga subuh.
Sepanjang malam itu tidak ada hal-hal aneh yang kami alami di pondok Osman. Tetapi, bila saya mengikuti Kakek mengambil air wudhu subuh,
di seberang anak sungai yang letaknya tidak berapa jauh dari rumah Osman, Kakek telah dilempar dengan kotoran dari arah kiri. Karena hari gelap, Kakek tidak dapat melihat siapa yang melempar kotoran padanya. Kotoran itu mengenai perut Kakek.
“Jangan ganggu aku!” pekik Kakek.
Jika suara Kakek hilang, beberapa pohon besar bergoyang dan daun dari pohon‐pohon berguguran. Kakek tidak peduli lalu mandi membersihkan badan.
Bila sudah selesai mandi, Kakek lalu menyarungkan celana hitam
dan bersiap mau mengambil air wudhu.
Dalam samar‐samar subuh itu, saya dan Kakek melihat kaki manusia yang cukup besar. Kakek tertegun sejenak.
Manakala suasana di tebing sungai mulai ramai dengan bunyi suara burung hantu dan gagak, Kakek tidak berkata sepatah pun. Dia melangkah tenang menuju ke rumah Osman.
Sampai di rumah ternyata didapati Osman masih tidur. Kakek jadi marah dengan tiba‐tiba.
"Bangun. Jangan tidur bersama setan, mari kita sembahyang!” pekik Kakek sambil menyepak punggung Osman.
Tergagap Osman bangun lalu mengambil air wudhu. Bila Kakek membaca doa qunut, saya rasa rumah itu bergetar. Kakek tidak terpengaruh dan terus menyelesaikan sembahyang subuhnya. Waktu Kakek memberi salam tahiyat akhir, satu tendangan hinggap di belakang Kakek kemudian pipi saya bagaikan ditampar oleh seseorang.
Kibasan tangan itu saya lihat berbulu panjang dan besar pula. Kakek tidak peduli dengan kejadian itu. Dia tetap
melanjutkan perbuatannya membaca doa. Rumah terasa bergoncang lagi. Satu makhluk hitam berdiri di depan Kakek. Lama makhluk itu berdiri di situ. warnanya segera berganti dari hitam menjadi seakan‐akan kuning,
kemudian menjadi putih. Saya amati makhluk itu cukup besar. Bentuk kakinya seperti kaki gajah. Dari paras tubuh penuh dengan bulu tebal.
Kakek selesai membaca doa.
Dia lalu mendongakkan kepalanya pada makhluk itu. Di luar rumah, bunyi burung gagak kian menghebat bersama dengan suara burung hantu. Sesekali terdengar suara orang menangis dan meratap dalam bahasa yang tidak saya Pahami. Subuh itu, bagi saya merupakan subuh yang amat menakutkan. Suasana subuh yang hening dan damai itu tidak saya nikmati seperti subuh yang lain. Osman tidak berkata walau sepatah pun. Mukanya pucat pasi.
"Memang kau setan. Kau tidak mendekati orang yang sedang sembahyang.
Apa yang kau mau?”
Kakek pun bangun sambil mengambil kain merah lalu mengikatnya di kepala.
Kakek berdiri dengan kaki kanannya ke depan dalam jarak satu kaki dengan kaki kiri. Kakek lalu bersedekap. Dia membaca sesuatu. Bila mulut Kakek tidak bergerak, makhluk di hadapannya hilang dan berganti tubuh badan manusia yang berbalut dengan kain kafan. Bagian atas kain kafan itu terikat tali. Begitu juga dengan bagian kaki. Makhluk itu bergerak dengan meloncat‐Ioncat.
Kakek menjatuhkan kedua belah tangannya. Kaki kanan merapat dengan kaki kiri. Kemudian Kakek menepuk tangan. Saya lihat kain kafan yang membungkus makhluk itu terbuka.
"Ayah,” jerit Osman.
Kakek segera berpaling dan menendang bahu kanan Osman. Dan Osman lalu pingsan.
"Biarkan dia di situ kau jaga dia. Kalau dia mendekat dengan setan ini, roh jahat akan hinggap ke tubuhnya,” demikian Kakek memberitahu saya.
