- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#161
PART II
Pagi itu selepas mengubur kain buruk dan ember, Kakek mengajak saya pergi ke Pasar kecil. Kami naik sepeda. Saya duduk di belakang dan Kakek mengayuh sepeda. Tidak lama kami berada di Pasar. Setelah membeli ikan masin dan bilis, dalam waktu satu jam kami pun pulang. Sementara menanti waktu makan tengah hari, Kakek mengajak saya menebang bambu untuk buat raga dan lukah (alat untuk menangkap ikan (spt bubu) yg dipasang di dalam air yg tidak berapa dalam ).
Kakek cukup cekatan memotong bambu dan menakiknya. Dia tidak kelihatan letih walau sedikit pun. Tugas saya tidak berat, cuma memisahkan ranting bambu dari batangnya dan menjaga bambu yang sudah di potong oleh Kakek. Bambu yang sudah dibelah itu saya atur di atas tanah supaya terkena cahaya matahari.
Dengan itu bambu akan cepat kering dan memudahkan kerja merautnya. Kerja kami berhenti, bila Nenek menjemput kami makan. Cukup berselera Kakek dan saya makan.
“Jarang‐jarang kita dapat makan bersama,” kata saya.
”Tentulah, kau dan Kakek asyik bepergian aja,” cela nenek.
“Betul, aku rasa esok pun kita tidak bisa makan seperti ini ”
“Kenapa pula?” tanya saya pada Kakek.
“Ada alamat aku akan panggil orang”
“Apa alamatnya kek?”
"Waktu aku lempar bambu tadi, ada anak kelelawar terbang melawan angin".
"Hum, baru saya tahu,” saya menimpali bicara Kakek.
Disambut dengan ketawa oleh Nenek. Memang tepat bicara Kakek, lebih kurang pukul tiga petang, seorang anak muda berdahi luas tiba di kaki tangga. Anak muda itu memakai celana panjang kuning, berbaju putih berlengan pendek dan memakai sandal Jepang.
"Saya tahu tujuan kamu datang,” kata Kakek sebelum anak muda itu membuka mulut. Kakek lalu mengajak anak muda itu naik.
“Tempat kamu diganggu setan?” tambah Kakek lagi.
Anak muda yang termanggu‐manggu itu menganggukkan kepala. Tanpa diberi isyarat, Nenek lalu meletakkan kopi dan roti kering di hadapan Kakek dan anak muda itu. Anak muda yang berkulit agak gelap itu memberitahu Kakek bahwa dirinya bekerja sebagai nelayan di Pantai Remis. Sudah banyak dukun dan pawang
yang ditemuinya untuk meminta pertolongan mereka menghalau sejenis makhluk yang mengganggu penduduk kampungnya di Batu Tujuh, Segari.
“Semuanya menolak tidak sanggup,” kata anak muda itu.
“Bagaimana kau tahu rumah aku? Aku bukan pawang dan aku bukan bomoh”
"Ada orang menyuruh saya minta jasa baik paman”
“Siapa?”
“Sersan Hamid, kantor polisi Pantai Remis”
“Kau harus tahu. Aku bukan pawang dan aku bukan pula dukun. Aku hanya berikhtiar, yang menentukan keberhasilannya Allah yang Maha Besar”
"Saya Paham, Paman,” nada suara anak muda itu merendah.
Sebelum memulai perjalanan, Kakek menghitung dan mengira apakah perjalanannya membawa tuah atau celaka. Setelah bertafakur berapa menit, Kakek memberitahu anak muda itu, waktu yang paling sesuai melangkah apabila matahari sudah condong sebatas dahan kelapa. Anak muda itu tidak membantah permintaan Kakek itu.
Di luar sinar matahari cukup angkuh jatuh di atas bumi dan dedaunan di halaman rumah. Kicau burung kelicap (burung kecil yg elok bulunya; cericap) amat riang, melompat dari dahan ke dahan bersama hembusan bayu yang lembut dan nyaman. Kepala saya digayuti persoalan.
Kenapa begitu mudah Kakek menunaikan permintaan dari orang yang memerlukan pertolongannya. Apakah Kakek mau mencari dan menambah pengalaman? Atau Kakek mau menguji ilmu yang dituntutnya? Persoalan itu tidak mendapat jawaban dan hilang dengan sendirinya dalam tempurung kepala saya.
“Kenapa kau yang sangat sibuk, apa kau mewakili penduduk di situ mencari aku?” Kakek bertanya anak muda itu.
“Tidak”
“Kalau tidak, kenapa kau mesti bersusah payah?”
“Ada hubungan dengan ayah saya”
“Ayah kau? Siapa dia ayah kau?” Kakek agak terkejut.
Matanya melihat dengan saksama seluruh wajah anak muda itu. Dari gerak‐geriknya ternyata anak muda itu kurang senang dengan pertanyaan itu. Ada sesuatu yang mau dirahasiakannya dari Kakek.
" Tidak usah berahasia dengan aku. Kalau kamu berbicara jujur dan terus terang akan memudahkan pekerjaan aku. Ingatlah, apa yang kau lakukan sekarang bukan untuk kejahatan,” Kakek coba membunuh rasa resah dalam diri anak muda itu. Anak muda itu menundukan kepala melihat lantai rumah.
"Ayah saya, Haji Saad Talu,” dengan nada suara yang lemah anak muda itu menyatakan pada Kakek.
