Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#4032
PART 62


Malam hari Gua dan Echa sedang berlari kecil dari area parkiran mobil menuju resto bento yang berada di depan kami. Kami berdua berdiri di depan pintu resto seraya menyeuka butiran air yang membasahi pakaian kami masing-masing, lalu Gua membuka pintu kaca tersebut yang kemudian istri Gua berjalan masuk ke dalam. Kami berdua mengantri sambil melihat gambar menu yang terpampang di atas depan sana.

"Kamu mau apa sayang ?", tanya istri Gua tanpa menoleh ke belakang.

Lalu Gua mendekati tubuhnya, memeluknya dari belakang dan melingkarkan kedua tangan ke depan perutnya. Echa menoleh ke kiri ketika wajah Gua bersandar ke wajahnya.

"Aku mau beef yakiniku sama shrimp dumpling nya..", jawab Gua sedikit berbisik.

"Mm... Kamu kenapa ? Kok tumben ? Malu tau Za diliatin orang tuh", ucap istri Gua menahan tawa.

"Biarin aja dikata apalah sama mereka, sama istri sendiri ini", jawab Gua sambil memejamkan mata.

"Eh, kamu beneran aneh deh, ada apa sih ?".

Gua hanya menggelengkan kepala, lalu melepaskan pelukkan ketika orang yang berada di depan Echa sudah maju beberapa langkah jauhnya.

"Tuh, maju lagi Cha..", ucap Gua seraya menunjuk kedepan.

Gua dan Echa mengambil nampan, lalu mulai menunjuk menu yang kami inginkan, setelah kami menerima menu dari pelayan resto, istri Gua menuju kasir dan membayar makanan kami berdua. Lalu Gua duduk di meja bagian luar resto bersama istri, duduk berhadapan. Tanpa menunggu lama lagi, setelah selesai mengucapkan do'a makan, kami menyantap makanan masing-masing karena memang belum makan dari sore, huehehehe...

Gua menaruh sendok setelah menghabiskan sup, lalu mengambil tissu dan mengelap bibir ini, istri Gua belum selesai menghabiskan makanannya. Gua berdiri sambil membawa gelas minuman berisi teh ocha yang dingin.

"Loch mau kemana Za ?", tanya istri Gua.

Gua tersenyum lalu berjalan dan duduk kembali di kursi kosong yang jaraknya hanya dua meja dari meja makan istri Gua berada. "Aku ngerokok dulu di sini", jawab Gua lalu membakar sebatang rokok. Kemudian istri Gua kembali melanjutkan makannya.

Gua menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskannya keatas sambil memandangi sosok wanita yang sedang asyik menyantap makan malamnya itu. Memandanginya dari jarak yang kurang lebih tujuh meter. Parasnya yang ayu dan meneduhkan itu sungguh terlihat bertambah cantik. Rambutnya yang mulai memanjang, kini sudah sampai sebatas punggung bagian atas, berwarna hitam legam. Lalu senyumnya, ya senyumnya itu senyum ketulusan, ketulusan sebuah cinta yang selalu ia curahkan untuk Gua, dari awal membuka mata hingga memejamkan mata lagi.

Tidak pernah sedikitpun terlintas bahwa Gua benar-benar akan menikahinya saat ini. Dia yang hanya menjadi teman kecil Gua, sahabat kecil Gua, dan Teteh Gua selama ini malah menjadi pendamping hidup Gua yang sah.

Gua menyesal, sangat menyesal atas perlakuan Gua yang kelewat emosi beberapa minggu lalu. Apalagi setelah mengetahui hasil surat keterangan lab dari rumah sakit tentang kondisi istri Gua. Membuat Gua tidak bisa memikirkan hal lainnya, kecuali nama dia yang ada di fikiran ini, Elsa Ferossa.

