- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#4397
PART 70
Satu minggu sudah si cantik bersama Nenek dan Kakeknya. Dan hari ini Gua bersama Mba Laras berniat untuk mengunjungi mereka, sedangkan Nenek pulang ke rumahnya, karena sudah lama rumah itu ditinggalkan semenjak Nenek ikut menemani Gua di rumah baru.
"Za, saking senangnya mungkin ya Kakek dan Neneknya sampai lupa ngabarin kita", ucap Mba Laras dari bangku samping Gua di dalam mobil.
"Hahaha iya Mba, mungkin aja, namanya juga cucu pertama.. jadi yaa.. Sebagai pengganti kerinduan anak mereka juga, aku sih gak khawatir, mertua sendiri ini", jawab Gua sambil tetap fokus mengendarai mobil.
Sekitar pukul sepuluh pagi Gua dan Mba Laras sudah sampai di kediaman keluarga Echa, Gua turun dari mobil karena tidak biasanya pintu pagar rumahnya tertutup rapat, biasanya kalau Gua berkunjung sekalipun pagarnya tertutup, seorang satpam rumah pribadi keluarganya langsung membukakan pagar, karena sudah hafal dengan mobil Gua.
Gua melongok ke dalam sana dari luar pagar, tapi sepi sekali, tidak nampak mobil milik Papah dan Mamah mertua Gua di area parkirannya. Lalu Gua berjalan ke sisi kanan, dimana letak bel rumah berada, cukup lama Gua menekan bel tersebut tapi tidak ada yang keluar dari dalam rumah, Gua menengok ke pos satpam tapi di situ juga pintu pos tertutup. Aneh, pikir Gua.
"Gimana Za ? Ada orang ?", tanya Mba Laras yang ternyata sudah turun dari mobil.
Gua menengok kearah Mba Laras, dan menggelengkan kepala pelan seraya mengerenyitkan kening. "Pada pergi kayaknya Mba, tapi kok satpam juga gak ada ya sama si Bibi.. Biasanya mereka ada di dalam Mba..", jawab Gua lalu kembali memncoba menekan bel beberapa kali lagi.
"Pada pergi kemana ya Za ?".
Gua mengangkat bahu. "Entah Mba..", jawab Gua.
"Mmm.. Coba kamu telpon mertua kamu, mungkin mereka lagi ajak jalan-jalan si dede", saran Mba Laras.
Gua pun langsung mengeluarkan hp dan mencari kontak Mamah mertua Gua, setelah menekan tombol call, suara penjawab mesin otomatis langsung terdengar dari ujung sana, memberitahukan kalau nomor yang anda hubungi sedang sibuk dan berada diluar jangkauan.
"Enggak aktif nomornya Mba, coba aku telpon rumahnya deh", ucap Gua.
Kembali Gua menekan nomor telpon rumah keluarga istri Gua itu, dan ternyata sama saja, nomor tidak aktif. Ini aneh, sangat aneh menurut Gua. Karena setelah tiga hari si cantik menginap, Papah mertua Gua masih mengabari, menelpon Gua memberikan kabar anak Gua yang masih menginap bersama mereka.
"Kamu enggak ada kontak keluarganya yang lain Za ? Duh, kok Mba jadi khawatir ya Za..", ucap Mba Laras lagi dengan sedikit cemas.
Gua menggelengkan kepala, lalu berpikir hal yang sama dengan Mba Laras, takut terjadi apa-apa dengan si cantik dan mertua Gua itu. Tapi buru-buru Gua tepis fikiran negatif tersebut karena Gua yakin mertua Gua menjaga anak Gua dengan baik. Gua tidak mau berfikir yang aneh-aneh dulu.
"Enggak Mba, insha Alloh mereka semua baik-baik aja, mungkin lagi jalan-jalan Mba, kita tunggu di sini atau gimana Mba ?", sejujurnya Gua pun khawatir, tapi Gua mencoba untuk menghilangkan rasa cemas dan khawatir tersebut.
