- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#3727
PART 56
Ketika adzan maghrib berkumandang, Gua, Echa dan Nenek sudah duduk di kursi ruang makan, masakkan yang Nenek dan istri Gua masak sudah tersaji di atas meja makan di depan kami. Segelas teh manis hangat disodorkan kepada Gua oleh Echa, lalu dia duduk di kursi samping Gua.
Setelah membaca do'a buka puasa, kami pun membatalkan ibadah saum hari ini dengan meneguk air mineral.
"Alhamdulilah.. Kamu mau aku ambilkan kolak pisang ?", tanya Echa setelah meminum air mineral.
"Makasih Cha, tapi nanti aja, lagi gak pengen aku.. Ini aja dulu", jawab Gua seraya mengangkat gelas berisi teh manis hangat lalu meminumnya.
Kemudian Echa dan Nenek menyantap kolak mereka masing-masing, sedangkan Gua hendak beranjak ke depan untuk merokok. Gua membawa segeles teh manis tadi ke depan teras, dan menikmati sebatang rokok yang baru saja Gua bakar. Lalu Gua duduk diatas sofa depan kamar, menikmati suasana sore hari yang diiringi dengan suara adzan maghrib dari masjid yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Nenek.
Gua baru menghabiskan rokok setengah batang ketika istri Gua keluar dari pintu kamar sambil membawa semangkuk kolak miliknya tadi. Lalu dia duduk tepat di samping Gua.
"Maghrib kok malah di luar Za", ucapnya.
"Lagi ngerokok dulu Cha, hehehe...", jawab Gua seraya menghembuskan asap rokok ke sisi lain.
"Buka puasa langsung ngerokok kamu tuh, hmm..", Echa menatap kepada Gua sambil menyendok kolak pisang dari mangkuk yang ia genggam.
"Hehehe, maklum ya, aku kan perokok, abis buka males langsung makan, suka mules perut.. Jadi teh manis sama rokok juga cukup".
"Yaudah masuk yuk, di dalem aja ngerokoknya, yuk..", ajaknya seraya bangun dari duduk.
Akhirnya Gua pun menuruti istri Gua, kami berdua masuk ke dalam kamar, lalu Echa mengunci pintu kamar dari dalam, Gua duduk di tepian kasur setelah mengambil asbak dari meja belajar. Kemudian Echa duduk di sisi kasur lainnya setelah dia menaruh mangkuk kolak yang belum ia habiskan.
"Sayang, aku mau nanya boleh ?", ucapnya kali ini sambil menggeser duduknya mendekati Gua.
Gua tersenyum kepada Echa. "Boleh lah, mau nanya apa ?", tanya Gua balik.
Echa memainkan ujung kaos yang ia kenakan sambil menundukkan kepala sedikit. "Kamu.. Sama Luna kenal dimana ?", tanyanya kali ini seraya menoleh kepada Gua dengan tatapan sedikit sayu.
Gua kembali tersenyum dan mematikan rokok yang memang hampir habis ke asbak di atas lantai kamar, lalu Gua meneguk cukup banyak teh manis hangat dan kembali menaruhnya.
"Aku kenal sama dia waktu jemput Mba Yu di sekolahnya dulu", ucap Gua mulai bercerita sambil menyerongkan tubuh kearah istri Gua itu.
"Mm.. Maksud kamu, Mba Yu dan Luna itu satu sekolah ?".
Luna, ketika tadi sore dirinya bertamu, kami berdua mengobrol di ruang teras depan kamar Gua, tentunya bersama Echa dan Nenek Gua. Hanya obrolan santai dan saling menanyakan kabar yang kami obrolkan tadi. Sempat Echa dan Nenek mengajak Luna untuk makan bersama dengan kami ketika akan berbuka puasa, tapi Luna mungkin sungkan dan memilih untuk pulang, Gua sempat bertukar nomor hp kali ini dengan Luna, yang tentunya sudah mendapatkan izin dari istri Gua. Oh ya, Nenek dan Echa tau kalau Luna ini non-muslim.
Gua mengangguk cepat. "Iya, mereka teman sekolah dulu.. Tapi..", Gua menahan ucapan Gua sambil memalingkan muka sedikit dari tatapan istri Gua itu.
"Tapi kenapa Za ?".
Akhirnya Gua pun menceritakan bagaimana Gua mengenal Luna dari awal dan bagaimana hubungan kami yang selama ini jarang berkomunikasi hingga sekarang. Setelah apa yang Gua lalui selama ini, Gua tidak pernah menutupi cerita apapun yang istri Gua ingin ketahui. Sedetail-detailnya, seburuk apapun cerita tersebut pasti Gua katakan kepada istri Gua ini, sekalipun ia merasa cemburu, marah atau bahkan terkejut dengan segala prilaku Gua yang belum ia ketahui, Gua tetap menceritakannya, karena kejujuran adalah hal yang utama dalam membina rumah tangga. Echa akhirnya mengetahui siapa Luna bagi Mba Yu, yang bisa dibilang sebagai musuh, memang hubungan Mba Yu tidak baik dengan Luna selama ini, apalagi sampai kejadian ketika Gua dan Luna berciuman di kamar ini dan diketahui oleh Mba Yu. Semakin buruk saja hubungan keduanya, dan imbasnya, putuslah hubungan Gua dengan Mba Yu saat itu.
