Misterius Boy II
Quote:
“kamu ga apa-apa putus sama Mei?”, tanya nya
“ya mau gimana Lun emang aku yang salah kan, jarangn banget ngabarin dia”, kataku
“emang kamu ngapain aja sih sampe ga ngabarin gitu?”, tanya Luna
“ya sibuk Lun”, kataku
“sama Pris ya?”, katanya
“iya”, kataku
“aku sebenernya ga mau ngebahas ini, aku tau reaksi kamu bakal kaya gimana. Tapi mendingan kam,u jauhin Pris”, katanya
“Abay juga bilang gitu Lun”, kataku
“terus?”, katanya
“ga mungkin langsung menghindar lah, aku juga sadar selama ini salah, tapi aku bener-benr kehilangan arah Lun, semenjak kepergian kak Suci sama Wina, kayanya ga ada tujuan hidup”, kataku
Luna duduk di dekatku lalu memegang tanganku
“kamu itu punya banyak orang yang sayang sama kamu, seburuk apapun kamu di mata mereka, mereka selalu ada kok buat kamu.
Contohnya aku”, katanya
Mendengar itu akupun menatap Luna
“makasih ya Lun, tapi aku ga bisa langsung ngejauh dari Pris Lun. Dia pasti curiga. Aku coba pelan-pelan ya”, kataku
“yaudah kalo kamu mau kaya gitu, yang pasti kamu jangan kaya dulu lagi. Aku ga suka”, katanya lalu mencium lembut bibirku
“makasih Lun”, kataku
“kamu udah tau minggu depan Wina mau kesini?”, katanya
“udah ko dia udah bilang tadi di telepon”, kataku
“seneng ya kamu nanti ketemu Wina”, ledeknya
“seneng tapi malu juga”, kataku
“malu kenapa?”, katanya
“ya kan akhir-akhir ini aku udah jadi bajingan Lun ke dia”, kataku
“hei, aku ga suka kamu ngomong kaya gitu, yang penting sekarang kamu perbaiki diri kamu”, katanya
Lalu akupun duduk.
“iya Lun aku coba”, kataku
Tiba-tiba Luna menciumm bibir ku. Akupun mendorongnya pelan
“don’t”, katanya
Aku mengerti maksud Luna. Kamipun melakukan apa yang dulu sering kami lakukan. Sampai-sampai kami lupa kondisi sekitar.
“ehem, laper”, kata Abay yang sudah duduk di depan kami.
Kamipun berhenti dan saling menatap.
“ko berenti? Lanjutin aja sih”, katanya
“bangke”, kataku sambil melempar gelas plastik padanya
“nyantai aja lagi Lun, lu kan tau gua. Lu juga Teo, santai aja”, katanya sambil rebahan di sofa
Luna pun menarik duguku
“Lun, ada Abay kan”, kataku
“gua ga liat”, kata Abay
“denger kan dia bilang apa”, kata Luna
“tapikan....”, Luna langsung menyambar bibirku.
Entah berapa lama kami melakukannya, terlihat Abaypun tertidur. Ku lihat jam ternyata sudah sangat sore, hampir malam.
“Lun, udah mau malem, beres-beres balik deh”, kataku.
“nginep aja”, katanya
“ngaco ah Lun, ga bisa lah, kamu kan tau di rumah sekarang kaya gimana”, kataku
Dengan wajah cemberut Luna pergi meninggalkanku. Aku tidak mau mengambil resiko, suasana di rumah benar-benar sedang tidak bersahabat karena ulah ku belakangan ini.
“nih telepon”, kata Luna
“dari?”, kataku
“angkat aja”, katanya
“halo”, kataku
“dimana?”, booomm! Itu suara ayahku
“di rumah Luna yah”, kataku
“ada yang di ceritain?”, katanya
Akupun menceritakan semuanya kepada ayahku, beliau meneriamanya tapi tetap saja hukuman di berikan padaku. Sampai kepercayaan mereka kembali padaku mau tidak mau aku harus melaporkan kegiatanku sehari-hari selama di luar rumah. Di tambah lagi, Luna sekarang menjadi pengawasku,kalau ada hal aneh yang ku lakukan Luna bisa bebas melaporkannya pada ayahku.
“bang Im nanti kesana”, kata ayahku
“ngapain?”, kataku
“kata Luna mau nginep kan? Belajar kelompok?”, kata ayahku
Akupun melihat ke arah Luna dan dia menjulurkan lidahnya padaku.
“iya”, kataku
“ada siapa aja?”, kata ayahku
“baru ada Abay, Luna, belum pada dateng”, kataku
“mana Abay”, kata ayahku
Akupun membangunkan Abay. Dia menerima telepon dari ayahku, yang Abay katankan hanya “iya pak”, “siap pak”, “tenang aja pak”, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
“nih”, kata Abay
“ngobrol apaan sih lu bay?”, kataku
“rahasia, udah gua mau tidur lagi”, katanya
“nih Lun. Ngaco ih kamu”, kataku sambil memberikan hp
“biarin. Abisnya kamu susah banget di minta nginep doang”, katanya
“ya kan ortu kamu gimana nanti”, kataku
“mereka ga pulang Teo, adek aku juga nginep di sodara”, katanya
“lah terus kita bertiga gitu?”, kataku
“emang Abay mau nginep?”, kata Luna
Sial! Gumamku, sama sekali aku tidak kepikiran apakah Abay juga nginep atau tidak.
“coba tanya aja”, kataku
“nanti lah, kalau dia bangun. Aku mau bikin makanan dulu”, kata Luna
Akupun melihat Abay, apa dia sengaja membawaku kemari? Apa dia sudah tau Luna di rumah sendiri? Yang paling penting aku sama sekali tidak tau hubungan dia dan Luna. “nyantai aja lagi Lun, lu kan tau gua”, kalimat itu menjadi misteri buatku. Siapa sebenarnya Abay ini.