- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.7K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#223
Lilin kelimabelas
Kali ini aku akan kembali menceritakan masa laluku.
Karena masa saat ini sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya, sehingga meskipun terkadang 'mereka' masih datang dengan cara yang tidak diduga dan tetap membuatku ketakutan setengah mati, tapi untuk saat ini, aku selalu percaya kalau pada akhirnya semua akan baik-baik saja, karena aku sudah ada yang melindungi dan memperhatikanku.
Tapi, melihat masa laluku.. aku bahkan tidak menyangka kalau aku akan bisa menerima kalau aku harus berhadapan dengan 'mereka' seperti sekarang ini. Lebih sulit dipercaya lagi adalah bahwa aku bisa dikelilingi oleh sahabat-sahabat seperti sekarang.
Aku... dulu tidak demikian. Aku adalah anak yang dijauhi oleh teman-teman sekelasku dan seangkatan.
Puncaknya adalah pada masa SMU, dan pada masa itu, malah predikat 'cewek hantu' melekat padaku. Yah.. untungnya tidak ada yang terang-terangan menghinaku atau kasar padaku, karena entah mengapa mereka percaya aku mampu mengirimkan 'mahluk-mahluk halus' untuk mengganggu mereka kalau mereka berani menggangguku.
Jadi, setiap hal-hal aneh yang terjadi di sekolahku, selalu menjadi salahku. Walaupun tidak ada yang berani mengatakannya terang-terangan padaku, bahkan guru sekalipun.
Aku tinggal di Indonesia bersama dengan nenekku karena aku tidak suka pindah dari Indonesia entah mengapa... dan pada saat SMP, aku memaksa untuk bisa tinggal bersama dengan pamanku karena keinginanku yang keras untuk bisa sekolah di ibukota.
Sekali lagi, aku tidak tau, atau mungkin tepatnya aku tidak ingat kenapa aku ingin seperti itu dulu...
Hidupku selama SMP dan SMU... yahh.. aku lebih memilih masa itu tidak terulang lagi.. itu benar-benar masa kelam dari hidupku...
Pada kesempatan kali ini, aku akan menceritakan beberapa pengalaman yang kuingat semasa di SMU dulu.
SMU-ku sedikit berbeda dengan SMP-ku, karena SMU ini bisa dikatakan bukan termasuk SMU pilihan. Namun aku tidak punya banyak opsi waktu itu. Aku muak dengan teman-teman seangkatanku pada saat SMP. Karena terus menyambung-nyambungkan perihal 'mereka' denganku, bahkan setiap ada sesuatu yang buruk, mereka menyalahkan aku. Hujanpun dikatakan karena akulah yang membawa sial.
Cukup sudah... aku tidak akan pernah satu SMU dengan mereka.
Dan berbekal dengan pikiran itulah, aku bisa dikatakan 'terdampar' di SMU ini.
SMU ini sebenarnya cukup bagus menurutku, hanya saja hampir sebagian besar penghijauan di sekolah ini ditanami dengan pohon-pohon besar dan rindang. Serta adanya hutan bambu kecil di belakang sekolah yang begitu rindang hingga kau tidak akan bisa melihat apabila ada sesuatu di balik rimbunnya batang bambu itu... soal ini akan kuceritakan dilain waktu.
Aku akan menceritakan soal penghuni dari sekolah ini yang paling sering mengganggu para murid, atau bahkan orang-orang yang berada di sekolah ini.
Mereka menamainya 'Sri'.
Dan inilah cerita pertemuan pertamaku dengan Sri.
---
Aku berpikir waktu itu, kalau bersekolah hanyalah kewajibanku semata. Aku tidak mengejar apapun dan tidak berharap apapun. Waktu itu aku hanyalah seorang gadis yang hampir terus menerus berpikiran negatif terhadap segala hal.
Pengalaman burukku semasa SMP juga tidak membantu.
Dan di sinilah aku sekarang. Di upacara penyuluhan murid-murid baru. Aku tidak punya kenalan ataupun teman satupun di sini.. tentu saja, malah kalau ada mereka di sini sejujurnya itu akan menggangguku. SMU ini sangat jauh dari SMP-ku dulu, tidak akan ada seorangpun yang mengenalku di sini.