Wajahnya kelihatan agak muram. Kakek merapikan duduknya dan melihat keluar. Melihat daun rambutan dan manggis yang dihembus angin bergerak‐gerak penuh kemalasan.
“Pernahkah Paman mendengar nama itu?”
“Pernah. Ayah kamu berasal dari Sumatera dari daerah Talu, aku kira dia sengaja mengabadikan nama tempat lahir di ujung namanya”
“Ya, memang ayah sendiri pernah menceritakan bahwa dia berasal dari Talu”
Kakek kelihatan tenang mendengar perkataan anak muda itu. Kakek menekan pangkal belikatnya dengan talapak tangan. Menghilangkan rasa pegal akibat terlalu lama duduk.
“Ayahmu sakit?” tanya Kakek lagi.
“Tidak”
“Jadi untuk apa kau datang ke mari?”
“Ayah saya sudah meninggal dunia”
Kakek terbeliak biji matanya. Ujung kening sebelah kanannya saya lihat bergerak‐gerak. Tanpa banyak bicara Kakek bangun lalu masuk ke dalam kamarnya. Kakek keluar dengan membawa sepotong kain hitam tiga segi. Kakek letakkan kain hitam itu di ujung lutut kanan anak muda tersebut. Kemudian Kakek menyuruh anak muda itu menekan bagian tengah kain hitam dengan ibu jari kanannya. Kakek melihat urat‐urat yang timbul di belakang tangan anak muda itu. Kakek tersenyum lalu memegang pangkal siku anak muda tersebut.
Dalam beberapa saat saja saya lihat dahi anak muda itu berpeluh. Mukanya berkerut menahan kesakitan yang amat sangat. Saya lihat Kakek tidak melakukan sesuatu terhadapnya. Kakek sekadar menyentuhkan kulit tangan dengan kulit dibagian siku anak muda itu bagaikan terkunci.
Dari ujung kedua belah bibirnya keluar air liur, meleleh hingga ke pangkal
dagu. Air liur itu kelihatan kekuningan seperti air liur basi dan baunya kurang menyenangkan. Kakek berhenti menjamah kulit siku anak muda itu. Anak muda itu nampak terengah-engah seperti berlari belasan kilometer dalam panas yang terik. Bagian belakang baju putihnya basah oleh peluh, seperti baru terkena hujan.
“Kau pernah menuntut suatu ilmu dari ayahmu?” tanya Kakek begitu anak muda itu menyandarkan badannya ke dinding.
Mata Kakek dengan mata anak muda itu bertemu. Seperti ada pertarungan ilmu batin antara anak muda itu dengan Kakek. Cukup sulit saya mau menggambarkan keadaan pertarungan itu. Namun hal yang nyata urat‐urat dalam kolopak mata anak muda itu bagaikan tersembul merah.
"Berterus‐teranglah dengan aku. Jangan menguji aku nanti kamu binasa,” pekik Kakek sekuat hati.
Serentak dengan itu dia menampar lantai. Papan lantai yang ditampar oleh Kakek saya lihat berlubang sebesar telapak tangan. Bagian tepi papan yang berlubang itu mengeluarkan asap, manakala papan yang tercerai saya lihat menjadi hitam seperti arang.
"Pernah, tapi cuma separuh jalan. Ayah yang paksa saya menuntut darinya. Saya tidak mau. Dia paksa juga. Jangan hancurkan hidup saya, Paman,” anak muda itu mulai menangis.
Kakek terdiam. Dari gerak‐geriknya saya tahu, Kakek kesal dengan apa yang telah terjadi. Tanpa segan dan sopan Kakek minta maaf pada anak muda itu.
“Kamu terlalu berahasia dengan aku. Bukankah sudah aku katakan berterus‐terang saja dengan aku?”
“Saya tidak berniat begitu, Paman. Tetapi, saya bagaikan digerakkan oleh sesuatu untuk berbuat begitu”
“Aku paham, semuanya terjadi di luar kemampuan diri kamu. Ini membuktikan bahwa almarhum ayah kamu ingin kamu menuruti jejak langkahnya”
Mendengar pernyataan Kakek itu, anak muda yang malang lalu mengeluh. Secara terbuka anak muda itu mengakui dia tidak sependapat dengan beberapa ilmu kebatinan yang diamalkan oleh ayahnya yang bertentangan dengan akidah Islam.
"Banyak hal yang meragukan saya, Paman,” ujar anak muda itu.
“Di antaranya?” Kakek mulai menggali rahasia.
“Dia mengajarkan ajaran ilmu matahari yang dibawanya dari salah satu negeri di Timur Tengah sewaktu dia menjadi kelasi dulu”
“Lagi?”
“Ajaran itu mencampur-adukkan antara Islam dengan pemujaan pada sesuatu seperti memuja bulan, matahari dan laut. Adakalanya benda‐benda yang dipuji itu lebih mulia sifatnya dari Allah yang menjadikan alam ini”
“Dia sudah ke Mekah dan bergelar Haji?”
“Ini juga meragukan saya. Menurut beberapa kawan dekat ayah saya, dia tidak ke Mekah. Tetapi menunaikan ibadah haji di salah satu tempat di Pulau Pinang. Ayah saya tidak pernah sembahyang Jum’at dan berjemaah di surau. Dia lebih banyak mengasingkan diri dan membuat amalan secara rahasia”
"Apa tindakan orang‐orang kampung di tempat kamu?”
