Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.7KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#3781
PART 57


Menjelang hari raya idul fitri tahun 2007 masehi di bulan oktober, Nenek Gua sudah berangkat ke Bandung setelah dijemput oleh Om Gua lima hari sebelum lebaran. Gua sendiri untuk pertama kalinya merasakan mudik bersama keluarga Echa. Saat itu kami berdua berangkat bersama Papah dan Mamahnya Echa, alias mertua Gua ke Solo dua hari menjelang lebaran.

Pertama kalinya Gua menginjakkan kaki di jawa tengah ini, sebuah suasana yang baru dengan banyaknya sawah serta udara yang asri membuat Gua cukup merasa nyaman berada di kota tersebut. Nanti malam adalah malam takbiran, Gua sedang duduk santai di teras rumah Eyang putri istri Gua dari Papahnya. Bentuk rumahnya unik dan bagus, model rumah joglo.

Istri Gua sedang pergi ke pasar bersama beberapa saudaranya, Gua lebih memilih bersantai di rumah ketimbang pergi jalan-jalan, lagian masih cukup banyak waktu sampai setelah lebaran kami berada di kota ini untuk mengunjungi beberapa tempat wisata.

Papah mertua Gua duduk di samping Gua, di kursi kayu.

"Gimana Za di sini suasananya ?", tanya beliau.

"Suasananya enak Pah, adem di sini", jawab Gua sambil menoleh kepada beliau.

"Ya memang masih asri di kampung ini",
"Beda dengan di kota yang mulai panas dan banyak toko modern",
"Dulu, Papah sering mandi di kolam, di depan situ, tepat di bawah pohon jambu itu", ucapnya seraya menunjuk sebidang tanah yang kini sudah tidak ada kolamnya.

"Oh dulu di situ ada kolam Pah.. Kenapa sekarang ditimbun ?", tanya Gua.

Papah mertua Gua tersenyum tipis sambil tetap memandangi tanah kosong yang sempat ada kolam disana.

"Sekitar umur delapan tahun, Papah kehilangan adik Papah, dia meninggal karena tenggelam di kolam itu",
"Waktu itu, dia masih berusia tujuh tahun, dan Papah sedang sekolah, dia tenggelam karena lepas dari pengawasan keluarga", jawab beliau.

Gua cukup terkejut mendengar alasan kolam itu ditimbun. Salah nanya ini sih. Jadi ngerasa gak enak hati Gua karena harus mengungkit kenangan pahit masa kecilnya dulu.

"Ehm.. Maaf Pah, Eza baru tau..", ucap Gua dengan nada pelan.

Papah mertua Gua itu menengok kepada Gua sambil tersenyum. "Za, kamu jagain Elsa ya, usahakan buat dia bahagia.. Apa yang selama ini dia impikan salah satunya sudah terwujud, menikah dengan lelaki yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil", ucap Papah mertua Gua tiba-tiba.

Entah kenapa topiknya malah beralih ke hubungan Gua dan anaknya. Tapi dari ucapannya itu Gua cukup mengerti dan paham, putri semata wayangnya itu adalah satu-satunya orang yang sangat ia sayangi dan cintai, tentunya selain istri beliau.

"Insha Alloh Pah, Eza buat dia bahagia semampu Eza", jawab Gua seraya tersenyum kepada beliau.

"Ya baguslah kalau begitu",
"Ada satu hal lagi Za, tunggu sebentar ya", ucap beliau seraya bangun dari duduknya dan masuk ke dalam rumah.

Hanya sebentar beliau sudah kembali lagi, tapi kali ini dengan sebuah map yang berada di dalam tas plastik bening, lalu Papah mertua Gua kembali duduk dan membuka tas serta mengeluarkan map tersebut.

"Ini coba kamu baca dulu", ucapnya seraya memberikan map tersebut.

Gua menerima map tersebut lalu membukanya. Gua melihat sebuah dokumen yang menunjukkan sebuah sertifikat sebidang tanah, alamat dan lokasinya berada di kota kami. Gua membaca dengan seksama sertifikat tersebut.

"Ehm, ini maksudnya gimana ya Pah ?", tanya Gua selesai membaca sertifikat tersebut.

"Itu, sertifikat tanah untuk kamu dan Elsa, kamu bisa bangun rumah di atas tanah tersebut", jawabnya.

Gua cukup terkejut mendengar jawaban beliau. "Mm.. Makasih sebelumnya Pah, tapi rasanya kami berdua belum membutuhkan..", ucapan Gua dipotong oleh Papah mertua.