Gua menyadari bahwa Elsa benar-benar tulus dan terlalu baik menerima Gua selama ini. Memang Gua tau dari dulu dia sudah memiliki hati yang sangat sabar menghadapi Gua, dari mulai menunggu cintanya terbalas, melihat Gua memacari wanita lain, melihat kelakuan buruk Gua, dan sampai pada akhirnya setelah kami menikah pun dia harus rela melihat suaminya masih mencintai sosok wanita lain. Dan puncaknya, dia harus menerima perlakuan kasar setelah Gua emosi karena memikirkan wanita yang bernama Vera.

Gua terlalu bodoh dan buta untuk bisa menyadari kehadirannya yang selama ini bisa membimbing Gua ke arah yang lebih baik, dan setelah Gua membaca kondisi dirinya tadi sore di kamar. Hati dan logika Gua pun akhirnya sejalan, setuju bahwa dia, istri Gua adalah sosok yang harus Gua perjuangkan, menjaganya dengan setulus hati, mencintainya dan berusaha menerima segala kekurangannya. Tapi, apa yang kurang dari sosok wanita itu, sepertinya tidak ada, dia terlalu sempurna, setidaknya bagi Gua.

Kami memang baru menikah selama tiga bulan, dan segala kehidupan rumah tangga kami masih panjang untuk kami jalani bersama, dan karena itulah, mulai sekarang, Gua akan berubah untuknya, menerima segala keadaan ini dan berusaha membahagiakannya, apapun caranya, akan Gua lakukan untuk kebahagiaan Elsa, seperti saat Gua memperjuangkan cinta untuk Vera.

Kamu adalah hidup dan matiku sekarang Cha...

...
...
...

Awal bulan desember, Gua dan Echa di hari libur kuliah sedang jalan-jalan ke seaworld, entah mungkin karena kami bosan main dan pergi ke mall terus atau hanya sekedar nonton film di bioskop, tiba-tiba saja terlintas untuk pergi ke tempat wisata hewan laut ini. Sekitar pukul sepuluh pagi kami berdua sudah berada di dalam seaworld dan takjub dengan segala apa yang kami lihat. Kalau Gua ingat-ingat Gua baru dua kali ke seaworld, dulu sekali, saat Gua masih TK bersama Kakek dan Nenek Gua, kedua saat ada studi tur dari SD, waktu itu juga Gua bersama Echa dan Rekti cs kesini. Dan ini adalah kunjungan ketiga Gua, bersama istri tercinta.

"Ikan parinya gede banget ya Za..", ucapnya ketika kami melihat ikan pari yang berukuran besar melintas di atas kami.

"Iya, eh itu ikan hiu Cha..", ucap Gua menunjuk kearah lain.

"Eh iya, itu kan ganas ya, kok mereka akur ya, hiu nya gak memangsa ikan lainnya ?", tanya istri Gua lagi.

"Mungkin besanan Cha..".

"Besanan ? Maksudnya ?".

"Ya kali aja anak ikan pari nikah ama anaknya si Hiu, makanya adem ayem, itung-itung silaturahmi gitu".

"Hahaha.. Apaan sih, mana ada yang kayak gitu Za, kamu ma suka ngawur gitu deh", jawab istri Gua sambil memukul pelan bahu ini.

Gua tersenyum melihatnya tertawa, ya apalagi sih kebahagiaan suami selain bisa membuat istri tercinta bahagia, walaupun hanya sekedar tertawa seperti tadi dan jalan-jalan seperti ini. Kalau tolak ukur kebahagiaan adalah materi, sejujurnya Gua belum bisa membahagiakannya, karena ya Gua belum bisa mencari nafkah dengan bekerja langsung. Memang sih Gua memiliki usaha, kontrakan tanah dan sebuah barber shop yang baru saja Gua buka berkat bantuan Unang dan Icol, tapi rasanya akan berbeda jika Gua sendiri yang turun tangan untuk bekerja.