Sekarang makhluk itu membuka kedua belah tangannya dan bersiap mau menyerang. Kakek dengan melompat sambil membuka kain ikat kepalanya lalu memukul ke arah makhluk itu. Makhluk itu hilang dari tempatnya digantikan oleh batang pisang. Batang pisang itu lalu membesar hingga sampai ke
bagian palang dan akhirnya menjadi suatu bentuk yang lain pula yaitu manusia berkepala burung.
"Pergi kamu dari sini. Sebentar lagi matahari akan terbit dan kamu tidak bisa terkena cahaya matahari. Aku tahu kutukan dan larangan kamu. Begitu Kakek mengakhiri perkataannya, burung itu lalu lenyap.
Di kaki langit, matahari mulai menampakkan diri. Kakek menyadarkan Osman dari pingsannya. Kakek mengambil beliung yang terbuat dari tulang. Kakek membasuh beliung kecil itu dengan tujuh jenis air bunga serta tujuh jenis air dari daun
yang ujungnya menghadap ke arah timur. Kemudian Kakek merendamkannya ke dalam air yang berlumpur. Bila matahari sudah cukup keras bersinar, Kakek letakkan be‐liung tulang yang direndam itu di tengah halaman.
Bila beliung tulang itu terkena sinar cahaya matahari, muka Osman yang duduk di sisi Kakek menjadi merah seperti udang terkena bakar. Tiba‐tiba beliung itu terbakar. Wajah Osman kembali seperti sedia kala. Bekas rendaman beliung tulang itu Kakek kubur di pangkal pohon rambutan di tepi jalan raya. (Seminggu setelah itu pohon rambutan itu mati akibat disambar petir).
Pagi itu juga saya, Osman, dan Kakek pergi ke rumah papan beratap rumbia. Sekali lagi bila melihat rumah itu kami gelisah. Keadaannya cukup berbeda dengan keadaan yang sebelumnya.
Di ruang tengah rumah berlapis-lapis bulu gagak dan bangkai kelawar. Bila kami masuk ke kamar tempat rangka manusia, kami dapati tengkorak itu sudah tidak ada
lagi. Tempat di mana tengkorak berada semuanya menjadi abu.
Sebelum Kakek meninggalkan kawasan rumah itu, Kakek menanamkan empat batang bambu sepanjang enam inci di empat penjuru kawasan rumah tersebut. Di kaki tangga Kakek tanam pula paku karat yang berbalut kain kuning.
"Dengan izin Allah, dia tidak akan bisa masuk ke rumah ini lagi,” bisik Kakek pada Osman dan saya.
Kami cuma bisa menganggukkan kepala mengiakan perkataan Kakek itu. Lebih kurang pukul sembilan pagi, dengan ditemani oleh Osman, Kakek lalu menemui ketua kampung.
"Memang kami menunggu kedatangan kamu,” kata ketua kampung yang berkulit hitam manis, memakai songkok hitam. Usianya sekitar enam puluhan. Dia mempersilahkan kami duduk.
Quote:
“Beliung itu ada padamu?” saya terdengar Kakek bertanya Osman.
“Ada saya simpan. Berbalut dengan kain kuning dan diikat dengan benang tujuh warna”
“Apa warnanya?”
“Saya tidak terlalu ingat. Tapi warna hitam lebih banyak dari warna lainnya”
Kakek saya lihat resah tidak menentu. Sebentar dia kerutkan dahi, sebentar menggaruk pangkal kening. Sebentar memijit pangkal hidung. Semua yang
Kakek lakukan serba tidak kena.
Dalam keadaan Kakek yang tidak menentu itu, saya melihat ke arah rumah beratap rumbia. Saya lihat bagian jendela yang tidak terkena sinar matahari terbuka dengan sendirinya. Ada kelebatan manusia berdiri di situ. Saya memberanikan diri untuk melihatnya, tiba‐tiba telinga terasa sunyi. Tidak ada satu pun yang dapat saya dengarkan dan kepala saya terasa pening. Saya segera melihat ke arah lain. Pendengaran saya kembali seperti biasa, rasa pening lalu hilang. Saya tidak berani mengulangi perbuatan itu lagi.
“Kau simpan beliung itu di mana?”
