Kaskus

Hobby

hardjasasmitaAvatar border
TS
hardjasasmita
PAKELIRAN - Parodi Modern Kisah Wayang
Quote:


Sesaji Rajasuya

PAKELIRAN - Parodi Modern Kisah Wayang
Prabu Kresna tersinggung, senjata Cakra segera diarahkan ke jidat Supala, jleb.....


MESKI banyak Silpa (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) tahun 2016, Prabu Puntadewa tak mau menghabiskan dana itu untuk pesta hura-hura. Justru raja Ngamarta ini mau menggelar acara Sesaji Rajasuya, yakni memberi penghargaan kepada 100 tokoh rokhaniawan dari berbagai agama, yang dinilai telah memberi pencerahan bagi negara. Berkat mereka lah negeri Ngamarta situasinya menjadi demikian aman secara mantap terkendali, seperti jaman Orde Baru dulu.

“Mereka kita datangi satu persatu ke rumahnya, dan piagam kita serahkan langsung pada yang berhak.” Kata Prabu Puntadewa memberi pengarahan dalam sidang kerajaan terbatas.

“Kenapa nggak diserahkan lewat pamong praja saja, praktis dan kita tidak capek,” kritik Bima.

“Kalau lewat birokrasi, mereka cenderung mbathi (cari untung) dimas.”

Demikianlah, panitia Sesaji Rajasuya segera menyeleksi siapa saja pendita dan resi yang berhak menerima. Penghargaan itu memang cukup menarik. Selain memperoleh bantuan dana hibah untuk tempat ibadahnya, juga dapat KJS Kesehatan. Dengan kartu ini si pemegang bebas berobat di rumahsakit kelas berapapun, dan sakit apapun. Soal negara sudah tekor Rp 17 triliun, itu urusan lain.

Syarat memperoleh penghargaan Sesasi Rajasuya memang cukup ketat. Dalam khotbahnya rokhaniawan itu harus sejuk, tidak boleh dicampuri politik, meski Pilkada sudah usai. Juga dilarang memanas-manasi umat untuk melawan pemerintah. Kredibilitas mereka harus disertai dengan surat keterangan dari BAKIN (Badan Kordinasi Intelejen Ngamarta). Artinya, meski rokhaniawan ini cukup baik, tanpa legalisasi dari lembaga intelejen negara, juga tidak bakal mendapatkannya.

“Resi Seta dan Resi Bisma bagaimana?” kejar pers pada Prabu Puntadewa.

“Meski mereka berseberangan, tapi nasionalismenya cukup kuat, jadi tetaplah dapat.” ujar Prabu Puntadewa.

Sama-sama resi, keduanya memang beda aliran. Resi Seta dari pertapan Sukohini merupakan pendita yang moderat, ke mana-mana pakai peci hitam biasa. Sedangkan Resi Bisma dari Talkanda, sebagi begawan aliran garis keras selalu piara jenggot panjang, jubahnya tak pernah lepas dari badan, di dalamnya masih pakai celana panjang yang ngatung. Atas nama keyakinan dia siap diajak demo kapan saja.

“Kalau mereka berantem di tempat acara bagaimana?”

“Makanya kita siasati saja, mereka kita datangi ke kediaman masing-masing.”

Di kala Prabu Puntadewa memimpin sidang membahas persiapan Sesaji Rajasuya, mendadak Prabu Baladewa dari Mandura datang sambil nangis Bombay. Dia memberi informasi bahwa Ngamarta – Mandura – Dwarawati dalam status Bahaya I. Ada ancaman dari Prabu Jarasanda dari negri Nggiribraja bahwa ketiga tokoh pemerintahan itu akan dijadikan pelengkap acara Sesaji Kalalodra. Maksudnya, trio Baladewa – Kresna dan Puntadewa harus dibunuh untuk menggenapkan 97 raja lainnya yang mau dieksekusi dalam acara Sesaji Kalalodra.

“Jangan-jangan Jarasanda itu agen ISIS.” Komentar Raden Werkudara.

