- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#159
PENGABDI ILMU KELELAWAR
PART I
Sejak Kakek pulang dari Batu Pahat, kesehatannya tidak begitu baik. Dia selalu diserang batuk mulai pukul dua belas malam hingga menjelang waktu subuh.
Bila saya menasehatinya supaya pergi menemui dokter, Kakek tidak mau. Dia mengatakan pada saya sakitnya tidak parah dan bisa baik sendiri. Kadang‐kadang saya terpikir alangkah baiknya kalau saya bisa menjadi orang seperti Kakek. Bisa menolong orang yang sakit. Tetapi, bila saya pikirkan dengan sedalam‐dalamnya, memang saya tidak dapat mengikuti jejak dan langkah Kakek.
Kakek cukup Bakhil bila mau menurunkan kemahiran dan kepandaiannya pada diri saya. Kakek bimbang kalau ilmu yang saya tuntut darinya akan disalah‐gunakan. Dia hanya menurunkan ilmu‐ilmu yang mudah pada saya seperti mengurut tangan orang yang salah urat serta beberapa petuah dan doa untuk diri saya sendiri yang tidak bisa digunakan untuk orang lain, walaupun untuk anak isteri.
Dari sinilah mulainya timbul dalam hati saya untuk meneruskan pelajaran yang kandas. Tanpa disadari, berkat dorongan Kakek juga, saya memasuki sekolah malam di kampung saya. Kakek tidak tahu bahwa saya akan meneruskan khidmat bakti saya dengan cara yang tersendiri. Saya berniat untuk menjadi seorang dokter.
Dengan cara itu saya akan bisa menolong orang.
"Kakekmu bukan tidak mau menurunkan ilmu padamu, Tamar. Tapi pantangan dan larangannya terlalu ketat, kesusahannya juga terlalu berat. Seperti nenek ini, kalau tidak sabar‐sabar sudah lama meninggalkannya,” kata nenek pada saya, setelah saya menyatakan rasa kesal saya atas sikap Kakek pada suatu petang.
Tanpa diduga obrolan saya dengan nenek didengar oleh Kakek. Dia segera mendekati kami. Matanya melihat wajah saya. Dia membaca apa yang tersirat dalam dada saya.
"Aku bisa memberikan kesenangan, kebahagiaan pada orang lain, tetapi hal itu tidak dapat aku berikan pada nenekmu. Kalau dia menuduh aku sebagai lelaki tidak bertanggungjawab aku tidak marah. Apa yang dikatakannya itu memang benar,” kata Kakek dari ujung tangga.
Nenek melihat muka saya.
"Memang begitulah janji aku dengan guruku dulu. Tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri dan kaum keluarga, kalau tidak ilmuku tidak sempurna. Tuhan telah memberi aku seorang isteri yang setia dan sabar. Inilah nikmat dari Allah yang aku terima,” sambung Kakek lagi.
Matanya melihat redup pada wajah nenek. Dan nenek pun tersenyum cukup manis. Belum pernah saya menikmati senyum nenek semanis itu. Agaknya, dia bangga karena pengorbanannya selama ini disanjung oleh Kakek. Barang kali sikap saling menerima dan memberi, timbang rasa dan saling memahami tugas masing‐masing membuat rumah tangga Kakek dan nenek kukuh hingga ke anak cucu, pikir saya dalam hati.
Note: Dalam 'siri bercakap dengan jin', tokoh aku (Tamar Jalis) terkadang diceritakan seperti pemuda 16-17 tahun (dalam kisah tuyul). Terkadang seperti masih anak-anak seperti kisah ini.
Ini terjadi karena memang kisah 'siri bercakap dengan jin' merupakan kisah perjalanan hidupnya bersama kakeknya.
Jadi pembaca mesti baca simpulnya sendiri tokoh 'aku' ini masih anak-anak atau remaja.


Meskipun rumah tangga mereka tidak didirikan atas landasan cinta dulu baru kimpoi, mereka mengambil langkah nikah dulu kemudian cinta. Ternyata kebahagiaannya lebih panjang, kemesraannya terlalu penuh. Susah mau diresapi pola tingkahnya, pikiran saya lalu menjalar ke dalam kepala.
"Nenekmu seorang wanita yang baik,” tambah Kakek lagi.
Kakek lalu pergi dari anak tangga. Saya pun melangkah meninggalkan nenek dengan pekerjanya mengupas buah kelapa. Bagi mengisi waktu kosong petang itu, saya berniat untuk pergi bermain dengan kawan‐kawan yang sebaya, bermain gasing. Sebuah gasing dan tali yang tersimpan di bawah rumah saya ambil.
Cita‐cita saya mau memecah dua tiga biji gasing kawan‐kawan hingga terbelah. Tetapi mendadak saja saya teringat joran pancing yang tersandar di pangkal pohon mangga. Gasing dan tali saya tinggalkan. Joran pancing saya ambil.
"Hendak ke mana sudah petang begini?” tanya Nenek
“Hendak memancing ikan di sawah”
"Janganlah, sudah petang,” tahan Nenek.
"Sebentar aja, Nek,” jawab saya dan berlalu meninggalkan kawasan rumah menuju ke sawah yang terbentang luas.
Matahari sudah condong benar letaknya. Dalam perkiraan saya, waktu itu sudah pukul lima lebih. Memang tidak wajar saya turun ke sawah memancing. Saya lalu meniti di atas batas bendang(sawah) menuju ke sebuah kolam kecil yang terletak di bawah sebatang pohon tualang( Menggeris (Lat.: Koompassia excelsa) ) besar dan tinggi. Kiri kanan pohon itu ditumbuhi oleh pohon‐pohon bambu. Akar‐akar jejawi (seperti beringin (genus Ficus, subgenus Urostigma) ) berjuntai di dahan tualang, sebagian darinya mencelah bumi. Beberapa akar itu saya potong sebatas dada.