Istri Gua terkejut ketika dia akhirnya mengetahui alasan yang sebenarnya Gua putus dengan Mba Yu di masa lalu, istri Gua menggelengkan kepalanya sambil menatap Gua tajam.
"Emmmang yaaaa... Kamu itu resee!! Hiiihh!".
Kyuuuuttt...asli Gua gak bohong, kalau istri Gua udah ngeluarin 'Jubir' nya, alias 'jurus cubitan melintir' nya, ampun ampunan Gua Gais.. Sakiiitt pake banget plus perih sareung peurues bray!!

"Aaaww.. aw aw awww.. Ampun sayang, ampuuun, sakit sakit sakit sakiiitt, udaahh..", ringis Gua menahan sakit karena lengan kiri Gua itu kena jubir nya tadi.
"Mau nakal lagi sama Luna ?! Iya ?!!", cecarnya tanpa sedikitpun mengendurkan cubitannya itu.
"Enggaaak.. Sumpah enggak lagi lagi.. Aku gak nakal sama Luna, Luni, Lusi siapa lah pokoknya.. Enggak asli.. Adudududuuuh.. Sakiittt..".
"Awas kalo macem-macem sama Luna!", ancamnya dengan wajah yang menakutkan, matanya melotot coy.
"Iya enggak Cha.. Enggak sumpah deh.. Aduuh.. Sakit ini", jawab Gua sambil mengelus-ngelus lengan yang ia cubit tadi.
Istri Gua berdiri dari duduknya lalu berkecak pinggang sambil menatap Gua tajam yang masih duduk dibawah.
"Awas ya kamu! Kalo berani main perempuan lain! Aku sumpahin jojo gak bisa bangun seumur idup!", ultimatumnya kali ini serasa petir yang menggelegar di siang bolong...
Modyaaarrr, baru ini wanita yang ngancemnya nyumpahin pusaka Gua sampe gak bisa bangun kalau Gua macem-macem. Mana istri sendiri pula yang ngomong. Gak nyangka Gua, galak dan sadis juga dia. Varah benerrrr
"Iya beneran gak akan nakal lagi", ringis Gua sambil menahan perih dengan nada suara sangat pelaaaan sekaliii.
"Yaudah ayo ambil wudhu, shalat maghrib berjama'ah", ucapnya lalu dia masuk ke kamar mandi di dalam kamar Gua untuk mengambil wudhu.
...
Selesai melaksanakan ibadah maghrib berjama'ah dengan istri dan Nenek Gua, kami menyantap makanan di ruang makan bersama-sama, selesai itu, Gua kembali merokok di sofa teras depan kamar yang tentunya sudah mengenakan baju koko serta kopiah. Sekedar menunggu waktu shalat isya dan juga shalat tarawih di masjid nanti.
Istri Gua keluar kamar dan menutup pintunya, serta menguncinya dari luar. Lalu dia duduk di samping Gua. Istri Gua ini terlihat cantik alami karena sudah mengenakan mukena dan sajadah yang ia genggam di depan dadanya.
"Za, berangkat sekarang ke masjid yuk..", ajaknya.
"Sebentar lagi Cha, lagian masih lama mulainya", jawab Gua sambil melirik jam pada pergelangan tangan kiri.
"Hmm..",
"Oh iya, sahur mau aku masakin apa ? Soalnya pasti kamu gak akan mau makan menu yang sama", ucapnya seraya merapihkan mukenanya.
Ah dia sudah hafal kebiasaan Gua sekarang, Gua memang kurang suka menyantap makanan yang sama dalam satu hari. Kecuali lagi bokek sih.
"Aku udah lama gak makan mie, kamu bikinin mie instan aja ya, yang goreng tapi, pakai telur jangan lupa sama cabai diiris", jawab Gua.
"Kok cuma mie ? Nanti gak ada gizi ama tenaganya loch".
"Enggak apa-apa, aku lagi pingin makan mie soalnya...".
"Yaudah deh.. Tapi ditambah sama nugget ya, aku beli nugget tadi", lanjutnya.
Gua mengangguk mengiyakan ucapannya itu. Lalu tidak lama kemudian kami berdua pergi ke masjid setelah sebelumnya Nenek keluar dari pintu utama rumah dan mengajak kami berangkat.
Gua melaksanakan shalat isya dan tarawih di masjid bersama Unang dan Icol yang duduk di samping kanan-kiri Gua di dalam masjid saat itu.
"Coy, gimana liburan kemaren di singaparna ?", tanya Icol ketika tarawih masih dalam sesi ceramah.
"Singaparna.. Singapura coy, malu-maluin aja Lu ah", balas Gua.
"Hehehe sama aja lah..".
"Ya gitu aja Col, asyik sih.. Ngomong-ngomong sorry yak gak kebagian oleh-oleh", jawab Gua lagi.