“Kayaknya begitu, sadis banget itu jadi orang.” keluh Prabu Baladewa.

Ya, Prabu Baladewa memang sangat panik. Di samping belum siap mati lantaran ibadahnya masih kurang, paling tidak enak klasifikasi para raja yang hendak dimasukkan dalam acara Sesaji Kalalodra tersebut. Menurut siaran pers dari negeri Nggiribraja, 100 raja yang bakal dibunuh buat tumbal upacara adalah para kepala pemerintahan yang kaya raya karena terlibat kasus e-KTP. Dicurigai, mereka ikut di barisan korupsi berjamaah.

“Ini kan ngawur. Meski rekening saya cukup gede di bank, itu bukan hasil korupsi, tapi kebanyakan dari harta hibah saja.” Kata Prabu Baladewa lagi.

“Kalau saya kok dicurigai korupsi, buktinya apa lagi? Lha wong gaji saja tak pernah saya ambil,” tambah Prabu Puntadewa.

Prabu Kresna yang masuk dalam daftar calon dieksekusi versi Prabu Jarasanda, sebenarnya siang itu ada acara lain di luar kota. Tapi gara-gara di SMS Prabu Puntadewa bahwa ada peristiwa sangat urgen, dia pun segera meluncur ke Ngamarta. Kresna memang salah satu wayang yang bisa terbang, sehingga tak perlu cari tiket pesawat apa lagi yang harga promosi Rp 250 ribuan.

“Tolong dimas Kresna, saya belum siap mati. Mau naik haji saja baru berangkat tahun 2025….” ratap Prabu Baladewa macam anak kecil.

“Memangnya kalau sudah haji dijamin masuk surga?” sindir Bima lagi.

Prabu Kresna pun tiba. Dia juga kaget karena namanya dicantumkan pula sebagai penerima dana e-KTP, yang berarti harus pula dieksekusi Prabu Jarasanda. Menurut berita di Breaking News Metro TV, sejumlah raja telah dikarantina oleh raja Nggiribraja tersebut. Stok secara nasional sudah tersedia 97 orang, tinggal trio Baladewa – Kresna dan Puntadewa saja. Otoritas negeri Nggiribraja menyebutkan, ketiga raja itu diharapkan datang sendiri menghadap Prabu Jarasanda, jika tidak ketiganya akan ditangkap dan disel sementara di Rutan Guntur.

“Kita harus menyelamatkan mereka, jangan sampai terbunuh. Ini pelanggaran HAM berat yang tiada tara,” kecam Prabu Kresna.

“Jarasanda sepertinya raja yang kurang piknik,” tantang Raden Werkudara geram sekali.

Untuk menghemat anggaran, Tim Kemanusiaan itu hanya terdiri dari Prabu Kresna dan Bima saja. Keduanya segera berangkat ke negri Nggiribraja dengan penerbangan malam yang lebih murah. Sengaja raja Dwarawati itu tidak terbang sendiri, karena ada gangguan di tangannya. Kena asam urat dan kolestrol tinggi, katanya. Semoga saja pesawat tidak kena delay, karena lebih cepat tiba, makin banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

Benar saja, di istana Nggiribraja sudah banyak mayat bergelimpangan, karena dieksekusi Prabu Jarasanda dengan alasan untuk persembahan Sesaji Kalalodra. Rupanya agen ISIS ini sudah tidak sabaran, gara-gara Betara Kala sudah lama tidak makan orang.

“Stop tindakan barbarmu. Teori dari mana, berantas korupsi lewat pembantaian?”

“Korupsi kan kejahatan luar biasa, jadi orang kaya yang hartanya tidak jelas harus dihukum mati pula. Gini-gini kan saya bantu KPK loh…..,” Prabu Jarasanda mencari pembenaran.

Mengingat niah jahat Prabu Jarasanda sulit dihentikan, Werkudara segera datang menghajarnya. Tapi berulangkali ditusuk kuku Pancanaka, hidup lagi. Beruntung Prabu Kresna membisikkan sesuatu pada Bima. Tahu rahasia kematian Prabu Jarasonda, segera saja pemimpin negri Nggiribraja tersebut diangkat kedua kakinya, lalu dari sinilah tubuhnya disobek menjadi dua. Benar saja, Prabu Jarasanda tak bisa bangun lagi, alias wasalam untuk selamanya.