Sisi lain dari istri Gua adalah dirinya bukanlah tipe wanita yang suka menghamburkan uang, padahal kehidupannya sangatlah berlimpah materi, tabungan pribadinya malah melebihi tabungan milik Gua. Apalagi saat belum menikah dengan Gua, apapun yang ia minta ke orangtuanya pasti diberikan, tapi Echa bukanlah orang yang seperti itu, dia hanya meminta ketika apa yang menjadi haknya, misal biaya kuliah atau kebutuhan alat penunjang perkuliahannya. Okelah, Gua beri tau saja disini. Echa itu mengambil jurusan arsitektur, dan baru Gua ketahui dengan secara tidak sengaja ketika melihat pekerjaannya di laptop saat dia masih mandi, Gua melihat bentuk bangunan rumah yang mana kelak akan di bangun di atas tanah pemberian Papahnya.

Rumah impian ya ? Wajarlah menurut Gua, setiap manusia pasti memiliki rumah dengan bentuk bangunan yang diimpikan, tidak terkecuali kami berdua, lebih tepatnya Echa sih, dia sudah mulai mendesain sendiri rumah impian yang ingin dibangun dan kami huni kelak. Dan atas segala apa yang sudah kami miliki, Gua menyetujui sarannya menggabungkan tabungan kami sebagian untuk membangun rumah tersebut, dan awal januari 2008 nanti baru akan mulai dibangun.

Sekalipun dia tergolong orang berada secara materi, Echa tidak pernah menuntut kepada Gua untuk hidup foya-foya, kadang kala kami pun hanya memakan ikan asin yang disandingkan dengan sambal goreng, yang penting sih jangan pakai terasi, karena Gua tidak suka dengan baunya, hahaha...

Setelah lelah berjalan-jalan di dalam seaworld, kami pun keluar dan pergi ke sebuah rumah makan khas sunda untuk makan siang. Selesai menyantap makanan dan perut sudah terisi penuh, Echa mengajak Gua untuk pergi ke sebuah toko musik.

Singkat cerita kami berdua sudah berada di toko musik, tapi bukan toko musik yang menyediakan alat musik dan sebagainya, melainkan toko musik yang menjual kaset, cd dan vcd musik atau lagu. Echa membeli dua cd band barat ketika itu, yang keduanya sama.

"Cha, kok belinya dua ? Band yang sama pula ? Untuk apa ?", tanya Gua ketika kami sedang membayar di kasir.

"Enggak apa-apa, biar sekalian, takut ilang satu atau rusak, jadi masih ada satu lagi, hehehe..", jawabnya.

Beres membayar dan keluar dari toko musik tersebut, kami langsung masuk ke dalam mobil dan pulang menuju kota kami.

Di dalam perjalanan, Echa mengambil kepingan CD musik yang ia taruh di mobil Gua ini, lalu memasukkannya ke audio player mobil.

"Kamu suka lagu ini ?", tanya Gua ketika mobil baru memasuki jalan tol.

"Bukan lagunya aja, tapi bandnya juga hihihi, sebenernya udah lama aku suka sama band ini, dari album pertama aku koleksi tapi album yang tadi aku beli hilang waktu aku bawa ke kampus, sebel jadinya..".

"Oooh pantes langsung beli dua ya ? Hmmm.. Dasar".

"Gitu deh hahaha, eh dengerin ya musiknya, enak-enak loch lagunya".

"Ini my chemical romance kan ?", tanya Gua ketika lagu mulai melantun dari audio player.

Echa mengangguk seraya menoleh kepada Gua dan tersenyum. "Iya, enak kan lagunya, kamu harus dengerin dari album yang pertama Za, enak-enak kok, apalagi arti liriknya hehehe...", jawabnya.

"Aku pertama kali denger lagu band ini yang helena, waktu itu jadi soundtrack film house of wax Cha..", ucap Gua.

"Oh iya, lagu itu kan debut internasionalnya, jadi soundtrack film house of wax, waktu kita masih SMP deh kalo gak salah".

"Iya, tahun dua ribu limaan kalo gak salah Cha",
"Ngomong-ngomong kamu bisa suka musik genre kayak gini ya ? Aku fikir kamu suka yang melow gitu".

