- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#243
Part 11: Merasa Bersalah
Aku bangun dan menyadari tidurku sudah terlalu lama. Pukul 2 siang, gumamku sembari menahan kesal. Sudah tidak ada yang bisa dilakukan jam segini, bahkan ingin mengulat pun canggung.
Rupa-rupanya Wina meninggalkan aku sendirian. Kupastikan itu dari secarik catatan pendek di kaca rias. "Aku duluan, ada kuis jam 11. Kamu tidur seperti mati", demikian Wina menulis.
Hufft, kalau begitu lebih baik cepat-cepat pergi juga. Handuk meggantung di tembok jendela. Saat hendak menariknya, kusempatkan menengok jendela di kanan sana. Terbuka seperti yang sudah-sudah. Melangkah ke kamar mandi, kupastikan kamar itu masih digembok dari luar. Biarlah, asal tidak mengganggu apa baiknya merepoti hal begini, kataku dalam hati.
Dalam 10 menit segalanya beres. Namun ada sesuatu yang mengusik. Sebuah lingkaran merah di kalender meja. Berpikir sekian detik...
Ya Tuhan! Hari ini genap sebulan Wina tinggal di kamar ini. Semestinya sudah dari kemarin-kemarin aku mencarikan tempat tinggal baru. Kalau begini tidak perlu mencari-cari pilihan lain. Wina harus memperpanjang masa tinggalnya di sini.
Betapa banyak waktu disia-siakan, dan aku hanya sibuk menceritakan ini itu yang seram-seram kepada orang lain. Marah bercampur sesal mengaduk-aduk pedalaman kepalaku. Merasa bersalah, itu saja akhirnya.
Tetapi sesungguhnya masih ada kemungkinan lain yang bisa diupayakan. Barangkali saja aku bisa mencari tempat baru hari ini. Kenapa tidak? Bukannya celah ini hanya akan lebih terbuka dengan mencoba? Selama berdiam diri saja, tidak ada jalan baru yang boleh diharap-harap.
Membuka binder, sore nanti ada jadwal kuliah penghabisan. Maksudnya itu mata kuliah terakhir hari ini, yang lain sudah terlewat. Hukum organisasi internasional, kupikir-pikir tidak terlalu buruk menghindar dari kuliah itu. Aku tidak pernah menyukai dosennya, lagipula dia lebih suka bertemu klien daripada para mahasiswa.
Aku memutuskan akan mengitari Pejaten demi mencari kamar kosong. Dengan rencana itu langkahku mantap menuruni anak tangga di depan kamar. Mbak Fani terlihat di bawah, berdiri diam saja dengan tangan menangkup. Ia menatap pembantunya, Mbak Asih yang sedang memangku unyil seperti bayi. Setelah lebih dekat aku baru tahu Mbak Fani sebetulnya sedang menatap anjingnya. Wajahnya gelisah.
"Mau jalan, Mbak?" Kutanya begitu lantaran ia sudah rapi dalam balutan cardigan. Kakinya dialasi boots berhak tebal.
"Iya, nunggu pacar aku."
Aku mengangguk saja pelan, melanjutkan langkah sambil permisi. Rasanya tidak ada yang perlu kucari tahu lagi.
Namun suaranya menyela saat tanganku menggapai gagang pintu. Ia bertanya,"Vin, tadi malam ada yang pakai dapur nggak?"
Aku tidak melihat maksud yang jelas dari pertanyaan itu. Apakah ia tidak suka dapurnya sedikit berantakan atau...ya aku mengerti, mungkin Mbak Fani ingin tahu siapa yang meninggalkan lima butir telur di dalam situ.
"Aku yang pakai, Mbak," jawabku diikuti mengawasi wajahnya, "Ya Allah, lupa banget aku enggak sempat bersihin."
"Bukan, bukan itu. Waktu kamu masak, kamu sempat lihat si unyil nggak?"
Darr! Rasanya seperti tembakan mengenai sasaran yang tidak diduga. Nyaris saja tenggorokan yang belum diisi apa-apa ini tersedak. Baiknya kujawab dengan jujur.
"Lihat, Mbak. Tidur di depan pintu," kataku dengan menunjukkan posisinya.
"Kamu nggak dengar suara unyil dari belakang?"
"Maksud Mbak Fani?"
Dia tampaknya jadi bingung atas pertanyaannya sendiri. Tidak ada kebohongan dari jawabanku. Namun aku baru saja memalsukannya, menyelundupkan kebohongan di antara kebenaran.
