- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#4358
PART 69
...alles, was ich liebte schließlich verschwinden...
Tawa renyah yang Gua keluarkan membuat bahu ini dipukul oleh seorang wanita yang berada di samping Gua.
"Hahahaha... Ahahaha..", tawa Gua.
"Jahat ih! Kasian iiih...",
"Eza! Udah ih cepet bersihin!", ucap wanita itu.
Gua pun mengambil tissu basah sambil tertawa, lalu membersihkan pup si cantik dengan telaten, lalu mengelapnya lagi dengan tissu kering, baru kembali memakaikan celana dalam dan celana panjangnya. Gua memanggil art untuk membersihkan bekas tissu tadi dan memintanya mencuci celana kotor si cantik. Setelah itu kembali Gua gendong dia dengan hati-hati dan berjalan kearah halaman belakang.
"Mba.. Mba Laras..".
"Ya kenapa Lun ?", ucap Mba Laras kepada Luna yang berjalan cepat dari samping Gua dan duduk di samping Mba Laras, di dalam gazebo.
"Tuh si cantik dibikin nangis Mba sama Ayahnya..", jawab Luna kepada Mba Laras. Lalu Luna menatap kearah Gua lagi yang masih berjalan menghampiri mereka. "Jahat ihh.. Heuh!", sungutnya kesal.
"Emang kenapa Eza nya Lun ?", tanya Mba Laras lagi kepada Luna.
"Tadi si cantik pup Mba, udah nangis gitu, eh malah di diemin sama si Eza, sengaja dibiarin... Kan kasian Mba", jawab Luna penuh semangat.
Gua tertawa mendengar Luna mengadukan tingkah Gua tadi. "Ahahaha.. Lucu tau... Ahahaha... Aduduh.. Sakit perut nih tawa mulu dah... Haahaahaa..", tawa Gua setelah berdiri di depan mereka berdua.
"Udah ah ketawa terus kamu Za, hati-hati si cantik jatuh nanti..", ucap Mba Laras seraya berdiri dan melihat si cantik dari sisi kiri Gua.
"Iya tuh, malah seneng anaknya nangis!", Luna masih saja kesal.
"Sini Za, Mba gendong dulu, kamu makan gih sama Luna, udah sore belum pada makan..", ucap Mba Laras.
"Oh iya ya, tamu gak disuguhin apa-apa, maaf maaf lupa hehehe", jawab Gua lalu memberikan si cantik kepada Mba Laras.
"Gampang kok Mba, nanti aja, barengan sama Mba dan Nenek makannya", ucap Luna sambil memainkan jemarinya di pipi si cantik.
"Udah sana kalian makan duluan, Mba bareng Nenek aja.. Ayo makan dulu Lun..",
"Eza, teman mu ajak makan sana..".
"Yuk Lun.. Kita makan duluan aja, nanti gantian Mba Laras sama Nenek makan, kita main lagi sama si cantik", ajak Gua.
Luna akhirnya mengangguk walaupun sebenarnya ia masih ingin bermain dengan anak Gua itu. Kami berdua berjalan masuk ke dalam rumah lagi, lalu setelah art menyediakan makanan di atas meja makan, Gua dan Luna pun duduk bersebelahan di ruang makan ini.
"Nasinya segini cukup ?", tanya Luna seraya menyendok nasi ke piring.
Gua sedikit terkejut melihatnya, karena jujur saja, Gua fikir dia mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
"Eh, iya cukup kok...", jawab Gua tersadar.
"Mau pakai ayam atau udang Za ? Sayurnya dipisah di mangkuk aja ? Atau dicampur ke nasi ?".
"Ehm.. Eeuu.. Disatuin aja sama nasi sayurnya Lun, lauknya ayam aja", jawab Gua.