"Mmm.. Gimana ya, ah.. Kita tanya aja pos satpam komplek di depan tadi Za, gimana ? Pasti mereka tau informasi Za, bukan apa-apa soalnya kok satpam rumah ikutan gak ada sama si Bibi..", ucap Mba Laras yang masih cemas.
Gua berfikir sejenak, sebenarnya Gua tidak ingin mengikuti saran Mba Laras, karena Gua pun sama khawatir dengan Ibu Gua itu. Dan jelaslah Gua tidak sanggup jika ada informasi yang Gua takuti. Tapi ya mau tidak mau Gua mengikuti saran Mba Laras karena dia memaksa kami harus menanyakan keluarga Echa kepada satpam komplek.
Kami berdua sekarang sudah sampai di pos satpam komplek perumahan, tepat di depan jalur masuk komplek perumahan elit ini. Gua dan Mba Laras masuk ke dalam pos, lalu menanyakan maksud kedatangan kami.
"Permisi Pak", sapa Gua kepada salah satunya dari dua satpam yang sedang duduk di dalam pos ini.
"Oh iya Mas, Mba, ada yang bisa saya bantu ?", jawab satpam tersebut.
"Saya mau menanyakan mertua saya Pak, yang tinggal di rumah no. xx itu", ucap Gua lagi.
"Maaf, anda siapanya ya Mas ? Bisa tunjukkan kartu identitasnya dahulu ?".
"Saya menantunya Pak, oh boleh, sebentar...", Gua pun mengambil dompet dari saku celana bagian belakang, lalu membukanya dan mengambil ktp dari dompet tersebut,
"Ini Pak silahkan..", ucap Gua seraya memberikan ktp kepada satpam itu.
"Oh iya, Reza Agathadera ya...", ucapnya seraya memeriksa nama Gua pada ktp yang ia pegang,
"Maaf ya Mas, saya harus lihat ktp nya karena Mas menanyakan salah satu warga di lingkungan ini, saya hanya melakukan prosedural..", lalu ktp Gua dikembalikan lagi.
"Iya gak apa-apa.. Jadi gimana Pak ? Apa Bapak tau kemana mertua saya ?", tanya Gua lagi.
"Rumah nomor xx ya tadi Mas, oh atas nama Bapak Wisnu ya ? Yang baru pensiun tahun lalu ?".
"Iya betul Pak, itu nama mertua saya".
"Beliau baru pergi dua hari lalu Mas, pindah rumah sih yang saya dengar",
"Memangnya tidak bilang sama Mas nya ?".
Degh...Jantung Gua berdegup kencang mendengar ucapan tersebut.
"Pindah ?!! Pindah kemana Pak ?!", tanya Mba Laras kali ini dengan nada suara yang terkejut.
"Iya Bu, saya juga hanya mendengar dari Pak RT, perginya pun saya tidak melihat, hanya mendengar saja informasi bahwa Pak Wisnu beserta keluarganya pindah rumah..",
"Pindah kemananya saya juga tidak tau Bu..", jawabnya.
"Pak, kalau gitu, tolong antarkan kami ke rumah Pak RT Pak, karena kami tidak tau kalau mereka pindah", ucap Mba Laras lagi.
Singkat cerita pada akhirnya Gua dan Mba Laras masuk ke dalam mobil lagi dan mengikuti satpam yang mengendarai motornya di depan kami, menuju rumah Pak RT. Sesampainya di rumah Pak RT, kami bertiga menanyakan kepindahan mertua Gua itu, dan apa yang Gua dengar dari satpam sebelumnya kembali diulang oleh Pak RT, ternyata benar, kedua mertua Gua sudah pergi dari rumahnya sejak dua hari lalu, bahkan pembantu dan satpam pribadi mereka sudah tidak bekerja di situ sejak satu minggu lebih.
"Mohon maaf saya sendiri tidak diberitahukan oleh Pak Wisnu kemana mereka akan pindah, saya memang curiga juga, bukan bermaksud apa-apa, tapi kok seperti dadakan gitu...", ucap Pak RT kepada kami.
