Kaskus

Story

.rafferthaAvatar border
TS
.raffertha
Pelangi Diatas Laut
Quote:


Aku duduk didepan jendela kamarku.
Melihat langit yang biru dan awan putih yang menghiasi.
Hari ini cukup cerah.
Membuatku ingin sekali pergi keluar hanya untuk berkunjung ke tempat-tempat yang menyenangkan.

Namaku Andrea Raffertha.
Aku biasa dipanggil Rea.
Aku lahir dikeluarga yang berkecukupan, walaupun teman-temanku selalu mengatakan bahwa aku adalah anak orang kaya.
Ya memang ayahku seorang pegawai negeri sipil yang golongannya sudah tinggi dengan jabatan menjanjikan.
Apa lagi ibuku.
Ibuku seorang Sekretaris Direksi Utama disebuah perusahaan milik negara.

Aku duduk dibangku Sekolah Menegah Atas kelas 10.
Dan dari sinilah kisahku dimulai.


Quote:


Spoiler for Sambutan:


Quote:

Quote:

Quote:

Quote:
Polling
0 suara
Siapakah sosok yang abadi dalam hati Andrea Raffertha ?
Diubah oleh .raffertha 14-08-2017 05:52
samsung66Avatar border
fikrifbsAvatar border
Arsana277Avatar border
Arsana277 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
838.2K
4.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
.rafferthaAvatar border
TS
.raffertha
#4274
Part 113
HPku berdering keras.
Ini bukan dering alarm.
Tetapi telepon dari Riska.

Quote:


Aku segera bersiap-siap.
Aku beranjak dari tempat tidurku, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku.
Setelah itu, aku langsung memakai pakaian dan tak lupa memakai wewangian.
Dengan cepat, aku berangkat menuju tempat dimana kami berdua akan bertemu.

45 menit perjalanan, sampailah aku ditempat tujuan.
Aku parkirkan motorku didepan masjid karena kebetulan adzan dzuhur sebentar lagi berkumandang.
Setelah selesai sholat, aku berjalan menuju pinggir danau yang terletak disamping masjid.
Tak lupa aku kabarkan Riska dimana posisiku.

Quote:


Aku duduk diatas rerumputan dan dipayungi oleh pohon rindang.
Sambil menatap air danau yang tenang.
Ditemani oleh angin yang berhembus pelan.

Riska : "Kakaakk..!!", sambil menepuk bahuku dari belakang.
Rea : "Eh.. Udah dateng.. Cepet amat.."
Riska : "Iya dong.. Eh, kak.. Aku tadi masak ini, loh..", sambil membuka kotak makanan yang dia bawa.
Rea : "Wah, ini kamu yang masak ?"
Riska : "Iya lah.. Aku tau pasti kakak belom makan dari rumah.. Hehehehehe.."
Rea : "Tau aja.. Hahahahaha.."

Riska membawakan makanan untukku.
Ada nasi, ayam kecap, dan sambal tomat.
Aku mencoba masakannya.
Rasanya luar biasa enaknya.
Mungkin karena aku sedang lapar.

Rea : "Enak banget.."
Riska : "Beneran ? Kakak suka nggak ?"
Rea : "Jelas lah aku suka.. Ini enak kok.."
Riska : "Habisin dong, Kak.."
Rea : "Iya.. Nih cobain..", sambil menyuapi nya makanan.
Riska : "Iya, Kak.. Enak.."
Rea : "Kita makan berdua ya.."

Aku dan Riska duduk berhadapan.
Kami makan berdua disini.
Aku menyuapi Riska tetapi Riska tidak menyuapiku.
Aku menyuap nasi untuk diriku sendiri.
Sampai akhirnya makanan habis tak bersisa.

Rea : "Wah, enak banget.. Aku kekenyangan.."
Riska : "...."
Rea : "Kamu belajar masak sama siapa, dek ?"
Riska : "Mama.."
Rea : "Oh, mama kamu jago masak ya.."

Riska mendadak menjadi diam.
Tidak biasanya dia seperti ini.
Kemarin, dia bawel sekali denganku.

Rea : "Adek.."
Riska : "...."
Rea : "Kenapa ? Kok diem aja ?"