Aku duduk dengan mengantuk mendengarkan orasi yang entah kapan akan berakhir dari sang kepala sekolah. Aku sedang berusaha menutup mulutku yang hendak menguap lebar ketika merasakan seseorang duduk di kursi sebelahku yang kosong.
Aku menoleh dan mendapati seorang gadis kecil dengan rambut yang panjang sedang duduk memperhatikan aku dengan tersenyum. Dia mengenakan seragam SD.
"Kakak nggak ngedengerin pak Untung?"
"Pak Untung?"
Anak kecil itu menunjuk ke arah podium "Itu yang lagi pidato" katanya.
Ohh.. jadi kepala sekolahku namanya pak Untung. Aku melihat gadis kecil itu dan menggeleng "Nggak juga sih..."
"Emang pak Untung kalau pidato lama..." komentar gadis kecil itu sambil tersenyum manis kepadaku.
Mau tidak mau aku juga ikut tertular senyumannya. "Kamu kelas berapa? nggak apa kamu duduk di barisan SMU?" tanyaku.
"Aku kelas 6 SD. Tapi nggak lulus-lulus" kata gadis itu dengan wajah sedih.
"Eh? kenapa nggak lulus-lulus?" tanyaku bingung.
"Karena..." gadis itu tersenyum manis padaku "Cuma kakak yang bisa liat aku sekarang" kata gadis kecil itu.
Eh?
Tiba-tiba aku merasakan hawa dingin pada tengkukku. Perasaan gelisah mulai merayap naik dari punggung ke tengkukku.
Aku hanya berkedip sekali, namun tiba-tiba gadis kecil yang ada di hadapanku ini hilang.
"Kak" panggil sebuah suara.
"!!"
Aku terkejut ketika gadis kecil itu sudah berada di depanku. Senyuman manis masih menempel di wajahnya.
"Hehe.. kakak kaget ya? aku nggak bisa lulus karena udah terlanjur meninggal kak"
"Tapi kakak nggak perlu takut kok, aku nggak akan ajak kakak untuk ikut aku"
"Aku nggak jahat kayak Sri"
Sri? siapa itu Sri?
"Kakak hati-hati ya kalau ketemu sama Sri" kata gadis itu sebelum berbalik pergi.
"Eh, tunggu..." panggilku.
Namun sekonyong-konyong sosok gadis kecil itu menghilang dari hadapanku.
Aku merinding, biasanya memang kedatangan 'mereka' tiba-tiba dan tidak bisa diduga, namun biasanya tidak sejelas dan senatural ini...
Gadis itu... begitu natural.. seperti berbicara dengan anak kecil biasa dan hidup...
Selain itu.. Sri... nama itu entah kenapa membuatku gugup. Apalagi gadis kecil tadi mengatakannya dengan ekspresi takut yang tidak dipalsukan.
---
Tidak lama kemudian, akhirnya tiba juga jam istirahat. Seperti biasa, aku masih seorang diri. Aku memilih untuk sendirian. Masih merinding rasanya setelah pertemuan dengan gadis kecil hantu tadi.
Aku memilih duduk di bawah pohon yang rindang, dengan roti dan susu yang baru saja kubeli di tanganku.
Baru saja aku hendak menggigit rotiku ketika ibu-ibu dengan baju kebaya jalan di depanku dan mengambil duduk di sisiku.
"Sendirian aja non?" tanya ibu itu ramah.
Aku menatap ibu itu dengan curiga. Pertanyaan yang muncul di hatiku saat ini adalah : apakah ibu ini sungguhan manusia atau salah satu dari 'mereka' lagi?
"Kenapa ngeliatin bibi begitu, non?" tanya ibu itu bingung.
"Ah.. maaf bu. Soalnya.. saya agak sulit ngomong dengan yang belum saya kenal" kataku dengan gugup.
"Ohh.." ibu itu mengangguk-angguk. "Saya yang dagang roti tempat non tadi beli. Biasanya sih orang sini panggilnya bi Sumi"
"Oh.. maaf bi Sumi. Saya mungkin kurang perhatiin pas beli tadi"
"Iya non, bibi tau kok. Pas non beli tadi, bibi liat non pas beli roti tadi, kayaknya lagi ketakutan gimana gitu"
"Oh..." gumamku.
"Non.. ngeliat penunggu di sini ya?"
"Eh? eh.. nggak bi, bukan gitu.. aku.. ehm... aku cuma takut nanti ploncoannya" kataku berkilah.
"Oh begitu, nggak usah takut, non. Di sini nggak ada ploncoan kok. Cuma perkenalan aja, udah dilarang plonco sekarang"
"O.. oh begitu toh" jawabku tergagap.
Bibi itu tersenyum ramah.
"Oh... ngomong-ngomong bi.. saya nggak sengaja denger gosip nih"
"Gosip? gosip apa, non?" tanya bibi itu terlewat bersemangat.
"Ehm... bibi tau soal 'Sri'?" tanyaku takut-takut.
Reaksi bibi itu diluar dugaanku. Mata bibi itu membelalak terkejut dan ekspresinya memucat seketika. Wajahnya mencerminkan kengerian yang amat sangat.
"Non... denger nama itu dari mana?" bisik bibi itu takut-takut.
"Eh? dari gosip bi, saya denger dari pembicaraan orang" kataku.
"Nggak mungkin non, pasti non bohong ke saya" tuduh bibi itu.
"Kenapa bibi bilang begitu?" kataku bermaksud membela diri.
"Karena nama itu tabu, non di sini. Nggak mungkin kalau non denger dari orang"
"Mungkin saya kebetulan aja denger tadi, bi"
"Mustahil non, bahkan sekolah ini saja akan menolak semua anak bernama itu. Nggak ada seorangpun bernama itu di sekolah ini"
"Tapi saya dengar kebetulan bi" kataku berusaha meyakinkan bibi itu.
Bibi itu menggeleng "Nggak mungkin. Satu-satunya kemungkinan, non denger nama itu..." bibi itu menghentikan ucapannya dan menutup mulutnya dengan takut "Ah.. enggak.. enggak mungkin..." gumam bibi itu.
"Apa bi? apa yang bibi bicarain?"
Bibi itu menatapku dengan pandangan takut dan gelisah "Kecuali kalau non denger sendiri dari 'dia' "
Deg!!!
Spoiler for Kisah hantu di Sekolah - Sri (1):
Kali ini aku akan kembali menceritakan masa laluku.
Karena masa saat ini sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya, sehingga meskipun terkadang 'mereka' masih datang dengan cara yang tidak diduga dan tetap membuatku ketakutan setengah mati, tapi untuk saat ini, aku selalu percaya kalau pada akhirnya semua akan baik-baik saja, karena aku sudah ada yang melindungi dan memperhatikanku.
Tapi, melihat masa laluku.. aku bahkan tidak menyangka kalau aku akan bisa menerima kalau aku harus berhadapan dengan 'mereka' seperti sekarang ini. Lebih sulit dipercaya lagi adalah bahwa aku bisa dikelilingi oleh sahabat-sahabat seperti sekarang.
Aku... dulu tidak demikian. Aku adalah anak yang dijauhi oleh teman-teman sekelasku dan seangkatan.
Puncaknya adalah pada masa SMU, dan pada masa itu, malah predikat 'cewek hantu' melekat padaku. Yah.. untungnya tidak ada yang terang-terangan menghinaku atau kasar padaku, karena entah mengapa mereka percaya aku mampu mengirimkan 'mahluk-mahluk halus' untuk mengganggu mereka kalau mereka berani menggangguku.
Jadi, setiap hal-hal aneh yang terjadi di sekolahku, selalu menjadi salahku. Walaupun tidak ada yang berani mengatakannya terang-terangan padaku, bahkan guru sekalipun.
Aku tinggal di Indonesia bersama dengan nenekku karena aku tidak suka pindah dari Indonesia entah mengapa... dan pada saat SMP, aku memaksa untuk bisa tinggal bersama dengan pamanku karena keinginanku yang keras untuk bisa sekolah di ibukota.
Sekali lagi, aku tidak tau, atau mungkin tepatnya aku tidak ingat kenapa aku ingin seperti itu dulu...
Hidupku selama SMP dan SMU... yahh.. aku lebih memilih masa itu tidak terulang lagi.. itu benar-benar masa kelam dari hidupku...
Pada kesempatan kali ini, aku akan menceritakan beberapa pengalaman yang kuingat semasa di SMU dulu.
SMU-ku sedikit berbeda dengan SMP-ku, karena SMU ini bisa dikatakan bukan termasuk SMU pilihan. Namun aku tidak punya banyak opsi waktu itu. Aku muak dengan teman-teman seangkatanku pada saat SMP. Karena terus menyambung-nyambungkan perihal 'mereka' denganku, bahkan setiap ada sesuatu yang buruk, mereka menyalahkan aku. Hujanpun dikatakan karena akulah yang membawa sial.
Cukup sudah... aku tidak akan pernah satu SMU dengan mereka.
Dan berbekal dengan pikiran itulah, aku bisa dikatakan 'terdampar' di SMU ini.
SMU ini sebenarnya cukup bagus menurutku, hanya saja hampir sebagian besar penghijauan di sekolah ini ditanami dengan pohon-pohon besar dan rindang. Serta adanya hutan bambu kecil di belakang sekolah yang begitu rindang hingga kau tidak akan bisa melihat apabila ada sesuatu di balik rimbunnya batang bambu itu... soal ini akan kuceritakan dilain waktu.
Aku akan menceritakan soal penghuni dari sekolah ini yang paling sering mengganggu para murid, atau bahkan orang-orang yang berada di sekolah ini.
Mereka menamainya 'Sri'.
Dan inilah cerita pertemuan pertamaku dengan Sri.
---
Aku berpikir waktu itu, kalau bersekolah hanyalah kewajibanku semata. Aku tidak mengejar apapun dan tidak berharap apapun. Waktu itu aku hanyalah seorang gadis yang hampir terus menerus berpikiran negatif terhadap segala hal.
Pengalaman burukku semasa SMP juga tidak membantu.
Dan di sinilah aku sekarang. Di upacara penyuluhan murid-murid baru. Aku tidak punya kenalan ataupun teman satupun di sini.. tentu saja, malah kalau ada mereka di sini sejujurnya itu akan menggangguku. SMU ini sangat jauh dari SMP-ku dulu, tidak akan ada seorangpun yang mengenalku di sini.
Aku duduk dengan mengantuk mendengarkan orasi yang entah kapan akan berakhir dari sang kepala sekolah. Aku sedang berusaha menutup mulutku yang hendak menguap lebar ketika merasakan seseorang duduk di kursi sebelahku yang kosong.
Aku menoleh dan mendapati seorang gadis kecil dengan rambut yang panjang sedang duduk memperhatikan aku dengan tersenyum. Dia mengenakan seragam SD.
"Kakak nggak ngedengerin pak Untung?"
"Pak Untung?"
Anak kecil itu menunjuk ke arah podium "Itu yang lagi pidato" katanya.
Ohh.. jadi kepala sekolahku namanya pak Untung. Aku melihat gadis kecil itu dan menggeleng "Nggak juga sih..."
"Emang pak Untung kalau pidato lama..." komentar gadis kecil itu sambil tersenyum manis kepadaku.
Mau tidak mau aku juga ikut tertular senyumannya. "Kamu kelas berapa? nggak apa kamu duduk di barisan SMU?" tanyaku.
"Aku kelas 6 SD. Tapi nggak lulus-lulus" kata gadis itu dengan wajah sedih.
"Eh? kenapa nggak lulus-lulus?" tanyaku bingung.
"Karena..." gadis itu tersenyum manis padaku "Cuma kakak yang bisa liat aku sekarang" kata gadis kecil itu.
Eh?
Tiba-tiba aku merasakan hawa dingin pada tengkukku. Perasaan gelisah mulai merayap naik dari punggung ke tengkukku.
Aku hanya berkedip sekali, namun tiba-tiba gadis kecil yang ada di hadapanku ini hilang.
"Kak" panggil sebuah suara.
"!!"
Aku terkejut ketika gadis kecil itu sudah berada di depanku. Senyuman manis masih menempel di wajahnya.
"Hehe.. kakak kaget ya? aku nggak bisa lulus karena udah terlanjur meninggal kak"
"Tapi kakak nggak perlu takut kok, aku nggak akan ajak kakak untuk ikut aku"
"Aku nggak jahat kayak Sri"
Sri? siapa itu Sri?
"Kakak hati-hati ya kalau ketemu sama Sri" kata gadis itu sebelum berbalik pergi.
"Eh, tunggu..." panggilku.
Namun sekonyong-konyong sosok gadis kecil itu menghilang dari hadapanku.
Aku merinding, biasanya memang kedatangan 'mereka' tiba-tiba dan tidak bisa diduga, namun biasanya tidak sejelas dan senatural ini...
Gadis itu... begitu natural.. seperti berbicara dengan anak kecil biasa dan hidup...
Selain itu.. Sri... nama itu entah kenapa membuatku gugup. Apalagi gadis kecil tadi mengatakannya dengan ekspresi takut yang tidak dipalsukan.
---
Tidak lama kemudian, akhirnya tiba juga jam istirahat. Seperti biasa, aku masih seorang diri. Aku memilih untuk sendirian. Masih merinding rasanya setelah pertemuan dengan gadis kecil hantu tadi.
Aku memilih duduk di bawah pohon yang rindang, dengan roti dan susu yang baru saja kubeli di tanganku.
Baru saja aku hendak menggigit rotiku ketika ibu-ibu dengan baju kebaya jalan di depanku dan mengambil duduk di sisiku.
"Sendirian aja non?" tanya ibu itu ramah.
Aku menatap ibu itu dengan curiga. Pertanyaan yang muncul di hatiku saat ini adalah : apakah ibu ini sungguhan manusia atau salah satu dari 'mereka' lagi?
"Kenapa ngeliatin bibi begitu, non?" tanya ibu itu bingung.
"Ah.. maaf bu. Soalnya.. saya agak sulit ngomong dengan yang belum saya kenal" kataku dengan gugup.
"Ohh.." ibu itu mengangguk-angguk. "Saya yang dagang roti tempat non tadi beli. Biasanya sih orang sini panggilnya bi Sumi"
"Oh.. maaf bi Sumi. Saya mungkin kurang perhatiin pas beli tadi"
"Iya non, bibi tau kok. Pas non beli tadi, bibi liat non pas beli roti tadi, kayaknya lagi ketakutan gimana gitu"
"Oh..." gumamku.
"Non.. ngeliat penunggu di sini ya?"
"Eh? eh.. nggak bi, bukan gitu.. aku.. ehm... aku cuma takut nanti ploncoannya" kataku berkilah.
"Oh begitu, nggak usah takut, non. Di sini nggak ada ploncoan kok. Cuma perkenalan aja, udah dilarang plonco sekarang"
"O.. oh begitu toh" jawabku tergagap.
Bibi itu tersenyum ramah.
"Oh... ngomong-ngomong bi.. saya nggak sengaja denger gosip nih"
"Gosip? gosip apa, non?" tanya bibi itu terlewat bersemangat.
"Ehm... bibi tau soal 'Sri'?" tanyaku takut-takut.
Reaksi bibi itu diluar dugaanku. Mata bibi itu membelalak terkejut dan ekspresinya memucat seketika. Wajahnya mencerminkan kengerian yang amat sangat.
"Non... denger nama itu dari mana?" bisik bibi itu takut-takut.
"Eh? dari gosip bi, saya denger dari pembicaraan orang" kataku.
"Nggak mungkin non, pasti non bohong ke saya" tuduh bibi itu.
"Kenapa bibi bilang begitu?" kataku bermaksud membela diri.
"Karena nama itu tabu, non di sini. Nggak mungkin kalau non denger dari orang"
"Mungkin saya kebetulan aja denger tadi, bi"
"Mustahil non, bahkan sekolah ini saja akan menolak semua anak bernama itu. Nggak ada seorangpun bernama itu di sekolah ini"
"Tapi saya dengar kebetulan bi" kataku berusaha meyakinkan bibi itu.
Bibi itu menggeleng "Nggak mungkin. Satu-satunya kemungkinan, non denger nama itu..." bibi itu menghentikan ucapannya dan menutup mulutnya dengan takut "Ah.. enggak.. enggak mungkin..." gumam bibi itu.
"Apa bi? apa yang bibi bicarain?"
Bibi itu menatapku dengan pandangan takut dan gelisah "Kecuali kalau non denger sendiri dari 'dia' "
Deg!!!
oldmanpapa memberi reputasi
2
Kutip
Balas