Gua hanya bisa terpaku mendengar ucapan lelaki paruh baya itu. Gua tidak bisa memahami maksud dari kepindahan mertua Gua.
"Pak, apa Bapak lihat mereka membawa anak bayi ?", tanya Mba Laras kepada Pak RT.
"Oh.. Ya ya ya saya ingat, Ibu Wisnu menggendong cucunya pada saat pamit.. Ya dia bawa seorang anak bayi, dia bilang itu cucunya, anak dari almarhumah putri mereka", jawab Pak RT,
"Maaf ini Mba, memang ada apa ya ? Sepertinya ada masalah yang sedang kalian hadapi ? Mohon maaf ini Mba", tanya Pak RT kepada Mba Laras.
"Pak, saya ini besannya, dan ini anak saya, menantu mereka", jawab Mba Laras seraya menepuk paha Gua,
"Mereka memang membawa cucu saya, cucu mereka juga, tapi tidak bilang kalau akan pindah rumah... Sekarang Bapak paham kenapa kami khawatir dan kaget kan setelah anda bilang mereka sudah pindah ?".
Pak RT dan Satpam sebelumnya terkejut. "Ehm.. Maaf Mba, anda benar-benar tidak dikabari oleh Pak Wisnu ?", tanya Pak RT lagi.
Mba Laras menghela nafas dengan kasar lalu mengangguk dengan cepat. "Iya Pak, betul.. Kami sama sekali tidak tau kalo mereka akan pindahan, apalagi... Apalagi... Ya Alloh!! Hiks.. Hiks..", Mba Laras beristigfar dan langsung menutupi wajahnya karena sudah tidak kuat menahan tangis,
"Astagfirullooohh.. Dedeeee... Kamu dimana Naakk..", teriaknya memanggil nama anak Gua yang juga cucunya dalam tangis.
Pak RT mencoba menenangkan Mba Laras, sedangkan Pak Satpam menyodorkan segelas teh manis yang memang sudah disuguhkan diatas meja kepada Mba Laras.
Gua ? Gua masih diam tidak bisa memahami apa maksud dari semua ini. Untuk apa mereka membawa anak Gua, pindah ? Menjauhkan Gua dari darah daging Gua sendiri ?.
"Za, saking senangnya mungkin ya Kakek dan Neneknya sampai lupa ngabarin kita", ucap Mba Laras dari bangku samping Gua di dalam mobil.
"Hahaha iya Mba, mungkin aja, namanya juga cucu pertama.. jadi yaa.. Sebagai pengganti kerinduan anak mereka juga, aku sih gak khawatir, mertua sendiri ini", jawab Gua sambil tetap fokus mengendarai mobil.
Sekitar pukul sepuluh pagi Gua dan Mba Laras sudah sampai di kediaman keluarga Echa, Gua turun dari mobil karena tidak biasanya pintu pagar rumahnya tertutup rapat, biasanya kalau Gua berkunjung sekalipun pagarnya tertutup, seorang satpam rumah pribadi keluarganya langsung membukakan pagar, karena sudah hafal dengan mobil Gua.
Gua melongok ke dalam sana dari luar pagar, tapi sepi sekali, tidak nampak mobil milik Papah dan Mamah mertua Gua di area parkirannya. Lalu Gua berjalan ke sisi kanan, dimana letak bel rumah berada, cukup lama Gua menekan bel tersebut tapi tidak ada yang keluar dari dalam rumah, Gua menengok ke pos satpam tapi di situ juga pintu pos tertutup. Aneh, pikir Gua.
"Gimana Za ? Ada orang ?", tanya Mba Laras yang ternyata sudah turun dari mobil.
Gua menengok kearah Mba Laras, dan menggelengkan kepala pelan seraya mengerenyitkan kening. "Pada pergi kayaknya Mba, tapi kok satpam juga gak ada ya sama si Bibi.. Biasanya mereka ada di dalam Mba..", jawab Gua lalu kembali memncoba menekan bel beberapa kali lagi.
"Pada pergi kemana ya Za ?".
Gua mengangkat bahu. "Entah Mba..", jawab Gua.