Setelah itu Luna memberikan makanan yang sudah ia ambil tadi kepada Gua, barulah dia mengambil makanan untuknya sendiri. Kami duduk bersebelahan. Sambil menyantap makanan, Gua dan Luna sesekali mengobrol perihal perkuliahannya, dan dari obrolan inilah Gua baru mengetahui kalo Luna menargetkan kelulusannya dalam waktu tiga setengah tahun untuk menjadi sarjana psikologi. Kemudian kami pun berganti topik obrolan...
"Besok pengajiannya jam berapa Za ?", tanya Luna setelah menaruh sendok makannya.
"Jam empat Lun, sehabis Ashar..", jawab Gua seraya mengambil gelas yang berisi air mineral.
"Enggak kerasa ya, udah empat puluh hari..", ucap Luna lagi.
Gua menghela nafas pelan, lalu menengok ke kiri, dimana ruang keluarga berada. Lalu menatap ke arah sebuah foto yang berbingkai putih di dinding ruangan tersebut.
"Iya, perasaan baru aja kemarin aku nikahin dia Lun..", jawab Gua pelan setelah meneguk minuman.
"Mmm.. Maaf ya Za, aku gak maksud buat kamu sedih lagi", ucap Luna sambil memegang bahu kanan Gua.
"Eh, enggak kok, gak apa-apa Lun, aku udah mulai terbiasa, gak sekalut waktu awal-awal dulu..", Gua menengok kepada Luna sambil tersenyum.
Franziska Luna Katrina, seorang wanita yang belakangan ini dekat dengan Gua dan juga keluarga Gua, tidak terkecuali si cantik. Jarak tempat tinggal kami yang berdekatan dan masih satu blok perumahan membuat dirinya sering mampir ke rumah Gua, hampir setiap hari dirinya menengok kami. Entah apa yang diucapkan Mba Yu dulu yang menilai Luna adalah orang yang jahat di matanya, tidak nampak di mata Gua, tentu saja terlepas dari persoalan mereka berdua di masa lalu. Luna wanita yang cukup supel, bisa dengan mudah mengakrabkan diri dengan Nenek dan Mba Laras dalam kurun waktu sebulan ini. Pertanyaannya setelah itu semua, apakah Gua jatuh hati kepadanya ? Tentu saja tidak. Karena hati ini masih sangat tertutup rapat untuk menerima wanita lain selain nama mendiang istri Gua. Sekalipun Vera yang hadir saat ini, Gua belum tentu bisa menerimanya.
Tanpa Gua sadari ternyata ada seseorang yang sedang memperhatikan kami, dan dia berjalan menghampiri ke meja makan ini.
"Enggak nambah Luna makannya ?", tanyanya.
"Oh udah cukup, udah kenyang Nek..", jawab Luna kepada Nenek yang berada di sebrang kami.
"Tuh ada buah Lun, ada jeruk, anggur sama apel, buat pencuci mulut", ucap Nenek lagi.
"Iya Nek, terimakasih.. Udah cukup ini..",
"Nenek gak makan ?", tanya Luna kali ini.
"Nanti sebentar lagi, bareng Mba Laras", jawab Nenek lalu menarik kursi di depan kami dan duduk.
"Yaudah, Eza panggil Mba Laras dulu ya Nek, biar langsung makan sekarang, kasian Mba Laras juga daritadi gendongin si dede", ucap Gua kali ini seraya bangun dari duduk lalu mengangkat piring kotor.
Nenek tersenyum lalu mengangguk kepada Gua. "Iya Za, panggil Mba Larasnya, udah sore dia belum makan tuh".
"Eh Za, sini biar aku bawa piring kotornya sekalian ke dapur", ucap Luna seraya mengambil piring kotor dari tangan Gua lalu membawanya ke dapur.
Gua masih berdiri di depan meja makan, di hadapan Nenek juga. Gua mengambil anggur di atas meja, tapi mata Gua menangkap senyuman dari bibir Nenek. Ya, Nenek tersenyum penuh arti kepada Gua. Lalu Gua menaikkan alis seraya memakan menggigit anggur.
"Cantik, baik, rajin, perhatian dan penyayang anak kecil loch Za..", ucap Nenek tiba-tiba.