Saya mulai bosan dengan sikap Kakek. Tidak habis‐habisnya bertanya kepada Osman dan tidak merasa bosan seperti saya. Dia menjawab dengan jelas apa yang ditanyakan Kakek. Osman lalu memberi tahu Kakek bahwa beliung itu disimpan dirumahnya yang terletak berdekatan dengan jalan raya. Osman juga memberitahu tanah pusaka peninggalan almarhum ayahnya berjumlah lima ekar lebih. Tiga ekar lagi dijadikan dusun.
"Rumah ini ayah dirikan di dalam tanah dusun,” kata Osman tanpa memandang ke arah rumah peninggalan ayahnya. Dia bagaikan takut memandang rumah pusaka itu. Matahari kian condong ke barat.
Burung gagak kian bertambah, dan hinggap di atas bumbung rumah papan beratap rumbia. Bila Kakek bertanya Osman kenapa dia mendirikan rumah di tepi jalan raya di atas tanah kerajaan, secara terus terang Osman menerangkan bahwa dia pemah mendirikan rumah di atas tanah pusaka peninggalan ayahnya. Malah, dia sendiri sudah mencari seorang gadis sebagai calon isterinya. Dia mau menjadikan tanah pusaka itu sebagai sumber rezekinya. Tetapi niatnya tidak terlaksana bila rumah sudah didirikan dan dia tinggal di situ. Osman merasakan tanah peninggalan ayahnya bukanlah suatu tempat yang aman. Setiap malam dia diganggu oleh makhluk ganjil yang dapat dilihatnya.
"Setiap malam badan saya dan pakaian saya dilumuri dengan kotoran manusia dan binatang. Tiang rumah saya digoncang setiap malam, karena itu saya pindah,” beritahu Osman pada Kakek.
Osman juga memberitahu, tidak ada orang yang mau mengerat di kebun karetnya karena setiap orang yang coba mengerat akan diserang oleh beribu-ribu kelelawar dan gagak. Akibatnya, orang yang diserang kelawar badannya gatal dan bengkak. Manakala orang yang diserang burung gagak badannya kemerah‐merahan akibat dicakar oleh burung tersebut.
"Kebun karet itu, sudah menjadi hutan,” keluh Osman.
Hati saya cukup teriris, bila Osman menyatakan niatnya untuk meninggalkan kampung buat selama‐lamanya.
"Tidak ada gunanya saya tinggal di sini. Orang‐orang kampung mulai mencurigai saya. Tidak ada gadis yang mau bersuamikan saya dan tidak ada orang yang sudi menjadikan saya menantu. Bila paman sudah berhasil, semua tanah ini akan saya jual jika ada orang mau membelinya. Kalau tidak ada biarkanlah menjadi hutan,” wajah Osman sungguh muram.
Kakek segera menepuk bahu Osman. Kakek menyanjung cita‐cita Osman disamping memberi suatu asa baru pada dirinya.
"Jangan putus asa. Allah tidak suka pada orang yang cepat putus asa, hidup mesti berusaha,” bisik Kakek ke telinga Osman.
Dia tersenyum.
Quote:
Kakek menggaruk pangkal telinga sebelah kanan dua kali berturut‐turut. Osman pun melihat jam tangan.
"Sudah pukul enam paman,” ujarnya.
Saya melihat wajah Kakek. Dan Osman menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti mencari sesuatu.
"Mari kita masuk ke rumah itu,” suara Kakek separuh keras.
Osman dan saya berpandangan. Dada saya berdebar dan saya tidak dapat menduga apa yang bergolak dalam hati kecil Osman.
"Mari,” ulang Kakek lagi sambil menarik tangan Osman.
Osman mematuhi perintah Kakek. Baru lima langkah Osman melangkah, mukanya kelihatan pucat. Tidak berdaya untuk melangkah maju.
Wajah Kakek ditatapnya sejenak.
"Kita menempuh bahaya, Paman,” katanya.
“Bagaimana kau katakan bahaya, kita belum juga sampai ”
“Saya merasa ngeri dan dingin, Paman”
“Tidak usah takut, aku ada dekat kamu”
Kakek lalu mengajak Osman. Ternyata Osman tidak dapat berdalih lagi.
Saya dan Osman lalu mengikuti Kakek, seperti anak ayam mengikuti ibunya mencari makanan. Bunyi suara gagak kian keras seolah‐olah tidak merestui atas kedatangan kami bertiga. Beberapa ekor burung gagak terbang rendah ke arah kami. Berputar-putar di atas kepala kami sebelum hinggap di dahan pohon kiri kanan kami.
