Setelah melambaikan tangan mengucapkan salam kepada pangeran Diponegoro bus yang kami tumpangi akhirnya melewati perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat situasi bus yang tadi ramai sekali mulai dari yang jualan tahu sampai kacang mendadak sepi hanya suara adu bakat dengkuran yang paling keras terdengar saling bersautan di belakang bus dan pastinya yang menang tiada lain dan bukan jagoan dari Antapani Nyi Ratu Kiky
Posisi kepala Nadia pada saat itu sedang bersenderan dengan jendela bus dengan alas bantal kecil yang gw juga ga tau bantal siapa tapi setidaknya dapat memberikan sedikit kenyamanan untuk dia, dengan kondisi jalanan yang tidak berliku-liku seperti kehidupan maksudnya seperti jalanan pegunungan di Jawa Barat mengurangi motion sick-nya Nadia kan ga keren kalo gw bilang cewe cantik kayak Nadia lagi mabok
Gw sebenarnya salah satu orang yang kalo nempel sama bentel ga lama kemudian langsung molor bahasa kerennya Pelor (nempel molor) tapi entah mengapa saat itu gw sulit memejamkan mata gw padahal gw yakin seyakin-yakinnya kalo gw sudah ngantuk sekali tapi entah mengapa mata gw sulit lepas dari wajah seorang cewe yang duduk disebelah gw, padahal ni anak lg tidur tp gw masih mau-mau malu melihat wajah cantiknya yang sedang terlelap
Rutinitas gw selama di perjalanan masih seperti itu curi-curi pandang ke Nadia kemudian mengawasi Si Supir yang sepertinya terkantuk-kantuk sewaktu menyupir mana si kernet kampret udah tidur, jadi ibaratnya gw betul-betul merasakan heaven and hell in the earth di sisi kiri gw bisa melihat cewe cantik dengan kecantikan maksimalnya sementara di sisi kanan gw melihat supir memacu kendaraannya sambil terkantuk-kantuk begitu seterusnya hingga gw mendengar deburan ombak dan suara pedagang menjajakan makanannya, dengan terkantuk-kantuk gw lihat sekeliling bus, kosong
“Sial gw ditinggal..

” Batin gw sambil melangkah keluar bus menuju arah datangnya suara ombak
“Baru bangun lu Yan?

” Tanya Uwiw sedang duduk bersama Nurul sedang menulis sesuatu di pasir pantai
“Iya Wiw..ko g ada yang bangunin gw?

” Balas gw sambil melirik paha putih Uwiw terlihat mulus akibat celana pendek yang dikenakannya
“Si Kiky udah teriak-teriak ngebangunin lu tau, tapi lu malah ga bangun-bangun

” Ucap Uwiw sambil melanjutkan pekerjaannya
“Pantesan gw ngerasa diteriakin maling..

” Ucap gw
“Nulis apaan Wiw?

” Tanya gw penasaran
“Ada deh..dah pergi sana ganggu mulu

” Ucap Uwiw
“Uwiw love Teguh..” Gw melirik tulisan tersebut sambil berlalu menuju laut biru yang luas
“IYANNN?!

” Kiky berteriak sambil berlari menuju gw yang belum sampai menginjak air
“Salah apa gw pagi-pagi didatengin rentenir..” Batin gw
“Apa Ky?

” Tanya gw ke pemenang adu bakat dengkur se-bus
“Ayo balik ke bus

” Ucap Kiky sambil menarik lengan gw
“Eh bentar gw baru turun Ky masa dah balik lagi

” Ucap gw hendak menarik lengan gw yang ditarik namun sia-sia
“Elu bangun kesiangan sih..udah jam berapa ini

” Kiky menyeret gw menjauhi pantai
“Setidaknya biarkan gw merasakan air laut parangtritis Ky!

