- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#3980
PART 61
Rintikan hujan di luar rumah masih terdengar nyaring, apalagi ini memang bulan november. Hawa dingin karena sudah malam hari, hujan yang turun dan di tambah kipas angin yang berputar di atas langit-langit kamar Gua ini tidak bisa membuat tubuh kami berdua kedinginan. Setelah apa yang kami lakukan sebelumnya, peluh keringat mengucur dan membasahi tubuh kami berdua.
"Sayang..huft", ucap istri Gua masih mencoba mengatur nafas dengan posisi menyandarkan kepalanya ke dada Gua.
"Heum ?", Gua pun masih terengah-engah.
"Kamu... Habis berantem sama siapa ?", tanyanya dengan nada suara yang pelan dan nafas yang masih naik-turun.
"Pacarnya Kinanti..".
Gua merasakan kepala istri Gua bergeser, dan kini wajahnya agak menyerong lalu sedikit mendongak kearah wajah Gua. Walaupun Gua tidak menatapnya tapi Gua bisa merasakan bahwa matanya kini sedang memandangi wajah Gua.
"Kok bisa ? Ada masalah apa ?", tanyanya penuh penekanan.
Gua mendengus kasar lalu memejamkan mata. Bayangan ketika Gua dimarahi oleh Tante Gua tadi siang di kantin kampus langsung terlukis jelas di otak ini, kemudian berbalik menjadi Gua yang tidak terima hingga membanting gelas ke lantai.
"Aku berantem sama Kinan awalnya. Dan pacarnya gak terima..", jawab Gua tidak menjelaskan secara rinci.
"Kenapa bisa sampai berantem sama Kinan ? Kamu ada masalah sama dia ?", nada bicara istri Gua sangat terdengar hati-hati.
Akhirnya Gua ceritakan segala kekesalan Gua siang tadi hingga Gua berada di Ancol. Istri Gua mendengarkan tanpa sedikitpun mengintrupsi, ketika Gua bercerita, dada Gua sedikit naik turun karena kembali emosi, apa yang dilakukan Echa ? Dia mengelus lembut dada ini.
"Sabar ya Za, jangan kayak gitu lagi, banyakin ucap isthigfar, kasian Kinan kamu marahin sampe lempar gelas gitu... Apalagi... Kamu pukulin pacarnya", ucapnya setelah mendengar cerita Gua dengan tetap mengelus dada ini.
Gua hanya menghembuskan nafas secara perlahan, memejamkan mata untuk sekedar menurunkan tensi emosi yang Gua rasakan. Lalu tangan kiri Gua mendekap kepala belakang Echa dan mengecup keningnya.
"Maaf, maafin aku ya Cha..", ucap Gua pada akhirnya. Gua melirik kepada Echa yang sedang tersenyum.
...
Keesokan paginya, Gua sedang menikmati kopi hitam di depan kamar, duduk di sofa teras ditambah goreng pisang yang istri Gua masak sendiri. Hari ini istri Gua ada kuliah, dia juga sudah rapih dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Sebelumnya Echa sempat menelpon Kinan sehabis shalat subuh, dia meminta maaf atas kelakuan Gua kemarin siang kepadanya dan pacaranya.
"Kamu berangkat jam berapa Za ?", tanyanya sambil mengenakan cardigans.
"Sebentar lagi Cha, kamu mau berangkat sekarang ?", tanya Gua balik sambil mengangkat gelas kopi dan meminumnya.
"Iya, aku ada kuliah jam setengah sembilan, janjian juga sih sama temen untuk ngomongin tugas di perpus", jawabnya.
"Yaudah ayo bareng, pakai mobil aku aja ya, nanti sore aku jemput ke kampus kamu lagi".
Gua mengambil tas dan jas dari dalam kamar, kemudian keluar lagi dan mengunci kamar dari luar. Nenek masih membersihkan halaman rumah dari daun-daun yang berguguran akibat hujan angin tadi malam. Gua memanaskan mobil lalu Gua dan istri pamit untuk berangkat kuliah kepada Nenek.
Sekitar pukul delapan pagi Gua sudah sampai di kampus, tentunya setelah mengantarkan Echa terlebih dahulu. Gua memarkirkan mobil dan berjalan melewati taman, di salah satu bangku taman Gua melihat Kinan sedang duduk dan mengobrol dengan Setipen. Gua menghampiri mereka dan berdiri tepat di hadapan mereka berdua.
"Maaf soal kemarin", ucap Gua tanpa basa-basi seraya mengulurkan tangan kepada Kinan.
Kinan dan Setipen hanya memandangi Gua dengan terheran dan bingung. Lalu Gua menghela nafas pelan dan mencoba untuk tersenyum.
"Maaf kelakuan aku yang udah emosi, dimaafin atau enggak ?", ucap Gua lagi kepada mereka.
Setipen mengangguk kepada Kinan, lalu Tante Gua itu menyambut tangan Gua. "Iya, aku maafin, tapi jangan gitu lagi Za.. Janji ?", ucap Kinan.
Gua tersenyum. "Janji", jawab Gua.
"Mmm.. Pen, sorry ya.. Perlu ganti uang berobat gak ?", tanya Gua kali ini kepada Setipen.
"Eh.. Hehhe gak usah Za, tapi traktir kita berdua nanti siang di kantin ya", jawab Setipen.
Gua terkekeh pelan lalu mengangguk. "Yaudah, Gua masuk dulu ya ke kelas, duluan Kak..", ucap Gua kepada mereka berdua lalu pergi menuju kelas.
Perkuliahan hari ini Gua jalani dengan baik, Gua duduk bersama Lisa, sambil mendengarkan dosen di bawah sana menerangkan mata kuliah, Lisa mulai kepo menanyakan perkelahian antara Gua dan Setipen di kantin kemarin, ya mau tidak mau Gua menceritakannya kepada teman kelas Gua yang satu itu.