"Sejak kematian ibu, saya dan ayah dikucilkan. Adik‐adik yang lain membawa diri masing-masing ke tempat lain”
Kakek termenung panjang. Dan anak muda itu meneruskan ceritanya tentang almarhum ayahnya. Menurut anak muda itu, ketika ayahnya mau menghembuskan nafas yang terakhir, ayahnya terbanting dan terlentang sambil menendang dinding dan lantai. Sesudah mengerang seperti lembu disembelih barulah roh ayahnya bercerai dengan jasad. Bila ayahnya mau dikuburkan, satu pertikaian telah terjadi antara warga kampung. Satu kelompok tidak mau ayahnya dikuburkan di tanah pekuburan Islam. Mereka mau menguburkan tubuh ayahnya itu di tempat lain. Alasan mereka kenapa hal itu mesti dilakukan, karena mereka menganggap almarhum ayahnya bukan seorang Islam.
Sedangkan di pihak yang satu lagi mau jenazah ayah anak muda itu dimakamkan di tanah pekuburan Islam. Alasan mereka almarhum Haji Saad memang seorang Islam. Surat lahir dan kartu tanda pengenalnya membuktikan bahwa almarhum itu memang Islam. Pihak itu juga menyatakan, yang berhak menentukan apakah seseorang itu Islam atau tidak, bukanlah di tangan warga kampung. Ada lembaga tertentu yang bisa memutuskan seperti Pejabat Agama, Mufti dan lain‐lainnya.
“Hanya Allah sajalah yang bisa menentukan seseorang itu Islam atau sebaliknya,” kata Kakek.
Anak muda itu terdiam. Dia tidak mengatakan pernyataan Kakek itu benar atau tidak. Dari kerdipan matanya yang lembut, saya membut kesimpulan anak muda itu setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kakek.
"Setelah penghulu dan kepala kampung turut campur tangan, almarhum ayah saya dikubur di tanah pekuburan orang‐orang Islam,” anak muda itu menyambung obrolan yang terputus.
Anak muda itu menceritakan tentang almarhum ayahnya dengan wajah yang muram. Menurutnya, waktu tubuh ayahnya mau ditimbun dengan tanah, beberapa orang kampung yang meletakkan tubuh ayahnya dalam lubang kuburan melihat sesuatu yang aneh terjadi pada tubuh ayahnya.
“Apa yang aneh itu?” saya ikut bertanya.
"Mukanya ditumbuhi bulu seperti burung,” jawabnya.
“Apa yang mereka lakukan?” Kakek mengajukan pertanyaan pula.
“Mereka tanya saya apakah saya mau melakukan sesuatu. Saya tidak ada pilihan selain menyuruh mereka menimbunnya dengan tanah”
Saya menarik nafas panjang. Seram juga saya mendengarnya. Saya lihat wajah Kakek masih dalam keadaan yang tenang. Anak muda itu menggigit ibu jarinya. Suasana dalam ruang rumah terasa sepi buat beberapa menit. Kami termenung panjang. Masing‐masing membuat perhitungan dan tanggapan tersendiri setelah mendengar cerita ganjil dari anak muda itu. Anak muda itu bangun dan berdiri dekat pintu. Melihat ke arah pohon‐pohon mangga dan manggis yang disinari mata hari petang. Lama juga dia termenung di situ.
“Setelah orang‐orang kampung pulang dari tanah pekuburan, langit yang cerah berganti menjadi hitam. Kilat guruh menggelegar. Pohon nibung (palm) di belakang rumah kamu disambar petir. Kemudian hujan turun dengan lebatnya. Hujan itu berhenti bila masuk waktu subuh,” tanpa di duga Kakek lalu berkata demikian.
Anak muda segera mengalihkan pandangannya pada Kakek.
“Bagaimana Paman tahu?” anak muda sangat terkejut.
"Ilmu yang diamalkan oleh ayah kamu salah satu ilmu yang salah. Sebenarnya saya tahu serba sedikit tentang ilmu itu,” terang Kakek dengan jujur padanya.
Kakek lalu memberi penjelasan tentang ilmu tersebut. Menurut Kakek, ilmu itu dinamakan dengan nama Ilmu Kelelawar atau Ilmu Burung yang pernah digunakan oleh kelasi‐kelasi kapal bila kapal mereka pecah atau karam di tengah laut pada zaman dahulu. Waktu terjadi peperangan antara tentara Belanda dengan pejuang Kemerdekaan Indonesia, beberapa orang yang mengamalkan ilmu tersebut telah menggunakannya untuk melawan pihak musuh terutama di daerah Mandailing dan Talu. Orang yang mau mendapatkan ilmu itu harus bertapa dalam keadaan mengubur separuh badan dalam kotoran kelelawar.
Sebelum itu, orang tersebut harus pergi ke sebuah gua di Gunung Kidul di Pulau Jawa. Mengabdikan diri pada setan di situ dengan membuat pemujaan pada sepotong papan yang sudah berusia beribu‐ribu tahun.
Papan yang dipuja akan menjadi makhluk yang menyerupai dengan tubuh badan orang yang mau menuntut ilmu. Kemudian makhluk itu akan menghisap darah jari ibu kaki orang yang mau memperhambakan diri.