“ Ucap gw memohon layaknya anak kecil merengek dibelikan aromanis ke ibu tirinya
Gw kemudian melambaikan tangan ke arah pantai yang bahkan kaki gw belum sempat merasakan desiran ombaknya, ini semua gara-gara orang tuanya Nadia, kenapa bisa-bisanya mereka memproduksi anak secantik Nadia sampai bikin gw ga bisa tidur, coba kalo Kiky gw pasti tidur cepat dan bangun cepat
Sesampainya di depan bus Kiky kemudian menyerahkan kertas berisi nama anak kelas disingkat daftar absen, dengan ekspresi bertanya-tanya gw memandangi daftar absen tersebut kemudian melirik ke arah Kiky
“Itukan tugas Lu Yan!

” Ucap Kiky mendahului pertanyaan gw
“Bukan itu yang mau gw tanyain Ky

lu maen serobot aja kayak angkot” Ucap gw, Kiky menatap gw dengan tajam
“Pulpennya mana?

” Tambah gw
“Oh iya lupa

, nih ga usah dibalikin” Ucap Kiky sambil menyerahkan pulpen hitam yang entah kemana tutup pulpennya, gw rasa ni pulpen harta rampasan perang soalnya ada bekas tulisan dari tipe-x yang sengaja dihapus
Sambil membaca daftar absen tersebut gw berjalan mengikuti Kiky masuk ke dalam bus, sambil berdiri di depan bus gw mengabsen satu-persatu anak kelas, ada yang menyaut dengan serius layaknya lagi perang, ada yang kebingungan, ada yang cuek, sampai akhirnya gw menyadari masih ada 2 ekor yang belum lengkap siapa lagi kalo bukan Panji dan Nandi, sementara Nadia sudah kembali duduk namun bukan di sebelah gw melainkan di sebelah Kiky

.
Baru turun dari bus gw mendapati Panji dan Nandi sedang berjalan menuju arah gw sambil mengucap syukur kepada Tuhan YME karena gw ga harus keliling-keliling nyari anak hilang gw pun kembali mengucap syukur bukan karena gw melihat Panji dan Nandi yang berjalan bergandengan tangan layaknya pasangan pelangi namun sesosok wanita yang berjalan dibelakangnya dengan poni menutupi jidatnya, rambut kuncir kuda Lyana tampak sporty hanya mengenakan kaos polos hitam dengan celana pendek sedengkul sedang bercengkerama dengan teman-teman kelasnya menuju busnya
“Si Lyana Yan?

” Tanya Panji membuyarkan lamunan gw
“Ehh..

” Gw hilang kata-kata tidak bisa mengeles atau menyangkal pertanyaan Panji yang mengenai gw tepat
“Tau aja lu yang bagus…

” Ucap Panji kemudian mengikuti gw melihat Lyana
“Emang barang..bagus

” Gw agak kesal karena ni anak juga ikutan ngeliatin Lyana
“Santay Yan..gw kalo saingan sehat,,kita play fair,,

” Ucap Panji
“Tapi yang gw denger Lyana dah jadian ama si Boy anak pak Rahmat

” Tambah Panji
“….

” Suatu pernyataan yang sebenernya tidak perlu gw dengar pagi-pagi gini
“Yah baru isu sih, good luck deh Yan