"Sudah, itu kan atas nama Elsa, memang sudah Papah persiapkan untuk dia sejak lama, kalian gunakan untuk membangun rumah nanti",
"Soal kapan mulai membangun rumah tidak jadi soal, yang penting sudah ada lahannya dulu", ucap beliau seraya tersenyum kepada Gua.

Gua masih tidak percaya dengan apa yang beliau berikan kepada Gua dan istri Gua, entah istri Gua mengetahui hal ini atau tidak, karena selama ini Echa belum sekalipun membicarakan soal tanah tersebut.

"Sebelumnya Eza ucapkan terimakasih banyak Pah, ya mudah-mudahan Eza ada rejeki untuk membangun rumahnya nanti", jawab Gua sambil memikirkan beberapa hal tentang masa depan Gua dan Echa kelak.

Gua bersyukur atas apa yang Gua dan istri Gua terima saat ini, pemberian yang tidak pernah terlintas sedikitpun di benak Gua, apa yang sudah Tuhan berikan sekarang merupakan salah satu kejutan kebahagaiaan luar biasa. Dan rasanya dengan apa yang baru saja Gua terima ini sedikit membebani Gua, bukan Gua menolak atau apa, tapi inikan amanat yang tidak mudah, harus Gua jaga sebaik-baiknya dan membutuhkan usaha yang kuat dengan bekerja secepatnya agar rumah yang akan dibangun bisa cepat terwujud. Sudah barang tentu mertua Gua itu pasti menanyakan hal ini di kemudian hari.

Sekitar pukul lima sore, istri Gua dan saudaranya sudah pulang. Ya dasarnya wanita, tidak jauh dari belanja baju, yang awalnya ke pasar hanya untuk sekedar membeli bahan makanan malah belanja yang lain, dan bahan masakan untuk berbuka malah beli masakan matang. Cewek tuh ya.. Hadeuh... emoticon-Nohope

Waktu berbuka puasa telah tiba, Gua dengan keluarga istri Gua makan bersama di dalam rumah, dan karena banyaknya keluarga yang berkumpul, kami semua makan dengan duduk di bawah beralaskan karpet.

"Sayang mau cobain ini ? Enak loch", tawarnya yang duduk di samping Gua.

"Gulai ?".

"ya mirip, tapi kalo disini namanya tengkleng Za.. Cobain deh".

Gua mencicipi tengkleng yang di sodorkan kepada Gua, dan... "Ini mana dagingnya Cha ? Tulang doang gini sih", protes Gua.

"Hehehe.. Emang gitu sayang, dagingnya sedikit, banyaknya jeroan sama tulang".

"Lah kok malah tulang doang sih, aneh-aneh aja".

"Tapi enakkan ?".

"Lumayan daripada lu manyun".

"Yee dasar.. Udah abisin Za".

"Ogah ah, suruh ngabisin tulang.. Eh.. Pantes ya kamu gak makan ini masakan, jeroan doang sih.. Bisaan yang kek gini dikasih ke suaminya".

"hahaha.. Iyalah, mana aku mau makan jeroan Za, kolesterol hihihi..".

Gitu tuh istri Gua, makanan beresiko penyakit kolesterol dan yang cukup berbahaya bagi kesehatan malah dikasih ke suami. emoticon-Nohope

Malam hari setelah berbuka puasa, Gua dan istri jalan-jalan menggunakan motor matic milik saudaranya. Mengitari kota Solo. Menikmati malam hari di kota yang baru Gua singgahi selama ini. Suasananya membuat Gua cukup betah, apalagi masyarakatnya yang memang ramah-ramah, cuma satu sih faktor kendala bagi Gua. Bahasa, yap Gua sama sekali tidak menguasai bahasa jawa. Sekalipun sahabat-sahabat Gua di rumah Nenek rata-rata berasal dari jawa tengah dan jawa timur, tapi mereka jarang menggunakan bahasa daerah mereka. Apalagi Gua yang memang terlahir di jawa barat, benar-benar tidak menguasai bahasa daerah lain selain bahasa sunda. Itupun bahasa sunda yang kasar bukan yang halus. emoticon-Hammer

Banyak cah ayu rupanya di kota ini, gadis-gadis muda belia yang memiliki paras ayu nan manis, asli bumi pertiwi, lumayan memanjakan mata Gua, tapi kan Gua sekarang sedang jalan bareng provost nih, tidak bisa tebar pesona lah Gua, jurus dan pesona Gua harus Gua simpan rapat-rapat kalau tidak mau membangunkan macan betina yang sedang duduk manis di jok belakang.