Saya tidak dapat mengawal mata saya dari memandang
tajam ke arah burung‐burung gagak itu. Memang bentuk burung gagak itu agak besar sedikit dari gagak yang biasa saya lihat. Bagian kepalanya botak hingga ke leher. Dibawah paruhnya tumbuh bulu yang agak jarang tetapi panjang seperti jenggot manusia.
"Jangan melihat burung itu,” kata Kakek pada saya sambil memutarkan leher saya hingga tertumpu ke depan.
Memang, terasa sakit leher bila Kakek berbuat demikian pada saya.
"Jangan belajar jahat. Jaga mata dan hati kamu. Di sini bukan tempat kesenangan tahu!” tambah Kakek.
Nada suaranya cukup keras. Saya lalu membisu. Ketika itu langit kelihatan cerah bersama kepulan awan tipis yang berarak ke utara, meskipun hari sudah pukul enam lebih.
Kami lalu melangkah mengikuti langkah Kakek yang teratur. Dada saya berdebar. Lebih
kurang dalam jarak dua puluh kaki sampai ke kaki tangga rumah papan beratap rumbia, tiba-tiba mendadak saja Kakek berhenti melangkah.
Quote:
Dia menyuruh saya berdiri di kanan dan Osman di sebelah kirinya. Dia meminta kami melangkah serentak mengikut langkahnya. Dan langkah pertama dimulai dengan kaki kiri. Setiap kali melangkah tumit tidak boleh menyentuh tanah. Ketika itu, kami tidak dibolehkan Kakek memakai sepatu. Semua sepatu diletakkan di satu tempat khusus.
Kakek juga mengingatkan kami supaya jangan menegur kalau melihat sesuatu yang ganjil. Semua perintah Kakek kami patuhi.
Akhirnya kami sampai di kaki tangga rumah tersebut. Kakek meletakan talapak tangan kanannya di atas kepala tiang tangga yang terbuat dari kayu Medang Sawa.
Kepala tiang itu terukir indah dalam bentuk awan yang cukup berseni. Lama juga Kakek meletakan tapak tangannya di situ. Saya lihat lengannya bagaikan bergoyang‐goyang hingga urat‐uratnya kelihatan, seperti ada sesuatu yang menekan tangan Kakek. Mukanya mulai berpeluh. Urat di kiri kanan dahi Kakek nampak cukup tegang.
"Allahu Akbar..,” pekik Kakek sekuat hati.
Serentak dengan itu dia menarik tangannya dari kepala tangga. Kakek mundur dua tapak ke belakang. Kakek pun membaca beberapa potong ayat al‐Quran.
"Begini, kita naik ke rumah dengan cara undur,” kata Kakek sambil melihat wajah saya dan Osman.
Burung gagak lalu berbunyi. Tiba‐tiba Kakek bersuara lagi, "Biar aku naik dulu”
Saya dan Osman berpandangan lagi, Kakek mengganti rencana dengan mendadak. Kakek pun melangkah anak tangga pertama. Matanya melihat kami, tetapi kakinya lalu melangkah. Memang, suatu pekerjaan yang sulit memijak anak tangga dengan cara yang ganjil. Bila sampai ke tangga akhir
barulah Kakek memutarkan badannya. Kemudian dia mendorong daun pintu yang tidak terkunci.
"Naik seperti biasa, jangan ikuti seperti aku tadi,” katanya dengan lantang.
Kami pun segera naik ke rumah. Dalam beberapa saat saja kami sudah berada di dalam rumah papan beratap rumbia.
Rumah itu mempunyai tiga kamar. Salah satu dari kamar itu terkunci. Menurut Osman kamar
itu sewaktu ayahnya masih hidup tidak dibolehkan seorang pun masuk ke dalamnya. Karena itu Osman sendiri tidak tahu apa yang terdapat dalam kamar itu.
Kakek melihat keadaan rumah yang penuh dengan sawang dan sarang laba-laba dari anjung hingga ke dapur. Ketika berada di ruang tengah Kakek mengais beberapa helai bulu burung gagak serta beberapa ekor bangkai kelelawar yang sudah kering. Tulang dan kepala kelelawar yang kering dan keras itu bertaburan di situ.