Syarat utama orang yang menuntut ilmu itu harus mengakui papan tua itu adalah benda yang paling berkuasa, maha mengetahui dan menyerahkan roh dan jasadnya pada papan penunggu. Dilarang sama sekali melakukan hal-hal yang disuruh oleh Allah.
Sewaktu orang itu mengubur separuh badannya dalam tahi kelelawar, dia hanya memakan kepak(sayap) kelawar selama empat puluh empat hari. Bila amalannya sudah genap, 100 hari tubuhnya akan berbulu seperti burung dari kepala hingga ke pinggang. Dari pinggang ke bawah seperti tubuh manusia. Ketika bulan mengambang penuh, dia akan terbang dan kembali ke rumah asalnya. Setiap malam, dia harus menyediakan darah kelelawar satu mangkuk putih dan diletakkan di bawah pohon nibung. Demikian Kakek memberitahu tentang ilmu yang diamalkan oleh almarhum.
“Apa manfaatnya ilmu itu, Kek?” tanya saya.
"Bisa mengumpulkan kekayaan, asalkan patuh dengan perintah setan. Bisa menjadikan diri seperti burung dan terbang untuk menghancurkan orang. Satu perbuatan laknat,” kata Kakek lagi.
Anak muda yang malang itu mengeluh. Dia mulai tahu sekarang kenapa sewaktu ayahnya masih hidup, selalu mengasingkan dalam sebuah kamar gelap. Setiap malam tidak pernah berada di rumah kecuali waktu menjelang subuh.
Lebih kurang pukul empat petang kami pun memulai perjalanan menuju ke sebuah kampung kecil dipinggir Pasar Segari yang terletak di Daerah Manjung (dulu Daerah Dinding). waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke situ lebih kurang satu jam lebih dengan menaiki taksi. Anak muda itu lalu menunjukkan ke arah rumah papan yang letaknya agak terpencil dengan rumah lain di kampung tersebut.
“Sejak ayah saya meninggal, rumah ini saya tinggalkan. Setiap malam ada manusia berkepala burung dan berbadan manusia datang mengganggu kami yang berdiam di situ. Sejak rumah ditinggalkan kami terdengar orang berbicara dalam bahasa yang kami tidak tahu,” anak muda itu menceritakan tentang rumah papan yang kami lihat dari jauh.
“Lagi, ada apa yang aneh?” tanya Kakek.
"Sejak akhir‐akhir ini mahluk ganjil itu sudah mengganggu rumah orang lain pula,” tambah anak muda itu.
Kakek pun merapatkan gigi atas dengan gigi bawah beberapa kali. Angin
petang yang bertiup kencang mengugurkan daun karet tua yang memagari pinggir kampung. Mata saya masih tertumpu ke arah rumah papan yang beratap rumbia. Pintu dan jendela rumah bertutup rapat. Di kaki tangga
ada tempayan besar. Sebelah kanan rumah terdapat pohon mangga telur yang sedang berbunga lebat.
“Apa yang kau lihat?” tanya Kakek pada saya.
“Tak ada apa‐apa, Kek”
"Baguslah,” balas Kakek lalu duduk di atas tunggul (pangkal pohon yg masih tinggal tertanam di dlm tanah sehabis ditebang) karet. Anak muda yang sejak tadi berdiri di sebelahnya juga turut duduk. Anak muda itu nampak cemas.
“Nama kamu siapa?”
Saya tersenyum, kenapa begitu lambat Kakek mau mengetahui nama anak muda itu. Agaknya Kakek terlupa atau sengaja dia berbuat demikian dengan tujuan tertentu, pikir saya dalam hati.
“Nama saya?” ulang anak muda itu.
“Ya nama kau”
“Orang kampung panggil saya Man Beliung, nama sebenarnya sesuai dengan KTP dan sertifikat kelahiran Osman”
“Kenapa orang kampung memanggil kamu Man Beliung?” Kakek mencoba mengorek
rahasia.
Osman segera bangun dan mengerutkan dahi sempitnya. Sinar matahari petang kian redup. Beberapa ekor burung gagak liar mula hinggap di atas bumbung rumah papan beratap rumbia. Gagak‐gagak itu berbaris menghadap ke arah matahari sambiI berbunyi. Suara gagak itu parau dan kalau diteliti bunyinya seperti orang menyobek kain kafan.
"Sebabnya, ketika saya lahir dulu, bidan yang menolong saya bersama sebilah beliung kecil,” Osman membuka kisah dirinya.
“Mana kau tahu?” tanya Kakek lagi.
“Ayah saya yang berkata dan ibu saya sendiri mengakuinya. Menurut kata ayah, kalau saya tidak ditolong dengan beliung kecil itu saya tidak akan lahir dan ibu akan mengandung sampai mati. Beliung itu ayah yang berikan pada bidan”
Kakek terdiam mendengar cerita dari Osman. Suara gagak di atas bumbung rumah papan beratap rumbia lalu berbunyi. Saya memfokuskan perhatian ke arah rumah tersebut, sebagian dari rumah itu tidak terkena cahaya matahari karena terlindung oleh pohon besar. Tiba‐tiba saja badan saya terasa seram. Bulu roma saya mulai tegak, anehnya bila saya tidak melihat ke arah rumah itu rasa seram tidak saya rasakan.
