- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#3916
PART 60
Gua mengemudikan mobil dengan kecepatan pelan, mungkin sangat pelan untuk ukuran mobil yang bertipe sport ini, hanya Gua pacu 60km/jam saja. Derai hujan yang membasahi jalan raya semakin membuat hati Gua kelu. Apa yang Gua lakukan dengan Vera hampir menghancurkan rumah tangga Gua dan Echa, andai saja Vera tidak menghindar dan menampar pipi kiri Gua, mungkin Gua akan kembali benar-benar mengejarnya.
Gua menurunkan sedikit kaca mobil lalu membakar sebatang rokok ketika lampu lalu lintas menyala merah di depan sana. Gua menopang dagu dengan menyandarkan tangan kanan ke pintu di samping kanan, pikiran Gua kalut, bingung, apakah Gua sekarang harus benar-benar melepaskan Vera. Logika Gua berkata lepaskan dan tinggalkan, sedangkan hati Gua berkata masih mencintainya...
Gua menurunkan sedikit kaca mobil lalu membakar sebatang rokok ketika lampu lalu lintas menyala merah di depan sana. Gua menopang dagu dengan menyandarkan tangan kanan ke pintu di samping kanan, pikiran Gua kalut, bingung, apakah Gua sekarang harus benar-benar melepaskan Vera. Logika Gua berkata lepaskan dan tinggalkan, sedangkan hati Gua berkata masih mencintainya...
Pikiran Gua membangkitkan kenangan bersamanya, kenangan saat pertama kali Gua melihatnya di sekolah, berkenalan dengannya, menggodanya, lalu mengabaikannya. Beberapa waktu Gua mengacuhkannya, menolak perasaannya untuk Gua, hingga kami dekat kembali ketika sudah lulus sekolah. Segala apa yang telah ia berikan untuk Gua belum juga membuat kami bisa bersatu ketika itu, ditambah ketika Papahnya masih belum merestui hubungan kami. Tapi, ketika semuanya sudah terasa indah untuk kami berdua, ketika semuanya sudah bisa Gua dapatkan, cinta diantara kami yang tinggal menyatu dan berharap bisa menjalani semua ini bersama-sama harus kandas, tepat dimana Gua akan melamarnya, menikahinya. Semua pupus dan Vera pun memilih pergi.
Apakah Gua dan Vera memang bukanlah sepasang jodoh yang dituliskan oleh Sang Pencipta ? Apakah Vera bukan tulang rusuk Gua ?. I don't think so...
Apapun akan Gua lakukan untuk dia, seorang wanita yang mampu membuat hati Gua takjub akan segala kelakuan dan sikapnya saat meredam emosi yang ada di dalam jiwa ini. Gua mencintainya dan akan selalu seperti itu. Sekalipun logika Gua menyangkal perasaan untuknya karena Gua sudah memiliki pasangan yang sah saat ini. Dan mungkin inilah dosa pertama atau entah yang keberapa kepada istri Gua...
.
.
.
.
.
.
Sudah satu minggu setelah pertemuan antara Gua dan Vera di rumah ibundanya, yang artinya sekarang sudah memasuki pertengahan november dan Vera sudah pergi lagi ke singapore untuk melanjutkan studinya di sana. Sikap dan prilaku Gua berubah, berubah kepada Echa istri Gua.
"Za, mau aku bawain beukeul makan siang untuk di kampus nanti ?", tanya istri Gua ketika Gua masih mengenakan dasi.
Gua hanya menggelengkan kepala sambil tetap menatap cermin di dalam kamar ini.
Istri Gua menghela nafas pelan, lalu berjalan mendekati Gua. Kedua tangannya kini memeluk Gua dari belakang dan melingkar di pinggang ini. Kepalanya disandarkan pada punggung Gua.
"Tapi kamu sudah memiliki rumah tangga bersama aku Za, kamu harus realistis, apa yang Vera ucapkan benar Za, kamu harus lepasin dan relakan cinta kamu untuk dia..", ucap istri Gua.
"Kamu ngomong apa sih Cha!", kilah Gua sambil melepaskan kedua tangannya pada pinggang ini.
Gua berjalan kearah lemari dan membukanya lalu mengambil jas kampus Gua.
"Za.. Aku gak pernah ngelarang kamu untuk ngelupain dia Za, aku cuma minta kamu realistis, kalo kamu dan dia sekarang udah gak bisa seper..".
"DIAM CHA!!", untuk pertama kalinya Gua membentak istri Gua seraya menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk ini,
"Kamu gak tau apa-apa soal perasaan aku ke Vera! Dan kamu.. Kamu gak punya hak untuk ngelarang apapun ke aku!", lanjut Gua.
"Aku ini istri kamu! Aku wanita yang kamu nikahi Za.. Bukan Vera, dia udah memilih dan kamu harus menerimanya!", ucap istri Gua dengan airmata yang sudah berderai.