Sebelum saya memancing, saya bergayutan pada akar itu, seperti tarzan bermain di udara. Memang menyenangkan. Kemudian saya memancing dengan umpan cacing yang saya korek di tanah pangkal pohon tualang. Nasib saya memang baik petang itu, pancing saya selalu saja mengena. Tidak sampai satu jam saya sudah dapat berkati‐kati(1 kati=617 gram) ikan lele, ikan gabus dan mujair. Ikan‐ikan itu saya letakkan dalam raga(keranjang terbuat dari rotan). Niatan saya mau menangkap separuh dari ikan‐ikan yang terdapat dalam kolam tersebut.
Hati saya berdebar dengan tiba‐tiba. Daun telinga kanan saya bergerak‐gerak dan terasa angin lembut menyentuhnya.
Saya mulai merasa ragu‐ragu karena ketika itu memang tidak ada angin yang bertiup. Saya segera menoleh ke arah raga yang penuh dengan ikan‐ikan hasil dari pancingan saya. Saya mendapati ikan‐ikan di situ semuanya lenyap, kecuali seekor ikan gabus kecil sebesar ibu jari melompat‐lompat dalam raga. Saya merenung ke langit, matahari sudah merunduk di kaki langit. Keadaan sekeliling sawah sudah tidak secerah tadi. Hati saya bagaikan dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan untuk terus memancing, ikan‐ikan saya lihat bagaikan melompat‐Iompat dipermukaan kolam.
Saya membuat keputusan yang saya kira cukup baik yaitu meneruskan pekerjaan memancing ikan di kolam. Sedang saya asyik memancing, hari pun berangsur gelap. Senja kala sudah datang. Saya bagaikan mendengar suara Kakek memanggil‐manggil nama saya. Saya bersiap-siap untuk pulang dan merapat kepangkal pohon tualang untuk mengambil raga yang berisi ikan. Sekali lagi saya terkejut, tidak ada seekor ikan pun di situ, kecuali ikan gabus kecil sebesar ibu jari melompat‐lompat dalam raga. Saya menarik nafas panjang.
Saya menjadi linglung dengan keadaan yang saya hadapi. Ada sedikit amalan yang Kakek berikan pada saya bila menghadapi keadaan yang begitu. Barangkali, saya perlu mencobanya baik itu berhasil atau tidak, pikir saya. Dengan tenang saya menjamah bumi dengan ujung kuku jari manis, saya pun membaca sepotong ayat dari
surah al‐Falak yaitu Qul a'uzubirabbil falaq hingga akhir. Saya merasa diri saya
bagaikan mendapat sesuatu kekuatan gaib.
Saya jadi berani. Rasa cemas dan bimbang hilang dalam diri saya. Jari manis saya tekan ke bumi. Dengan ekor mata saya melirik di sekitar kawasan. Sekali lagi jiwa saya terguncang. Di sebelah kanan saya terlihat sepasang kaki macam kaki itik yang cukup besar, berbulu roma tebal hingga ke betis. Saya mendongakkan kepala. Saya berhadapan dengan satu makhluk putih yang cukup tinggi. Lebih tinggi dari pohon tualang.
Hari sudah berangsur gelap. Saya bagaikan mendengar deru angin yang cukup hebat, bagaikan angin ribut besar sedang melanda di sekeliling saya. Saya mendengar pohon tualang diguncang bertalu‐talu. Saya melihat dengan jelas dedaunan tualang jatuh ke bumi. Bila bunyi angin ribut berakhir, makhluk itu pun hilang. Suasana terasa terlalu hening. Saya campakkan joran pancing dan raga ke dalam kolam.
Saya bersiap mau melangkah pulang. Baru lima tapak, saya berhadapan dengan satu makhluk yang cukup aneh. Tingginya agak sederhana, lebih kurang sama tinggi dengan bentuk tubuh Kakek. Kepala makhluk itu tidak seberapa jelas. Tetapi, dari bagian leher hingga ke pinggang ditumbuhi bulu. Kedua belah tangannya berbentuk semacam sayap burung. Dari pinggang hingga ke kaki serupa dengan bentuk tubuh manusia biasa. Dalam saat‐saat cemas begitu, saya mendengar nama saya dipanggil sayup‐sayup dari arah kampung.
Saya kenal benar suara itu ialah suara Kakek. Saya mencoba menjawab panggilan itu, tetapi tidak berdaya. Suara saya tidak keluar. Bagaikan ada sesuatu yang menahan pangkal kerongkongan saya. Saya melihat ke arah makhluk itu kembali. Kini saya sudah pasti benar bahwa, makhluk itu memang aneh, kepalanya juga berbentuk burung ada paruh dan bermoncong. Kedudukan matanya macam kedudukan mata manusia.
Sinar matanya tajam tidak berkedip‐kedip memandang ke arah saya. Suara Kakek, makin lama makin dekat kedengaran. Dalam saat‐saat begitu saya tidak dapat berbuat apa‐apa. Saya hanya berserah pada Allah yang Maha Besar. Saya coba membaca beberapa potong ayat al‐Quran, tapi banyak yang salah dan lintang‐pukang. Bacaan yang mestinya didahulukan dibaca di akhir begitu pun sebaliknya. Saya jadi linglung.