Terselinap jauh di dalam benakku, aku tidak tahu apa yang menjadi kebenarannya. Suara anjing itu terdengar berulang kali, mencakar-cakar pintu layaknya meminta pertolongan. Benarkah suara itu hal yang paling nyata?
Sebelum bisa memastikan kebenarannya, aku mendapati bulu kudukku mulai meremang.
"Aku tadi malam nginep di rumah Mbak Asih. Pak Wi kan lagi mudik. Waktu aku pulang, unyil ternyata di halaman belakang. Aneh aja kalau ada yang iseng sampai segitunya."
Kalimat-kalimat yang keluar selanjutnya dari bibir Mbak Fani seakan-akan terlalu pilu. Tentang unyil, anjing yang cukup panjang umur untuk jenisnya. Ia sudah menjadi teman sejak pemiliknya masih melajang. Sebagaimana yang kuperhatikan, Mbak Fani sendiri di rumah ini tanpa keluarga, anjing itu tentu saja satu-satunya sahabat yang tersisa.
Kalau aku tidak salah, unyil pasti kedinginan. Di halaman belakang tidak ada tempat berteduh. Hujan semalam lebat dan berkepanjangan. Ketahanan tubuhnya bisa rontok dalam hitungan jam. Ia butuh pereda panas, mungkin juga dibantu antibiotik.
Tetapi kenapa aku lebih memikirkan anjing daripada apa yang kami alami semalam? Lantas siapa yang menjahatinya malam tadi? Mbak Fani rasa-rasanya tidak membual, namun penglihatan kami bertiga tadi malam juga begitu jelas. Yang disesalkan, kami serempak lebih percaya pada pemandangan ketimbang pendengaran. Bukan, yang paling tepat kami membiarkan diri percaya pada satu objek tanpa menguji kebenarannya.
Dalam waktu yang berdekatan aku merasa bersalah dua kali. Hanya saja aku tetap tidak perlu mengakui yang sebenarnya terjadi.
***
Sampai turun malam, usahaku seperti mengipasi angin. Sekurangnya 20 penjaga kos kutanyai dan hampir semuanya menjawab penuh. Yang sedikit berkata ada kamar kosong, tetapi harganya terlalu muluk, bahkan misalnya aku turut membantu Wina.
Tapi pencarian hari ini ada untungnya, aku bertemu seorang teman kampus yang punya gitar. Dengan agak memaksa kupinjam gitarnya sebuah. Toh dia punya dua. Petak petik ala kadarnya bagus juga untuk mengisi waktu.
Aku kembali dengan langkah gontai. Mau tidak mau Wina harus tinggal di tempatnya sebulan lagi. Itu akan menyusahkan, juga buat diriku. Kesulitannya pasti menyeretku juga. Yang paling kentara, aku jarang pulang. Dengan alasan takut, Wina kerap menahan-nahan supaya aku terus ada di sana.
Sore tadi aku menghubunginya, ponselnya tidak hidup. Sengaja aku tak meneleponnya lagi sampai sekarang.
Aku melangkah masuk ke rumah kos Wina. Ada yang perlu kuambil sebelum pulang ke rumah malam ini. Mbak Fani duduk di kursi makan, diam, berkawan nyala sebuah lampu pijar di bawah tangga. Pembawaannya tidak lebih baik dari siang, bahkan cenderung menahan pucat.
"Unyil gimana, Mbak?"
Ia tak segera menjawab hingga beberapa saat. "Tadi aku bawa ke dokter. Sudah mau makan, mudah-mudahan nggak apa-apa," suaranya datar.
"Syukurlah," kataku sebelum pamit ke atas. Dalam hati aku menebak, wanita itu pasti baru bertengkar dengan pacarnya.
Semula rencanaku tak ingin membuang waktu, mengambil buku kemudian pulang. Akan tetapi begitu menurunkan gitar pikiran berubah. Kukeluarkan alat bersenar itu dari sarungnya, menyetel nada, lalu mulai dengan "Jaded" milik Aerosmith. Bunyi gitar ini ternyata lebih baik dari yang kuharapkan. Maka kulanjutkan dengan memainkan beberapa lagu lagi.
Namun pada pertengahan lagu petikanku melemah, berikut vokal yang menjadi sengau. Keasyikan membuatku hanyut, terlambat menyadari bahwa aku tidak bernyanyi sendirian. Ada mezzo-sopran mengiringi bait-bait. Dan bersama suaraku yang kian melambat, nada perempuan itu kian melena, asalnya dari sisi lemari.
Bagai sendirinya gitar itu terhempas ke kasur. Setengah melompat aku berdiri membawa perasaan bergidik. Suara itu langsung sirna sepenuhnya.
