- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#4283
PART 67
Satu minggu sudah istri Gua meninggalkan berjuta kenangan dalam ingatan kami, keluarganya.
Selesai pengajian tujuh hari selepas ba'da isya, Gua masuk ke kamar di lantai dua, kamar yang pernah istri Gua ingin tempati di rumah baru ini setelah melahirkan anak kami. Tapi sayang keinginannya belum sempat terwujud. Gua duduk di tepian kasur, melihat seorang bayi yang sedang tertidur lelap dengan balutan selimut berwarna putih dengan motif kupu-kupu berwarna warni.
Gua beringsut mendekati anak Gua itu perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan gerakan yang bisa membuatnya terbangun, setelah tepat berada di sampingnya, Gua tersenyum lalu mengecup pipinya yang merah merona.
"Hai Nak, ini Ayah, tidur yang lelap ya sayang.. Besok Ayah ajak kamu berjemur di halaman, kita sambut mentari pagi bersama-sama ya Nak..", bisik Gua dengan nada selembut mungkin.
Entahlah, seolah-olah dia mendengar ucapan Ayahnya ini, matanya bergerak walaupun masih tertutup, lalu kepalanya bergoyang ke kanan sedikit dan kembali terdiam, kembali tidur dengan damai.
Gua menyeuka airmata yang sedikit keluar disudut mata ini. Lalu kembali tersenyum.
"Za, mau tidur sama kamu disini ? Atau Mba bawa ke bawah ?", tanya Mba Laras dengan suara berbisik dari sisi kasur.
Gua menunjuk kasur ini, memberikan kode bahwa biarlah malam ini anak tercinta Gua tidur bersama Ayahnya. Mba Laras akhirnya keluar kamar dan membiarkan pintunya setengah tertutup, lalu Gua bangun dan melangkah ke lemari pakaian. Gua mengambil sebuah cardigans hitam milik istri Gua dan kembali ke kasur, rebahan di samping sang buah hati. Lalu Gua mendekap erat cardigans ini, mencium setiap aroma yang ditimbulkan oleh pakaian tersebut. Tanpa terasa airmata Gua kembali mengalir, merasakan setiap kehadirannya pada cardigans hitam miliknya.
Gua tau ini tidak baik, belum bisa ikhlas secara tulus melepaskan kepergian Echa. Tapi apakah semudah itu merelakannya ? Tidak mungkin, sulit bagi Gua merelakan bahkan mengikhlaskan kepergian almarhumah istri tercinta Gua itu. Sekalipun ini salah, dan mungkin menghambat 'jalan' nya untuk pergi ke dimensi berbeda, biarlah Echa tetap berada di rumah ini, bersama kami keluarganya.
Gua tidak bisa memejamkan mata sekalipun airmata sudah mengering dan waktu sudah semakin larut malam. Gua bangun lagi dari kasur, lalu mengambil sebuah kelambu bayi untuk menutupi anak Gua itu, menjaga agar nyamuk ataupun binatang kecil tidak membangunkannya, kemudian Gua berjalan kearah beranda kamar, membuka pintu gesernya lalu duduk di kursi kayu beranda ini, cardigans milik istri Gua masih Gua dekap dengan erat ke dada ini, hingga kembali Gua menciumi aromanya dan menempelkannya ke hidung Gua. Gua hirup dalam-dalam aromanya sampai mata Gua terpejam.
Hembusan angin malam menerpa tubuh Gua, rasa dingin yang menyapa hingga ketulang ini semakin membuat fikiran Gua mengenang kebersamaan antara Gua dengan Echa. Jauh kenangan yang Gua bangkitkan, saat itu yang timbul adalah kenangan masa kecil kami. Sebuah adegan layaknya pada layar lebar benar-benar terlihat dengan jelas, dimana untuk pertama kalinya Gua mengenal sosok seorang gadis berpostur gendut sedang menangis karena diledek oleh temannya yang lain.
Gua mendekati mereka dan langsung memukul kepala bagian belakang salah satu anak laki-laki yang masih tertawa sambil menyebut si gendut kepada Echa kecil. Ya bisa dibayangkan, kejadian selanjutnya adalah perkelahian tiga anak lelaki melawan satu anak lelaki, jelas Gua kalah dan dikeroyok oleh mereka bertiga, tidak lama kemudian Nenek Gua datang dan memarahi tiga anak lelaki itu hingga mereka pergi meninggalkan kami.
Dari situlah awal Gua mengenal Echa, yang ternyata tetangga rumah, dan juga menjadi teman satu sekolah kelak, walaupun dia adalah kakak kelas Gua, ternyata kami menjadi dekat, menjadi sahabat, adik-kakak dan berakhir dengan hubungan suami istri untuk kami.