"Parah Lu, Gua doang ama Robbi yang gak kebagian, heuh!", ucapnya sok-sok kesal.
"Hehehe.. Diabisin ama anak-anak laen coy, sorry sorry dah.. Nanti gantinya Gua traktir Lu aja makan roti bakar tar malem di simpangan sono, mau kagak ?".
"Weh, mau banget, asli nih ya.. Jangan kabur Lu".
"Asli lah, kapan Gua bokis sih.. Jam sepuluhan aja yak", ucap Gua lagi.
"Okey deh, si Unang ajak noh jangan lupa", ucap Icol sambil melirik kepada Unang yang berada di sisi kiri Gua.
"Nang tar malem kita makan roti bakar yak, jam sepuluh", ajak Gua kepada Unang.
"Hehehe.. Sip sip.. Tapi Lu minta izin dulu ama bini sono, tar gak boleh keluar malem lagi, repot urusannya", jawab Unang mengingatkan.
"Okey, insha Alloh ngasih izin dia ma", jawab Gua lagi.
Setelah itu kami semua yang berada di masjid melakasanakan shalat tarawih.
...
Sekitar pukul sembilan malam kurang, Gua sudah berada di rumah lagi. Gua bersama istri Gua sekarang ada di kamar. Gua merebahkan tubuh diatas kasur sambil menonton Tv. Sedangkan istri Gua sedang berganti pakaian tidur di kamar mandi dalam kamar ini. Tidak lama kemudian Echa keluar dari kamar mandi.
"Cha, sini deh", ucap Gua sambil memintanya mendekati Gua.
"Iya..", jawabnya sambil menaruh mukena ke dalam lemari lalu berjalan kearah kasur,
"Kenapa Za ?"..
"Sini duduk disini dulu, aku mau ngomong", ucap Gua lagi sambil menepuk-nepuk kasur di samping Gua.
Lalu Echa duduk di samping Gua, diatas kasur, Gua pun merubah posisi dari tiduran jadi duduk dan menyandarkan punggung ke dinding kamar di belakang Gua.
"Ada apa Za ?", tanyanya lagi.
"Aku nanti jam sepuluh mau keluar sama Unang dan Icol", jawab Gua.
"Loch malem banget, mau kemana ?", tanyanya heran.
"Aku mau makan roti bakar di simpangan sana itu", jawab Gua lagi,
"Boleh enggak ?".
Echa menatap wajah Gua, wajahnya pura-pura berfikir. "Hmmm... Aku ikuuuttt..", ucapnya sambil menyeringai lebar lalu tertawa.
"Hahaha... Dasar, yaudah iya.. Kirain kamu gak mau ikut", ucap Gua sambil mengacak-acak rambut depannya.
"Huuu... Udah lama tau gak makan pisang bakar di situ..", jawabnya sambil memanyunkan bibirnya.
Lalu Gua menarik pinggangnya dan mengecup keningnya. "Duh, manjanya istrikuuu..", rajuk Gua sambil mendekapnya.
Echa hanya tertawa pelan lalu menyandarkan kepalanya ke dada Gua. Tangannya melingkar ke pinggang ini.
"Cha".
"Heum ?".
"Mau atuh".
"Iiishh.. Dingin tau mandi sebelum saur..", jawabnya sambil memeletkan lidah.
jir 'pengen' Gua bulan puasa iki.. 
...
Pukul sepuluh malam, Gua, Echa, Icol dan Unang sudah berada di warung tenda roti bakar dekat komplek rumah kami. Saat itu, Gua dan istri menggunakan motor, si RR, sedangkan Unang dan Icol naik motor milik Unang.
Kami memesan tiga roti bakar untuk kami masing-masing dan satu pisang bakar untuk istri Gua. Sambil menyantap makanan, kami mengobrol banyak hal, dari mulai perkuliahan Gua dan Echa, sampai akhirnya menanyakan status kedua sahabat Gua itu yang ternyata masih jomblo.
"Za, Lu gak mau nyoba bisnis laen ? Distro gitu Za, lagi bagus keknya Za sekarang", ucap Unang sambil mengunyah roti bakarnya.
"Hmm.. Kurang menurut Gua Nang",
"Terlalu banyak.. Eh iya.. Gua malah kepikiran buka usaha barber shop nih", jawab Gua tiba-tiba kepikiran membuka usaha baru.
"Wah, itu dia yang oke keknya Za", timpal Icol.
"Hm, boleh juga sih Za, tapi mau tipe barber shop yang gimana ? Standar ? Apa modern ngikutin gaya jaman sekarang ?", tanya Unang.
"Dua-duanya, fleksibel lah, kudu bisa ngikutin perkembangan zaman, yang jelas potongan standar juga pasti da bisa tuh kapster..", jawab Gua.
"Iya juga ya, boleh tuh sayang ide kamu", ucap istri Gua mengamini niatan Gua itu.
"Cariin lahan Nang, sewa aja dulu kalo bisa, jangan mahal-mahal hehe, baru kalo udah itu cari kapster nya, ya dua orang juga cukuplah", timpal Gua lagi.