Kukatakan sendirian, aku tidak ingin membuat masalah di rumah ini. Kenapa kalian ini jarang sekali membuat tenang?! Mengatakan begitu saja, keringatku seperti diperas. Entah cara itu mempan atau tidak sama sekali. Yang jelas, nafsuku bermain gitar sudah menguap.
Dengan susah payah kutahan pikiran supaya tidak merasa lebih buruk. Pintu kubuka agar kira-kira bisa mendengar suara orang di bawah. Suara yang tadi tidak terdengar lagi. Tetapi itu malah membuat penasaran, lebih benarnya aku mempertanyakan pendengaranku sendiri. Bukannya telinga dan pikiran juga bisa salah?
Kuputuskan memungut gitar di atas kasur kemudian memainkannya lagi. Setelah beberapa lagu, suara perempuan yang ikut bernyanyi sebelumnya sama sekali tidak terngiang lagi. Barangkali aku harus berbesar hati untuk mengakui bahwa itu halusinasi.
Ada seseorang tiba-tiba memintasi kamar Wina. Kupelankan petikan, langkah itu semakin dekat. Aku menangkap siluet perempuan dari balik gordyn. Ia berhenti di depan kamar Wina.
Ternyata Mbak Fani. Kukira makhluk aneh, sebab aku tak sempat mendengar langkahnya menaiki tangga. Sudah tentu karena pikiranku dihabisi rasa takut.
Setengah ragu-ragu ia bertahan sebentar di depan pintu. Dengan alasan kesopanan aku menyapa dan menyilakannya masuk.
"Kirain siapa," aku berdiri dan merebahkan gitar di kasur, "Maaf jadi agak ganggu malam-malam gini malah genjrang genjreng."
"Ah, nggak apa-apa," katanya lembut sambil mengulum senyum.
Mbak Fani masuk, matanya beberapa saat mengedari ruangan, seolah kamar ini punya cerita dalam kehidupannya dulu. Ia mengenakan celana tidur semata kaki dan tanktop hitam di bagian atas. Aku bisa melihat otot lengannya yang cukup terlatih. Memasuki kepala tiga dengan satu buntut, wanita ini masih pintar merawat tubuh. Secara sadar aku jadi ingin menelan ludah berkali-kali.
"Kamu suka latihan?" katanya ingin tahu.
"Ah, enggak. Begiini-gini aja," jawabku sejujurnya.
Mbak Fani datang ditemani segelas kopi, uap panasnya masih kentara. Agak-agaknya wanita ini sudah menyiapkan kedatangannya ke sini. Aku pantas menaruh pertanyaan atas kehadirannya.
Mbak Fani berbaik hati, menawariku kopi. Menarik juga, pikirku, dan tanpa malu-malu aku minta dibuatkan yang serupa. Ia segera mundur dan menghilang ditelan tangga. Saat pemilik kos ini pergi, aku baru menyadari sikapku yang jauh dari adab. Semestinya aku menolak tawaran itu, paling tidak membuat sendiri. Tapi terlambat, beberapa menit kemudian ia kembali bersama pesananku.
Cukup ada waktu aku habiskan berdua bersama perempuan ini. Kami mengobrol soal yang ringan-ringan, tidak jarang basa-basi. Tapi kupikir aku sangat terbantu atas kehadirannya. Pelan-pelan aku merasa nyaman.
Di luar obrolan tentunya aku memainkan lagu. Selera musiknya cukup baik, setidak-tidaknya mencerminkan fesyen pilihannya. Mbak Fani suka rock dan lebih mengkhususkan diri pada british rock. Tidak masalah, karena aku juga masih dibesarkan dalam generasi musik rock.
Sejumlah pertanyaan yang telah kurancang sebelumnya pada ujungnya tidak pernah kuutarakan. Kenyamanan kian tumbuh, kami tidak canggung bernyanyi bersama dengan suara yang cukup memecah malam. Terkadang aku sadar diri, kurang pantas juga terlalu cepat akrab. Tetapi kesadaran semacam itu tidak berguna. Dan aku suka menangkap basah diri sendiri menatapi Mbak Fani hingga agak lama.
Udara malam ini berhembus liar. Dari luar sana ia menelusup ke kamar Wina, menghempaskan pintu dalam sekali waktu. Drapp!! Pintu tertutup rapat. Kalau saja sendiri aku mungkin akan berjingkat. Tetapi kini aku tak ambil pusing, terus menyanyikan "Don't Go Away" dari Oasis. Untuk yang ini wanita di hadapanku tidak ikut bernyanyi.
