- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#4161
Part 66
Downfall I


Quote:
...
Gua mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang di jalan tol, kadang harus pelan sekali karena padatnya kendaraan, sampai ketika Gua harus menghentikan mobil karena panjangnya antrian kendaraan saat akan keluar pintu tol. Mimpi buruk beberapa hari lalu tiba-tiba saja terbayang di lamunan Gua, tapi Gua langsung tersadar ketika sebuah klakson mobil yang berada di belakang Gua cukup cumiakan telinga. Dengan perlahan Gua memindahkan persneling dan menginjak pedal gas.
Sekitar pukul setengah tujuh malam Gua sampai di rumah sakit, setelah sampai di parkiran, Gua langsung menelpon Mba Laras untuk menanykan keberadaan mereka, kemudian Gua berlari kecil melewati koridor rumah sakit ini hingga sampai di depan pintu ruang bersalin.
"Za..", ucap Mba Laras sambil tersenyum dan berdiri dari bangku ruang tunggu.
Gua melihat Mba Laras, Papah mertua Gua, Nenek, dan Luna berada di sini.
"Hai Mba", balas Gua lalu menghampirinya.
Gua mencium tangan Mba Laras, lalu mencium tangan Papah mertua dan Nenek juga. Kemudian bersalaman dengan Luna.
"Gimana keadaan istri ku Mba ? Dia udah melahirkan ?", tanya Gua.
"Belum Za, dia masih di dalam ditemani Mamahnya, baru pembukaan empat katanya, kamu bisa masuk dulu, sana temui istri mu Za", jawab Mba Laras.
Gua pun mengetuk pintu ruangan itu, lalu membukanya. Di dalam sana Gua melihat dua orang suster dan satu orang dokter. Lalu Gua masuk sambil permisi.
"Maaf Sus, saya suaminya Elsa, bisa saya bertemu dengan istri saya ?", tanya Gua ketika sudah berada di dalam.
"Oh silahkan duduk dulu Mas", ucap Suster tersebut seraya mempersilahkan Gua duduk di depan meja dokter.
Gua pun berjalan dan duduk bersebrangan dengan dokter yang sedang membaca dokumen. Entah dokumen apa.
"Saya dokter yang akan menangani persalinan Ibu Elsa..", ucap dokter tersebut seraya mengulurkan tangannya kepada Gua.
Gua pun menyambut jabat tangan tersebut. "Iya Dok, saya Reza, suaminya Elsa.. Jadi gimana Dok ?", tanya Gua.
"Ya kalau dilihat dari kondisi istri anda saat ini, kita masih menunggu pembukaan lima, memang masih ada tahap pembukaan lainnya hingga pembukaan kesepuluh, tapi alhamdulilah kondisi Ibu Elsa dan bayi di dalam kandungannya baik.. Nah sekarang, saya minta anda berdo'a kepada Tuhan, agar proses persalinan ini bisa berjalan baik", jawab Sang Dokter.
"Iya alhamdulilah kalo gitu, pasti saya mendo'a kan semuanya agar berjalan lancar dan selamat untuk istri dan anak kami. Ah iya.. Apa saya masih bisa melihat istri saya dulu Dok ?", tanya Gua lagi.
"Oh boleh, silahkan anda lihat di ruangan sebelah, istri anda masih merasakan kontraksi, tenang saja itu hal yang normal".
Setelah mendapat izin, Gua berdiri lalu berjalan kearah pintu bagian lainnya di dalam ruangan ini, Gua membuka pintu tersebut lalu berjalan masuk mendekati ranjang yang berada di sisi kiri dan melihat Mamah mertua Gua sedang duduk di samping anak tercintanya, menggenggam tangannya sambil melantunkan do'a. Gua mencium tangan beliau lalu tersenyum kepada istri Gua yang sedang berbaring.
Terlihat dari wajahnya rasa sakit yang ia tahan, Gua rasa dia sedang merasakan kontraksi pada rahimnya. Setelah Mamah mertua Gua berdiri dan memberi ruang untuk Gua mendekati istri, Gua menggenggam tangan kirinya dengan tangan kanan, lalu tersenyum sambil mengusap lembut keningnya yang sedikit basah karena keringat.
"Hai sayang", sapa Gua.
Echa hanya tersenyum sambil berkedip.
"Gimana ? Kamu.. Kamu baik-baik aja kan ?", tanya Gua.
"Do'a kan akunya ya sayang.. Semoga proses lahirannya lancar..", jawabnya dengan suara yang cukup lembut.
Gua tersenyum kepadanya. "Iya sayang, pasti.. Pasti aku do'a in kok Cha.. Kamu kuat ya, demi anak kita, demi semuanya", jawab Gua lagi.
"Iya Za, insha Alloh aku kuat, kamu udah shalat maghrib belum ?".
"Eh, belum..", jawab Gua.
"Loch.. Shalat dulu sayang, biar tenang", ucapnya lagi.