"Tapi beda keyakinan", jawab Gua lalu meninggalkan Nenek yang tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.
...
...
...
Si cantik sedang digendong Neneknya, Mamah mertua Gua, sedangkan Gua dan Papah mertua berada di halaman belakang, melihat bangunan peneduh yang baru selesai tadi siang untuk makam istri Gua. Sore ini alhamdulilah semuanua berjalan lancar, pengajian empat puluh hari istri Gua sudah selesai setengah jam yang lalu.
"Bagus Za bangunannya, atapnya bisa dibuka tutup ya ?", tanya Papah mertua Gua yang berdiri di samping.
"Iya Pah, sengaja agar bisa terhindar dari hujan deras...", jawab Gua,
"Oh ya Pah, jadi mau bawa nginep si dede ?", tanya Gua balik.
"Oh jadi Za, kamu gak keberatan kan ?".
"Oh enggak Pah, enggak apa-apa..".
"Iya, Neneknya kangen itu, pingin tidur sama cucunya".
Gua tersenyum kepada beliau. Lalu kami kembali masuk ke dalam rumah lagi. Tidak lama suara adzan maghrib berkumandang, kami semua melaksanakan shalat maghrib berjama'ah di ruang keluarga, kecuali Mba Laras karena memang sedang berhalangan serta menjaga si cantik bersama Luna, yang memang non-muslim. Selesai beribadah, kami semua berkumpul di ruang tamu.
"Ini teman mu yang dulu itu kan ? Yang ikut ke rumah sakit waktu Elsa melahirkan..", ucap Mamah mertua Gua.
"Iya Mah, ini Luna, kebetulan rumahnya dekat dari sini", jawab Gua,
"Mamah dan Papah sudah kenalkan ?", tanya Gua.
"Iya, sudah.. Waktu di rumah sakit dulu", jawab Papah mertua Gua kali ini.
Luna hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala kepada kedua mertua Gua.
Sekitar pukul tujuh malam, si cantik di bawa oleh kedua mertua Gua untuk menginap di rumah mereka, tidak banyak barang bawaan si cantik karena hanya akan menginap selama dua hari paling lama katanya. Setelah kedua mertua Gua pulang bersama si cantik, kini Gua duduk di sofa teras depan rumah bersama Luna. Mba Laras dan Nenek sedang berada di dapur mempersiapkan makan malam.
"Rumahnya Echa jauh dari sini Za ?", tanya Luna.
"Mmm... Enggak juga sih, lumayanlah, di bilang jauh enggak, di bilang deket juga enggak..", jawab gua seraya menghembuskan asap rokok keatas,
"Eh ngomong-ngomong rumah kamu sebelah mana Lun ? Aku belum tau", tanya Gua sambil menengok kepadanya di kanan.
"Di no. xx, dekat masjid komplek Za, yang pas diujung jalan belok kanan, ketiga dari kiri", jawabnya.
"Ooh sebelum masjid, berarti ujung sebelah sini ya ? Soalnya masjid kan ada di ujung sana".
"Iya Za, kalo dari arah masjid, rumah ke ketujuh", jawabnya lagi.
"Eh ayo kita makan dulu, Eza, Luna.. Udah siap tuh makanannya di meja makan", ajak Nenek yang baru berdiri di ambang pintu rumah.
Kami pun masuk ke dalam lagi untuk makan malam bersama. Selesai makan, kami hanya mengobrol santai di meja makan, lalu membicarakan soal bisnis kuliner, ya karena sekarangkan Gua dan Luna selain teman juga termasuk rekan bisnis, Papahnya menanam modal di restoran yang akan Gua bangun itu. Dan tentu saja Mba Laras sebagai perwakilan dari pihak Gua dan istri yang memegang segala kebijakan menjadi lebih sering bertemu dengan Luna untuk membicarakan hal tersebut. Gua memang sengaja menyerahkan semuanya kepada Mba Laras karena Ibu Gua itu berpengalaman dalam berbisnis, apalagi gelar pendidikannya sudah MBA (master of business administration) dari Oxford, jadi sudah lebih dari cukup bagi Gua untuk mempercayakan bisnis ini kepada Ibu Gua itu.