"Siap bos, tar gw cariin lokasi yang oke ama harganya yang pas di budget Lu, oh ya kalo pegawai ehm... Nih sebelah Gua jago Za, lupa ente, hehehe", jawab Unang sambil menyenggol lengan Icol dengan sikutnya.
"Oh iya ya.. Si Lau kan jago motong rambut Col.. Gimana sob ? Mau ?", tanya Gua kepada Icol.
"Bisaa diatuuurr.. Asal bayarannya cocok ma beresss.. Hehehe", jawab Icol sambil tertawa.
"Hahaha.. Jangan mahal-mahal lah, baru mau usaha ini Col, hehehe..".
"Hehehe tenang Za, bisa diomongin belakangan itu ma, santai aja, yang penting cari tempat dulu", jawab Icol.
"Oke sip deh", balas Gua lalu kami pun kembali menghabiskan makanan kami masing-masing.
Singkat cerita kami pulang ketika malam sudah semakin larut, waktu itu Gua dan Echa sampai di rumah Nenek pukul sebelas malam. Setelah bersih-bersih, kami berdua pun tidur untuk mengistirahatkan tubuh hingga nanti bangun lagi untuk sahur.
Istri Gua membangunkan Gua ketika jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Gua pun bangun dan menuju kamar mandi untuk cuci muka setelah mengumpulkan kesadaran 100%. Beres mencuci muka, Gua berjalan kearah ruang makan, disini ternyata sudah ada Nenek yang sedang menyantap makanannya sambil menonton Tv.
Gua duduk di sebrang beliau.
"Sahur Za..", ucap Nenek.
"Iya Nek, nunggu mie nya mateng dulu tuh, lagi dimasakin Echa".
"Kok malah makan mie, gak makan nasi sama sayur tuh ?", tanya Nenek sambil melihat ke menu sahur di atas meja makan.
"Lagi kepingin makan mie, udah lama gak makan mie heheh...".
Tidak lama kemudian istri Gua duduk di kursi samping kanan Gua, dia menaruh mie goreng instan dengan dua potong nugget dan memberikannya kepada Gua. Sedangkan Echa memakan masakan yang ia masak dengan Nenek tadi sore.
Kami makan dengan khidmat dan khusyuk. Ya gini lah, Echa dan Nenek kan sama, sama-sama tidak pernah bicara saat sedang makan, kecuali ada obrolan yang penting dan mendesak. Singkat cerita kami semua sudah menghabiskan makanan kami masing-masing, Echa mencuci piring kotor, sedangkan Nenek membereskan makanan yang masih ada dan menaruhnya ke lemari makan.
Gua kembali ke luar kamar, tapi Gua tidak duduk di sofa teras, melainkan Gua berdiri di antara jalan masuk halaman dengan teras ini. Baru saja Gua membakar sebatang rokok dan menghembuskannya, dua orang wanita lewat, dan berjalan di depan rumah dari arah luar komplek ke dalam.
"Mba Siska... Meli...", panggil Gua sedikit berteriak.
Mereka berdua menengok kearah Gua lalu berhenti di tengah jalan depan rumah.
"Hai Za, lagi apa ?", tanya Mba Siska.
"Abis sahur aku Mba, ini lagi ngerokok", jawab Gua sambil mengacungkan rokok yang berada diselipan jemari tangan.
"Ngerokok mulu kamu.. Echa mana Za ? ", tanyanya lagi.
"Ada Mba di dalem, lagi cuci piring",
"Eh pada darimana ?".
"Abis beli makanan untuk sahur Za, Ibu lagi gak masak", jawab Mba Siska,
"Yaudah aku pulang dulu ya Za, ditungguin Ibu soalnya..",
"Salam untuk istri kamu ya", ucapnya sebelum kembali melangkah.
"Mari Mas Eza", ucap Meli juga.
"Oh iya iya, nanti di salamin.. Hati-hati Mba.. Mel..", jawab Gua.
Mba Siska hanya mengangguk sambil tersenyum manis sekali. Lalu pergi lagi bersama adiknya.
"Ngobrol sama siapa sayang ?", tanya Echa dari balik tubuh Gua.
Gua menengok kebelakang dan melihat istri Gua baru keluar dari kamar dan menaruh secangkir kopi hitam di atas meja teras.
"Oh itu tadi Mba Siska sama Meli adiknya abis lewat depan rumah", jawab Gua sambil berjalan kearahnya.
"Heum ?",
"Darimana mereka pagi-pagi gelap gini ? Jalan lagi, gak takut ya ?", tanya Echa lagi sambil duduk kali ini.
Gua duduk di sampingnya. "Iya jalan dari depan katanya, beli makanan untuk sahur, Ibunya gak masak", jawab Gua lalu menghisap rokok.
"Oh, eh emang jam segini ada yang jual apa aja di depan Za ?".
"Fuuuhhh...",
"Kalo bulan puasa gini, tukang nasi goreng, martabak telur, sama chinese food buka sampe imsak Cha..", jawab Gua lagi.
"Oooh... Biasanya enggak ya ? Kalo bukan bulan puasa..".