Gua mengangguk sambil tersenyum. Lalu tidak lama Echa merintih kesakitan, Mamah mertua Gua dengan segera memanggil perawat dan dokter, kemudian dua orang suster datang bersama dokter yang sebelumnya Gua temui. Dengan cekatan kedua suster tersebut melepaskan akseosris yang masih dipakai istri Gua, dari mulai kalung, jam tangan, cincin dan gelang. Lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik kemudian diserahkan kepada Gua. Tidak lama, dokter memberitahukan kalau istri Gua akan diganti pakaiannya, setelah itu Gua, Mamah mertua dan dokter tersebut keluar ruangan, sedangkan Echa bersama dua suster tadi masih di dalam sana.
"Istri anda sedang mengalami proses pembukaan lima", ucap dokter kepada Gua ketika kami berjalan keluar.
"Mm.. Itu enggak apa-apa ya Dok ?", tanya Gua sedikit cemas.
"Oh itu normal kok Mas, gak apa-apa, sekarang berdo'a saja dulu ya Mas", ucapnya lagi.
Gua hanya menganggukkan kepala lalu bergegas keluar ruangan dan pergi ke musholla rumah sakit. Selesai berwudhu, Gua melaksanakan ibadah tiga raka'at, lalu Gua duduk bersila di dalam musholla ini, berdo'a setelah shalat, memohon perlindungan dan keselamatan untuk istri dan anak Gua.
"Ya ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Aku memohon keselamatan atas istriku Elsa Ferossa binti Wisnu, agar hari ini, proses persalinannya bisa berjalan dengan lancar dan baik...
Lindungilah istri hamba Ya ALLAH..
Selamatkanlah ia dalam proses melahirkan anak kami... Anak yang Engkau titipkan kepada kami...
Kurangilah rasa sakit yang akan ia derita...
Berikanlah ia kekuatan untuk melahirkan anak kami...
Aku memohon kepada Mu Ya ALLAH, selamatkanlah jiwa raga istri hamba dan anak hamba...
Kami berserah kepada Mu Ya ALLAH, ampunilah segala dosa hamba dan dosa istri hamba, aku titipkan keselamatannya kepada Mu Ya ALLAH...
Ya ALLAH Ya Tuhanku... Hanya kepada Mu lah hamba berserah, hanya kepada Mu lah hamba meminta, hanya kepada Mu lah hamba menyembah, maka tolonglah istri hamba Ya ALLAH...
Aamiin.. Aamiin.. Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin...
Saat itu, Gua masih ingat hal di atas, ketika Gua berdo'a kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan istri Gua.
...
Selesai beribadah, Gua kembali berkumpul di depan ruangan bersalin bersama keluarga. Saat itu Gua mengajukan diri untuk menemani istri Gua melakukan proses persalinan, tapi ternyata tidak semudah itu diberikan izin untuk menemani orang yang akan melahirkan. Gua harus di cek tensi darah terlebih dahulu, dan hasilnya tensi darah Gua drop, alias turun, rendah. Yang mana membuat Gua tidak di izinkan menemani istri Gua, karena tekanan darah Gua yang rendah bisa menyebabkan terhambatnya proses persalinan istri, maksudnya bahaya jika pada saat dokter dan suster sedang membantu istri Gua melahirkan, sedangkan Gua jatuh pingsan karena tekanan darah rendah tersebut, tidak mudah berada di dalam, melihat orang yang mempertaruhkan nyawa serta banyaknya darah yang akan terlihat. Begitupun dengan Mamah mertua Gua, beliau pun ternyata tekanan darahnya rendah, dan akhirnya hanya Mba Laras lah yang mendapatkan izin untuk menemani Echa selama menjalani proses persalinan di dalam ruangan tersebut.
Sekitar pukul setengah delapan malam Echa di pindahkan ke ruangan lainnya. Ranjang yang beroda itu di dorong oleh dua orang suster, serta satu dokter berada di depan. Ketika itu Gua mendekatinya, suster pun menghentikan laju dorongan ranjang tersebut.
"Cha.. Yang kuat ya sayang, insha Alloh kamu bisa melewati ini semua dengan lancar.. Aku do'a kan kamu sayang, maaf aku gak bisa nemenin kamu di dalam nanti, maaf Cha..", sesal Gua.
"Iya Za gak apa-apa sayang, yang penting kamu berdo'a ya untuk aku dan anak kita..", jawabnya seraya menahan perih.
Gua mengangguk, lalu ranjang itupun kembali di dorong oleh kedua suster, Gua mengikuti mereka bersama Mba Laras di sisi lain ranjang. Tidak jauh memang ruangan yang akan menjadi proses persalinan itu, lalu pintu di buka, sebelum istri Gua dan Mba Laras masuk ke dalam sana, Echa menahan tangan salah satu suster, melirik kepada Gua dan tersenyum.
"Jagain anak kita ya sayang...", ucapnya pelan.
Sedetik kemudian kilatan cahaya putih menyinari istri Gua, hanya sekejap, dengan diiringi bunyi shutter camera yang digenggam oleh seorang wanita dari sisi kiri ranjang istri Gua.