Pukul delapan malam Luna pulang ke rumahnya setelah selesai bercengkrama dengan kami sekeluarga dan membantu mempersiapkan pengajian tadi sore.
"Za..", panggil Mba Laras ketika kami berdua sedang berada di ruang keluarga.
"Ya Mba ?".
"Luna baik ya..", ucapnya kali ini sambil tersenyum kepada Gua lalu melirik kepada Nenek yang duduk di sampingnya.
"Iya Mba, dia baik, cantik, perhatian, orang berada, penyayang anak kecil lagi.. Apalagi Mba ? Nek ?", jawab Gua seraya menebak arah pembicaraan ini.
"Ahahahaha... Kamu tuh tau aja Mba sama Nenek mau ngomong apa deh.. Gak asyik ah", ucap Mba Laras.
"Ya terus gimana coba ? Hadeuh..",
"Gini ya.. Ehm.. Jangankan Luna, andai kata sekarang Vera yang ada di sini, menemani aku, itu semua belum mampu membuka hati aku Mba, baru empat puluh hari dia pergi, gak semudah itu untuk aku nerima wanita lain...", ucap Gua.
"Iya Mba paham, Mba ngerti, tapi bukan berarti kamu terus berlarut-larut kan ? Memang ini masih baru, tapi lama-kelamaan juga kamu butuh sosok wanita lain, dan juga ibu baru untuk si cantik.. Ya enggak sekarang sih Za.. Someday you will find that's way.. And you deserve happiness sayang.. Mba yakin Echa juga pasti setuju dan senang melihat kamu dan si cantik mendapatkan penggantinya, yang penting tulus menyayangi kalian berdua", ucap Mba Laras sambil tersenyum.
"Yeah.. Aku tau Mba, tapi enggak sekarang.. Seperti kata Mba tadi, not today, but someday.. I will find her..".
"Hahahaha... Ahahaha..", tawa Gua.
"Jahat ih! Kasian iiih...",
"Eza! Udah ih cepet bersihin!", ucap wanita itu.
Gua pun mengambil tissu basah sambil tertawa, lalu membersihkan pup si cantik dengan telaten, lalu mengelapnya lagi dengan tissu kering, baru kembali memakaikan celana dalam dan celana panjangnya. Gua memanggil art untuk membersihkan bekas tissu tadi dan memintanya mencuci celana kotor si cantik. Setelah itu kembali Gua gendong dia dengan hati-hati dan berjalan kearah halaman belakang.
"Mba.. Mba Laras..".
"Ya kenapa Lun ?", ucap Mba Laras kepada Luna yang berjalan cepat dari samping Gua dan duduk di samping Mba Laras, di dalam gazebo.
"Tuh si cantik dibikin nangis Mba sama Ayahnya..", jawab Luna kepada Mba Laras. Lalu Luna menatap kearah Gua lagi yang masih berjalan menghampiri mereka. "Jahat ihh.. Heuh!", sungutnya kesal.
"Emang kenapa Eza nya Lun ?", tanya Mba Laras lagi kepada Luna.
"Tadi si cantik pup Mba, udah nangis gitu, eh malah di diemin sama si Eza, sengaja dibiarin... Kan kasian Mba", jawab Luna penuh semangat.
Gua tertawa mendengar Luna mengadukan tingkah Gua tadi. "Ahahaha.. Lucu tau... Ahahaha... Aduduh.. Sakit perut nih tawa mulu dah... Haahaahaa..", tawa Gua setelah berdiri di depan mereka berdua.
"Udah ah ketawa terus kamu Za, hati-hati si cantik jatuh nanti..", ucap Mba Laras seraya berdiri dan melihat si cantik dari sisi kiri Gua.