Suara Kakek kian mendekat. Saya menoleh ke arah datangnya suara Kakek. Memang
saya lihat Kakek mendatangi ke arah saya dengan membawa sepotong kayu. Saya coba melambaikan tangan ke arah Kakek. Lambaian saya itu seolah‐olah tidak dapat dilihat oleh Kakek dalam suasana yang agak samar‐samar itu. Makhluk ganjil itu lalu melihat gerak‐gerik saya.
Dalam warna senja itu, saya melihat Kakek kian dekat dengan saya. Jarak saya dengan Kakek lebih kurang antara sepuluh hingga lima belas kaki (1 kaki=12 inch. 15 kaki=4.5 m). Tetapi, Kakek tidak dapat melihat saya. Suara Kakek cukup jelas saya dengar. Sayangnya, saya tidak dapat menjawab suaranya itu.
"Tak mau mendengarkan perkataan orang inilah akibatnya, aku yang susah,” keluh Kakek.
Saya lihat dia berdiri betul‐betul di sebelah makhluk ganjil itu. Kakek lalu menancapkan kayu yang dibawanya ke tanah. Serentak dengan itu, saya melihat makhluk ganjil membuka kedua belah sayapnya lalu terbang ke arah dahan tualang. Dan mendadak saja saya bisa bersuara dengan selantang‐lantangnya. Kakek terkejut bila dia mendapati dirinya berhadapan dengan saya. Tanpa banyak bicara Kakek lalu mengusap wajah saya dengan tangan kirinya sebanyak tiga kali.
"Kau masuk salah tempat,” kata Kakek lalu membawa saya pulang.
Sampai di jalan dekat rumah, saya dimarahi Kakek. Hampir saja dia mau menampar muka saya. Mujurlah Nenek dapat segera meredakan darah Kakek yang sedang naik itu. Apa yang saya lihat tadi, bagaikan mimpi dan tidak masuk akal. Kalau diceritakan pada siapapun, saya pasti dituduh gila atau berkhayal, paling tidak dianggap suka mengada‐adakan cerita yang tidak masuk akal.
Tetapi, lain pula dengan Kakek. Dia lalu menyuruh saya bercerita. Dia yakin apa yang terjadi pada saya ada hubungannya dengan alam. Ada hubungan dengan makhluk Allah yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar.
Kakek pun mengeluarkan perintah pendek buat saya.
"Jangan memancing di kolam waktu bunga senja. Kalau kau bantah, aku patah‐patahkan leher kamu” begitulah Kakek, dalam perintah yang lembut terselip satu ancaman yang amat menakutkan.
“Paham!” sergahnya.
“Paham, Kek!”
Ternyata peryataan saya itu tidak dapat menenangkan perasaannya. Kakek tidak putus‐putusnya menyatakan kesalnya pada Nenek terhadap perbuatan saya itu. Tetapi, Nenek dengan kesabaran tetap memberitahu Kakek apa yang saya lakukan itu terjadi dengan tidak sengaja.
"Barang kali mereka mau menguji sejauh mana kekuatan ilmu yang aku tuntut,” Kakek mengeluh sambil merapikan duduknya, menghadapi hidangan makan malam.
"Tidak usah diingat kejadian itu,” ujar nenek sambil mengulurkan mangkuk nasi pada saya. Nasi pun saya masukkan ke dalam pinggan(piring yang besar). Nenek mengulurkan pula mangkuk nasi pada Kakek. Bila makan malam selesai, saya menyandarkan diri ke dinding. Nenek lalu membasuh pinggan mangkuk di dapur. Kakek mengambil daun sirih dari tepak(kotak buat rokok atapun pensil dan penggaris). Kemudian, Kakek menyuruh saya mengambil daun serunai laut dan kapur di ruang tengah.
Perintah itu saya ikuti. Daun sirih dan serunai laut Kakek campurkan dengan kapur. Ketiga benda itu Kakek hancurkan dengan talapak tangan. Akhirnya direndamkan dalam cawan beberapa saat. Kakek pisahkan daun sirih, daun serunai laut dan kapur dari air di dalam cawan dengan mengunakan penapis (ayakan) yang halus. Sebelum air itu diminum, saya lihat Kakek membaca sesuatu.
"Ini obat yang baik,” katanya sambil merebahkan badan di atas lantai.
Saya lalu masuk ke dalam kamar, saya melihat dan membaca beberapa kitab tua tentang perobatan tradisional yang ditulis dalam tulisan jawi. Jika ada beberapa perkataan Jawa Kuno yang tidak saya pahami, saya akan bertanya pada Kakek dan dia akan memberikan makna perkataan itu pada saya hingga Paham. Memang, obat yang dibuat oleh Kakek cukup berkhasiat untuk dirinya. Batuk Kakek berangsur hilang. Menjelang pukul dua belas malam, batuk Kakek tidak kedengaran lagi. Cuma yang saya dengar bunyi dengkurnya tidak putus‐putus.
Saya mendengar kokok ayam bertalu‐talu. Mata saya masih segar. Tidak ada rasa kantuk. Dua buah kitab lama sudah selesai saya baca. Badan mula terasa dingin. Saya pun merebahkan badan ke atas lantai. Saya memandang daun jendela kamar terbuka dengan sendirinya. Saya bangun untuk menutup daun jendela tersebut. Bila daun jendela saya sentuh, saya mendengar bunyi belalang pelesit berbunyi dengan nyaringnya dari sebelah kanan.
Saya coba mencarinya tetapi belalang itu tidak kelihatan kecuali suaranya yang cukup keras. Angin dini hari yang bertiup lembut membawa bunyi kicau burung murai. Dari mana datangnya, saya sendiri pun tidak tahu. Dengan sepenuh tenaga, daun jendela saya tarik.