Selesai pengajian tujuh hari selepas ba'da isya, Gua masuk ke kamar di lantai dua, kamar yang pernah istri Gua ingin tempati di rumah baru ini setelah melahirkan anak kami. Tapi sayang keinginannya belum sempat terwujud. Gua duduk di tepian kasur, melihat seorang bayi yang sedang tertidur lelap dengan balutan selimut berwarna putih dengan motif kupu-kupu berwarna warni.
Gua beringsut mendekati anak Gua itu perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan gerakan yang bisa membuatnya terbangun, setelah tepat berada di sampingnya, Gua tersenyum lalu mengecup pipinya yang merah merona.
"Hai Nak, ini Ayah, tidur yang lelap ya sayang.. Besok Ayah ajak kamu berjemur di halaman, kita sambut mentari pagi bersama-sama ya Nak..", bisik Gua dengan nada selembut mungkin.
Entahlah, seolah-olah dia mendengar ucapan Ayahnya ini, matanya bergerak walaupun masih tertutup, lalu kepalanya bergoyang ke kanan sedikit dan kembali terdiam, kembali tidur dengan damai.
Gua menyeuka airmata yang sedikit keluar disudut mata ini. Lalu kembali tersenyum.
"Za, mau tidur sama kamu disini ? Atau Mba bawa ke bawah ?", tanya Mba Laras dengan suara berbisik dari sisi kasur.
Gua menunjuk kasur ini, memberikan kode bahwa biarlah malam ini anak tercinta Gua tidur bersama Ayahnya. Mba Laras akhirnya keluar kamar dan membiarkan pintunya setengah tertutup, lalu Gua bangun dan melangkah ke lemari pakaian. Gua mengambil sebuah cardigans hitam milik istri Gua dan kembali ke kasur, rebahan di samping sang buah hati. Lalu Gua mendekap erat cardigans ini, mencium setiap aroma yang ditimbulkan oleh pakaian tersebut. Tanpa terasa airmata Gua kembali mengalir, merasakan setiap kehadirannya pada cardigans hitam miliknya.
Gua tau ini tidak baik, belum bisa ikhlas secara tulus melepaskan kepergian Echa. Tapi apakah semudah itu merelakannya ? Tidak mungkin, sulit bagi Gua merelakan bahkan mengikhlaskan kepergian almarhumah istri tercinta Gua itu. Sekalipun ini salah, dan mungkin menghambat 'jalan' nya untuk pergi ke dimensi berbeda, biarlah Echa tetap berada di rumah ini, bersama kami keluarganya.
Gua tidak bisa memejamkan mata sekalipun airmata sudah mengering dan waktu sudah semakin larut malam. Gua bangun lagi dari kasur, lalu mengambil sebuah kelambu bayi untuk menutupi anak Gua itu, menjaga agar nyamuk ataupun binatang kecil tidak membangunkannya, kemudian Gua berjalan kearah beranda kamar, membuka pintu gesernya lalu duduk di kursi kayu beranda ini, cardigans milik istri Gua masih Gua dekap dengan erat ke dada ini, hingga kembali Gua menciumi aromanya dan menempelkannya ke hidung Gua. Gua hirup dalam-dalam aromanya sampai mata Gua terpejam.
Hembusan angin malam menerpa tubuh Gua, rasa dingin yang menyapa hingga ketulang ini semakin membuat fikiran Gua mengenang kebersamaan antara Gua dengan Echa. Jauh kenangan yang Gua bangkitkan, saat itu yang timbul adalah kenangan masa kecil kami. Sebuah adegan layaknya pada layar lebar benar-benar terlihat dengan jelas, dimana untuk pertama kalinya Gua mengenal sosok seorang gadis berpostur gendut sedang menangis karena diledek oleh temannya yang lain.
Gua mendekati mereka dan langsung memukul kepala bagian belakang salah satu anak laki-laki yang masih tertawa sambil menyebut si gendut kepada Echa kecil. Ya bisa dibayangkan, kejadian selanjutnya adalah perkelahian tiga anak lelaki melawan satu anak lelaki, jelas Gua kalah dan dikeroyok oleh mereka bertiga, tidak lama kemudian Nenek Gua datang dan memarahi tiga anak lelaki itu hingga mereka pergi meninggalkan kami.
Dari situlah awal Gua mengenal Echa, yang ternyata tetangga rumah, dan juga menjadi teman satu sekolah kelak, walaupun dia adalah kakak kelas Gua, ternyata kami menjadi dekat, menjadi sahabat, adik-kakak dan berakhir dengan hubungan suami istri untuk kami.
