- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#4092
PART 64
Empat bulan sudah umur janin yang berada dalam kandungan istri Gua di bulan maret ini, dan selama itu pula alhamdulilah Echa tidak ngidam apapun. Ya, entah itu hanya mitos atau sugesti, yang jelas istri Gua tidak mengalami hal tersebut. Tapi.. Ya ada tapinya, moodnya berubah, benar-benar berubah. Echa menjadi seorang wanita pencemburu, gak main-main cemburunya, sedikit saja Gua melirik wanita lain ketika kami sedang jalan di mall atau tempat umum, ini tangan dan pinggang Gua jadi sasaran cubitan melintirnya. Apalagi kalau sampai Gua berani kenalan atau menggoda wanita lain, wah alamat ngamuk dia. Jadi dalam masa kehamilannya, istri Gua cenderung ke perubahan sikap.
Satu lagi, dia selalu eneug, tau eneug kan ? Mencium aroma tubuh Gua, gile bener deh, nyium aroma tubuh suami sendiri bikin dia mau muntah katanya. Padahal Gua abis mandi. Pernah Gua baru pulang kuliah, baru masuk kamar dan Echa sedang merapihkan lemari pakaian, Gua mendekatinya karena memang baru pulang, setelah Echa mencium tangan Gua, tubuh ini langsung didorong dan diarahkan ke kamar mandi, oke lah emang gak enak kali karena Gua baru pulang. Selesai mandi dan benar-benar wangi karena Gua sendiri mencium aroma sabun yang Gua pakai untuk membilas tubuh tadi, Gua keluar kamar dengan membalutkan handuk di tubuh bagian bawah, Echa masih membereskan lemari yang sedetik kemudian dia menengok kepada Gua. Apa yang terjadi ? Seolah-olah Gua ini belum mandi dan masih bau katanya, Gua di suruh mandi lagi, etdaah.. Cewek tuh yaa..
Dua kali sumpah Gua beneran mandi lagi, sabunan lagi, keluar lagi setelah selesai, tapi apa ? Itu istri Gua masih aja bilang eneug nyium aroma tubuh Gua, ckckckc... Keterlaluan. Pernah suatu hari, di saat kami akan istirahat, tidur di malam hari, Gua sudah bersih, mandi wangi, baju juga baru di ambil dari lemari, tiduran di sampingnya seperti biasa, eh dengan tidak ber-kepri-rumahtangga-an, Gua di dorong sampai jatuh ke lantai sama istri Gua sendiri, alasannya apalagi selain katanya eneug nyium aroma tubuh suaminya, tega bener deh.
Di lain hari, waktu itu Mba Laras sedang menginap di rumah Nenek, Echa memilih tidur bersama Ibu Gua daripada bersama Gua suaminya, alhasil Gua harus rela mengungsi ke kamar depan. Tidur sendirian, hiks.. Hiks.. Hiks..
Intinya, ngidam sih kagak, cuma yaaa.. You know lah ya.. Ekstra kesabaran dalam jiwa ini kudu harus selalu wajib dalam mode ON.
...
Bulan april 2008, sudah dua minggu lebih alhamdulilah Mba Laras menemani istri Gua di rumah Nenek, awalnya dia pulang pergi setiap hari, tapi lama-kelamaan Mba Laras ikut menginap di rumah Nenek. Gua senang karena menjadi ramai di rumah Nenek saat ini, apalagi seminggu sekali Mamah mertua Gua terkadang menginap di sini. Biasalah kan ya, namanya juga hamil pertama, dan bakal ada cucu pertama juga, jadi perasaan sayang yang tercurah pun semakin terasa, lebih dari biasanya.
Masih di bulan april, perkuliahan Gua dan Echa pun masih berjalan normal, istri Gua belum mengambil cuti kuliah, ya walaupun sudah masuk lima bulan usia kandungannya, tapi dia masih kuat untuk beraktifitas dan mengikuti perkuliahan. Dan di bulan ini Echa sudah hampir berada di akhir semester empat, sedangkan Gua baru akan memasuki semester tiga. Dimana semester tiga nanti Gua akan melakukan on the job training atau otjt, lebih gampangnya pkl lah, selama tiga bulan. Tapi mengingat kondisi istri Gua yang sedang hamil muda, Gua membicarakan hal tersebut dengannya.
"Cha, aku kan semester tiga ini harus praktek kerja lapang nih di hotel, ya bebas sih milih hotel mana aja, tapi aku khawatir kalau harus ninggalin kamu jauh-jauh", ucap Gua sambil menghembuskan asap rokok ke atas di teras depan kamar.
"Hmm.. Gak apa-apa kok Za, pilih aja di jakarta biar deket, kan waktunya sama dengan jam kerja toh..", jawabnya dari sofa dekat pintu kamar.
"Iya juga sih, yaudah lah nanti coba aku pilih hotel yang deket aja ya, biar gak jauh dari kamu", ucap Gua lagi.
Keesokan harinya Gua mulai memilih beberapa hotel referensi yang bisa menerima Gua sebagai mahasiswa magang untuk pkl. Saat itu Gua dan Lisa sama-sama apply surat keterangan dari kampus ke salah satu hotel berbintang lima. Sesuai anjuran dosen Gua, Pak Boy. Dan lewat referensinya lah kami berdua di terima magang di hotel yang terletak di daerah Gatsu jakarta selatan. Alhamdulilah karena beliau juga bekerja di sana, jadi saat interview tidak ada kendala apapun, ya seperti formalitas sih.
Bulan mei Gua sudah mulai magang di hotel itu, Gua memilih section kitchen sedangkan Lisa mengambil front office. Jadwal kerja Gua sama dengan karyawan lainnya di kitchen tersebut, jika masuk pagi, mulai dari pukul delapan hingga empat sore, sedangkan jika masuk sore, mulai pukul tiga hingga setengah sebelas malam. Pada awalnya Gua masih belajar dan diarahkan oleh karyawan atau chef di kitchen hotel tersebut, tidak begitu berat menurut Gua pekerjaannya, hanya membantu mempersiapkan bahan masakan, memotong sayuran dan belum di izinkan memasak.