Ketika lagu itu selesai, tanpa pernah kuduga sebelumnya Mbak Fani meletakkan kedua telapak tangannya di atas pahaku, nafasnya dihela, tapi aku merasakan gelombang yang dahsyat. Ia berkata, "Suara kamu bagus, Vin."
Aku berusaha menemukan alasan untuk baik-baik saja. Tetapi itu jauh lebih sulit dari yang kubayangkan. Bukan saja merasakan terbius, aku justru berharap-harap ada kemungkinan lain yang tidak pernah kupikirkan.
Dua telapak tangan itu tidak juga berpindah tempat, matanya menatapku seperti mata pedang yang terhunus. Tidak ada lagi yang bisa kuperbuat selain terus berharap sambil berdebar-debar.
Sementara wajahnya dari bola mataku kurang dari sejengkal. Ia tersenyum tipis, senyuman yang kuartikan sangat jauh. Aku membalas senyumnya. Dan naluri manusia kemudian berkehendak sebagaimana hukumnya. Wajah kami kian rapat. Hembusan nafasku terdengar seperti dengusan kuda. Tidak ada lagi yang dapat kuingat, kecuali aku akan melewatkan malam ini ditemani insting hewan.
Sesuatu yang penting telah terlewat, aku baru memulai pengkhianatan tak termaafkan terhadap Wina.
Kedua tangan itu lalu berpindah ke dua sisi bahu yang menyangga tulang leherku. Jari jemarinya lentik tetapi sanggup mencengkram. Seperti peluit dibunyikan, kami saling memulai serangan dengan tak mau kalah.
Namun permulaan itu berakhir singkat. Tangisan bayi dari bawah melerai pertikaian dua pendosa di bawah kesaksian malam. Mbak Fani mengendurkan tangan, tanpa berkata apa-apa langsung meninggalkan kamar.
Nafsu adalah tiran yang hidup kekal dalam pikiran tiap-tiap manusia. Diktator yang mendikte hidup sejak masa kelahiran hingga penghembusan nafas terakhir. Ia selalu memaksa untuk dipatuhi, seperti penguasa yang sulit dibuat tumbang. Aku telah dikalahkan nafsuku sendiri malam ini, dan berharap kekalahan yang lebih telak lagi. Tetapi itu tidak mudah diulang. Mbak Fani sudah kembali pada kewajibannya sebagai seorang ibu, bukan wanita yang memendam api dalam hasratnya.
Aku mengutuk keadaan yang tidak begitu menguntungkan. Padahal semestinya hal ini pantas disyukuri, sebab tidak perlu ada pengkhianatan yang lebih jauh terhadap Wina.
Dengan cepat segalanya tampak tidak menarik lagi. Aku duduk di kursi kayu berhadapan dengan kaca jendela yang terbuka separuh, meratapi hasrat yang gagal tersalurkan. Udara malam masih tidak terlihat kecuali semilirnya yang terasa.
Kuperhatikan diriku yang membias di kaca jendela. Dalam sorotan lampu bayangan itu menampakkan kejengkelan. Kuamati terus pantulan itu dengan perasaan kosong.
Dan belakangan aku tahu ada sesuatu yang memanfaatkan kehampaan pikiranku. Aku melihatnya dari kaca jendela, sosok wanita yang lain, rambutnya nyaris menutupi wajah. Ia duduk di sampingku dalam jarak yang tidak terpisah.
Seketika tubuh ini terhentak dan kesadaranku kembali. Bayangan berambut panjang itu lenyap dari jendela. Arghh! Itu halusinasi sialan. Tak ada apa-apa kecuali pikiranku yang tidak teratur.
Namun sosok itu kembali tampak di jendela. Ia tidak bergerak, diam dalam duduknya yang tegak. Masih berusaha tidak tertipu mata, aku menengok ke kanan. Aku sungguh sendirian. Meskipun kengerian mulai menjalar, aku punya sedikit alasan untuk mengendalikan diri. "Jangan berlebihan, Vin, kamu hanya takut pada ketakutanmu sendiri," bisik diriku sendiri.
Keberanian bisa disusun dengan alasan yang ada. Tetapi kenyataan berkata lain. Mungkin benar ada sesuatu duduk di sisiku. Ia tidak terlihat, tapi kudapati kasur ini lebih mencekung seperti ditindihi beban selain diriku seorang.
Dan cekungan di sampingku bergerak. Sementara bayangan di jendela menunjukkan atraksi yang tidak bisa kutahan lagi. Ada yang merangkul pundakku dari sebelah kiri!
Dalam sekejap aku menggapai tas di meja dan meninggalkan kamar ini. (Bersambung...)