"Mmm.. Coba kamu telpon mertua kamu, mungkin mereka lagi ajak jalan-jalan si dede", saran Mba Laras.
Gua pun langsung mengeluarkan hp dan mencari kontak Mamah mertua Gua, setelah menekan tombol call, suara penjawab mesin otomatis langsung terdengar dari ujung sana, memberitahukan kalau nomor yang anda hubungi sedang sibuk dan berada diluar jangkauan.
"Enggak aktif nomornya Mba, coba aku telpon rumahnya deh", ucap Gua.
Kembali Gua menekan nomor telpon rumah keluarga istri Gua itu, dan ternyata sama saja, nomor tidak aktif. Ini aneh, sangat aneh menurut Gua. Karena setelah tiga hari si cantik menginap, Papah mertua Gua masih mengabari, menelpon Gua memberikan kabar anak Gua yang masih menginap bersama mereka.
"Kamu enggak ada kontak keluarganya yang lain Za ? Duh, kok Mba jadi khawatir ya Za..", ucap Mba Laras lagi dengan sedikit cemas.
Gua menggelengkan kepala, lalu berpikir hal yang sama dengan Mba Laras, takut terjadi apa-apa dengan si cantik dan mertua Gua itu. Tapi buru-buru Gua tepis fikiran negatif tersebut karena Gua yakin mertua Gua menjaga anak Gua dengan baik. Gua tidak mau berfikir yang aneh-aneh dulu.
"Enggak Mba, insha Alloh mereka semua baik-baik aja, mungkin lagi jalan-jalan Mba, kita tunggu di sini atau gimana Mba ?", sejujurnya Gua pun khawatir, tapi Gua mencoba untuk menghilangkan rasa cemas dan khawatir tersebut.
"Mmm.. Gimana ya, ah.. Kita tanya aja pos satpam komplek di depan tadi Za, gimana ? Pasti mereka tau informasi Za, bukan apa-apa soalnya kok satpam rumah ikutan gak ada sama si Bibi..", ucap Mba Laras yang masih cemas.
Gua berfikir sejenak, sebenarnya Gua tidak ingin mengikuti saran Mba Laras, karena Gua pun sama khawatir dengan Ibu Gua itu. Dan jelaslah Gua tidak sanggup jika ada informasi yang Gua takuti. Tapi ya mau tidak mau Gua mengikuti saran Mba Laras karena dia memaksa kami harus menanyakan keluarga Echa kepada satpam komplek.
Kami berdua sekarang sudah sampai di pos satpam komplek perumahan, tepat di depan jalur masuk komplek perumahan elit ini. Gua dan Mba Laras masuk ke dalam pos, lalu menanyakan maksud kedatangan kami.
"Permisi Pak", sapa Gua kepada salah satunya dari dua satpam yang sedang duduk di dalam pos ini.
"Oh iya Mas, Mba, ada yang bisa saya bantu ?", jawab satpam tersebut.
"Saya mau menanyakan mertua saya Pak, yang tinggal di rumah no. xx itu", ucap Gua lagi.
"Maaf, anda siapanya ya Mas ? Bisa tunjukkan kartu identitasnya dahulu ?".
"Saya menantunya Pak, oh boleh, sebentar...", Gua pun mengambil dompet dari saku celana bagian belakang, lalu membukanya dan mengambil ktp dari dompet tersebut,
"Ini Pak silahkan..", ucap Gua seraya memberikan ktp kepada satpam itu.
"Oh iya, Reza Agathadera ya...", ucapnya seraya memeriksa nama Gua pada ktp yang ia pegang,
"Maaf ya Mas, saya harus lihat ktp nya karena Mas menanyakan salah satu warga di lingkungan ini, saya hanya melakukan prosedural..", lalu ktp Gua dikembalikan lagi.
"Iya gak apa-apa.. Jadi gimana Pak ? Apa Bapak tau kemana mertua saya ?", tanya Gua lagi.
"Rumah nomor xx ya tadi Mas, oh atas nama Bapak Wisnu ya ? Yang baru pensiun tahun lalu ?".