Quote:
Pagi itu selepas mengubur kain buruk dan ember, Kakek mengajak saya pergi ke Pasar kecil. Kami naik sepeda. Saya duduk di belakang dan Kakek mengayuh sepeda. Tidak lama kami berada di Pasar. Setelah membeli ikan masin dan bilis, dalam waktu satu jam kami pun pulang. Sementara menanti waktu makan tengah hari, Kakek mengajak saya menebang bambu untuk buat raga dan lukah (alat untuk menangkap ikan (spt bubu) yg dipasang di dalam air yg tidak berapa dalam ).
Kakek cukup cekatan memotong bambu dan menakiknya. Dia tidak kelihatan letih walau sedikit pun. Tugas saya tidak berat, cuma memisahkan ranting bambu dari batangnya dan menjaga bambu yang sudah di potong oleh Kakek. Bambu yang sudah dibelah itu saya atur di atas tanah supaya terkena cahaya matahari.
Dengan itu bambu akan cepat kering dan memudahkan kerja merautnya. Kerja kami berhenti, bila Nenek menjemput kami makan. Cukup berselera Kakek dan saya makan.
“Jarang‐jarang kita dapat makan bersama,” kata saya.
”Tentulah, kau dan Kakek asyik bepergian aja,” cela nenek.
“Betul, aku rasa esok pun kita tidak bisa makan seperti ini ”
“Kenapa pula?” tanya saya pada Kakek.
“Ada alamat aku akan panggil orang”
“Apa alamatnya kek?”
"Waktu aku lempar bambu tadi, ada anak kelelawar terbang melawan angin".
"Hum, baru saya tahu,” saya menimpali bicara Kakek.
Disambut dengan ketawa oleh Nenek. Memang tepat bicara Kakek, lebih kurang pukul tiga petang, seorang anak muda berdahi luas tiba di kaki tangga. Anak muda itu memakai celana panjang kuning, berbaju putih berlengan pendek dan memakai sandal Jepang.
"Saya tahu tujuan kamu datang,” kata Kakek sebelum anak muda itu membuka mulut. Kakek lalu mengajak anak muda itu naik.
“Tempat kamu diganggu setan?” tambah Kakek lagi.
Anak muda yang termanggu‐manggu itu menganggukkan kepala. Tanpa diberi isyarat, Nenek lalu meletakkan kopi dan roti kering di hadapan Kakek dan anak muda itu. Anak muda yang berkulit agak gelap itu memberitahu Kakek bahwa dirinya bekerja sebagai nelayan di Pantai Remis. Sudah banyak dukun dan pawang
yang ditemuinya untuk meminta pertolongan mereka menghalau sejenis makhluk yang mengganggu penduduk kampungnya di Batu Tujuh, Segari.
“Semuanya menolak tidak sanggup,” kata anak muda itu.
“Bagaimana kau tahu rumah aku? Aku bukan pawang dan aku bukan bomoh”
"Ada orang menyuruh saya minta jasa baik paman”
“Siapa?”
“Sersan Hamid, kantor polisi Pantai Remis”
“Kau harus tahu. Aku bukan pawang dan aku bukan pula dukun. Aku hanya berikhtiar, yang menentukan keberhasilannya Allah yang Maha Besar”
"Saya Paham, Paman,” nada suara anak muda itu merendah.
Quote:
Sebelum memulai perjalanan, Kakek menghitung dan mengira apakah perjalanannya membawa tuah atau celaka. Setelah bertafakur berapa menit, Kakek memberitahu anak muda itu, waktu yang paling sesuai melangkah apabila matahari sudah condong sebatas dahan kelapa. Anak muda itu tidak membantah permintaan Kakek itu.
Di luar sinar matahari cukup angkuh jatuh di atas bumi dan dedaunan di halaman rumah. Kicau burung kelicap (burung kecil yg elok bulunya; cericap) amat riang, melompat dari dahan ke dahan bersama hembusan bayu yang lembut dan nyaman. Kepala saya digayuti persoalan.
Kenapa begitu mudah Kakek menunaikan permintaan dari orang yang memerlukan pertolongannya. Apakah Kakek mau mencari dan menambah pengalaman? Atau Kakek mau menguji ilmu yang dituntutnya? Persoalan itu tidak mendapat jawaban dan hilang dengan sendirinya dalam tempurung kepala saya.
“Kenapa kau yang sangat sibuk, apa kau mewakili penduduk di situ mencari aku?” Kakek bertanya anak muda itu.
“Tidak”
“Kalau tidak, kenapa kau mesti bersusah payah?”
“Ada hubungan dengan ayah saya”
“Ayah kau? Siapa dia ayah kau?” Kakek agak terkejut.
Matanya melihat dengan saksama seluruh wajah anak muda itu. Dari gerak‐geriknya ternyata anak muda itu kurang senang dengan pertanyaan itu. Ada sesuatu yang mau dirahasiakannya dari Kakek.
" Tidak usah berahasia dengan aku. Kalau kamu berbicara jujur dan terus terang akan memudahkan pekerjaan aku. Ingatlah, apa yang kau lakukan sekarang bukan untuk kejahatan,” Kakek coba membunuh rasa resah dalam diri anak muda itu. Anak muda itu menundukan kepala melihat lantai rumah.
"Ayah saya, Haji Saad Talu,” dengan nada suara yang lemah anak muda itu menyatakan pada Kakek.