Usaha saya gagal. Bagaikan ada suatu daya yang menahan pada daun jendela itu. Saya merasa pula angin terlalu keras bertiup. Saya lihat pohon‐pohon di luar macam digoncang manusia. Saya juga mendengar kawanan burung berak‐berak(sorry tidak tahu padanannya di Indonesia) terbang tinggi sambil berbunyi dengan indahnya. Burung‐burung itu berputar-putar di atas bumbung rumah. Tanpa membuang waktu, saya pun mendongakkan kepala ke langit.
Saya melihat suatu cahaya berjumbaian (bertali‐tali) dari bagian bawah makhluk yang terbang di angkasa menuju ke arah anak bukit di sebelah utara. Dalam saat yang sama juga saya mendengar suara burung celepuk bertalu‐talu dari dahan pohon kekabu ( Ceiba pentandra) tinggi di kanan rumah. Dalam gelap malam yang memanjang itu, saya bagaikan melihat kelebatan makhluk besar melintas di depan mata saya.
Saya segera mengambil lampu minyak tanah. Bila saya berputar balik kearah jendela, saya lihat jendela itu dihempas bertalu‐talu dengan kuatnya. Semua rumah bergetar. Kakek terjaga dari tidurnya. Kakek datang dan berdiri di belakang saya. Kakek menyuruh saya pergi dari situ dan mengambil alih tempat saya. Dia berdiri di muka jendela dan burung berek‐berek lalu berputar-putar di atas bumbung rumah kembali.
Kakek pun menekan pangkal hidungnya dengan ibu jari kanan. Matanya tajam menembus malam yang pekat itu. Dengan mudah Kakek merapatkan kedua belah daun jendela lalu menguncinya. Baru dua tapak Kakek melangkah ke arah saya, daun jendela terbuka kembali. Bila Kakek mau merapatkannya kembali, satu pukulan kepak sayap burung hinggap ke muka Kakek. Muka Kakek segera berubah jadi lebam kebiru‐biruan. Kakek jatuh ke atas lantai.
Saya segera mengambil beberapa helai bulu burung yang gugur di sisinya. Saya lihat Kakek berguling‐guling di atas lantai menahan kesakitan. Pipi kanan Kakek berdarah terkena cakaran kaki burung.
Saya jadi kalang‐kabut dan saya lihat ke atas bendul jendela terjulur kepala manusia yang berbulu burung.
Dalam saat‐saat yang genting itu Kakek membuka pakaiannya. Saya tersipu‐sipu melihatnya telanjang bulat di depan saya. Darah dari pipi kanannya terus mengalir. Kakek menyarungkan kain pelekat ( kain sarung tenun ) dalam keadaan terbalik dari kepala ke kaki. Semua perbuatan Kakek itu diperhatikan makhluk bermata merah.
"Ambilkan aku segenggam beras,” jerit Kakek sekuat hati.
Nenek tergesa‐gesa masuk ke dalam kamar dengan membawa segenggam beras erat‐erat dan memberikan kepada Kakek. Kakek pun melemparkan beras yang digenggamnya ke arah makhluk bermata merah. Satu jeritan terdengar di tengah malam yang pekat itu, bersama pekik anjing dan burung hantu bersahut‐sahutan. Makhluk bermata merah lenyap di muka jendela.
Suasana kembali tenang. Nenek membimbing Kakek keluar dari kamar saya. Wajah Kakek pucat. Darah yang mengalir di pipi bertukar menjadi cairan putih yang kental. Baunya cukup busuk seperti bau bangkai.
"Ambilkan aku segenggam beras lagi. Basuh beras itu dengan air kelapa muda. Dan kau jangan terkena cairan kotor ini, pergilah cepat‐cepat. Aku akan membasuh muka. Aku tidak tahan lagi rasanya menahan panas ini. Daging pipi aku seperti kena api,” Kakek berkata dengan tenang pada nenek.
Dan nenek pun ke dapur mengambil beras serta memetik kelapa muda jenis rendah di belakang rumah. Nenek melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Kakek. Sambil membaca beberapa ayat‐ayat al‐Quran Kakek membasuh mukanya dengan air kelapa basuhan beras. Muka Kakek kembali merah dan segar. Air yang jatuh di atas lantai Kakek sapu dengan kain kotor dan kain itu dimasukkan ke dalam satu ember kecil.
"Besok bisa dikubur,” kata Kakek.
Dia bangun lalu merapat ke jendela. Lama juga Kakek berdiri di situ. Saya tidak tahu apa yang di kerjakannya. Bila Kakek mendengar suara azan subuh, barulah Kakek pergi dari muka jendela dan mengajak saya mengambil air sembahyang. Sementara menanti matahari pagi terbit di kaki langit, Kakek membaca al‐Quran.
Saya mengulangi mata pelajaran bahasa Inggris dan membuat pekerjaan rumah (homework) seperti yang disuruh oleh Mr. Ismail.
Mr. Ismail lulusan Kirkby College mengajar di sekolah rendah Inggris (SD) tempat saya. Kemudian kimpoi dengan seorang gadis yang sama-sama mengajar satu sekolah dengannya. Mr. Ismail akhimya pindah mengajar ke Maktab Tentara di Sungai Besi. Dalam pemilihan umum tahun tujuh puluhan, Mr. Ismail maju sebagai calon independen, tetapi kalah ditangan calon Barisan Nasional bagi Kawasan Pangkalan Bharu. Sejak itu cerita tentang Mr. Ismail tidak saya dengar lagi.