Gua mengangguk pelan sambil tersenyum. "Oh iya, Mba Siska titip salam untuk kamu katanya", ucap Gua.
"Walaikumsalam..", jawab Echa sambil tersenyum.
Setelah membaca do'a buka puasa, kami pun membatalkan ibadah saum hari ini dengan meneguk air mineral.
"Alhamdulilah.. Kamu mau aku ambilkan kolak pisang ?", tanya Echa setelah meminum air mineral.
"Makasih Cha, tapi nanti aja, lagi gak pengen aku.. Ini aja dulu", jawab Gua seraya mengangkat gelas berisi teh manis hangat lalu meminumnya.
Kemudian Echa dan Nenek menyantap kolak mereka masing-masing, sedangkan Gua hendak beranjak ke depan untuk merokok. Gua membawa segeles teh manis tadi ke depan teras, dan menikmati sebatang rokok yang baru saja Gua bakar. Lalu Gua duduk diatas sofa depan kamar, menikmati suasana sore hari yang diiringi dengan suara adzan maghrib dari masjid yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Nenek.
Gua baru menghabiskan rokok setengah batang ketika istri Gua keluar dari pintu kamar sambil membawa semangkuk kolak miliknya tadi. Lalu dia duduk tepat di samping Gua.
"Maghrib kok malah di luar Za", ucapnya.
"Lagi ngerokok dulu Cha, hehehe...", jawab Gua seraya menghembuskan asap rokok ke sisi lain.
"Buka puasa langsung ngerokok kamu tuh, hmm..", Echa menatap kepada Gua sambil menyendok kolak pisang dari mangkuk yang ia genggam.
"Hehehe, maklum ya, aku kan perokok, abis buka males langsung makan, suka mules perut.. Jadi teh manis sama rokok juga cukup".
"Yaudah masuk yuk, di dalem aja ngerokoknya, yuk..", ajaknya seraya bangun dari duduk.
Akhirnya Gua pun menuruti istri Gua, kami berdua masuk ke dalam kamar, lalu Echa mengunci pintu kamar dari dalam, Gua duduk di tepian kasur setelah mengambil asbak dari meja belajar. Kemudian Echa duduk di sisi kasur lainnya setelah dia menaruh mangkuk kolak yang belum ia habiskan.
"Sayang, aku mau nanya boleh ?", ucapnya kali ini sambil menggeser duduknya mendekati Gua.
Gua tersenyum kepada Echa. "Boleh lah, mau nanya apa ?", tanya Gua balik.
Echa memainkan ujung kaos yang ia kenakan sambil menundukkan kepala sedikit. "Kamu.. Sama Luna kenal dimana ?", tanyanya kali ini seraya menoleh kepada Gua dengan tatapan sedikit sayu.
Gua kembali tersenyum dan mematikan rokok yang memang hampir habis ke asbak di atas lantai kamar, lalu Gua meneguk cukup banyak teh manis hangat dan kembali menaruhnya.
"Aku kenal sama dia waktu jemput Mba Yu di sekolahnya dulu", ucap Gua mulai bercerita sambil menyerongkan tubuh kearah istri Gua itu.
"Mm.. Maksud kamu, Mba Yu dan Luna itu satu sekolah ?".
Luna, ketika tadi sore dirinya bertamu, kami berdua mengobrol di ruang teras depan kamar Gua, tentunya bersama Echa dan Nenek Gua. Hanya obrolan santai dan saling menanyakan kabar yang kami obrolkan tadi. Sempat Echa dan Nenek mengajak Luna untuk makan bersama dengan kami ketika akan berbuka puasa, tapi Luna mungkin sungkan dan memilih untuk pulang, Gua sempat bertukar nomor hp kali ini dengan Luna, yang tentunya sudah mendapatkan izin dari istri Gua. Oh ya, Nenek dan Echa tau kalau Luna ini non-muslim.
Gua mengangguk cepat. "Iya, mereka teman sekolah dulu.. Tapi..", Gua menahan ucapan Gua sambil memalingkan muka sedikit dari tatapan istri Gua itu.
"Tapi kenapa Za ?".
Akhirnya Gua pun menceritakan bagaimana Gua mengenal Luna dari awal dan bagaimana hubungan kami yang selama ini jarang berkomunikasi hingga sekarang. Setelah apa yang Gua lalui selama ini, Gua tidak pernah menutupi cerita apapun yang istri Gua ingin ketahui. Sedetail-detailnya, seburuk apapun cerita tersebut pasti Gua katakan kepada istri Gua ini, sekalipun ia merasa cemburu, marah atau bahkan terkejut dengan segala prilaku Gua yang belum ia ketahui, Gua tetap menceritakannya, karena kejujuran adalah hal yang utama dalam membina rumah tangga. Echa akhirnya mengetahui siapa Luna bagi Mba Yu, yang bisa dibilang sebagai musuh, memang hubungan Mba Yu tidak baik dengan Luna selama ini, apalagi sampai kejadian ketika Gua dan Luna berciuman di kamar ini dan diketahui oleh Mba Yu. Semakin buruk saja hubungan keduanya, dan imbasnya, putuslah hubungan Gua dengan Mba Yu saat itu.