Siangnya Gua sudah berada di kantin untuk mentraktir Tante Gua dan pacarnya, tidak ada lagi dendam di antara kami bertiga, selesai makan bersama kedua pasangan kekasih tersebut, Gua pergi duluan untuk menikmati sebatang rokok di taman kampus. Tidak lama setelah selesai merokok, Gua kembali ke kelas untuk kembali mengikuti perkuliahan, kali ini Gua duduk bersama Mat Lo. Seperti biasa tidak ada hal yang menarik untuk Gua ceritakan ketika berada di dalam kelas. Ditambah dosen saat itu terkenal galak dan tidak suka melihat mahasiswa/i nya yang tidak memperhatikan beliau. Gua mencoba untuk tidur di dalam kelas, dengan menaruh tas di atas meja lalu membuka jas dan merebahkan kepala diatasnya. Baru beberapa menit rasanya Gua hendak tidur, hp Gua bergetar di saku celana.
Gua merogoh hp dan melihat layarnya dari bawah meja, entah nomor siapa yang menelpon karena tidak muncul nama kontaknya. Karena Gua malas dan Gua fikir orang salah sambung, jadi Gua masukkan lagi ke saku celana tanpa mengangkatnya sekalipun, hingga getarannya hilang dengan sendirinya. Tapi beberapa detik kemudian, hp Gua bergetar lagi, sampai entah berapa kali, akhirnya hp Gua bergetar sebentar tanda sms masuk.
Gua kembali mengeluarkan hp dan membuka isi pesan yang baru saja masuk.
Gua langsung memasukkan hp ke saku celana lagi, dan membereskan semua buku yang ada di atas meja lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Hei hei.. Mau kemana Za ? Maen beresin buku aja Lu, itu dosen masih ngajar", ucap Mat Lo yang memperhatikan Gua.
"Istri Gua masuk rumah sakit", jawab Gua sambil menyelempangkan tas ke tubuh lalu menyabet jas dan berdiri.
Gua menuruni tangga kelas dan menghampiri dosen yang keheranan menatap Gua mendekatinya.
"Mohon maaf Pak, saya harus izin pulang, karena istri saya masuk rumah sakit", ucap Gua tanpa basa-basi.
Dosen Gua menurunkan sedikit kacamatanya lalu menatap Gua lekat-lekat. "Anda sudah menikah ?", tanyanya santai.
Gua mengangguk cepat sambil meremas tali tas di depan dada. "Iya Pak, saya sudah menikah, Pak saya pamit ya, maaf..", jawab Gua tanpa memperdulikan jawabannya.
Gua berbalik badan dan menuju pintu kelas, sempat mendengar dosen tersebut mengucapkan 'hati-hati dijalan'.
Gua langsung berlari ke parkiran dan masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya. Sebelum Gua berangkat, Gua mengecek lagi hp dan membuka sms dari teman kampus Echa. Setelah membaca dengan seksama alamat rumah sakit tersebut, Gua langsung mengarahkan mobil keluar kampus dan menuju rumah sakit.
Setengah jam lebih Gua sampai di rumah sakit dan berlari kecil kearah bagian informasi, setelah menanyakan letak IGD, Gua kembali berlari kecil kearah ruangan yang ditunjukkan, sesampai di depan ruangan, Gua melihat Resti dan satu teman kampus lainnya.
"Za..", ucap Resti ketika Gua sudah sampai dihadapannya.
"Res, Echa gimana ? Dia masih di dalem ?", tanya Gua dengan panik.
Resti mengangguk. "Iya lagi ditanganin sama dokter kayaknya Za, dia pingsan tadi pas lagi beli makanan di kantin", jawabnya.
"Kenapa ?".
"Gue juga enggak tau kenapa Za, udah di bawa ke ruang perawatan kampus tapi Echa belum siuman juga, jadi Gue inisiatif bawa dia ke sini sama Irma", jawabnya lagi sambil melirik kepada seorang perempuan satu lagi.
"Irma..", ucap perempuan tersebut sambil mengajak bersalaman.
"Oh iya, Reza.. Suaminya Echa", balas Gua sambil menyambut jabatan tangannya.
"Mudah-mudahan dia gak apa-apa Za", ucap Resti.
Gua menghela nafas pelan lalu mengangguk. "Iya, aamiin.. Eh makasih banyak ya Resti, Irma, udah mau nolongin Echa..", ucap Gua kepada mereka berdua.
"Gak apa-apa Za, Echa kan teman kami", jawab Resti lagi.
Gua tersenyum kepada mereka lalu kami bertiga duduk di bangku besi depan ruangan IGD ini. Resti dan Irma kemudian kembali menceritakan kenapa Echa bisa pingsan, menurut mereka, ketika Echa sudah memesan makanan dan membawa piring makanan untuk kembali ke meja kantin, dia langsung jatuh lalu seketika itu juga tidak sadarkan diri.
Fikiran Gua kembali menerawang, mengingat sosok istri Gua, mencoba mengingat dirinya memiliki penyakit atau hal lainnya, tapi Gua tidak menemukan satu pun kejanggalan pada istri Gua, dia selama ini sehat-sehat saja, dan Gua hanya bisa berharap kalau pingsannya Echa hari ini karena dia kekurangan asupan makanan dan tenaga.
"Keluarga Ibu Elsa ?", ucap seorang perawat yang melongok keluar dari ruangan di depan kami bertiga.
Gua berdiri lalu menghampirinya. "Ya, saya suaminya", jawab Gua.
"Oh mari silahkan masuk Mas..", ajaknya seraya membuka pintu lebih lebar.
Gua pun masuk ke ruangan tersebut mengikutinya berjalan dari belakang. Hawa dingin ruangan langsung menerpa permukaan kulit Gua. Gua menyapukan pandangan dan melihat ada beberapa orang yang terbaring di atas ranjang ruangan ini, yang kanan dan kirinya dibatasi oleh tirai berwarna hijau tosca.