PART I
Quote:
Sejak Kakek pulang dari Batu Pahat, kesehatannya tidak begitu baik. Dia selalu diserang batuk mulai pukul dua belas malam hingga menjelang waktu subuh.
Bila saya menasehatinya supaya pergi menemui dokter, Kakek tidak mau. Dia mengatakan pada saya sakitnya tidak parah dan bisa baik sendiri. Kadang‐kadang saya terpikir alangkah baiknya kalau saya bisa menjadi orang seperti Kakek. Bisa menolong orang yang sakit. Tetapi, bila saya pikirkan dengan sedalam‐dalamnya, memang saya tidak dapat mengikuti jejak dan langkah Kakek.
Kakek cukup Bakhil bila mau menurunkan kemahiran dan kepandaiannya pada diri saya. Kakek bimbang kalau ilmu yang saya tuntut darinya akan disalah‐gunakan. Dia hanya menurunkan ilmu‐ilmu yang mudah pada saya seperti mengurut tangan orang yang salah urat serta beberapa petuah dan doa untuk diri saya sendiri yang tidak bisa digunakan untuk orang lain, walaupun untuk anak isteri.
Dari sinilah mulainya timbul dalam hati saya untuk meneruskan pelajaran yang kandas. Tanpa disadari, berkat dorongan Kakek juga, saya memasuki sekolah malam di kampung saya. Kakek tidak tahu bahwa saya akan meneruskan khidmat bakti saya dengan cara yang tersendiri. Saya berniat untuk menjadi seorang dokter.
Dengan cara itu saya akan bisa menolong orang.
"Kakekmu bukan tidak mau menurunkan ilmu padamu, Tamar. Tapi pantangan dan larangannya terlalu ketat, kesusahannya juga terlalu berat. Seperti nenek ini, kalau tidak sabar‐sabar sudah lama meninggalkannya,” kata nenek pada saya, setelah saya menyatakan rasa kesal saya atas sikap Kakek pada suatu petang.
Tanpa diduga obrolan saya dengan nenek didengar oleh Kakek. Dia segera mendekati kami. Matanya melihat wajah saya. Dia membaca apa yang tersirat dalam dada saya.
"Aku bisa memberikan kesenangan, kebahagiaan pada orang lain, tetapi hal itu tidak dapat aku berikan pada nenekmu. Kalau dia menuduh aku sebagai lelaki tidak bertanggungjawab aku tidak marah. Apa yang dikatakannya itu memang benar,” kata Kakek dari ujung tangga.
Nenek melihat muka saya.
"Memang begitulah janji aku dengan guruku dulu. Tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri dan kaum keluarga, kalau tidak ilmuku tidak sempurna. Tuhan telah memberi aku seorang isteri yang setia dan sabar. Inilah nikmat dari Allah yang aku terima,” sambung Kakek lagi.
Matanya melihat redup pada wajah nenek. Dan nenek pun tersenyum cukup manis. Belum pernah saya menikmati senyum nenek semanis itu. Agaknya, dia bangga karena pengorbanannya selama ini disanjung oleh Kakek. Barang kali sikap saling menerima dan memberi, timbang rasa dan saling memahami tugas masing‐masing membuat rumah tangga Kakek dan nenek kukuh hingga ke anak cucu, pikir saya dalam hati.
Note: Dalam 'siri bercakap dengan jin', tokoh aku (Tamar Jalis) terkadang diceritakan seperti pemuda 16-17 tahun (dalam kisah tuyul). Terkadang seperti masih anak-anak seperti kisah ini.
Ini terjadi karena memang kisah 'siri bercakap dengan jin' merupakan kisah perjalanan hidupnya bersama kakeknya.
Jadi pembaca mesti baca simpulnya sendiri tokoh 'aku' ini masih anak-anak atau remaja.


Quote:
Meskipun rumah tangga mereka tidak didirikan atas landasan cinta dulu baru kimpoi, mereka mengambil langkah nikah dulu kemudian cinta. Ternyata kebahagiaannya lebih panjang, kemesraannya terlalu penuh. Susah mau diresapi pola tingkahnya, pikiran saya lalu menjalar ke dalam kepala.
"Nenekmu seorang wanita yang baik,” tambah Kakek lagi.
Kakek lalu pergi dari anak tangga. Saya pun melangkah meninggalkan nenek dengan pekerjanya mengupas buah kelapa. Bagi mengisi waktu kosong petang itu, saya berniat untuk pergi bermain dengan kawan‐kawan yang sebaya, bermain gasing. Sebuah gasing dan tali yang tersimpan di bawah rumah saya ambil.
Cita‐cita saya mau memecah dua tiga biji gasing kawan‐kawan hingga terbelah. Tetapi mendadak saja saya teringat joran pancing yang tersandar di pangkal pohon mangga. Gasing dan tali saya tinggalkan. Joran pancing saya ambil.
"Hendak ke mana sudah petang begini?” tanya Nenek
“Hendak memancing ikan di sawah”
"Janganlah, sudah petang,” tahan Nenek.
"Sebentar aja, Nek,” jawab saya dan berlalu meninggalkan kawasan rumah menuju ke sawah yang terbentang luas.
Matahari sudah condong benar letaknya. Dalam perkiraan saya, waktu itu sudah pukul lima lebih. Memang tidak wajar saya turun ke sawah memancing. Saya lalu meniti di atas batas bendang(sawah) menuju ke sebuah kolam kecil yang terletak di bawah sebatang pohon tualang( Menggeris (Lat.: Koompassia excelsa) ) besar dan tinggi. Kiri kanan pohon itu ditumbuhi oleh pohon‐pohon bambu. Akar‐akar jejawi (seperti beringin (genus Ficus, subgenus Urostigma) ) berjuntai di dahan tualang, sebagian darinya mencelah bumi. Beberapa akar itu saya potong sebatas dada.