"Iya betul Pak, itu nama mertua saya".
"Beliau baru pergi dua hari lalu Mas, pindah rumah sih yang saya dengar",
"Memangnya tidak bilang sama Mas nya ?".
Degh...Jantung Gua berdegup kencang mendengar ucapan tersebut.
"Pindah ?!! Pindah kemana Pak ?!", tanya Mba Laras kali ini dengan nada suara yang terkejut.
"Iya Bu, saya juga hanya mendengar dari Pak RT, perginya pun saya tidak melihat, hanya mendengar saja informasi bahwa Pak Wisnu beserta keluarganya pindah rumah..",
"Pindah kemananya saya juga tidak tau Bu..", jawabnya.
"Pak, kalau gitu, tolong antarkan kami ke rumah Pak RT Pak, karena kami tidak tau kalau mereka pindah", ucap Mba Laras lagi.
Singkat cerita pada akhirnya Gua dan Mba Laras masuk ke dalam mobil lagi dan mengikuti satpam yang mengendarai motornya di depan kami, menuju rumah Pak RT. Sesampainya di rumah Pak RT, kami bertiga menanyakan kepindahan mertua Gua itu, dan apa yang Gua dengar dari satpam sebelumnya kembali diulang oleh Pak RT, ternyata benar, kedua mertua Gua sudah pergi dari rumahnya sejak dua hari lalu, bahkan pembantu dan satpam pribadi mereka sudah tidak bekerja di situ sejak satu minggu lebih.
"Mohon maaf saya sendiri tidak diberitahukan oleh Pak Wisnu kemana mereka akan pindah, saya memang curiga juga, bukan bermaksud apa-apa, tapi kok seperti dadakan gitu...", ucap Pak RT kepada kami.
Gua hanya bisa terpaku mendengar ucapan lelaki paruh baya itu. Gua tidak bisa memahami maksud dari kepindahan mertua Gua.
"Pak, apa Bapak lihat mereka membawa anak bayi ?", tanya Mba Laras kepada Pak RT.
"Oh.. Ya ya ya saya ingat, Ibu Wisnu menggendong cucunya pada saat pamit.. Ya dia bawa seorang anak bayi, dia bilang itu cucunya, anak dari almarhumah putri mereka", jawab Pak RT,
"Maaf ini Mba, memang ada apa ya ? Sepertinya ada masalah yang sedang kalian hadapi ? Mohon maaf ini Mba", tanya Pak RT kepada Mba Laras.
"Pak, saya ini besannya, dan ini anak saya, menantu mereka", jawab Mba Laras seraya menepuk paha Gua,
"Mereka memang membawa cucu saya, cucu mereka juga, tapi tidak bilang kalau akan pindah rumah... Sekarang Bapak paham kenapa kami khawatir dan kaget kan setelah anda bilang mereka sudah pindah ?".
Pak RT dan Satpam sebelumnya terkejut. "Ehm.. Maaf Mba, anda benar-benar tidak dikabari oleh Pak Wisnu ?", tanya Pak RT lagi.
Mba Laras menghela nafas dengan kasar lalu mengangguk dengan cepat. "Iya Pak, betul.. Kami sama sekali tidak tau kalo mereka akan pindahan, apalagi... Apalagi... Ya Alloh!! Hiks.. Hiks..", Mba Laras beristigfar dan langsung menutupi wajahnya karena sudah tidak kuat menahan tangis,
"Astagfirullooohh.. Dedeeee... Kamu dimana Naakk..", teriaknya memanggil nama anak Gua yang juga cucunya dalam tangis.
Pak RT mencoba menenangkan Mba Laras, sedangkan Pak Satpam menyodorkan segelas teh manis yang memang sudah disuguhkan diatas meja kepada Mba Laras.
Gua ? Gua masih diam tidak bisa memahami apa maksud dari semua ini. Untuk apa mereka membawa anak Gua, pindah ? Menjauhkan Gua dari darah daging Gua sendiri ?.
Quote:
Quote:
...
...
...