Ada rezeki dari Tuhan yang Gua terima, alhamdulilah sekali, saat itu Gua magang di hotel tersebut mendapatkan upah alias gaji bulanan, tidak semua hotel memiliki kebijakan seperti ini. Walaupun upah yang Gua terima jauh dari angka umr tapi bagi Gua ini adalah sebuah hal yang sangat membahagiakan, kurang dari satu juta rupiah Gua mendapat upah, dan Gua menerimanya dengan senang hati. Bagaimana tidak, walaupun Gua belum benar-benar bekerja tapi Gua sudah bisa mendapatkan upah dengan hasil keringat sendiri, yang tentunya hal ini membuat istri Gua ikut senang. Benar adanya, Tuhan itu pasti bersama orang-orang yang mau berusaha di jalan yang Dia ridhoi, apalagi untuk keluarga. Inilah nafkah pertama untuk istri Gua dan calon anak kami. Besar kecilnya upah bukanlah kendala bagi kami, yang penting Gua bisa menafkahi keluarga walaupun sedikit. Dari upah yang Gua terima, Echa membagi dua jumlahnya setengah untuk keperluan kami makan dan setengah lagi untuk di tabung. Gua sebenarnya yang meminta untuk setengahnya di tabung di rekening pribadi Gua sendiri, karena Gua sudah berniat untuk membelikannya sesuatu jika sudah terkumpul dan nominalnya memadai. Tentu saja Echa tidak mengetahui niatan Gua tersebut, biasa sureprise lah.
Setelah cukup lama Gua magang di kitchen, yang awalnya Gua berada di section butcher, atau tempat pemotongan berbagai macam daging, Gua di rolling ke main kitchen, dan disinilah ilmu dasar memasak Gua pelajari. Btw jangan dikira orang kitchen itu baik hati Gais, mereka itu seperti komandan perang, enggak bohong Gua, bentakkan, makian, kata kasar sudah sering Gua dengar dan menjadi makanan sehari-hari. Pernah suatu hari Gua terlambat masuk kerja dan hukumannya ini sungguh diluar perkiraan, Gua disuruh push-up sebanyak waktu Gua terlambat masuk. Tidak terlalu berat memang, tapi mengingat ini kitchen jadi ya rasanya out of the box aja.
Tapi dari semua itu, alhamdulilah Gua masih bertahan dan bekerja sebagai anak magang di hotel tersebut, maksudnya Gua tidak sampai tersulut emosi sehingga menyebabkan perkelahian, walaupun dalam hati sih panas mendengar caci maki mereka, malah Gua akrab dengan beberapa chef di hotel itu.
...
...
...
Hari ini Gua libur magang, dan kebetulan Echa pun memang libur kuliah di hari sabtu. Kami berdua sedang pergi ke klinik untuk mengecek kondisi kehamilan istri Gua itu. Alhamdulilah istri Gua masih dalam kondisi sehat berikut dengan calon anak kami yang masih dengan amannya berada di dalam rahim Echa. Semuanya normal dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang terpenting, istri Gua harus selalu menjaga kondisinya agar dirinya dan calon anak kami bai-baik saja.
"Udah enam bulan ya kamu hamil, enggak kerasa ya Bun", ucap Gua ketika selesai periksa kondisi kehamilannya dan sekarang kami sedang menyantap bubur ayam di dekat taman kota.
"Iya.. Alhamdulilah semuanya berjalan normal. Si debay juga anteung nih di dalem.. Hihihi", jawabnya seraya mengelus pelan perutnya yang terlihat cukup buncit.
Gua terkekeh melihat perubahan bentuk tubuh istri Gua ini, dengan seiring bertambahnya usia kandungannya, bertambah pula bobot berat badan Echa, selain perut yang membesar, pipinya jadi chubby sekarang, gemes banget Gua, hampir tiap malam sebelum tidur Gua selalu isengin dia, dengan mencubit pipinya itu.
"Chandut.. Itu buat aku aja deh sate ususnya, kamu kan gak suka jeroan", ucap Gua seraya melirik ke sate usus di mangkuk buburnya.
"Iihh enak aja.. Kata siapa gak mau! Debay yang mau tau! Beli we sendiri sono.. Tuh ke si mamangnya, huuuu..", istri Gua menjawab sambil mengangkat mangkuk dan menyembunyikannya, seperti anak kecil, belum bibirnya yang manyun, gemes Gua, lucu sekaleh kamu sayang! Huehehehe...
"Heuu.. Kirain te gak mau, Chandut mau nambah ?", tanya Gua.
Istri Gua menggeleng pelan, lalu menyendok lagi buburnya dan melahap suapan terakhir.
Chandut, Echa Ndut.. Itulah panggilan sayang Gua akhir-akhir ini untuknya, karena perubahan bentuk tubuhnya tadi Gua memanggilnya seperti itu. Hehehe...
Sore hari Gua dan istri sedang main ke rumah mertua. Saat itu kami janjian di rumah mertua untuk pergi lagi bersama ke komplek perumahan di dekat rumah Nenek, melihat progres rumah yang sudah sembilan puluh lima persen jadi. Sekitar pukul setengah lima sore kami sampai di sana. Gua terpukau melihat bangunan rumah yang berlantai dua tersebut, rumah yang berwarna putih terang dengan halaman yang cukup luas.
Kami masuk ke dalam halaman parkir di sisi kanan, halaman parkir ini cukup luas, bisa muat dua mobil, dan lebih ke dalam lagi barulah garasi mobil dengan pintu kayu geser. Kemudian kami menaiki tiga anak tangga menuju teras depan rumah, di depan teras ini ada tanaman yang lebarnya kurang lebih lima sampai enam meter hingga ke pagar depan, lalu halaman depan ini masih menyambung ke sisi kiri dari arah depan, yang mana bersebrangan dengan halaman parkir. Halaman ini ternyata berbentuk letter U, hingga ke halaman belakang rumah.