Setelah kematian Prabu Jarasanda, keluarga Pandawa bertindak. Seluruh raja yang diborgol dan dijebloskan di rutan segera dilepaskan. Dari 97 raja dari berbagai negara, tinggal 50-an saja yang masih tersisa. Mereka kembali ke negeri masing masing dengan SJLP (Surat Jalan Laksana Paspor).

“Setibanya di negeri masing-masing, kami akan segera kirim berita lewat WA.” Ujar raja Tejaprakempa dari Timbultaunan.

“Maaf, saya tidak paham HP smartphone. Punya HP saja cuma Nokia 3310. Yang penting bisa buat telpon dan SMS,” jawab Prabu Kresna malu-malu.

Sebulan setelahnya Prabu Puntadewa di Istana Indraprasta menggelar pelaksanaan Sesaji Rajasuya. Beribu-ribu karangan bunga datang silih berganti, sampai halaman istana tak lagi menampung. Ratusan raja negeri yang pernah ditolong Pandawa semua hadir ke Istana Indraprasta. Ketika hujan lebat tiba, Prabu Puntadewa niru Presiden Jokowi, payungi sendiri tamu-tamu itu.

Giliran para raja diberi kesempatan memberi sambutan, tiba-tiba raja Supala dari negeri Cedi mengeluarkan uneg-uneg yang jauh dari skenario ketimuran. Dia bukan berbasa-basi memuji suksesnya acara Sesaja Rajasuya, tapi justru mengecam seenak udelnya.

“Apaan tuh karangan bunga dikirim sampai beribu-ribu. Itu namanya pencitraan murahan! Kresna yang masuk daftar terima dana e-KTP, kenapa jadi ketua panitia Sesaji Rajasuya? Mbelgedeslah semua ini!”

Tentu saja Prabu Kresna jadi tersinggung. Dia segera mengambil senjata Cakra dan dilepaskan mengarah ke jidat Supala, jleb! Terhentilah ucapan provokator lambe turah itu. Para tamu bertepuk tangan, melihat Supala kejet-kejet dijemput maut. (Ki Guna Watoncarita)

Sumber: http://www.kbknews.id/2017/04/30/sesaji-rajasuya/

Quote:
0
5.5K
9
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Budaya
Budaya
KASKUS Official
2.5KThread1.6KAnggota
Tampilkan semua post
hardjasasmitaAvatar border
TS
hardjasasmita
#1
Basudewa Grogol

kaskus-image


BASUDEWA terkenal wayang mata keranjang. Bini sudah tiga, cantik-cantik pula, tetapi masih juga main lirak-lirik bini orang. Diam-diam dia selingkuh dengan Nyai Sagopi istri demang Antyagopa di Widarakandhang. Maka lihat saja Patih Udawa yang di kemudian hari menjadi patih Dwarawati, tampangnya kan mirip-mirip Prabu Basudewa. Jikalau ada perbedaan hanyalah soal rejeki. Sebagai pejabat tinggi negara dia punya rekening gendut di Bank, sedangkan Udawa hanya punya rekening PLN dan PAM.

Paling aneh, meski bini sudah ombyokan, Prabu Basudewa tak juga betah di rumah. Hobinya jadi wayang petualang. Bukan mendaki gunung atau arum jeram, tapi grogol. Apa itu grogol? Jangan salah, ini bukan Grogol terminal bis, melainkan grogol dalam pengertian berburu di hutan. Sebulan sekali beliau bersama patih dan punakawan pasti tinggalkan kerajaan, untuk ngudak-udak macan dan babi hutan. Kalau dapat rusa, di istana langsung dimasak, dibuat tengkleng dan gule.

“He, patih Saraprabawa, jangan banyak makan daging rusa kamu. Bisa kena stroke.” Prabu Basudewa mengingatkan.