"Iya tuh, malah seneng anaknya nangis!", Luna masih saja kesal.
"Sini Za, Mba gendong dulu, kamu makan gih sama Luna, udah sore belum pada makan..", ucap Mba Laras.
"Oh iya ya, tamu gak disuguhin apa-apa, maaf maaf lupa hehehe", jawab Gua lalu memberikan si cantik kepada Mba Laras.
"Gampang kok Mba, nanti aja, barengan sama Mba dan Nenek makannya", ucap Luna sambil memainkan jemarinya di pipi si cantik.
"Udah sana kalian makan duluan, Mba bareng Nenek aja.. Ayo makan dulu Lun..",
"Eza, teman mu ajak makan sana..".
"Yuk Lun.. Kita makan duluan aja, nanti gantian Mba Laras sama Nenek makan, kita main lagi sama si cantik", ajak Gua.
Luna akhirnya mengangguk walaupun sebenarnya ia masih ingin bermain dengan anak Gua itu. Kami berdua berjalan masuk ke dalam rumah lagi, lalu setelah art menyediakan makanan di atas meja makan, Gua dan Luna pun duduk bersebelahan di ruang makan ini.
"Nasinya segini cukup ?", tanya Luna seraya menyendok nasi ke piring.
Gua sedikit terkejut melihatnya, karena jujur saja, Gua fikir dia mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
"Eh, iya cukup kok...", jawab Gua tersadar.
"Mau pakai ayam atau udang Za ? Sayurnya dipisah di mangkuk aja ? Atau dicampur ke nasi ?".
"Ehm.. Eeuu.. Disatuin aja sama nasi sayurnya Lun, lauknya ayam aja", jawab Gua.
Setelah itu Luna memberikan makanan yang sudah ia ambil tadi kepada Gua, barulah dia mengambil makanan untuknya sendiri. Kami duduk bersebelahan. Sambil menyantap makanan, Gua dan Luna sesekali mengobrol perihal perkuliahannya, dan dari obrolan inilah Gua baru mengetahui kalo Luna menargetkan kelulusannya dalam waktu tiga setengah tahun untuk menjadi sarjana psikologi. Kemudian kami pun berganti topik obrolan...
"Besok pengajiannya jam berapa Za ?", tanya Luna setelah menaruh sendok makannya.
"Jam empat Lun, sehabis Ashar..", jawab Gua seraya mengambil gelas yang berisi air mineral.
"Enggak kerasa ya, udah empat puluh hari..", ucap Luna lagi.
Gua menghela nafas pelan, lalu menengok ke kiri, dimana ruang keluarga berada. Lalu menatap ke arah sebuah foto yang berbingkai putih di dinding ruangan tersebut.
"Iya, perasaan baru aja kemarin aku nikahin dia Lun..", jawab Gua pelan setelah meneguk minuman.
"Mmm.. Maaf ya Za, aku gak maksud buat kamu sedih lagi", ucap Luna sambil memegang bahu kanan Gua.
"Eh, enggak kok, gak apa-apa Lun, aku udah mulai terbiasa, gak sekalut waktu awal-awal dulu..", Gua menengok kepada Luna sambil tersenyum.
Franziska Luna Katrina, seorang wanita yang belakangan ini dekat dengan Gua dan juga keluarga Gua, tidak terkecuali si cantik. Jarak tempat tinggal kami yang berdekatan dan masih satu blok perumahan membuat dirinya sering mampir ke rumah Gua, hampir setiap hari dirinya menengok kami. Entah apa yang diucapkan Mba Yu dulu yang menilai Luna adalah orang yang jahat di matanya, tidak nampak di mata Gua, tentu saja terlepas dari persoalan mereka berdua di masa lalu. Luna wanita yang cukup supel, bisa dengan mudah mengakrabkan diri dengan Nenek dan Mba Laras dalam kurun waktu sebulan ini. Pertanyaannya setelah itu semua, apakah Gua jatuh hati kepadanya ? Tentu saja tidak. Karena hati ini masih sangat tertutup rapat untuk menerima wanita lain selain nama mendiang istri Gua. Sekalipun Vera yang hadir saat ini, Gua belum tentu bisa menerimanya.