Aku bangun dan menyadari tidurku sudah terlalu lama. Pukul 2 siang, gumamku sembari menahan kesal. Sudah tidak ada yang bisa dilakukan jam segini, bahkan ingin mengulat pun canggung.
Rupa-rupanya Wina meninggalkan aku sendirian. Kupastikan itu dari secarik catatan pendek di kaca rias. "Aku duluan, ada kuis jam 11. Kamu tidur seperti mati", demikian Wina menulis.
Hufft, kalau begitu lebih baik cepat-cepat pergi juga. Handuk meggantung di tembok jendela. Saat hendak menariknya, kusempatkan menengok jendela di kanan sana. Terbuka seperti yang sudah-sudah. Melangkah ke kamar mandi, kupastikan kamar itu masih digembok dari luar. Biarlah, asal tidak mengganggu apa baiknya merepoti hal begini, kataku dalam hati.
Dalam 10 menit segalanya beres. Namun ada sesuatu yang mengusik. Sebuah lingkaran merah di kalender meja. Berpikir sekian detik...
Ya Tuhan! Hari ini genap sebulan Wina tinggal di kamar ini. Semestinya sudah dari kemarin-kemarin aku mencarikan tempat tinggal baru. Kalau begini tidak perlu mencari-cari pilihan lain. Wina harus memperpanjang masa tinggalnya di sini.
Betapa banyak waktu disia-siakan, dan aku hanya sibuk menceritakan ini itu yang seram-seram kepada orang lain. Marah bercampur sesal mengaduk-aduk pedalaman kepalaku. Merasa bersalah, itu saja akhirnya.
Tetapi sesungguhnya masih ada kemungkinan lain yang bisa diupayakan. Barangkali saja aku bisa mencari tempat baru hari ini. Kenapa tidak? Bukannya celah ini hanya akan lebih terbuka dengan mencoba? Selama berdiam diri saja, tidak ada jalan baru yang boleh diharap-harap.
Membuka binder, sore nanti ada jadwal kuliah penghabisan. Maksudnya itu mata kuliah terakhir hari ini, yang lain sudah terlewat. Hukum organisasi internasional, kupikir-pikir tidak terlalu buruk menghindar dari kuliah itu. Aku tidak pernah menyukai dosennya, lagipula dia lebih suka bertemu klien daripada para mahasiswa.
Aku memutuskan akan mengitari Pejaten demi mencari kamar kosong. Dengan rencana itu langkahku mantap menuruni anak tangga di depan kamar. Mbak Fani terlihat di bawah, berdiri diam saja dengan tangan menangkup. Ia menatap pembantunya, Mbak Asih yang sedang memangku unyil seperti bayi. Setelah lebih dekat aku baru tahu Mbak Fani sebetulnya sedang menatap anjingnya. Wajahnya gelisah.
"Mau jalan, Mbak?" Kutanya begitu lantaran ia sudah rapi dalam balutan cardigan. Kakinya dialasi boots berhak tebal.
"Iya, nunggu pacar aku."
Aku mengangguk saja pelan, melanjutkan langkah sambil permisi. Rasanya tidak ada yang perlu kucari tahu lagi.
Namun suaranya menyela saat tanganku menggapai gagang pintu. Ia bertanya,"Vin, tadi malam ada yang pakai dapur nggak?"
Aku tidak melihat maksud yang jelas dari pertanyaan itu. Apakah ia tidak suka dapurnya sedikit berantakan atau...ya aku mengerti, mungkin Mbak Fani ingin tahu siapa yang meninggalkan lima butir telur di dalam situ.
"Aku yang pakai, Mbak," jawabku diikuti mengawasi wajahnya, "Ya Allah, lupa banget aku enggak sempat bersihin."
"Bukan, bukan itu. Waktu kamu masak, kamu sempat lihat si unyil nggak?"
Darr! Rasanya seperti tembakan mengenai sasaran yang tidak diduga. Nyaris saja tenggorokan yang belum diisi apa-apa ini tersedak. Baiknya kujawab dengan jujur.
"Lihat, Mbak. Tidur di depan pintu," kataku dengan menunjukkan posisinya.
"Kamu nggak dengar suara unyil dari belakang?"
"Maksud Mbak Fani?"
Dia tampaknya jadi bingung atas pertanyaannya sendiri. Tidak ada kebohongan dari jawabanku. Namun aku baru saja memalsukannya, menyelundupkan kebohongan di antara kebenaran.
Terselinap jauh di dalam benakku, aku tidak tahu apa yang menjadi kebenarannya. Suara anjing itu terdengar berulang kali, mencakar-cakar pintu layaknya meminta pertolongan. Benarkah suara itu hal yang paling nyata?