Setelah masuk ke dalam rumah dan langsung berada di ruang tamu yang cukup luas di sisi kanan, kami masuk lebih ke dalam lagi ke ruang keluarga, lalu di sisi kiri ada satu kamar tidur, setelah ruang tv ada ruang makan yang menyatu dengan dapur, di sisi kiri ada satu kamar lainnya yang berukuran kecil, sepertinya diperuntukkan untuk art nanti. Lalu di arah kanan dekat dapur terletak pintu kaca model geser untuk ke halaman belakang, dimana ada sedikit halaman dengan kolam renang dan gazebo sederhana yang masih dibangun oleh tukang di bagian belakang itu. Kembali ke ruang keluarga di sisi kanan, tepatnya di dekat tangga ke lantai dua, ada satu kamar lagi. Kemudian naik ke lantai dua, di atas sini ada dua kamar dengan satu beranda di tengah kamar yang saling berhadapan itu. Lantai halaman belakang dan bagian lantai dua sama-sama menggunakan bahan kayu parquet hingga ke dalam dua kamar tidur diatas tersebut, kecuali beranda bagian luar, masing-masing lantai berandanya berlantai keramik.
Beres melihat-lihat isi dalam bangunan rumah ini, Gua dan Echa tentu saja mengucapkan terimakasih banyak kepada Papah dan Mamahnya. Entah apalagi yang bisa Gua balas untuk pemberian yang satu ini, mau diganti dengan rupiah pun rasanya harus bekerja sekian puluh tahun untuk Gua baru bisa melunasinya.
Setelah Gua diberikan sertifikat rumah tersebut oleh Papah mertua untuk Gua simpan baik-baik, kami sekeluarga pergi ke sebuah resto khas sunda di daerah jalan protokol, ya makan malam bersama. Sesampainya di sana kami langsung memesan beberapa menu yang tidak lama kemudian di hidangkan dan kami santap bersama-sama. Sekitar pukul delapan malam akhirnya kami pulang dari resto tersebut, Papah dan Mamah mertua Gua pulang ke rumahnya dengan diantar supir keluarga, sedangkan Gua dan istri pulang ke rumah Nenek, tentu Gua yang mengemudikan mobil.
"Nda, kamu suka sama rumahnya ?", tanyanya ketika dalam perjalanan pulang di dalam mobil.
"Suka lah Bun, aku suka banget, kamu emang pinter ngedesain rumah.. Udah gak usah ikut sidang, langsung buka jasa arsitektur aja deh Bun..", jawab Gua sambil tersenyum lebar.
"Hahaha.. Apa sih kamu tuh Nda, suka aneh-aneh deh, masa aku gak lanjutin kuliah, huuu..", ucapnya sambil memukul lengan kiri Gua pelan,
"Eh iya besok aku sama Mamah mau liat-liat furniture ya Nda, buat isi rumah..", lanjutnya.
"Eh ? Serius ? Jangan sama Mamah deh, gak enak Bun, nanti mereka lagi yang beliin, malu aku Bun", jawab Gua.
"Enggak kok, aku sama Mamah cuma mau liat-liat aja, kalopun beli nanti pakai uang tabunganku.. Ya ya ya ya ya ? Please, Nda baik deh..", rajuknya sambil mencubit pipi kiri Gua.
"Duuuh.. Mmm.. Kamu bawa atm aku aja ya, kalo mau beli barang pakai uang tabungan ku aja deh, ya Bun ya ?".
Istri Gua menggeleng seraya cemberut. "Enggak ah, itu kan tabungan kuliah kamu sama uang bisnis kamu, gak mau aku pake dulu Nda.. Udah sih gak apa-apa pake uang aku dulu".
Ya begitulah Echa kalau sudah ada mau, agak susah untuk diredam keinginannya. Gua pun mengalah, Hadeuh Cewek tuh yaa.. -_-
...
Keesokan harinya, hari minggu Gua masuk kerja, Gua berangkat pukul enam pagi dari rumah menggunakan motor, agak males Gua kalo weekend gini bawa mobil, macetnya gak ketulungan. Sekitar pukul setengah delapan lewat Gua sudah sampai di parkiran khusus karyawan. Lalu turun dari motor dan masuk ke area jalan khusus para karyawan atau pegawai. Gua belum masuk ke dalam lagi, karena melihat beberapa chef yang juga baru datang sedang santai merokok dengan ditemani oleh secangkir kopi susu di depan mereka. Gua duduk di sebelahnya, sebut saja namanya Pak Rudi. Beliau ini adalah salah satu chef yang sudah bekerja di hotel ini selama kurang lebih tujuh tahun. Gua sering bekerja bersama beliau, banyak ilmu yang Gua dapatkan darinya. Orangnya aslinya baik, tapi kalau sudah mode kerja nya ON... Weh itu mulut gak ada filternya coy.. Jing, Sat, Gong, Nyet, Fak, Blok, Lol, Bi, Dat, dan segala bentuk kata kasar keluar semua.
Tapi Pak Rudi beneran baik sama Gua, beliau gak pelit ilmu, apapun yang ia masak ketika ada order dari waitress, Gua selalu dipanggil dan diminta memperhatikannya. Ini yang membuat Gua respect kepada beliau. Setelah sekian tahun nanti Gua berkecimpung di kitchen, ternyata ilmu memasak itu sulit di dapat coy,gak kayak jaman sekarang. Dulu pada pelit orang-orang dapur sama yang namanya ilmu. Ya walaupun gak semua sih, buktinya ini Pak Rudi biar kata mulutnya kasar tapi gak pelit ilmu, dan langka lah orang seperti beliau. Btw, Pak rudi ini ternyata berteman baik dengan Pak Boy, dosen Gua yang sekaligus memiliki jabatan manager restaurant di hotel tempat Gua magang ini.