Wajahnya kelihatan agak muram. Kakek merapikan duduknya dan melihat keluar. Melihat daun rambutan dan manggis yang dihembus angin bergerak‐gerak penuh kemalasan.
“Pernahkah Paman mendengar nama itu?”
“Pernah. Ayah kamu berasal dari Sumatera dari daerah Talu, aku kira dia sengaja mengabadikan nama tempat lahir di ujung namanya”
Quote:
“Ya, memang ayah sendiri pernah menceritakan bahwa dia berasal dari Talu”
Kakek kelihatan tenang mendengar perkataan anak muda itu. Kakek menekan pangkal belikatnya dengan talapak tangan. Menghilangkan rasa pegal akibat terlalu lama duduk.
“Ayahmu sakit?” tanya Kakek lagi.
“Tidak”
“Jadi untuk apa kau datang ke mari?”
“Ayah saya sudah meninggal dunia”
Kakek terbeliak biji matanya. Ujung kening sebelah kanannya saya lihat bergerak‐gerak. Tanpa banyak bicara Kakek bangun lalu masuk ke dalam kamarnya. Kakek keluar dengan membawa sepotong kain hitam tiga segi. Kakek letakkan kain hitam itu di ujung lutut kanan anak muda tersebut. Kemudian Kakek menyuruh anak muda itu menekan bagian tengah kain hitam dengan ibu jari kanannya. Kakek melihat urat‐urat yang timbul di belakang tangan anak muda itu. Kakek tersenyum lalu memegang pangkal siku anak muda tersebut.
Dalam beberapa saat saja saya lihat dahi anak muda itu berpeluh. Mukanya berkerut menahan kesakitan yang amat sangat. Saya lihat Kakek tidak melakukan sesuatu terhadapnya. Kakek sekadar menyentuhkan kulit tangan dengan kulit dibagian siku anak muda itu bagaikan terkunci.
Dari ujung kedua belah bibirnya keluar air liur, meleleh hingga ke pangkal
dagu. Air liur itu kelihatan kekuningan seperti air liur basi dan baunya kurang menyenangkan. Kakek berhenti menjamah kulit siku anak muda itu. Anak muda itu nampak terengah-engah seperti berlari belasan kilometer dalam panas yang terik. Bagian belakang baju putihnya basah oleh peluh, seperti baru terkena hujan.
“Kau pernah menuntut suatu ilmu dari ayahmu?” tanya Kakek begitu anak muda itu menyandarkan badannya ke dinding.
Mata Kakek dengan mata anak muda itu bertemu. Seperti ada pertarungan ilmu batin antara anak muda itu dengan Kakek. Cukup sulit saya mau menggambarkan keadaan pertarungan itu. Namun hal yang nyata urat‐urat dalam kolopak mata anak muda itu bagaikan tersembul merah.
"Berterus‐teranglah dengan aku. Jangan menguji aku nanti kamu binasa,” pekik Kakek sekuat hati.
Serentak dengan itu dia menampar lantai. Papan lantai yang ditampar oleh Kakek saya lihat berlubang sebesar telapak tangan. Bagian tepi papan yang berlubang itu mengeluarkan asap, manakala papan yang tercerai saya lihat menjadi hitam seperti arang.
"Pernah, tapi cuma separuh jalan. Ayah yang paksa saya menuntut darinya. Saya tidak mau. Dia paksa juga. Jangan hancurkan hidup saya, Paman,” anak muda itu mulai menangis.
Kakek terdiam. Dari gerak‐geriknya saya tahu, Kakek kesal dengan apa yang telah terjadi. Tanpa segan dan sopan Kakek minta maaf pada anak muda itu.
“Kamu terlalu berahasia dengan aku. Bukankah sudah aku katakan berterus‐terang saja dengan aku?”
“Saya tidak berniat begitu, Paman. Tetapi, saya bagaikan digerakkan oleh sesuatu untuk berbuat begitu”
“Aku paham, semuanya terjadi di luar kemampuan diri kamu. Ini membuktikan bahwa almarhum ayah kamu ingin kamu menuruti jejak langkahnya”
Mendengar pernyataan Kakek itu, anak muda yang malang lalu mengeluh. Secara terbuka anak muda itu mengakui dia tidak sependapat dengan beberapa ilmu kebatinan yang diamalkan oleh ayahnya yang bertentangan dengan akidah Islam.
Quote:
"Banyak hal yang meragukan saya, Paman,” ujar anak muda itu.
“Di antaranya?” Kakek mulai menggali rahasia.
“Dia mengajarkan ajaran ilmu matahari yang dibawanya dari salah satu negeri di Timur Tengah sewaktu dia menjadi kelasi dulu”
“Lagi?”
“Ajaran itu mencampur-adukkan antara Islam dengan pemujaan pada sesuatu seperti memuja bulan, matahari dan laut. Adakalanya benda‐benda yang dipuji itu lebih mulia sifatnya dari Allah yang menjadikan alam ini”
“Dia sudah ke Mekah dan bergelar Haji?”
“Ini juga meragukan saya. Menurut beberapa kawan dekat ayah saya, dia tidak ke Mekah. Tetapi menunaikan ibadah haji di salah satu tempat di Pulau Pinang. Ayah saya tidak pernah sembahyang Jum’at dan berjemaah di surau. Dia lebih banyak mengasingkan diri dan membuat amalan secara rahasia”
"Apa tindakan orang‐orang kampung di tempat kamu?”