Gua sudah berdiri di sisi ranjang, dimana istri Gua berbaring dan sudah siuman, dia sempat tersenyum kepada Gua dengan wajah yang pucat, raut wajahnya tampak lemah. Seketika itu juga hati Gua terenyuh dan sedih melihat Echa seperti ini. Gua pegang tangan kanannya dan mengelus punggung tangannya pelan.
"Jadi, Mba Elsa ini tekanan darahnya turun drastis", ucap seorang perawat atau dokter lah Gua tidak tau.
"Penyebabnya apa ya Dok ?", tanya Gua.
"Kalau dugaan sementara, sepertinya Mba Elsa mengalami penurunan tensi darah, tapi tidak perlu dikhawatirkan, ini biasa terjadi, kecuali dikemudian hari dia kembali pingsan secara mendadak lagi, baru kita lakukan tahap diagnosa dan check up lebih mendalam", jawabnya.
"Mmm.. Apa tidak perlu dilakukan check up sekarang Dok ?", tanya Gua lagi.
"Sebenarnya tidak perlu, tapi jika Mas dan Mba nya mau mengajukan check up bisa saya ambilkan forms pendaftarannya".
Gua menatap istri Gua, lalu membelai keningnya yang tertutup sedikit rambut bagian depannya itu. "Di cek aja ya Cha, biar kita bisa yakin kalo kamu gak punya penyakit apapun", ucap Gua kepada Echa.
Istri Gua menghela nafas pelan lalu tersenyum dan mengangguk. "Iya sayang, aku nurut kamu aja", jawabnya.
Gua ikut tersenyum mendengarnya, lalu dokter tadi mengambil kertas form pendaftaran dan memberikannya kepada Gua, setelah itu Gua mengisi forms tersebut dan memberikannya ke bagian informasi atau kasir lah. Setelah memberikan form pendaftaran tersebut, Resti dan Irma masuk ke dalam ruangan untuk menengok Echa.
"Mm.. Sayang aku keluar dulu sebentar ya, kamu ditemenin Irma dan Resti dulu di sini", ucap Gua.
"Kamu mau kemana ?", tanyanya.
"Aku mau ambil uang dulu di ATM, buat bayar biayanya".
"Emm.. Itu ambil aja di tas aku, pakai debet aku aja Za", ucapnya sambil menunjuk tas miliknya yang dipegang oleh Resti.
"Udah gak usah, pakai uang aku aja, sebentar ya", jawab Gua seraya berlalu.
Lalu setelah meminta Resti dan Irma menunggu Echa di IGD ini, Gua keluar menuju area depan rumah sakit. Sampai di atm center, Gua langsung menarik beberapa rupiah untuk membayar keperluan administrasi rumah sakit. Beres menarik uang, Gua menuju mini market di sebrang jalan, sekedar membeli camilan dan minuman dingin untuk kedua teman istri Gua itu. Beres belanja makanan, Gua kembali ke ruang IGD.
"Ini Res, Ma, lumayan untuk ganjel perut hehehe..", ucap Gua sambil memberikan kantung plastik berisi makanan dan minuman kepada Resti.
"Loch, repot-repot segala Za, makasih ya", jawab Resti.
"Enggak apa-apa, nanti kalo udah selesai baru deh kita makan di kantin rumah sakit ya, hehehe", ucap Gua lagi.
"Iih gak usah Za, kita udah makan di kampus tadi, tuh Echa yang belum makan ma", jawab Irma kali ini.
Gua melirik kepada istri Gua yang sedang tersenyum, lalu tidak lama kemudian seorang perawat menghampiri kami.
"Maaf ini pasien atas nama Elsa Ferossa sudah bisa dilakukan check up sekarang, sebelumnya silahkan membayar administrasinya dulu di kasir", ucapnya.
"Oh iya Mas, saya ke kasir dulu kalo gitu..", jawab Gua.
Lalu Gua menuju kasir dan menyelesaikan biaya pendaftaran, kemudian memberikan bukti pembayaran tersebut kepada perawat tadi. Istri Gua yang masih lemah di angkat dan di dudukkan ke kursi roda, lalu perawat wanita mendorongnya ke bagian laboratorium atau ruang check up, Gua dan kedua temannya mengikuti dari belakang hingga kami masuk ke dalam lift dan keluar di lantai dua. Setelah keluar dari lift, Gua, Irma dan Resti menunggu di luar ruangan, sementara Echa masuk bersama perawat wanita tadi ke dalam ruang check up. Cukup lama kami menunggu Echa di check up.
Kami bertiga hanya mengobrol ringan, Gua mendengarkan cerita Irma dan Resti tentang kegiatan istri Gua di kampus, yang awalnya aktif dalam berorganisasi kini sudah mulai dikurangi keikutsertaannya semenjak menikah dengan Gua. Gua sempat berfikir apakah alasan sebenarnya karena dia merasa letih atau jangan-jangan memang mengidap sakit, tapi kedua temannya bilang sepertinya istri Gua adalah wanita yang sehat, terbukti selama ini dia baru pertama kalinya pingsan. Dan alasan sebenarnya ia mulai mengurangi kegiatan di kampus karena dirinya merasa harus lebih memberikan waktunya mengurus suami dan keluarga kecilnya.
Gua menghela nafas pelan setelah mendengarkan cerita Resti dan Irma, seketika itu juga hati Gua bergetar, mengingat sosok istri Gua yang sangat mementingkan keluarga kami, rumah tangga kami semenjak menikah. Gua menyesal telah memperlakukan istri Gua dengan kasar kemarin pagi hingga tadi malam, Gua memang brengsekkk dan bodoh ketika membiarkan emosi menguasai hati ini, sampai istri Gua yang tidak memiliki salah sedikitpun harus terkena imbasnya.
Masih menunggu di depan ruangan, seorang perawat wanita yang mengantar istri Gua tadi membuka pintu ruangan di depan kami, diikuti istri Gua berjalan keluar sambil tersenyum. Gua dan kedua temannya langsung berdiri.