"Luna ?", ucap Gua melirik kepada Luna yang entah sejak kapan dia berada diantara kami.
Mba Laras tersenyum lalu dia masuk ke dalam ruangan itu, bersama Echa dan para petugas medis, dan pintu itu pun tertutup rapat.
"Aku kebetulan baru pulang dari Bandung Za, jalan-jalan sama teman kampus ke lembang...", ucap Luna ketika Gua sudah duduk di bangku besi panjang, samping pintu ruangan tersebut.
Lalu Luna duduk di samping Gua.
"Oh, terus katanya kamu tinggal di deket rumah aku dan Echa ?", tanya Gua balik.
"Iya, aku gak sengaja liat Mba Laras dan istri kamu pas mau masuk mobil, sebelum pergi ke rumah sakit ini",
"Aku berhenti dan turun dari mobil, ya nyapa mereka, eh taunya Echa udah mau melahirkan, jadi aku ikut sekalian kesini", jawabnya.
"Mmm.. Makasih ya Lun, udah bantu dan nemenin keluarga ku".
"Ah enggak Za, cuma kebetulan aja, oh ya kamu dari mana tadi ?".
Gua pun menceritakan saat Gua membeli sebuah cincin untuk istri Gua di salah satu mall di jakarta kepada Luna.
"Seneng banget pasti Echa selesai ngelahirin dikasih kejutan sama kamu, apalagi kamu beli dengan hasil kerja kamu sendiri", ucapnya.
"Ya mudah-mudahan dia suka".
Tidak lama Nenek Gua dan kedua mertua Gua datang, kemudian duduk diantara kami. Ternyata mereka baru selesai shalat isya. Lalu Gua pamit sebentar untuk kembali ke musholla untuk shalat isya. Beribadah lagi dan memohon keselamatan lagi kepada Sang Maha Pelindung untuk istri Gua yang sedang berjuang melahirkan anak kami.
Selesai beribadah, Gua berjalan keluar musholla, Gua menyusuri selasar rumah sakit, melirik ke jam tangan di pergelangan tangan kiri, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, sudah cukup malam ternyata.
Dari ujung sini, Gua bisa melihat Mba Laras baru saja keluar ruangan dimana istri Gua melakukan proses persalinan, tidak lama kemudian seorang suster mendorong sebuah ranjang bayi, keluarga Gua langsung menghampiri suster tersebut, melihat kepada ranjang mungil yang diatasnya berbaring seorang anak yang baru lahir. Luna dengan cekatan memotret tanpa menggunakan flash. Kemudian suster itu kembali berjalan, mendorong keranjang bayi itu ke ruangan lain, yang tidak jauh dari sana.
Gua menghampiri Mba Laras yang sedang tersenyum, kemudian dia memeluk Gua.
"Selamat sayang, anak kalian perempuan.. Alhamdulilah Za", ucapnya.
Mata Gua berbinar mendengar ucapan Ibu Gua, kebahagiaan yang Gua rasakan meletup-letup di dalam hati.
"Alhamdulilah Ya ALLAH", ucap Gua,
"Eh iya, itu tadi anak ku Mba ? Yang baru masuk ke ruangan ini ?", tanya Gua seraya menunjuk ruangan di sisi kiri kami.
Mba Laras tersenyum kepada Gua seraya mengangguk cepat. "Iya sayang, tadi itu anak kamu.. Ayo sana masuk, lihat dia", jawabnya.
Gua melangkah ke pintu ruangan itu, mengetuknya tiga kali dan langsung dibuka dari dalam oleh seorang suster. "Ya Mas ? Ada yang bisa dibantu ?", tanyanya.
"Saya mau lihat anak saya Sus, boleh saya masuk ?".
"Atas nama Nyonya siapa ya ?".
"Oh Nyonya Elsa, ya Elsa nama istri saya", jawab Gua.
"Oh iya yang baru masuk tadi ya bayinya, boleh Mas, silahkan pakai dulu baju steril dan cap nya, dan jangan lupa basuh tangannya dengan sanitizer di situ ya Mas", jawabnya.
Gua memasuki ruangan tersebut setelah mengenakan pakaian berwarna hijau yang tergantung di dinding dan mengenakan cap penutup kepala, lalu membersihkan tangan dengan sanitizer. Kemudian barulah Gua berjalan ke sisi kanan, dimana ada beberapa ranjang berukuran kecil yang sudah terisi bayi-bayi lucu dan imut, ada yang tertidur, dan ada pula yang menangis. Gau membaca setiap papan informasi yang ditempel pada ujung bawah ranjang kecil itu, mencari nama istri Gua. Setelah melewati dua ranjang bayi, Gua menemukan nama yang tertulis pada papan informasi tersebut, 'Bayi Ny. Elsa'.
Gua berhenti dan berdiri tepat di depannya, tersenyum dan melongok dari atas kepada seorang bayi yang sedang menguap tanpa suara, matanya terpejam, tangannya sedikit bergerak. Lalu Gua melihat lagi papan tersebut. Membaca informasi yang ada disitu. Berat badan 3,8 kilogram dengan tinggi 52 cm, jenis kelamin perempuan.