Tanpa Gua sadari ternyata ada seseorang yang sedang memperhatikan kami, dan dia berjalan menghampiri ke meja makan ini.
"Enggak nambah Luna makannya ?", tanyanya.
"Oh udah cukup, udah kenyang Nek..", jawab Luna kepada Nenek yang berada di sebrang kami.
"Tuh ada buah Lun, ada jeruk, anggur sama apel, buat pencuci mulut", ucap Nenek lagi.
"Iya Nek, terimakasih.. Udah cukup ini..",
"Nenek gak makan ?", tanya Luna kali ini.
"Nanti sebentar lagi, bareng Mba Laras", jawab Nenek lalu menarik kursi di depan kami dan duduk.
"Yaudah, Eza panggil Mba Laras dulu ya Nek, biar langsung makan sekarang, kasian Mba Laras juga daritadi gendongin si dede", ucap Gua kali ini seraya bangun dari duduk lalu mengangkat piring kotor.
Nenek tersenyum lalu mengangguk kepada Gua. "Iya Za, panggil Mba Larasnya, udah sore dia belum makan tuh".
"Eh Za, sini biar aku bawa piring kotornya sekalian ke dapur", ucap Luna seraya mengambil piring kotor dari tangan Gua lalu membawanya ke dapur.
Gua masih berdiri di depan meja makan, di hadapan Nenek juga. Gua mengambil anggur di atas meja, tapi mata Gua menangkap senyuman dari bibir Nenek. Ya, Nenek tersenyum penuh arti kepada Gua. Lalu Gua menaikkan alis seraya memakan menggigit anggur.
"Cantik, baik, rajin, perhatian dan penyayang anak kecil loch Za..", ucap Nenek tiba-tiba.
"Tapi beda keyakinan", jawab Gua lalu meninggalkan Nenek yang tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.
...
...
...
Si cantik sedang digendong Neneknya, Mamah mertua Gua, sedangkan Gua dan Papah mertua berada di halaman belakang, melihat bangunan peneduh yang baru selesai tadi siang untuk makam istri Gua. Sore ini alhamdulilah semuanua berjalan lancar, pengajian empat puluh hari istri Gua sudah selesai setengah jam yang lalu.
"Bagus Za bangunannya, atapnya bisa dibuka tutup ya ?", tanya Papah mertua Gua yang berdiri di samping.
"Iya Pah, sengaja agar bisa terhindar dari hujan deras...", jawab Gua,
"Oh ya Pah, jadi mau bawa nginep si dede ?", tanya Gua balik.
"Oh jadi Za, kamu gak keberatan kan ?".
"Oh enggak Pah, enggak apa-apa..".
"Iya, Neneknya kangen itu, pingin tidur sama cucunya".
Gua tersenyum kepada beliau. Lalu kami kembali masuk ke dalam rumah lagi. Tidak lama suara adzan maghrib berkumandang, kami semua melaksanakan shalat maghrib berjama'ah di ruang keluarga, kecuali Mba Laras karena memang sedang berhalangan serta menjaga si cantik bersama Luna, yang memang non-muslim. Selesai beribadah, kami semua berkumpul di ruang tamu.
"Ini teman mu yang dulu itu kan ? Yang ikut ke rumah sakit waktu Elsa melahirkan..", ucap Mamah mertua Gua.
"Iya Mah, ini Luna, kebetulan rumahnya dekat dari sini", jawab Gua,
"Mamah dan Papah sudah kenalkan ?", tanya Gua.
"Iya, sudah.. Waktu di rumah sakit dulu", jawab Papah mertua Gua kali ini.
Luna hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala kepada kedua mertua Gua.