"Terimakasih ya Mba, nanti saya kembali lagi ke sini", ucap istri Gua kepada perawat tersebut.
"Sama-sama, semoga lekas sembuh ya Mba, jangan lupa hasilnya baru bisa di ambil tiga hari lagi", jawab si perawat.
Setelah perawat wanita tadi kembali masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya, Gua mendekati Echa.
"Gimana sayang ?", tanya Gua.
"Alhamdulilah gak apa-apa kayaknya", jawabnya sambil tersenyum dan mengaitkan tangan kirinya ke lengan Gua.
"Kok kayaknya Cha ?", tanya Gua bingung.
"Iya, kan hasilnya baru keluar nanti, tiga hari lagi Za. Nanti kita ambil ke sini lagi hasil diagnosa nya", jawabnya lagi.
"Hmmm.. Berarti masih gak jelas dong", ucap Gua cemas.
"Enggak kok, enggak apa-apa.. Tadi aku sedikit ngobrol sama dokternya di dalam, ya walaupun dia bukan ahli penyakit tertentu, tapi katanya selama ini kalo kasus pingsan itu hal yang biasa, bukan berarti punya penyakit yang serius, dan emang sih.. Aku tadi pagi gak sarapan kan.. Hehehe", jawabnya lagi seraya terkekeh.
"Ah iya!", Gua menyadari sesuatu,
"Dari semalam kita belum makan Cha, ah aku baru inget, yaudah kita langsung makan aja dari sini ya.. Eh tapi kamu boleh makan kan ? Gak ada pantangan ?", tanya Gua lagi.
Echa menggeleng cepat seraya terkekeh. "Enggak kok, aku udah boleh makan apa aja, gak ada larangan apapun hihihi..".
Singkat cerita kami berempat sudah berada di sebuah tempat makan yang menyediakan menu gudeg jogja di daerah depok. Setelah makanan pesanan kami tersaji di atas meja makan, kami pun langsung menyantapnya. Beres makan dari sini, Irma dan Resti pamit pulang duluan, sedangkan Gua dan Echa pun tidak lama pergi dari sini setelah membayar makanan. Sampai di parkiran kami berdua langsung masuk ke dalam mobil Gua dan pulang ke rumah.
...
...
...
Lima hari kemudian Gua lupa untuk mengambil hasil medical check up istri Gua sampai pulang dari kampus. Ketika itu Gua bertanya kepada Echa di kamar Gua.
"Sayang, aku lupa ambil hasil lab kamu kemarin-kemarin..", ucap Gua.
"Oh aku udah ambil kok dari kemarin, hihihi.. Maaf ya aku juga lupa ngabarin kamu".
"Loch udah diambil ternyata, mana hasilnya aku liat..", pinta Gua.
Echa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Aku enggak apa-apa, hasilnya juga bagus kok gak ada penyakit apapun", jawabnya.
Gua mengerenyitkan kening, sedikit tidak percaya dengan ucapan Echa. "Serius ?".
"Iya serius, lagian hasil lab nya ada di rumah Papah, eh aku bikin kopi dulu ya, kamu belum ngopi kan, sebentar ya", jawabnya lalu berdiri dan melangkah keluar kamar.
Gua mendengus kasar, Gua yakin Echa menutupi hasil medical check up sebenarnya kepada Gua. Lalu Gua memilih untuk mandi sementara pikiran Gua menerka-nerka hasil medical tersebut. Selesai mandi, Gua membuka lemari pakaian dan mengambil baju.
"Sayang, aku taruh depan ya kopinya", ucap Echa seraya melewati kamar dan keluar ke depan teras.
Gua hanya mengangguk. Kemudian dari ambang pintu kamar, istri Gua kembali memanggil.
"Za, Abis isya, mau gak kita makan di bento", ucapnya dari sana.
Gua membalikkan badan karena membelakanginya. "Tumben ? Boleh kok, sebentar ya aku ganti baju dulu", jawab Gua.
Echa mengangguk cepat sambil tersenyum lebar lalu kembali berlalu dari pintu kamar, mungkin duduk menunggu di sofa teras.
Gua yang awalnya hendak mengenakan pakaian santai tidak jadi memilih pakaian tersebut, Gua mengambil celana jeans pendek untuk pergi bersama istri nanti, Gua tarik celana jeans yang sudah lama tidak Gua kenakan dan posisinya ada di paling bawah tumpukkan celana. Lalu...
Pluk sebuah map amplop cukup besar berwarna putih dan berbahan licin jatuh ke lantai.
Gua berjongkok dan mengambilnya, Gua melihat sisi depannya, di sana tergambar sebuah logo rumah sakit yang lima hari lalu Gua datangi. Lalu Gua membuka tali map tersebut dan menarik keluar selembar kertas yang cukup lebar, Gua menbacanya dengan seksama, walaupun Gua tidak paham arti kata yang tercetak di kertas tersebut, tapi di sisi kanan ada kolom yang menyatakan negatif atau positif, dan setelah Gua baca ternyata kebanyakan negatif, sampai kolom paling bawah Gua mengerti kalau ternyata istri Gua tidak berbohong, di sana tercetak bahwa istri Gua nihil dari penyakit apapun, normal.
Gua tersenyum lalu memasukkan lagi kertas tersebut ke dalam amplop besarnya, tapi rasanya ada yang mengganjal, Gua tidak dapat memasukkan kertas tersebut karena terasa tertahan sesuatu, Gua memasukkan tangan ke dalam amplop dan mendapatkan sebuah amplop lainnya, amplop yang berukuran lebih kecil. Gua membuka amplop yang lebih kecil itu dan mengambil kertasnya. Kembali Gua membaca isi kertas tersebut. Gua tercekat, suara Gua tertahan sedangkan jantung Gua mulai berdegup kencang, tangan dan jemari Gua bergetar membaca isi kertas tersebut.