Mata Gua berkaca-kaca, menatap kepada buah hati Gua dan Echa. Lalu seorang suster kembali menghampiri dengan selimut yang langsung ia kenakan kepada anak Gua itu.
"Mau di adzanin ya Mas ?", tanya Suster tersebut setelah selesai menyelimuti anak Gua.
"Oh... Ii.. Iiya Sus.. Ini mau saya adzanin dulu", jawab Gua tersadar.
Setelah Suster itu berlalu, Gua pun mendekati si bayi perempuan lucu ini, menurunkan tubuh, dan mendekatkan wajah ke sisi telinga kanannya. Hati Gua bergetar, nafas Gua tertahan sejenak, mata Gua terpejam.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,lalu Gua mengumandangkan adzan dengan intonasi suara yang bergetar, tepat di telinga kanan sang buah hati.
Airmata Gua mengalir dengan sendirinya hingga selesai mengumandangkan adzan, Gua usap airmata bahagia ini. Lalu mengecup kening sang bayi perempuan itu dan membelai lembut pipinya yang chubby.
"Nak, selamat datang di dunia ini, semoga kamu bisa menjadi anak yang solehah ya sayang... Kamu lah permata Ayah dan Bunda... Menangislah sayang, menangislah yang keras agar dunia mengetahui kehadiran mu..."
Tidak lama kemudian Gua mengabadikannya lewat kamera hp beberapa kali. Lalu tersenyum kepadanya. Kepada anak Gua dan Echa.
...
Gua keluar ruangan bayi dan kembali berjalan menghampiri keluarga, di sana masih lengkap seperti awal Gua datang ke rumah sakit sore tadi. Mba Laras mendekati Gua lagi, tapi kali ini raut wajahnya sendu.
"Za, do'a nya untuk Elsa ya Za..", ucapnya seraya memegang bahu kanan Gua.
"Kenapa Mba ? Kenapa sama Echa ?".
"Dia mengalami pendarahan...".
Gua tercekat, terkejut mendengar ucapan Ibu Gua ini. "Maksudnya gimana ? Kok bisa Mba ?", tanya Gua dengan perasaan yang semakin cemas.
"Kamu tenang dulu, pendarahan memang biasa terjadi setelah persalinan, sekarang Elsa lagi ditangani oleh dokter di dalam sana, insha Alloh dia baik-baik Za.. Kamu berdo'a pada Tuhan ya sayang, untuk Elsa..".
Gua menatap nanar wajah Mba Laras, tubuh Gua lemas, rasanya jantung Gua pun berdegup kencang mendengar kondisi istri Gua di dalam sana. Lalu Gua bersandar pada dinding dan lambat laun turun, berjongkok di sebrang pintu ruangan, dimana istri Gua sedang berjuang pasca melahirkan. Kedua tangan Gua menutupi wajah, lalu Gua kembali memohon kepada Tuhan, agar istri Gua, Echa, Elsa Ferossa diberikan keselamatan.
Entah sudah berapa lama kami menunggu di luar sini, kami semua berdo'a untuk orang yang kami cintai, untuk orang yang kami sayangi, untuk seorang wanita yang baru saja melahirkan seorang bayi perempuan beberapa jam yang lalu.
Gua menatap pintu ruangan di depan sana, dan pintu itupun terbuka sedikit, seorang suster melongokkan kepalanya keluar. "Suami Nyonya Elsa... Apakah ada suami Nyonya Elsa ?", tanyanya seraya menyapukan pandangan kepada kami yang berada di luar ini.
"Za.. Eza.. Hey..".
"Reza... Reza Agathadera!".
"Eh iya.. Kenapa ?", Gua tersadar lalu berdiri dengan memegangi dinding di belakang Gua.
"Mas silahkan masuk kesini..", ucap Suster tersebut kepada Gua.
Lalu pintu itu kembali tertutup bersamaan dengan Suster yang kembali memundurkan wajahnya. Gua masih terbengong menatap pintu itu, sedetik kemudian suara Mamah mertua Gua kembali menyadarkan Gua.
"Za, sana masuk dulu, kamu dipanggil".
Gua menganggukkan kepala lalu berjalan kearah pintu tersebut.
Gua berdiri tepat di depan pintu, lalu tangan kanan Gua memegangi handle pintu itu, menurunkannya perlahan dengan sedikit mendorongnya kebagian dalam. Gua menghembuskan nafas perlahan dan mendorong lagi pintu tersebut.
Gua berhenti melangkah ketika cahaya lampu dari dalam sana menyeruak kearah luar ruangan. Gua tertegun lalu menengok ke belakang, melihat keluarga Gua, di sana ada Mba Laras, Papah serta Mamah mertua Gua, lalu ada Nenek dan Luna. Tapi bukan mereka yang menjadi perhatiaan Gua.