Sebelum saya memancing, saya bergayutan pada akar itu, seperti tarzan bermain di udara. Memang menyenangkan. Kemudian saya memancing dengan umpan cacing yang saya korek di tanah pangkal pohon tualang. Nasib saya memang baik petang itu, pancing saya selalu saja mengena. Tidak sampai satu jam saya sudah dapat berkati‐kati(1 kati=617 gram) ikan lele, ikan gabus dan mujair. Ikan‐ikan itu saya letakkan dalam raga(keranjang terbuat dari rotan). Niatan saya mau menangkap separuh dari ikan‐ikan yang terdapat dalam kolam tersebut.
Hati saya berdebar dengan tiba‐tiba. Daun telinga kanan saya bergerak‐gerak dan terasa angin lembut menyentuhnya.
Saya mulai merasa ragu‐ragu karena ketika itu memang tidak ada angin yang bertiup. Saya segera menoleh ke arah raga yang penuh dengan ikan‐ikan hasil dari pancingan saya. Saya mendapati ikan‐ikan di situ semuanya lenyap, kecuali seekor ikan gabus kecil sebesar ibu jari melompat‐lompat dalam raga. Saya merenung ke langit, matahari sudah merunduk di kaki langit. Keadaan sekeliling sawah sudah tidak secerah tadi. Hati saya bagaikan dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan untuk terus memancing, ikan‐ikan saya lihat bagaikan melompat‐Iompat dipermukaan kolam.
Quote:
Saya membuat keputusan yang saya kira cukup baik yaitu meneruskan pekerjaan memancing ikan di kolam. Sedang saya asyik memancing, hari pun berangsur gelap. Senja kala sudah datang. Saya bagaikan mendengar suara Kakek memanggil‐manggil nama saya. Saya bersiap-siap untuk pulang dan merapat kepangkal pohon tualang untuk mengambil raga yang berisi ikan. Sekali lagi saya terkejut, tidak ada seekor ikan pun di situ, kecuali ikan gabus kecil sebesar ibu jari melompat‐lompat dalam raga. Saya menarik nafas panjang.
Saya menjadi linglung dengan keadaan yang saya hadapi. Ada sedikit amalan yang Kakek berikan pada saya bila menghadapi keadaan yang begitu. Barangkali, saya perlu mencobanya baik itu berhasil atau tidak, pikir saya. Dengan tenang saya menjamah bumi dengan ujung kuku jari manis, saya pun membaca sepotong ayat dari
surah al‐Falak yaitu Qul a'uzubirabbil falaq hingga akhir. Saya merasa diri saya
bagaikan mendapat sesuatu kekuatan gaib.
Saya jadi berani. Rasa cemas dan bimbang hilang dalam diri saya. Jari manis saya tekan ke bumi. Dengan ekor mata saya melirik di sekitar kawasan. Sekali lagi jiwa saya terguncang. Di sebelah kanan saya terlihat sepasang kaki macam kaki itik yang cukup besar, berbulu roma tebal hingga ke betis. Saya mendongakkan kepala. Saya berhadapan dengan satu makhluk putih yang cukup tinggi. Lebih tinggi dari pohon tualang.
Hari sudah berangsur gelap. Saya bagaikan mendengar deru angin yang cukup hebat, bagaikan angin ribut besar sedang melanda di sekeliling saya. Saya mendengar pohon tualang diguncang bertalu‐talu. Saya melihat dengan jelas dedaunan tualang jatuh ke bumi. Bila bunyi angin ribut berakhir, makhluk itu pun hilang. Suasana terasa terlalu hening. Saya campakkan joran pancing dan raga ke dalam kolam.
Saya bersiap mau melangkah pulang. Baru lima tapak, saya berhadapan dengan satu makhluk yang cukup aneh. Tingginya agak sederhana, lebih kurang sama tinggi dengan bentuk tubuh Kakek. Kepala makhluk itu tidak seberapa jelas. Tetapi, dari bagian leher hingga ke pinggang ditumbuhi bulu. Kedua belah tangannya berbentuk semacam sayap burung. Dari pinggang hingga ke kaki serupa dengan bentuk tubuh manusia biasa. Dalam saat‐saat cemas begitu, saya mendengar nama saya dipanggil sayup‐sayup dari arah kampung.
Saya kenal benar suara itu ialah suara Kakek. Saya mencoba menjawab panggilan itu, tetapi tidak berdaya. Suara saya tidak keluar. Bagaikan ada sesuatu yang menahan pangkal kerongkongan saya. Saya melihat ke arah makhluk itu kembali. Kini saya sudah pasti benar bahwa, makhluk itu memang aneh, kepalanya juga berbentuk burung ada paruh dan bermoncong. Kedudukan matanya macam kedudukan mata manusia.
Sinar matanya tajam tidak berkedip‐kedip memandang ke arah saya. Suara Kakek, makin lama makin dekat kedengaran. Dalam saat‐saat begitu saya tidak dapat berbuat apa‐apa. Saya hanya berserah pada Allah yang Maha Besar. Saya coba membaca beberapa potong ayat al‐Quran, tapi banyak yang salah dan lintang‐pukang. Bacaan yang mestinya didahulukan dibaca di akhir begitu pun sebaliknya. Saya jadi linglung.