Gua berjalan cepat dan tidak memperdulikannya, lalu keluar dan menutup pintu kamar dengan keras. Suara isak tangisnya tidak membuat Gua menghentikan langkah kaki untuk pergi. Lalu Gua masuk kedalam mobil dan menyalakannya, pergi.. Pergi meninggalkan rumah untuk melupakan segala emosi yang Gua tinggal di dalam kamar bersama Echa.
...
Siang hari ketika jam istirahat di kampus, Gua sedang bersama Kinan di kantin.
Brak!suara meja yang digebrak oleh Tante Gua membuat beberapa orang menengok kepada kami.
"Keterlaluan kamu Za! Kamu ini bener-bener gak punya hati!!", teriaknya penuh emosi setelah Gua menceritakan apa yang terjadi.
"Aku cerita sama kamu bukan untuk minta di hakimi Kak..", jawab Gua sambil menatap matanya lekat-lekat,
"Aku minta saran kamu, bukan marah-marahin aku", lanjut Gua.
"Ya gimana aku gak kesel Ezaaa! Kamu tuh udah keterlaluan! Dimana hati kamu Za! Marahin Echa karena masih punya perasaan sama Vera!", cecarnya.
Praangng!! Gelas kopi Gua banting dan pecah ke lantai kantin ini.
"Fuck Off!!!", sungut Gua seraya berdiri dan pergi meninggalkan Kinan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Derap langkah kaki yang berlari dari arah belakang membuat Gua menengok, sedetik kemudian sebuah tangan mencengkram bahu kiri Gua seraya menariknya agar Gua membalikkan tubuh, lalu satu tangan lainnya mengepal dan dilayangkan ke arah wajah ini.
Tep. Gua menahan pukulannya dengan tangan kanan.
Buagh.. sebuah pukulan tangan kiri Gua telak menghantam pipi kanannya.
"Bangun Lu!", ucap Gua sambil menarik kerah kemeja seragamnya.
Lalu beberapa mahasiswa lain memisahkan kami, dua orang menahan tubuh Gua dan menariknya menjauh.
"Kita lanjutin di luar kampus Jing!", ucap laki-laki yang baru saja Gua hajar.
Gua menyeringai kepadanya. "Dengan senang hati..", jawab Gua.
Ini yang Gua tunggu, melampiaskan emosi dengan berkelahi adalah hal yang paling baik, begitulah pikir Gua saat itu.
Singkat cerita Gua dan laki-laki tadi serta beberapa mahasiswa sudah keluar dari kampus, kami berada di sebuah gang yang diameternya kurang dari lima meter. Kinan ikut dan meminta Gua untuk tidak berkelahi, tapi apalah artinya jika Gua sudah emosi seperti ini, jelas Gua tidak menghiraukan Tante Gua itu.
Tanpa banyak bicara lagi, si laki-laki yang menjadi lawan Gua, sebut saja namanya setipen. Berlari dari arah depan dan melayangkan beberapa pukulan kearah wajah Gua, entah bukan maksud merendahkan, tapi kenyataannya ini orang emang gak ada dasar bela diri, posisi memukul dan kuda-kudanya tidak ada yang bagus, jelas Gua dengan mudah menghindari setiap serangannya, lalu ketika Gua berhasil bergeser ke kiri, dengan cara mengayunkan tubuh dengan menunduk sedikit...
Buagh... satu pukulan tangan kanan Gua tepat mengenai telinga kanannya.
Sebelum dia semakin doyong ke kiri, Gua langsung menarik tangan kanannya dan Sedetik kemudian Palkup Dollyo Chigi Gua berikan tepat kearah rahangnya.
Setipen terjatuh dan memegangi rahangnya seraya meringis kesakitan, Gua yang sudah kalap langsug menyepak wajahnya dengan ujung sepatu pantofel yang tepat mengenai hidungnya. Baru saja akan Gua injak-injak dia punya wajah, pelukkan Kinan dari arah depan membuat Gua menghentikkan perkelahian.
"Udaah.. Udah Za, udaah..", teriak Tante Gua sambil menangis.
"Lepas Kak", ucap Gua dingin.
"Udaaahh.. Dia cowok aku Za!", balas Kinan sambil menatap wajah Gua.
Gua menaikkan satu alis sambil memandangi Kinan. "Oh.. Looser..", balas Gua.
Plaak! sebuah tamparan dari Kinan tepat mengenai pipi Gua.
Gua hanya tersenyum lalu melepas pelukkan Kinan dengan kasar dan pergi menjauh, meninggalkan mereka.
...
The Devil in My Mind...
Hari itu Gua pulang kuliah tidak langsung ke rumah, melainkan mengarahkan mobil ke ancol. Gua duduk di atas pembatas jembatan kayu, dengan sebatang rokok yang telah Gua hisap dan sebotol JD di tangan menemani kesuntukkan dan emosi Gua di sore ini. Menenggak minuman yang rasanya tidak pernah Gua sukai tapi apalah pedulinya, dengan kondisi hati yang sudah bimbang dan kesalahan yang sudah Gua perbuat malah membuat syetan dalam diri ini menghasut semakin gencar.