” Ucap Panji sambil meninggalkan gw
Perjalanan selanjutnya tidak ada yang istimewa gw dengan rajin dan telaten menunaikan tugas gw sebagai juru absen sampai rajinnya gw dinobatkan sebagai juru absen of the month, engga gw becanda, setelah makan pagi kami semua melanjutkan kegiatan rekreasi ke candi Borobudur dan Prambanan, sampai tempat kerajinan perak sebelum kami rombongan menginap di Hotel.
“Never expected I’m going to visited this Hotel once again in the future though…”
Kami pun berkumpul di lobby Hotel menunggu pembagian kamar, terlihat wajah para siswa sudah lelah, pembagian kamar cukup efisien dan hemat, untuk kamar ukuran king size maupun double bed dihuni oleh 4 orang, ya lu bayangin aja kalo kebagian king size bed, 1 kasur isinya 4 orang yang paling ga enak yang ditengah, bisa maen pedang-pedangan tuh.
Setelah pembagian kamar selesai, gw kebagian sekamar dengan Sandi, Nandi dan Panji, jodoh emang ga kemana selama seharian penuh gw ngejer-ngejer dua nama terakhir yang selalu menghilang.
“Cang..kacang..panjang..anu panjang..ucing!” Ucap kami berempat tengah mengundi siapakah pasangan yang akan tidur ditengah kasur
Hingga ronde kelima tidak ada yang mau mengalah hingga akhirnya putuskan untuk tidur dibawah dengan mengambil selimut, sementara Sandi terpaksa tidur ditengah-tengah Panji dan Nandi
“Kringggg..” Suara telepon di kamar Hotel berbunyi
“Haloo..

” Ucap Nandi
“Anjirrr..salah sambung!

” Sambung Nandi
“Kenapa Nan?

” Tanya Panji penasaran
“Ada yang iseng nanyain rumah makan

” Jawab Nandi
“Kringggg…” Suara telepon kembali berbunyi
“Lu yang angkat San..

” Ucap Nandi, Sandi kemudian mengangkat telpon tersebut
“Hoblohhh..” Ucap Sandi
“Kenapa San?

” Tanya Nandi
“Ga ada suaranya, tau-taunya suara cewe ketawa…

” Ucap Sandi, dan begitu seterusnya hingga akhirnya kami menghiraukan telepon yang berdering, sudah dipastikan pasti kerjaan anak-anak iseng yang ga ada kerjaan.
Setelah selesainya kegiatan makan malam Nandi dan Panji yang hilang entah kemana gw dan Sandi memutuskan untuk kembali ke kamar Hotel untuk beristirahat, setelah beberapa waktu menonton TV dan bersiap untuk bobo telepon kembali berdering.
“Yan angkat tuh telpon…berisik banget

” Ucap Sandi
“Lu aja lah lagi PW nih gw

” Ucap gw yang sudah terkapar di bawah lengkap dengan ranjang sederhana dari selimut
“Lu lah kan belum kebagian terima telpon tadi

” Ucap Sandi sambil memukul-mukulkan guling ke arah gw, kalo cewe yang mukul gemesin kalo cowo yang ngelakuin gilani.
“Halooo, dengan kantor Polisi

” Ucap gw,
“Eh kantor Polisi? Kirain kamar no 101

” Terdengar suara renyah cewe dari sebrang
“Iya mbak ada yang mau dilaporkan?

” Tanya gw kembali
“Kirain kamarnya Iyan maaf ya Pak

” Ucap cewe tersebut
“Iyan? Emang ada apa dengan Iyan?

” Tanya gw penasaran mendengar nama gw keluar dari cewe tersebut
“Huuu ini Iyan yah

” Ucap cewe tersebut
“….

” Gw pun tertawa
“Jail aja lu Yan..

” Tambah cewe tersebut
“Ini siapa?

” Tanya gw kembali
“Yan,,kamu berubah ya..beda sama dulu

” Ucap cewe tersebut
“Kamu?..

Cuma beberapa cewe aja yang nyebut gw dengan kata kamu” Batin gw
“Kamu ada waktu ga Yan nanti? Aku mau ke kolam renang nanti

” Ucap cewe tersebut
“Emang mau ngapain?

” Tanya gw
“Ya ngobrol aja sih

” Jawab cewe tersebut
“Boleh aja sih,,

” Ucap gw
“Okehhhh aku ke kolam renang sekarang ya

” Ucap cewe tersebut
“Eh bentar ini siapa?” Tanya gw sebelum menutup teleponnya
“Lyana…

”
PART EEN EN VEERTIG – INVITATION? - END