"Ini kita mau kemana nih Cha ?", tanya Gua sedikit berteriak karena sedang mengendarai motor.

"Muter-muter aja Za, jalan-jalan hehehe... Nanti kalau ketemu tempat yang menurut kamu asyik buat nongkrong, berhenti ajaa.." jawabnya dari belakang.

Gua pun mengarahkan motor sesuka hati, mengikuti jalan raya dan berbelok kesana-kesini, entah tujuan mana yang akan Gua singgahi. Beberapa pengendara lainnya mulai memadati jalan raya yang tergolong sempit alhasil terjadi sedikit kemacetan, padat merayap lah, maklum malam takbiran juga sih.

Semaki jauh Gua mengendarai motor bersama istri, semakn ramai pula warga yang jalan malam seperti kami, sampai akhirnya Gua hentikan motor di pinggir jalan ketika Echa menepuk bahu Gua dari belakang.

"Kenapa Cha ?", tanya Gua sambil menengok sedikit ke belakang.

Istri Gua turun dari motor dan melepaskan helmnya. "Beli kembang disitu dulu ya Za", ucapnya.

Echa sedang tawar-menawar dengan penjual bunga, bunga sedap malam dan juga berbagai campuran bunga di kantung plastik. Setelah membeli beberapa bunga yang cukup banyak. Kami berdua kembali naik motor dan menuju satu tempat yang cukup ramai kata istri Gua. Lumayan jauh kami berdua berkendara, hingga sampai di jalan wirengan. Lalu Gua memarkirkan motor di area yang telah disediakan.

"Ini pasar malem ?", tanya Gua sambil berjalan dan memeluk bahu istri Gua yang berada di sisi kanan.

"Ini namanya Alkid Za..", jawabnya.

"Alkid ?".

"Alun-alun kidul", jawab Echa.

"Oh singkatan, hahaha..".

"Tuh banyak yang dagang makanan, kamu mau beli apa ?", ucapnya sambil menawari Gua jajanan yang dijajakan banyak pedagang di sekitar kami.

Gua memandangi sekitar, lalu sepertinya Gua tertarik dengan bakso bakar yang dijajakan. Btw, kebanyakan penjual bakso bakar yang berjualan di sini, ada sih yang jual jagung bakar, nasi liwet, wedang ronde dan sebagainya. Tapi yang menarik perhatiaan Gua saat ini adalah bakso bakar tadi. Entah mungkin karena saking banyaknya yang berjualan makanan tersebut membuat Gua ingin mencobanya.

Setelah membeli bakso bakar, Gua pun mencicipi makanan tersebut sambil kembali jalan-jalan di Alkid bersama istri Gua, rasa bakso bakarnya pedas manis, maksud Gua saat itu Gua memilih rasa tersebut dari banyaknya pilihan rasa yang ditawarkan.

"Itu di sana, di sebrang ada keraton", ucap Echa ketika kami masih berjalan, sambil menunjuk jauh kearah depan kami.

"Keraton Solo ?", tanya Gua sambil mengunyah bakso bakar.

"Iya, Keraton Surakarta Hadiningrat namanya".

"Kamu sering kesini ya ?".

"Setahun sekali Za, kalo libur sekolah waktu SMP sama SMA aja, ya kayak sekarang gini, banyak yang berubah sih.. Beda sama dulu".

"Sekarang bedanya apa Cha ?".

"Bedanya ? Perkembangan zaman ?", ucapnya mencoba mejawab maksud pertanyaan Gua tentang perbedaan kota kelahiran Papahnya ini.

Gua terkekeh pelan lalu berhenti berjalan yang diikuti oleh istri Gua juga, lalu Gua berdiri menghadap ke istri Gua, menatap matanya lekat-lekat sambil tersenyum.

"Bedanya sekarang kamu di sini sama aku, suami kamu".

Istri Gua tersenyum lebar lalu memeluk Gua dengan erat. Tidak peduli dengan keadaan sekitar yang cukup ramai, dan beberapa pasang mata dari penikmat malam di alkid seperti kami ini memandangi kami sambil melintas. Gua tertawa pelan ketika dari beberapa orang itu tersenyum geli, mungkin pikir mereka Gua dan Echa adalah sepasang muda-mudi yang baru pacaran. Ah biarlah, tapi kami memiliki hubungan yang lebih dari sekedar apa yang mereka fikirkan.

...