Quote:
Suara Kakek kian mendekat. Saya menoleh ke arah datangnya suara Kakek. Memang
saya lihat Kakek mendatangi ke arah saya dengan membawa sepotong kayu. Saya coba melambaikan tangan ke arah Kakek. Lambaian saya itu seolah‐olah tidak dapat dilihat oleh Kakek dalam suasana yang agak samar‐samar itu. Makhluk ganjil itu lalu melihat gerak‐gerik saya.
Dalam warna senja itu, saya melihat Kakek kian dekat dengan saya. Jarak saya dengan Kakek lebih kurang antara sepuluh hingga lima belas kaki (1 kaki=12 inch. 15 kaki=4.5 m). Tetapi, Kakek tidak dapat melihat saya. Suara Kakek cukup jelas saya dengar. Sayangnya, saya tidak dapat menjawab suaranya itu.
"Tak mau mendengarkan perkataan orang inilah akibatnya, aku yang susah,” keluh Kakek.
Saya lihat dia berdiri betul‐betul di sebelah makhluk ganjil itu. Kakek lalu menancapkan kayu yang dibawanya ke tanah. Serentak dengan itu, saya melihat makhluk ganjil membuka kedua belah sayapnya lalu terbang ke arah dahan tualang. Dan mendadak saja saya bisa bersuara dengan selantang‐lantangnya. Kakek terkejut bila dia mendapati dirinya berhadapan dengan saya. Tanpa banyak bicara Kakek lalu mengusap wajah saya dengan tangan kirinya sebanyak tiga kali.
"Kau masuk salah tempat,” kata Kakek lalu membawa saya pulang.
Sampai di jalan dekat rumah, saya dimarahi Kakek. Hampir saja dia mau menampar muka saya. Mujurlah Nenek dapat segera meredakan darah Kakek yang sedang naik itu. Apa yang saya lihat tadi, bagaikan mimpi dan tidak masuk akal. Kalau diceritakan pada siapapun, saya pasti dituduh gila atau berkhayal, paling tidak dianggap suka mengada‐adakan cerita yang tidak masuk akal.
Tetapi, lain pula dengan Kakek. Dia lalu menyuruh saya bercerita. Dia yakin apa yang terjadi pada saya ada hubungannya dengan alam. Ada hubungan dengan makhluk Allah yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar.
Kakek pun mengeluarkan perintah pendek buat saya.
"Jangan memancing di kolam waktu bunga senja. Kalau kau bantah, aku patah‐patahkan leher kamu” begitulah Kakek, dalam perintah yang lembut terselip satu ancaman yang amat menakutkan.
“Paham!” sergahnya.
“Paham, Kek!”
Ternyata peryataan saya itu tidak dapat menenangkan perasaannya. Kakek tidak putus‐putusnya menyatakan kesalnya pada Nenek terhadap perbuatan saya itu. Tetapi, Nenek dengan kesabaran tetap memberitahu Kakek apa yang saya lakukan itu terjadi dengan tidak sengaja.
Quote:
"Barang kali mereka mau menguji sejauh mana kekuatan ilmu yang aku tuntut,” Kakek mengeluh sambil merapikan duduknya, menghadapi hidangan makan malam.
"Tidak usah diingat kejadian itu,” ujar nenek sambil mengulurkan mangkuk nasi pada saya. Nasi pun saya masukkan ke dalam pinggan(piring yang besar). Nenek mengulurkan pula mangkuk nasi pada Kakek. Bila makan malam selesai, saya menyandarkan diri ke dinding. Nenek lalu membasuh pinggan mangkuk di dapur. Kakek mengambil daun sirih dari tepak(kotak buat rokok atapun pensil dan penggaris). Kemudian, Kakek menyuruh saya mengambil daun serunai laut dan kapur di ruang tengah.
Perintah itu saya ikuti. Daun sirih dan serunai laut Kakek campurkan dengan kapur. Ketiga benda itu Kakek hancurkan dengan talapak tangan. Akhirnya direndamkan dalam cawan beberapa saat. Kakek pisahkan daun sirih, daun serunai laut dan kapur dari air di dalam cawan dengan mengunakan penapis (ayakan) yang halus. Sebelum air itu diminum, saya lihat Kakek membaca sesuatu.
"Ini obat yang baik,” katanya sambil merebahkan badan di atas lantai.
Saya lalu masuk ke dalam kamar, saya melihat dan membaca beberapa kitab tua tentang perobatan tradisional yang ditulis dalam tulisan jawi. Jika ada beberapa perkataan Jawa Kuno yang tidak saya pahami, saya akan bertanya pada Kakek dan dia akan memberikan makna perkataan itu pada saya hingga Paham. Memang, obat yang dibuat oleh Kakek cukup berkhasiat untuk dirinya. Batuk Kakek berangsur hilang. Menjelang pukul dua belas malam, batuk Kakek tidak kedengaran lagi. Cuma yang saya dengar bunyi dengkurnya tidak putus‐putus.
Saya mendengar kokok ayam bertalu‐talu. Mata saya masih segar. Tidak ada rasa kantuk. Dua buah kitab lama sudah selesai saya baca. Badan mula terasa dingin. Saya pun merebahkan badan ke atas lantai. Saya memandang daun jendela kamar terbuka dengan sendirinya. Saya bangun untuk menutup daun jendela tersebut. Bila daun jendela saya sentuh, saya mendengar bunyi belalang pelesit berbunyi dengan nyaringnya dari sebelah kanan.
Saya coba mencarinya tetapi belalang itu tidak kelihatan kecuali suaranya yang cukup keras. Angin dini hari yang bertiup lembut membawa bunyi kicau burung murai. Dari mana datangnya, saya sendiri pun tidak tahu. Dengan sepenuh tenaga, daun jendela saya tarik.