Quote:
Semuanya begitu nyata, ya kenangan itu begitu nyata terpatri diingatan Gua hingga detik dimana Gua kehilangan dirinya tujuh hari lalu.
Gua menangis lagi, tapi tanpa airmata kali ini. Mungkin sudah habis airmata ini karena selama satu minggu dan setiap malam Gua selalu menumpahkannya. Gua tersadar, kembali kepada kenyataan, kembali ke dunia ini ketika suara tangis bayi mengagetkan Gua. Seketika itu juga, Gua berlari kecil masuk kembali ke dalam kamar.
Anak Gua menangis, lalu dengan segera Gua membuka kelambunya dan melihatnya sedang terpejam namun mulutnya berteriak dan menangis cukup kencang, sampai ada seseorang yang membuka pintu kamar lebih lebar. Mba Laras berjalan masuk ke dalam kamar ini dan langsung menuju meja kayu di dekat kasur, dengan cekatan dia membuatkan susu botolan, lalu memberikannya kepada anak Gua.
Seketika itu juga bayi cantik dan lucu itu terdiam, tidak lagi ada suara tangis yang cukup kencang di malam hari ini. Berganti dengan suara sedotan kuat dari mulutnya yang sedang menyedot susu botol. Mba Laras melirik kepada Gua di sisi kanan, sambil bertanya 'kenapa ?' tanpa suara. Gua mendekatinya, lalu rebahan di samping Mba Laras yang masih memegangi botol susu untuk anak Gua.
"Aku abis duduk di beranda tadi, maaf", ucap Gua sedikit berbisik.
Mba Laras tersenyum, lalu tangan kirinya mengusap dada Gua perlahan, sedangkan tangan kananya masih memegangi botol susu yang belum habis disedot isinya oleh anak Gua itu.
"Udah Mba, biar aku aja yang pegangin botol susunya, enggak apa-apa, maaf ya Mba", ucap Gua.
Lalu Gua memegangi botol susu yang masih berada pada mulut si bayi cantik nan imut itu.
Mba Laras beranjak dari kasur, lalu berjalan kearah pintu kamar, Gua memanggilnya pelan. "Mba.. Terimakasih", ucap Gua.
Mba Laras mengangguk tersenyum, lalu keluar kamar seraya menutup pintu.
Gua menangis lagi, tapi tanpa airmata kali ini. Mungkin sudah habis airmata ini karena selama satu minggu dan setiap malam Gua selalu menumpahkannya. Gua tersadar, kembali kepada kenyataan, kembali ke dunia ini ketika suara tangis bayi mengagetkan Gua. Seketika itu juga, Gua berlari kecil masuk kembali ke dalam kamar.
Anak Gua menangis, lalu dengan segera Gua membuka kelambunya dan melihatnya sedang terpejam namun mulutnya berteriak dan menangis cukup kencang, sampai ada seseorang yang membuka pintu kamar lebih lebar. Mba Laras berjalan masuk ke dalam kamar ini dan langsung menuju meja kayu di dekat kasur, dengan cekatan dia membuatkan susu botolan, lalu memberikannya kepada anak Gua.
Seketika itu juga bayi cantik dan lucu itu terdiam, tidak lagi ada suara tangis yang cukup kencang di malam hari ini. Berganti dengan suara sedotan kuat dari mulutnya yang sedang menyedot susu botol. Mba Laras melirik kepada Gua di sisi kanan, sambil bertanya 'kenapa ?' tanpa suara. Gua mendekatinya, lalu rebahan di samping Mba Laras yang masih memegangi botol susu untuk anak Gua.
"Aku abis duduk di beranda tadi, maaf", ucap Gua sedikit berbisik.
Mba Laras tersenyum, lalu tangan kirinya mengusap dada Gua perlahan, sedangkan tangan kananya masih memegangi botol susu yang belum habis disedot isinya oleh anak Gua itu.
"Udah Mba, biar aku aja yang pegangin botol susunya, enggak apa-apa, maaf ya Mba", ucap Gua.
Lalu Gua memegangi botol susu yang masih berada pada mulut si bayi cantik nan imut itu.
Mba Laras beranjak dari kasur, lalu berjalan kearah pintu kamar, Gua memanggilnya pelan. "Mba.. Terimakasih", ucap Gua.
Mba Laras mengangguk tersenyum, lalu keluar kamar seraya menutup pintu.
Diubah oleh glitch.7 21-05-2017 12:09
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