Sekitar pukul delapan kurang lima menit Gua dan Pak Rudi masuk ke dalam lift khusus karyawan, seteleah sebelumnya Gua mengisi absen pada mesin absensi manual, tahun itu belum ada di hotel Gua magang mesin absensi finger print, hehehe. Lalu kami berdua menuju lantai tiga, dimana kitchen dan tempat magang Gua berada. Sesampainya di sana, Gua menuju locker room, menaruh tas, dan mengganti pakaian Gua dengan pakaian ala-ala chef. Tidak lupa sepatu juga Gua ganti dengan safety shoes yang ujung kepalanya dibalut besi.
Seperti biasa, Gua mengecek menu hidangan untuk lunch di papan white board, setelah membaca menu tersebut, Gua mengambil beberapa bahan masakan dari chiller maupun dry storage di bagian lain pada kitchen ini. Btw kalo menu breakfast biasanya anak shift malam yang udah nyiapin sih, jadi ketika waktu breakfast selesai, Gua dan karyawan lain yang masuk pagi hari tinggal beres-beres aja.
Ya belum ada kerjaan yang menyulitkan pagi itu, hanya rutinitas biasa yang Gua lakukan di kitchen ini, mempersiapkan bahan masakan untuk siang hari. Sampai semuanya berubah ketika selesai istirahat, Gua yang saat itu baru selesai makan langsung diminta Pak Rudi membantu menyiapkan bahan lainnya, karena nanti malam akan ada dinner dari sebuah perusahaan di restoran hotel yang jumlahnya cukup banyak, hingga ratusan orang. Nah sedikit info, biasanya untuk mempersiapkan suatu menu hidangan baik itu breakfast atau lunch, karyawan atau chef yang masuk malam hari hingga pagi hari itu menyiapkan bahan masakan untuk breakfast, dan yang finishing atau memasaknya hingga matang, chef yang jadwalnya masuk pagi. Nah karena nanti malam ada gala dinner, maka Gua dan chef yang masuk pagi mempersiapkan menu dan bahan makanan untuk diolah dan dimasak nanti oleh chef yang masuk sore. Begitulah kurang lebih pola kerja di kitchen.
Singkat cerita, Gua sudah selesai menyiapkan segala bentuk bahan masakan, dari mulai memotong bahan mentah baik sayur maupun daging, membuat adonan lain dan memecahkan telur hingga empat box ke dalam sebuah panci berukuran besar, seperti panci tukang bakso lah. Lelah sudah pasti. Dan kini saatnya Gua pulang.
Kesalahan besar ternyata Gua hari ini pulang pergi naik motor, setelah lelah karena bekerja, eh pulangnya masih harus mengendarai si RR, rontok udah rasanya ini tulang. Dan memang Gua baru pertama kali ini berangkat magang menggunakan motor. Sekitar hampir maghrib Gua sampai di rumah, yang langsung disambut oleh istri tercinta ketika membuka pintu kamar.
"Assalamualaikum", ucap Gua ketika Echa membuka pintu kamar.
"Walaikumsalam.. Eh.. Loch Nda, kok lesu banget keliatannya, kenapa ?", tanyanya seraya memegang tangan kanan Gua lalu menciumnya.
"Huuuftt.. Lelah banget hari ini aku Bun, cape sumpah, banyak masakan.. Dan..", Gua masuk ke dalam kamar seraya melepaskan jaket dan tas lalu melemparnya asal ke sudut kamar.
"Dan apa Nda ?", tanya istri Gua sambil mengambil tas dan jaket Gua lalu merapihkannya.
"Dan kesalahan besar aku pulang pergi naik motor... Hadeeuuuhh...", jawab Gua.
Bruk..Gua menghempaskan tubuh di lantai kamar.
Istri Gua mendekat lalu duduk di samping Gua. Dia tersenyum menatap Gua lalu kedua tangannya mulai memijit lengan kiri ini.
"Cape banget ya.. Yaudah kamu mau makan dulu atau kopi dulu ? Jangan langsung mandi ya, kan baru sampe Nda..", ucapnya lembut.
Gua tersenyum mendengar ucapan istri Gua itu. Ah kamu memang wanita paling mengerti aku Bun. "Iya, eh.. aku mau es teh manis aja deh Bun, seger kayaknya hehehe...", jawab Gua seraya bangun dari tiduran din lantai.
Kemudian dengan perlahan istri Gua berdiri lalu berjalan keluar kamar kearah dapur. Gua masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengganti pakaian. Setelah itu Gua kembali ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan ibadah tiga raka'at setelah adzan maghrib berkumandang.
Oh ya, sejak kehamilan istri Gua memasuki usia kandungan enam bulan, Gua memanggilanya Bunda atau Bun, sedangkan dia menyingkat bagian belakangnya untuk memanggil Gua, Nda. Romantis tapi gak alay mblooo, udah nikah nih ane, bebas lah ye huehehehe.
Malam hari setelah shalat isya, dan mandi, Gua bersama istri, Mba Laras dan Nenek makan bersama di ruang makan. Oh ya, Mba Laras sudah sebulan ini menginap di rumah. Selesai makan dan Mba Laras bersama istri Gua mencuci piring di dapur, kami bertiga berkumpul di sofa teras depan kamar, sedangkan Nenek sudah masuk ke kamarnya.
"Za, tadi orang yang kontrak tanah kamu di jalan protokol datang ke sini, katanya mau ngomongin perpanjang kontrak", tanya Mba Laras memulai obrolan soal kontrak tanah.
"Oh iya ya, dua bulan lagi habis kontraknya. Enaknya gimana Mba ? Lagian kayaknya aku mau naikkin harga sewanya", jawab Gua.
"Ya terserah kamu kalo soal harga sewanya, asal kan baik untuk kedua belah pihak", ucap Mba Laras lagi.
"Hmm.. Iya sih Mba, eh ngomong-ngomong aku belum pernah ketemu loch sama orangnya", jawab Gua.
"Temen kamu Nda", sela istri Gua kali ini.
"Temen aku ? Yang punya factory outlet itu temen aku ? Masa sih Bun ?", tanya Gua tidak percaya.