Disana tertulis nama istri Gua dengan lengkap, dan sebuah hasil dari diagnosa atau sebuah test kesehatan lain. Apalagi ini ? Jantung Gua berdegup, tanpa Gua sadari mata Gua mulai berkaca-kaca... Tidak percaya dengan hasil yang tertulis di kertas tersebut.
"Sayang..huft", ucap istri Gua masih mencoba mengatur nafas dengan posisi menyandarkan kepalanya ke dada Gua.
"Heum ?", Gua pun masih terengah-engah.
"Kamu... Habis berantem sama siapa ?", tanyanya dengan nada suara yang pelan dan nafas yang masih naik-turun.
"Pacarnya Kinanti..".
Gua merasakan kepala istri Gua bergeser, dan kini wajahnya agak menyerong lalu sedikit mendongak kearah wajah Gua. Walaupun Gua tidak menatapnya tapi Gua bisa merasakan bahwa matanya kini sedang memandangi wajah Gua.
"Kok bisa ? Ada masalah apa ?", tanyanya penuh penekanan.
Gua mendengus kasar lalu memejamkan mata. Bayangan ketika Gua dimarahi oleh Tante Gua tadi siang di kantin kampus langsung terlukis jelas di otak ini, kemudian berbalik menjadi Gua yang tidak terima hingga membanting gelas ke lantai.
"Aku berantem sama Kinan awalnya. Dan pacarnya gak terima..", jawab Gua tidak menjelaskan secara rinci.
"Kenapa bisa sampai berantem sama Kinan ? Kamu ada masalah sama dia ?", nada bicara istri Gua sangat terdengar hati-hati.
Akhirnya Gua ceritakan segala kekesalan Gua siang tadi hingga Gua berada di Ancol. Istri Gua mendengarkan tanpa sedikitpun mengintrupsi, ketika Gua bercerita, dada Gua sedikit naik turun karena kembali emosi, apa yang dilakukan Echa ? Dia mengelus lembut dada ini.
"Sabar ya Za, jangan kayak gitu lagi, banyakin ucap isthigfar, kasian Kinan kamu marahin sampe lempar gelas gitu... Apalagi... Kamu pukulin pacarnya", ucapnya setelah mendengar cerita Gua dengan tetap mengelus dada ini.
Gua hanya menghembuskan nafas secara perlahan, memejamkan mata untuk sekedar menurunkan tensi emosi yang Gua rasakan. Lalu tangan kiri Gua mendekap kepala belakang Echa dan mengecup keningnya.
"Maaf, maafin aku ya Cha..", ucap Gua pada akhirnya. Gua melirik kepada Echa yang sedang tersenyum.
...
Keesokan paginya, Gua sedang menikmati kopi hitam di depan kamar, duduk di sofa teras ditambah goreng pisang yang istri Gua masak sendiri. Hari ini istri Gua ada kuliah, dia juga sudah rapih dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Sebelumnya Echa sempat menelpon Kinan sehabis shalat subuh, dia meminta maaf atas kelakuan Gua kemarin siang kepadanya dan pacaranya.
"Kamu berangkat jam berapa Za ?", tanyanya sambil mengenakan cardigans.
"Sebentar lagi Cha, kamu mau berangkat sekarang ?", tanya Gua balik sambil mengangkat gelas kopi dan meminumnya.
"Iya, aku ada kuliah jam setengah sembilan, janjian juga sih sama temen untuk ngomongin tugas di perpus", jawabnya.
"Yaudah ayo bareng, pakai mobil aku aja ya, nanti sore aku jemput ke kampus kamu lagi".
Gua mengambil tas dan jas dari dalam kamar, kemudian keluar lagi dan mengunci kamar dari luar. Nenek masih membersihkan halaman rumah dari daun-daun yang berguguran akibat hujan angin tadi malam. Gua memanaskan mobil lalu Gua dan istri pamit untuk berangkat kuliah kepada Nenek.
Sekitar pukul delapan pagi Gua sudah sampai di kampus, tentunya setelah mengantarkan Echa terlebih dahulu. Gua memarkirkan mobil dan berjalan melewati taman, di salah satu bangku taman Gua melihat Kinan sedang duduk dan mengobrol dengan Setipen. Gua menghampiri mereka dan berdiri tepat di hadapan mereka berdua.
"Maaf soal kemarin", ucap Gua tanpa basa-basi seraya mengulurkan tangan kepada Kinan.
Kinan dan Setipen hanya memandangi Gua dengan terheran dan bingung. Lalu Gua menghela nafas pelan dan mencoba untuk tersenyum.
"Maaf kelakuan aku yang udah emosi, dimaafin atau enggak ?", ucap Gua lagi kepada mereka.
Setipen mengangguk kepada Kinan, lalu Tante Gua itu menyambut tangan Gua. "Iya, aku maafin, tapi jangan gitu lagi Za.. Janji ?", ucap Kinan.
Gua tersenyum. "Janji", jawab Gua.
"Mmm.. Pen, sorry ya.. Perlu ganti uang berobat gak ?", tanya Gua kali ini kepada Setipen.
"Eh.. Hehhe gak usah Za, tapi traktir kita berdua nanti siang di kantin ya", jawab Setipen.
Gua terkekeh pelan lalu mengangguk. "Yaudah, Gua masuk dulu ya ke kelas, duluan Kak..", ucap Gua kepada mereka berdua lalu pergi menuju kelas.
Perkuliahan hari ini Gua jalani dengan baik, Gua duduk bersama Lisa, sambil mendengarkan dosen di bawah sana menerangkan mata kuliah, Lisa mulai kepo menanyakan perkelahian antara Gua dan Setipen di kantin kemarin, ya mau tidak mau Gua menceritakannya kepada teman kelas Gua yang satu itu.