Gua menatap mata, entah berapa pasang mata, mungkin puluhan, bahkan mungkin ratusan... Memandang kearah Gua yang masih berdiri di depan pintu ini. Gua melihat kalian, ya kalian para pembaca kisah ini. Genggam erat tangan ini, basuh segala nestapa yang ada dalam diri ini. Kuatkan iman dan jiwa ini agar aku mampu berserah kepada-Nya.
Sekitar pukul setengah tujuh malam Gua sampai di rumah sakit, setelah sampai di parkiran, Gua langsung menelpon Mba Laras untuk menanykan keberadaan mereka, kemudian Gua berlari kecil melewati koridor rumah sakit ini hingga sampai di depan pintu ruang bersalin.
"Za..", ucap Mba Laras sambil tersenyum dan berdiri dari bangku ruang tunggu.
Gua melihat Mba Laras, Papah mertua Gua, Nenek, dan Luna berada di sini.
"Hai Mba", balas Gua lalu menghampirinya.
Gua mencium tangan Mba Laras, lalu mencium tangan Papah mertua dan Nenek juga. Kemudian bersalaman dengan Luna.
"Gimana keadaan istri ku Mba ? Dia udah melahirkan ?", tanya Gua.
"Belum Za, dia masih di dalam ditemani Mamahnya, baru pembukaan empat katanya, kamu bisa masuk dulu, sana temui istri mu Za", jawab Mba Laras.
Gua pun mengetuk pintu ruangan itu, lalu membukanya. Di dalam sana Gua melihat dua orang suster dan satu orang dokter. Lalu Gua masuk sambil permisi.
"Maaf Sus, saya suaminya Elsa, bisa saya bertemu dengan istri saya ?", tanya Gua ketika sudah berada di dalam.
"Oh silahkan duduk dulu Mas", ucap Suster tersebut seraya mempersilahkan Gua duduk di depan meja dokter.
Gua pun berjalan dan duduk bersebrangan dengan dokter yang sedang membaca dokumen. Entah dokumen apa.
"Saya dokter yang akan menangani persalinan Ibu Elsa..", ucap dokter tersebut seraya mengulurkan tangannya kepada Gua.
Gua pun menyambut jabat tangan tersebut. "Iya Dok, saya Reza, suaminya Elsa.. Jadi gimana Dok ?", tanya Gua.
"Ya kalau dilihat dari kondisi istri anda saat ini, kita masih menunggu pembukaan lima, memang masih ada tahap pembukaan lainnya hingga pembukaan kesepuluh, tapi alhamdulilah kondisi Ibu Elsa dan bayi di dalam kandungannya baik.. Nah sekarang, saya minta anda berdo'a kepada Tuhan, agar proses persalinan ini bisa berjalan baik", jawab Sang Dokter.
"Iya alhamdulilah kalo gitu, pasti saya mendo'a kan semuanya agar berjalan lancar dan selamat untuk istri dan anak kami. Ah iya.. Apa saya masih bisa melihat istri saya dulu Dok ?", tanya Gua lagi.
"Oh boleh, silahkan anda lihat di ruangan sebelah, istri anda masih merasakan kontraksi, tenang saja itu hal yang normal".
Setelah mendapat izin, Gua berdiri lalu berjalan kearah pintu bagian lainnya di dalam ruangan ini, Gua membuka pintu tersebut lalu berjalan masuk mendekati ranjang yang berada di sisi kiri dan melihat Mamah mertua Gua sedang duduk di samping anak tercintanya, menggenggam tangannya sambil melantunkan do'a. Gua mencium tangan beliau lalu tersenyum kepada istri Gua yang sedang berbaring.
Terlihat dari wajahnya rasa sakit yang ia tahan, Gua rasa dia sedang merasakan kontraksi pada rahimnya. Setelah Mamah mertua Gua berdiri dan memberi ruang untuk Gua mendekati istri, Gua menggenggam tangan kirinya dengan tangan kanan, lalu tersenyum sambil mengusap lembut keningnya yang sedikit basah karena keringat.
"Hai sayang", sapa Gua.
Echa hanya tersenyum sambil berkedip.
"Gimana ? Kamu.. Kamu baik-baik aja kan ?", tanya Gua.
"Do'a kan akunya ya sayang.. Semoga proses lahirannya lancar..", jawabnya dengan suara yang cukup lembut.
Gua tersenyum kepadanya. "Iya sayang, pasti.. Pasti aku do'a in kok Cha.. Kamu kuat ya, demi anak kita, demi semuanya", jawab Gua lagi.
"Iya Za, insha Alloh aku kuat, kamu udah shalat maghrib belum ?".
"Eh, belum..", jawab Gua.
"Loch.. Shalat dulu sayang, biar tenang", ucapnya lagi.
Gua mengangguk sambil tersenyum. Lalu tidak lama Echa merintih kesakitan, Mamah mertua Gua dengan segera memanggil perawat dan dokter, kemudian dua orang suster datang bersama dokter yang sebelumnya Gua temui. Dengan cekatan kedua suster tersebut melepaskan akseosris yang masih dipakai istri Gua, dari mulai kalung, jam tangan, cincin dan gelang. Lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik kemudian diserahkan kepada Gua. Tidak lama, dokter memberitahukan kalau istri Gua akan diganti pakaiannya, setelah itu Gua, Mamah mertua dan dokter tersebut keluar ruangan, sedangkan Echa bersama dua suster tadi masih di dalam sana.