"Bukan yang punyanya sih, tapi ponakannya", jawab istri Gua lagi, tapi kali ini sambil mencibir dan memalingkan muka.
Gua mengerutkan kening, bingung dan tidak dapat menebak siapa kira-kira teman Gua itu. "Siapa emangnya Nda ?".
"Luna..", jawab istri Gua ketus.
Satu lagi, dia selalu eneug, tau eneug kan ? Mencium aroma tubuh Gua, gile bener deh, nyium aroma tubuh suami sendiri bikin dia mau muntah katanya. Padahal Gua abis mandi. Pernah Gua baru pulang kuliah, baru masuk kamar dan Echa sedang merapihkan lemari pakaian, Gua mendekatinya karena memang baru pulang, setelah Echa mencium tangan Gua, tubuh ini langsung didorong dan diarahkan ke kamar mandi, oke lah emang gak enak kali karena Gua baru pulang. Selesai mandi dan benar-benar wangi karena Gua sendiri mencium aroma sabun yang Gua pakai untuk membilas tubuh tadi, Gua keluar kamar dengan membalutkan handuk di tubuh bagian bawah, Echa masih membereskan lemari yang sedetik kemudian dia menengok kepada Gua. Apa yang terjadi ? Seolah-olah Gua ini belum mandi dan masih bau katanya, Gua di suruh mandi lagi, etdaah.. Cewek tuh yaa..

Dua kali sumpah Gua beneran mandi lagi, sabunan lagi, keluar lagi setelah selesai, tapi apa ? Itu istri Gua masih aja bilang eneug nyium aroma tubuh Gua, ckckckc... Keterlaluan. Pernah suatu hari, di saat kami akan istirahat, tidur di malam hari, Gua sudah bersih, mandi wangi, baju juga baru di ambil dari lemari, tiduran di sampingnya seperti biasa, eh dengan tidak ber-kepri-rumahtangga-an, Gua di dorong sampai jatuh ke lantai sama istri Gua sendiri, alasannya apalagi selain katanya eneug nyium aroma tubuh suaminya, tega bener deh.
Di lain hari, waktu itu Mba Laras sedang menginap di rumah Nenek, Echa memilih tidur bersama Ibu Gua daripada bersama Gua suaminya, alhasil Gua harus rela mengungsi ke kamar depan. Tidur sendirian, hiks.. Hiks.. Hiks..

Intinya, ngidam sih kagak, cuma yaaa.. You know lah ya.. Ekstra kesabaran dalam jiwa ini kudu harus selalu wajib dalam mode ON.

...
Bulan april 2008, sudah dua minggu lebih alhamdulilah Mba Laras menemani istri Gua di rumah Nenek, awalnya dia pulang pergi setiap hari, tapi lama-kelamaan Mba Laras ikut menginap di rumah Nenek. Gua senang karena menjadi ramai di rumah Nenek saat ini, apalagi seminggu sekali Mamah mertua Gua terkadang menginap di sini. Biasalah kan ya, namanya juga hamil pertama, dan bakal ada cucu pertama juga, jadi perasaan sayang yang tercurah pun semakin terasa, lebih dari biasanya.
Masih di bulan april, perkuliahan Gua dan Echa pun masih berjalan normal, istri Gua belum mengambil cuti kuliah, ya walaupun sudah masuk lima bulan usia kandungannya, tapi dia masih kuat untuk beraktifitas dan mengikuti perkuliahan. Dan di bulan ini Echa sudah hampir berada di akhir semester empat, sedangkan Gua baru akan memasuki semester tiga. Dimana semester tiga nanti Gua akan melakukan on the job training atau otjt, lebih gampangnya pkl lah, selama tiga bulan. Tapi mengingat kondisi istri Gua yang sedang hamil muda, Gua membicarakan hal tersebut dengannya.
"Cha, aku kan semester tiga ini harus praktek kerja lapang nih di hotel, ya bebas sih milih hotel mana aja, tapi aku khawatir kalau harus ninggalin kamu jauh-jauh", ucap Gua sambil menghembuskan asap rokok ke atas di teras depan kamar.
"Hmm.. Gak apa-apa kok Za, pilih aja di jakarta biar deket, kan waktunya sama dengan jam kerja toh..", jawabnya dari sofa dekat pintu kamar.
"Iya juga sih, yaudah lah nanti coba aku pilih hotel yang deket aja ya, biar gak jauh dari kamu", ucap Gua lagi.
Keesokan harinya Gua mulai memilih beberapa hotel referensi yang bisa menerima Gua sebagai mahasiswa magang untuk pkl. Saat itu Gua dan Lisa sama-sama apply surat keterangan dari kampus ke salah satu hotel berbintang lima. Sesuai anjuran dosen Gua, Pak Boy. Dan lewat referensinya lah kami berdua di terima magang di hotel yang terletak di daerah Gatsu jakarta selatan. Alhamdulilah karena beliau juga bekerja di sana, jadi saat interview tidak ada kendala apapun, ya seperti formalitas sih.
Bulan mei Gua sudah mulai magang di hotel itu, Gua memilih section kitchen sedangkan Lisa mengambil front office. Jadwal kerja Gua sama dengan karyawan lainnya di kitchen tersebut, jika masuk pagi, mulai dari pukul delapan hingga empat sore, sedangkan jika masuk sore, mulai pukul tiga hingga setengah sebelas malam. Pada awalnya Gua masih belajar dan diarahkan oleh karyawan atau chef di kitchen hotel tersebut, tidak begitu berat menurut Gua pekerjaannya, hanya membantu mempersiapkan bahan masakan, memotong sayuran dan belum di izinkan memasak.