“Biarin! Dulu Gus Dur habis kena stroke malah jadi presiden.” Jawab kipatih seenaknya sambil terus menghisap sungsum.

Telah menjadi jadwal tetap, pada hari Dhite Manis (Minggu Legi), Prabu Basudewa berburu ke hutan di kaki Gunung Mahendra. Personalnya juga tetap: Sang Prabu, Patih Suraprabowo dan punakawan Gareng Petruk. Tapi sial kali ini, tak satupun dapat sasaran. Babi hutan, rusa, apa lagi macan; sama sekali tak ketemu. Bahkan yang ada justru onggokan barang-barang bekas. Rupanya kaum pemulung sengaja menampung hasil pulungannya ke dalam hutan, agar tidak mencemari lingkungan. Soal kebersihan lingkungan Mandura memang punya aturan ketat, pelanggar didenda Rp 500.000,-

“Sialan, sepeda rongsokan anak gue ada di sini,” kata Petruk.

“Namanya pemulung, apa saja ditelateni,” tambah Gareng.

Selama ditinggal berburu ke hutan, roda pemerintahan negeri Mandura diserahkan kepada adiknya, Aryaprabu. Tugasnya sekedar gunting pita atau menabuh gong peresmian proyek, memberi sambutan dan memimpin rapat. Namun soal perijinan, harus menunggu Prabu Basudewa kembali. Masalahnya, jika ada amplop-amplop gendut dari pemohon, itu termasuk domain (wewenang) pribadi sang prabu Basudewa.

“Tanda tangan perijinan proyek nggak gampang, jika keliru bisa bisa digugat ke PTUN, lho….,” Prabu Basudewa mencoba menakut-nakuti.

“Oh baik Mas, saya tahu kok.” jawab Aryoprabu, karena memang tahu apa yang tersirat dari yang tersurat.

Ketiga istri raja Mandura itu masing-masing bernama: Dewi Mahindra, Badraini, dan Maerah. Ketiga-tiganya juga belum punya momongan, padahal juga tak pernah lupa dicas bergilir. Makanya, Prabu Basudewa menjadi demikian jenuh pada istri sendiri. Karena itu pula, lama tak ketemu bini tenag-tenang saja dia.

Alkisah, Prabu Gorawongso yang pemerhati kasus Yesica Wongso, sudah lama kasmaran dengan Dewi Maerah bini Prabu Basudewa. Masalahnya, dari ketiga bini raja negeri Mandura tersebut, dialah yang tercatat paling ayu, semog, kulit putih bersih dan betis mbunting padi. Demikian kasmarannya dia pada Dewi Maerah, segala sepak terjang wanita itu selalu dimonitor, dikirimi facebook segala, meski tak pernah dibalas.

“He patih Suratrimantra, aku kepengin memperbaiki keturunan. Misalkan aku menginginkan Dewi Maerah dari Mandura, bagaimana? Ada komentar” ujar raja raksasa itu mencoba konsultasi dengan kipatih.

“Itu ide yang bagus. Tapi paduka harus menyamar mirip Prabu Basudewa, jangan mirip anggota DPR terlibat e-KTP. Kacau nanti urusannya,” saran patih Suratrimantra sambil menyembah.

Demi mendengar kabar bahwa raja negeri Mandura tengah berburu, Prabu Gorawongso segera menyamar sebagai Prabu Basudewa. Dengan pakaian kebesaran raja, yang ternyata malah kekecilan, langsung menuju taman keputren Mandura. Dewa Maerah terkejut sekali, mengapa sang prabu yang baru saja pergi berburu selama dua hari sudah pulang? Katanya, kangennya ngepol pada sang istri. Bisa saja bikin rayuan gombal. Tapi karena Maerah sendiri juga sudah lama menderita malarindu, karenanya hasrat Prabu Basudewa yang menggebu-gebu itu segera dilayani hingga skor menjadi 3-0.