Sebelum bisa memastikan kebenarannya, aku mendapati bulu kudukku mulai meremang.
"Aku tadi malam nginep di rumah Mbak Asih. Pak Wi kan lagi mudik. Waktu aku pulang, unyil ternyata di halaman belakang. Aneh aja kalau ada yang iseng sampai segitunya."
Kalimat-kalimat yang keluar selanjutnya dari bibir Mbak Fani seakan-akan terlalu pilu. Tentang unyil, anjing yang cukup panjang umur untuk jenisnya. Ia sudah menjadi teman sejak pemiliknya masih melajang. Sebagaimana yang kuperhatikan, Mbak Fani sendiri di rumah ini tanpa keluarga, anjing itu tentu saja satu-satunya sahabat yang tersisa.
Kalau aku tidak salah, unyil pasti kedinginan. Di halaman belakang tidak ada tempat berteduh. Hujan semalam lebat dan berkepanjangan. Ketahanan tubuhnya bisa rontok dalam hitungan jam. Ia butuh pereda panas, mungkin juga dibantu antibiotik.
Tetapi kenapa aku lebih memikirkan anjing daripada apa yang kami alami semalam? Lantas siapa yang menjahatinya malam tadi? Mbak Fani rasa-rasanya tidak membual, namun penglihatan kami bertiga tadi malam juga begitu jelas. Yang disesalkan, kami serempak lebih percaya pada pemandangan ketimbang pendengaran. Bukan, yang paling tepat kami membiarkan diri percaya pada satu objek tanpa menguji kebenarannya.
Dalam waktu yang berdekatan aku merasa bersalah dua kali. Hanya saja aku tetap tidak perlu mengakui yang sebenarnya terjadi.
***
Sampai turun malam, usahaku seperti mengipasi angin. Sekurangnya 20 penjaga kos kutanyai dan hampir semuanya menjawab penuh. Yang sedikit berkata ada kamar kosong, tetapi harganya terlalu muluk, bahkan misalnya aku turut membantu Wina.
Tapi pencarian hari ini ada untungnya, aku bertemu seorang teman kampus yang punya gitar. Dengan agak memaksa kupinjam gitarnya sebuah. Toh dia punya dua. Petak petik ala kadarnya bagus juga untuk mengisi waktu.
Aku kembali dengan langkah gontai. Mau tidak mau Wina harus tinggal di tempatnya sebulan lagi. Itu akan menyusahkan, juga buat diriku. Kesulitannya pasti menyeretku juga. Yang paling kentara, aku jarang pulang. Dengan alasan takut, Wina kerap menahan-nahan supaya aku terus ada di sana.
Sore tadi aku menghubunginya, ponselnya tidak hidup. Sengaja aku tak meneleponnya lagi sampai sekarang.
Aku melangkah masuk ke rumah kos Wina. Ada yang perlu kuambil sebelum pulang ke rumah malam ini. Mbak Fani duduk di kursi makan, diam, berkawan nyala sebuah lampu pijar di bawah tangga. Pembawaannya tidak lebih baik dari siang, bahkan cenderung menahan pucat.
"Unyil gimana, Mbak?"
Ia tak segera menjawab hingga beberapa saat. "Tadi aku bawa ke dokter. Sudah mau makan, mudah-mudahan nggak apa-apa," suaranya datar.
"Syukurlah," kataku sebelum pamit ke atas. Dalam hati aku menebak, wanita itu pasti baru bertengkar dengan pacarnya.
Semula rencanaku tak ingin membuang waktu, mengambil buku kemudian pulang. Akan tetapi begitu menurunkan gitar pikiran berubah. Kukeluarkan alat bersenar itu dari sarungnya, menyetel nada, lalu mulai dengan "Jaded" milik Aerosmith. Bunyi gitar ini ternyata lebih baik dari yang kuharapkan. Maka kulanjutkan dengan memainkan beberapa lagu lagi.
Namun pada pertengahan lagu petikanku melemah, berikut vokal yang menjadi sengau. Keasyikan membuatku hanyut, terlambat menyadari bahwa aku tidak bernyanyi sendirian. Ada mezzo-sopran mengiringi bait-bait. Dan bersama suaraku yang kian melambat, nada perempuan itu kian melena, asalnya dari sisi lemari.
Bagai sendirinya gitar itu terhempas ke kasur. Setengah melompat aku berdiri membawa perasaan bergidik. Suara itu langsung sirna sepenuhnya.