Ada rezeki dari Tuhan yang Gua terima, alhamdulilah sekali, saat itu Gua magang di hotel tersebut mendapatkan upah alias gaji bulanan, tidak semua hotel memiliki kebijakan seperti ini. Walaupun upah yang Gua terima jauh dari angka umr tapi bagi Gua ini adalah sebuah hal yang sangat membahagiakan, kurang dari satu juta rupiah Gua mendapat upah, dan Gua menerimanya dengan senang hati. Bagaimana tidak, walaupun Gua belum benar-benar bekerja tapi Gua sudah bisa mendapatkan upah dengan hasil keringat sendiri, yang tentunya hal ini membuat istri Gua ikut senang. Benar adanya, Tuhan itu pasti bersama orang-orang yang mau berusaha di jalan yang Dia ridhoi, apalagi untuk keluarga. Inilah nafkah pertama untuk istri Gua dan calon anak kami. Besar kecilnya upah bukanlah kendala bagi kami, yang penting Gua bisa menafkahi keluarga walaupun sedikit. Dari upah yang Gua terima, Echa membagi dua jumlahnya setengah untuk keperluan kami makan dan setengah lagi untuk di tabung. Gua sebenarnya yang meminta untuk setengahnya di tabung di rekening pribadi Gua sendiri, karena Gua sudah berniat untuk membelikannya sesuatu jika sudah terkumpul dan nominalnya memadai. Tentu saja Echa tidak mengetahui niatan Gua tersebut, biasa sureprise lah.
Setelah cukup lama Gua magang di kitchen, yang awalnya Gua berada di section butcher, atau tempat pemotongan berbagai macam daging, Gua di rolling ke main kitchen, dan disinilah ilmu dasar memasak Gua pelajari. Btw jangan dikira orang kitchen itu baik hati Gais, mereka itu seperti komandan perang, enggak bohong Gua, bentakkan, makian, kata kasar sudah sering Gua dengar dan menjadi makanan sehari-hari. Pernah suatu hari Gua terlambat masuk kerja dan hukumannya ini sungguh diluar perkiraan, Gua disuruh push-up sebanyak waktu Gua terlambat masuk. Tidak terlalu berat memang, tapi mengingat ini kitchen jadi ya rasanya out of the box aja.
Tapi dari semua itu, alhamdulilah Gua masih bertahan dan bekerja sebagai anak magang di hotel tersebut, maksudnya Gua tidak sampai tersulut emosi sehingga menyebabkan perkelahian, walaupun dalam hati sih panas mendengar caci maki mereka, malah Gua akrab dengan beberapa chef di hotel itu.
...
...
...
Hari ini Gua libur magang, dan kebetulan Echa pun memang libur kuliah di hari sabtu. Kami berdua sedang pergi ke klinik untuk mengecek kondisi kehamilan istri Gua itu. Alhamdulilah istri Gua masih dalam kondisi sehat berikut dengan calon anak kami yang masih dengan amannya berada di dalam rahim Echa. Semuanya normal dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang terpenting, istri Gua harus selalu menjaga kondisinya agar dirinya dan calon anak kami bai-baik saja.
"Udah enam bulan ya kamu hamil, enggak kerasa ya Bun", ucap Gua ketika selesai periksa kondisi kehamilannya dan sekarang kami sedang menyantap bubur ayam di dekat taman kota.
"Iya.. Alhamdulilah semuanya berjalan normal. Si debay juga anteung nih di dalem.. Hihihi", jawabnya seraya mengelus pelan perutnya yang terlihat cukup buncit.
Gua terkekeh melihat perubahan bentuk tubuh istri Gua ini, dengan seiring bertambahnya usia kandungannya, bertambah pula bobot berat badan Echa, selain perut yang membesar, pipinya jadi chubby sekarang, gemes banget Gua, hampir tiap malam sebelum tidur Gua selalu isengin dia, dengan mencubit pipinya itu.
"Chandut.. Itu buat aku aja deh sate ususnya, kamu kan gak suka jeroan", ucap Gua seraya melirik ke sate usus di mangkuk buburnya.
"Iihh enak aja.. Kata siapa gak mau! Debay yang mau tau! Beli we sendiri sono.. Tuh ke si mamangnya, huuuu..", istri Gua menjawab sambil mengangkat mangkuk dan menyembunyikannya, seperti anak kecil, belum bibirnya yang manyun, gemes Gua, lucu sekaleh kamu sayang! Huehehehe...
"Heuu.. Kirain te gak mau, Chandut mau nambah ?", tanya Gua.
Istri Gua menggeleng pelan, lalu menyendok lagi buburnya dan melahap suapan terakhir.
Chandut, Echa Ndut.. Itulah panggilan sayang Gua akhir-akhir ini untuknya, karena perubahan bentuk tubuhnya tadi Gua memanggilnya seperti itu. Hehehe...
Sore hari Gua dan istri sedang main ke rumah mertua. Saat itu kami janjian di rumah mertua untuk pergi lagi bersama ke komplek perumahan di dekat rumah Nenek, melihat progres rumah yang sudah sembilan puluh lima persen jadi. Sekitar pukul setengah lima sore kami sampai di sana. Gua terpukau melihat bangunan rumah yang berlantai dua tersebut, rumah yang berwarna putih terang dengan halaman yang cukup luas.
Kami masuk ke dalam halaman parkir di sisi kanan, halaman parkir ini cukup luas, bisa muat dua mobil, dan lebih ke dalam lagi barulah garasi mobil dengan pintu kayu geser. Kemudian kami menaiki tiga anak tangga menuju teras depan rumah, di depan teras ini ada tanaman yang lebarnya kurang lebih lima sampai enam meter hingga ke pagar depan, lalu halaman depan ini masih menyambung ke sisi kiri dari arah depan, yang mana bersebrangan dengan halaman parkir. Halaman ini ternyata berbentuk letter U, hingga ke halaman belakang rumah.