Di suatu malam, angin bertiup cukup kencang di bulan september tahun ini. Gua sedang berdiri di hadapan Echa. Ya tepat dihadapan Gua sebuah gundukan tanah di halaman belakang rumah ini, Gua menemuinya (lagi).
"Sayang, kamu tau kan apa yang sedang terjadi pada kami semua di sini ?
Cha.. Aku gak mau terjadi keributan antara aku dan kedua orangtua kamu Cha.. Aku tau kamu pasti sedih melihat semua ini... Tapi aku pun gak tau harus bagaimana lagi Cha...
Mereka.. Mereka.. Mereka rebut anak kita Cha... Apa salah aku Cha sampai kedua orangtua kamu mengambil anak kita Cha ?
Bukan begini Cha caranya... Bukan seperti ini Cha...
Maafin aku sayang... Maafin aku... Maaf...".
"Sayang, kamu tau kan apa yang sedang terjadi pada kami semua di sini ?
Cha.. Aku gak mau terjadi keributan antara aku dan kedua orangtua kamu Cha.. Aku tau kamu pasti sedih melihat semua ini... Tapi aku pun gak tau harus bagaimana lagi Cha...
Mereka.. Mereka.. Mereka rebut anak kita Cha... Apa salah aku Cha sampai kedua orangtua kamu mengambil anak kita Cha ?
Bukan begini Cha caranya... Bukan seperti ini Cha...
Maafin aku sayang... Maafin aku... Maaf...".
Quote:
***
Gua tau kasih sayang Mba Laras kepada Gua dan anak Gua sama seperti seorang Ibu kandung yang menyayangi anak kandungnya sendiri, Gua tidak meragukan hal tersebut. Bahkan jika Gua harus membandingkan, dengan Ibu Gua sendiri, Almh. Ny. Hikari dan Ibu tiri Gua itu, Mba Laras, sudah tentu kasih sayang yang lebih nyata Gua dapatkan dari Mba Laras, walaupun kami dekat baru setahun belakangan ini. Begitu sayangnya Mba Laras kepada Gua hingga saat kepergian Echa dia lah yang selalu menemani Gua, dan rasa sayangnya kepada anak Gua tidak perlu diragukan lagi.
Setiap malam Gua memeluk foto si cantik bersama cardigans hitam milik ibundanya, dalam kamar ini Gua menangis, merindukan putri kecil yang belum dua bulan bersama Gua. Tidak jauh beda keadaan di kamar bawah, dimana Ibu Gua, Mba Laras menangis pilu merindukan cucunya. Dia menangis sepanjang hari, memeluk baju bayi yang selalu dipakai oleh si cantik, baju berwarna pink dan bermotif kupu-kupu.
Sudah sepuluh hari Gua tidak bertemu dengan anak Gua. Anak ku, permata hati ku, buah hati ku, cantik ku, cahaya hidup ku... Kamu dimana Nak...
"Mba, makan dulu Mba..", ucap Gua yang duduk di samping Nenek.
Mba Laras hanya melamun dengan wajah pucat karena dia sudah jatuh sakit selama dua hari lalu. Suapan bubur yang diberikan oleh Nenek hanya dimakan dua suap saja. Gua terenyuh melihat kondisinya yang tidak sehat seperi itu, dia tidak lagi ceria seperti sebelumnya. Tidak ada lagi keceriaan karena terlalu sakit dan kalutnya akibat kehilangan seorang bayi yang ia anggap sebagai cucunya sendiri.
Gua berjalan keluar dan duduk di sofa ruang tamu di samping Luna yang sebelumnya membelikan bubur untuk Mba Laras.
"Masih belum mau makan ya Za ?", tanya Luna.
Gua mengangguk lemah. "Gak tega aku liat kondisinya Lun..", jawab Gua pelan.
"Za, apa gak sebaiknya kita lapor ke pihak berwajib masalah ini ?", tanya Luna lagi.