Kukatakan sendirian, aku tidak ingin membuat masalah di rumah ini. Kenapa kalian ini jarang sekali membuat tenang?! Mengatakan begitu saja, keringatku seperti diperas. Entah cara itu mempan atau tidak sama sekali. Yang jelas, nafsuku bermain gitar sudah menguap.
Dengan susah payah kutahan pikiran supaya tidak merasa lebih buruk. Pintu kubuka agar kira-kira bisa mendengar suara orang di bawah. Suara yang tadi tidak terdengar lagi. Tetapi itu malah membuat penasaran, lebih benarnya aku mempertanyakan pendengaranku sendiri. Bukannya telinga dan pikiran juga bisa salah?
Kuputuskan memungut gitar di atas kasur kemudian memainkannya lagi. Setelah beberapa lagu, suara perempuan yang ikut bernyanyi sebelumnya sama sekali tidak terngiang lagi. Barangkali aku harus berbesar hati untuk mengakui bahwa itu halusinasi.
Ada seseorang tiba-tiba memintasi kamar Wina. Kupelankan petikan, langkah itu semakin dekat. Aku menangkap siluet perempuan dari balik gordyn. Ia berhenti di depan kamar Wina.
Ternyata Mbak Fani. Kukira makhluk aneh, sebab aku tak sempat mendengar langkahnya menaiki tangga. Sudah tentu karena pikiranku dihabisi rasa takut.
Setengah ragu-ragu ia bertahan sebentar di depan pintu. Dengan alasan kesopanan aku menyapa dan menyilakannya masuk.
"Kirain siapa," aku berdiri dan merebahkan gitar di kasur, "Maaf jadi agak ganggu malam-malam gini malah genjrang genjreng."
"Ah, nggak apa-apa," katanya lembut sambil mengulum senyum.
Mbak Fani masuk, matanya beberapa saat mengedari ruangan, seolah kamar ini punya cerita dalam kehidupannya dulu. Ia mengenakan celana tidur semata kaki dan tanktop hitam di bagian atas. Aku bisa melihat otot lengannya yang cukup terlatih. Memasuki kepala tiga dengan satu buntut, wanita ini masih pintar merawat tubuh. Secara sadar aku jadi ingin menelan ludah berkali-kali.
"Kamu suka latihan?" katanya ingin tahu.
"Ah, enggak. Begiini-gini aja," jawabku sejujurnya.
Mbak Fani datang ditemani segelas kopi, uap panasnya masih kentara. Agak-agaknya wanita ini sudah menyiapkan kedatangannya ke sini. Aku pantas menaruh pertanyaan atas kehadirannya.
Mbak Fani berbaik hati, menawariku kopi. Menarik juga, pikirku, dan tanpa malu-malu aku minta dibuatkan yang serupa. Ia segera mundur dan menghilang ditelan tangga. Saat pemilik kos ini pergi, aku baru menyadari sikapku yang jauh dari adab. Semestinya aku menolak tawaran itu, paling tidak membuat sendiri. Tapi terlambat, beberapa menit kemudian ia kembali bersama pesananku.
Cukup ada waktu aku habiskan berdua bersama perempuan ini. Kami mengobrol soal yang ringan-ringan, tidak jarang basa-basi. Tapi kupikir aku sangat terbantu atas kehadirannya. Pelan-pelan aku merasa nyaman.
Di luar obrolan tentunya aku memainkan lagu. Selera musiknya cukup baik, setidak-tidaknya mencerminkan fesyen pilihannya. Mbak Fani suka rock dan lebih mengkhususkan diri pada british rock. Tidak masalah, karena aku juga masih dibesarkan dalam generasi musik rock.
Sejumlah pertanyaan yang telah kurancang sebelumnya pada ujungnya tidak pernah kuutarakan. Kenyamanan kian tumbuh, kami tidak canggung bernyanyi bersama dengan suara yang cukup memecah malam. Terkadang aku sadar diri, kurang pantas juga terlalu cepat akrab. Tetapi kesadaran semacam itu tidak berguna. Dan aku suka menangkap basah diri sendiri menatapi Mbak Fani hingga agak lama.
Udara malam ini berhembus liar. Dari luar sana ia menelusup ke kamar Wina, menghempaskan pintu dalam sekali waktu. Drapp!! Pintu tertutup rapat. Kalau saja sendiri aku mungkin akan berjingkat. Tetapi kini aku tak ambil pusing, terus menyanyikan "Don't Go Away" dari Oasis. Untuk yang ini wanita di hadapanku tidak ikut bernyanyi.
Ketika lagu itu selesai, tanpa pernah kuduga sebelumnya Mbak Fani meletakkan kedua telapak tangannya di atas pahaku, nafasnya dihela, tapi aku merasakan gelombang yang dahsyat. Ia berkata, "Suara kamu bagus, Vin."