Pagi hari Gua bersama Papah mertua dan keluarga istri sudah berada di masjid, untuk melaksanakan shalat ied. Setelah melaksanakan shalat ied, Gua duduk mendengarkan khutbah di shaf kedua dari depan, bersama Papah mertua Gua di samping kanan. Setelah selesai, lalu kami saling mengucapkan selamat hari raya dan tidak lupa saling memaafkan di hari yang fitri ini.

Beres dari masjid, Gua pulang ke rumah Eyang putri istri Gua dengan berjalan kaki bersama keluarganya, jaraknya tidak begitu jauh. Sesampainya di rumah, kembali kami semua saling memaafkan, sungkem kepada Eyang putri dan saudara lainnya.

Gua duduk di kursi kayu teras depan, tidak lama istri Gua keluar dari dalam rumah dan bersimpuh di dekat kaki Gua, dia tersenyum lalu mencium tangan Gua. Lalu meyandarkan kepalanya ke paha ini seraya memohon maaf. Gua mengelus lembut kepalanya yang terbalut hijab berwarna putih, senada dengan warna pakaiaan yang ia kenakan di hari ini. Kemudian Gua angkat tangannya agar dia bangun lalu Gua memeluknya.

"Mohon maaf juga ya sayang kalo selama ini aku punya salah sama kamu", ucap Gua sambil mendekapnya dan berbisik tepat di samping telinganya yang tertutup hijab.

"Iya.. Aku maafin kamu kalo ada salah, aku juga minta maaf ya sayang, semoga aku bisa jadi istri yang solehah dan bisa menjaga rumah tangga kita, mengurus kamu dan anak kita kelak", jawabnya yang menyandarkan dagu ke bahu Gua.

"Aamiin, sama-sama Cha, semoga aku juga bisa jadi kepala keluarga yang amanah dan bisa bahagiain kamu", balas Gua lagi seraya mengusap punggungnya.

Setelah itu Echa melepaskan pelukkannya dan menyeuka airmatanya yang sudah membasahi pipinya dengan tissu.

Gua tersenyum dan tanpa terasa mata Gua pun mulai bekaca-kaca. Sebelum airmata ini tertumpah, Gua buru-buru mengganti topik. "Cha.. Kopi atuh, heheehee..".

Istri Gua tersenyum sambil tetap mengusap airmatanya lalu bergegas ke dalam rumah lagi untuk membuatkan Gua secangkir kopi.

Setelah menikmati secangkir kopi yang disandingkan dengan menghisap racun, Gua diajak makan khas menu lebaran, selesai makan bersama, kami semua pergi menggunakan mobil ke sebuah pemakaman yang terletak cukup jauh dari kediaman Eyang putri Echa. Sesampainya di sana seperti kebanyakan orang, kami melakukan ziarah kubur sambil menaburkan bunga ke makam alm. Kakek nya Echa.

Selesai dari makam, Gua menelpon Om Gua untuk mengucapkan mohon maaf lahir bathin kepadanya, lalu kepada Nenek dan Tante Gua juga. Kemudian telpon Gua berikan kepada istri Gua yang juga ingin memohon maaf kepada keluarga Gua lewat telpon. Lalu siang hari kami sekeluarga pergi ke salah satu tempat wisata yang berada di kota ini.

Banyak sebenarnya tempat yang kami kunjungi, hingga malam hari kami baru kembali pulang ke rumah. Sekitar pukul delapan malam setelah Gua melaksanakan shalat isya berjama'ah bersama keluarga istri Gua, sekarang Gua dan istri sedang duduk bersebelahan di atas kasur, di salah satu kamar yang disediakan untuk kami berdua. Gua sedang menatap layar kamera dslr milik Echa, dengan perlahan ia menekan tombol next untuk melihat setiap foto yang tadi siang kami abadikan.

"Yang ini bagus ya..", ucap istri Gua mengomentari salah satu foto kami berdua yang berlatar sebuah keraton.

"Iya, ini yang dimana ya tadi Cha ?".

"Ini waktu tadi di keraton hadiningrat, deket alkid semalam".

"Ooh iya iya.. Kalo siang beda banget ya ama malem".

"Kalo malem banyak banget yang ke alkid sama yang jualan kayak kemarin, makanya tadi siang kamu fikir lapangan biasa ya hihihi..".

"Iya.. Eh rencananya kapan kita pulang Cha ?", tanya Gua mengalihkan topik.

Echa menoleh kepada Gua sambil tersenyum. "Kenapa ? Gak betah ya di sini ?", tanyanya lembut.

"Oh bukan hahaha.. Aku betah kok, suka suasana di sini, cuma aku kangen Nenek aja", jawab Gua jujur.