Setelah masuk ke dalam rumah dan langsung berada di ruang tamu yang cukup luas di sisi kanan, kami masuk lebih ke dalam lagi ke ruang keluarga, lalu di sisi kiri ada satu kamar tidur, setelah ruang tv ada ruang makan yang menyatu dengan dapur, di sisi kiri ada satu kamar lainnya yang berukuran kecil, sepertinya diperuntukkan untuk art nanti. Lalu di arah kanan dekat dapur terletak pintu kaca model geser untuk ke halaman belakang, dimana ada sedikit halaman dengan kolam renang dan gazebo sederhana yang masih dibangun oleh tukang di bagian belakang itu. Kembali ke ruang keluarga di sisi kanan, tepatnya di dekat tangga ke lantai dua, ada satu kamar lagi. Kemudian naik ke lantai dua, di atas sini ada dua kamar dengan satu beranda di tengah kamar yang saling berhadapan itu. Lantai halaman belakang dan bagian lantai dua sama-sama menggunakan bahan kayu parquet hingga ke dalam dua kamar tidur diatas tersebut, kecuali beranda bagian luar, masing-masing lantai berandanya berlantai keramik.
Beres melihat-lihat isi dalam bangunan rumah ini, Gua dan Echa tentu saja mengucapkan terimakasih banyak kepada Papah dan Mamahnya. Entah apalagi yang bisa Gua balas untuk pemberian yang satu ini, mau diganti dengan rupiah pun rasanya harus bekerja sekian puluh tahun untuk Gua baru bisa melunasinya.
Setelah Gua diberikan sertifikat rumah tersebut oleh Papah mertua untuk Gua simpan baik-baik, kami sekeluarga pergi ke sebuah resto khas sunda di daerah jalan protokol, ya makan malam bersama. Sesampainya di sana kami langsung memesan beberapa menu yang tidak lama kemudian di hidangkan dan kami santap bersama-sama. Sekitar pukul delapan malam akhirnya kami pulang dari resto tersebut, Papah dan Mamah mertua Gua pulang ke rumahnya dengan diantar supir keluarga, sedangkan Gua dan istri pulang ke rumah Nenek, tentu Gua yang mengemudikan mobil.
"Nda, kamu suka sama rumahnya ?", tanyanya ketika dalam perjalanan pulang di dalam mobil.
"Suka lah Bun, aku suka banget, kamu emang pinter ngedesain rumah.. Udah gak usah ikut sidang, langsung buka jasa arsitektur aja deh Bun..", jawab Gua sambil tersenyum lebar.
"Hahaha.. Apa sih kamu tuh Nda, suka aneh-aneh deh, masa aku gak lanjutin kuliah, huuu..", ucapnya sambil memukul lengan kiri Gua pelan,
"Eh iya besok aku sama Mamah mau liat-liat furniture ya Nda, buat isi rumah..", lanjutnya.
"Eh ? Serius ? Jangan sama Mamah deh, gak enak Bun, nanti mereka lagi yang beliin, malu aku Bun", jawab Gua.
"Enggak kok, aku sama Mamah cuma mau liat-liat aja, kalopun beli nanti pakai uang tabunganku.. Ya ya ya ya ya ? Please, Nda baik deh..", rajuknya sambil mencubit pipi kiri Gua.
"Duuuh.. Mmm.. Kamu bawa atm aku aja ya, kalo mau beli barang pakai uang tabungan ku aja deh, ya Bun ya ?".
Istri Gua menggeleng seraya cemberut. "Enggak ah, itu kan tabungan kuliah kamu sama uang bisnis kamu, gak mau aku pake dulu Nda.. Udah sih gak apa-apa pake uang aku dulu".
Ya begitulah Echa kalau sudah ada mau, agak susah untuk diredam keinginannya. Gua pun mengalah, Hadeuh Cewek tuh yaa.. -_-
...
Keesokan harinya, hari minggu Gua masuk kerja, Gua berangkat pukul enam pagi dari rumah menggunakan motor, agak males Gua kalo weekend gini bawa mobil, macetnya gak ketulungan. Sekitar pukul setengah delapan lewat Gua sudah sampai di parkiran khusus karyawan. Lalu turun dari motor dan masuk ke area jalan khusus para karyawan atau pegawai. Gua belum masuk ke dalam lagi, karena melihat beberapa chef yang juga baru datang sedang santai merokok dengan ditemani oleh secangkir kopi susu di depan mereka. Gua duduk di sebelahnya, sebut saja namanya Pak Rudi. Beliau ini adalah salah satu chef yang sudah bekerja di hotel ini selama kurang lebih tujuh tahun. Gua sering bekerja bersama beliau, banyak ilmu yang Gua dapatkan darinya. Orangnya aslinya baik, tapi kalau sudah mode kerja nya ON... Weh itu mulut gak ada filternya coy.. Jing, Sat, Gong, Nyet, Fak, Blok, Lol, Bi, Dat, dan segala bentuk kata kasar keluar semua.
Tapi Pak Rudi beneran baik sama Gua, beliau gak pelit ilmu, apapun yang ia masak ketika ada order dari waitress, Gua selalu dipanggil dan diminta memperhatikannya. Ini yang membuat Gua respect kepada beliau. Setelah sekian tahun nanti Gua berkecimpung di kitchen, ternyata ilmu memasak itu sulit di dapat coy,gak kayak jaman sekarang. Dulu pada pelit orang-orang dapur sama yang namanya ilmu. Ya walaupun gak semua sih, buktinya ini Pak Rudi biar kata mulutnya kasar tapi gak pelit ilmu, dan langka lah orang seperti beliau. Btw, Pak rudi ini ternyata berteman baik dengan Pak Boy, dosen Gua yang sekaligus memiliki jabatan manager restaurant di hotel tempat Gua magang ini.
Sekitar pukul delapan kurang lima menit Gua dan Pak Rudi masuk ke dalam lift khusus karyawan, seteleah sebelumnya Gua mengisi absen pada mesin absensi manual, tahun itu belum ada di hotel Gua magang mesin absensi finger print, hehehe. Lalu kami berdua menuju lantai tiga, dimana kitchen dan tempat magang Gua berada. Sesampainya di sana, Gua menuju locker room, menaruh tas, dan mengganti pakaian Gua dengan pakaian ala-ala chef. Tidak lupa sepatu juga Gua ganti dengan safety shoes yang ujung kepalanya dibalut besi.