Aku berusaha menemukan alasan untuk baik-baik saja. Tetapi itu jauh lebih sulit dari yang kubayangkan. Bukan saja merasakan terbius, aku justru berharap-harap ada kemungkinan lain yang tidak pernah kupikirkan.
Dua telapak tangan itu tidak juga berpindah tempat, matanya menatapku seperti mata pedang yang terhunus. Tidak ada lagi yang bisa kuperbuat selain terus berharap sambil berdebar-debar.
Sementara wajahnya dari bola mataku kurang dari sejengkal. Ia tersenyum tipis, senyuman yang kuartikan sangat jauh. Aku membalas senyumnya. Dan naluri manusia kemudian berkehendak sebagaimana hukumnya. Wajah kami kian rapat. Hembusan nafasku terdengar seperti dengusan kuda. Tidak ada lagi yang dapat kuingat, kecuali aku akan melewatkan malam ini ditemani insting hewan.
Sesuatu yang penting telah terlewat, aku baru memulai pengkhianatan tak termaafkan terhadap Wina.
Kedua tangan itu lalu berpindah ke dua sisi bahu yang menyangga tulang leherku. Jari jemarinya lentik tetapi sanggup mencengkram. Seperti peluit dibunyikan, kami saling memulai serangan dengan tak mau kalah.
Namun permulaan itu berakhir singkat. Tangisan bayi dari bawah melerai pertikaian dua pendosa di bawah kesaksian malam. Mbak Fani mengendurkan tangan, tanpa berkata apa-apa langsung meninggalkan kamar.
Nafsu adalah tiran yang hidup kekal dalam pikiran tiap-tiap manusia. Diktator yang mendikte hidup sejak masa kelahiran hingga penghembusan nafas terakhir. Ia selalu memaksa untuk dipatuhi, seperti penguasa yang sulit dibuat tumbang. Aku telah dikalahkan nafsuku sendiri malam ini, dan berharap kekalahan yang lebih telak lagi. Tetapi itu tidak mudah diulang. Mbak Fani sudah kembali pada kewajibannya sebagai seorang ibu, bukan wanita yang memendam api dalam hasratnya.
Aku mengutuk keadaan yang tidak begitu menguntungkan. Padahal semestinya hal ini pantas disyukuri, sebab tidak perlu ada pengkhianatan yang lebih jauh terhadap Wina.
Dengan cepat segalanya tampak tidak menarik lagi. Aku duduk di kursi kayu berhadapan dengan kaca jendela yang terbuka separuh, meratapi hasrat yang gagal tersalurkan. Udara malam masih tidak terlihat kecuali semilirnya yang terasa.
Kuperhatikan diriku yang membias di kaca jendela. Dalam sorotan lampu bayangan itu menampakkan kejengkelan. Kuamati terus pantulan itu dengan perasaan kosong.
Dan belakangan aku tahu ada sesuatu yang memanfaatkan kehampaan pikiranku. Aku melihatnya dari kaca jendela, sosok wanita yang lain, rambutnya nyaris menutupi wajah. Ia duduk di sampingku dalam jarak yang tidak terpisah.
Seketika tubuh ini terhentak dan kesadaranku kembali. Bayangan berambut panjang itu lenyap dari jendela. Arghh! Itu halusinasi sialan. Tak ada apa-apa kecuali pikiranku yang tidak teratur.
Namun sosok itu kembali tampak di jendela. Ia tidak bergerak, diam dalam duduknya yang tegak. Masih berusaha tidak tertipu mata, aku menengok ke kanan. Aku sungguh sendirian. Meskipun kengerian mulai menjalar, aku punya sedikit alasan untuk mengendalikan diri. "Jangan berlebihan, Vin, kamu hanya takut pada ketakutanmu sendiri," bisik diriku sendiri.
Keberanian bisa disusun dengan alasan yang ada. Tetapi kenyataan berkata lain. Mungkin benar ada sesuatu duduk di sisiku. Ia tidak terlihat, tapi kudapati kasur ini lebih mencekung seperti ditindihi beban selain diriku seorang.
Dan cekungan di sampingku bergerak. Sementara bayangan di jendela menunjukkan atraksi yang tidak bisa kutahan lagi. Ada yang merangkul pundakku dari sebelah kiri!
Dalam sekejap aku menggapai tas di meja dan meninggalkan kamar ini. (Bersambung...)
Diubah oleh pakdhegober 15-08-2019 17:45
bebyzha dan 12 lainnya memberi reputasi
13