"Nenek kan pulang dari Bandung tiga hari setelah lebaran Za".

"Iya sih.. Hahaha.. Yaudah jangan dipikirin", jawab Gua.

"Oh, atau kita mau susul ke Bandung ?", tanyanya lagi.

"Eh jangan, enggak usah, cape lagian Cha.. Jauh dari sini",
"Udah gak usah dipikirin, tenang aja, aku nikmatin liburan di sini kok".

Echa mengecup pipi kiri Gua lalu tersenyum.

...

Sekarang sudah hari kelima Gua berada di Solo sejak sampai dua hari sebelum lebaran kemarin. Cukup banyak tempat yang Gua dan Echa singgahi, ke beberapa tempat wisata dan mencoba kuliner di kota ini dari kemarin hari. Dan hari ini rasanya Gua cukup beristirahat saja tanpa pergi kemana-kemana lagi. Tapi istri Gua dan Mamah mertua Gua pergi ke pusat penjualan oleh-oleh dari pagi hari, karena esok hari kami akan pulang lagi ke jawa barat.

Gua hanya duduk santai saja di teras depan rumah ketika istri Gua dan Mamahnya juga saudaranya yang mengantar mereka kembali lagi, Gua cukup terkejut melihat banyaknya belanjaan yang mereka beli, oleh-oleh sebanyak itu sepertinya diperuntukkan untuk relasi Papah mertua Gua.

Singkat cerita keesokan harinya kami sudah kembali pulang ke rumah. Home sweet home...

Gua langsung memeluk Nenek dan meminta maaf kepada beliau ketika Gua dan istri baru sampai di rumah, lalu istri Gua pun melakukan hal yang sama. Selesai bercengkrama dengan Nenek, Gua dan Echa masuk ke dalam kamar Gua, rasanya lelah badan ini walaupun hanya duduk di dalam mobil selama perjalanan. Gua bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan langsung rebahan di kasur setelah berganti pakaiaan.

"Mau aku buatin kopi Za ?", tanya istri Gua ketika baru saja keluar dari kamar mandi di dalam kamar ini.

"Enggak deh Cha makasih, nanti aja... Eh kamu laper gak ?", tanya Gua sambil memiringkan tubuh di atas kasur.

"Laper sih, tapi emang ada makanan ya ? Kan Nenek juga baru datang tadi pagi katanya".

"Iya kayaknya Nenek gak masak apa-apa.. Kita beli di luar aja ya Cha, makan bareng sama Nenek di rumah".

"Okey, aku ganti baju dulu ya", ucapnya sambil membuka lemari pakaian.

Selesai mengganti baju, istri Gua lalu mengajak Gua keluar untuk membeli makanan. Kami berdua menggunakan mobil untuk mencari makanan, sesampainya di warung tenda yang menjual pecel ayam dan lele, kami memesan tiga porsi berikut nasinya. Sambil menunggu pesanan jadi, Gua keluar dari warung tenda dan menunggu berdiri di depan mobil sambil menyalakan rokok. Sedangkan istri Gua duduk di dalam warung tenda tersebut.

Masih asyik menghisap rokok, sebuah mobil berhenti dan parkir tepat di samping mobil Gua, lalu seorang wanita turun dari pintu kemudi bersama seorang wanita lainnya dari pintu samping. Ketika salah satu dari mereka sudah masuk ke dalam warung tenda, dan yang satunya masih berada di depan Gua hendak masuk ke dalam, Gua memanggilnya.

"Luna...", ucap Gua sedikit meninggikan suara agar terdengar olehnya.

Luna menengok ke samping kiri, dimana Gua berdiri tepat di depan mobil. "Hai.. Eza.. Lagi apa ?", tanyanya ketika sudah melihat Gua lalu dia berjalan menghampiri.

"Lagi beli makan, sama Echa juga", jawab Gua sambil tersenyum.

"Oh, aku juga lagi pingin pecel, eh istri kamu mana ?".

"Ada di dalem lagi nungguin pesanan".

"Oh, gak makan di sini ?".

"Enggak Lun, dibungkus aja, buat Nenek sekalian..",
"Oh ya, kamu sama siapa tadi ?", tanya Gua.

"Oh perempuan yang tadi, itu adik aku..", jawabnya.




*
*
*

emoticon-flowerHey soul sister emoticon-flower
I don't wanna miss a single thing you do... Tonight.
Diubah oleh glitch.7 16-05-2017 15:57
dany.agus
fatqurr
kadalbuntingzzz
kadalbuntingzzz dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.