"Sejak kematian ibu, saya dan ayah dikucilkan. Adik‐adik yang lain membawa diri masing-masing ke tempat lain”
Kakek termenung panjang. Dan anak muda itu meneruskan ceritanya tentang almarhum ayahnya. Menurut anak muda itu, ketika ayahnya mau menghembuskan nafas yang terakhir, ayahnya terbanting dan terlentang sambil menendang dinding dan lantai. Sesudah mengerang seperti lembu disembelih barulah roh ayahnya bercerai dengan jasad. Bila ayahnya mau dikuburkan, satu pertikaian telah terjadi antara warga kampung. Satu kelompok tidak mau ayahnya dikuburkan di tanah pekuburan Islam. Mereka mau menguburkan tubuh ayahnya itu di tempat lain. Alasan mereka kenapa hal itu mesti dilakukan, karena mereka menganggap almarhum ayahnya bukan seorang Islam.
Sedangkan di pihak yang satu lagi mau jenazah ayah anak muda itu dimakamkan di tanah pekuburan Islam. Alasan mereka almarhum Haji Saad memang seorang Islam. Surat lahir dan kartu tanda pengenalnya membuktikan bahwa almarhum itu memang Islam. Pihak itu juga menyatakan, yang berhak menentukan apakah seseorang itu Islam atau tidak, bukanlah di tangan warga kampung. Ada lembaga tertentu yang bisa memutuskan seperti Pejabat Agama, Mufti dan lain‐lainnya.
“Hanya Allah sajalah yang bisa menentukan seseorang itu Islam atau sebaliknya,” kata Kakek.
Anak muda itu terdiam. Dia tidak mengatakan pernyataan Kakek itu benar atau tidak. Dari kerdipan matanya yang lembut, saya membut kesimpulan anak muda itu setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kakek.
Quote:
"Setelah penghulu dan kepala kampung turut campur tangan, almarhum ayah saya dikubur di tanah pekuburan orang‐orang Islam,” anak muda itu menyambung obrolan yang terputus.
Anak muda itu menceritakan tentang almarhum ayahnya dengan wajah yang muram. Menurutnya, waktu tubuh ayahnya mau ditimbun dengan tanah, beberapa orang kampung yang meletakkan tubuh ayahnya dalam lubang kuburan melihat sesuatu yang aneh terjadi pada tubuh ayahnya.
“Apa yang aneh itu?” saya ikut bertanya.
"Mukanya ditumbuhi bulu seperti burung,” jawabnya.
“Apa yang mereka lakukan?” Kakek mengajukan pertanyaan pula.
“Mereka tanya saya apakah saya mau melakukan sesuatu. Saya tidak ada pilihan selain menyuruh mereka menimbunnya dengan tanah”
Saya menarik nafas panjang. Seram juga saya mendengarnya. Saya lihat wajah Kakek masih dalam keadaan yang tenang. Anak muda itu menggigit ibu jarinya. Suasana dalam ruang rumah terasa sepi buat beberapa menit. Kami termenung panjang. Masing‐masing membuat perhitungan dan tanggapan tersendiri setelah mendengar cerita ganjil dari anak muda itu. Anak muda itu bangun dan berdiri dekat pintu. Melihat ke arah pohon‐pohon mangga dan manggis yang disinari mata hari petang. Lama juga dia termenung di situ.
“Setelah orang‐orang kampung pulang dari tanah pekuburan, langit yang cerah berganti menjadi hitam. Kilat guruh menggelegar. Pohon nibung (palm) di belakang rumah kamu disambar petir. Kemudian hujan turun dengan lebatnya. Hujan itu berhenti bila masuk waktu subuh,” tanpa di duga Kakek lalu berkata demikian.
Anak muda segera mengalihkan pandangannya pada Kakek.
“Bagaimana Paman tahu?” anak muda sangat terkejut.
"Ilmu yang diamalkan oleh ayah kamu salah satu ilmu yang salah. Sebenarnya saya tahu serba sedikit tentang ilmu itu,” terang Kakek dengan jujur padanya.
Kakek lalu memberi penjelasan tentang ilmu tersebut. Menurut Kakek, ilmu itu dinamakan dengan nama Ilmu Kelelawar atau Ilmu Burung yang pernah digunakan oleh kelasi‐kelasi kapal bila kapal mereka pecah atau karam di tengah laut pada zaman dahulu. Waktu terjadi peperangan antara tentara Belanda dengan pejuang Kemerdekaan Indonesia, beberapa orang yang mengamalkan ilmu tersebut telah menggunakannya untuk melawan pihak musuh terutama di daerah Mandailing dan Talu. Orang yang mau mendapatkan ilmu itu harus bertapa dalam keadaan mengubur separuh badan dalam kotoran kelelawar.
Quote:
Sebelum itu, orang tersebut harus pergi ke sebuah gua di Gunung Kidul di Pulau Jawa. Mengabdikan diri pada setan di situ dengan membuat pemujaan pada sepotong papan yang sudah berusia beribu‐ribu tahun.
Papan yang dipuja akan menjadi makhluk yang menyerupai dengan tubuh badan orang yang mau menuntut ilmu. Kemudian makhluk itu akan menghisap darah jari ibu kaki orang yang mau memperhambakan diri.