Quote:
Waktu Kakek mau menjamah tulang‐tulang kelelawar itu, kami mendengar bunyi deru angin yang cukup kuat. Serentak dengan itu seluruh ruang dipenuhi dengan beribu‐ribu ekor kelawar yang bersiap untuk menyerang kami.
Kakek pun membuka baju hitamnya dan menutup kepalanya hingga menjadi bulat. Mulutnya terkumat‐kamit membaca sesuatu.
Saya dan Osman menjadi resah. Tidak tahu apa yang hendak dilakukan ketika itu. Kakek melemparkan bajunya ke arah dinding. Dengan serta‐merta kelawar yang beribu‐ribu itu hilang dari dalam rumah. Kakek mengambil baju lalu menyarungkan kembali ke badannya.
Kakek melangkah ke pintu kamar yang terkunci. Dengan tangan kiri Kakek memegang induk kunci (gembok) erat‐erat. Mukanya merah padam. Saya lihat Kakek meremas‐remas induk kunci hingga hancur. Besi dari induk kunci bertaburan di atas lantai. Kakek mendorong pintu kamar dan menyuruh Osman masuk. Pada mulanya Osman enggan, namun setelah didesak barulah Osman melangkah diikuti oleh Kakek dan saya. Dalam kamar itu Kakek menjumpai satu tengkorak manusia terletak di atas tilam yang beralasan kain kuning. Rangka tengkorak itu terletak di atas sebatang kayu pulai (pohon yg batangnya ringan, kulit pohonnya bergetah, sering dibuat obat;Alstonia scholaris) kering.
"Kita balik,” kata Kakek.
Tanpa banyak bicara kami mengikuti perintah Kakek. Ketika itu hari sudah berangsur gelap. Dengan langkah yang cepat kami menuju rumah Osman di tepi jalan raya.
Begitu kami masuk ke dalam rumah, Osman jatuh pingsan. Kakek terpaksa merawat Osman hingga pulih. Tidak jauh dari tempat Osman jatuh tadi, Kakek menemukan sekeping batu sebesar ibu jari. Batu yang berwarna merah itu Kakek masukkan ke dalam uncangnya.
Malam itu selepas menunaikan sembahyang Isya, Kakek minta Osman mengeluarkan beliung kecil yang disimpannya. Tanpa ba-bi-bu lagi Osman mengeluarkan beliung kecil itu dari dalam kotak kecil yang diletakkan di bawah kursi. Lama juga Kakek meneliti beliung kecil itu.
Kakek lalu memberitahu Osman bahwa beliung yang disimpannya itu bukanlah beliung yang terbuat dari besi, tetapi terbuat dari tulang manusia. Jika beliung itu disimpan akan ada suatu kekuatan yang mendampingi dirinya.
Beliung kecil itu merupakan amanat ayahnya untuk Osman agar ia mewarisi ilmunya
di samping memelihara hantu kelawar peninggalan ayahnya.
"Kau harus membuangnya. Kalau tidak dirimu selamanya didampingi oleh setan. Bila sampai waktunya, kau harus memberi dia makan dengan darahmu sendiri, kalau tidak dia akan mencelakai orang lain,” kata Kakek pada Osman.
"Saya tidak tahu, Paman,” balas Osman jujur.
Quote:
Kakek termenung sebentar. Kakek yakin apa yang dikatakan oleh Osman itu memang benar. Untuk menghilangkan kegelisahan di hati Osman, Kakek lalu berjanji untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Osman.
" Paman minta al‐Quran,” ujar Kakek pada Osman lagi.
“Saya tidak ada menyimpan al Qur'an, Paman”
“Surah yasin?”
“Pun tidak ada”
“Sebagai seorang Islam kau harus menyimpan al‐Quran di rumah atau Surah Yasin. Bukan bertujuan untuk dijadikan perhiasan almari, kau harus menyimpan dan membacanya. Paling kurang setahun sekali kau harus membaca al Quran selama satu bulan pada setiap bulan Ramadhan. Surah Yasin pula dibaca pada setiap malam Jum’at. Kau bisa membaca Quran?”
“Bisa, Paman”
“Bagus. Terakhir kau membaca al‐Quran kapan?”