"Istri anda sedang mengalami proses pembukaan lima", ucap dokter kepada Gua ketika kami berjalan keluar.
"Mm.. Itu enggak apa-apa ya Dok ?", tanya Gua sedikit cemas.
"Oh itu normal kok Mas, gak apa-apa, sekarang berdo'a saja dulu ya Mas", ucapnya lagi.
Gua hanya menganggukkan kepala lalu bergegas keluar ruangan dan pergi ke musholla rumah sakit. Selesai berwudhu, Gua melaksanakan ibadah tiga raka'at, lalu Gua duduk bersila di dalam musholla ini, berdo'a setelah shalat, memohon perlindungan dan keselamatan untuk istri dan anak Gua.
"Ya ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Aku memohon keselamatan atas istriku Elsa Ferossa binti Wisnu, agar hari ini, proses persalinannya bisa berjalan dengan lancar dan baik...
Lindungilah istri hamba Ya ALLAH..
Selamatkanlah ia dalam proses melahirkan anak kami... Anak yang Engkau titipkan kepada kami...
Kurangilah rasa sakit yang akan ia derita...
Berikanlah ia kekuatan untuk melahirkan anak kami...
Aku memohon kepada Mu Ya ALLAH, selamatkanlah jiwa raga istri hamba dan anak hamba...
Kami berserah kepada Mu Ya ALLAH, ampunilah segala dosa hamba dan dosa istri hamba, aku titipkan keselamatannya kepada Mu Ya ALLAH...
Ya ALLAH Ya Tuhanku... Hanya kepada Mu lah hamba berserah, hanya kepada Mu lah hamba meminta, hanya kepada Mu lah hamba menyembah, maka tolonglah istri hamba Ya ALLAH...
Aamiin.. Aamiin.. Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin...
Saat itu, Gua masih ingat hal di atas, ketika Gua berdo'a kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan istri Gua.
...
Selesai beribadah, Gua kembali berkumpul di depan ruangan bersalin bersama keluarga. Saat itu Gua mengajukan diri untuk menemani istri Gua melakukan proses persalinan, tapi ternyata tidak semudah itu diberikan izin untuk menemani orang yang akan melahirkan. Gua harus di cek tensi darah terlebih dahulu, dan hasilnya tensi darah Gua drop, alias turun, rendah. Yang mana membuat Gua tidak di izinkan menemani istri Gua, karena tekanan darah Gua yang rendah bisa menyebabkan terhambatnya proses persalinan istri, maksudnya bahaya jika pada saat dokter dan suster sedang membantu istri Gua melahirkan, sedangkan Gua jatuh pingsan karena tekanan darah rendah tersebut, tidak mudah berada di dalam, melihat orang yang mempertaruhkan nyawa serta banyaknya darah yang akan terlihat. Begitupun dengan Mamah mertua Gua, beliau pun ternyata tekanan darahnya rendah, dan akhirnya hanya Mba Laras lah yang mendapatkan izin untuk menemani Echa selama menjalani proses persalinan di dalam ruangan tersebut.
Sekitar pukul setengah delapan malam Echa di pindahkan ke ruangan lainnya. Ranjang yang beroda itu di dorong oleh dua orang suster, serta satu dokter berada di depan. Ketika itu Gua mendekatinya, suster pun menghentikan laju dorongan ranjang tersebut.
"Cha.. Yang kuat ya sayang, insha Alloh kamu bisa melewati ini semua dengan lancar.. Aku do'a kan kamu sayang, maaf aku gak bisa nemenin kamu di dalam nanti, maaf Cha..", sesal Gua.
"Iya Za gak apa-apa sayang, yang penting kamu berdo'a ya untuk aku dan anak kita..", jawabnya seraya menahan perih.
Gua mengangguk, lalu ranjang itupun kembali di dorong oleh kedua suster, Gua mengikuti mereka bersama Mba Laras di sisi lain ranjang. Tidak jauh memang ruangan yang akan menjadi proses persalinan itu, lalu pintu di buka, sebelum istri Gua dan Mba Laras masuk ke dalam sana, Echa menahan tangan salah satu suster, melirik kepada Gua dan tersenyum.
"Jagain anak kita ya sayang...", ucapnya pelan.
Sedetik kemudian kilatan cahaya putih menyinari istri Gua, hanya sekejap, dengan diiringi bunyi shutter camera yang digenggam oleh seorang wanita dari sisi kiri ranjang istri Gua.
"Luna ?", ucap Gua melirik kepada Luna yang entah sejak kapan dia berada diantara kami.
Mba Laras tersenyum lalu dia masuk ke dalam ruangan itu, bersama Echa dan para petugas medis, dan pintu itu pun tertutup rapat.
"Aku kebetulan baru pulang dari Bandung Za, jalan-jalan sama teman kampus ke lembang...", ucap Luna ketika Gua sudah duduk di bangku besi panjang, samping pintu ruangan tersebut.