Sekitar pukul tujuh malam, si cantik di bawa oleh kedua mertua Gua untuk menginap di rumah mereka, tidak banyak barang bawaan si cantik karena hanya akan menginap selama dua hari paling lama katanya. Setelah kedua mertua Gua pulang bersama si cantik, kini Gua duduk di sofa teras depan rumah bersama Luna. Mba Laras dan Nenek sedang berada di dapur mempersiapkan makan malam.
"Rumahnya Echa jauh dari sini Za ?", tanya Luna.
"Mmm... Enggak juga sih, lumayanlah, di bilang jauh enggak, di bilang deket juga enggak..", jawab gua seraya menghembuskan asap rokok keatas,
"Eh ngomong-ngomong rumah kamu sebelah mana Lun ? Aku belum tau", tanya Gua sambil menengok kepadanya di kanan.
"Di no. xx, dekat masjid komplek Za, yang pas diujung jalan belok kanan, ketiga dari kiri", jawabnya.
"Ooh sebelum masjid, berarti ujung sebelah sini ya ? Soalnya masjid kan ada di ujung sana".
"Iya Za, kalo dari arah masjid, rumah ke ketujuh", jawabnya lagi.
"Eh ayo kita makan dulu, Eza, Luna.. Udah siap tuh makanannya di meja makan", ajak Nenek yang baru berdiri di ambang pintu rumah.
Kami pun masuk ke dalam lagi untuk makan malam bersama. Selesai makan, kami hanya mengobrol santai di meja makan, lalu membicarakan soal bisnis kuliner, ya karena sekarangkan Gua dan Luna selain teman juga termasuk rekan bisnis, Papahnya menanam modal di restoran yang akan Gua bangun itu. Dan tentu saja Mba Laras sebagai perwakilan dari pihak Gua dan istri yang memegang segala kebijakan menjadi lebih sering bertemu dengan Luna untuk membicarakan hal tersebut. Gua memang sengaja menyerahkan semuanya kepada Mba Laras karena Ibu Gua itu berpengalaman dalam berbisnis, apalagi gelar pendidikannya sudah MBA (master of business administration) dari Oxford, jadi sudah lebih dari cukup bagi Gua untuk mempercayakan bisnis ini kepada Ibu Gua itu.
Pukul delapan malam Luna pulang ke rumahnya setelah selesai bercengkrama dengan kami sekeluarga dan membantu mempersiapkan pengajian tadi sore.
"Za..", panggil Mba Laras ketika kami berdua sedang berada di ruang keluarga.
"Ya Mba ?".
"Luna baik ya..", ucapnya kali ini sambil tersenyum kepada Gua lalu melirik kepada Nenek yang duduk di sampingnya.
"Iya Mba, dia baik, cantik, perhatian, orang berada, penyayang anak kecil lagi.. Apalagi Mba ? Nek ?", jawab Gua seraya menebak arah pembicaraan ini.
"Ahahahaha... Kamu tuh tau aja Mba sama Nenek mau ngomong apa deh.. Gak asyik ah", ucap Mba Laras.
"Ya terus gimana coba ? Hadeuh..",
"Gini ya.. Ehm.. Jangankan Luna, andai kata sekarang Vera yang ada di sini, menemani aku, itu semua belum mampu membuka hati aku Mba, baru empat puluh hari dia pergi, gak semudah itu untuk aku nerima wanita lain...", ucap Gua.
"Iya Mba paham, Mba ngerti, tapi bukan berarti kamu terus berlarut-larut kan ? Memang ini masih baru, tapi lama-kelamaan juga kamu butuh sosok wanita lain, dan juga ibu baru untuk si cantik.. Ya enggak sekarang sih Za.. Someday you will find that's way.. And you deserve happiness sayang.. Mba yakin Echa juga pasti setuju dan senang melihat kamu dan si cantik mendapatkan penggantinya, yang penting tulus menyayangi kalian berdua", ucap Mba Laras sambil tersenyum.
"Yeah.. Aku tau Mba, tapi enggak sekarang.. Seperti kata Mba tadi, not today, but someday.. I will find her..".