Usaha saya gagal. Bagaikan ada suatu daya yang menahan pada daun jendela itu. Saya merasa pula angin terlalu keras bertiup. Saya lihat pohon‐pohon di luar macam digoncang manusia. Saya juga mendengar kawanan burung berak‐berak(sorry tidak tahu padanannya di Indonesia) terbang tinggi sambil berbunyi dengan indahnya. Burung‐burung itu berputar-putar di atas bumbung rumah. Tanpa membuang waktu, saya pun mendongakkan kepala ke langit.
Saya melihat suatu cahaya berjumbaian (bertali‐tali) dari bagian bawah makhluk yang terbang di angkasa menuju ke arah anak bukit di sebelah utara. Dalam saat yang sama juga saya mendengar suara burung celepuk bertalu‐talu dari dahan pohon kekabu ( Ceiba pentandra) tinggi di kanan rumah. Dalam gelap malam yang memanjang itu, saya bagaikan melihat kelebatan makhluk besar melintas di depan mata saya.
Quote:
Saya segera mengambil lampu minyak tanah. Bila saya berputar balik kearah jendela, saya lihat jendela itu dihempas bertalu‐talu dengan kuatnya. Semua rumah bergetar. Kakek terjaga dari tidurnya. Kakek datang dan berdiri di belakang saya. Kakek menyuruh saya pergi dari situ dan mengambil alih tempat saya. Dia berdiri di muka jendela dan burung berek‐berek lalu berputar-putar di atas bumbung rumah kembali.
Kakek pun menekan pangkal hidungnya dengan ibu jari kanan. Matanya tajam menembus malam yang pekat itu. Dengan mudah Kakek merapatkan kedua belah daun jendela lalu menguncinya. Baru dua tapak Kakek melangkah ke arah saya, daun jendela terbuka kembali. Bila Kakek mau merapatkannya kembali, satu pukulan kepak sayap burung hinggap ke muka Kakek. Muka Kakek segera berubah jadi lebam kebiru‐biruan. Kakek jatuh ke atas lantai.
Saya segera mengambil beberapa helai bulu burung yang gugur di sisinya. Saya lihat Kakek berguling‐guling di atas lantai menahan kesakitan. Pipi kanan Kakek berdarah terkena cakaran kaki burung.
Saya jadi kalang‐kabut dan saya lihat ke atas bendul jendela terjulur kepala manusia yang berbulu burung.
Dalam saat‐saat yang genting itu Kakek membuka pakaiannya. Saya tersipu‐sipu melihatnya telanjang bulat di depan saya. Darah dari pipi kanannya terus mengalir. Kakek menyarungkan kain pelekat ( kain sarung tenun ) dalam keadaan terbalik dari kepala ke kaki. Semua perbuatan Kakek itu diperhatikan makhluk bermata merah.
"Ambilkan aku segenggam beras,” jerit Kakek sekuat hati.
Nenek tergesa‐gesa masuk ke dalam kamar dengan membawa segenggam beras erat‐erat dan memberikan kepada Kakek. Kakek pun melemparkan beras yang digenggamnya ke arah makhluk bermata merah. Satu jeritan terdengar di tengah malam yang pekat itu, bersama pekik anjing dan burung hantu bersahut‐sahutan. Makhluk bermata merah lenyap di muka jendela.
Suasana kembali tenang. Nenek membimbing Kakek keluar dari kamar saya. Wajah Kakek pucat. Darah yang mengalir di pipi bertukar menjadi cairan putih yang kental. Baunya cukup busuk seperti bau bangkai.
"Ambilkan aku segenggam beras lagi. Basuh beras itu dengan air kelapa muda. Dan kau jangan terkena cairan kotor ini, pergilah cepat‐cepat. Aku akan membasuh muka. Aku tidak tahan lagi rasanya menahan panas ini. Daging pipi aku seperti kena api,” Kakek berkata dengan tenang pada nenek.
Dan nenek pun ke dapur mengambil beras serta memetik kelapa muda jenis rendah di belakang rumah. Nenek melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Kakek. Sambil membaca beberapa ayat‐ayat al‐Quran Kakek membasuh mukanya dengan air kelapa basuhan beras. Muka Kakek kembali merah dan segar. Air yang jatuh di atas lantai Kakek sapu dengan kain kotor dan kain itu dimasukkan ke dalam satu ember kecil.
"Besok bisa dikubur,” kata Kakek.
Dia bangun lalu merapat ke jendela. Lama juga Kakek berdiri di situ. Saya tidak tahu apa yang di kerjakannya. Bila Kakek mendengar suara azan subuh, barulah Kakek pergi dari muka jendela dan mengajak saya mengambil air sembahyang. Sementara menanti matahari pagi terbit di kaki langit, Kakek membaca al‐Quran.
Saya mengulangi mata pelajaran bahasa Inggris dan membuat pekerjaan rumah (homework) seperti yang disuruh oleh Mr. Ismail.
Mr. Ismail lulusan Kirkby College mengajar di sekolah rendah Inggris (SD) tempat saya. Kemudian kimpoi dengan seorang gadis yang sama-sama mengajar satu sekolah dengannya. Mr. Ismail akhimya pindah mengajar ke Maktab Tentara di Sungai Besi. Dalam pemilihan umum tahun tujuh puluhan, Mr. Ismail maju sebagai calon independen, tetapi kalah ditangan calon Barisan Nasional bagi Kawasan Pangkalan Bharu. Sejak itu cerita tentang Mr. Ismail tidak saya dengar lagi.
Diubah oleh mufidfathul 24-05-2017 20:08
ciptoroso dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas
Tutup