Tapi sial, belum juga ada “perpanjangan waktu” seperti layaknya main bola, mendadak tilam rum (kamar) digedor-gedor Satpam. Wah, repot betul. Mau bersembunyi di kolong, kagak muat. Mau naik ke plafon, takut jebol. Akhirnya Basudewa abal-abal itu kepalang basah harus pasang badan menghadapi Arya Prabu yang telah bersenjata.

“Ada apa Dimas? Kakanda kan baru ada keperluan, kenapa kamu nyelonong saja? Bikin kaco acara saja kamu…..,” Gorawongso yang mirip Basudewa itu marah sekali, padahal baru saja melakukan tendangan duabelas pas.

“Aiyah, kamu kan cuma mirip Basudewa, kan? Mana mungkin Basudewa banyak panu, nggak miyayeni sama sekali” Aryaprabu main tuduh.

Ratu mirip Basudewa itupun digeledhah, tanpa kulanuwun. Ternyata betul, e-KTP-nya atas nama Prabu Gorawongso. Langsung saja raja Sengkapura itu dibuat bancakan, digebuki hingga tewas dan dibakar seperti korban kerusuhan Mei 1998. Prabu Basudewa demi mendengar skandal di taman keputren, segera pulang dan mempersingkat perburuannya. Sial betul prabu Basudewa, punya bini tiga ternyata satu punya PIL. Ditinggal pergi mbebedhag (berburu) di istana malah ‘dibedhog” (dinodai) orang.

Pemred koran dan teve segera dipanggil sang prabu, diajak makan-makan di restoran Padang. Habis itu lalu digelar konprensi pers, dengan pesan media massa dan elektronik dilarang memberitakan skandal tersebut. Barang siapa berani melanggar konsesus, SIUP-nya akan dicabut dan wartawan dan Pemrednya dikandangi.

Di samping itu Prabu Basudewa juga memerintahkan kepada Dewi Maerah untuk menjalani test pisik, sejauh mana penodaan atas diri istri raja Mandura ini telah terjadi. Dan ternyata, tokcer juga ratu Sengkapura itu. Hanya dalam hitungan sebulan perut Maerah telah menggelembung dengan muatan janin di dalamnya. Saat di-USG (Ultra Sono Grafi) di Puskesmas, nampak bayi lelaki yang berwujud setengah buta (raksasa). Gawat nih, jika nanti menjadi buta galak solahe lunjak-lunjak bagaimana coba?

“Saya tidak sudi punya anak semi raksasa, maka mulai hari ini dhiajeng terpaksa dideportasi ke dalam hutan,” perintah Prabu Basudewa marah sekali.

“Kenapa Sinuwun setega itu? Saya kan nggak sengaja. Saya kira waktu itu Sinuwun sendiri, karena sepakterjangnya luar biasa, rosa-rosa seperti Mbah Marijan,” sindir Dewi Maerah.

“Mbuhhhhhh……!”

Sebetulnya sudah banyak yang melobi, termasuk Aryaprabu sendiri, bahkan pengacaranya, Keprita Amputa. Tapi vonis Prabu Basudewa tak bisa diubah, sehingga Dewi Maerah tetap dibuang ke tengah hutan. Kecuali nanti jika 10 tahun ada perubahan perilaku, Maerah bisa dikembalikan ke publik. Namanya ini hukum alternatip.

Patih Sengkapura Suratrimantra mendengar berita tersebut segera mengadakan aksi tanggap darurat. Meski dalam hutan Dewi Maerah dapat tunjangan KSH (Kartu Sengkapura Hamil), seminggu Rp 600.000,- untuk anggaran kontrol di puskesmas dan persalinan nanti.

Saat bayi itu lahir, diberi nama Kangsadewa, sayang Dewi Maerah konduran (meninggal saat melahirkan). Bayi itu dipelihara Suratrimantra, di mana setelah dewasa nanti akan menjadi teroris dan wayang radikal di Mandura, karena menuntut bagian negara Mandura sesigar semangka (separo), tanpa surat pelepasan hak lewat notaris. (Ki Guna Watoncarita).

sumur
Diubah oleh hardjasasmita 22-05-2017 11:19
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.