“Paling akhir sekali kira‐kira lima tahun yang lalu sewaktu saya menamatkan belajar dengan Haji Mat Zain”
“Setelah itu?”
“Tak pernah!”
Kakek mengeluh kecil.
Kakek menyatakan rasa kesalnya atas perilaku Osman itu. Menurut Kakek, anak muda sekarang kian jauh dari al‐Quran walaupun mereka tahu dan bisa membaca al‐Quran. Perbuatan membaca al‐Quran itu diterapkan dari masa kecil, bila sudah dewasa perilaku membaca al‐Quran tidak akan terpisah dari diri mereka.
"Ada yang berfikir membaca al‐Quran sebagai suatu kebiasaan menunjukkan seseorang itu kampungan dan ketinggalan zaman. Jadi mereka lebih senang membaca buku komik atau kartun yang tidak mendatangkan faedah,”
Kakek mulai berkhutbah. Untungnya dia tidak berkhutbah panjang.
Malam itu Osman terpaksa pergi ke rumah Haji Mat Zin (guru al‐Quran kampung tersebut) meminjam kitab suci al‐Quran. Bila al‐Quran berada di depan Kakek, dia lalu membacanya hingga subuh.
Quote:
Sepanjang malam itu tidak ada hal-hal aneh yang kami alami di pondok Osman. Tetapi, bila saya mengikuti Kakek mengambil air wudhu subuh,
di seberang anak sungai yang letaknya tidak berapa jauh dari rumah Osman, Kakek telah dilempar dengan kotoran dari arah kiri. Karena hari gelap, Kakek tidak dapat melihat siapa yang melempar kotoran padanya. Kotoran itu mengenai perut Kakek.
“Jangan ganggu aku!” pekik Kakek.
Jika suara Kakek hilang, beberapa pohon besar bergoyang dan daun dari pohon‐pohon berguguran. Kakek tidak peduli lalu mandi membersihkan badan.
Bila sudah selesai mandi, Kakek lalu menyarungkan celana hitam
dan bersiap mau mengambil air wudhu.
Dalam samar‐samar subuh itu, saya dan Kakek melihat kaki manusia yang cukup besar. Kakek tertegun sejenak.
Manakala suasana di tebing sungai mulai ramai dengan bunyi suara burung hantu dan gagak, Kakek tidak berkata sepatah pun. Dia melangkah tenang menuju ke rumah Osman.
Sampai di rumah ternyata didapati Osman masih tidur. Kakek jadi marah dengan tiba‐tiba.
"Bangun. Jangan tidur bersama setan, mari kita sembahyang!” pekik Kakek sambil menyepak punggung Osman.
Tergagap Osman bangun lalu mengambil air wudhu. Bila Kakek membaca doa qunut, saya rasa rumah itu bergetar. Kakek tidak terpengaruh dan terus menyelesaikan sembahyang subuhnya. Waktu Kakek memberi salam tahiyat akhir, satu tendangan hinggap di belakang Kakek kemudian pipi saya bagaikan ditampar oleh seseorang.
Kibasan tangan itu saya lihat berbulu panjang dan besar pula. Kakek tidak peduli dengan kejadian itu. Dia tetap
melanjutkan perbuatannya membaca doa. Rumah terasa bergoncang lagi. Satu makhluk hitam berdiri di depan Kakek. Lama makhluk itu berdiri di situ. warnanya segera berganti dari hitam menjadi seakan‐akan kuning,
kemudian menjadi putih. Saya amati makhluk itu cukup besar. Bentuk kakinya seperti kaki gajah. Dari paras tubuh penuh dengan bulu tebal.
Kakek selesai membaca doa.
Dia lalu mendongakkan kepalanya pada makhluk itu. Di luar rumah, bunyi burung gagak kian menghebat bersama dengan suara burung hantu. Sesekali terdengar suara orang menangis dan meratap dalam bahasa yang tidak saya Pahami. Subuh itu, bagi saya merupakan subuh yang amat menakutkan. Suasana subuh yang hening dan damai itu tidak saya nikmati seperti subuh yang lain. Osman tidak berkata walau sepatah pun. Mukanya pucat pasi.
"Memang kau setan. Kau tidak mendekati orang yang sedang sembahyang.