Pertanyaan dan saran dari Luna itu sudah Gua dengar berkali-kali, bukan dari Luna saja, tapi dari Mba Laras, ya dia tidak terima anak Gua dibawa pergi seperti ini. Gua bukannya tidak mau melakukan hal tersebut, Gua hanya menghindari keributan dan segala macam perpecahan keluarga. Walaupun kalau mau Gua paksakan hingga sampai ke meja hijau, Gua yakin pihak kamilah yang menang. Tapi apa Gua pun setega itu melaporkan mertua Gua sendiri. Bagaimanapun mereka adalah mertua Gua, orangtua istri Gua.
"Aku belum mau ambil tindakan itu Lun..", jawab Gua.
"Terus kalau gak begitu mau bagaimana kita mencari anak kamu Za ?",
"Ini udah sepuluh hari dia dibawa pergi dan entah kemana... Sedangkan kita semua disini gak ada yang tau saudara Echa ada dimana.. Kamu memang gak tau kampung halaman Echa ?".
Degh..Gua tersentak, ucapan Luna tadi menyadarkan Gua.
"Ah.. Iya bener Lun! Kampung halaman Echa! Ya mungkin mereka pindah kesana..", jawab Gua.
"Kamu tau dimana kampung halaman Echa ?".
Gua mengangguk cepat lalu berdiri dan bergegas ke kamar Mba Laras. Disana masih ada Nenek.
"Mba.. Aku tau dimana si cantik Mba.. Aku tau!", ucap Gua dengan bersemangat.
"Dimana Za ?! Dimana dia Za ?!", Mba Laras langsung duduk dengan menyondongkan tubuhnya kearah Gua yang sudah duduk di tepian kasur.
"Aku yakin mertua ku bawa si cantik ke kampung halaman mereka... Aku yakin",
"Mereka ada di Solo, pasti mereka ada di sana", jawab Gua lagi.
Mba Laras memegang kedua tangan Gua. "Mba ikut ya Za, Mba ikut kesana, Mba mau jemput dia juga, cucu Mba...", ucapnya.
Gua menggeleng pelan, lalu menengok kepada Nenek.
"Laras, kamu tunggu di sini saja sama Ibu ya, biar Eza dan Luna yang pergi ke sana, kondisi kamu belum sehat Nak..", ucap Nenek Gua seraya mengelus lembut bahu Mba Laras.
"Iya Mba, biar aku dan Eza yang jemput si cantik, Mba berdo'a ya biar kami berdua bisa bertemu dan membawanya lagi ke rumah ini", timpal Luna yang berdiri di sisi kanan Gua.
Mba Laras memandangi Nenek dan Luna, lalu menatap Gua lekat-lekat, tangannya yang masih menggenggam tangan Gua itu terasa semakin kuat cengkramannya, sedetik kemudian matanya mulai berkaca-kaca. Dengan suara lirih dia memohon kepada Gua.
"Pastikan kamu bawa dia pulang Za..".
Gua tersenyum lalu mengangguk kepada Ibu Gua itu.
"Pasti, aku pasti bawa Jingga pulang Mba...".
Setiap malam Gua memeluk foto si cantik bersama cardigans hitam milik ibundanya, dalam kamar ini Gua menangis, merindukan putri kecil yang belum dua bulan bersama Gua. Tidak jauh beda keadaan di kamar bawah, dimana Ibu Gua, Mba Laras menangis pilu merindukan cucunya. Dia menangis sepanjang hari, memeluk baju bayi yang selalu dipakai oleh si cantik, baju berwarna pink dan bermotif kupu-kupu.
Sudah sepuluh hari Gua tidak bertemu dengan anak Gua. Anak ku, permata hati ku, buah hati ku, cantik ku, cahaya hidup ku... Kamu dimana Nak...
"Mba, makan dulu Mba..", ucap Gua yang duduk di samping Nenek.
Mba Laras hanya melamun dengan wajah pucat karena dia sudah jatuh sakit selama dua hari lalu. Suapan bubur yang diberikan oleh Nenek hanya dimakan dua suap saja. Gua terenyuh melihat kondisinya yang tidak sehat seperi itu, dia tidak lagi ceria seperti sebelumnya. Tidak ada lagi keceriaan karena terlalu sakit dan kalutnya akibat kehilangan seorang bayi yang ia anggap sebagai cucunya sendiri.