Gua memang tidak bisa berfikir realistis lagi ketika apa yang sudah Gua coba lupakan malah hadir kembali, seolah-olah Gua mampu menghadapinya, beralasan untuk meminta penjelasannya, tapi dibalik itu semua perasaan yang masih ada di dalam hati ini malah keluar dan menyeruak dengan ganasnya, tanpa bisa Gua tahan. Dan disinilah Gua berada, di persimpangan jalan, yang seharusnya Gua bisa memilih untuk melangkah di jalan yang benar, menggenggam tangan istri Gua dan berjalan beriringan. Tapi di sudut lain, ada Vera yang berdiri di jalan lainnya. Seolah-olah dia menunggu Gua, walaupun kenyataannya tidak seperti itu. Gua buta akan hal tersebut, Gua menampik kalau Vera menolak perasaan Gua dan mengingatkan Gua bahwa Echa lah yang tepat mendampingi Gua.
Setengah botol minuman beralkohol sudah habis Gua minum sendiri. Ketika cahaya senja menyeruak dan menyinari pantai ini, Gua turun dari pembatas kayu lalu berjalan pelan meninggalkan sejuta harapan bangsaatt di langit-langit senja sore itu. Gua melewati sekumpulan remaja yang duduk di jembatan kayu, lalu menghentikan langkah ketika mereka semua memperhatikan Gua.
"Hei.. Mau ?", tawar Gua sambil menyodorkan botol minuman kepada mereka.
Mereka hanya menatap Gua tanpa menjawab. Lalu Gua tersenyum lebar. "Tangkep..", ucap Gua sambil melemparkan botol tersebut pelan ke arah salah satu remaja.
Dengan tekejut dan gelagapan tangannya menangkap botol JD itu dan mendekapnya di dada. Lalu Gua kembali membalikkan badan dan berjalan meninggalkan mereka, baru beberapa langkah Gua mendengar ucapan terimakasih, Gua hanya menanggapinya dengan mengacungkan ibu jari tinggi-tinggi tanpa berbalik kearah mereka dan tetap berjalan.
Langkah kaki Gua terhenti saat melihat satu, dua, tiga, empat. Ya empat cecunguk yang berdiri menatap Gua dengan tajam dari arah berlawanan, dari keempat cecunguk itu ada seorang lelaki yang hidungnya mengenakan perban, yap, Setipen bajingaan, seorang looser yang tadi siang Gua hantam.
"Woi, kali ini Lo gak bakal selamet! Abis Lo sekarang!", teriak Setipen.
Beberapa pengunjung pantai yang melihat mereka dan Gua secara bergantian mulai menyingkir, merapat ke pembatas jembatan di atas sisi pantai ini.
Gua tersenyum kepada mereka, lalu melepaskan jas kampus dan melemparnya ke samping, Gua menggulung lengan kemeja hingga sesiku. Rokok yang hampir habis Gua hisap dalam-dalam lalu menghembuskannya keatas, betapa congkaknya saat itu Gua mengingat hal tersebut. Gua selipkan rokok di mulut ini, lalu Gua rentangkan kedua tangan dan memberikan gesture kepada keempat cecunguk itu, maju Lu semua..
Sedetik kemudian mereka berlari menghampiri Gua, lalu ketika salah satu dari mereka sudah mendekat, Gua ambil rokok dari selipan mulut dan menyentilnya kearah wajah salah satu cecunguk itu.
"Aaaahh..", teriaknya ketika bara rokok tepat mengenai kelopak matanya.
Gua berlari dan langsung menendang perutnya dengan keras. Satu cecunguk terjatuh. Dua cecunguk menerjang langsung dari kanan depan dan kiri Gua. Beberapa pukulan menghantam tubuh Gua, sedangkan kedua tangan Gua melindungi wajah sambil bergerak mundur. Setelah jarak Gua cukup, Gua tangkap tangan cecunguk kedua yang berada di kiri dan menariknya lalu kedua jari Gua tepat menusuk kedua bola matanya, dan Gua melemparnya ke cecunguk tiga yang berada di kanan, sedetik kemudian Gua menghajar perutnya dan keduanya terjatuh saling menindih. Cecunguk pertama yang sudah bangun menerjang Gua dan langsung menendang pinggang ini, Gua tersungkur dan menahan tubuh ke pembatas jembatan kayu.
Sebelum dia kembali menendang, dua orang remaja lelaki langsung menyerangnya. Dan terjadilah perkelahian yang cukup seimbang, karena sekarang, Gua malah dibantu oleh remaja tanggung yang tadi sedang berkumpul dan Gua berikan minuman.
Gua hanya tertawa ketika ketiga cecunguk itu kewalahan melawan enam orang remaja tanggung, habis sudah mereka dianiaya oleh anak abg.
"Cukup cukup Bro.. Udah udah, kasian tuh Mas Mas nya pada kelojotan", ucap Gua sedikit berteriak kepada remaja itu yang masih menginjak-injak tubuh cecunguk cecunguk.
"Banci mereka Bang, beraninya keroyokan", ucap salah satu remaja kepada Gua.
"Udah gak apa-apa, thanks Bro udah bantuin Gua, hehehe..",
"Dah biarin aja mereka, sekarang tinggal urusan Gua sama satu cecunguk di sana", lanjut Gua sambil menunjuk Setipen yang memang dari tadi hanya berdiri tanpa ikut berkelahi.
"Udah Bang biar kita aja yang ngabisin".
"Ssstt.. Udah, udah selesai kok, dah minum lagi sana, nih sekalian kalo mau beli kacang sama nambah minumannya", ucap Gua menepuk bahu satu remaja yang masih emosi, lalu Gua mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan memberikannya.
"Wah, banyak amat Bang..".
"Jajanin aja, hahahaha... Dah ya.. Thanks", Gua berjalan meninggalkan mereka sambil menendang wajah para cecunguk yang sudah terkapar.
"Makasih Baang", teriak para remaja itu lagi.
Dan sekali lagi, Gua hanya mengangkat ibu jari tanpa menengok kepada mereka di belakang sana. Gua mengambil jas kampus dan kembali berjalan mendekati si Setipen. Tapi... Ah lelaki macam apa yang kabur dan berlari tanpa mencoba bertarung. Ya, kekasih Tante Gua itu berlari dan memilih menghindar. Kampret! Dasar looser. Btw, untung kamu gak menikahi cecunguk looser kampret yang gak punya tytyt itu Nan.. Hahahahhaaha.
Gua sudah malas untuk mengejarnya, toh besok juga bertemu lagi dengannya di kampus kalau memang masih belum puas.
...
Pukul delapan malam lewat, Gua baru sampai di rumah, Echa menyambut kepulangan Gua dengan wajah yang tekejut dan khawatir ketika membukakan pintu kamar.
"Astagfirulloh Eza! Kamu kenapaaa..?", ucapnya khawatir.
"Hmm..", Gua melewatinya lalu masuk ke dalam kamar dan melemparkan tas serta jas sembarangan.
Lalu Gua berdiri dihadapan cermin kamar sambil membuka dasi. Istri Gua berjalan cepat dan berdiri tepat di samping kanan Gua. Wajahnya khawatir, sangat khawatir.
"Za.. Kamu kenapa ? Berantem sama siapa ?".
Gua hanya menggeleng pelan sambil melepaskan dasi dan melemparnya ke lantai. Lalu membuka kancing kemeja.
"Za, berantem sama siapa ? Dimana ? Kenapa ? Itu pipi kamu biru, bibir kamu berdarah... Tunggu tunggu, aku ambilin air hangat..".
"Cerewet!!", jawab Gua dingin.
Echa bergegas keluar kamar menuju dapur. Gua melemparkan lagi kemeja dan kaos dalam ke lantai kamar, lalu mengambil handuk dari lemari pakaian dan masuk ke dalam kamar mandi di kamar Gua ini.
Gua memutar keran shower dan seketika kucuran air membasahi kepala Gua dan mulai merata keseluruh tubuh ini. Fak! Perih juga ternyata luka di bibir karena hantaman salah satu cecunguk yang sempat masuk dan melukai bibir Gua hingga berdarah. Lalu ketukkan dari luar pintu kamar mandi terdengar nyaring.
"Sayang, buka dulu, jangan mandi dulu, biar aku bersihan lukanya sayang..", teriak istri Gua dari luar kamar mandi.
Gua tidak menanggapinya, lalu Gua mulai mengambil sabun dan membersihkan tubuh ini karena terasa lengket, beberapa kali Gua sedikit meringis ketika menyabuni pinggang dan bagian lengan, karena ternyata di situ lumayan bengkak akibat hantaman yang Gua terima tadi.
Selesai mandi dan mengeringkan tubuh, Gua keluar dari kamar mandi lalu menuju lemari pakaian lagi.
"Za.. Ini baju sama celananya", ucap Echa dari samping Gua seraya menyodorkan pakaian kepada Gua.
Lalu Gua mengambilnya dan dengan cuek membuka lilitan handuk yang menutupi bagian bawah tubuh ini di depan istri Gua.
"EH.. Eh.. Iiih..", Echa terkejut lalu memalingkan wajahnya kearah lain dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Gua mengenakan sempak tapi entah kenapa otak Gua yang memang sedang dijilati oleh iblis ini mungkin mulai rusak. Karena melihat istri Gua yang malu-malu itu, timbul niatan iseng Gua. Tanpa mengenakan pakaian luar, Gua berjalan menuju kasur dan rebahan diatasnya.
"Loch ? Kok cuma pake celana dalem Za ?", tanya istri Gua terheran.
"Sini Cha..", panggil Gua.
Lalu Echa mengambil pakaian bersih yang berada di lantai, yang tadi ia berikan untuk Gua pakai dan berjalan menghampiri Gua.
"Ini pakai dulu baju sama celananya sayang", ucapnya sambil duduk di sisi kasur.
Gua menarik sedikit kasar tangan kirinya lalu tubuhnya terjatuh di atas tubuh Gua.
"Eh.. Kenapa Za ?".
Gua mendengus pelan lalu menyeringai. "Naik sini", perintah Gua.
"Eh..", wajahnya merona merah malu.
Lalu Gua mencium bibirnya dengan sedikit kasar, istri Gua memundurkan wajah dan menghindar.
"Kok bau alkohol Za... Kamu abis minum ya ?!", tanyanya sambil kembali duduk.
Gua bangun dan beringsut ke samping istri Gua. "Iya.. Kenapa emang heum ?", tanya Gua balik tepat di telinganya.
Istri Gua memundurkan lagi wajahnya, menjauh sambil menutup hidungnya.
Tanpa Gua pedulikan, Gua mendorongnya untuk rebahan di atas kasur dan menindihnya.
"Aaa... Ezaaa.. Gak mauuu iiihhh..", teriaknya.
"Udah nyerah aja sih.. Biasanya juga minta nambah", balas Gua yang langsung membuatnya terdiam dengan wajah yang sangat merona karena malu.
Apakah Gua dan Vera memang bukanlah sepasang jodoh yang dituliskan oleh Sang Pencipta ? Apakah Vera bukan tulang rusuk Gua ?. I don't think so...
Apapun akan Gua lakukan untuk dia, seorang wanita yang mampu membuat hati Gua takjub akan segala kelakuan dan sikapnya saat meredam emosi yang ada di dalam jiwa ini. Gua mencintainya dan akan selalu seperti itu. Sekalipun logika Gua menyangkal perasaan untuknya karena Gua sudah memiliki pasangan yang sah saat ini. Dan mungkin inilah dosa pertama atau entah yang keberapa kepada istri Gua...
.
.
.
.
.
.
Sudah satu minggu setelah pertemuan antara Gua dan Vera di rumah ibundanya, yang artinya sekarang sudah memasuki pertengahan november dan Vera sudah pergi lagi ke singapore untuk melanjutkan studinya di sana. Sikap dan prilaku Gua berubah, berubah kepada Echa istri Gua.
"Za, mau aku bawain beukeul makan siang untuk di kampus nanti ?", tanya istri Gua ketika Gua masih mengenakan dasi.
Gua hanya menggelengkan kepala sambil tetap menatap cermin di dalam kamar ini.
Istri Gua menghela nafas pelan, lalu berjalan mendekati Gua. Kedua tangannya kini memeluk Gua dari belakang dan melingkar di pinggang ini. Kepalanya disandarkan pada punggung Gua.
"Tapi kamu sudah memiliki rumah tangga bersama aku Za, kamu harus realistis, apa yang Vera ucapkan benar Za, kamu harus lepasin dan relakan cinta kamu untuk dia..", ucap istri Gua.
"Kamu ngomong apa sih Cha!", kilah Gua sambil melepaskan kedua tangannya pada pinggang ini.
Gua berjalan kearah lemari dan membukanya lalu mengambil jas kampus Gua.
"Za.. Aku gak pernah ngelarang kamu untuk ngelupain dia Za, aku cuma minta kamu realistis, kalo kamu dan dia sekarang udah gak bisa seper..".
"DIAM CHA!!", untuk pertama kalinya Gua membentak istri Gua seraya menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk ini,
"Kamu gak tau apa-apa soal perasaan aku ke Vera! Dan kamu.. Kamu gak punya hak untuk ngelarang apapun ke aku!", lanjut Gua.
"Aku ini istri kamu! Aku wanita yang kamu nikahi Za.. Bukan Vera, dia udah memilih dan kamu harus menerimanya!", ucap istri Gua dengan airmata yang sudah berderai.
Gua berjalan cepat dan tidak memperdulikannya, lalu keluar dan menutup pintu kamar dengan keras. Suara isak tangisnya tidak membuat Gua menghentikan langkah kaki untuk pergi. Lalu Gua masuk kedalam mobil dan menyalakannya, pergi.. Pergi meninggalkan rumah untuk melupakan segala emosi yang Gua tinggal di dalam kamar bersama Echa.
...
Siang hari ketika jam istirahat di kampus, Gua sedang bersama Kinan di kantin.
Brak!suara meja yang digebrak oleh Tante Gua membuat beberapa orang menengok kepada kami.
"Keterlaluan kamu Za! Kamu ini bener-bener gak punya hati!!", teriaknya penuh emosi setelah Gua menceritakan apa yang terjadi.
"Aku cerita sama kamu bukan untuk minta di hakimi Kak..", jawab Gua sambil menatap matanya lekat-lekat,
"Aku minta saran kamu, bukan marah-marahin aku", lanjut Gua.
"Ya gimana aku gak kesel Ezaaa! Kamu tuh udah keterlaluan! Dimana hati kamu Za! Marahin Echa karena masih punya perasaan sama Vera!", cecarnya.
Praangng!! Gelas kopi Gua banting dan pecah ke lantai kantin ini.
"Fuck Off!!!", sungut Gua seraya berdiri dan pergi meninggalkan Kinan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Derap langkah kaki yang berlari dari arah belakang membuat Gua menengok, sedetik kemudian sebuah tangan mencengkram bahu kiri Gua seraya menariknya agar Gua membalikkan tubuh, lalu satu tangan lainnya mengepal dan dilayangkan ke arah wajah ini.
Tep. Gua menahan pukulannya dengan tangan kanan.
Buagh.. sebuah pukulan tangan kiri Gua telak menghantam pipi kanannya.
"Bangun Lu!", ucap Gua sambil menarik kerah kemeja seragamnya.
Lalu beberapa mahasiswa lain memisahkan kami, dua orang menahan tubuh Gua dan menariknya menjauh.
"Kita lanjutin di luar kampus Jing!", ucap laki-laki yang baru saja Gua hajar.
Gua menyeringai kepadanya. "Dengan senang hati..", jawab Gua.
Ini yang Gua tunggu, melampiaskan emosi dengan berkelahi adalah hal yang paling baik, begitulah pikir Gua saat itu.
Singkat cerita Gua dan laki-laki tadi serta beberapa mahasiswa sudah keluar dari kampus, kami berada di sebuah gang yang diameternya kurang dari lima meter. Kinan ikut dan meminta Gua untuk tidak berkelahi, tapi apalah artinya jika Gua sudah emosi seperti ini, jelas Gua tidak menghiraukan Tante Gua itu.
Tanpa banyak bicara lagi, si laki-laki yang menjadi lawan Gua, sebut saja namanya setipen. Berlari dari arah depan dan melayangkan beberapa pukulan kearah wajah Gua, entah bukan maksud merendahkan, tapi kenyataannya ini orang emang gak ada dasar bela diri, posisi memukul dan kuda-kudanya tidak ada yang bagus, jelas Gua dengan mudah menghindari setiap serangannya, lalu ketika Gua berhasil bergeser ke kiri, dengan cara mengayunkan tubuh dengan menunduk sedikit...
Buagh... satu pukulan tangan kanan Gua tepat mengenai telinga kanannya.
Sebelum dia semakin doyong ke kiri, Gua langsung menarik tangan kanannya dan Sedetik kemudian Palkup Dollyo Chigi Gua berikan tepat kearah rahangnya.
Setipen terjatuh dan memegangi rahangnya seraya meringis kesakitan, Gua yang sudah kalap langsug menyepak wajahnya dengan ujung sepatu pantofel yang tepat mengenai hidungnya. Baru saja akan Gua injak-injak dia punya wajah, pelukkan Kinan dari arah depan membuat Gua menghentikkan perkelahian.
"Udaah.. Udah Za, udaah..", teriak Tante Gua sambil menangis.
"Lepas Kak", ucap Gua dingin.
"Udaaahh.. Dia cowok aku Za!", balas Kinan sambil menatap wajah Gua.
Gua menaikkan satu alis sambil memandangi Kinan. "Oh.. Looser..", balas Gua.
Plaak! sebuah tamparan dari Kinan tepat mengenai pipi Gua.
Gua hanya tersenyum lalu melepas pelukkan Kinan dengan kasar dan pergi menjauh, meninggalkan mereka.
...
The Devil in My Mind...
Hari itu Gua pulang kuliah tidak langsung ke rumah, melainkan mengarahkan mobil ke ancol. Gua duduk di atas pembatas jembatan kayu, dengan sebatang rokok yang telah Gua hisap dan sebotol JD di tangan menemani kesuntukkan dan emosi Gua di sore ini. Menenggak minuman yang rasanya tidak pernah Gua sukai tapi apalah pedulinya, dengan kondisi hati yang sudah bimbang dan kesalahan yang sudah Gua perbuat malah membuat syetan dalam diri ini menghasut semakin gencar.
Gua memang tidak bisa berfikir realistis lagi ketika apa yang sudah Gua coba lupakan malah hadir kembali, seolah-olah Gua mampu menghadapinya, beralasan untuk meminta penjelasannya, tapi dibalik itu semua perasaan yang masih ada di dalam hati ini malah keluar dan menyeruak dengan ganasnya, tanpa bisa Gua tahan. Dan disinilah Gua berada, di persimpangan jalan, yang seharusnya Gua bisa memilih untuk melangkah di jalan yang benar, menggenggam tangan istri Gua dan berjalan beriringan. Tapi di sudut lain, ada Vera yang berdiri di jalan lainnya. Seolah-olah dia menunggu Gua, walaupun kenyataannya tidak seperti itu. Gua buta akan hal tersebut, Gua menampik kalau Vera menolak perasaan Gua dan mengingatkan Gua bahwa Echa lah yang tepat mendampingi Gua.
Setengah botol minuman beralkohol sudah habis Gua minum sendiri. Ketika cahaya senja menyeruak dan menyinari pantai ini, Gua turun dari pembatas kayu lalu berjalan pelan meninggalkan sejuta harapan bangsaatt di langit-langit senja sore itu. Gua melewati sekumpulan remaja yang duduk di jembatan kayu, lalu menghentikan langkah ketika mereka semua memperhatikan Gua.
"Hei.. Mau ?", tawar Gua sambil menyodorkan botol minuman kepada mereka.
Mereka hanya menatap Gua tanpa menjawab. Lalu Gua tersenyum lebar. "Tangkep..", ucap Gua sambil melemparkan botol tersebut pelan ke arah salah satu remaja.
Dengan tekejut dan gelagapan tangannya menangkap botol JD itu dan mendekapnya di dada. Lalu Gua kembali membalikkan badan dan berjalan meninggalkan mereka, baru beberapa langkah Gua mendengar ucapan terimakasih, Gua hanya menanggapinya dengan mengacungkan ibu jari tinggi-tinggi tanpa berbalik kearah mereka dan tetap berjalan.
Langkah kaki Gua terhenti saat melihat satu, dua, tiga, empat. Ya empat cecunguk yang berdiri menatap Gua dengan tajam dari arah berlawanan, dari keempat cecunguk itu ada seorang lelaki yang hidungnya mengenakan perban, yap, Setipen bajingaan, seorang looser yang tadi siang Gua hantam.
"Woi, kali ini Lo gak bakal selamet! Abis Lo sekarang!", teriak Setipen.
Beberapa pengunjung pantai yang melihat mereka dan Gua secara bergantian mulai menyingkir, merapat ke pembatas jembatan di atas sisi pantai ini.
Gua tersenyum kepada mereka, lalu melepaskan jas kampus dan melemparnya ke samping, Gua menggulung lengan kemeja hingga sesiku. Rokok yang hampir habis Gua hisap dalam-dalam lalu menghembuskannya keatas, betapa congkaknya saat itu Gua mengingat hal tersebut. Gua selipkan rokok di mulut ini, lalu Gua rentangkan kedua tangan dan memberikan gesture kepada keempat cecunguk itu, maju Lu semua..
Sedetik kemudian mereka berlari menghampiri Gua, lalu ketika salah satu dari mereka sudah mendekat, Gua ambil rokok dari selipan mulut dan menyentilnya kearah wajah salah satu cecunguk itu.
"Aaaahh..", teriaknya ketika bara rokok tepat mengenai kelopak matanya.
Gua berlari dan langsung menendang perutnya dengan keras. Satu cecunguk terjatuh. Dua cecunguk menerjang langsung dari kanan depan dan kiri Gua. Beberapa pukulan menghantam tubuh Gua, sedangkan kedua tangan Gua melindungi wajah sambil bergerak mundur. Setelah jarak Gua cukup, Gua tangkap tangan cecunguk kedua yang berada di kiri dan menariknya lalu kedua jari Gua tepat menusuk kedua bola matanya, dan Gua melemparnya ke cecunguk tiga yang berada di kanan, sedetik kemudian Gua menghajar perutnya dan keduanya terjatuh saling menindih. Cecunguk pertama yang sudah bangun menerjang Gua dan langsung menendang pinggang ini, Gua tersungkur dan menahan tubuh ke pembatas jembatan kayu.
Sebelum dia kembali menendang, dua orang remaja lelaki langsung menyerangnya. Dan terjadilah perkelahian yang cukup seimbang, karena sekarang, Gua malah dibantu oleh remaja tanggung yang tadi sedang berkumpul dan Gua berikan minuman.
Gua hanya tertawa ketika ketiga cecunguk itu kewalahan melawan enam orang remaja tanggung, habis sudah mereka dianiaya oleh anak abg.
"Cukup cukup Bro.. Udah udah, kasian tuh Mas Mas nya pada kelojotan", ucap Gua sedikit berteriak kepada remaja itu yang masih menginjak-injak tubuh cecunguk cecunguk.
"Banci mereka Bang, beraninya keroyokan", ucap salah satu remaja kepada Gua.
"Udah gak apa-apa, thanks Bro udah bantuin Gua, hehehe..",
"Dah biarin aja mereka, sekarang tinggal urusan Gua sama satu cecunguk di sana", lanjut Gua sambil menunjuk Setipen yang memang dari tadi hanya berdiri tanpa ikut berkelahi.
"Udah Bang biar kita aja yang ngabisin".
"Ssstt.. Udah, udah selesai kok, dah minum lagi sana, nih sekalian kalo mau beli kacang sama nambah minumannya", ucap Gua menepuk bahu satu remaja yang masih emosi, lalu Gua mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan memberikannya.
"Wah, banyak amat Bang..".
"Jajanin aja, hahahaha... Dah ya.. Thanks", Gua berjalan meninggalkan mereka sambil menendang wajah para cecunguk yang sudah terkapar.
"Makasih Baang", teriak para remaja itu lagi.
Dan sekali lagi, Gua hanya mengangkat ibu jari tanpa menengok kepada mereka di belakang sana. Gua mengambil jas kampus dan kembali berjalan mendekati si Setipen. Tapi... Ah lelaki macam apa yang kabur dan berlari tanpa mencoba bertarung. Ya, kekasih Tante Gua itu berlari dan memilih menghindar. Kampret! Dasar looser. Btw, untung kamu gak menikahi cecunguk looser kampret yang gak punya tytyt itu Nan.. Hahahahhaaha.
Gua sudah malas untuk mengejarnya, toh besok juga bertemu lagi dengannya di kampus kalau memang masih belum puas.
...
Pukul delapan malam lewat, Gua baru sampai di rumah, Echa menyambut kepulangan Gua dengan wajah yang tekejut dan khawatir ketika membukakan pintu kamar.
"Astagfirulloh Eza! Kamu kenapaaa..?", ucapnya khawatir.
"Hmm..", Gua melewatinya lalu masuk ke dalam kamar dan melemparkan tas serta jas sembarangan.
Lalu Gua berdiri dihadapan cermin kamar sambil membuka dasi. Istri Gua berjalan cepat dan berdiri tepat di samping kanan Gua. Wajahnya khawatir, sangat khawatir.
"Za.. Kamu kenapa ? Berantem sama siapa ?".
Gua hanya menggeleng pelan sambil melepaskan dasi dan melemparnya ke lantai. Lalu membuka kancing kemeja.
"Za, berantem sama siapa ? Dimana ? Kenapa ? Itu pipi kamu biru, bibir kamu berdarah... Tunggu tunggu, aku ambilin air hangat..".
"Cerewet!!", jawab Gua dingin.
Echa bergegas keluar kamar menuju dapur. Gua melemparkan lagi kemeja dan kaos dalam ke lantai kamar, lalu mengambil handuk dari lemari pakaian dan masuk ke dalam kamar mandi di kamar Gua ini.
Gua memutar keran shower dan seketika kucuran air membasahi kepala Gua dan mulai merata keseluruh tubuh ini. Fak! Perih juga ternyata luka di bibir karena hantaman salah satu cecunguk yang sempat masuk dan melukai bibir Gua hingga berdarah. Lalu ketukkan dari luar pintu kamar mandi terdengar nyaring.
"Sayang, buka dulu, jangan mandi dulu, biar aku bersihan lukanya sayang..", teriak istri Gua dari luar kamar mandi.
Gua tidak menanggapinya, lalu Gua mulai mengambil sabun dan membersihkan tubuh ini karena terasa lengket, beberapa kali Gua sedikit meringis ketika menyabuni pinggang dan bagian lengan, karena ternyata di situ lumayan bengkak akibat hantaman yang Gua terima tadi.
Selesai mandi dan mengeringkan tubuh, Gua keluar dari kamar mandi lalu menuju lemari pakaian lagi.
"Za.. Ini baju sama celananya", ucap Echa dari samping Gua seraya menyodorkan pakaian kepada Gua.
Lalu Gua mengambilnya dan dengan cuek membuka lilitan handuk yang menutupi bagian bawah tubuh ini di depan istri Gua.
"EH.. Eh.. Iiih..", Echa terkejut lalu memalingkan wajahnya kearah lain dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Gua mengenakan sempak tapi entah kenapa otak Gua yang memang sedang dijilati oleh iblis ini mungkin mulai rusak. Karena melihat istri Gua yang malu-malu itu, timbul niatan iseng Gua. Tanpa mengenakan pakaian luar, Gua berjalan menuju kasur dan rebahan diatasnya.
"Loch ? Kok cuma pake celana dalem Za ?", tanya istri Gua terheran.
"Sini Cha..", panggil Gua.
Lalu Echa mengambil pakaian bersih yang berada di lantai, yang tadi ia berikan untuk Gua pakai dan berjalan menghampiri Gua.
"Ini pakai dulu baju sama celananya sayang", ucapnya sambil duduk di sisi kasur.
Gua menarik sedikit kasar tangan kirinya lalu tubuhnya terjatuh di atas tubuh Gua.
"Eh.. Kenapa Za ?".
Gua mendengus pelan lalu menyeringai. "Naik sini", perintah Gua.
"Eh..", wajahnya merona merah malu.
Lalu Gua mencium bibirnya dengan sedikit kasar, istri Gua memundurkan wajah dan menghindar.
"Kok bau alkohol Za... Kamu abis minum ya ?!", tanyanya sambil kembali duduk.
Gua bangun dan beringsut ke samping istri Gua. "Iya.. Kenapa emang heum ?", tanya Gua balik tepat di telinganya.
Istri Gua memundurkan lagi wajahnya, menjauh sambil menutup hidungnya.
Tanpa Gua pedulikan, Gua mendorongnya untuk rebahan di atas kasur dan menindihnya.
"Aaa... Ezaaa.. Gak mauuu iiihhh..", teriaknya.
"Udah nyerah aja sih.. Biasanya juga minta nambah", balas Gua yang langsung membuatnya terdiam dengan wajah yang sangat merona karena malu.
Diubah oleh glitch.7 17-05-2017 20:34
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