Istri Gua terkejut ketika dia akhirnya mengetahui alasan yang sebenarnya Gua putus dengan Mba Yu di masa lalu, istri Gua menggelengkan kepalanya sambil menatap Gua tajam.
"Emmmang yaaaa... Kamu itu resee!! Hiiihh!".
Kyuuuuttt...asli Gua gak bohong, kalau istri Gua udah ngeluarin 'Jubir' nya, alias 'jurus cubitan melintir' nya, ampun ampunan Gua Gais.. Sakiiitt pake banget plus perih sareung peurues bray!!

"Aaaww.. aw aw awww.. Ampun sayang, ampuuun, sakit sakit sakit sakiiitt, udaahh..", ringis Gua menahan sakit karena lengan kiri Gua itu kena jubir nya tadi.
"Mau nakal lagi sama Luna ?! Iya ?!!", cecarnya tanpa sedikitpun mengendurkan cubitannya itu.
"Enggaaak.. Sumpah enggak lagi lagi.. Aku gak nakal sama Luna, Luni, Lusi siapa lah pokoknya.. Enggak asli.. Adudududuuuh.. Sakiittt..".

"Awas kalo macem-macem sama Luna!", ancamnya dengan wajah yang menakutkan, matanya melotot coy.
"Iya enggak Cha.. Enggak sumpah deh.. Aduuh.. Sakit ini", jawab Gua sambil mengelus-ngelus lengan yang ia cubit tadi.
Istri Gua berdiri dari duduknya lalu berkecak pinggang sambil menatap Gua tajam yang masih duduk dibawah.
"Awas ya kamu! Kalo berani main perempuan lain! Aku sumpahin jojo gak bisa bangun seumur idup!", ultimatumnya kali ini serasa petir yang menggelegar di siang bolong...
Modyaaarrr, baru ini wanita yang ngancemnya nyumpahin pusaka Gua sampe gak bisa bangun kalau Gua macem-macem. Mana istri sendiri pula yang ngomong. Gak nyangka Gua, galak dan sadis juga dia. Varah benerrrr

"Iya beneran gak akan nakal lagi", ringis Gua sambil menahan perih dengan nada suara sangat pelaaaan sekaliii.
"Yaudah ayo ambil wudhu, shalat maghrib berjama'ah", ucapnya lalu dia masuk ke kamar mandi di dalam kamar Gua untuk mengambil wudhu.
...
Selesai melaksanakan ibadah maghrib berjama'ah dengan istri dan Nenek Gua, kami menyantap makanan di ruang makan bersama-sama, selesai itu, Gua kembali merokok di sofa teras depan kamar yang tentunya sudah mengenakan baju koko serta kopiah. Sekedar menunggu waktu shalat isya dan juga shalat tarawih di masjid nanti.
Istri Gua keluar kamar dan menutup pintunya, serta menguncinya dari luar. Lalu dia duduk di samping Gua. Istri Gua ini terlihat cantik alami karena sudah mengenakan mukena dan sajadah yang ia genggam di depan dadanya.
"Za, berangkat sekarang ke masjid yuk..", ajaknya.
"Sebentar lagi Cha, lagian masih lama mulainya", jawab Gua sambil melirik jam pada pergelangan tangan kiri.
"Hmm..",
"Oh iya, sahur mau aku masakin apa ? Soalnya pasti kamu gak akan mau makan menu yang sama", ucapnya seraya merapihkan mukenanya.
Ah dia sudah hafal kebiasaan Gua sekarang, Gua memang kurang suka menyantap makanan yang sama dalam satu hari. Kecuali lagi bokek sih.
"Aku udah lama gak makan mie, kamu bikinin mie instan aja ya, yang goreng tapi, pakai telur jangan lupa sama cabai diiris", jawab Gua.
"Kok cuma mie ? Nanti gak ada gizi ama tenaganya loch".
"Enggak apa-apa, aku lagi pingin makan mie soalnya...".
"Yaudah deh.. Tapi ditambah sama nugget ya, aku beli nugget tadi", lanjutnya.
Gua mengangguk mengiyakan ucapannya itu. Lalu tidak lama kemudian kami berdua pergi ke masjid setelah sebelumnya Nenek keluar dari pintu utama rumah dan mengajak kami berangkat.
Gua melaksanakan shalat isya dan tarawih di masjid bersama Unang dan Icol yang duduk di samping kanan-kiri Gua di dalam masjid saat itu.
"Coy, gimana liburan kemaren di singaparna ?", tanya Icol ketika tarawih masih dalam sesi ceramah.
"Singaparna.. Singapura coy, malu-maluin aja Lu ah", balas Gua.
"Hehehe sama aja lah..".
"Ya gitu aja Col, asyik sih.. Ngomong-ngomong sorry yak gak kebagian oleh-oleh", jawab Gua lagi.
"Parah Lu, Gua doang ama Robbi yang gak kebagian, heuh!", ucapnya sok-sok kesal.