"Kan selain vokalisnya cakep, lagunya juga enak di denger, aku suka sama semua lagunya..", jawabnya lagi.

"Ngomong-ngomong kenapa gak dengerin album yang baru kamu beli tadi ?".

"Lagi pingin denger lagu ini sama kamu", jawabnya sambil tersenyum.

"Ini tumben gak terlalu keras ? Judulnya apa ?".

"Early sunsets over monroeville".

"Baru denger, dari album three cheers for sweet revenge kah ?".

"Bukan, ini dari debut album mereka, i brought you my bullets, you brought me your love".

...
...
...

Di lain hari, Gua sedang menelpon Sandhi, sahabat masa SMA Gua yang kini kuliah di Bandung. Gua meminta tolong kepadanya untuk mencarikan dan membelikan sebuah tiket. Karena Gua tidak berpengalaman mencari dan membeli sebuah tiket event musik, maka Sandhi lah yang sudah berkecimpung di dalam band indie labels pasti lebih mudah mencari tiket tersebut. Setelah mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya, ternyata tidak butuh lama untuk Sandhi mengirimkan Gua dua tiket keesokan harinya, ia mengirim tiket tersebut via pos.

Tiket konser musik sudah di tangan Gua, lalu Gua menyimpannya secara sembunyi agar istri Gua tidak tau. Kemudian setelah memfotokopi surat keterangan hasil lab beberapa waktu lalu, kini rencana tambahan pun Gua jalankan, sepulang kuliah Gua sudah janjian bersama dosen Gua yang memiliki cafe di ibu kota ini. Yap, Pak Boy, Gua menemuinya di cafe, lalu setelah mengutarakan niat Gua dan Pak Boy malah lebih antusias daripada Gua sendiri, segala persiapan matang pun di tulis dengan matang oleh dosen Gua yang satu itu, dia mencatat segala ide yang ada di otak Gua untuk besok malam.

Pagi harinya Gua berangkat kuliah seperti biasa, dan hari ini Gua meminta Echa untuk tidak membawa mobil sendiri.

"Emang kamu pulang jam berapa sayang ?", tanyanya karena ia tau kalo jam pulang kuliah Gua biasanya lebih lama dari dirinya.

"Jam dua siang juga udah selesai hari ini ma Cha, jadi bisa jemput kamu, hehehe...", jawab Gua.

"Oh, yaudah oke deh", jawabnya.

Lalu kami berdua pun berangkat pagi itu untuk menuntut ilmu di kampus kami masing-masing. Setelah mengantarkan Echa ke kampusnya, Gua pun mengebut mobil milik istri Gua di jalan tol untuk menuju kampus Gua.

Hari itu sebenarnya Gua masih ada mata kuliah bahasa inggris jam dua siang sampai setengah empat sore, tapi ya demi hari ini, Gua kabur satu matkul gak apalah hehehe... Jam dua lewat Gua berangkat lagi ke kampus Echa, sekitar pukul tiga sore Gua sudah menunggunya di parkiran depan gedung fakultas istri Gua. Sambil santai membakar sebatang rokok, Gua berdiri di depan kap mobil. Cuaca memang mendung hari ini, apalagi ini penghujung tahun.

Sekitar lima belas menit kemudian Gua melihat istri Gua berjalan dari arah gedung fakultasnya bersama Resti dan Irma. Dia melambaikan tangan kepada Gua seraya tersenyum. Gua membalas lambaian tangannya lalu membuang rokok. Gua membuka jas kampus dan melipatnya di tangan ini. Semakin dekat istri Gua berjalan, semakin tersenyum bibir ini melihatnya. Lalu ketika sudah mereka bertiga sampai di hadapan Gua, Echa meminta izin kalau kedua teman kampusnya itu ingin ikut nebeng sampai jalan raya, Gua menyetujuinya lalu kami semua naik ke mobil milik istri Gua yang memang saat ini Gua pakai.

Setelah kedua temannya turun di pinggir jalan, Gua mengajak Echa untuk pergi ke sebuah mall di jakarta pusat.

"Tumben Za, mau beli apa ?", tanyanya.

"Mmm.. Nonton aja ya, hehe.. Lagi pingin nonton nih", jawab Gua.

"Emang ada film apa ?".

"Mmm.. Gak tau sih hehe, liat disana aja ya, gak apalah dadakan sekali-kali".

"Hmmm.. Aneh, gak biasanya kamu dadakan ngajak nge mall", ucapnya heran.

Gua hanya bisa menahan tawa dan bahagia. Karena sebenarnya kan tujuan utama Gua malam hari nanti, jadi ya ini cuma sekedar membunuh waktu saja sih. Sampai di mall tersebut dan melihat film yang akan tayang di hari ini ternyata tidak ada yang membuat istri tercinta Gua tertarik sama sekali, ya mungkin mood menonton filmnya sedang tidak bagus. Jadi pilihan selanjutnya adalah mengitari mall ini, kalau perlu Gua anterin dia ke toko tas deh.

"Sayang, tuh toko tas, mau masuk gak ?", tanya Gua seraya menunjuk toko tersebut.

Echa mengehentikan langkahnya lalu Gua pun ikut berhenti dan menengok kepadanya. "Kenapa sayang ?", tanya Gua.

"Hmm... Kamu yang kenapa Za ? Kok hari ini aneh banget kayaknya", tanyanya balik.

Gua tersenyum kepada istri Gua yang termanis dan tercantik nan baik hati itu. "Ada deeeh.. Hehehe.. Yuk masuk ke situ", jawab Gua sambil merangkul pundaknya.

Walaupun wajahnya masih kebingungan karena sikap dan tingkah Gua yang aneh ini, Gua tetap cuek dan mengajaknya masuk ke dalam toko tas tersebut. Sesampainya di dalam ternyata dugaan Gua salah, ah entah kenapa dia malah benar-benar kurang semangat padahal ini barang-barang yang dia suka semua, iya tas, tas wanita. Tapi kok mood nya lagi gak bagus ya daritadi, hmmm.. Gua sabar aja sampai waktunya tiba deh.

Sampai akhirnya kami berdua keluar toko tas ini, istri Gua tidak tertarik dengan semua model yang di pajang, sungguh aneh, aneh banget malah, seolah bulan terbelah empat kalau Echa bisa sampai gini, ada apa gerangan ini wanita satu.

"Sayang, kamu kok tumben gak mau beli tas ? barang sebiji gitu ?", tanya Gua heran.

Echa hanya menggeleng cepat lalu berjalan meninggalkan Gua dengan ekspresi wajahnya yang bete.

Laaah kenapa lagi ini bini Gua satu. Bingung banget tiba-tiba jadi bete gitu.

"Sayang, kamu kenapa ?".

"Enggak apa-apa".

"Serius nih, kok cemberut sih ? Itu toko tas loch.. Tas.. Tas Cha.. Taaasss..".

"Hm...".

Weh ? Beneran ini dia bete. Hadeuh, cewek tuh yaaa.. -_-

"Kamu mau apa ? Beli sepatu ya ? Baju ? Celana ? Cangcut ? Beha ?".

plakLengan kanan Gua dipukul pelan tapi wajahnya bete parah.

"Aku mau es krim aja! Huh!", jawabnya jutek sambil memalingkan muka lalu berjalan cepat dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Gua hanya terkekeh pelan sambil menggaruk pelipis melihat tingkahnya yang aneh sore ini. Dikasih pilihan beli barang yang dia suka malah pingin ice cream, yoweslah. Singkat cerita Gua sudah membelikannya dua scoops ice cream rasa vanilla di mix dengan chocolate. Sambil menyuapinya ice cream, Gua kembali bertanya kenapa dia bete.

"Kamu kenapa sih ? Kok bete ?".

"Aku tuh.. Laper tau!!", jawabnya.

Somvlak bener Gua jadi laki, lupa bini sendiri belum makan dari pulang kuliah sampe sore gini, pantesan aja doi ngambeuk. Hampura sayang... Hadeuh.

"Waduh maaf maaf, yaudah yaudah kita ke foodcourt ya sayang, yuk makan yuk..", ajak Gua.

"Enggak mau! Maunya ke mall yang itu, yang ada japanese foodnyaaaa.. Huuuh!", rajuknya.

Wah gawat, bisa berantakan ini rencana Gua kalo ngajak dia makan masakan jepang duluan. emoticon-Nohope

"Euu.. Kan jauh sayang dari sini, mending makan yang ada dulu aja ya, oke ? Kita makan apa aja dulu ya, nanti pulangnya kita mampir ke situ ya, di bungkus oke ? Ya ya ya ?".

"Huh! Bener ya ? Pulangnya beli ? Di bungkus dua loch!".

"Jangan dua, sepuluh bungkus aku beliin deh, yang penting sekarang makan dulu yang lain ya hehehe..".

"Awas kalo boong! Yaudah ayo, aku laper nih!".

Aman terkendali, Gua pun akhirnya mengajak Echa ke lantai atas lagi, dimana foodcourt berada. Saat itu Gua hanya memesan cheese burger sedangkan Echa awalnya ingin memesan soto jakarta, tapi dengan berbagai alasan Gua melarangnya, agar dia membeli makanan pengganjal perut saja dulu. Akhirnya dua cheese burger di pesan untuk kami berdua. Karena waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat, Gua pun mengajak Echa memakan burger sambil jalan lagi, beralasan takut macet di jalan. Ketika kami baru turun di lantai dua, tidak jauh dari toko tas sebelumnya, Echa berhenti melangkah, melihat-lihat sebuah perhiasan yang terpajang dan terlihat dari luar toko. Gua menghampirinya sambil merangkul bahunya.

"Bagus ya ?", tanya Gua.

Echa mengangguk sambil menggigit burger yang berada di tangannya.

"Mau ?", tanya Gua lagi.

Echa mengunyah makanan di dalam mulutnya lalu menengok kepada Gua dan tersenyum lebar sambil memejamkan matanya.

"Heum ? Mau beli ?", tanya Gua lagi.

"Mau, tapi enggak mau kalau pakai uang tabungan kamu", jawabnya.

"Loch ? Kenapa ?".

Echa menyandarkan kepalanya ke dada Gua. "Aku mau dibeliin barang apapun, satuuuu aja, tapi dari hasil kerja kamu nanti, gak perlu yang mewah Za..", jawabnya pelan namun cukup membuat dinding di dalam hati Gua runtuh seketika.

Gua terdiam, tidak bisa mengatakan apapun, rasanya dunia Gua berhenti berputar, ucapan ah bukan bukan, melainkan keinginan istri Gua itu memicu jiwa dan raga Gua untuk bisa membuktikan bahwa Gua mampu dan sanggup membelikannya sesuatu dengan jerih payah Gua sendiri. Ya, Gua pasti mengabulkan keinginannya. Pasti, dan Gua berjanji ketika itu, berjanji kepada diri Gua sendiri juga Tuhan. Bahwasannya, suatu hari nanti apa yang diinginkan istri Gua ini akan Gua beli dengan hasil jerih payah dan keringat Gua. Yeah, i will...

Gua masih menatap cincin yang terpajang di dalam toko itu ketika istri Gua memanggil karena dia sudah berjalan duluan tadi. "Hey, ayo jalan.. Kok bengong ?", ajaknya.

Gua tersadar lalu tersenyum menatap cincin tersebut, dalam hati Gua berkata. Suatu hari Gua akan kembali dan membeli 'kamu'.


...SCROLL DOWN TO CONTINUES READING...
Diubah oleh glitch.7 19-05-2017 00:47
dany.agus
fatqurr
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.