Seperti biasa, Gua mengecek menu hidangan untuk lunch di papan white board, setelah membaca menu tersebut, Gua mengambil beberapa bahan masakan dari chiller maupun dry storage di bagian lain pada kitchen ini. Btw kalo menu breakfast biasanya anak shift malam yang udah nyiapin sih, jadi ketika waktu breakfast selesai, Gua dan karyawan lain yang masuk pagi hari tinggal beres-beres aja.
Ya belum ada kerjaan yang menyulitkan pagi itu, hanya rutinitas biasa yang Gua lakukan di kitchen ini, mempersiapkan bahan masakan untuk siang hari. Sampai semuanya berubah ketika selesai istirahat, Gua yang saat itu baru selesai makan langsung diminta Pak Rudi membantu menyiapkan bahan lainnya, karena nanti malam akan ada dinner dari sebuah perusahaan di restoran hotel yang jumlahnya cukup banyak, hingga ratusan orang. Nah sedikit info, biasanya untuk mempersiapkan suatu menu hidangan baik itu breakfast atau lunch, karyawan atau chef yang masuk malam hari hingga pagi hari itu menyiapkan bahan masakan untuk breakfast, dan yang finishing atau memasaknya hingga matang, chef yang jadwalnya masuk pagi. Nah karena nanti malam ada gala dinner, maka Gua dan chef yang masuk pagi mempersiapkan menu dan bahan makanan untuk diolah dan dimasak nanti oleh chef yang masuk sore. Begitulah kurang lebih pola kerja di kitchen.
Singkat cerita, Gua sudah selesai menyiapkan segala bentuk bahan masakan, dari mulai memotong bahan mentah baik sayur maupun daging, membuat adonan lain dan memecahkan telur hingga empat box ke dalam sebuah panci berukuran besar, seperti panci tukang bakso lah. Lelah sudah pasti. Dan kini saatnya Gua pulang.
Kesalahan besar ternyata Gua hari ini pulang pergi naik motor, setelah lelah karena bekerja, eh pulangnya masih harus mengendarai si RR, rontok udah rasanya ini tulang. Dan memang Gua baru pertama kali ini berangkat magang menggunakan motor. Sekitar hampir maghrib Gua sampai di rumah, yang langsung disambut oleh istri tercinta ketika membuka pintu kamar.
"Assalamualaikum", ucap Gua ketika Echa membuka pintu kamar.
"Walaikumsalam.. Eh.. Loch Nda, kok lesu banget keliatannya, kenapa ?", tanyanya seraya memegang tangan kanan Gua lalu menciumnya.
"Huuuftt.. Lelah banget hari ini aku Bun, cape sumpah, banyak masakan.. Dan..", Gua masuk ke dalam kamar seraya melepaskan jaket dan tas lalu melemparnya asal ke sudut kamar.
"Dan apa Nda ?", tanya istri Gua sambil mengambil tas dan jaket Gua lalu merapihkannya.
"Dan kesalahan besar aku pulang pergi naik motor... Hadeeuuuhh...", jawab Gua.
Bruk..Gua menghempaskan tubuh di lantai kamar.
Istri Gua mendekat lalu duduk di samping Gua. Dia tersenyum menatap Gua lalu kedua tangannya mulai memijit lengan kiri ini.
"Cape banget ya.. Yaudah kamu mau makan dulu atau kopi dulu ? Jangan langsung mandi ya, kan baru sampe Nda..", ucapnya lembut.
Gua tersenyum mendengar ucapan istri Gua itu. Ah kamu memang wanita paling mengerti aku Bun. "Iya, eh.. aku mau es teh manis aja deh Bun, seger kayaknya hehehe...", jawab Gua seraya bangun dari tiduran din lantai.
Kemudian dengan perlahan istri Gua berdiri lalu berjalan keluar kamar kearah dapur. Gua masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengganti pakaian. Setelah itu Gua kembali ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan ibadah tiga raka'at setelah adzan maghrib berkumandang.
Oh ya, sejak kehamilan istri Gua memasuki usia kandungan enam bulan, Gua memanggilanya Bunda atau Bun, sedangkan dia menyingkat bagian belakangnya untuk memanggil Gua, Nda. Romantis tapi gak alay mblooo, udah nikah nih ane, bebas lah ye huehehehe.

Malam hari setelah shalat isya, dan mandi, Gua bersama istri, Mba Laras dan Nenek makan bersama di ruang makan. Oh ya, Mba Laras sudah sebulan ini menginap di rumah. Selesai makan dan Mba Laras bersama istri Gua mencuci piring di dapur, kami bertiga berkumpul di sofa teras depan kamar, sedangkan Nenek sudah masuk ke kamarnya.
"Za, tadi orang yang kontrak tanah kamu di jalan protokol datang ke sini, katanya mau ngomongin perpanjang kontrak", tanya Mba Laras memulai obrolan soal kontrak tanah.
"Oh iya ya, dua bulan lagi habis kontraknya. Enaknya gimana Mba ? Lagian kayaknya aku mau naikkin harga sewanya", jawab Gua.
"Ya terserah kamu kalo soal harga sewanya, asal kan baik untuk kedua belah pihak", ucap Mba Laras lagi.
"Hmm.. Iya sih Mba, eh ngomong-ngomong aku belum pernah ketemu loch sama orangnya", jawab Gua.
"Temen kamu Nda", sela istri Gua kali ini.
"Temen aku ? Yang punya factory outlet itu temen aku ? Masa sih Bun ?", tanya Gua tidak percaya.
"Bukan yang punyanya sih, tapi ponakannya", jawab istri Gua lagi, tapi kali ini sambil mencibir dan memalingkan muka.
Gua mengerutkan kening, bingung dan tidak dapat menebak siapa kira-kira teman Gua itu. "Siapa emangnya Nda ?".
"Luna..", jawab istri Gua ketus.
Diubah oleh glitch.7 19-05-2017 21:28
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..


(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