Gua berjalan keluar dan duduk di sofa ruang tamu di samping Luna yang sebelumnya membelikan bubur untuk Mba Laras.
"Masih belum mau makan ya Za ?", tanya Luna.
Gua mengangguk lemah. "Gak tega aku liat kondisinya Lun..", jawab Gua pelan.
"Za, apa gak sebaiknya kita lapor ke pihak berwajib masalah ini ?", tanya Luna lagi.
Pertanyaan dan saran dari Luna itu sudah Gua dengar berkali-kali, bukan dari Luna saja, tapi dari Mba Laras, ya dia tidak terima anak Gua dibawa pergi seperti ini. Gua bukannya tidak mau melakukan hal tersebut, Gua hanya menghindari keributan dan segala macam perpecahan keluarga. Walaupun kalau mau Gua paksakan hingga sampai ke meja hijau, Gua yakin pihak kamilah yang menang. Tapi apa Gua pun setega itu melaporkan mertua Gua sendiri. Bagaimanapun mereka adalah mertua Gua, orangtua istri Gua.
"Aku belum mau ambil tindakan itu Lun..", jawab Gua.
"Terus kalau gak begitu mau bagaimana kita mencari anak kamu Za ?",
"Ini udah sepuluh hari dia dibawa pergi dan entah kemana... Sedangkan kita semua disini gak ada yang tau saudara Echa ada dimana.. Kamu memang gak tau kampung halaman Echa ?".
Degh..Gua tersentak, ucapan Luna tadi menyadarkan Gua.
"Ah.. Iya bener Lun! Kampung halaman Echa! Ya mungkin mereka pindah kesana..", jawab Gua.
"Kamu tau dimana kampung halaman Echa ?".
Gua mengangguk cepat lalu berdiri dan bergegas ke kamar Mba Laras. Disana masih ada Nenek.
"Mba.. Aku tau dimana si cantik Mba.. Aku tau!", ucap Gua dengan bersemangat.
"Dimana Za ?! Dimana dia Za ?!", Mba Laras langsung duduk dengan menyondongkan tubuhnya kearah Gua yang sudah duduk di tepian kasur.
"Aku yakin mertua ku bawa si cantik ke kampung halaman mereka... Aku yakin",
"Mereka ada di Solo, pasti mereka ada di sana", jawab Gua lagi.
Mba Laras memegang kedua tangan Gua. "Mba ikut ya Za, Mba ikut kesana, Mba mau jemput dia juga, cucu Mba...", ucapnya.
Gua menggeleng pelan, lalu menengok kepada Nenek.
"Laras, kamu tunggu di sini saja sama Ibu ya, biar Eza dan Luna yang pergi ke sana, kondisi kamu belum sehat Nak..", ucap Nenek Gua seraya mengelus lembut bahu Mba Laras.
"Iya Mba, biar aku dan Eza yang jemput si cantik, Mba berdo'a ya biar kami berdua bisa bertemu dan membawanya lagi ke rumah ini", timpal Luna yang berdiri di sisi kanan Gua.
Mba Laras memandangi Nenek dan Luna, lalu menatap Gua lekat-lekat, tangannya yang masih menggenggam tangan Gua itu terasa semakin kuat cengkramannya, sedetik kemudian matanya mulai berkaca-kaca. Dengan suara lirih dia memohon kepada Gua.
"Pastikan kamu bawa dia pulang Za..".
Gua tersenyum lalu mengangguk kepada Ibu Gua itu.
"Pasti, aku pasti bawa Jingga pulang Mba...".
'Cause I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
...
I am not afraid to keep on living
I am not afraid to walk this world alone
Honey if you stay, I'll be forgiven
Nothing you can say can stop me going home
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
...
I am not afraid to keep on living
I am not afraid to walk this world alone
Honey if you stay, I'll be forgiven
Nothing you can say can stop me going home
Famous Last Words - MCR
Diubah oleh glitch.7 22-05-2017 15:03
fatqurr dan 3 lainnya memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