Siangnya Gua sudah berada di kantin untuk mentraktir Tante Gua dan pacarnya, tidak ada lagi dendam di antara kami bertiga, selesai makan bersama kedua pasangan kekasih tersebut, Gua pergi duluan untuk menikmati sebatang rokok di taman kampus. Tidak lama setelah selesai merokok, Gua kembali ke kelas untuk kembali mengikuti perkuliahan, kali ini Gua duduk bersama Mat Lo. Seperti biasa tidak ada hal yang menarik untuk Gua ceritakan ketika berada di dalam kelas. Ditambah dosen saat itu terkenal galak dan tidak suka melihat mahasiswa/i nya yang tidak memperhatikan beliau. Gua mencoba untuk tidur di dalam kelas, dengan menaruh tas di atas meja lalu membuka jas dan merebahkan kepala diatasnya. Baru beberapa menit rasanya Gua hendak tidur, hp Gua bergetar di saku celana.
Gua merogoh hp dan melihat layarnya dari bawah meja, entah nomor siapa yang menelpon karena tidak muncul nama kontaknya. Karena Gua malas dan Gua fikir orang salah sambung, jadi Gua masukkan lagi ke saku celana tanpa mengangkatnya sekalipun, hingga getarannya hilang dengan sendirinya. Tapi beberapa detik kemudian, hp Gua bergetar lagi, sampai entah berapa kali, akhirnya hp Gua bergetar sebentar tanda sms masuk.
Gua kembali mengeluarkan hp dan membuka isi pesan yang baru saja masuk.
Quote:
Gua langsung memasukkan hp ke saku celana lagi, dan membereskan semua buku yang ada di atas meja lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Hei hei.. Mau kemana Za ? Maen beresin buku aja Lu, itu dosen masih ngajar", ucap Mat Lo yang memperhatikan Gua.
"Istri Gua masuk rumah sakit", jawab Gua sambil menyelempangkan tas ke tubuh lalu menyabet jas dan berdiri.
Gua menuruni tangga kelas dan menghampiri dosen yang keheranan menatap Gua mendekatinya.
"Mohon maaf Pak, saya harus izin pulang, karena istri saya masuk rumah sakit", ucap Gua tanpa basa-basi.
Dosen Gua menurunkan sedikit kacamatanya lalu menatap Gua lekat-lekat. "Anda sudah menikah ?", tanyanya santai.
Gua mengangguk cepat sambil meremas tali tas di depan dada. "Iya Pak, saya sudah menikah, Pak saya pamit ya, maaf..", jawab Gua tanpa memperdulikan jawabannya.
Gua berbalik badan dan menuju pintu kelas, sempat mendengar dosen tersebut mengucapkan 'hati-hati dijalan'.
Gua langsung berlari ke parkiran dan masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya. Sebelum Gua berangkat, Gua mengecek lagi hp dan membuka sms dari teman kampus Echa. Setelah membaca dengan seksama alamat rumah sakit tersebut, Gua langsung mengarahkan mobil keluar kampus dan menuju rumah sakit.
Setengah jam lebih Gua sampai di rumah sakit dan berlari kecil kearah bagian informasi, setelah menanyakan letak IGD, Gua kembali berlari kecil kearah ruangan yang ditunjukkan, sesampai di depan ruangan, Gua melihat Resti dan satu teman kampus lainnya.
"Za..", ucap Resti ketika Gua sudah sampai dihadapannya.
"Res, Echa gimana ? Dia masih di dalem ?", tanya Gua dengan panik.
Resti mengangguk. "Iya lagi ditanganin sama dokter kayaknya Za, dia pingsan tadi pas lagi beli makanan di kantin", jawabnya.
"Kenapa ?".
"Gue juga enggak tau kenapa Za, udah di bawa ke ruang perawatan kampus tapi Echa belum siuman juga, jadi Gue inisiatif bawa dia ke sini sama Irma", jawabnya lagi sambil melirik kepada seorang perempuan satu lagi.
"Irma..", ucap perempuan tersebut sambil mengajak bersalaman.
"Oh iya, Reza.. Suaminya Echa", balas Gua sambil menyambut jabatan tangannya.
"Mudah-mudahan dia gak apa-apa Za", ucap Resti.
Gua menghela nafas pelan lalu mengangguk. "Iya, aamiin.. Eh makasih banyak ya Resti, Irma, udah mau nolongin Echa..", ucap Gua kepada mereka berdua.
"Gak apa-apa Za, Echa kan teman kami", jawab Resti lagi.
Gua tersenyum kepada mereka lalu kami bertiga duduk di bangku besi depan ruangan IGD ini. Resti dan Irma kemudian kembali menceritakan kenapa Echa bisa pingsan, menurut mereka, ketika Echa sudah memesan makanan dan membawa piring makanan untuk kembali ke meja kantin, dia langsung jatuh lalu seketika itu juga tidak sadarkan diri.
Fikiran Gua kembali menerawang, mengingat sosok istri Gua, mencoba mengingat dirinya memiliki penyakit atau hal lainnya, tapi Gua tidak menemukan satu pun kejanggalan pada istri Gua, dia selama ini sehat-sehat saja, dan Gua hanya bisa berharap kalau pingsannya Echa hari ini karena dia kekurangan asupan makanan dan tenaga.
"Keluarga Ibu Elsa ?", ucap seorang perawat yang melongok keluar dari ruangan di depan kami bertiga.
Gua berdiri lalu menghampirinya. "Ya, saya suaminya", jawab Gua.
"Oh mari silahkan masuk Mas..", ajaknya seraya membuka pintu lebih lebar.
Gua pun masuk ke ruangan tersebut mengikutinya berjalan dari belakang. Hawa dingin ruangan langsung menerpa permukaan kulit Gua. Gua menyapukan pandangan dan melihat ada beberapa orang yang terbaring di atas ranjang ruangan ini, yang kanan dan kirinya dibatasi oleh tirai berwarna hijau tosca.
Gua sudah berdiri di sisi ranjang, dimana istri Gua berbaring dan sudah siuman, dia sempat tersenyum kepada Gua dengan wajah yang pucat, raut wajahnya tampak lemah. Seketika itu juga hati Gua terenyuh dan sedih melihat Echa seperti ini. Gua pegang tangan kanannya dan mengelus punggung tangannya pelan.