"Hehehe.. Diabisin ama anak-anak laen coy, sorry sorry dah.. Nanti gantinya Gua traktir Lu aja makan roti bakar tar malem di simpangan sono, mau kagak ?".
"Weh, mau banget, asli nih ya.. Jangan kabur Lu".
"Asli lah, kapan Gua bokis sih.. Jam sepuluhan aja yak", ucap Gua lagi.
"Okey deh, si Unang ajak noh jangan lupa", ucap Icol sambil melirik kepada Unang yang berada di sisi kiri Gua.
"Nang tar malem kita makan roti bakar yak, jam sepuluh", ajak Gua kepada Unang.
"Hehehe.. Sip sip.. Tapi Lu minta izin dulu ama bini sono, tar gak boleh keluar malem lagi, repot urusannya", jawab Unang mengingatkan.
"Okey, insha Alloh ngasih izin dia ma", jawab Gua lagi.
Setelah itu kami semua yang berada di masjid melakasanakan shalat tarawih.
...
Sekitar pukul sembilan malam kurang, Gua sudah berada di rumah lagi. Gua bersama istri Gua sekarang ada di kamar. Gua merebahkan tubuh diatas kasur sambil menonton Tv. Sedangkan istri Gua sedang berganti pakaian tidur di kamar mandi dalam kamar ini. Tidak lama kemudian Echa keluar dari kamar mandi.
"Cha, sini deh", ucap Gua sambil memintanya mendekati Gua.
"Iya..", jawabnya sambil menaruh mukena ke dalam lemari lalu berjalan kearah kasur,
"Kenapa Za ?"..
"Sini duduk disini dulu, aku mau ngomong", ucap Gua lagi sambil menepuk-nepuk kasur di samping Gua.
Lalu Echa duduk di samping Gua, diatas kasur, Gua pun merubah posisi dari tiduran jadi duduk dan menyandarkan punggung ke dinding kamar di belakang Gua.
"Ada apa Za ?", tanyanya lagi.
"Aku nanti jam sepuluh mau keluar sama Unang dan Icol", jawab Gua.
"Loch malem banget, mau kemana ?", tanyanya heran.
"Aku mau makan roti bakar di simpangan sana itu", jawab Gua lagi,
"Boleh enggak ?".
Echa menatap wajah Gua, wajahnya pura-pura berfikir. "Hmmm... Aku ikuuuttt..", ucapnya sambil menyeringai lebar lalu tertawa.
"Hahaha... Dasar, yaudah iya.. Kirain kamu gak mau ikut", ucap Gua sambil mengacak-acak rambut depannya.
"Huuu... Udah lama tau gak makan pisang bakar di situ..", jawabnya sambil memanyunkan bibirnya.
Lalu Gua menarik pinggangnya dan mengecup keningnya. "Duh, manjanya istrikuuu..", rajuk Gua sambil mendekapnya.
Echa hanya tertawa pelan lalu menyandarkan kepalanya ke dada Gua. Tangannya melingkar ke pinggang ini.
"Cha".
"Heum ?".
"Mau atuh".
"Iiishh.. Dingin tau mandi sebelum saur..", jawabnya sambil memeletkan lidah.
jir 'pengen' Gua bulan puasa iki.. 
...
Pukul sepuluh malam, Gua, Echa, Icol dan Unang sudah berada di warung tenda roti bakar dekat komplek rumah kami. Saat itu, Gua dan istri menggunakan motor, si RR, sedangkan Unang dan Icol naik motor milik Unang.
Kami memesan tiga roti bakar untuk kami masing-masing dan satu pisang bakar untuk istri Gua. Sambil menyantap makanan, kami mengobrol banyak hal, dari mulai perkuliahan Gua dan Echa, sampai akhirnya menanyakan status kedua sahabat Gua itu yang ternyata masih jomblo.
"Za, Lu gak mau nyoba bisnis laen ? Distro gitu Za, lagi bagus keknya Za sekarang", ucap Unang sambil mengunyah roti bakarnya.
"Hmm.. Kurang menurut Gua Nang",
"Terlalu banyak.. Eh iya.. Gua malah kepikiran buka usaha barber shop nih", jawab Gua tiba-tiba kepikiran membuka usaha baru.
"Wah, itu dia yang oke keknya Za", timpal Icol.
"Hm, boleh juga sih Za, tapi mau tipe barber shop yang gimana ? Standar ? Apa modern ngikutin gaya jaman sekarang ?", tanya Unang.
"Dua-duanya, fleksibel lah, kudu bisa ngikutin perkembangan zaman, yang jelas potongan standar juga pasti da bisa tuh kapster..", jawab Gua.
"Iya juga ya, boleh tuh sayang ide kamu", ucap istri Gua mengamini niatan Gua itu.
"Cariin lahan Nang, sewa aja dulu kalo bisa, jangan mahal-mahal hehe, baru kalo udah itu cari kapster nya, ya dua orang juga cukuplah", timpal Gua lagi.
"Siap bos, tar gw cariin lokasi yang oke ama harganya yang pas di budget Lu, oh ya kalo pegawai ehm... Nih sebelah Gua jago Za, lupa ente, hehehe", jawab Unang sambil menyenggol lengan Icol dengan sikutnya.