Lalu Luna duduk di samping Gua.
"Oh, terus katanya kamu tinggal di deket rumah aku dan Echa ?", tanya Gua balik.
"Iya, aku gak sengaja liat Mba Laras dan istri kamu pas mau masuk mobil, sebelum pergi ke rumah sakit ini",
"Aku berhenti dan turun dari mobil, ya nyapa mereka, eh taunya Echa udah mau melahirkan, jadi aku ikut sekalian kesini", jawabnya.
"Mmm.. Makasih ya Lun, udah bantu dan nemenin keluarga ku".
"Ah enggak Za, cuma kebetulan aja, oh ya kamu dari mana tadi ?".
Gua pun menceritakan saat Gua membeli sebuah cincin untuk istri Gua di salah satu mall di jakarta kepada Luna.
"Seneng banget pasti Echa selesai ngelahirin dikasih kejutan sama kamu, apalagi kamu beli dengan hasil kerja kamu sendiri", ucapnya.
"Ya mudah-mudahan dia suka".
Tidak lama Nenek Gua dan kedua mertua Gua datang, kemudian duduk diantara kami. Ternyata mereka baru selesai shalat isya. Lalu Gua pamit sebentar untuk kembali ke musholla untuk shalat isya. Beribadah lagi dan memohon keselamatan lagi kepada Sang Maha Pelindung untuk istri Gua yang sedang berjuang melahirkan anak kami.
Selesai beribadah, Gua berjalan keluar musholla, Gua menyusuri selasar rumah sakit, melirik ke jam tangan di pergelangan tangan kiri, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, sudah cukup malam ternyata.
Dari ujung sini, Gua bisa melihat Mba Laras baru saja keluar ruangan dimana istri Gua melakukan proses persalinan, tidak lama kemudian seorang suster mendorong sebuah ranjang bayi, keluarga Gua langsung menghampiri suster tersebut, melihat kepada ranjang mungil yang diatasnya berbaring seorang anak yang baru lahir. Luna dengan cekatan memotret tanpa menggunakan flash. Kemudian suster itu kembali berjalan, mendorong keranjang bayi itu ke ruangan lain, yang tidak jauh dari sana.
Gua menghampiri Mba Laras yang sedang tersenyum, kemudian dia memeluk Gua.
"Selamat sayang, anak kalian perempuan.. Alhamdulilah Za", ucapnya.
Mata Gua berbinar mendengar ucapan Ibu Gua, kebahagiaan yang Gua rasakan meletup-letup di dalam hati.
"Alhamdulilah Ya ALLAH", ucap Gua,
"Eh iya, itu tadi anak ku Mba ? Yang baru masuk ke ruangan ini ?", tanya Gua seraya menunjuk ruangan di sisi kiri kami.
Mba Laras tersenyum kepada Gua seraya mengangguk cepat. "Iya sayang, tadi itu anak kamu.. Ayo sana masuk, lihat dia", jawabnya.
Gua melangkah ke pintu ruangan itu, mengetuknya tiga kali dan langsung dibuka dari dalam oleh seorang suster. "Ya Mas ? Ada yang bisa dibantu ?", tanyanya.
"Saya mau lihat anak saya Sus, boleh saya masuk ?".
"Atas nama Nyonya siapa ya ?".
"Oh Nyonya Elsa, ya Elsa nama istri saya", jawab Gua.
"Oh iya yang baru masuk tadi ya bayinya, boleh Mas, silahkan pakai dulu baju steril dan cap nya, dan jangan lupa basuh tangannya dengan sanitizer di situ ya Mas", jawabnya.
Gua memasuki ruangan tersebut setelah mengenakan pakaian berwarna hijau yang tergantung di dinding dan mengenakan cap penutup kepala, lalu membersihkan tangan dengan sanitizer. Kemudian barulah Gua berjalan ke sisi kanan, dimana ada beberapa ranjang berukuran kecil yang sudah terisi bayi-bayi lucu dan imut, ada yang tertidur, dan ada pula yang menangis. Gau membaca setiap papan informasi yang ditempel pada ujung bawah ranjang kecil itu, mencari nama istri Gua. Setelah melewati dua ranjang bayi, Gua menemukan nama yang tertulis pada papan informasi tersebut, 'Bayi Ny. Elsa'.
Gua berhenti dan berdiri tepat di depannya, tersenyum dan melongok dari atas kepada seorang bayi yang sedang menguap tanpa suara, matanya terpejam, tangannya sedikit bergerak. Lalu Gua melihat lagi papan tersebut. Membaca informasi yang ada disitu. Berat badan 3,8 kilogram dengan tinggi 52 cm, jenis kelamin perempuan.
Mata Gua berkaca-kaca, menatap kepada buah hati Gua dan Echa. Lalu seorang suster kembali menghampiri dengan selimut yang langsung ia kenakan kepada anak Gua itu.
"Mau di adzanin ya Mas ?", tanya Suster tersebut setelah selesai menyelimuti anak Gua.
"Oh... Ii.. Iiya Sus.. Ini mau saya adzanin dulu", jawab Gua tersadar.
Setelah Suster itu berlalu, Gua pun mendekati si bayi perempuan lucu ini, menurunkan tubuh, dan mendekatkan wajah ke sisi telinga kanannya. Hati Gua bergetar, nafas Gua tertahan sejenak, mata Gua terpejam.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,lalu Gua mengumandangkan adzan dengan intonasi suara yang bergetar, tepat di telinga kanan sang buah hati.
Airmata Gua mengalir dengan sendirinya hingga selesai mengumandangkan adzan, Gua usap airmata bahagia ini. Lalu mengecup kening sang bayi perempuan itu dan membelai lembut pipinya yang chubby.
"Nak, selamat datang di dunia ini, semoga kamu bisa menjadi anak yang solehah ya sayang... Kamu lah permata Ayah dan Bunda... Menangislah sayang, menangislah yang keras agar dunia mengetahui kehadiran mu..."
Tidak lama kemudian Gua mengabadikannya lewat kamera hp beberapa kali. Lalu tersenyum kepadanya. Kepada anak Gua dan Echa.
...
Gua keluar ruangan bayi dan kembali berjalan menghampiri keluarga, di sana masih lengkap seperti awal Gua datang ke rumah sakit sore tadi. Mba Laras mendekati Gua lagi, tapi kali ini raut wajahnya sendu.
"Za, do'a nya untuk Elsa ya Za..", ucapnya seraya memegang bahu kanan Gua.
"Kenapa Mba ? Kenapa sama Echa ?".
"Dia mengalami pendarahan...".
Gua tercekat, terkejut mendengar ucapan Ibu Gua ini. "Maksudnya gimana ? Kok bisa Mba ?", tanya Gua dengan perasaan yang semakin cemas.
"Kamu tenang dulu, pendarahan memang biasa terjadi setelah persalinan, sekarang Elsa lagi ditangani oleh dokter di dalam sana, insha Alloh dia baik-baik Za.. Kamu berdo'a pada Tuhan ya sayang, untuk Elsa..".
Gua menatap nanar wajah Mba Laras, tubuh Gua lemas, rasanya jantung Gua pun berdegup kencang mendengar kondisi istri Gua di dalam sana. Lalu Gua bersandar pada dinding dan lambat laun turun, berjongkok di sebrang pintu ruangan, dimana istri Gua sedang berjuang pasca melahirkan. Kedua tangan Gua menutupi wajah, lalu Gua kembali memohon kepada Tuhan, agar istri Gua, Echa, Elsa Ferossa diberikan keselamatan.
Entah sudah berapa lama kami menunggu di luar sini, kami semua berdo'a untuk orang yang kami cintai, untuk orang yang kami sayangi, untuk seorang wanita yang baru saja melahirkan seorang bayi perempuan beberapa jam yang lalu.
Gua menatap pintu ruangan di depan sana, dan pintu itupun terbuka sedikit, seorang suster melongokkan kepalanya keluar. "Suami Nyonya Elsa... Apakah ada suami Nyonya Elsa ?", tanyanya seraya menyapukan pandangan kepada kami yang berada di luar ini.
"Za.. Eza.. Hey..".
"Reza... Reza Agathadera!".
"Eh iya.. Kenapa ?", Gua tersadar lalu berdiri dengan memegangi dinding di belakang Gua.
"Mas silahkan masuk kesini..", ucap Suster tersebut kepada Gua.
Lalu pintu itu kembali tertutup bersamaan dengan Suster yang kembali memundurkan wajahnya. Gua masih terbengong menatap pintu itu, sedetik kemudian suara Mamah mertua Gua kembali menyadarkan Gua.
"Za, sana masuk dulu, kamu dipanggil".
Gua menganggukkan kepala lalu berjalan kearah pintu tersebut.
Gua berdiri tepat di depan pintu, lalu tangan kanan Gua memegangi handle pintu itu, menurunkannya perlahan dengan sedikit mendorongnya kebagian dalam. Gua menghembuskan nafas perlahan dan mendorong lagi pintu tersebut.
Gua berhenti melangkah ketika cahaya lampu dari dalam sana menyeruak kearah luar ruangan. Gua tertegun lalu menengok ke belakang, melihat keluarga Gua, di sana ada Mba Laras, Papah serta Mamah mertua Gua, lalu ada Nenek dan Luna. Tapi bukan mereka yang menjadi perhatiaan Gua.
Gua menatap mata, entah berapa pasang mata, mungkin puluhan, bahkan mungkin ratusan... Memandang kearah Gua yang masih berdiri di depan pintu ini. Gua melihat kalian, ya kalian para pembaca kisah ini. Genggam erat tangan ini, basuh segala nestapa yang ada dalam diri ini. Kuatkan iman dan jiwa ini agar aku mampu berserah kepada-Nya.
...SCROLL DOWN TO CONTINUES READING...
Diubah oleh glitch.7 20-05-2017 20:16
0
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