"Jadi, Mba Elsa ini tekanan darahnya turun drastis", ucap seorang perawat atau dokter lah Gua tidak tau.
"Penyebabnya apa ya Dok ?", tanya Gua.
"Kalau dugaan sementara, sepertinya Mba Elsa mengalami penurunan tensi darah, tapi tidak perlu dikhawatirkan, ini biasa terjadi, kecuali dikemudian hari dia kembali pingsan secara mendadak lagi, baru kita lakukan tahap diagnosa dan check up lebih mendalam", jawabnya.
"Mmm.. Apa tidak perlu dilakukan check up sekarang Dok ?", tanya Gua lagi.
"Sebenarnya tidak perlu, tapi jika Mas dan Mba nya mau mengajukan check up bisa saya ambilkan forms pendaftarannya".
Gua menatap istri Gua, lalu membelai keningnya yang tertutup sedikit rambut bagian depannya itu. "Di cek aja ya Cha, biar kita bisa yakin kalo kamu gak punya penyakit apapun", ucap Gua kepada Echa.
Istri Gua menghela nafas pelan lalu tersenyum dan mengangguk. "Iya sayang, aku nurut kamu aja", jawabnya.
Gua ikut tersenyum mendengarnya, lalu dokter tadi mengambil kertas form pendaftaran dan memberikannya kepada Gua, setelah itu Gua mengisi forms tersebut dan memberikannya ke bagian informasi atau kasir lah. Setelah memberikan form pendaftaran tersebut, Resti dan Irma masuk ke dalam ruangan untuk menengok Echa.
"Mm.. Sayang aku keluar dulu sebentar ya, kamu ditemenin Irma dan Resti dulu di sini", ucap Gua.
"Kamu mau kemana ?", tanyanya.
"Aku mau ambil uang dulu di ATM, buat bayar biayanya".
"Emm.. Itu ambil aja di tas aku, pakai debet aku aja Za", ucapnya sambil menunjuk tas miliknya yang dipegang oleh Resti.
"Udah gak usah, pakai uang aku aja, sebentar ya", jawab Gua seraya berlalu.
Lalu setelah meminta Resti dan Irma menunggu Echa di IGD ini, Gua keluar menuju area depan rumah sakit. Sampai di atm center, Gua langsung menarik beberapa rupiah untuk membayar keperluan administrasi rumah sakit. Beres menarik uang, Gua menuju mini market di sebrang jalan, sekedar membeli camilan dan minuman dingin untuk kedua teman istri Gua itu. Beres belanja makanan, Gua kembali ke ruang IGD.
"Ini Res, Ma, lumayan untuk ganjel perut hehehe..", ucap Gua sambil memberikan kantung plastik berisi makanan dan minuman kepada Resti.
"Loch, repot-repot segala Za, makasih ya", jawab Resti.
"Enggak apa-apa, nanti kalo udah selesai baru deh kita makan di kantin rumah sakit ya, hehehe", ucap Gua lagi.
"Iih gak usah Za, kita udah makan di kampus tadi, tuh Echa yang belum makan ma", jawab Irma kali ini.
Gua melirik kepada istri Gua yang sedang tersenyum, lalu tidak lama kemudian seorang perawat menghampiri kami.
"Maaf ini pasien atas nama Elsa Ferossa sudah bisa dilakukan check up sekarang, sebelumnya silahkan membayar administrasinya dulu di kasir", ucapnya.
"Oh iya Mas, saya ke kasir dulu kalo gitu..", jawab Gua.
Lalu Gua menuju kasir dan menyelesaikan biaya pendaftaran, kemudian memberikan bukti pembayaran tersebut kepada perawat tadi. Istri Gua yang masih lemah di angkat dan di dudukkan ke kursi roda, lalu perawat wanita mendorongnya ke bagian laboratorium atau ruang check up, Gua dan kedua temannya mengikuti dari belakang hingga kami masuk ke dalam lift dan keluar di lantai dua. Setelah keluar dari lift, Gua, Irma dan Resti menunggu di luar ruangan, sementara Echa masuk bersama perawat wanita tadi ke dalam ruang check up. Cukup lama kami menunggu Echa di check up.
Kami bertiga hanya mengobrol ringan, Gua mendengarkan cerita Irma dan Resti tentang kegiatan istri Gua di kampus, yang awalnya aktif dalam berorganisasi kini sudah mulai dikurangi keikutsertaannya semenjak menikah dengan Gua. Gua sempat berfikir apakah alasan sebenarnya karena dia merasa letih atau jangan-jangan memang mengidap sakit, tapi kedua temannya bilang sepertinya istri Gua adalah wanita yang sehat, terbukti selama ini dia baru pertama kalinya pingsan. Dan alasan sebenarnya ia mulai mengurangi kegiatan di kampus karena dirinya merasa harus lebih memberikan waktunya mengurus suami dan keluarga kecilnya.
Gua menghela nafas pelan setelah mendengarkan cerita Resti dan Irma, seketika itu juga hati Gua bergetar, mengingat sosok istri Gua yang sangat mementingkan keluarga kami, rumah tangga kami semenjak menikah. Gua menyesal telah memperlakukan istri Gua dengan kasar kemarin pagi hingga tadi malam, Gua memang brengsekkk dan bodoh ketika membiarkan emosi menguasai hati ini, sampai istri Gua yang tidak memiliki salah sedikitpun harus terkena imbasnya.
Masih menunggu di depan ruangan, seorang perawat wanita yang mengantar istri Gua tadi membuka pintu ruangan di depan kami, diikuti istri Gua berjalan keluar sambil tersenyum. Gua dan kedua temannya langsung berdiri.
"Terimakasih ya Mba, nanti saya kembali lagi ke sini", ucap istri Gua kepada perawat tersebut.
"Sama-sama, semoga lekas sembuh ya Mba, jangan lupa hasilnya baru bisa di ambil tiga hari lagi", jawab si perawat.