Syarat utama orang yang menuntut ilmu itu harus mengakui papan tua itu adalah benda yang paling berkuasa, maha mengetahui dan menyerahkan roh dan jasadnya pada papan penunggu. Dilarang sama sekali melakukan hal-hal yang disuruh oleh Allah.
Sewaktu orang itu mengubur separuh badannya dalam tahi kelelawar, dia hanya memakan kepak(sayap) kelawar selama empat puluh empat hari. Bila amalannya sudah genap, 100 hari tubuhnya akan berbulu seperti burung dari kepala hingga ke pinggang. Dari pinggang ke bawah seperti tubuh manusia. Ketika bulan mengambang penuh, dia akan terbang dan kembali ke rumah asalnya. Setiap malam, dia harus menyediakan darah kelelawar satu mangkuk putih dan diletakkan di bawah pohon nibung. Demikian Kakek memberitahu tentang ilmu yang diamalkan oleh almarhum.
“Apa manfaatnya ilmu itu, Kek?” tanya saya.
"Bisa mengumpulkan kekayaan, asalkan patuh dengan perintah setan. Bisa menjadikan diri seperti burung dan terbang untuk menghancurkan orang. Satu perbuatan laknat,” kata Kakek lagi.
Anak muda yang malang itu mengeluh. Dia mulai tahu sekarang kenapa sewaktu ayahnya masih hidup, selalu mengasingkan dalam sebuah kamar gelap. Setiap malam tidak pernah berada di rumah kecuali waktu menjelang subuh.
Lebih kurang pukul empat petang kami pun memulai perjalanan menuju ke sebuah kampung kecil dipinggir Pasar Segari yang terletak di Daerah Manjung (dulu Daerah Dinding). waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke situ lebih kurang satu jam lebih dengan menaiki taksi. Anak muda itu lalu menunjukkan ke arah rumah papan yang letaknya agak terpencil dengan rumah lain di kampung tersebut.
“Sejak ayah saya meninggal, rumah ini saya tinggalkan. Setiap malam ada manusia berkepala burung dan berbadan manusia datang mengganggu kami yang berdiam di situ. Sejak rumah ditinggalkan kami terdengar orang berbicara dalam bahasa yang kami tidak tahu,” anak muda itu menceritakan tentang rumah papan yang kami lihat dari jauh.
“Lagi, ada apa yang aneh?” tanya Kakek.
"Sejak akhir‐akhir ini mahluk ganjil itu sudah mengganggu rumah orang lain pula,” tambah anak muda itu.
Quote:
Kakek pun merapatkan gigi atas dengan gigi bawah beberapa kali. Angin
petang yang bertiup kencang mengugurkan daun karet tua yang memagari pinggir kampung. Mata saya masih tertumpu ke arah rumah papan yang beratap rumbia. Pintu dan jendela rumah bertutup rapat. Di kaki tangga
ada tempayan besar. Sebelah kanan rumah terdapat pohon mangga telur yang sedang berbunga lebat.
“Apa yang kau lihat?” tanya Kakek pada saya.
“Tak ada apa‐apa, Kek”
"Baguslah,” balas Kakek lalu duduk di atas tunggul (pangkal pohon yg masih tinggal tertanam di dlm tanah sehabis ditebang) karet. Anak muda yang sejak tadi berdiri di sebelahnya juga turut duduk. Anak muda itu nampak cemas.
“Nama kamu siapa?”
Saya tersenyum, kenapa begitu lambat Kakek mau mengetahui nama anak muda itu. Agaknya Kakek terlupa atau sengaja dia berbuat demikian dengan tujuan tertentu, pikir saya dalam hati.
“Nama saya?” ulang anak muda itu.
“Ya nama kau”
“Orang kampung panggil saya Man Beliung, nama sebenarnya sesuai dengan KTP dan sertifikat kelahiran Osman”
“Kenapa orang kampung memanggil kamu Man Beliung?” Kakek mencoba mengorek
rahasia.
Osman segera bangun dan mengerutkan dahi sempitnya. Sinar matahari petang kian redup. Beberapa ekor burung gagak liar mula hinggap di atas bumbung rumah papan beratap rumbia. Gagak‐gagak itu berbaris menghadap ke arah matahari sambiI berbunyi. Suara gagak itu parau dan kalau diteliti bunyinya seperti orang menyobek kain kafan.
"Sebabnya, ketika saya lahir dulu, bidan yang menolong saya bersama sebilah beliung kecil,” Osman membuka kisah dirinya.
“Mana kau tahu?” tanya Kakek lagi.
“Ayah saya yang berkata dan ibu saya sendiri mengakuinya. Menurut kata ayah, kalau saya tidak ditolong dengan beliung kecil itu saya tidak akan lahir dan ibu akan mengandung sampai mati. Beliung itu ayah yang berikan pada bidan”
Kakek terdiam mendengar cerita dari Osman. Suara gagak di atas bumbung rumah papan beratap rumbia lalu berbunyi. Saya memfokuskan perhatian ke arah rumah tersebut, sebagian dari rumah itu tidak terkena cahaya matahari karena terlindung oleh pohon besar. Tiba‐tiba saja badan saya terasa seram. Bulu roma saya mulai tegak, anehnya bila saya tidak melihat ke arah rumah itu rasa seram tidak saya rasakan.
Diubah oleh mufidfathul 24-05-2017 20:11
ciptoroso dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas
Tutup