Satu tetes air mata jatuh ke pipi nya.
Aku kaget sekaligus bingung ada apa dengan dirinya.
Tiba-tiba saja dia menangis.
Lalu, dia memeluk diriku dengan erat.
Tangisannya pecah dalam pelukan.
Aku mengusap-usap kepalanya supaya dia tenang.

Rea : "Kamu kenapa, dek ? Udah udah.."
Riska : "Kak.."
Rea : "Iya.."
Riska : "Aku seneng.."
Rea : "Seneng ?"
Riska : "Aku seneng.. Akhirnya ada juga cowok yang perlakuin aku dengan manja.."
Rea : "Hah ?"
Riska : "Kakak.."
Rea : "Iya.."
Riska : "Aku ini adeknya kakak kan ?"
Rea : "Hhmm.. Kenapa emangnya ?"
Riska : "Jawab.."
Rea : "Iya.. Kamu itu adikku.."

Riska melepas pelukannya.
Kini dia duduk disampingku.

Riska : "Aku mau cerita.. Tapi, aku malu.. Aku juga takut kakak gak percaya sama aku.."
Rea : "Ceritain aja dulu.. Kamu kan adekku.."
Riska : "Apa yang dibilang sama anak-anak komunitas itu bener kok.."
Rea : "Maksudnya ?"
Riska : "Aku ini emang cewek nggak baik.. Cewek brengsek.."
Rea : "Kenapa kamu bilang kayak gitu ?"
Riska : "Karena memang begitu kenyataannya.. Aku sering main sama cowok-cowok.."
Rea : "Main ?"
Riska : "Iya.. Main.. Hubungan badan.."
Rea : "Ya ampun.. Sama siapa aja ?"
Riska : "Aku nggak tau, kak.. Aku nggak bisa hitung dan inget-inget siapa aja.."
Rea : "Berapa kali kamu begitu ?"
Riska : "Puluhan kali mungkin ada.. Karena, setiap aku lagi kepengen, pasti aku ajak atau pancing nafsu para cowok yang deket sama aku.."

Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Kalau memang apa yang dia katakan itu benar, pasti dia punya alasan kenapa dia bisa seperti itu.
Dia memang perempuan yang tidak baik, tapi pasti ada kebaikan dibalik dirinya.
Aku yakin sekali.

Riska : "Maka nya, aku seneng waktu kakak suapin aku.. Aku serasa kayak lagi dimanjain sama kakak.. Aku gak pernah ngerasain itu, Kak.. Yang aku rasain cuma having sex only dengan cowok lain.."
Rea : "Sampai sekarang kamu masih seperti itu ?"
Riska : "....", dia hanya menganggukkan kepalanya.
Rea : "Ga ada niatan untuk berhenti ?"
Riska : "Awalnya gak ada, Kak.. Tapi, kakak bikin aku sadar.. Gak semua cowok cuma mau sama badanku aja.. Kakak manjain aku.. Dan aku nggak mau lagi seperti itu.. Aku mau berubah, Kak.."
Rea : "Tapi, gimana kalo nanti kamu kepengen lagi ?"
Riska : "Itu dia, Kak.. Aku nggak tau.. Semua orang pada jauhin aku.. Gak ada yang dukung aku untuk itu.."
Rea : "Ya udah kalo gitu.. Aku bakalan bantu adek untuk berubah jadi lebih baik.."
Riska : "Tapi aku udah hancur, Kak.. Aku udah gak suci lagi.."
Rea : "Suci atau nggak nya cuma Tuhan yang tau.. Kalo pun memang begitu, harusnya kamu jangan tambahin lagi.."
Riska : "...."
Rea : "Aku bantu adek.. Aku mau dan tulus bantu adek.."
Riska : "Kakak beneran mau bantu aku ?"
Rea : "Bener.."
Riska : "Tapi.."
Rea : "Gak ada tapi-tapi.."

Tangisannya belum berhenti.
Tetapi, aku yakin dia berbicara dengan hatinya.
Emosi yang tak tertahankan pun keluar dari dalam dirinya dengan air mata.