Setelah perawat wanita tadi kembali masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya, Gua mendekati Echa.
"Gimana sayang ?", tanya Gua.
"Alhamdulilah gak apa-apa kayaknya", jawabnya sambil tersenyum dan mengaitkan tangan kirinya ke lengan Gua.
"Kok kayaknya Cha ?", tanya Gua bingung.
"Iya, kan hasilnya baru keluar nanti, tiga hari lagi Za. Nanti kita ambil ke sini lagi hasil diagnosa nya", jawabnya lagi.
"Hmmm.. Berarti masih gak jelas dong", ucap Gua cemas.
"Enggak kok, enggak apa-apa.. Tadi aku sedikit ngobrol sama dokternya di dalam, ya walaupun dia bukan ahli penyakit tertentu, tapi katanya selama ini kalo kasus pingsan itu hal yang biasa, bukan berarti punya penyakit yang serius, dan emang sih.. Aku tadi pagi gak sarapan kan.. Hehehe", jawabnya lagi seraya terkekeh.
"Ah iya!", Gua menyadari sesuatu,
"Dari semalam kita belum makan Cha, ah aku baru inget, yaudah kita langsung makan aja dari sini ya.. Eh tapi kamu boleh makan kan ? Gak ada pantangan ?", tanya Gua lagi.
Echa menggeleng cepat seraya terkekeh. "Enggak kok, aku udah boleh makan apa aja, gak ada larangan apapun hihihi..".
Singkat cerita kami berempat sudah berada di sebuah tempat makan yang menyediakan menu gudeg jogja di daerah depok. Setelah makanan pesanan kami tersaji di atas meja makan, kami pun langsung menyantapnya. Beres makan dari sini, Irma dan Resti pamit pulang duluan, sedangkan Gua dan Echa pun tidak lama pergi dari sini setelah membayar makanan. Sampai di parkiran kami berdua langsung masuk ke dalam mobil Gua dan pulang ke rumah.
...
...
...
Lima hari kemudian Gua lupa untuk mengambil hasil medical check up istri Gua sampai pulang dari kampus. Ketika itu Gua bertanya kepada Echa di kamar Gua.
"Sayang, aku lupa ambil hasil lab kamu kemarin-kemarin..", ucap Gua.
"Oh aku udah ambil kok dari kemarin, hihihi.. Maaf ya aku juga lupa ngabarin kamu".
"Loch udah diambil ternyata, mana hasilnya aku liat..", pinta Gua.
Echa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Aku enggak apa-apa, hasilnya juga bagus kok gak ada penyakit apapun", jawabnya.
Gua mengerenyitkan kening, sedikit tidak percaya dengan ucapan Echa. "Serius ?".
"Iya serius, lagian hasil lab nya ada di rumah Papah, eh aku bikin kopi dulu ya, kamu belum ngopi kan, sebentar ya", jawabnya lalu berdiri dan melangkah keluar kamar.
Gua mendengus kasar, Gua yakin Echa menutupi hasil medical check up sebenarnya kepada Gua. Lalu Gua memilih untuk mandi sementara pikiran Gua menerka-nerka hasil medical tersebut. Selesai mandi, Gua membuka lemari pakaian dan mengambil baju.
"Sayang, aku taruh depan ya kopinya", ucap Echa seraya melewati kamar dan keluar ke depan teras.
Gua hanya mengangguk. Kemudian dari ambang pintu kamar, istri Gua kembali memanggil.
"Za, Abis isya, mau gak kita makan di bento", ucapnya dari sana.
Gua membalikkan badan karena membelakanginya. "Tumben ? Boleh kok, sebentar ya aku ganti baju dulu", jawab Gua.
Echa mengangguk cepat sambil tersenyum lebar lalu kembali berlalu dari pintu kamar, mungkin duduk menunggu di sofa teras.
Gua yang awalnya hendak mengenakan pakaian santai tidak jadi memilih pakaian tersebut, Gua mengambil celana jeans pendek untuk pergi bersama istri nanti, Gua tarik celana jeans yang sudah lama tidak Gua kenakan dan posisinya ada di paling bawah tumpukkan celana. Lalu...
Pluk sebuah map amplop cukup besar berwarna putih dan berbahan licin jatuh ke lantai.
Gua berjongkok dan mengambilnya, Gua melihat sisi depannya, di sana tergambar sebuah logo rumah sakit yang lima hari lalu Gua datangi. Lalu Gua membuka tali map tersebut dan menarik keluar selembar kertas yang cukup lebar, Gua menbacanya dengan seksama, walaupun Gua tidak paham arti kata yang tercetak di kertas tersebut, tapi di sisi kanan ada kolom yang menyatakan negatif atau positif, dan setelah Gua baca ternyata kebanyakan negatif, sampai kolom paling bawah Gua mengerti kalau ternyata istri Gua tidak berbohong, di sana tercetak bahwa istri Gua nihil dari penyakit apapun, normal.
Gua tersenyum lalu memasukkan lagi kertas tersebut ke dalam amplop besarnya, tapi rasanya ada yang mengganjal, Gua tidak dapat memasukkan kertas tersebut karena terasa tertahan sesuatu, Gua memasukkan tangan ke dalam amplop dan mendapatkan sebuah amplop lainnya, amplop yang berukuran lebih kecil. Gua membuka amplop yang lebih kecil itu dan mengambil kertasnya. Kembali Gua membaca isi kertas tersebut. Gua tercekat, suara Gua tertahan sedangkan jantung Gua mulai berdegup kencang, tangan dan jemari Gua bergetar membaca isi kertas tersebut.
Disana tertulis nama istri Gua dengan lengkap, dan sebuah hasil dari diagnosa atau sebuah test kesehatan lain. Apalagi ini ? Jantung Gua berdegup, tanpa Gua sadari mata Gua mulai berkaca-kaca... Tidak percaya dengan hasil yang tertulis di kertas tersebut.
Diubah oleh glitch.7 18-05-2017 17:26
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 

: