- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.7K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#231
Kisah keenambelas
Kisah Hantu di Sekolah - Sri (2)
Aku menghabiskan sisa roti makan siangku dengan kesulitan untuk menelannya.
Menit demi menit berlalu sangat lama sampai akhirnya hari itu selesai juga.
Sepanjang sisa hari itu aku tidak melihat gadis kecil itu lagi.
Apakah gadis kecil itu yang bernama 'Sri'?
Tapi dia mengatakan padaku kalau dia bukanlah Sri... lalu siapa gadis itu?
Mengapa aku merasakan firasat buruk.. sangat buruk... tentang ini semua?
Sayangnya, pertanyaan-pertanyaanku itu harus berlalu tanpa terjawab satupun. Sampai akhirnya masalah itu sempat terlupakan olehku.
Minggu-minggu pertama tidak bermasalah bagiku. Dengan artian, aku masih seorang diri seperti biasanya, tanpa teman, tanpa masalah. Itulah cara pikirku waktu itu.
Seminggu... dua minggu...
Sampai tiba hari itu...
---
Waktu itu yang kuingat, aku sedang berada di toilet sekolah.
Aku membenci toilet sekolah ini.. karena penerangan yang redup dan terkesan kumuh dengan tembok-tembok yang sudah terlihat tua. Meskipun toilet ini dijaga dengan apik dan bersih bahkan cenderung tidak berbau, namun itu tidak terlalu membantu untuk mengurangi kesan menyeramkan dari toilet ini.
Waktu itu aku baru saja menyelesaikan urusanku di toilet dan sedang mencuci tangan ketika bau lavender yang biasanya memang selalu tercium di toilet ini berubah menjadi sangat wangi hingga membuat siapapun akan mabuk menciumnya.
"Uhh...!" keluhku sambil menutup hidungku dengan sia-sia, karena rasanya bau wangi itu tetap menyeruak masuk ke penciumanku.
"Kakak.."
Suara itu membuatku langsung berbalik dengan cepat.
Tidak ada orang!!
Tapi suara itu kan....
"Kakak.."
Suara itu lagi.... suara anak perempuan ini...
"Di sini kak.. lihat di belakang.."
Aku memutar dengan cepat dan kembali berhadapan dengan cermin di atas wastafel itu.
Tidak ada...
"Kakak.."
"!!!!"
Jantungku benar-benar hampir melompat ketika melihat bayangan anak kecil perempuan sedang berdiri tepat di belakangku dari pantulan cermin.
Aku kembali berbalik.
Tidak ada... Tidak ada... tapi.... tadi kan....
Aku kembali mengalihkan perhatianku ke cermin di belakangku. Bayangan gadis kecil itu masih di sana... dan tersenyum manis kepadaku.
"Kamu... kamu ini siapa?" tanyaku dengan suara gemetar.
Gadis itu tersenyum "Aku bukan Sri.." kata anak itu.
"Bu-bukan?..." sebutku tergagap.
Gadis itu menggeleng "Lita anak baik, Lita bukan Sri."
"Ohh...." hanya itulah kata-kata yang bisa terlontar dari bibirku.
"La...lalu... kamu mau apa...? dengan aku?" tanyaku takut.
Wajah 'gadis' bernama "Lita" itu terlihat tidak enak. Kemudian berkata dengan lirih "Maaf kak... aku..
... aku disuruh Sri..." katanya sambil membuang muka.
Aku merasakan seluruh tubuhku menyuarakan tanda bahaya bersamaan. Aku tidak merasakan suhu yang dingin, namun, sekujur tubuhku terutama lututku terasa gemetar tanpa henti.
'Krekk!!'
'Deggg!!!!!!'
Keringat dingin terasa mengucur dari keningku, aku memalingkan pandanganku perlahan ke arah pintu toilet paling ujung yang membuka. Dan sialnya, karena toilet ini kecil, jaraknya tidak sampai 3 meter dariku.
Kemudian, sebuah tangan kecil.. dengan luka bakar paling parah dan paling mengerikan yang pernah kulihat. Seluruh kulit tangan kecil itu menghitam dan mengelupas, hingga memperlihatkan warna merah daging dibaliknya.
Kemudian, kaki yang berwarna sama juga keluar dari toilet itu.
Dan perlahan-lahan, rambut berwarna putih yang dikotori oleh jelaga perlahan-lahan muncul.
Sebuah wajah mengerikan yang hangus dan bercarut-marut warna merah kulit yang terkelupas keluar perlahan.
Perlahan-lahan pula. wajah kecil yang menakutkan itu perlahan berputar dan menatap ke arahku dan menatapku dengan tatapan mata yang mengerikan.
Tatapan mata itu... ditutupi oleh beberapa helai rambut putih yang menjulur dari keningnya menatapku dengan intens.
Kemudian, sosok itu tersenyum.
Dan dengan gerakan perlahan.. sangat perlahan.. kedua tangan kecilnya menapak ke lantai.
Dan... sosok kecil mengerikan itu merangkak. Wajahnya mendongak, matanya tetap menatap mataku lurus-lurus tanpa berkedip.
Aku tidak bisa bergerak....
Tolong....!!! teriakku dalam batin, karena mulutku juga tidak bisa digerakkan waktu itu.
Aku merasakan kakiku semakin lemas.
Sosok 'gadis kecil' itu terhenti tepat beberapa langkah di hadapanku. Kemudian, dengan bunyi gemeretak yang membuat ngilu, sosok 'Sri' mulai bangkit dengan kaku, seakan dia adalah sebuah boneka kayu.
Kini aku melihat jelas tubuhnya yang tertutupi oleh rambut putihnya yang kotor...
Sisa-sisa baju yang terbakar, baju gaun seperti yang dikenakan oleh boneka-boneka keramik...
Seluruh badannya yang tidak tertutup baju memperlihatkan luka bakar yang sangat parah.
Wajahnya masih menghadap ke lantai, tapi aku bisa melihat sosok itu tersenyum...
Senyum yang mengerikan... sangat berbeda dengan sosok gadis satunya yang bernama Lita.
"..."
Mengingat sosok Lita, hantu gadis kecil yang satu lagi itu membuatku tiba-tiba merasakan sedikit keanehan ketika melihat sosok yang bernama 'Sri' ini.
Aku tidak tau apa yang membuat perasaan aneh ini... tapi saat ini, aku benar-benar ketakutan hingga kesulitan bernafas ketika Sri selesai bangkit dan berdiri tegak di hadapanku.
Tiba-tiba saja kepalanya mendongak dan menatapku.
Matanya menunjukkan kemarahan, menatap ke arahku... mata manusia biasa, dengan berwarna kecoklatan.. namun pancaran matanya membuatku takut..
Amat sangat takut...
Dan kemudian wajah kecil yang mengerikan itu tersenyum lagi.
"Kakak..." kata suara itu dengan nada serak yang membuatku begidik.
"Aaa...aaaa......" kataku dengan ngeri ketika melihat darah mulai mengalir dari kedua matanya.
"Kakak takut?"
Tanyanya sembari mengacungkan tangan kecilnya yang hitam ke arahku.
"Takut?"
Katanya lagi, rambut putih berjelaganya mulai berkibar. Aku memejamkan mataku karena takut.
"TAKUT!!?"
Aku merasakannya....
Aku merasakan tangannya menyentuh lenganku dan menggenggamnya dengan erat.
"AAHHH!! NGGGHHH!!!!" aku merasakan panas yang membara membakar tanganku. Namun aku tetap tidak berani membuka mataku.
Aku mulai mencium bau busuk daging yang terbakar di hadapan wajahku.
"Kakak, buka matanya.."
Suara serak gadis itu kini terdengar bagaikan membujuk dengan lembut.
Aku bisa merasakan semacam hembusan nafas mahluk itu di wajahku.
"Lihat aku..."
Kata gadis itu lagi, kali ini nadanya terasa dingin dan mengancam.
"LIHAT!!!!"
Pada saat itulah mataku tanpa bisa kuatur menyentak terbuka.
Pemandangan yang berada di hadapanku benar-benar membuatku hampir pingsan...
Kali ini sosok wajah gadis itu sudah menghilang sepenuhnya.
Digantikan oleh sosok mayat yang seluruh kulitnya sudah membusuk.. kedua bola mata dengan manik mata berwarna coklat itu hilang, berganti lubang yang dipenuhi oleh belatung-belatung kecil.
Bibir dan hidung gadis itu telah hilang sepenuhnya, seluruh wajahnya... atau yang tersisa dari wajah gadis itu kini penuh lubang, dengan belatung-belatung menggerogoti seluruh bagiannya yang membusuk itu...
"Aaaaaaaaaaaaaahhh!!!!"
Waktu itu benar-benar mengerikan, bahkan sekarangpun aku gemetar ketika menuliskan sosok 'Sri'' itu.
Sosok itu berjarak hanya beberapa senti dari wajahku.
Dan aku merasa kesadaranku hanya tinggal terlepas saja dari tempatnya berada.. aku hampir pingsan..
Dalam pandanganku yang mulai kabur, aku melihat tangan kecil, sisa-sisa dari tangan kecil yang sudah terkelupas sampai ke belulangnya dan dipenuhi oleh belatung juga semakin mendekat ke wajahku.
"KAKAK, LARI!!!!!" teriak sebuah suara.
Kemudian dengan tiba-tiba, sebuah tenaga menyentak samping tubuhku dengan kencang.
Aku terjerembab di lantai toilet.
Dengan kelimpungan dan rasa sakit di sisi badanku yang menghantam lantai, aku melihat ke arah sosok 'Sri' yang berdiri mengancam tidak jauh dari tempatku terjatuh.
Dia sedang mencekik sosok Lita.
"LITA!!!" teriakku khawatir dengan hantu gadis kecil itu.
"La..ri!!" ucap sosok Lita lirih.
"Jangan!" sembur sosok 'Sri' dengan nada mengancam kepadaku.
"Lita..." kataku bingung harus berbuat apa.
"Lari!!!" teriak Lita dengan suara tercekik. Dan sekali lagi, sebuah kekuatan mendorongku keluar dari toilet itu.
Aku terjatuh dengan keras diluar toilet. Cukup keras hingga membuat kepalaku pening sejenak.
Aku berusaha mengangkat badanku untuk melihat keadaan Lita, namun tubuhku terasa sakit dan tidak dapat bergerak.
"Lu nggak apa-apa?" tanya sebuah suara.
Aku membuka mataku dan meringis kesakitan sebelum mataku dapat terfokus. Di sampingku, seorang gadis berjongkok. Dari penampilannya, sepertinya dia seangkatan denganku.
"Lu diapain sama mahluk di dalem?" tanya gadis itu dengan nada penasaran.
"!!" aku terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan dengan ringan itu.
"Kenapa? kaget? bukan lu doang yang bisa tau ada mahluk lain tau" kata gadis itu lagi sambil mengulurkan tangannya.
"Tapi gue heran liat lu. Kenapa juga ada orang yang udah tau ada mereka, tapi masih masuk ke dalem" kata gadis itu sambil menatapku penasaran.
Gadis itu menatapku lekat, sepertinya dia menunggu jawabanku.
"Aku.. eh... aku cuma bisa ngeliat doang..." kataku salah tingkah.
Gadis itu membelalak "Hah??!" serunya.
"Jadi maksud lu, lu cuma bisa ngeliat, nggak bisa ngerasain?" tanya gadis itu lagi, kelewat bersemangat menurutku.
"Kalau udah keliatan baru biasanya kerasa..." kataku jujur.
Gadis itu kembali menatapku dengan pandangan tertarik atau lebih tepatnya, penasaran.
Aku bergerak jengah diperhatikan seperti itu.
Dia menyadarinya. "Oh, sorry-sorry.. gua penasaran aja. Kenalin, nama gua Cindy. Dan ya, gua bisa ngeliat juga, sama kayak lu, dan gua udah bisa ngerasain kehadiran mereka dari jauh. Dan... eh, lu punya sesuatu buat ngelindungin diri lu kan?" tanya Cindy tiba-tiba.
Aku menggeleng.
"Seriusan?! oh ya ampun. Gua aja punya 'dinding' loh." kata Cindy lagi "Hebat juga lu masih nggak kesurupan sampe sekarang" lanjutnya.
Aku mengangkat bahuku "Nggak tau... aku nggak pernah tau soal begituan"
"Wahh" Cindy kembali terperangah "Bener-bener beda, lu beneran beda dari semua anak-anak yang punya kemampuan yang gua kenal. Baru kali ini ada yang bener-bener 'kosong' kayak elu"
Cindy mengelilingiku sambil melihatku intens "Seriusan lu nggak punya pelindung atau apapun?"
"Nggak.. aku nggak pernah tau soal itu.." kataku.
"Ohhh..." Gadis ini benar-benar membuatku jengah "Bener juga... gua nggak bisa lihat 'apapun' dari lu. Eh, lu bisa liat ada yang aneh dari gua?" tanya Cindy sambil berdiri di depanku sambil merentangkan tangannya.
Aku melihatnya dengan saksama, seperti keinginannya.
Namun entah mengapa, mataku terasa perih, seperti ditusuk, ketika melihat ke arah sekitar pusar dari Cindy.
Aku menunjuk ke situ.
"Wah, tepat. Memang hebat berarti mata lu" kata Cindy sambil bertepuk tangan.
Kemudian gadis itu menjulurkan tangannya "Salam kenal! gua kira cuma gua doang satu sekolah ini yang bisa ngeliat 'begituan'. Ternyata ada lu, sekelas lagi"
"Eh?"
"Makanya jangan suka sendirian terus. Gua sekelas sama lu, tau" sahut Cindy sambil merangkul leherku dan bergelayut.
Jujurnya aku agak jengah karena tidak terbiasa berdekatan dengan orang... namun ini pertama kalinya aku bertemu dengan seorang... teman...
Ya.. teman..
Seseorang yang bukan hanya iba kepadaku, namun seseorang yang punya kemampuan sama denganku.
Kutukan yang sama..
Kisah Hantu di Sekolah - Sri (2)
Spoiler for Sri (2):
Aku menghabiskan sisa roti makan siangku dengan kesulitan untuk menelannya.
Menit demi menit berlalu sangat lama sampai akhirnya hari itu selesai juga.
Sepanjang sisa hari itu aku tidak melihat gadis kecil itu lagi.
Apakah gadis kecil itu yang bernama 'Sri'?
Tapi dia mengatakan padaku kalau dia bukanlah Sri... lalu siapa gadis itu?
Mengapa aku merasakan firasat buruk.. sangat buruk... tentang ini semua?
Sayangnya, pertanyaan-pertanyaanku itu harus berlalu tanpa terjawab satupun. Sampai akhirnya masalah itu sempat terlupakan olehku.
Minggu-minggu pertama tidak bermasalah bagiku. Dengan artian, aku masih seorang diri seperti biasanya, tanpa teman, tanpa masalah. Itulah cara pikirku waktu itu.
Seminggu... dua minggu...
Sampai tiba hari itu...
---
Waktu itu yang kuingat, aku sedang berada di toilet sekolah.
Aku membenci toilet sekolah ini.. karena penerangan yang redup dan terkesan kumuh dengan tembok-tembok yang sudah terlihat tua. Meskipun toilet ini dijaga dengan apik dan bersih bahkan cenderung tidak berbau, namun itu tidak terlalu membantu untuk mengurangi kesan menyeramkan dari toilet ini.
Waktu itu aku baru saja menyelesaikan urusanku di toilet dan sedang mencuci tangan ketika bau lavender yang biasanya memang selalu tercium di toilet ini berubah menjadi sangat wangi hingga membuat siapapun akan mabuk menciumnya.
"Uhh...!" keluhku sambil menutup hidungku dengan sia-sia, karena rasanya bau wangi itu tetap menyeruak masuk ke penciumanku.
"Kakak.."
Suara itu membuatku langsung berbalik dengan cepat.
Tidak ada orang!!
Tapi suara itu kan....
"Kakak.."
Suara itu lagi.... suara anak perempuan ini...
"Di sini kak.. lihat di belakang.."
Aku memutar dengan cepat dan kembali berhadapan dengan cermin di atas wastafel itu.
Tidak ada...
"Kakak.."
"!!!!"
Jantungku benar-benar hampir melompat ketika melihat bayangan anak kecil perempuan sedang berdiri tepat di belakangku dari pantulan cermin.
Aku kembali berbalik.
Tidak ada... Tidak ada... tapi.... tadi kan....
Aku kembali mengalihkan perhatianku ke cermin di belakangku. Bayangan gadis kecil itu masih di sana... dan tersenyum manis kepadaku.
"Kamu... kamu ini siapa?" tanyaku dengan suara gemetar.
Gadis itu tersenyum "Aku bukan Sri.." kata anak itu.
"Bu-bukan?..." sebutku tergagap.
Gadis itu menggeleng "Lita anak baik, Lita bukan Sri."
"Ohh...." hanya itulah kata-kata yang bisa terlontar dari bibirku.
"La...lalu... kamu mau apa...? dengan aku?" tanyaku takut.
Wajah 'gadis' bernama "Lita" itu terlihat tidak enak. Kemudian berkata dengan lirih "Maaf kak... aku..
... aku disuruh Sri..." katanya sambil membuang muka.
Aku merasakan seluruh tubuhku menyuarakan tanda bahaya bersamaan. Aku tidak merasakan suhu yang dingin, namun, sekujur tubuhku terutama lututku terasa gemetar tanpa henti.
'Krekk!!'
'Deggg!!!!!!'
Keringat dingin terasa mengucur dari keningku, aku memalingkan pandanganku perlahan ke arah pintu toilet paling ujung yang membuka. Dan sialnya, karena toilet ini kecil, jaraknya tidak sampai 3 meter dariku.
Kemudian, sebuah tangan kecil.. dengan luka bakar paling parah dan paling mengerikan yang pernah kulihat. Seluruh kulit tangan kecil itu menghitam dan mengelupas, hingga memperlihatkan warna merah daging dibaliknya.
Kemudian, kaki yang berwarna sama juga keluar dari toilet itu.
Dan perlahan-lahan, rambut berwarna putih yang dikotori oleh jelaga perlahan-lahan muncul.
Sebuah wajah mengerikan yang hangus dan bercarut-marut warna merah kulit yang terkelupas keluar perlahan.
Perlahan-lahan pula. wajah kecil yang menakutkan itu perlahan berputar dan menatap ke arahku dan menatapku dengan tatapan mata yang mengerikan.
Tatapan mata itu... ditutupi oleh beberapa helai rambut putih yang menjulur dari keningnya menatapku dengan intens.
Kemudian, sosok itu tersenyum.
Dan dengan gerakan perlahan.. sangat perlahan.. kedua tangan kecilnya menapak ke lantai.
Dan... sosok kecil mengerikan itu merangkak. Wajahnya mendongak, matanya tetap menatap mataku lurus-lurus tanpa berkedip.
Aku tidak bisa bergerak....
Tolong....!!! teriakku dalam batin, karena mulutku juga tidak bisa digerakkan waktu itu.
Aku merasakan kakiku semakin lemas.
Sosok 'gadis kecil' itu terhenti tepat beberapa langkah di hadapanku. Kemudian, dengan bunyi gemeretak yang membuat ngilu, sosok 'Sri' mulai bangkit dengan kaku, seakan dia adalah sebuah boneka kayu.
Kini aku melihat jelas tubuhnya yang tertutupi oleh rambut putihnya yang kotor...
Sisa-sisa baju yang terbakar, baju gaun seperti yang dikenakan oleh boneka-boneka keramik...
Seluruh badannya yang tidak tertutup baju memperlihatkan luka bakar yang sangat parah.
Wajahnya masih menghadap ke lantai, tapi aku bisa melihat sosok itu tersenyum...
Spoiler for Open at your own risk:
Senyum yang mengerikan... sangat berbeda dengan sosok gadis satunya yang bernama Lita.
"..."
Mengingat sosok Lita, hantu gadis kecil yang satu lagi itu membuatku tiba-tiba merasakan sedikit keanehan ketika melihat sosok yang bernama 'Sri' ini.
Aku tidak tau apa yang membuat perasaan aneh ini... tapi saat ini, aku benar-benar ketakutan hingga kesulitan bernafas ketika Sri selesai bangkit dan berdiri tegak di hadapanku.
Tiba-tiba saja kepalanya mendongak dan menatapku.
Matanya menunjukkan kemarahan, menatap ke arahku... mata manusia biasa, dengan berwarna kecoklatan.. namun pancaran matanya membuatku takut..
Amat sangat takut...
Dan kemudian wajah kecil yang mengerikan itu tersenyum lagi.
"Kakak..." kata suara itu dengan nada serak yang membuatku begidik.
"Aaa...aaaa......" kataku dengan ngeri ketika melihat darah mulai mengalir dari kedua matanya.
"Kakak takut?"
Tanyanya sembari mengacungkan tangan kecilnya yang hitam ke arahku.
"Takut?"
Katanya lagi, rambut putih berjelaganya mulai berkibar. Aku memejamkan mataku karena takut.
"TAKUT!!?"
Aku merasakannya....
Aku merasakan tangannya menyentuh lenganku dan menggenggamnya dengan erat.
"AAHHH!! NGGGHHH!!!!" aku merasakan panas yang membara membakar tanganku. Namun aku tetap tidak berani membuka mataku.
Aku mulai mencium bau busuk daging yang terbakar di hadapan wajahku.
"Kakak, buka matanya.."
Suara serak gadis itu kini terdengar bagaikan membujuk dengan lembut.
Aku bisa merasakan semacam hembusan nafas mahluk itu di wajahku.
"Lihat aku..."
Kata gadis itu lagi, kali ini nadanya terasa dingin dan mengancam.
"LIHAT!!!!"
Pada saat itulah mataku tanpa bisa kuatur menyentak terbuka.
Pemandangan yang berada di hadapanku benar-benar membuatku hampir pingsan...
Kali ini sosok wajah gadis itu sudah menghilang sepenuhnya.
Digantikan oleh sosok mayat yang seluruh kulitnya sudah membusuk.. kedua bola mata dengan manik mata berwarna coklat itu hilang, berganti lubang yang dipenuhi oleh belatung-belatung kecil.
Bibir dan hidung gadis itu telah hilang sepenuhnya, seluruh wajahnya... atau yang tersisa dari wajah gadis itu kini penuh lubang, dengan belatung-belatung menggerogoti seluruh bagiannya yang membusuk itu...
"Aaaaaaaaaaaaaahhh!!!!"
Waktu itu benar-benar mengerikan, bahkan sekarangpun aku gemetar ketika menuliskan sosok 'Sri'' itu.
Sosok itu berjarak hanya beberapa senti dari wajahku.
Dan aku merasa kesadaranku hanya tinggal terlepas saja dari tempatnya berada.. aku hampir pingsan..
Dalam pandanganku yang mulai kabur, aku melihat tangan kecil, sisa-sisa dari tangan kecil yang sudah terkelupas sampai ke belulangnya dan dipenuhi oleh belatung juga semakin mendekat ke wajahku.
"KAKAK, LARI!!!!!" teriak sebuah suara.
Kemudian dengan tiba-tiba, sebuah tenaga menyentak samping tubuhku dengan kencang.
Aku terjerembab di lantai toilet.
Dengan kelimpungan dan rasa sakit di sisi badanku yang menghantam lantai, aku melihat ke arah sosok 'Sri' yang berdiri mengancam tidak jauh dari tempatku terjatuh.
Dia sedang mencekik sosok Lita.
"LITA!!!" teriakku khawatir dengan hantu gadis kecil itu.
"La..ri!!" ucap sosok Lita lirih.
"Jangan!" sembur sosok 'Sri' dengan nada mengancam kepadaku.
"Lita..." kataku bingung harus berbuat apa.
"Lari!!!" teriak Lita dengan suara tercekik. Dan sekali lagi, sebuah kekuatan mendorongku keluar dari toilet itu.
Aku terjatuh dengan keras diluar toilet. Cukup keras hingga membuat kepalaku pening sejenak.
Aku berusaha mengangkat badanku untuk melihat keadaan Lita, namun tubuhku terasa sakit dan tidak dapat bergerak.
"Lu nggak apa-apa?" tanya sebuah suara.
Aku membuka mataku dan meringis kesakitan sebelum mataku dapat terfokus. Di sampingku, seorang gadis berjongkok. Dari penampilannya, sepertinya dia seangkatan denganku.
"Lu diapain sama mahluk di dalem?" tanya gadis itu dengan nada penasaran.
"!!" aku terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan dengan ringan itu.
"Kenapa? kaget? bukan lu doang yang bisa tau ada mahluk lain tau" kata gadis itu lagi sambil mengulurkan tangannya.
"Tapi gue heran liat lu. Kenapa juga ada orang yang udah tau ada mereka, tapi masih masuk ke dalem" kata gadis itu sambil menatapku penasaran.
Gadis itu menatapku lekat, sepertinya dia menunggu jawabanku.
"Aku.. eh... aku cuma bisa ngeliat doang..." kataku salah tingkah.
Gadis itu membelalak "Hah??!" serunya.
"Jadi maksud lu, lu cuma bisa ngeliat, nggak bisa ngerasain?" tanya gadis itu lagi, kelewat bersemangat menurutku.
"Kalau udah keliatan baru biasanya kerasa..." kataku jujur.
Gadis itu kembali menatapku dengan pandangan tertarik atau lebih tepatnya, penasaran.
Aku bergerak jengah diperhatikan seperti itu.
Dia menyadarinya. "Oh, sorry-sorry.. gua penasaran aja. Kenalin, nama gua Cindy. Dan ya, gua bisa ngeliat juga, sama kayak lu, dan gua udah bisa ngerasain kehadiran mereka dari jauh. Dan... eh, lu punya sesuatu buat ngelindungin diri lu kan?" tanya Cindy tiba-tiba.
Aku menggeleng.
"Seriusan?! oh ya ampun. Gua aja punya 'dinding' loh." kata Cindy lagi "Hebat juga lu masih nggak kesurupan sampe sekarang" lanjutnya.
Aku mengangkat bahuku "Nggak tau... aku nggak pernah tau soal begituan"
"Wahh" Cindy kembali terperangah "Bener-bener beda, lu beneran beda dari semua anak-anak yang punya kemampuan yang gua kenal. Baru kali ini ada yang bener-bener 'kosong' kayak elu"
Cindy mengelilingiku sambil melihatku intens "Seriusan lu nggak punya pelindung atau apapun?"
"Nggak.. aku nggak pernah tau soal itu.." kataku.
"Ohhh..." Gadis ini benar-benar membuatku jengah "Bener juga... gua nggak bisa lihat 'apapun' dari lu. Eh, lu bisa liat ada yang aneh dari gua?" tanya Cindy sambil berdiri di depanku sambil merentangkan tangannya.
Aku melihatnya dengan saksama, seperti keinginannya.
Namun entah mengapa, mataku terasa perih, seperti ditusuk, ketika melihat ke arah sekitar pusar dari Cindy.
Aku menunjuk ke situ.
"Wah, tepat. Memang hebat berarti mata lu" kata Cindy sambil bertepuk tangan.
Kemudian gadis itu menjulurkan tangannya "Salam kenal! gua kira cuma gua doang satu sekolah ini yang bisa ngeliat 'begituan'. Ternyata ada lu, sekelas lagi"
"Eh?"
"Makanya jangan suka sendirian terus. Gua sekelas sama lu, tau" sahut Cindy sambil merangkul leherku dan bergelayut.
Jujurnya aku agak jengah karena tidak terbiasa berdekatan dengan orang... namun ini pertama kalinya aku bertemu dengan seorang... teman...
Ya.. teman..
Seseorang yang bukan hanya iba kepadaku, namun seseorang yang punya kemampuan sama denganku.
Kutukan yang sama..
oldmanpapa memberi reputasi
3
Kutip
Balas