Rea : "Kenapa kamu bisa sampai kayak gitu sih, dek ?"
Riska : "Awalnya aku gak kayak gini, Kak.. Waktu aku masih kelas X SMA, memang banyak yang deketin aku.. Tapi, aku tolak semua cowok-cowok yang deketin aku karena aku udah punya cowok.. Cowokku dulu ditakutin sama anak-anak lain.. Setahun pacaran, petaka itu datang.. Cowokku meninggal dunia karena kecelakaan.. Aku sedih, stress, dan depresi.. Aku datang ke rumahnya dan ngeliat dia udah terbujur kaku sampai aku antar dia ke pemakaman.. 3 hari aku masih ngerasa sedih dan gak terima.. Terus, cowok yang dulu pernah deketin aku itu hubungin aku dan ngajak aku jalan.. Dia bilangnya biar aku nggak sedih terus dan nggak stres.. Ya udah aku terima tawarannya.. Tapi, disitu aku ditipu.. Aku diculik sama dia.. Aku dibawa kerumah yang aku nggak tau itu rumah siapa.. Disana udah nunggu 4 orang.. Aku dipaksa masuk kedalam kamar.. Tanganku diikat ditempat tidur.. Bajuku dilepas paksa.. 2 orang pegangin kakiku dan aku dirudapaksa mereka secara bergilir.."
Rea : "Ya ampun.."
Riska : "Setelah itu, aku dilepas sama mereka.. Aku jalan pulang sendiri nangis kayak orang gila.. Sampai dirumah juga aku mulai stress dan hampir bunuh diri.. Selepas kejadian itu, aku jadi ketagihan dan kepengen terus, Kak.. Dan aku lampiaskan hasratku ke cowok-cowok lain supaya aku puas.."
Rea : "Adek.."
Riska : "Iya, Kak.. Kalo kakak mau jauhin aku, mendingan dari sekarang, Kak.. Daripada aku nanti makin sayang sama kakak dan itu buat aku sakit.."
Rea : "Nggak.. Aku ga bakalan jauhin kamu.. Aku akan tolongin kamu sampe kamu bener-bener sembuh.."
Riska : "Beneran, Kak ?"
Rea : "Bener.. Kalo perlu, aku habisin cowok-cowok yang ngegoda dan ngajak kamu berbuat lagi.."
Riska : "Makasih kakak.. Kakak baik banget..", sambil memelukku dengan erat..

Ternyata itu adalah alasan mengapa dia dibilang perempuan tidak benar.
Dia punya alasan mengapa dia seperti itu.
Aku sudah mengetahui akar masalahnya, dan aku harus selesaikan masalah ini dari akarnya.
Hari sudah sore, aku putuskan untuk mengantarnya pulang.

Rea : "Udah sore.. Balik yuk.. Aku anterin.."
Riska : "Hhmm.. Iya, Kak.. Oh iya, Kak.. Kakak mau nggak setiap hari ingetin aku sholat ? Aku udah nggak pernah sholat lagi semenjak kejadian itu.."
Rea : "Iya, nanti kita sholat sama-sama ya.."
Riska : "Hehehehe.. Iya, Kak.."

Aku berangkat menuju rumahnya Riska.
30 menit perjalanan, aku sampai dirumahnya.
Dia menawarkanku untuk mampir tapi, aku tidak bisa dan memutuskan untuk langsung kembali pulang.
Sesampainya dirumah, aku rebahkan tubuhku sejenak diatas tempat tidurku dan mengecek HPku.
Ternyata ada satu pesan yang belum terbaca.


Quote:


Setelah istirahat sejenak, aku duduk dikursi dan menyalakan PCku.
Aku ingin sekedar online saja dan membuka akun media sosialku.
Aku melihat foto-foto dari acara kemarin yang sudah diunggah.
Tak lama kemudian, ada yang mengirimkanku pesan.
Seseorang yang tak aku kenal.

Quote:


Ancaman pertama masuk.
Ini yang aku khawatirkan memang.
Pasti ada saja yang ingin menghalangi seseorang untuk berubah menjadi lebih baik.
Tetapi, aku tidak takut dengan ancamannya.
Seandainya dia datang kehadapanku, akan kuhabisi dia duluan.
JabLai cOY
JabLai cOY memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.