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam ketika Gua berjongkok di samping 'rumah' Echa. Gua tersenyum seraya memegangi nisannya.
"Malam sayang... Lagi apa di sana ? Masih terang kan sayang ? Enggak gelap ?
Tadi sore kami mengadakan pengajian untuk kamu sayang, ah kamu pasti denger kan.. Alhamdulilah banyak yang datang ke sini...
Oh ya, tuh liat deh, atapnya udah jadi, peneduh rumah kamu ini.. Bagus gak ? Suka gak Cha ? Mudah-mudahan kamu suka ya sayang...
Cha, si cantik lagi dibawa nginep sama Kakek dan Neneknya, Papah sama Mamah kamu... Aku kangen nih sama dia, dua hari katanya mereka ajak si cantik nginep, hmmm...
Huufftt... Cha, aku rindu sama kamu Cha.. Aku kangen banget sama kamu Cha..."
Dan lagi-lagi airmata Gua menetes dengan sendirinya, cengkraman tangan kanan Gua kuat pada nisannya.
"Maafin aku ya sayang, aku belum benar-benar bisa lepasin kepergian kamu.. Maaf kalo sampai jalan kamu terhambat.. Maaf sayang, gak mudah untuk aku lupain kamu...
Cha, suatu saat aku pasti akan mencari pendamping hidup lagi Cha, untuk mengurus aku, mengurus anak kita kelak.. Tapi bukan sekarang Cha, hati ini masih milik kamu Cha, selamanya..
Biarkan sekarang aku berjalan dengan keadaan ini, menikmati semuanya dengan berjuta kenangan bersama kamu dalam ingatan ku sayang...
Kamu tak akan tergantikan Cha, jika suatu saat aku sudah menemukan pendamping lagi, dia bukan lah pengganti kamu, bukan.. Tapi dia adalah pelengkap Cha, pelengkap atas cinta kita berdua... Dan cinta itu milik kita, selamanya dan tak akan terganti."
"Malam sayang... Lagi apa di sana ? Masih terang kan sayang ? Enggak gelap ?
Tadi sore kami mengadakan pengajian untuk kamu sayang, ah kamu pasti denger kan.. Alhamdulilah banyak yang datang ke sini...
Oh ya, tuh liat deh, atapnya udah jadi, peneduh rumah kamu ini.. Bagus gak ? Suka gak Cha ? Mudah-mudahan kamu suka ya sayang...
Cha, si cantik lagi dibawa nginep sama Kakek dan Neneknya, Papah sama Mamah kamu... Aku kangen nih sama dia, dua hari katanya mereka ajak si cantik nginep, hmmm...
Huufftt... Cha, aku rindu sama kamu Cha.. Aku kangen banget sama kamu Cha..."
Dan lagi-lagi airmata Gua menetes dengan sendirinya, cengkraman tangan kanan Gua kuat pada nisannya.
"Maafin aku ya sayang, aku belum benar-benar bisa lepasin kepergian kamu.. Maaf kalo sampai jalan kamu terhambat.. Maaf sayang, gak mudah untuk aku lupain kamu...
Cha, suatu saat aku pasti akan mencari pendamping hidup lagi Cha, untuk mengurus aku, mengurus anak kita kelak.. Tapi bukan sekarang Cha, hati ini masih milik kamu Cha, selamanya..
Biarkan sekarang aku berjalan dengan keadaan ini, menikmati semuanya dengan berjuta kenangan bersama kamu dalam ingatan ku sayang...
Kamu tak akan tergantikan Cha, jika suatu saat aku sudah menemukan pendamping lagi, dia bukan lah pengganti kamu, bukan.. Tapi dia adalah pelengkap Cha, pelengkap atas cinta kita berdua... Dan cinta itu milik kita, selamanya dan tak akan terganti."
Memang tak mudah tapi ku tegar menjalani kosong nya hati...
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa...
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa...
kadalbuntingzzz dan 2 lainnya memberi reputasi
3
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