"Oh iya ya.. Si Lau kan jago motong rambut Col.. Gimana sob ? Mau ?", tanya Gua kepada Icol.
"Bisaa diatuuurr.. Asal bayarannya cocok ma beresss.. Hehehe", jawab Icol sambil tertawa.
"Hahaha.. Jangan mahal-mahal lah, baru mau usaha ini Col, hehehe..".
"Hehehe tenang Za, bisa diomongin belakangan itu ma, santai aja, yang penting cari tempat dulu", jawab Icol.
"Oke sip deh", balas Gua lalu kami pun kembali menghabiskan makanan kami masing-masing.
Singkat cerita kami pulang ketika malam sudah semakin larut, waktu itu Gua dan Echa sampai di rumah Nenek pukul sebelas malam. Setelah bersih-bersih, kami berdua pun tidur untuk mengistirahatkan tubuh hingga nanti bangun lagi untuk sahur.
Istri Gua membangunkan Gua ketika jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Gua pun bangun dan menuju kamar mandi untuk cuci muka setelah mengumpulkan kesadaran 100%. Beres mencuci muka, Gua berjalan kearah ruang makan, disini ternyata sudah ada Nenek yang sedang menyantap makanannya sambil menonton Tv.
Gua duduk di sebrang beliau.
"Sahur Za..", ucap Nenek.
"Iya Nek, nunggu mie nya mateng dulu tuh, lagi dimasakin Echa".
"Kok malah makan mie, gak makan nasi sama sayur tuh ?", tanya Nenek sambil melihat ke menu sahur di atas meja makan.
"Lagi kepingin makan mie, udah lama gak makan mie heheh...".
Tidak lama kemudian istri Gua duduk di kursi samping kanan Gua, dia menaruh mie goreng instan dengan dua potong nugget dan memberikannya kepada Gua. Sedangkan Echa memakan masakan yang ia masak dengan Nenek tadi sore.
Kami makan dengan khidmat dan khusyuk. Ya gini lah, Echa dan Nenek kan sama, sama-sama tidak pernah bicara saat sedang makan, kecuali ada obrolan yang penting dan mendesak. Singkat cerita kami semua sudah menghabiskan makanan kami masing-masing, Echa mencuci piring kotor, sedangkan Nenek membereskan makanan yang masih ada dan menaruhnya ke lemari makan.
Gua kembali ke luar kamar, tapi Gua tidak duduk di sofa teras, melainkan Gua berdiri di antara jalan masuk halaman dengan teras ini. Baru saja Gua membakar sebatang rokok dan menghembuskannya, dua orang wanita lewat, dan berjalan di depan rumah dari arah luar komplek ke dalam.
"Mba Siska... Meli...", panggil Gua sedikit berteriak.
Mereka berdua menengok kearah Gua lalu berhenti di tengah jalan depan rumah.
"Hai Za, lagi apa ?", tanya Mba Siska.
"Abis sahur aku Mba, ini lagi ngerokok", jawab Gua sambil mengacungkan rokok yang berada diselipan jemari tangan.
"Ngerokok mulu kamu.. Echa mana Za ? ", tanyanya lagi.
"Ada Mba di dalem, lagi cuci piring",
"Eh pada darimana ?".
"Abis beli makanan untuk sahur Za, Ibu lagi gak masak", jawab Mba Siska,
"Yaudah aku pulang dulu ya Za, ditungguin Ibu soalnya..",
"Salam untuk istri kamu ya", ucapnya sebelum kembali melangkah.
"Mari Mas Eza", ucap Meli juga.
"Oh iya iya, nanti di salamin.. Hati-hati Mba.. Mel..", jawab Gua.
Mba Siska hanya mengangguk sambil tersenyum manis sekali. Lalu pergi lagi bersama adiknya.
"Ngobrol sama siapa sayang ?", tanya Echa dari balik tubuh Gua.
Gua menengok kebelakang dan melihat istri Gua baru keluar dari kamar dan menaruh secangkir kopi hitam di atas meja teras.
"Oh itu tadi Mba Siska sama Meli adiknya abis lewat depan rumah", jawab Gua sambil berjalan kearahnya.
"Heum ?",
"Darimana mereka pagi-pagi gelap gini ? Jalan lagi, gak takut ya ?", tanya Echa lagi sambil duduk kali ini.
Gua duduk di sampingnya. "Iya jalan dari depan katanya, beli makanan untuk sahur, Ibunya gak masak", jawab Gua lalu menghisap rokok.
"Oh, eh emang jam segini ada yang jual apa aja di depan Za ?".
"Fuuuhhh...",
"Kalo bulan puasa gini, tukang nasi goreng, martabak telur, sama chinese food buka sampe imsak Cha..", jawab Gua lagi.
"Oooh... Biasanya enggak ya ? Kalo bukan bulan puasa..".
Gua mengangguk pelan sambil tersenyum. "Oh iya, Mba Siska titip salam untuk kamu katanya", ucap Gua.
"Walaikumsalam..", jawab Echa sambil tersenyum.
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..


(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