Apa yang kau mau?”
Kakek pun bangun sambil mengambil kain merah lalu mengikatnya di kepala.
Kakek berdiri dengan kaki kanannya ke depan dalam jarak satu kaki dengan kaki kiri. Kakek lalu bersedekap. Dia membaca sesuatu. Bila mulut Kakek tidak bergerak, makhluk di hadapannya hilang dan berganti tubuh badan manusia yang berbalut dengan kain kafan. Bagian atas kain kafan itu terikat tali. Begitu juga dengan bagian kaki. Makhluk itu bergerak dengan meloncat‐Ioncat.
Kakek menjatuhkan kedua belah tangannya. Kaki kanan merapat dengan kaki kiri. Kemudian Kakek menepuk tangan. Saya lihat kain kafan yang membungkus makhluk itu terbuka.
"Ayah,” jerit Osman.
Kakek segera berpaling dan menendang bahu kanan Osman. Dan Osman lalu pingsan.
Quote:
"Biarkan dia di situ kau jaga dia. Kalau dia mendekat dengan setan ini, roh jahat akan hinggap ke tubuhnya,” demikian Kakek memberitahu saya.
Sekarang makhluk itu membuka kedua belah tangannya dan bersiap mau menyerang. Kakek dengan melompat sambil membuka kain ikat kepalanya lalu memukul ke arah makhluk itu. Makhluk itu hilang dari tempatnya digantikan oleh batang pisang. Batang pisang itu lalu membesar hingga sampai ke
bagian palang dan akhirnya menjadi suatu bentuk yang lain pula yaitu manusia berkepala burung.
"Pergi kamu dari sini. Sebentar lagi matahari akan terbit dan kamu tidak bisa terkena cahaya matahari. Aku tahu kutukan dan larangan kamu. Begitu Kakek mengakhiri perkataannya, burung itu lalu lenyap.
Di kaki langit, matahari mulai menampakkan diri. Kakek menyadarkan Osman dari pingsannya. Kakek mengambil beliung yang terbuat dari tulang. Kakek membasuh beliung kecil itu dengan tujuh jenis air bunga serta tujuh jenis air dari daun
yang ujungnya menghadap ke arah timur. Kemudian Kakek merendamkannya ke dalam air yang berlumpur. Bila matahari sudah cukup keras bersinar, Kakek letakkan be‐liung tulang yang direndam itu di tengah halaman.
Bila beliung tulang itu terkena sinar cahaya matahari, muka Osman yang duduk di sisi Kakek menjadi merah seperti udang terkena bakar. Tiba‐tiba beliung itu terbakar. Wajah Osman kembali seperti sedia kala. Bekas rendaman beliung tulang itu Kakek kubur di pangkal pohon rambutan di tepi jalan raya. (Seminggu setelah itu pohon rambutan itu mati akibat disambar petir).
Quote:
Pagi itu juga saya, Osman, dan Kakek pergi ke rumah papan beratap rumbia. Sekali lagi bila melihat rumah itu kami gelisah. Keadaannya cukup berbeda dengan keadaan yang sebelumnya.
Di ruang tengah rumah berlapis-lapis bulu gagak dan bangkai kelawar. Bila kami masuk ke kamar tempat rangka manusia, kami dapati tengkorak itu sudah tidak ada
lagi. Tempat di mana tengkorak berada semuanya menjadi abu.
Sebelum Kakek meninggalkan kawasan rumah itu, Kakek menanamkan empat batang bambu sepanjang enam inci di empat penjuru kawasan rumah tersebut. Di kaki tangga Kakek tanam pula paku karat yang berbalut kain kuning.
"Dengan izin Allah, dia tidak akan bisa masuk ke rumah ini lagi,” bisik Kakek pada Osman dan saya.
Kami cuma bisa menganggukkan kepala mengiakan perkataan Kakek itu. Lebih kurang pukul sembilan pagi, dengan ditemani oleh Osman, Kakek lalu menemui ketua kampung.
"Memang kami menunggu kedatangan kamu,” kata ketua kampung yang berkulit hitam manis, memakai songkok hitam. Usianya sekitar enam puluhan. Dia mempersilahkan kami duduk.
Diubah oleh mufidfathul 24-05-2017 21:14
ciptoroso dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas
Tutup